
" Em.. gimana Gus, kopi buatan istriku enak bukan? " tanya Bagas.
" Ya, seperti biasa. " ucap Agus meminum kopi itu.
Hari ini Agus dan Bagas berniat untuk santai di rumah. Begitu pula Abian, Leo dan Kalandra, mereka berniat mengistirahatkan diri dari segala kesibukan yang mereka miliki. Sedangkan para wanita, Selin dan Aisyah seperti biasa masih di kampus, dan mamah Santi dengan acara Arisan nya seperti biasa.
Walaupun kenyataan nya kesibukan dan segala berkas yang harus di tanda tangani tetap menumpuk banyak, menurut mereka, kalau mereka tidak mengistirahatkan diri sendiri mau kapan lagi, karna sampai kapan pun pekerjaan tidak akan pernah habis.
Bagas, Leo dan Agus sedang duduk santai di kursi taman belakang, yang sedikit berdekatan dengan kolam renang, mereka sedang duduk santai di temani secangkir kopi hangat dan beberapa cemilan, mereka sedang asyik menyaksikan Abian dan Kalandra yang sedang bertarung Bela diri, mengasah kemampuan mereka masing-masing.
" Coba lihat mereka Gus, sekarang mereka sudah dewasa " ucap Bagas pokus melihat Abian dan Kalandra.
" Kau benar, rasanya baru kemarin mereka bermain bersama kita, bahkan kau sendiri sering di ganggu Abian kecil ketika kau bekerja di ruangan mu, dan sekarang mereka bertiga sudah dewasa. Tampa kita sadari tidak terasa waktu terus berjalan, kau juga sekarang sudah dewasa Leo." Agus melirik Leo yang duduk dekat mereka, Leo pun tersenyum menatap Agus Dan Bagas yang sudah dia anggap seperti orang tua nya sendiri.
...****************...
Flash Back on.
Bandung 20 tahun yang lalu.
" Hadeuhhh... hari ini aku lelah sekali, akhirnya pekerjaan kita Selesai juga, bagai mana kalau sekarang kita makan? " tanya Bagas yang duduk di sofa kamar Hotel tempat mereka menginap
" Terserah kau saja, kata orang, kota Bandung yang di juluki kota kembang ini memiliki makanan yang enak-enak, termasuk kuliner pinggir jalan nya. Bagai mana kalau kita menyamar? menggunakan pakean seperti rakyat biasa, tinggalkan setelan kemeja dan jas mu itu, lalu kita berbaur bersama mayarakat lain untuk mencari kuliner di pinggir jalan." ucap Agus menawarkan.
" Em.. Ox. Sepertinya seru. " Bagas pun menyetujui rencana Agus.
Dan akhirnya, mereka memutuskan untuk menggunakan pakean biasa, begitu juga para Bodiguart yang bersama mereka pun menggunakan pakean biasa, setelah itu mereka pun membaur bersama rakyat biasa untuk mencari kuliner di jalanan kota kembang tersebut.
Agus dan Bagas pun memutuskan untuk makan di kedai Seafood yang mangkal di sala satu jalanan kota kembang tersebut.
Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang, aneka makanan Seafood seperti Lobster bakar, ikan Kerapu bakar, Kepiting bumbu, dan Cumi bakar. Mereka pun makan bersama di meja yang sama dengan para Bodiguart nya, menurut Agus dan Bagas jika makan berkumpul bersama akan terasa lebih nikmat.
Saat Bagas sedang menyantap makanan yang ada di hadapan nya, tiba-tiba dia melihat seorang anak Laki-laki berdiri dari kejauhan. Anak Laki-laki tersebut sedang memperhatikan orang-orang yang sedang makan di kedai tersebut, keadaan anak itu cukup menyedihkan, pakean yang kotor dan lusuh, juga sedikit sobek-sobek, dan wajahnya pun sedikit kotor.
Entah kenapa Bagas merasa iba melihat anak Laki-laki tersebut yang mungkin seumuran dengan Abian anaknya. Bagas pun menghentikan makan nya, dan berinisiatip mendekati anak tersebut, Agus yang melihat Bagas berdiri dan berjalan menjauhi tempat mereka makan, langsung memperhatikan kemana arah Bagas melangkah.
" Hai..! kau sedang apa? " tanya Bagas ketika sudah sampai di dekat anak itu.
__ADS_1
Sementara anak Laki-laki tersebut hanya bersikap dingin memandang Bagas, dengan sorot mata yang tajam dan cuek.
Bagas pun tersenyum ramah berharap anak Laki-laki tersebut mau menjawab pertanyaan nya.
" Kau tidak usah takut, aku tidak akan menyakitimu, apa kau mau makan bersamaku?" tanya Bagas masih berdiri, tersenyum ramah melihat anak itu.
" Tidak.! " jawaban singkat dari anak itu masih dengan wajah dingin nya.
Kruyuk.... kruyuk....
Suara terdengar dari perut anak itu, yang menandakan kalau anak itu kelaparan, Bagas yang mendengar itu pun hanya tersenyum ramah menatap anak itu.
" Kau tidak usah malu, makan lah bersamaku dan temanku di meja sana." ucap Bagas, menunjuk meja tempat Agus makan.
Agus memperhatikan Bagas yang sedang berinteraksi dengan anak tersebut.
Tampa ragu, Bagas pun memegang tangan anak itu dan membawanya ke meja tempat mereka makan. Agus yang dari tadi memperhatikan Bagas pun langsung mengerti, Agus menyiapkan satu kursi untuk anak itu duduk di meja yang sama dengan mereka.
