
Ada dua gambaran wajah terlihat di kamar ini. Yang satu tersenyum indah seperti mentari pagi menyinari bumi. Dan yang satunya lagi, berwajah dingin dengan ekspresi wajah seperti membenci sesuatu.
" Sayang.... bisa tidak, kamu gak peluk kucing itu terus? "
Abian berdiri di depan ranjang, menatap Aisyah yang sedang tersenyum bahagia karna hadiah yang di berikan ayah mertuanya. Aisyah duduk bersandar di headboar ranjang sambil mengelus kucing yang sedang meringkuk tidur di pangkuan Aisyah.
" Ikhh... aa apaan sih? " Aisyah menatap Abian tajam. " Tadi sehabis solat subuh, aku telponan sama papah Bagas. Papa bilang, aku harus jaga kucing ini dengan baik, karna ada orang jahat di rumah ini, yang tega mau buang kucing lucu ini. " sindir Aisyah menatap tajam ke arah Abian.
Abian yang merasa di sindir, hanya berdiri tersenyum kikuk menatap Aisyah. Kemarin Abian memang berniat membuang kucing itu ke tempat penjualan kucing dan tidak memberi tau Aisyah tentang kucing yang di berikan papa Bagas.
Sampai Abian merebut Pet Kargo Boks itu dari Leo untuk membuang kucing itu. Tapi niatnya terhenti, karna Leo mengancam akan memberi tahu kepada papa Bagas tentang apa yang di lakukan Abian kepada kucing itu.
Sampai akhirnya waktu malam tiba. Leo lah yang memberikan kucing itu langsung kepada Aisyah. Persis seperti apa yang di amanahkan oleh papa Bagas.
" Sayang... maafin aa, kemarin aa gak bermaksud untuk buang kucing itu. Aa hanya tidak terlalu suka sama kucing, itu aja sayang. "
Abian masih berdiri sedikit jauh di depan ranjang, mencoba mengelak dari tuduhan istrinya Aisyah.
" Idih... boong, papa Bagas bilang aa memang gak suka kucing 'kan? " tatapan tajam masih di perlihatkan oleh Aisyah.
" Emm... itu ... "
Abian gelagapan mencoba mengelak, tapi Abian sendiri malah bingung untuk mencari alasan yang tepat.
" Kasian kamu Boy... kamu sama aku aja yah! kamu akan aman sama aku. " Aisyah tersenyum menatap Boy sambil mengelus Boy yang meringkuk tidur di pangkuan nya.
" Boy? "
Abian berdiri keheranan menatap Aisyah yang memanggil kucing tersebut dengan sebutan Boy.
" Iya, kucing ini aku kasih nama Boy. Soalnya kucing ini jantan dan juga tampan. " Aisyah tersenyum masih mengelus si Boy.
" Jantan? dari mana kamu tau itu jantan? " Abian masih berdiri menjaga jarak semakin keheranan menatap Aisyah.
" Aku tau, karna aku suka kucing. Dan kelamin nya juga terlihat dari belakang ada bijinya dua." Aisyah menjelaskan.
Dasar aneh. Hadeuhh... gimana gue deketin istri gue kalau gini caranya? Aisyah malah meluk kucing itu seperti memeluk sesuatu yang berharga. Gue berpikir untuk hari ini gue tidak akan masuk kantor, Gue berniat akan bermesraan dengan Aisyah seharian di kamar, tapi kucing sialan itu menghalangi niat gue.
Abian terus saja menggerutu di dalam hati, karna rencananya gatot alias gagal total. Abian masih berdiri menggunakan pakean rumahan nya, menatap Aisyah yang sedang asyik mengelus mainan barunya itu.
Begitu juga dengan Aisyah, yang sudah rapih menggunakan pakean rumahan nya dan juga hijab pasmina yang melingkar sempurna di kepala Aisyah. Abian menghembuskan napasnya kasar.
" Ox. Aa nyerah, kamu boleh pelihara kucing itu di rumah ini. Tapi... jangan di bawa ke kamar terlalu lama dan jangan di biarin tidur di atas ranjang kita sembarangan. Dan juga di waktu malam, aa gak mau liat kucing itu di sini. " tegas Abian.
" Jadi aku boleh pelihara si Boy aa? "
Mata Aisyah berbinar menatap Abian dengan senyum cerahnya.
" Iya. "
" Asyik... aku punya teman sekarang. Akhh.. Boy aku menyayangimu. "
Aisyah memeluk si Boy, dan menempelkan kepala si Boy dengan pipinya. Terdengar suara krenceng dari kalung yang di pakai si Boy. Sementara Abian, hanya berdiri begidik ngeri, menatap Aisyah yang memeluk mahluk berbulu yang Abian benci itu.
