CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Penjelasan Dhafina


__ADS_3

Setelah selesai dengan segala kesibukannya di kampus. Aisyah kembali pulang ke apartemen ayahnya Agus dengan di antar Pak Mun seperti biasa. Setelah sampai di apartemen, Aisyah hanya berbaring di atas ranjang, memikirkan semua masalah yang sedang dia hadapi.


Masalah dirinya dengan Devdas, yang mengatakan akan terus mengaguminya walau Aisyah tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan juga masalah hatinya yang masih meragukan Abian, tapi di sisi lain, Dhafina mengirim pesan kepadanya meminta untuk bertemu nanti sore.


" Akhh.... sebenarnya aku harus gimana? aku pusing... kenapa juga masalahnya jadi begini? ya Alloh... aku bingung... "


Aisyah hanya guling ke sana guling ke mari sendiri di atas ranjang, merasa pusing dengan masalah yang sedang dia hadapi. Akhirnya tidak terasa waktu asyar sudah tiba, Aisyah memutuskan setelah adzan asyar akan menemui Dhafina. Seperti pesan yang sudah di kirimkan Dhafina kepadanya, berharap ada penjelasan dari Dhafina yang akan memberikan titik terang dalam masalahnya.


Setelah menghubungi Pak Mun, Aisyah pergi bersama Pak Mun menuju kafe yang sudah dia setujui bersama Dhafina.


Setelah sampai di kafe yang di tuju, kaki Aisyah seolah berat untuk melangkah. Perasaannya masih ragu untuk menemui Dhafina, karna di bayang-bayangi adegan Dhafina bersama Abian yang berpelukan dan berciuman.


Namun, Aisyah menguatkan hati dan menyerahkan semuanya kepada tuhan. Membuang jauh egonya dan memberanikan diri melangkah untuk menemui Dhafina.


Di dalam kafe Aisyah mencari sosok Dhafina yang ternyata sedang duduk menikmati minumannya seolah benar sedang menunggu dirinya.


" Asalamualaikum... ka Dhafina. " Aisyah berdiri tersenyum ramah menatap Dhafina.


" Waalaikumsalam, Aisyah... " Dhafina berdiri dari duduknya langsung memeluk Aisyah.


" Gimana kabar kamu sekarang? udah berapa hari ya kita gak ketemu? " ucap Dhafina berbasa-basi tersenyum ramah, mereka pun duduk di kursi masing-masing.


" Em... entahlah ka, aku juga lupa. " Aisyah tersenyum ramah. Namun kecanggungan Aisyah dapat terlihat jelas oleh Dhafina.


Dhafina hanya tersenyum ramah melihat tingkah Aisyah yang merasa canggung bertemu dengannya. Dhafina mengerti, pasti ada kesalah pahaman antara Aisyah, Abian dan juga dirinya. Itu sebabnya, Dhafina meminta bertemu dengan Aisyah untuk meluruskan kesalah pahaman antara mereka.


Setelah Aisyah memesan satu minuman, Aisyah dan Dhafina kembali berbincang.


" Aisyah, boleh aku tanya sesuatu? "


Dhafina menatap Aisyah dengan wajah seriusnya. Dan mendapat anggukan dari Aisyah pertanda menyetujui pertanyaan Dhafina.


" Apa hubunganmu dengan Abian baik-baik saja? " tanya Dhafina.


Sementara Aisyah hanya diam menatap Dhafina dalam. Merasa bingung akan pertanyaan yang di berikan Dhafina.


" Aku minta maaf. Kalau pertanyaanku menyinggung dirimu, aku hanya tidak mau terjadi kesalah pahaman antara dirimu dan Abian karna diriku. Waktu di kantor sebenarnya kamu salah paham. Aku dan Abian ti... "


" Tidak selingkuh, begitu maksud kaka? "


Aisyah langsung memotong perkataan Dhafina. Aisyah memang bukan nabi dan bukan rosul yang harus selalu bersabar, walau bagai manapun Aisyah hanyalah wanita biasa yang juga memiliki batas kesabaran. Mungkin hari ini Aisyah masih merasa sedikit marah, sampai dirinya memotong perkataan Dhafina.


" Dengarkan dulu penjelasanku Aisyah. Aku bersungguh-sungguh ingin meluruskan kesalah pahaman ini. Abian sama sekali tidak salah dan Abian sama sekali tidak selingkuh di belakangmu. Saat itu aku dan Abian sedang melak... "

__ADS_1


" Melakukan adegan mesra, berpelukan dan berciuman dengan a Bian, begitu maksud kaka?"


