
Setelah perjalanan yang cukup lama, kini mobil Sport yang di kendarai Abian dan Aisyah, sudah sampai di alamat yang di berikan Joko dan Jono. Dari belakang di ikuti dengan mobil Sport yang di kendarai Leo dan Selin. Mobil yang mereka kendarai masih melaju dengan pelan, menyusuri jalanan alamat yang di berikan Joko dan Jono.
" Sayang, gak salah? ini beneran alamat Bioskop yang di kirim Joko dan Jono 'kan? " tanya Abian melirik Aisyah, keheranan dengan tempat yang mereka tuju ini.
" Menurut alamat yang di kirim Joko dan Jono sih, bener a. " jawab Aisyah ragu-ragu.
Aisyah Sendiri ragu-ragu dengan melihat keadaan tempatnya yang lebih mirip dengan sebuah pasar. Namun Aisyah mencoba untuk tetap berpikir fositip.
" Rambutan, rambutan, masih masuk dua orang lagi, angkotnya langsung jalan."
" Pasar minggu, pasar minggu, siapa yang mau naik? pasar minggu. "
Suara-suara tukang angkot yang sedang menarik penumpang pun terdengar, dan suara-suara lain khas orang yang sedang bekerja di angkutan umum di daerah Jakarta, terdengar ke dalam mobil yang di kendarai Abian dan Aisyah.
" Sayang, aa rasa ini bagian jakarta pinggiran, temen kamu gak salah ngasih alamat 'kan? "
Abian masih keheranan celingukan melihat kanan kiri, sambil melajukan mobil sport nya dengan pelan, masih menyusuri jalanan alamat yang mereka tuju.
" Aa, berhenti di parkiran depan deh a. " tunjuk Aisyah, saat melihat tempat parkir yang tak jauh terlihat di hadapan mereka.
Dan akhirnya Abian memutuskan memarkirkan mobilnya di parkiran tersebut, di susul dengan mobil yang di kendarai Leo, yang juga ikut parkir di samping mobil sport milik Abian.
" Maju bang, sedikit lagi bang. " suara calo parkiran langsung sigap membantu Abian memarkirkan mobil sport nya itu.
" Wahhh.. mimpi apa gue semalem, ada dua mobil mewah parkir di pinggiran jakarta gini? " calo parkiran tersebut berdiri sambil berdecak kagum, melihat mobil sport yang mewah dan elegan, terparkir di hadapan matanya.
Begitu juga dengan orang-orang yang berlalu lalang di sana, yang tak henti-hentinya menatap mobil sport mewah tersebut. Mereka berpikir mungkin ada orang kaya nyasar, yang mau membawa mobil sport mewahnya itu ke daerah pinggiran jakarta.
Leo, Selin, Abian dan Aisyah pun keluar dari dalam mobil. Selin dan Leo pun menghampiri Abian dan Aisyah yang berdiri dekat mobil sport milik Abian.
" Ka Abian, kita gak salah alamat 'kan? ini ko kaya di daerah pinggiran gitu. " ucap Selin keheranan.
" Entahlah, kaka juga gak tau, Sya coba kamu telpon Joko, tanyain sama mereka, alamat ini bener apa enggak? " ucap Abian.
Aisyah pun menuruti perkataan Abian, dan langsung menghubungi Joko menggunakan ponselnya.
" Halo, jo, kami udah sampai di alamat yang kamu bilang, tapi aku gak tau benar apa enggak, sekarang kita lagi nunggu di parkiran. " Aisyah menjelaskan.
" Apa? di parkiran, jangan-jangan deket Bioskop ya? ini aku juga lagi sama Jono di depan Bioskop. Kalau gitu, udah dulu ya, nanti aku langsung ke parkiran." ucap Joko menutup panggilan nya.
Dan benar saja, tak lama Joko dan Jono sampai di parkiran tempat Leo, Abian, Selin dan Aisyah menunggu.
" Hey.. ketemu juga." Joko dan Jono menghampiri Selin dan yang lain nya.
__ADS_1
" Loh, ko udah nyampe, kan baru saja selesai nelpon sama Aisyah, emang Bioskop nya deket? katanya kalian lagi nunggu di depan Bioskop. " ucap Selin.
