CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Keinginan dan harapan


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, setelah masalah rumah tangganya terlewati, Abian dan Aisyah menjalani hari-hari rumah tangganya dengan harmonis dan bahagia.


Kusus untuk hari ini, karna hari ini hari minggu, Abian dan Aisyah hanya melakukan aktipitas berbaring diam di atas ranjang kamarnya. Walaupun pekerjaan Abian selalu menumpuk dan tak kenal hari libur, tapi Abian tetap menyempatkan waktu kusus hari libur untuk bersama Aisyah.


" Aa, aku mau bawa si Boy ke sini ya? "


Duduk bersandar di tubuh Abian di atas ranjang, Aisyah mencoba meminta izin kepada Abian untuk membawa si Boy ke dalam kamar.


" Gak boleh. "


Abian masih terus menikmati tubuh Aisyah semaunya, menempelkan bibirnya di leher Aisyah. Dengan tangan Abian yang sudah menjalar ke mana-mana, sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


Sementara Aisyah hanya bisa diam pasrah dengan perlakuan suaminya. Meminta untuk olah raga lari pagi-pagi bersama, Abian tidak mengizinkan. Meminta si Boy untuk di bawa masuk ke dalam kamar, Abian masih tidak mengizinkan.


" Lalu, untuk apa kita terus di dalam kamar? ini udah jam sembilan aa. Semenjak kita selesai sarapan pagi, aa dari tadi gak lepasin aku. " rengek Aisyah.


" Emangnya kenapa? suka-suka aa dong. Pokonya aa cuma mau seharian menghabiskan waktu bersamamu di dalam kamar ini. Kalau perlu, aa akan terus seharian bercocok tanam, biar di sini akan cepat tumbuh bibit unggul yang aa tanam. "


Kembali mencium leher Aisyah, mengusap-ngusap perut Aisyah yang sudah setengah telanjang, dengan tangan yang lain sudah menjalar ke mana-mana sesuka hati. Menyentuh bagian-bagian sensitip di tubuh Aisyah.


Aduh ya Alloh... apa seharian aku akan terus di atas ranjang seperti ini? aku mau jalan-jalan, inikan hari minggu. Mau solat sunat Dhuha aja aku gak bisa. A Bian sama sekali gak mau lepasin Aku.


Aisyah terus saja mengumpat dalam hati. Di saat orang lain menikmati hari minggunya, Aisyah hanya bisa diam di dalam kamar melayani suaminya. Ingin melayangkan protes namun tidak bisa, Aisyah masih sadar akan kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya.


" Aa, aku mau jalan-jalan. " rengek Aisyah menusuk-nusuk dada bidang Abian.


Sudah berganti posisi, tiduran di atas ranjang memeluk tubuh Abian, bersandar di dada bidang Abian, masih di dalam selimut yang sama, dengan tubuh mereka yang sudah tidak menggunakan sehelai pakaianpun.


" Hem... "


Abian masih memejamkan mata, memeluk tubuh polos Aisyah. Berbaring mengistirahatkan rasa lelah setelah melakukan pergulatan panasnya bersama Aisyah.


" Ini kan hari minggu aa, masa kita harus di dalam kamar terus. Aku mau keluar a. " rengek Aisyah mencoba membujuk Abian.


" Hem... " Abian masih tidak menjawab.


" Aa... pliss... " Aisyah mendongak menatap Abian yang masih memejamkan mata.


" Hem... "


Aisyah mulai kesal melihat Abian yang sama-sekali tidak merespon dirinya. Aisyah memikirkan sebuah ide yang mungkin bisa membujuk Abian. Masih di dalam selimut, Aisyah memberanikan diri naik ke atas tubuh Abian dan berinisiatip sendiri mencium bibir Abian.


Abian tersenyum menyeringai, mendapati Aisyah yang nekat bersikap agresip, lebih dulu mencium dirinya demi membujuk Abian untuk keluar rumah menikmati hari minggunya.


Abian memegang tengkuk Aisyah, memeluk tubuh Aisyah erat membuat tubuh mereka menempel sempurna, memperdalam ciumannya bersama Aisyah.


Em... sekarang malah aku yang di makan suamiku sendiri. Semoga nanti, a Bian mau mendengarkan keinginanku.

__ADS_1


" Jadi... sekarang kau sudah pandai merayu suamimu hem... "


Membalik keadaan, menjadi Aisyah di bawah tubuhnya. Abian mengusap bibir Aisyah yang sudah basah akibat ulahnya itu.


