
" Astagpiruloh... ka Dhafina. " ucap Aisyah kaget.
" Tolong... aku mohon tolong aku. "
Dhafina melangkah ke arah kaca mobil tempat Aisyah duduk, sambil menggedor kaca mobil tersebut.
" Nona. hati-hati. Saya rasa, lebih baik kita pulang sekarang saja. " ucap Pak Mun, mulai khawatir menatap Aisyah yang sedang memandang ke arah jendela mobil tempat Dhafina berdiri dan minta tolong.
" Pak Mun, buka pintu mobilnya sekarang." titah Aisyah.
" Tapi nona... "
" Buka sekarang! " Aisyah sedikit meninggikan Suaranya, memotong ucapan Pak Mun.
Mau tidak mau Pak Mun pun menuruti keinginan Aisyah nona mudanya. Saat pintu sudah terbuka, Aisyah langsung keluar menghampiri Dhafina yang berdiri di dekat kaca mobil.
" Ka Dhafina kenapa? Ada apa? " ucap Aisyah khawatir, memegang tangan Dhafina yang terlihat ketakutan.
" Aku mohon, tolong aku. Ada laki-laki yang mengejarku, aku takut. " ucap Dhafina, menangis dengan ekspresi ketakutan dan keadaan pakaian dan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
Tak lama, terlihat tiga orang laki-laki yang berpenampilan seperti preman dan berteriak dari kejauhan.
" Hey! jangan lari kau! " teriak ketiga laki-laki itu sambil berlari mendekat ke arah Aisyah dan Dhafina.
Aisyah dan Dhafina mulai panik, melihat ke tiga laki-laki itu mulai mendekat.
" Aku mohon tolong aku. Aku mohon, bawa aku bersamamu. Mereka pasti mau menangkapku." ucap Dhafina memegang tangan Aisyah.
Aisyah yang juga panik tidak berpikir panjang. Aisyah langsung membawa Dhafina masuk ke dalam mobil bersama-nya.
" Pak Mun, cepat jalan sekarang!" titah Aisyah yang juga di dera rasa panik.
Pak Mun langsung tancap gas, melajukan mobil tersebut keluar dari parkiran dan meninggalkan ketiga laki-laki tersebut yang gagal mengejar mereka. Karna mobil sudah lebih dulu melaju, sebelum ketiga laki-laki itu mendekat.
Aisyah menatap Dhafina yang duduk di samping-nya. Entah kenapa, saat ini Aisyah merasa kasihan melihat keadaan Dhafina yang sedikit acak-acakan.
" Ka Dhafina tidak apa-apa? " Aisyah memberanikan diri untuk bertanya.
Saat Dhafina sedang membenarkan pakaian-nya yang sedikit acak-acakan dan membenarkan rambutnya menggunakan tangan. Dhafina sedikit kaget, saat Aisyah bertanya padanya dan mengetahui namanya.
" Kamu tau namaku? setauku kita belum pernah berkenalan secara langsung. Dan saat kita bertemu, waktu itu kamu dan Abian langsung meninggalkanku tampa berkenalan dulu. " ucap Dhafina memandang heran.
" Ya sudah, kita berkenalan sekarang? " Aisyah mengulurkan tangan " Namaku Aisyah ka. "
" Namaku Dhafina. Dhafina dahayu. " Dhafina menerima tangan Aisyah.
Aisyah tersenyum " Aku sudah tau siapa kaka sebenarnya. Dan aku juga sudah tau, kalau sebenarnya kaka adalah wanita yang pernah ada di masa lalu a Bian 'kan? " ucap Aisyah tersenyum.
" Deg."
Dhafina terkejut dengan perkataan Aisyah dan langsung menatap ke arah Aisyah yang berada di sampingnya.