" Iya, deket, itu di belakang kalian. " tunjuk Jono. Menunjuk sala satu bangunan yang ada di dekat parkiran tersebut.
Tampilan gedung yang sedikit kumuh, di sana terlihat ada tulisan Bioskop yang sudah sedikit memudar, di bagian depan gedung tersebut.
Saat melihat gedung tersebut, Selin, Abian, dan Leo langsung melongo terkejut, jika di rumah Aisyah melongo terkejut dengan cara berpakaian Abian, Selin dan Leo. Kini Leo, Selin dan Abian lah yang melongo terheran-heran dengan bentuk gedung yang Joko sebut Bioskop itu.
" Gimana pak bos, bagus kan? hari ini Bioskop nya lumayan sepi, jadi kita bisa nonton dengan leluasa, harga tiketnya juga murah, palingan cuma 20.000 per orang. Walaupun filemnya sudah pernah di putar di bioskop lain, tapi kita beruntung pak bos, karna harga tiket nya murah, cocok lah untuk orang kaya kita-kita. Kalau di Bioskop lain kan, bisa nyampe ratusan ribu harga tiketnya." Jono antusias menjelaskan berdiri di dekat Abian.
Sementara Abian hanya melihat wajah jono dengan expresi yang sulit di artikan, mulai merasa geram dengan sikap Jono dan Joko, karna sudah mengundang mereka ke Bioskop yang kumuh menurut Abian.
" Kau sudah gila. Apa kau sudah bosan hidup hah! ini yang kalian sebut Bioskop? " nada bicara Abian mulai meninggi, sedikit tersulut emosi di hadapan Joko dan Jono, berdiri dengan tangan Abian menunjuk gedung kumuh yang di sebut Bioskop itu.
" Ya, pak bos, memang beginilah keadaan nya, bagi kami ini Bioskop mewah pak bos. Iya gak sya? " ucap Jono cengengesan. Merasa tidak bersalah sambil merangkul Jono.
Sementara Aisyah dan Selin hanya tersenyum di belakang Abian, mereka merasa lucu melihat expresi Abian yang mulai tersulut emosi.
Sementara Abian hanya berdiri sambil memijit keningnya geram. Ternyata Bioskop yang ada di hadapan Abian saat ini, jauh berbanding dengan apa yang ada di dalam pikiran nya.
" Leo."
Abian berbalik menatap Leo dengan expresi wajah yang masih kesalnya itu, Leo yang melihat exspresi wajah Abian, hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
" Halo, sekarang siapkan Bioskop nya, tuan muda dan nona muda akan datang ke sana Bersama teman nya. " Leo menjelaskan dengan tegas, kepada orang yang dia telpon itu.
" Baik tuan, saya mengerti. "
Sambungan telpon itupun di putus, Leo langsung menatap Abian dan menganggukan kepala, pertanda kalau semuanya sudah di persiapkan.
Leo mendekati Jono dan Joko, mengambil uang dari dalam saku celananya. Memberikan uang itu kepada Joko dan Jono, menyuruh mereka naik Taxi dan menyebutkan sebuah alamat, untuk di tuju Joko dan Jono.
" Wah, Luar biasa. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh."
Joko menghitung uang pemberian dari Leo, uang rupiah berwarna merah tujuh lembar itu, membuat Jono dan Joko tersenyum.
" Susul kami ke alamat itu." ucap Leo tegas.
" Ox.. pak bos. " Jono dan Joko langsung kegirangan.
Mereka pun kembali ke dalam mobil Sport mereka masing-masing, dan tak lupa sebelum pergi, dari dalam mobil, Leo memberikan uang parkir kepada calo parkir tersebut.
Calo parkir tersebut berdecak kagum, saat menerima uang 100 ribu di tangan nya, uang parkir yang seharusnya cuma 2000 perak saja, kini berganti dengan uang 100 ribu di tangan nya.
__ADS_1
" Wahhh, dasar, orang kaya mah bebasss." ucap si calo parkir tersebut, sambil geleng-geleng kepala. Tak menyangka akan menerima uang 100 ribu hanya untuk parkir saja.
