
Selang beberapa hari Selin berkunjung ke rumah Abian dan Aisyah. Abian dan Aisyah berencana untuk menginap di rumah papah Bagas beberapa hari untuk memenuhi permintaan mamah Santi yang meminta mereka untuk menginap.
Karna semenjak mereka menikah mereka belum berkunjung lagi ke rumah Bagas, di karnakan kesibukan Abian sebagai Ceo di perusahaan dan lagi Aisyah yang sibuk dengan kuliahnya, apalagi Aisyah dan Selin yang sebentar lagi menghadapi ke lulusan nya.
Aisyah dan Selin memang masih muda dan baru saja masuk kuliah, tapi karna tuhan memberikan kepintaran lebih kepada mereka, membuat Selin dan Aisyah bisa menyelesaikan gelar Sarjana nya tahun ini juga, begitu juga dengan teman mereka Jojo alias Joko dan Jono.
Walau pun mereka berasal dari kalangan orang biasa, tapi karna kepintaran mereka itulah yang membuat mereka bisa mendapatkan beasiswa dan kuliah di sala satu universitas terbaik di jakarta. Dan itu juga yang membuat Joko dan Jono kemungkinan besar bisa mendapatkan gelar sarjana tahun ini juga bersama Selin dan Aisyah.
" Hey.. tunggu dong."
Ucap Jono setengah berlari mengejar Selin dan Aisyah.
" Tungguin gue juga! " ucap Joko.
Setelah jam kuliah selesai dan keluar dari kelas, mereka setengah berlari mengejar Aisyah dan Selin untuk mengajak mereka pulang bersama.
" Sel hari ini pulang bersama yu.! "
Ucap Joko yang sudah berjalan bersama dengan Selin dan Aisyah keluar dari kampus.
" Enggak ah! hari ini gue mau langsung pulang ke rumah." ucap Selin.
" Yah... gak seru nih, maen dulu ke, atau jajan Bakso dulu ke, di kedai Bakso yang biasa." ucap Jojo menawarkan.
" Sory ye, hari ini kita mau pulang." ucap Selin sambil berlari memegang tangan Aisyah ke arah parkiran meninggalkan Jojo di belakang mereka.
" Kita duluan ya! " ucap Aisyah melambaikan tangan ke arah Jojo.
Joko dan Jono pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Aisyah dan Selin yang berlalu meninggalkan mereka, pergi ke parkiran dan di jemput oleh Pak Mun seperti biasa.
Di dalam mobil
" Hadeuh... si Joko sama Jono nempel mulu kaya perangko." ucap Selin.
Aisyah yang mendengar itupun hanya tersenyum sambil duduk santai bersandar di kursi penumpang berdampingan dengan Selin.
" Oya Sya, gimana sekarang perkembangan hubungan kamu sama ka Abian? " tanya Selin.
" Maksudnya? " Aisyah keheranan.
" Ya hubungan kamu sama ka Abian," Selin mendekati Aisyah " udah gituan belum? " tanya Selin tersenyum sambil setengah berbisik di hadapan Aisyah.
" Selin! " nada suara Aisyah terdengar meninggi dan matanya mendelik ke arah Pak Mun.
Selin yamg melihat tatapan Aisyah yang tertuju ke arah Pak Mun langsung mengerti.
" Pak Mun saya mau tanya, apa tugas Pak Mun? " tanya Selin.
" Saya bertugas menjadi supir pribadi keluarga pratama dan menjadi orang kepercayaan keluarga pratama, apapun yang terjadi di dalam mobil, saya tidak melihat dan tidak mendengar. " ucap Pak Mun tegas.
" Good. "
Selin mengacungkan jempol nya ke arah Pak Mun.
Pak Mun yang melihat Selin dari kaca Spion pun hanya tersenyum menanggapi kelakuan nona mudanya itu. Pak Mun adalah sopir kepercayaan keluarga pratama dan mengabdikan dirinya bertahun- ahun untuk keluarga pratama.
Walau pun usia Pak Mun sudah tua, tapi Pak Mun tidak pernah lalai dalam menjalankan tugasnya, itulah yang membuat Bagas pratama sangat mempercayai Pak Mun.
" Jadi gimana? " lanjut Selin.
" Gak baik Selin, itu urusan pribadi aku sama a Bian. " tegas Aisyah
" Yah, kaka ipar gak seru nih! " ucap Selin sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
" Abis nya kamu Kepo. " ucap Aisyah tertawa.
" Tapi ka Abian kaya suami normal lain nya 'kan? " tanya Selin.
" Maksud kamu? " Aisyah sedikit bingung.
" Ya.. seperti menapkahi gitu atau yang lain nya, kamu sendiri tau kan, kalau ka Abian dulunya seorang Casanova, dia gak bisa lepas dari wanita-wanita Cantik dan Seksi. " ucap Selin yang tau kalau mamah Santi sering menceritakan kenakalan kaka nya Abian kepada Aisyah, waktu mereka masih tinggal bersama.