" Kamu tau? Apa Abian yang memberi taumu? "
" Iya. A Bian lah yang menceritakan tentang masalalu kaka Dhafina dan a Bian. "
__ADS_1
" Apa kau tidak cemburu padaku? " ucap Dhafina penasaran " Maaf. Aku sudah lancang bertanya seperti itu. Tapi biasanya, setiap wanita akan menaruh rasa benci kepada wanita yang pernah menjalin hubungan dengan suaminya, entah itu dulu atau sekarang. Tapi kamu, barusan kamu malah berbaik hati menolongku. Padahal kau tau, aku pernah menjadi bagian dari hati Abian yang sudah menjadi suamimu. " ucap Dhafina.
Entah kenapa, Dhafina sampai nekat bertanya seperti itu. Walaupun baru pertama bertemu, Dhafina sendiri mulai merasa penasaran, seperti apa Aisyah sebenarnya.
Aisyah tersenyum menatap Dhafina dan memegang tangan Dhafina. " Ka Dhafina, aku percaya, bahwa kaka adalah wanita baik-baik. Dan aku juga percaya kepada suamiku. " Aisyah tersenyum.
Sial. Kenapa perasaanku terasa aneh? aku sudah berhasil mendekati wanita ini dengan pura-pura di kejar preman. Tapi kenapa, sekarang malah aku yang penasaran kepadanya? walaupun kami baru pertama bertemu, tapi aku yakin dia adalah wanita baik-baik. Baru kali ini, aku berhadapan dengan seseorang yang tersenyum tulus di hadapanku dan seolah benar-benar percaya kepadaku. Bahkan orang tuaku saja tidak pernah tersenyum tulus seperti itu kepadaku, orang tuaku sendiri selalu sibuk dengan dunia bisnis mereka tampa memperdulikan diriku. Senyum tulus wanita ini, hampir sama persis seperti senyuman Abian waktu dulu berpacaran denganku.
" Ka Dhafina, kaka tidak apa-apa 'kan? kenapa kaka melamun? " ucap Aisyah membuyarkan lamunan Dhafina.
" Aku... aku tidak apa-apa. Aku hanya kaget saja, walaupun kau tau aku pernah menjalin hubungan dengan suamimu di masa lalu, tapi kau tetap saja mau menolongku." ucap Dhafina beralasan.
" Kaka ini, biasa saja ka." Aisyah tersenyum "Sebagai sesama manusia, kita kan tidak akan mungkin bisa hidup sendiri ka, tetap saja kita membutuhkan orang lain dan kalau kita mampu untuk menolong orang lain, kenapa tidak? "
" Kaka sendiri, sebenarnya tadi kenapa? mereka siapa? kenapa mereka mengejar kaka? " Tanya Aisyah.
" Aku sendiri tidak tau, saat aku di parkiran moll, mereka tiba-tiba saja mendekatiku dan mulai melakukan hal yang tidak senonoh padaku. Padahal aku sama sekali tidak mengenal mereka." ucap Dhafina lirih, berpura-pura lemah sambil menundukan kepala.
" Ya ampun ka, lain kali hati-hati ya. Jaman sekarang memang banyak laki-laki jahat yang mau melecehkan wanita, jadi kaka harus lebih berhati-hati. " ucap Aisyah mulai merasa tersentuh.
Tampa Aisyah ketahui sama sekali, bahwa wanita yang ada di hadapannya saat ini, adalah ular betina yang sangat berbisa. Dan sewaktu-waktu, ular itu akan menunjukan taringnya dan menggigitnya.
" Pak Mun, cari masjid terdekat dulu ya pak. Sebentar lagi waktu magrib tiba, kita solat magrib dulu. " ucap Aisyah yang melihat jam di pergelangan tangannya, yang sudah menunjukan mendekati waktu magrib.
" Baik nona. " ucap Pak Mun.
Mobil pun mulai melaju menuju masjid terdekat. Pak Mun pun sudah memarkirkan mobil di halaman masjid terdekat.
" Ayo ka, kita ke mesjid dulu. Kita solat magrib dulu sama-sama. " ucap Aisyah menatap Dhafina masih di dalam mobil.
