
Pagi hari, Abian dan Aisyah menjalani rutinitas paginya seperti biasa. Abian baru saja keluar dari ruang ganti, dengan handuk putih yang masih melilit di pinggangnya. Dengan bertelanjang dada dan tubuh yang putih bersih, tinggi dan tegap, menampilkan pahatan roti sobeknya dengan jelas. Berjalan ke arah ranjang, tersenyum manis menatap Aisyah yang seperti biasa menyiapkan setelan pakaian kantornya.
" Emmm.... pagi ini kamu cantik banget sayang. " Abian merangkul pinggang Aisyah, menekan tengkuknya dan merapatkan dengan tubuhnya. Memberikan ciuman selamat pagi untuk istri tercintanya.
" Aa... emm... udah. " Aisyah mencoba melepaskan pangutan bibirnya dari Abian" Nanti aa kesiangan ke kantor. " rengek Aisyah membuat Abian tersenyum puas karna sudah mendapatkan ciuman selamat pagi dari istrinya. Sementara Aisyah merapihkan hijabnya yang sedikit berantakan akibat ulah Abian barusan.
Pagi hari ini, Abian masih merasa sedikit kesal akan perkataan istrinya semalam yang menyuruhnya untuk menikah lagi. Saking cintanya Abian kepada Aisyah, Abian tidak menunjukan kekesalannya secara langsung di hadapan Aisyah. Melainkan menunjukannya dengan prilakunya yang mencubu bibir istrinya dengan rakus, seolah membenci perkataan yang keluar dari bibir manis istrinya itu semalam.
Aisyah membantu Abian menggunakan pakaian kantornya seperti biasa dan membantu memakaikan dasi di leher Abian dengan perasaan gugup tak menentu. Aisyah ingin sekali membahas keinginannya yang semalam kepada Abian.
Tapi saat ini Aisyah masih merasa gugup, takut kalau Abian tidak memperdulikan perkataannya lagi seperti semalam. Apalagi saat ini, wajah Abian begitu dekat dengannya, tangan Abian yang melingkar di pinggangnya dan tatapan mata Abian yang begitu dekat seolah mengintimidasi dirinya.
" Ada apa sih, ko liatin akunya kaya gitu..? " Aisyah tersenyum menatap Abian dengan perasaan sedikit gugup. Mengalungkan kedua tangannya di pundak Abian.
" Tidak apa-apa. Aa hanya merasa... kalau istri kesayangan aa ini semakin hari semakin cantik saja. " goda Abian membuat Aisyah tersenyum senang.
" Aa... untuk yang semalam Aisy_ "
" Sstt... jangan di teruskan. Perlu kamu ketahui sayang, sampai kapanpun kamu adalah istri aa satu-satunya. Dan hanya kamulah yang menemani aa seumur hidup aa dalam suka maupun duka. Aa tidak perduli apakah kita akan memiliki keturunan atau tidak, tapi yang jelas kamu adalah satu-satunya untuk aa. Jadi... aa minta jangan pernah kamu berkata seperti itu lagi, ok. " ucap Abian lembut sambil mengusap pipi Aisyah dengan ibu jarinya.
" Ya tuhan... terimakasih engkau telah memberikan seorang suami yang baik sepertinya untuku. Tapi kenapa... engkau memberikan cobaan yang begitu berat untuku. Kapankah engkau akan memberiku kepercayaan untuk memiliki keturunan... "
" Tapi a, aa adalah pewaris keluarga besar pratama group. Walau bagai manapun juga, aa dan keluarga aa pasti menginginkan keturunan dan pewaris untukmu a. Dan aku... sampai sekarang belum bisa memberi aa keturunan. Aku... "
" Ssstt... udah. Apa kamu lupa, kita sudah memeriksa kesuburan kita berdua ke rumah sakit. Dan dokter menyatakan kalau kita berdua sehat-sehat saja. Jadi, kamu jangan terlalu khawatir, suatu saat aku yakin tuhan pasti akan mempercayai kita untuk mendapatkan keturunan. Yakinlah, jangan terlalu banyak pikiran. Apapun yang orang lain pikirkan dan katakan, yakinlah... selamanya aku selalu mencintai kamu dan hanya menjadi milikmu seorang saja. " ucap Abian lembut membuat Aisyah terharu dan merasa sangat di istimewakan, Aisyah memeluk erat tubuh kekar Abian sambil menitikan air mata, tak sanggup untuk berkata-kata lagi.
