CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Minta Maaf


__ADS_3

Tepat pukul 20.30 Aisyah sudah sampai di depan rumah. Saat keluar dari dalam mobil Mbok Siti dan beberapa pelayan menyambutnya seperti biasa.


Angin malam yang sejuk menerpa tubuh Aisyah yang begitu terasa nyaman dirasakannya. Tapi entah kenapa, walaupun tubuhnya merasa nyaman tapi hatinya tetap gelisah. Aisyah tau, kalau saat ini dirinya pulang terlalu malam. Dan entah hukuman apa yang akan dirinya dapatkan dari Abian suaminya.


" Nona. Kenapa nona pulang malam? " ucap Mbok Siti mengikuti langkah Aisyah dari belakang.


" Iya, aku pulang ke maleman Mbok, tadi ada urusan sebentar. Apa a Bian sudah pulang? " tanya Aisyah terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tampa melirik Mbok Siti


" Tuan muda sudah pulang dari tadi sore nona, saya rasa lebih baik nona segera masuk ke dalam kamar. Mungkin tuan muda sudah menunggu anda. " ucap Mbok Siti masih mengikuti langkah Aisyah dari belakang.


Aisyah menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mbok Siti " Ya sudah, Mbok pergi saja, kerjakan tugas Mbok kembali. Saya bisa sendiri, tidak usah antar saya ke kamar. " Aisyah tersenyum ramah.


Mbok Siti dan pelayan lain pun kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.


Saat Aisyah berjalan untuk naik lift menuju lantai atas tempat kamarnya berada, Aisyah melihat Leo sedang duduk santai di sofa.


Meminum sekangkir kopi dan layar leptop yang masih menyala di atas meja tepat di hadapannya. Aisyah menghampiri Leo dan berdiri di dekatnya.


" Ka Leo... " ucap Aisyah sedikit pelan, namun sedikit lirih karna rasa takutnya, kalau Abian suaminya akan marah karna dirinya pulang terlalu malam.


" Emm... " Leo masih menikmati secangkir kopi di tangannya.


" Ka Leo... apa tadi a Bian marah, karna sekarang aku pulang malam?" tanya Aisyah masih berdiri menatap Leo.


" Saya tidak tau nona. Lebih baik, sekarang anda langsung masuk ke dalam kamar dan temui saja Abian secara langsung." ucap Leo masih menikmati secangkir kopinya tampa melihat Aisyah.


" Ikhh... ka Leo ko gitu sihh? " Aisyah menghentakan kakinya merasa kesal sendiri.


Sementara Leo, masih menikmati secangkir kopinya sambil tersenyum kecil tampa terlihat oleh Aisyah. Leo berhasil bersikap acuh kepada Aisyah, sesuai seperti apa yang Abian inginkan.


Hari ini, Abian menyuruh Leo untuk bersikap cuek kepada Aisyah. Karna Abian berniat mengerjai istrinya yang pasti akan pulang malam. Dan semua penyebab Aisyah pulang malam, Abian sendiri sebenarnya sudah mengetahuinya. Karna mata-mata yang dia suruh sudah melaporkan setiap gerak gerik yang Aisyah lakukan.


Aisyah melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift menuju lantai atas. Saat Aisyah sampai di depan kamar, Aisyah berdiri mematung menggenggam tas yang dia bawa dengan erat, merasa ragu untuk masuk ke dalam kamar.


Namun tidak mungkin Aisyah terus berdiri saja di depan pintu. Akhirnya Aisyah memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar sambil mengucapkan salam.


" Asalamualikum... " Aisyah mengucapkan salam sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar.


" Waalaikumsalam... "


Terlihat Abian sedang duduk santai di atas ranjang, bersandar di headboard sambil pokus menatap layar laptop di hadapannya.


" Aa... " Aisyah berdiri di depan ranjang menatap Abian.