" Sayang... jangan cium dia seperti itu, aku cemburu." gerutu Abian menatap Aisyah dengan wajah cemberutnya, membuat Aisyah terkekeh.
__ADS_1
" Udah jam sepuluh, sebentar lagi Kalandra akan ke sini meriksa pergelangan kaki kamu untuk terakhir kalinya, sebelum hari senin nanti kamu kuliah lagi. Tapi, apa kamu beneran sudah sembuh? " Abian bertanya sambil duduk di sofa, masih menjaga jarak dengan si Boy yang ada di pangkuan Aisyah.
" Udah ko, cuman terasa sakit sedikit aja a. Aku mau kuliah bosan di rumah terus. " ucap Aisyah masih mengelus si Boy.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Abian mempersilahkan untuk masuk, yang ternyata adalah Kalandra bersama Mbok Siti dan Leo masuk ke kamar tersebut.
" Pagi Aisyah! " Kalandra tersenyum cerah menyapa Aisyah sambil berjalan ke arah Aisyah. " Wah... punya mainan baru sekarang ya. " Kalandra menyentuh kepala si Boy yang meringkuk di pangkuan Aisyah.
Abian yang melihat itu merasa geram dan panas, karna Kalandra bisa mendekati Aisyah. Sementara dirinya harus menjaga jarak dengan istrinya sendiri, karna terhalang oleh si Boy yang meringkuk pulas di pangkuan Aisyah.
" Sekarang kamu memiliki kelemahan Abian di pangkuan mu. " Bisik Kalandra tersenyum, duduk di pinggiran ranjang dekat kaki Aisyah.
Leo, Kalandra dan Mbok Siti tau kalau Abian sangat tidak menyukai kucing. Mbok Siti dan Leo hanya tersenyum kecil, melihat wajah masam Abian karna cemburu melihat Kalandra duduk dekat istrinya Aisyah.
" Leo... "
Teriak Abian menatap tajam ke arah Leo, Leo yang melihat isyarat yang Abian lemparkan untuknya langsung mengerti. Leo tersenyum dan mengambil Pet Kargo Boks dan berjalan mendekati Aisyah.
" Aisyah, masukan kucing nya ke sini. Sebelum nanti kucing besarmu itu marah. " pinta Leo tersenyum membuka pintu Pet Kargo Boks tersebut di hadapan Aisyah.
Aisyah melirik Abian sekilas dan tersenyum menatap wajah masam suaminya itu. Aisyah pun memasukan si Boy ke dalam Pet Kargo Boks tersebut.
Leo memberikan Pet kargo Boks tersebut kepada Mbok Siti untuk si Boy di masukan ke dalam kandangnya di lantai bawah. Hanya dalam waktu satu hari saja. Kadang mewah untuk si Boy sudah Leo dan Mbok Siti persiapkan di lantai bawah.
Karna sudah tidak ada halangan lagi, Abian pun tersenyum menghampiri Aisyah dan duduk di samping Aisyah.
Leo dan Kalandra pun tersenyum menatap Abian yang tiba-tiba seolah bahagia dengan kepergian si Boy yang di bawa Bok Siti ke lantai bawah.
" Ngapain lo berdua senyum-senyum? "
" Kita gak kenapa-kenapa, kita cuman lucu aja, liat Singa besar sang raja penakluk wanita, kalah sama kucing rumahan." sindir Kalandra tersenyum puas bersama Leo.
" Brengsek lo berdua, diem gak? " tunjuk Abian menatap tajam Leo dan Kalandra yang masih tersenyum menertawakan dirinya. Aisyah yang melihat itu pun malah tersenyum geli.
" Udah-udah, kalian bertiga itu ko malah bertengkar. " ucap Aisyah masih tersenyum.
Kalandra pun mulai memeriksa pergelangan kaki Aisyah yang masih terlihat aga kebiru-biruan.
" Apa masih terasa sakit? " Kalandra menatap Aisyah sudah selesai memeriksa.
" Tidak ka, cuma sedikit terasa aja kalau aku berjalan cepat atau sedikit berlari."
" Apa kau pernah berlari? " tanya Kalandra.
" Tidak juga sih! " Aisyah tersenyum " cuma aku mencoba berjalan cepat dari ruang ganti sampai ke sini. Dan rasanya masih sedikit ngilu ka. "
" Baiklah, aku rasa kakimu sudah hampir sembuh total. Kau mulai bisa beraktipitas seperti biasa lagi, tapi harus tetap berhati-hati. " Kalandra menjelaskan dan mendapat anggukan dari Aisyah.
" Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku harus kembali ke rumah sakit lagi. " ucap Kalandra berdiri dari duduknya.