Abian pun membalas memeluk tubuh Aisyah, memberikan kehangatan dan ketenangan di sana. Sebagai seorang suami, Abian sangat paham dan mengerti bahwa wanita baik seperti Aisyah pasti akan lebih mendahulukan kebahagiaan orang lain dari pada kebahagiaan dirinya sendiri.
" Sudah... percayalah, aa akan selalu mencintaimu sayang. " ucap Abian lembut mengecup pucuk kepala Aisyah yang selalu tertutup rapih oleh hijabnya itu. " Sekarang kita sarapan sama-sama." ucap Abian mengusap air mata Aisyah, Aisyah pun menganguk mengerti.
__ADS_1
Abian dan Aisyah keluar dari kamar menuju ruang makan. Di sana sudah ada mbok Siti dan beberapa pelayan yang sudah menyediakan beberapa makanan untuk mereka sarapan pagi. Selesai sarapan, Aisyah mengantarkan Abian sampai ke depan rumah untuk berangkat ke kantor bersama Leo seperti biasa.
* * *
Hari ini Aisyah berniat pergi ke rumah Bagas untuk memenuhi janjinya kepada Selin. Mereka berencana untuk melihat rumah baru yang nanti akan di tempati oleh Leo dan Selin yang di berikan oleh kedua orang tuanya. Masih sama satu kompleks perumahan dengan Bagas dan juga Abian.
Walaupun kelak kedua anak mereka berumah tangga dan memiliki keluarga sendiri, tapi bagi Santi dan Bagas mereka sangat menginginkan untuk tetap hidup dekat dengan kedua anaknya yang menjadi sumber kebahagiaan mereka. Itu sebabnya, Bagas dan Santi memberikan rumah untuk kedua anak dan menantunya yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
" Selin... kamu udah siap kan..? " Aisyah sudah sampai di rumah mertuanya dan langsung masuk ke dalam kamar Selin setelah mengetahui dari para pekerja rumah bahwa Selin berada di dalam kamarnya.
" Emm... iya kaka iparku sayang, sebentar lagi. " ucap Selin masih duduk di hadapan meja riasnya dan membenarkan lipstik di bibirnya.
" Idihhh... dasar bumil, jangan dandan terlalu cantik, nanti suami kamu bisa cemburu dan marah besar lagi." goda Aisyah sambil duduk di sofa memperhatikan Selin yang masih asik dengan kegiatannya itu.
" Biarin. Ka Leo suka sama aku kan karna aku cantik. " ucap Selin dengan pedenya.
" Idihh... narsis. " cibir Aisyah membuat mereka berdua tertawa lepas.
" Udah ah... becanda mulu, katanya mau lihat rumah baru. "
" Ya udah ayo. " Ajak Selin berdiri dari duduknya, berjalan bersama Aisyah menuju mobil yang sudah terparkir di depan kediaman Bagas.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang mereka kendarai pun sudah sampai di depan rumah yang mereka tuju. Sebuah rumah dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan kediaman Bagas. Rumah yang besar dan mewah, dengan halaman yang luas dan pasilitas lainnya layaknya sebuah rumah yang siap huni.
Beberapa pelayan sudah menunggu di depan rumah untuk menyambut Selin dan Aisyah.
" Wahhh... rumahnya begitu besar dan mewah, tidak jauh berbeda dengan rumah papah Bagas dan mamah Santi ya Sel? " Aisyah dan Selin masih berdiri di hadapan rumah tersebut. Menatap dan mengagumi rumah yang ada di hadapan mereka saat ini.
" Em... kamu benar kaka ipar. " Selin mengangguk menyetujui perkataan Aisyah. " Sepertinya, aku benar-benar harus berterima kasih sama papah dan mama atas pemberian rumah ini. Aku suka sekali dengan rumah ini. " Ucap Selin mulai melangkahkan kakinya di ikuti oleh Aisyah.