" Ya. "
" Lalu.? " tanya Selin.
" A Bian menapkahiku, menyediakan semua kebutuhanku, pakean, perhiasan, tas, sepatu, arloji semuanya. Bahkan a Bian hampir memberikan semua kartu kreditnya ke aku, a Bian bilang apa yang dia miliki itu miliku juga. Tapi aku menolaknya, aku cuma ngambil satu kartu kredit aja, aku merasa gak enak, aku juga belum bisa menjalani kewajibanku sebagai seorang istri seutuhnya untuk a Bian."
Ucap Aisyah sedikit tertunduk, Aisyah menyadari kalau dirinya belum bisa melayani Abian sepenuhnya sebagai seorang istri, dan Abian adalah seorang laki-laki Normal yang membutuhkan belaian hangat istrinya di atas ranjang.
" Yah.. kau benar, apalagi ka Abian adalah laki- laki normal yang pasti membutuhkan dirimu juga di atas ranjang. Tapi aku salut sama ka Abian, dia bisa nahan hasratnya lama, biasanya dia itu selalu gak bisa jauh dari cewe bayaran nya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, semenjak ka Abian nikah sama kamu, ka Abian mau berubah secara perlahan, walaupun belum seutuhnya berubah. " ucap Selin menatap Aisyah.
" Bukan karna aku Sel, a Bian mau berubah karna niatnya sendiri, aku hanyalah wanita biasa. " ucap Aisyah merendah.
" Ya.. Ya.. aku memang selalu kalah kalau bicara sama kamu." ucap Selin.
Mereka pun tertawa bersama-sama, sambil terkadang di selingi obrolan-obrolan anak muda yang cukup sulit untuk di pahami oleh Pak Mun yang berbeda generasi. Pak Mun pun hanya cuek dan terus pokus melajukan mobil mewah itu untuk sampai ke kediaman pratama.
Setelah sampai di rumah besar keluarga pratama, Aisyah dan Selin pun masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke kamar masing- masing untuk istirahat.
Mereka tau kalau mama Santi belum pulang dari acara arisan nya, begitu pun dengan Bagas, Abian dan Agus yang masih berada di kantor.
Saat di kamar, Aisyah membuka buku pelajaran nya untuk lebih memahami mata pelajaran yang di jelaskan Dosen sewaktu di kampus.
Setelah puas belajar, tak terasa adzan magrib pun terdengar, Aisyah mengambil air wudhu untuk solat magrib dulu karna memang waktu solat magrib yang sedikit, itu sebab nya Aisyah lebih mendahulukan solat magrib dulu, terlebih lagi keadaan tubuh Aisyah yang masih bersih Aisyah berpikir untuk mandi nanti setelah selesai solat magrib.
Setelah selesai solat magrib, Aisyah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan membuka ponsel nya, di sentuhnya layar ponsel nya itu dan pandangan nya langsung tertuju ke nomer ponsel Abian.
Aisyah terus berguling-guling tidak karuan di atas ranjang kamar Abian, karna kini Aisyah dan Abian sudah menikah, jadi tinggal bersama di kamar Abian yang ada di kediaman pratama.
Akhirnya Aisyah memutuskan mandi saja, untuk menenangkan dirinya yang tidak karuan karna mulai merindukan suaminya Abian.
Tak lama Abian pratama pun pulang dari kantor bersama Leo sang Sekertaris pribadinya, Abian pun langsung masuk ke kamarnya begitu juga dengan Leo yang memiliki kamar pribadi di kediaman pratama untuk istrihat, baru setelah malam Leo akan pulang ke Apartemen pribadinya.
" Aisyah kemana? "
Abian mulai celingukan di kamarnya mencari Aisyah, Abian berjalan ke arah ruang ganti sambil mulai melepas satu persatu pakean yang melekat di tubuhnya, jas, kemeja, dasi dan ikat pinggang, hanya tersisa celana nya saja. Saat Abian sampai di depan kamar mandi, Abian mendengar suara gemericik air, seringai muncul di bibir Abian.
" Aisyah pasti lagi mandi? " ucap Abian tersenyum, otak licik Abian mulai bekerja.
Dan memang benar Aisyah masih di kamar mandi, Aisyah sudah memakai handuk bathrobes di tubuhnya dan mulai mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
Tiba-tiba Abian muncul di dalam kamar mandi dan memeluk tubuh Aisyah dengan erat dari arah belakang, di karna kan memang pintu kamar mandi yang tidak di kunci.
" Ya ampun, aa ngagetin aja! " Aisyah terkejut sampai anduk di tangan nya pun terlepas.
Abian pun hanya tersenyum melihat exspresi Aisyah yang terkejut, entah kenapa hari ini Abian merasa merindukan Aisyah. Apalagi melihat Aisyah dengan hanya di tutupi handuk bathrobes dan rambut basahnya terurai, membuat birahi Abian seketika memuncak.