" Hemm... udah makan malam? " tanya Abian tegas, masih pokus menatap layar laptopnya.


" Udah. " jawab Aisyah tertunduk.


" Udah solat isya? "


" Udah, tadi di jalan aku mampir dulu ke masjid terdekat, solat isya dulu bersama Pak Mun. " Aisyah masih tertunduk.


" Sekarang, masuk ke kamar mandi dan bersihkan dirimu. Sudah malam. " ucap Abian masih pokus menatap layar laptopnya dengan memasang wajah cueknya.


Ikhhh... Apa a Bian benar-benar marah? kenapa wajahnya seperti itu? dia bahkan tidak melihatku sama sekali.


Aisyah berjalan masuk ke dalam ruang ganti, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah Aisyah pergi, Abian menatap kepergian Aisyah dan tertawa.


Abian tertawa sendiri karna sudah berhasil mengerjai istrinya. Padahal Abian sendiri hanya pura-pura marah untuk mengerjai istrinya.


" Kita lihat, apa yang akan kau lakukan sayang? apa kau akan memohon pada suamimu ini? " Abian masih tertawa sendiri bersandar santai di headboard ranjang.


Setelah selesai mandi, Aisyah memakai baju tidur kekurangan bahan yang biasa di sukai suaminya itu, dengan rambutnya yang sudah di gerai kesamping. Setelah selesai, Aisyah berjalan mendekati Abian yang masih duduk santai di atas ranjang, masih pokus dengan leptopnya.


Aisyah merangkak naik ke atas ranjang mendekati Abian. Dan duduk di samping Abian, berharap suaminya Abian tidak akan marah padanya.


" Aa... maaf, aku salah karna sudah pulang malam. " Aisyah memulai pembicaraan.


" Hemm... "


Abian masih pura-pura pokus menatap layar laptopnya. Padahal dalam hati, Abian bersorak gembira.


" Aa... apa aa marah? "

__ADS_1


" Hemm..."


" Ikhh... Aa, tatap aku kalau bicara. Kenapa aa cuekin aku kaya gitu? " Aisyah mulai gelisah.


" Hemm... " Abian masih dengan mode pura-pura cueknya.


" Aa.... "


Rengek Aisyah mendekati Abian, dengan memegang tangan Abian sedikit menggoyang-goyangkan tangan Abian.


Abian melepaskan tangan Aisyah, menutup laptopnya dan menyimpannya di atas nakas.


Abian menatap Aisyah masih dengan ekspresi wajahnya yang pura-pura cuek.


" Aa marah? " ucap Aisyah menatap Abian.


" Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang." masih dengan mode pura-pura cuek.


Ikhh... aku nanya juga, kenapa malah di jawab dengan pertanyaan? apa a Bian beneran marah? atau a Bian lagi ngerjain aku?


" Dari moll bersama Selin, bukannya Selin udah minta izin sama aa? "


" Lalu..? "


" Jalan-jalan aja di moll, main di Time Zone, nonton di Bioskop dan makan di kafe moll. " jawab Aisyah.


Ahhh.... kena kau, kau pikir aku tidak kau? sebenarnya kau nonton bersama Devdas juga kan? kau sudah berhasil membuat suamimu cemburu Aisyah. Dan malam ini, kau harus mendapat hukumannya.


" Lalu? "


" Lalu apa? " Aisyah kebingunan.


Aisyah melupakan tentang Dhafina dan Devdas. Di saat Aisyah ingat dan ingin menjelaskan, tiba-tiba tangan Abian sudah menarik telinganya.


" Akhh... aa sakit. " rengek Aisyah memegang tangan Abian yang sedang menarik telinganya.


" Sakit? kau bilang sakit? lalu kenapa kau berani pulang malam? " ucap Abian melepaskan tangannya.


" Maaf a, aku salah. " ucap Aisyah tertunduk masih memegang telinganya.


" Memohon? tapi gimana? " Aisyah di buat bingung.