__ADS_1
Aisyah dan Selin mulai memasuki rumah tersebut di ikuti oleh beberapa pelayan. Mereka berdua mulai melihat-lihat semua sudut rumah, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar tamu. Mata Aisyah dan Selin begitu di manjakan dengan keadaan rumah yang sangat rapih dan di penuhi dengan perabotan yang mewah dan lengkap.
Selesai melihat-lihat kini Aisyah dan Selin sudah berada di depan pintu kamar utama yang akan di tempati oleh Selin dan Leo. Saat pelayan membukakan pintu, mata Aisyah dan Selin di manjakan dengan keadaan kamar yang luas dan rapih.
Ranjang yang besar dan mewah, kamar mandi yang juga luas dan lengkap, serta ruang ganti yang luas dan tak kalah mewah dan rapih. Ruang ganti tersebut sudah di penuhi dengan semua kebutuhan Leo dan Selin. Sehingga jika Selin dan Leo mau pindah rumah, kapanpun rumah itu siap untuk mereka tinggali.
" Papa Bagas sama mama Santi memang hebat ya Sel? Semua keperluan kamu sudah mereka siapkan dengan matang. Kamu memang beruntung Selin, punya orang tua yang begitu menyayangi kamu juga seorang suami yang baik. Dan sebentar lagi, keluarga kecil kamu juga akan lengkap dengan hadirnya buah cinta kamu dan ka Leo. " ucap Aisyah lirih, sambil duduk di ranjang super besar di kamar tersebut bersama Selin yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sama dengan Aisyah.
Selin yang tadinya rebahan langsung mengangkat tubuhnya. Memposisikan dirinya duduk bersampingan dengan Aisyah kaka iparnya tersebut. Seakan ikut merasakan kesedihan yang di rasakan Aisyah, Selin menatap wajah Aisyah dengan sendu.
" Kamu yang sabar ya Sya... aku tau kamu adalah wanita yang tangguh dan baik. Jangan dengarkan omongan orang lain, yakinlah... sebentar lagi kamu dan ka Abian akan secepatnya mendapatkan keturunan seperti aku dan ka Leo. " ucap Selin memegang tangan Aisyah menyemangati.
" Ya. " Ucap Aisyah tersenyum memandang Selin. " Em... tungu. Ada yang aneh sama kamu Sel..? " Ucap Aisyah mendekatkan wajahnya menatap wajah Selin.
" Eh... apa..? " Selin kebingungan dengan ekspresi Aisyah yang menatapnya.
" Kayanya... Em... " Aisyah semakin mendekatkan wajahnya sedikit miring.
" A-apa..? " Selin semakin penasaran sekaligus bingung.
" Em... wajahmu... semakin gendut. " goda Aisyah.
" Apa...!" Teriak Selin langsung meraba wajahnya sendiri dan langsung berlari menuju cermin yang ada di meja rias untuk menatap wajahnya sendiri.
Aisyah sengaja menggoda Selin dengan mengatakan bahwa wajahnya mulai gendutan. Pasalnya, Selin adalah tipikal wanita yang sangat menjaga tubuhnya dengan baik menggunakan beberapa perawatan dan begitu menjaga berat badannya.
Membuat Selin sedikit panik mendengar kata gendut yang di ucapkan Aisyah. Walaupun Selin sudah tau bahwa mengandung seorang anak akan membuat berat badannya naik dan melebar. Tetap saja Selin merasa kaget di katakan gendut oleh kaka iparnya sendiri. Padahal kandungannya sendiri baru memasuki trimester pertama.
" Ya ampun... ya ampun... mana? bagian mana yang gendut? " Selin panik berdiri meraba seluruh tubuhnya sendiri di depan cermin. Sementara Aisyah hanya tertawa puas karna telah berhasil mengerjai adik iparnya itu. Sehingga membuat Selin panik seketika.
__ADS_1
" Oh... kamu ngerjain aku ya ka ipar? " Ucap Selin menatap Aisyah tajam. " Awas kau ya! " Ucap Selin berlari ke arah Aisyah. Naik ke atas ranjang dan langsung menyerbu tubuh Aisyah dengan menggelitiki seluruh tubuh Aisyah.
Kamar tersebut pun di penuhi dengan gelak tawa mereka berdua, saling bercanda ria dan saling menghibur satu sama lain. Layaknya dua sahabat dekat yang slalu bercanda dan tertawa bersama.