
Setelah perjalanan yang cukup lama, kini mobil Sedan hitam yang di kendarai Aisyah dan Abian sudah sampai di depan Universitas tempat Aisyah menimba ilmu.
" Aku duluan ya a. "
Aisyah sudah membuka pintu, hendak keluar. Namun, tangan nya kembali di tarik Abian, Abian kembali menutup pintu mobil dan menatap Aisyah dari jarak yang sangat dekat.
" Kamu melupakan sesuatu sayang. " Abian menatap Aisyah sedikit merajuk.
" Oh... aku lupa, maaf a." ucap Aisyah meraih tangan Abian lalu mencium tangan nya.
Aisyah hendak keluar dari mobil, namun tangan nya masih di pegang erat oleh Abian.
" Sayang... " gerutu Abian menatap tajam ke arah Aisyah.
" Apa lagi a? "
" Bukan itu.. " gerutu Abian.
" Lalu? " tanya Aisyah keheranan.
Abian memajukan pipinya, sebagai isyarat Abian menginginkan sebuah ciuman dari Aisyah.
" Ikhh... aa gak malu apah? ada ka Leo sama Pak Mun a. " gerutu Aisyah pelan.
Abian menatap Aisyah dengan jarak yang sangat dekat sambil mengusap pipi Aisyah pelan.
" Kalau kamu gak mau, ya udah gak usah kuliah. Kamu ikut aja sama aa ke kantor, biar di kantor, nanti aa bisa puas cium kamu. " ucap Abian pelan tersenyum nakal, menatap Aisyah dengan tatapan menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Ya udah iya. " gerutu Aisyah pasrah.
Mau tidak mau Aisyah menuruti keinginan Abian. Mencium kedua pipi Abian dan mencium bibir suaminya itu, baru setelah itu Aisyah bisa keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju kelas tempat iya belajar.
Sementara Pak Mun dan Leo, hanya cuek saja duduk di kursi depan, tidak memperdulikan apa yang di lakukan Abian barusan. Akhirnya mobil sedan mewah itupun kembali melaju menuju kantor pusat Pratama Group.
Aisyah pun sudah sampai di dalam kelas.
" Hai Selin." Aisyah menyapa Selin yang sudah berada di dalam kelas dan duduk di kursi meja paling depan.
" Hai kaka ipar, kenapa lama? " tanya Selin menatap Aisyah yang sudah duduk di sampingnya.
" Hadeuhhh... biasa, kakamu berulah. " ucap Aisyah malas.
Sementara Selin hanya terkekeh mendengar perkataan Aisyah. Selin sudah bisa menebak, ulah apa yang di lakukan Abian kakanya yang sudah menjadi budak cinta itu.
" Eh.. iya, katanya kamu udah baikan sama Ka Leo, beneran..?" Aisyah menatap Selin penasaran.
" Bukan baikan, hanya memberi kesempatan kedua. " Selin menjelaskan.
" Menurutku, itu sama aja, nanti lama-lama pasti akan semakin cinta." Goda Aisyah tersenyum menatap Selin.
" Idihh... apaan sih..? " Selin pun terkekeh.
" Gimana kalau kita jalan bareng aja? aku juga berencana mau jalan-jalan ke Moll sama a Bian." Aisyah menjelaskan.
" Enggak ah. "
" Loh, kenapa?" tanya Aisyah menatap Selin keheranan.
__ADS_1
" Kaka iparku sayang.. dengerin aku ya, aku sama ka Leo lagi proses memperbaiki hubungan kami. Begitu juga dengan kalian, bukan nya kalian juga masih proses saling mendekatkan diri? " Selin menjelaskan.
" Lalu? "
" Aku sama ka Leo butuh pripasi, begitu juga ka Abian sama kamu. Jadi.... kita jalan masing-masing aja, saling menikmati masa berdua dengan pasangan kita masing-masing. " Selin menjelaskan.
" Oh... gitu, ya udah, gak apa-apa deh " ucap Aisyah tersenyum memandang Selin.
" Aduhh.... Senyuman mu jeng jeng jeng, tatapan mu jeng jeng jeng, tak akan pernah aku lupakan. " Joko yang baru saja datang bersama Jono, melihat senyuman Aisyah, langsung bernyanyi sambil berdiri bergaya di hadapan Aisyah. Sementara Jono langsung mengambil tempat untuk duduk.
Selin yang melihat itu, langsung bergidik ngeri. Selin memegang bukunya dan meleparkan nya ke arah Joko.
" Aduhh... ko malah di lempar sih Sel? " gerutu Joko, mengambil buku yang di lempar Selin terjatuh di bawah lantai, lalu menyimpan nya kembali di atas meja tempat Selin duduk.