" Gimana? emm... gimana ya? " Abian pura-pura berpikir.


" Ke sini. " Abian menepuk perutnya sendiri.


" Apa? " Aisyah semakin keheranan.


" Ke sini sayang, kamu duduk di atas tubuh aa. " pinta Abian.


" Tapi... "


Ucapan Aisyah terpotong karna Abian memegang tangan Aisyah, menggiring Aisyah untuk duduk di atas tubuhnya. Abian tersenyum senang karna Aisyah menuruti keinginannya tampa perlawanan.


" Bagus. Hari ini istriku penurut sekali. " Abian tersenyum. " Ayo. Bujuk aa sekarang, bujuk aa supaya aa memaafkanmu. " pinta Abian.


" Tapi gimana? "


" Minta maaf sama aa, setiap kamu minta maaf kamu harus cium aa. Mulai dari kening, mata, kedua pipi dan bibir aa. " Abian menunjuk area yang harus di cium Aisyah.


Ikhh... kenapa aku merasa sedang di kerjain sama suamiku sendiri? A Bian sedang menghukumku, atau menyuruhku untuk mencium dirinya?


" Kenapa malah diam? lakukan." titah Abian masih pura-pura cuek.


" Maaf. " Aisyah mendekat mencium kening Abian.


" Jelaskan. "


" Tadi aku jalan-jalan ke moll, lalu main di Time Zone bersama Selin. Lalu masuk ke toko baju. "


" Cium lagi." pinta Abian.


" Maaf. " ucap Aisyah mencium kedua mata Abian.

__ADS_1


" Jelaskan. "


" Di toko baju aku ketemu ka Devdas teman aa itu. Lalu aku dan Selin pergi nonton sama Selin dan ka Devdas. "


" Cium lagi. "


" Maaf. " Aisyah mencium kedua pipi Abian.


" Jelaskan. " pinta Abian merangkul erat pinggang Aisyah yang duduk di atas tubuhnya.


" Habis nonton, aku ketemu ka Dhafina di parkiran. Aku gak tau masalah apa yang ka Dhafina alami, aku membawa ka Dhafina ke lestoran yang biasa aa kunjungi. "


" Lalu? "


" Kami cuma makan aja. Kasihan ka Dhafina a, waktu di parkiran, ka Dhafina di kejar preman. Aku rasa preman itu mau menyakiti ka Dhafina." ucap Aisyah polos.


" Jangan so jadi pahlawan kesiangan, mengurusi kehidupan orang lain. Apa itu? merepotkan saja. Kau sendiri belum tentu bisa lolos dari suamimu malam ini. " sindir Abian.


Dasar kau ini. Kau terlalu polos, sampai kau tidak sadar kalau orang-orang yang mendekatimu hanya mau memanpaatkan dirimu saja. Malam ini kau harus ku hukum.


" Cium lagi. " pinta Abian.


" Iya. " ucap Aisyah pasrah dan mencium bibir suaminya itu.


Namun, di saat Aisyah mau melepaskan ciumannya. Abian malah semakin memperdalam ciuman mereka, menekan tengkuk Aisyah dan memeluk erat tubuhnya. Membuat ciuman itu semakin dalam.


Sepersekian detik, Abian membalik keadaan. Menggulingkan tubuh Aisyah, menjadikan tubuh Aisyah berada di bawah kendalinya dan


menikmati apa yang Abian inginkan.


" Bernapas. Aa kan sudah bilang, kalau lagi ciuman itu bernapas sayang, jangan malah menahan napasmu seperti itu. " ucap Abian menatap Aisyah dan mengusap bibir Aisyah yang sudah basah akibat ulahnya itu.


" Jadi, apa lagi yang kau lakukan bersama Dhafina? " tanya Abian, namun tangannya sudah tidak bisa di kondisikan. Tangan Abian sudah melakukan apa yang dia inginkan.