" Ikhh... aku mau keluar aa, masa di kamar terus? kita jalan-jalan yah. "


Tersenyum manis, mengerjapkan matanya, memasang wajah polos dan imut berharap suaminya akan luluh dan mengabulkan permintaannya.


Bukannya mendengarkan Aisyah, Abian malah turun semakin ke bawah. Mendaratkan ciuman bertubi-tubi di perut rata Aisyah dan mengusapnya lembut.


" Apa di sini sudah ada? "


Abian menempelkan kepalanya di perut Aisyah. Berharap bibit unggul yang selalu dia tanam akan segera tumbuh. Sebuah bukti wujud cinta kasih mereka berdua, yang akan menjadi pengikat dan memperkuat hubungan mereka kelak.


Aisyah terdiam membisu. Membiarkan Abian yang terus saja menciumi perut ratanya dan mengusapnya lembut. Seolah sangat berharap keinginannya akan segera terwujud.


" Besok hari senin. Kita buat janji sama Kalandra, agar dia menyiapkan pemeriksaan untukmu. Menyiapkan dokter wanita khusus kandungan untuk memeriksamu."


Abian menggeser tubuhnya ke samping, memeluk erat tubuh polos Aisyah. Merasakan kehangatan tubuh polos mereka yang saling bersentuhan.


" Untuk apa? apa karna aku sampai sekarang tidak hamil, aa jadi berpikir sesuatu yang aneh tentangku? " Aisyah berkata sedikit lirih.


Abian langsung mengangkat kepalanya menatap Aisyah dalam.


" Sayang... bukan maksud aa berburuk sangka padamu, aa hanya mau kau memeriksakan kesehatan rahimu. Aa hanya takut kalau kamu kelelahan, apalagi akhir-akhir ini kau semakin di sibukan dengan kuliahmu yang sebentar lagi akan menghadapi kelulusanmu. " Abian menjelaskan lembut.


Aisyah memeluk Abian erat, menyembunyikan wajahnya di pelukan Abian. Terdengar sedikit isakan dari Aisyah yang masih memeluk Abian erat.


Abian mencoba menjelaskan dengan lembut, memeluk Aisyah erat, mengusap lembut punggung polos Aisyah. Berharap Aisyah akan berhenti terisak dan mengerti akan apa yang di maksud oleh Abian.


" Aku mencintai aa. Apa aa akan meninggalkan aku karna aku belum hamil juga? " suara Aisyah terdengar lirih.


" Sst... jangan berkata seperti itu sayang. Sampai kapanpun aa akan tetap bersamamu, mencintaimu dan menyayangimu seumur hidup aa. Percayalah, maaf jika perkataan aa menyinggung hatimu. "


Abian berusaha membujuk Aisyah agar tidak bersedih lagi. Namun Aisyah masih terdiam, memeluk Abian erat tampa mau menjawab pertanyaan Abian.


Sebagai seorang wanita, Aisyah pasti merasa cemas dan takut karna dirinya yang tak kunjung hamil. Sementara yang namanya kehadiran anak di dalam sebuah pernikahan, adalah sebuah anugrah yang menyempurnakan kebahagiaan rumah tangga itu sendiri.


Namun, jika tuhan belum berkehendak dan belum memberi kepercayaan kepada kita. Sebagai manusia biasa, apalah daya kita. Kita hanya bisa berpasrah diri kepada tuhan, berharap suatu saat tuhan memberi kita kepercayaan yang kita dambakan.


" Ya sudah, aa mengalah. Katanya mau jalan-jalan. Sepesial untuk hari ini, aa akan menuruti semua perkataanmu dan semua kemauanmu, karna hari ini adalah harimu. "


Abian mencoba membujuk Aisyah, dengan mengalah dan memenuhi keinginan Aisyah untuk menikmati hari minggunya.


" Sungguh? aa gak boong 'kan? " Aisyah melepas pelukannya menatap Abian.


" Iya sayang... hari ini adalah hari milikmu. " Abian tersenyum mengusap air mata Aisyah.

__ADS_1


Abian bangun dan menggendong tubuh Aisyah, membawanya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka bersama.


Setelah selesai mandi, Abian dan Aisyah memutuskan untuk diam di rumah menunggu waktu dzuhur tiba. Setelah selesai solat dzuhur, barulah Abian dan Aisyah keluar dari rumah untuk jalan-jalan menghabiskan waktu liburnya.


Hari ini Aisyah menginginkan tema jalan-jalan ala rakyat biasa. Menggunakan pakaian biasa dan jalan-jalan ke tempat biasa pula. Bukan jalan-jalan ke moll atau toko perhiasan dan berlian.