Aisyah kembali memotong perkataan Dhafina. Entah kenapa hari ini Aisyah seolah benar-benar tersulut emosi, Antara harus percaya dengan penjelasan Dhafina atau harus marah akan perlakuan Dhafina dan Abian di belakangnya.


Aisyah memang masih muda, usianya saja masih sembilan belas tahun jalan dua puluh tahun. Sangat jauh jika di bandingkan dengan Dhafina atau Abian, tapi Aisyah bukan lagi anak kecil yang bisa di bodohi.


Walau bagai manapun Aisyah sudah dewasa dan paham betul arti kedekatan Dhafina dan Aisyah. Apalagi masalah itu menyangkut Abian yang sudah menjadi suaminya.


Dhafina hanya menghembuskan napasnya kasar. Walaupun Abian atau Aisyah tidak mengatakan apapun tentang rumah tangga mereka, tapi Dhafina semakin yakin kalau Aisyah dan Abian sedang mengalami masalah rumah tangga yang di akibatkan oleh dirinya.


" Apa malam itu kau melihat aku dan Abian berciuman? " tanya Dhafina yang langsung di pahami oleh Aisyah.


" Iya. " ucap Aisyah dengan sorot matanya yang tajam, seolah secara tidak langsung menyudutkan Dhafina dan mengisyaratkan meminta penjelasan yang akurat dan jelas dari Dhafina.


" Apa waktu di kantor, kau juga salah paham melihat aku dan Abian yang berpelukan, sampai kau pergi begitu saja, tampa mendengar penjelasan dariku? " tanya Dhafina masih menatap Aisyah.


" Ya. "


" Apa kau juga cemburu padaku? Apa rumah tanggamu bermasalah karna aku? " tanya Dhafina.


" Ya. Semua itu benar. Wanita mana yang tidak cemburu melihat suaminya sendiri bermain gila dengan mantan kekasihnya. Aku tau, aku hanyalah wanita biasa yang tidak punya apa-apa. Tapi walau bagai manapun, aku juga hanya wanita biasa yang tetap akan merasakan sakit dan kecewa jika melihat orang yang ku sayangi melakukan itu dengan mantan kekasihnya. " sindir Aisyah tegas, namun tetap berusaha menahan dan mengatur emosinya.


" Kau benar Aisyah, jika aku di posisimu aku juga pasti akan marah dan kecewa. Maafkan aku, karna diriku rumah tanggamu bermasalah. " ucap Dhafina lirih.


" Tentu tidak. Aku tau, hanya dengan kata maaf saja tidak akan mengembalikan semuanya. Aku akan menjelaskan semuanya padamu, agar kau mengerti dan tau permasalahannya, agar kau sendiri tidak terus salah paham." ucap Dhafina.


" Baiklah, silahkan jelaskan, aku akan mendengarkan. Maaf ka, tadi aku sedikit terbawa emosi. " ucap Aisyah.


" Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. " ucap Dhafina tersenyum ramah.


" Baiklah, akan aku jelaskan." terdengar Dhafina menghembuskan napasnya. seolah mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan.


" Sebenarnya, pada awalnya aku memang berniat untuk merebut Abian darimu, dengan cara mendekatimu dan berteman denganmu. Dengan harapan, Abian akan kembali ke pelukanku dan bersama kembali denganku. Tapi, ternyata aku salah, sekarang di hati Abian hanya terukir namamu saja, dan tidak akan tergantikan lagi oleh siapapun juga." Dhafina menjelaskan.


" Lalu? "


" Malam itu, aku tidak sengaja melihat Abian sedang sendiri. Aku berpikir, itu adalah kesempatan bagus untuk menggoda Abian dam mencoba merayu Abian agar dia kembali padaku. Tapi lagi-lagi aku salah, Abian tidak menganggapku dan tidak meladeni semua permainanku, bahkan saat aku mencium Abian, malam itu Abian juga tidak menanggapi ciumanku. Pada malam itu Abian berhasil membuatku sadar, bahwa sebagai seorang wanita, aku sudah sangat keterlaluan. Dengan melakukan itu semua, sama saja dengan aku menunjukan kepada semua orang betapa hinanya diriku. " ucap Dhafina lirih.


Aisyah yang tadinya sedikit emosi mulai terbawa suasana. Hatinya sedikit luluh dan merasa kasihan, karna walau bagai manapun, Dhafina adalah wanita yang pernah singgah di hati Abian.


" Lalu? "


Tanya Aisyah semakin penasaran. Yang tadinya tegas, kini raut wajahnya kembali seperti semula.