Tangan Abian menarik tali baju di bagian dada Aisyah, membuat baju tidur kekurangan bahan itu terbuka di bagian dada. Memperlihatkan sesuatu yang indah di mata Abian.


Ikhhh... apa ini? katanya menyuruhku untuk menjelaskan, tapi Kenapa sekarang malah membuka bajuku seperti ini? apa a Bian benar-benar sedang mengerjaiku?


" Jelaskan. " pinta Abian sudah menyusuri leher Aisyah lalu turun ke bagian bawah. Membuat beberapa tanda kepemilikannya di sana.


" Aku harus menjelaskan apa? gak ada apa-apa lagi a, udah, cuma itu aja. Akhh... jangan di gigit a, sakit. " rengek Aisyah mencengkram rambut Abian.


" Memangnya kenapa? lagi pula ini semua miliku. " ucap Abian tampa menghentikan kegiatan asyiknya itu.


Ikhhh... aku rasa malam ini aku tidak akan lolos. Walaupun aku sudah menjelaskannya, a Bian pasti akan tetap memberiku hukuman dan membuat seluruh tubuhku pegal semalaman.


Malam yang panjang baru saja di mulai. Dan apa yang seharusnya terjadi sudah terjadi, Abian memberikan hukumannya untuk Aisyah. Dan apa yang terdengar di kamar itu, hanyalah desahan dua insan yang sudah Halal sedang menikmati malamnya.


" Tidurlah sayang. Malam ini kau sudah mendapatkan hukumanmu. " ucap Abian tersenyum menatap Aisyah yang sudah tertidur lelap.


Abian mencium kening dan bibir Aisyah, menarik selimut sampai ke leher Aisyah untuk menutupi tubuh polos istrinya itu.


" Heyy... kau ini begitu terlelap dalam tidurmu. Sampai kau tidak merasakan aku mencium kening dan bibirmu." Abian tersenyum menatap wajah Aisyah yang begitu menikmati dunia mimpinya.


Abian turun dari atas ranjang, mengambil piamanya yang tergeletak di atas lantai dan memakainya kembali.


Abian keluar dari dalam kamar tepat pukul 23.00 WIB. Abian melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. Abian tau, bahwa Leo pasti sedang ada di dalam ruang kerjanya. Karna Abian sendiri yang menyuruh Leo untuk mencari tau sesuatu yang membuat Abian penasaran.


Saat Abian masuk ke dalam ruang kerjanya, Leo berdiri bersama seorang laki-laki, sedikit membungkukan badan memberikan hormat kepada Abian.


" Apa kau sudah melakukan apa yang aku suruh Leo? " Abian memperlihatkan wajah dingin dan tegasnya sambil duduk di sofa menatap Leo dan laki-laki itu.


" Sudah tuan muda. Dia adalah seorang peretas handal kepercayaan keluarga pratama, dia juga sudah mengumpulkan bukti lebih lengkap tentang Devdas dan segala yang berhubungan dengan Devdas. Secara diam-diam meretas sistem komputer perusahaan Dev dan juga meretas kamera CCTV. " ucap Leo menjelaskan.


" Tunjukan hasil kerja kerasmu, dan jangan sampai kau membuatku kecewa. " ucap Abian tegas.


Laki-laki itu membuka leptopnya dan memperlihatkan semua bukti yang dia dapat. Termasuk memperlihatkan sesuatu yang menarik di mata Abian. Abian tersenyum melihat sebuah vidio.


" Cih... jadi begini cara Dev mencoba mempermainkan kita. Kita lihat saja, sampai kapan mereka akan mempermainkan kita? aku jadi semakin penasaran, apa yang sebenarnya Dev inginkan dariku? dengan senang hati aku ikuti permainan ini. " Abian tersenyum menyeringai.


Sementara Leo dan peretas itu hanya bergidik ngeri, menatap ekspresi wajah Abian yang saat ini sedikit menyeramkan menurut mereka.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2