" Brisik lo, gue gak punya receh." ucap Selin sinis.
" Kalau gak punya receh, Dolar juga gak apa-apa cantik." ucap Joko tersenyum menggoda, sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Idihhh... itu sih maunya lo. " sindir Selin.
Mereka pun tertawa bersama, sementara Joko terus bernyanyi menyanyikan lagu yang sama sambil sedikit menggoyangkan pinggulnya, berjalan menuju meja yang ada di samping Jono untuk duduk.
Semua orang yang sudah ada di kelas pun berteriak riuh, meneriaki tingkah konyol Joko yang bernyanyi sambil sedikit menggoyangkan pinggulnya.
Tak lama Dosen pun datang, mata pelajaran pun di mulai, Dosen itupun mulai menjelaskan mata pelajaran yang di bawakan nya hari ini. Sampai akhirnya tak terasa waktu pulang pun sudah tiba.
" Kaka ipar aku duluan ya! " ucap Selin menyapa Aisyah di parkiran, lalu masuk ke dalam mobil sport yang dia bawa.
Aisyah pun tersenyum menatap Selin yang menyapanya. Aisyah pun masuk ke dalam mobil dengan Pak Mun yang biasa menjemputnya.
Seperti yang sudah di rencanakan, mobil yang di supiri oleh Pak Mun itu langsung melesat menuju kantor pusat Pratama Group. Sesampainya di depan kantor, Aisyah langsung turun dari dalam mobil, berjalan masuk menuju lift di ikuti para secyuriti kantor yang selalu menyambut dan mengantar sampai depan lift khusus Ceo, sambil sesekali Aisyah membalas sapaan para kariawan kantor yang menyapanya.
Lift pun terbuka, sudah sampai di lantai tempat ruangan Abian berada.
" Asalamualaikum. " Aisyah langsung masuk ke dalam ruangan Abian.
" Waalaikumsalam.. " Abian menjawab salam yang di ucapkan Aisyah, Abian tersenyum menatap Aisyah yang sudah masuk ke dalam ruangan nya, masih duduk di kursi kebesaran nya itu.
" Sini sayang." pinta Abian menatap Aisyah sambil mengulurkan tangan nya masih duduk di kursi kebesaran nya.
Aisyah pun menyimpan tas nya di sofa, dan berjalan mendekati Abian. Aisyah menggapai uluran tangan Abian, Lalu Abian menarik Aisyah supaya duduk di pangkuan nya, Abian meletakan kedua tangan Aisyah di pundaknya.
" Gimana hari ini, kuliahnya lancar? " tanya Abian merangkulkan kedua tangan nya di pinggang Aisyah yang sedang duduk di pangkuan nya itu.
" Lancar ko. Ka Leo sudah pergi apa belum? tadi waktu di kampus, Selin bilang mereka mau berdua aja." Aisyah menjelaskan.
" Udah, tadi Leo ke sini minta izin. Jadi, mau langsung berangkat sekarang? " tanya Abian.
" Boleh, tapi aa udah solat dzuhur 'kan..? " tanya Aisyah menatap Abian.
" Udah sayanggg." ucap Abian tersenyum sambil mencubit ke dua pipi Aisyah.
" Aww.. sakit a. " rengek Aisyah memegang kedua pipi nya.
" Mana yang sakit? " tanya Abian memegang kedua pipi Aisyah.
" Yang ini ya sayang. " tunjuk Abian sambil mencium pipi Aisyah.
__ADS_1
" Lalu, mana lagi yang sakit? yang ini ya. " Abian mendekatkan bibirnya berniat mencium pipi Aisyah yang sebelahnya lagi.
Namun Aisyah langsung menahan nya, sedikit mendorong dada Abian pelan.
" Aaa... " gerutu Aisyah menatap tajam Abian, masih berada di pangkuan Abian.
Abian pun terkekeh melihat wajah cemberut Aisyah.
Akhirnya Abian dan Aisyah pun berangkat menuju Moll menaiki mobil Sport yang sudah Abian siapkan. Tak lama mereka pun sampai di sala satu Moll terbesar di kota Jakarta.
Setelah memarkirkan mobilnya, Abian berjalan bergandengan bersama Aisyah menyusuri Moll tersebut. Dengan Abian masih menggunakan setelan kemeja kantornya, menggulung lengan kemeja tersebut sampai ke siku, melepas dasi yang biasa ia gunakan, membuka beberapa kancing kemeja bagian atas, membuat Abian tampak gagah dan tampan, meski tampa jas yang dia gunakan sekalipun.