Agus dan Bagas pun mempersilahkan anak itu untuk duduk di dekat mereka, para Bodiguart pun sudah sangat mengenal Bagas dan Agus. Bagi mereka, sudah biasa melihat sikap Agus dan Bagas yang bersikap baik walaupun kepada orang yang tidak mereka kenal.
Agus pun membersihkan tangan anak itu dengan tisyu basah sedangkan Bagas menyiapkan makanan di atas piring untuk anak itu, sementara anak itu hanya diam mematung melihat perlakuan Bagas dan Agus padanya.
Melihat sikap ramah Agus, Bagas dan para Bodiguart yang sedang menatap anak itu dengan senyum ramah, membuat perasaan anak itu sedikit tenang.
Tampa ragu, anak itupun memakan makanan yang ada di hadapan nya dengan sangat rakus, karna memang dirinya sudah sangat kelaparan, melihat anak itu lahap memakan makanan nya Agus dan Bagas pun tersenyum.
Setelah mereka selesai makan, kini mereka pun duduk santai meminum minuman dingin masih di kedai tersebut.
" Boleh aku tau siapa nama mu?" tanya Bagas menatap anak itu.
Sementara anak itu masih terdiam menatap Bagas, seolah masih tidak mempercayai orang-orang yang ada di hadapan nya saat ini.
" Kau tidak usah takut, kami bukan orang jahat, kami hanya ingin menolongmu. " ucap Agus tersenyum ramah.
Sejenak anak itu terdiam seolah sedang mencerna perkataan yang di ucapkan Bagas dan Agus.
" Percayalah! " ucap Bagas memegang pundak anak itu dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
" Namaku Leo." akhirnya anak itu berbicara.
" Lalu? " tanya Bagas.
" Aku anak yatim piatu, ayah dan ibuku sudah lama meninggal, tetangga rumahku menyerahkan aku pada orang lain untuk di Adopsi. Tapi ternyata, orang yang mengadopsiku hanya menyiksaku, menindasku, dan menyuruhku untuk menjadi pencuri agar aku menghasilkan uang, aku juga sudah dua hari tidak makan, mudah saja aku menghasilkan uang untuk makan dengan mencuri atau jadi pencopet, tapi aku teringat almarhum ibuku yang mendidiku dan menasihatiku kalau mencuri itu tidak baik. " ucap Leo kecil.
Bagas, Agus dan para Bodiguart yang mendengar itupun berubah sendu mendengar perkataan anak malang itu.
" Lalu kau tinggal di mana? " tanya Agus.
" Aku tinggal di jalanan, atau tidur di emperan toko orang." ucap anak itu dengan tegas dan wajah dingin nya, seolah takdir hidup yang pahit itu sudah menjadi teman hidupnya.
Bagas yang mendengar penjelasan anak itu pun mengisaratkan matanya melirik Agus. Isyarat mata Bagas itu pun mengisaratkan kalau Agus harus mencari tau kebenaran cerita anak itu, Agus pun mengerti dengan tatapan mata Bagas sahabatnya itu.
" Apa kau masih ingat Alamat tempat tinggalmu dulu? " tanya Agus.
Leo kecil pun menjelaskan semuanya, menceritakan kehidupan pahitnya, mulai dari orang tuanya meninggal sampai keadaan nya sekarang, Leo kecil juga memberitau Agus Alamat rumahnya yang dulu.
Setelah Agus mendengar semua penjelasan nya, Agus pun berdiri sedikit menjauh dari meja dan menelpon seseorang untuk mencari tau kebenaran tentang cerita seorang Leo kecil, setelah Agus selesai menelpon, dia pun kembali duduk di kursi yang sama.
" Em.. jadi namamu Leo? apa kau mau ikut dengan Om? " tanya Bagas.
" Maksud Om? "
" Ya ikut dengan om, om juga punya satu anak Laki-laki namanya Abian, mungkin seumuran dengan mu, sekarang Usianya 10 tahun, dan anak kedua om perempuan namanya Selin dia masih bayi. " ucap Bagas.
" Aku tidak mengerti apa maksud om, ya, aku juga berusia 10 tahun, hanya saja aku tidak mengerti, aku hanya seorang anak jalanan, kenapa om ingin agar aku ikut dengan om? " tanya Leo kecil keheranan.
" Karna om percaya kau adalah anak baik, kau sudah mau jujur pada om, kau maukan ikut dengan om? menjadi sala satu orang kepercayaan om." ucap Bagas mengulurkan tangan nya tersenyum ramah di hadapan Leo kecil.
Sejenak Leo kecil pun terdiam, mencerna tawaran yang di tawarkan oleh Bagas, dan akhirnya Leo kecilpun memutuskan menerima uluran tangan Bagas dengan tersenyum kecil seolah percaya kepada Bagas, Laki-laki dewasa yang telah berbaik hati memberinya makan, walaupun mereka tidak saling kenal
Agus dan para Bodiguart yang sedang duduk pun tersenyum bangga, melihat kebaikan Bagas yang tak pandang bulu. Walaupun Bagas sudah menjadi orang besar, memiliki kekayaan dan kekuasaan, tapi Bagas tetap rendah hati, dan itulah yang Agus dan para Bodiguart banggakan bekerja bersama seorang Bagas pratama.
Setelah itu Agus, Bagas dan Leo kecil pun pulang ke Hotel tempat mereka menginap bersama para Bodiguart. Dengan harapan, apa yang di katakan Leo kecil adalah benar, karna kini Bagas berpikir sudah benar-benar mempercayai Leo kecil, Agus dan Bagas pun pulang ke Hotel, sambil menunggu jawaban dari orang yang Agus suruh untuk mencari tau kebenaran tentang seorang Leo kecil yang tidak sengaja di temuinya itu.
*
__ADS_1
*
*