" Kenapa? kaka lagi datang bulan ya? "
Dhafina mengangguk berbohong, padahal dirinya tidak sedang datang bulan. Dhafina hanya beralasan untuk menghindar, karna walau dirinya dan keluarganya memeluk agama islam. Dhafina tidak pernah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang sebenarnya.
" Ya sudah, aku dan Pak Mun mau ke masjid dulu. Apa kaka mau menunggu di sini? " tanya Aisyah yang mendapatkan anggukan dari Dhafina.
Aisyah dan Pak Mun keluar dari mobil, menuju masjid untuk melaksanakan solat pardu magrib tiga rokaat.
Tampa di ketahui oleh siapapun, dari kejauhan ada seseorang laki-laki yang keluar dari dalam mobil. Dengan berpakaian seperti pengemis, yang ternyata adalah seorang mata-mata yang di suruh Abian dan Leo untuk mengawasi Aisyah.
Semenjak Aisyah masih di moll sampai sekarang, mata-mata itu terus saja mengambil poto Aisyah dari kejauhan dan mengirimkan poto itu kepada Abian, termasuk poto saat Aisyah menolong Dhafina.
" Brengsek... kenapa Devdas ingin aku mendekati wanita seperti Aisyah? pake acara solat ke mesjid segala. Merepotkan. "
Dhafina menggerutu sendiri di dalam mobil, sambil mengeluarkan alat makeup dari dalam tasnya dan merias dirinya agar terlihat cantik menurutnya.
Setelah selesai melakukan solat magrib, Aisyah dan Pak Mun masuk kembali ke dalam mobil.
" Maaf ya ka, kaka Dhafina jadi nungguin aku lama. " ucap Aisyah.
" Tidak apa-apa. " Dhafina melanjutkan aktingnya tersenyum ramah di hadapan Aisyah.
" Nona, kita mau langsung pulang ke rumah atau tidak? " ucap Pak Mun sedikit melirik Aisyah.
" Em... kita mampir dulu ke lestoran yang biasa a Bian kunjungi ya Pak. " ucap Aisyah yang mendapat anggukan dari Pak Mun. Pak Mun langsung menghidupkan mobil dan melaju menuju lestoran yang mereka tuju.
__ADS_1
" Ka Dhafina, gak apa-apa kan kalau kita ke lestoran dulu? kita bisa lanjut berbincang di sana. Aku ingin mengenal kaka, siapa tau kita bisa jadi teman baik. " ucap Aisyah tersenyum ramah.
" Baiklah. " ucap Dhafina tersenyum.
Bagus... ternyata begitu mudah untuk mendekati dan menipumu Aisyah. Kau membuat jalanku semakin mulus.
Setelah perjalanan cukup lama, Aisyah dan Dhafina sampai di salasatu lestoran berbintang yang sangat mewah. Aisyah memang terbiasa makan di warung nasi di pinggir jalan, tapi kusus malam ini, Aisyah berpikir membutuhkan sedikit pripasi untuk mengenal siapa Dhafina sebenarnya.
Itu sebabnya Aisyah membawa Dhafina makan di sala satu lestoran berbintang. Yang ternyata, lestoran tersebut adalah sala satu lestoran mewah milik perusahaan pratama group.
Saat Aisyah dan Dhafina masuk ke dalam lestoran tersebut. Semua mata pekerja lestoran dan manager lestoran langsung menatap Aisyah, mereka semua sudah tau siapa Aisyah. Nyonya baru di keluarga pratama group, istri dari Abian pratama sekaligus menantu dari Bagas pratama pemilik lestoran berbintang tempat mereka bekerja.
Manager lestoran tersebut langsung mendekati Aisyah bersama beberapa pelayan di belakangnya, mereka sedikit membungkukan badan memberi hormat kepada Aisyah.
" Nona. Kenapa anda tidak memberi tau kami kalau anda mau ke sini? Kalau nona memberi tau kami, kami pasti akan menyiapkan tempat yang nyaman untuk nona, tapi sekarang lestoran sudah penuh nona. Hanya ada beberapa meja biasa yang kosong dan itu juga bukan tempat khusus VVIP nona. " ucap Manager lestoran tersebut sedikit bergetar ketakutan.