Dan Akhirnya mobil Sport milik Abian dan Leo pun, kembali melaju meninggalkan parkiran itu menuju tempat yang akan mereka tuju.
Di susul Joko dan Jono yang naik Taksi, menuju alamat yang tadi di beritahukan Leo kepada mereka.
Setelah perjalanan yang cukup lama, kini mereka sudah sampai di gedung Bioskop yang mereka tuju itu, di susul Joko dan Jono yang tak lama sampai di depan gedung tersebut.
Saat Abian, Aisyah, Leo dan Selin keluar dari mobil Sport milik mereka masing-masing, mereka langsung di sambut oleh para sekyuriti dan para pegawai Bioskop, yang sudah berjajar rapih menyambut kedatangan tuan muda mereka. Dan tentunya untuk melayani semua kebutuhan mereka.
Setelah keluar dari Taxi, Jono dan Joko menghampiri Abian dan yang lain nya, masih di depan gedung tersebut.
" Wahhh, luar biasa, inikan gedung Bioskop terbesar di kota ini. " Jono berdecak kagum sambil berdiri melihat gedung Bioskop mewah di hadapan nya saat ini.
" Gilaaa, mimpi apa gue semalem? sampe gue bisa ada di gedung Bioskop terbesar dan mewah di kota ini. " ucap Joko.
" Mimpi gue pukul." Selin mendekati kedua teman nya itu sambil memukul kepala mereka berdua.
" Aw.. aw.. Sel sakit. " ucap Jono dan Joko yang terkena pukulan tangan Selin.
" Baguslah, itu berarti kalian tidak ber mimpi." ucap Selin enteng.
" Silahkan tuan muda. " seorang laki-laki ber jas hitam, berdiri sedikit membungkuk mempersilahkan mereka semua masuk.
Akhirnya mereka semua masuk, menuju Ruang Bioskop yang sudah di siapkan. Sepanjang perjalanan Joko dan Jono tak henti-hentinya mengagumi Desain Interior di dalam Bioskop tersebut. Serba mewah, moderen, megah dan tentunya bersih.
" Aa, kenapa Bioskop nya sepi? " tanya Aisyah keheranan sambil berjalan memegang tangan Abian.
" Menurutmu? " Abian tersenyum menatap Aisyah.
Abian memang sengaja menyuruh Leo untuk mempersiapkan semuanya, termasuk mempersiapkan satu gedung Bioskop untuk mereka. Walaupun gedung Bioskop itu masih milik perusahaan Pratama group, tapi tetap saja para pegawai cukup kawalahan menyiapkan semuanya dan tentunya itu bukan perkara mudah.
Saat sala satu pegawai Bioskop menerima telpon dari Leo, bahwa Tuan muda Abian pratama pewaris Pratama group akan datang ke Bioskop tersebut. Seluruh pegawai Bioskop pun kalangkabut di buatnya, apalagi hari ini adalah hari minggu, pengunjung sedang banyak-banyaknya menghabiskan waktu di Bioskop tersebut.
Nama besar Bioskop tersebut sudah terkenal di seluruh kota Jakarta, dan sudah sangat di percaya oleh seluruh masyarakat di kota. Dengan pasilitas mewahnya dan filem-filem berkulaitas dari negara-negara lain di perlihatkan di Bioskop ini.
Saking banyaknya yang menghabiskan hari minggu di Bioskop tersebut, membuat para pegawai kalangkabut mendadak mengeluarkan seluruh penonton di Bioskop. Mulai dari mengembalikan uang kepada penonton, atau mengganti rugi harganya menjadi dua kali lipat dari harga tiket sesungguhnya, asal para penonton mau keluar dan mengurungkan niat mereka menonton di Bioskop tersebut.
Semua itu mereka lakukan untuk menyambut tuan muda mereka sekaligus pemilik Bioskop tersebut. Menurut para pegawai, masa Bodo dengan kerugian yang akan di alami oleh Bioskop tersebut, yang penting mereka harus menjalankan tugas dengan Baik. Dan itupun terjadi karna ulah pemilik Bioskop itu sendiri, yaitu Abian pratama pewaris Pratama group yang sudah menjadi CEO itu.
*
*
__ADS_1
*