Apalagi Abian adalah laki-laki dewasa dan pasti tergoda dengan kecantikan Aisyah, apalagi Aisyah sudah resmi menjadi istrinya, Abian menjatuhkan kepalanya di pundak Aisyah dan mulai menelusuri leher putih Aisyah.
" A jangan! "
Aisyah mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Abian, Abian yang merasa mendapat penolakan dari Aisyah langsung melepaskan pelukan nya.
" Maaf, aa khilaf." ucap Abian dengan wajah murung, merasa sedikit kecewa telah mendapat penolakan dari istrinya Aisyah, Abian pun berbalik hendak keluar dari kamar mandi.
Aisyah yang melihat itupun merasa bersalah, karna memang Abian adalah suaminya, sudah menjadi kewajiban Aisyah untuk melayani Abian.
__ADS_1
Aisyah mempercepat langkahnya dan langsung memeluk tubuh Abian dari belakang, saat Abian memegang handel pintu langkahnya terhenti merasakan Aisyah yang sudah memeluknya.
" Aisyah, jangan peluk aa, kamu tau sendiri kalau kamu peluk aa kaya gini, aa akan tergoda." ucap Abian.
" Lakukanlah, aku siap a, maaf udah buat aa nunggu lama."
Aisyah sadar betul, sebagai seorang suami Abian pasti membutuhkan kehangatan istrinya di atas ranjang. Mendengar perkataan Aisyah, Abian langsung berbalik memegang wajah Aisyah dan menatapnya.
" Sungguh? " ucap Abian tersenyum senang.
Aisyah menganggukan kepalanya sedikit tertunduk malu.
Tampa menunggu lama Abian langsung memeluk Aisyah. Mencium bibir Aisyah dengan lembut, memegang tengkuk leher Aisyah untuk memperdalam ciuman nya, menyalurkan hasratnya yang sempat tertunda. Aisyah hanya terdiam kaku menerima perlakuan Abian.
Abian melepaskan ciuman nya dan menatap Aisyah.
" Sayang.. kalau aa lagi cium buka mulutmu." bisik Abian
Suaranya mulai terdengar berat, seiring gejolak hasratnya yang mulai memuncak.
Abian kembali mencium bibir mungil Aisyah, Aisyah pun menuruti perkataan Abian untuk membuka mulutnya mengikuti alur yang Abian lakukan. Tangan Abian pun mulai nakal menjalar menyentuh tubuh istrinya.
Tiba-tiba Aisyah sedikit mendorong tubuh Abian pelan dan melepaskan Ciuman nya.
" Jangan di sini a." pinta Aisyah dengan suara yang mulai berat, merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya.
Abian tersenyum dan langsung menggendong tubuh Aisyah, membawanya ke kamar dan perlahan merebahkan tubuh Aisyah di atas ranjang.
Tampa aba-aba Abian langsung menindih tubuh Aisyah dan kembali mencium bibir Aisyah dengan rakus, tangan Abian pun mulai meraba tubuh Aisyah dan mulai melepaskan handuk bathrobes yang melilit di tubuh Aisyah dengan tampa melepas ciuman nya dari Aisyah. Tangan Abian mulai nakal, menyentuh gundukan kenyal yang dia temukan.
Setelah puas mencium bibir Aisyah, Abian beralih ke leher putih Aisyah, membuat beberapa tanda kepemilikan nya di sana.
Setelah puas di sana, Abian sedikit turun kebagian bawah, dan membuat beberapa tanda kepemilikan nya juga di sana.
Tiba-tiba suara pintu kamar di ketuk.
Tok.... tok....
Aisyah mendengar itu, dengan sedikit mendorong bahu Abian, Aisyah pun mencoba menghentikan aksi Abian yang sedang Asyik bermain tubuhnya.
" Sayang ada apa? " tanya Abian melihat wajah Aisyah sedikit kesal karna kesenangan nya terganggu.
" Ada yang mengetuk pintu a." jawab Aisyah.
" Biarkan saja. " ucap Abian mencoba untuk mencium bibir Aisyah kembali.
" Aa.. " rengek Aisyah mencoba mencegah Abian.
Dan ternyata mama Santi lah yang mengetuk pintu untuk mengajak makan malam.
" Bian.. Aisyah.. makan malam udah siap sayang. " ucap mama Santi di depan pintu kamar.
" Iya mah, nanti Bian turun." teriak Abian dari dalam kamar sedikit kesal.
Aisyah yang masih berada di bawah tubuh Abian, hanya tersenyum melihat wajah kecewa suaminya itu.
Mau tidak mau, Abian dan Aisyah pun harus menghentikan kegiatan mereka dan menundanya. Dan selama menginap di sana, setiap kali Abian mau mencoba menyentuh Aisyah, selalu saja ada yang mengganggu.
Entah itu Selin kah, papa Bagas kah, mama Santi kah, atau Agus ayahnya Aisyah. Membuat Abian ptustasi di buatnya. Membuat Abian harus ekstra bersabar menghadapi setiap gangguan yang mengganggu dirinya dan Aisyah.
*
*
__ADS_1
*