Manager lestoran tersebut tau, kalau Aisyah adalah istri pemilik lestoran. Dan mereka takut mengecewakan Aisyah, yang akhirnya berimbas kepada mereka yang hanya bekerja sebagai pegawai biasa.
Aisyah tersenyum " Kalian tidak usah sungkan seperti itu, meja biasa juga tidak apa-apa. " Aisyah tersenyum ramah.
" Tapi nona, biasanya tuan Bagas dan tuan muda Abian selalu memesan ruangan khusus VVIP. Dan nona adalah istri tuan kami, tidak mungkin kami mengecewakan nona. " ucap manager tersebut.
" Tidak usah repot seperti itu, aku tidak apa-apa. Tunjukan padaku di mana mejanya? " ucap Aisyah masih tersenyum ramah.
Aisyah sudah tau, kalau para pekerja di lestoran tersebut ketakutan karna Aisyah adalah istri dari pewaris perusahaan pratama group. Kalau saja dirinya bukan istri dari Abian pratama, dirinya tidak akan di perlakukan secanggung ini oleh para pekerja lestoran itu.
Dan Aisyah berusaha tersenyum ramah, agar tidak membuat para pekerja tersebut ketakutan atau merasa canggung kepadanya. Manager lestoran pun mengantar Aisyah dan Dhafina menuju meja yang akan di jadikan tempat duduk Aisyah dan Dhafina.
Mereka berpikir, harus melakukan segala yang terbaik untuk membuat nyonya pratama nyaman dan tidak kecewa. Semua pelayan dan manager menyiapkan makanan dan minuman yang terbaik di lestoran tersebut.
Membuat Aisyah sedikit keheranan sendiri, karna dirinya dan Dhafina sama sekali belum memesan makanan.Tapi makanan mewah langsung tersaji di hadapan mereka yang di bawa oleh para pelayan lestoran tersebut.
" Loh... aku kan belum mesan, kenapa sudah tersaji seperti ini? " Tanya Aisyah keheranan menatap manager lestoran tersebut.
" Nona, maaf, apa nona tidak menyukainya? kami akan segera menggantinya nona. " ucap manager tersebut sedikit ketakutan.
" Tidak... tidak... jangan di ganti, tidak usah, aku menyukai semuanya. Aku hanya heran saja, kalian sampai berlebihan seperti ini. " ucap Aisyah.
" Maaf nona, kami hanya ingin membuat nona nyaman. " ucap manager tersebut.
Ikhhh... justru kalian yang membuatku tidak nyaman. Aku berpikir bisa berbincang santai di sini, tapi ternyata aku salah.
Aisyah menggerutu sendiri dalam hati, Aisyah menyuruh semua pelayan dan manager pergi untuk meninggalkannya. Setelah mereka pergi, Aisyah dan Dhafina mulai memakan makanan yang tersaji di hadapan mereka. Sambil sesekali, Aisyah dan Dhafina berbincang dan tersenyum sambil menikmati hidangan.
Saat sudah selesai makan, Aisyah melirik manager lestoran tersebut yang tidak jauh berdiri dari tempat duduknya. Manager tersebut langsung menghampiri, Aisyah mengeluarkan Black Cart berniat membayar makanan yang mereka makan.
Namun, manager tersebut menolak, di karnakan tidak mungkin istri dari pemilik lestoran harus membayar.
Aisyah... hidupmu begitu beruntung. Andai saja, dulu aku tidak meninggalkan Abian, maka sekarang akulah yang menikmati semua ini. Termasuk Black card yang ada di tanganmu itu. pikir Dhafina.
Setelah selesai makan, Aisyah mengantar Dhafina sampai ke apartemen tempat tinggalnya. Setelah itupun Aisyah pulang ke rumahnya bersama Pak Mun.
*
*
__ADS_1
*