__ADS_1


" Hari itu aku menemui Abian di kantornya dan meminta maaf padanya, atas semua perlakuanku yang tidak benar dan telah menyakitinya di masa lalu. Aku juga menceritakan semuanya kepada Abian, tentang kehidupanku, semua masalaluku dan masalahku dengan seseorang yang memperbudak diriku. "


" Memperbudak? " tanya Aisyah heran.


" Ya, aku menceritakan semuanya dan berusaha meminta pertolongan kepada Abian. Aku berharap, dengan aku meminta maaf dan mengakui semua kesalahanku Abian mau membantu dan menolongku. " ucap Dhafina.


" Lalu? "


" Kau tau, aku sendiri tidak menyangka, dengan semua kesalahan patal yang aku perbuat, Abian masih saja mau menolongku dan membuatku keluar dari semua permasalahan yang aku alami. Saat ini aku sudah bebas dari semua masalahku karna suamimu Abian yang mau menolongku. Semu surat perjanjian yang mengikat diriku dan juga ayahku sudah Abian dapatkan dan sudah di hancurkan. Bahkan, Abian mau menolong perusahaan ayahku yang hampir bangkrut, memberikan pinjaman modal yang sangat besar untuk ayahku dan memberikan kesempatan kepada perusahaan ayahku untuk bernaung di bawah perusahaan pratama group. "


" Tunggu, tunggu. Siapa yang memperbudakmu ka? aku sama sekali tidak mengerti. Sukur alhamdulilah jika memang a Bian sudah menolong kaka dan sekarang kaka mau menjelaskan semuanya padaku. Tapi aku tidak mengerti, siapa yang memperbudak kaka? tega sekali. " ucap Aisyah.


" Apa kau ingin tau siapa yang memperbudak diriku? " tanya Dhafina.


" Ya, aku ingin tau, memangnya siapa ka? " Aisyah semakin penasaran.


" Orang itu adalah orang yang sangat kau kenali, berkedok laki-laki tampan dan pengusaha sukses. Padahal sebenarnya, dia seorang mafia, menjual barang haram dan barang terlarang dan juga menjual para wanita sebagai barang dagangan yang tidak berguna. " ucap Dhafina.


" Orang yang aku kenal, siapa? " Aisyah semakin heran sekaligus terkejut.


Aisyah tidak menyangka, orang yang memperbudak Dhafina adalah orang yang mungkin pernah Aisyah kenal.


" Dia adalah Devdas raharjo. " ucap Dhafina.


Seolah tersambar petir di siang bolong, Aisyah merasa terkejut dengan nama yang di sebutkan oleh Dhafina.


" Tunggu, tunggu. Devdas raharjo? apa mungkin... " Aisyah menatap Dhafina dalam dan mendapat anggukan dari Dhafina.


" Ya, Devdas raharjo yang aku maksud adalah Devdas raharjo yang kau kenal. Dia juga yang menyuruhku untuk mendekati Abian dan menghancurkan rumah tanggamu dan Abian, walaupun memang aku juga masih menginginkan Abian, tapi sekarang aku sadar kalau aku salah. "


" Tidak mungkin, ka Dhafina pasti bohong 'kan?" Aisyah masih belum benar-benar percaya.


Yang akhirnya membuat Dhafina menjelaskan semuanya secara detail kepada Aisyah. Semua kehidupan Devdas dan dirinya, termasuk Devdas dan Abian yang belum lama ini bertengkar sampai membuat mereka berdua babak belur.


Setelah selesai berbincang dengan Dhafina, saat ini Aisyah berjalan gontai keluar dari kafe dengan perasaan yang berkecamuk tidak karuan. Pikirannya juga kacau dengan berbagai tanda tanya bermunculan di benaknya.


Masih dengan pikiran yang kacau, Aisyah melamun sendiri di dalam mobil membuat Pak Mun sedikit keheranan.


" Nona, apa nona tidak apa-apa? " tanya Pak Mun khawatir melihat Aisyah yang hanya diam melamun dari tadi.


" Aku tidak apa-apa Pak Mun. Sebentar lagi masuk waktu magrib, kita mampir dulu ke masjid terdekat." ucap Aisyah lesu menyandarkan kepalanya menatap ke arah samping kaca mobil.


Aisyah merasa terkejut sekaligus merasa bingung akan semua penjelasan yang di jelaskan oleh Dhafina. Hatinya semakin merasa bersalah, karna secara tidak langsung, Devdas menjadi seperti itu karna menginginkan dirinya.

__ADS_1


Kini yang bisa Aisyah lakukan hanya menyerah pasrah kepada tuhan yang mengatur semua kehidupan. Menyerahkan semua masalahnya kepada tuhan, berharap tuhan akan memberikan jalan yang terang untuknya menghadapi semua masalah yang menimpa dirinya.


__ADS_2