" Sayang aku antar kalandra dulu yah! " Abian tersenyum mengecup kening Aisyah dan mendapat anggukan dari Aisyah.
Abian dan Leo juga Kalandra, keluar dari kamar tersebut meuju ruang keluarga.
" Apa aisyah sudah benar-benar sembuh? " tanya Abian yang duduk santai bersandar di sofa bersama Leo dan Kalandra.
__ADS_1
" Lo gak percaya sama gue? " tanya Kalandra sambil meminum jus di tangan nya.
" Iya.. gue percaya sama lo." ucap Abian sinis.
" Lo takut nyakitin kaki Aisyah, saat kalian berhubungan intim? " ucap Kalandra blak-blakan.
Abian langsung melotot dan menatap tajam ke arah Leo dan Kalandra.
" Gue tau, kemarin malam lo lakuin itu sama Aisyah bukan? pake acara menabur kelopak mawar segala. Lo tau? gue sama Leo yang kelabakan cari kelopak mawar segitu banyak, warna merah dan mendadak malam-malam lagi." gerutu Kalandra yang di ajak Leo mencari kelopak mawar merah malam-malam.
Abian tersenyum " Itu tugas lo berdua jadi sahabat gue. " ucap Abian enteng sambil bersandar di sofa.
" Lo yang nikmatnya, kita berdua yang sengsara. Seharusnya gak mendadak juga, kalau lo berencana dari awal, kita bisa pesen dulu, gak harus repot mendadak cari kelopak mawar malam-malam. " gerutu Leo.
Abian malah tertawa penuh kemenangan. Karna sudah membuat kedua teman nya ini sengsara.
" Gimana rasanya? " Kalandra tersenyum menatap Abian.
" Kepo lo. " ucap Abian.
" Cih... dasar, gue tau Aisyah masih murni. Gak kaya cewe-cewe bayaran lo itu, udah pada bolong. " sindir Kalandra.
" Yah... begitulah, seorang Abian pratama sang casanova penakluk wanita. Sekarang takluk dengan satu wanita, yaitu Aisyah. Sampai dirinya rela tidak masuk kantor dan guee... juga yang kena getahnya." sindir Leo.
Abian dan Kalandra saling tatap dan akhirnya tertawa bersama mendengar perkataan Leo. Leo pun akhirnya ikut tertawa melihat Abian dan Kalandra yang menertawakan dirinya.
Kehangatan dan canda tawa tiga sahabat itu terdengar mengisi ruangan keluarga tersebut. Kehangatan dan canda tawa yang sangat jarang di perlihatkan di hadapan orang lain. Karna jika di luar, ketiga sahabat itu akan berubah drastis, bersikap dingin dan cuek di hadapan orang lain.
Setelah puas berbincang, Kalandra pun pergi meninggalkan rumah besar Abian dan kembali ke rumah sakit, menjalankan tugasnya kembali sebagai seorang dokter.
Abian pun berjalan menuju lift untuk ke lantai atas. Abian tersenyum sendiri, karna senang rencananya hari ini akan terlaksana. Karna si Boy penghalangnya untuk menyentuh istrinya sudah aman masuk ke dalam kandang.
Leo yang melihat sikap Abian yang tersenyum-senyum sendiri, hanya geleng-geleng kepala keheranan melihat Abian yang mulai bucin menurutnya.
" Hadeuh... gue harus lembur lagi kayanya."
Leo harus bersiap akan tugas kantornya yang menumpuk. Di mana Abian tidak masuk kantor, maka dirinya lah sebagai sekertaris pribadi Abian yang akan di sibukan dengan segala urusan kantor.
* * *
Sementara di tempat lain, Devdas berjalan santai keluar dari universitas tempat Aisyah kuliah. Semua mahasiswa wanita yang melihat Devdas langsung berbisik-bisik melihat ketampanan dan gaya devdas yang gagah menurut mereka.
Devdas berjalan cuek dengan menggunakan setelan kemeja berwarna silver dan celana hitam. Yang terlihat pas di tubuh nya Devdas.
Saat sampai di depan universitas tersebut, Devdas menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gedung kampus tersebut.
Aku tidak perduli, walaupun kau sudah menjadi istri seorang Abian pratama, aku akan tetap berusaha mendapatkan mu Aisyah. Aku menginginkanmu.
Devdas tersenyum menatap gedung kampus tersebut. Seolah mengisyaratkan kalau Devdas sudah menyusun rencana untuk mendapatkan apa yang dia incar sesungguhnya.
Devdas pun kembali berjalan dan masuk ke dalam mobil mewahnya itu dan pergi melaju meninggalkan parkiran kampus tersebut.
*
*
__ADS_1
*