Membuat setiap mata wanita yang ada di moll tersebut tak hentinya menatap dan memuji ketampanan seorang Abian pratama. Meskipun kebanyakan wanita yang ada di Moll tersebut tidak benar-benar mengenal sorang Abian Pratama yang sesungguhnya.
" Sayang... kita sudah berkeliling Moll ini, sebenarnya kamu mau cari apa sih? " tanya Abian masih berjalan bergandengan dengan Aisyah.
" Aku juga gak tau. " jawab Aisyah enteng.
Membuat Abian seketika menghentikan langkahnya, menatap ke arah Aisyah penuh tanda tanya.
" Kamu ini, jangan main-main sama aa sayang, udah liat-liat berlian dan perhiasan, kamu bilang gak mau, udah liat baju mahal sama tas, kamu bilang gak mau juga, sebenarnya kamu itu mau apa sih sayang? " Abian mulai terpancing emosi.
Aisyah pun tersenyum menatap wajah Abian yang mulai emosi.
" Abisnya aku sendiri bingung mau beli apa? perhiasan sama berlian kan udah banyak di kamar, yang udah aa sediain untuk aku. Baju baru, sama tas, juga sepatu udah banyak di kamar yang aa siapin untuk aku, jadi buat apa aku belanja lagi? mendingan uangnya di tabung. " ucap Aisyah enteng.
" Ya udah, gimana kalau kita beli sepatu Hihils biasanya kan wanita suka sama Hihils. " ucap Abian menawarkan.
" Ikhhh... gak mau, Hihils yang di kamar yang udah aa dan Mbok Siti siapin juga belum pernah aku pake satu pun, males, aku gak suka, nanti kalau kaki aku keseleo bagai mana? pokonya aku gak suka. " ucap Aisyah kekeh, masih menggandeng tangan Abian.
Abian mulai mendesah prustasi, dia menghirup oksigen dalam-dalam lalu mengeluarkan nya. Abian berpikir Aisyah akan sama dengan wanita-wanita kebanyak di luar sana, tapi sekali lagi Abian salah, Aisyah masih sama seperti saat pertama Abian kenal dulu, masih saja dengan segala kesederhanaan nya itu.
Dan kesederhanaan nya itulah yang membuat seorang Abian pratama terpikat. Namun secara tidak langsung, kesederhanaan Aisyah itulah yang membuat seorang Abian Pratama sekarang prustasi, membuat semua rencana pacaran yang Abian rencanakan di otak nakalnya berantakan.
" Ox... Aa nyerah, sekarang terserah kamu mau apa, aa ikutin aja. " Abian sudah benar-benar prustasi.
Melihat wajah prustasi Abian, Aisyah semakin terkekeh.
" Ya udah ia, maafin aku ya a. " Aisyah mendekati Abian.
Memegang kedua pipi Abian, menatap Abian dengan jarak yang sangat dekat, sambil sedikit memiringkan kepalanya. Aisyah memasang wajah imut, tersenyum sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, berharap Abian akan luluh dan tidak cemberut memasang wajah prustasi lagi.
Akhirnya, Abian luluh dan tersenyum melihat tingkah konyol istrinya itu. mereka pun tertawa bersama.
" Ya udah, sekarang kita cari lestoran di moll ini, perut Aa udah laper, minta di isi. " ucap Abian.
Aisyah pun mengangguk mengiyakan perkataan Abian. Akhirnya mereka pun sampai di sala satu lestoran yang ada di moll tersebut, mencari tempat duduk yang nyaman dan memesan makanan untuk makan siang mereka.
Setelah makanan yang mereka pesan sampai, akhirnya Abian dan Aisyah pun memakan makanan yang mereka pesan. Sambil terkadang di barengi dengan canda dan tawa, saling menyuapi, sambil duduk berdampingan di kursi lestoran tempat mereka duduk.
" Permisi, kamu Abian 'Kan?" tanya seorang wanita tersenyum ramah, yang tiba-tiba datang dan berdiri di samping tempat duduk Abian.
Saat melihat wajah wanita tersebut, bagaikan di sambar petir di siang bolong, wajah Abian langsung berubah drastis. Wajah Abian yang tadinya tersenyum manis dan bercanda bersama Aisyah, kini berubah menjadi dingin dan tatapan matanya yang sangat tajam begitu menusuk.
Entah angin apa yang merasuki Abian saat ini, tapi yang jelas, wajah seorang Abian Pratama berubah drastis saat dirinya menatap wanita yang menyapanya tepat di hadapan nya saat ini.
*
__ADS_1
*
*