" Jadi, kita mau ke mana? " tanya Abian yang sudah berjalan di lantai bawah bersama Aisyah yang sudah rapih dengan pakaian biasanya dan juga hijabnya. Mbok Siti dan beberapa pelayan dengan sigap menemani Aisyah dan Abian di ruang keluarga.


" Em... kemana ya? " Aisyah sedikit berpikir. " Gimana kalau kita ke tempat makan yang ada bakar ikan nya? pasti seru deh a. Makanan khas sunda gitu, bakar ikan anget-anget, ada lalabannya, beraneka sambel dan nasi yang menggunakan wadah boboko yang di anyam dari bambu gitu. " ucap Aisyah bersemangat lalu duduk di sofa ruang keluarga.


" Serius? gak mau yang lain lagi? " tanya Abian ikut duduk di samping Aisyah.


" Enggak. Udah, itu aja. "


" Baiklah. Mbok Siti, tolong panggil Leo ke sini, Leo pasti sedang ada di ruang kerjaku. " titah Abian.


Tak lama, Leo dan Mbok Siti sudah kembali ke ruangan keluarga menemui Abian dan Aisyah.


" Em... ada apa ini? kenapa kalian berpakaian seperti itu? " tanya Leo berdiri heran menatap Aisyah dan Abian.


" Duduklah." pinta Abian, Leo pun duduk di sofa.


" Hari ini Aisyah dan aku mau menghabiskan waktu libur bersama. Tapi Aisyah menginginkan menghabiskan waktu libur di rumah makan khas sunda yang ada tempat bakar ikannya."


" Dan juga ada tempat mancing ikannya gitu ka Leo." tambah Aisyah ikut bicara.


" Jadi? " Leo menatap Abian dan Aisyah.


" Kita sama sekali gak tau tempat yang pas itu di mana?" ucap Abian.


" Oh... " Leo langsung mengerti dan menghubungi orang kepercayaannya.


Setelah menemukan tempat yang pas. Leo mendiskusikan tempat yang akan mereka tuju kepada Abian dan Aisyah. Dan merekapun menyetujuinya.


" Ox. Kita berangkat sekarang, dan kau ganti bajumu itu, kau juga harus ikut dengan kami. " ucap Abian menunjuk Leo.


" Apa? tapi pekerjaanku masih banyak. Dan lagi ak... " ucapan Leo terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari Abian.


Abian memberikan tatapan tajam kepada Leo. Abian tidak mau membuat Aisyah kecewa dengan penolakan Leo. Setidaknya, kalau ada Leo, ada yang bisa membantu mengurus semua keperluannya bersama Aisyah. Karna itu memang sudah tugas seorang sekertaris pribadi bukan?


Hadeuh... sudah ku duga. Pasti aku lagi yang akan di sibukan dengan keinginan Aisyah dan Abian. Padahal sudah dari tadi aku diam di dalam ruangan kerja pribadi Abian karna banyak sekali masalah kantor yang terbengkalai. Setiap kali Abian bersantai menikmati waktunya, pasti akulah akan sibuk dengan semuanya. Gimana nanti kalau Selin menghubungin aku?


Leo menggerutu sendiri, hanya bisa pasrah dengan semua perintah Abian yang di inginkan Aisyah. Akhirnya Leo pun mengikuti semua keinginan Aisyah, berpakaian biasa, jalan-jalan ala rakyat biasa dan tentunya berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat terlalu mencolok.


Leo pun sebisa mungkin untuk menyiapkan semuanya dengan benar. Mulai dari pakaian para Bodiguart yang akan mengikuti mereka dari kejauhan untuk ikut menggunakan pakaian biasa, sampai tempat yang akan mereka datangi juga harus terjaga keamanannya.


Walaupun Leo terkadang menggerutu dalam hati, tapi Leo sadar bahwa itu sudah menjadi kewajibannya. Menjaga keamanan, kenyamanan dan memenuhi semua keinginan tuan muda dan nona mudanya.

__ADS_1


Kalau Leo terkadang menggerutu sendiri dalam hati itu adalah hal yang wajar. Karna sebaik-baiknya seorang manusia, mereka tetaplah memiliki kekurangan yang terkadang bisa marah dan juga merasakan jengkel.


Abian dan Aisyah pun memasuki mobil, berangkat menuju tempat yang akan mereka tuju dengan Leo lah yang menjadi supir pribadi mereka.


__ADS_2