
Hari ini sang mentari pagi kembali menyinari bumi seperti biasa. Membangunkan semua mahluk di bumi untuk kembali memulai harinya melakukan aktipitas.
Begitu juga dengan Abian dan Aisyah yang sudah kembali baikan, menjalani hidup rumah tangganya seperti biasa. Hari ini Abian seperti biasa di sibukan kembali dengan pekerjaan kantornya, begitu juga dengan Aisyah yang semakin di sibukan dengan kuliahnya di karnakan sebentar lagi akan menghadapi kelulusannya.
Namun, ada yang mengganjal di pikiran Aisyah. Semenjak dirinya dan Abian kembali menjalani hidup rumah tangganya dengan bahagia. Aisyah tidak pernah bertemu kembali dengan Devdas.
Pertemuan terakhirnya dengan Devdas adalah ketika mereka duduk bersama di taman belakang kampus. Dan semenjak hari itu, Devdas seolah hilang di telan bumi tidak terlihat sama-sekali, entah itu di kampus sebagai seorang Dosen atau berkunjung ke kantor pusat pratama group.
" Hey... aku heran, sebenarnya Pak Dosen tampan itu kemana sih? sudah berminggu-minggu Pak Dosen tampan itu menghilang bagai di telan bumi. Tak ada kabar kalau dia mengundurkan diri dari kampus ini, juga tak ada kata perpisahan sama sekali sama kita. Padahal kita kan lumayan dekat dengan dia. " celetuk Joko sambil duduk di kursi kantin kampus seperti biasa, bersama Jono, Selin dan Aisyah.
" Iya juga ya. Sampai semua mahasiswa wanita di kampus ini yang menyukai Pak Dosen tampan jadi kebingungan, karna di tinggal pergi tampa pamit oleh Pak Dosen tampan idola mereka. " Jono ikut bicara sambil menikmati makanannya.
" Kaka ipar. Apa kau tau kemana perginya Dosen tampan itu? " tanya Selin.
" Em... ko aku? mana aku tau, aku kan bukan keluarganya. "
" Siapa tau kaka ipar mengetahui keberadaan Dosen tampan itu. Dulu kan kaka ipar sering ngobrol bareng dengan Dosen tampan itu. " ucap Selin.
" Iya. Aku memang sering berbicara dengan beliau, tapi kalau menyangkut urusan pribadinya aku sama sekali tidak tau. " ucap Aisyah kembali memakan makanannya.
Aisyah dan juga mahasiswa lain merasa heran akan kepergian Dosen tampan yang menghilang bagai di telan bumi itu. Setelah jam kuliah selesai, Aisyah pulang ke rumah bersama Pak Mun seperti biasa.
" Mbok, apa si Boy sudah di kasih makan?" tanya Aisyah kepada Mbok Siti yang selalu menyambut kedatangannya di rumah bersama pelayan lain.
" Sudah nona. " jawab Mbok Siti sambil berjalan mengikuti Aisyah dari belakang.
" Ya sudah. Sekarang Mbok tolong ambilin si Boy dan bawa ke kamar saya." ucap Aisyah pergi meninggalkan Mbok Siti menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Aisyah langsung melepaskan hijab dan seluruh pakaiannya. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Mbok Siti yang baru sampai di dalam kamar, langsung menaruh si Boy di atas ranjang dan keluar dari kamar untuk kembali mengerjakan tugasnya.
" Wah... kau sudah ada di sini Boy? "
Aisyah sudah rapih dengan pakaian rumahannya. Masih menempelkan handuk di kepala untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Berjalan mendekati si Boy yang sedang berbaring bermalas-malasan di atas ranjang.
" Ikh... kau itu lucu sekali Boy... " mencubit kumis si Boy, Aisyah ikut berbaring di atas ranjang di samping si Boy, mengusap si Boy yang sedang tiduran bermalas-malasan di sampingnya.
" Boy... kau tau, aku sedang ada masalah. Aku sudah berminggu-minggu tidak bertemu sahabatku. Apa kau tau di mana sahabatku itu berada? " Aisyah bertanya pada si Boy yang sedang tidur pulas di sampingnya.
Aisyah tersenyum. " Mungkin aku sudah gila kali ya, bertanya pada kucing yang sedang tertidur yang tidak mungkin mengerti ucapanku." Aisyah menertawakan kekonyolan dirinya sendiri.
Setelah puas mengusap si Boy dan curhat kepada si Boy, walaupun si Boy belum tentu mengerti perkataannya. Kini mata Aisyah terasa berat dan ngantuk, akhirnya Aisyah pun ikut memejamkan mata membiarkan rambut basahnya terurai, tidur siang bersama si Boy di atas ranjang mewahnya itu.
" Em... Boy... hentikan. Jangan terus menjilati leherku geli... "
Aisyah meracau masih memejamkan mata menikmati tidurnya. Tampa Aisyah sadari, si Boy sudah tidak ada di dalam kamarnya. Yang ada sekarang adalah Abian suaminya yang sedang berada di atas tubuhnya, menjamah leher Aisyah sesukanya.
Abian tersenyum menyeringai, karna Aisyah masih memejamkan mata menikmati tidurnya. Tampa terganggu sama sekali dengan kegiatan yang Abian lakukan. Tampa membuat Aisyah merasa terganggu, Abian sudah berhasil membuka dan sedikit menurunkan baju yang Aisyah gunakan secara perlahan.
__ADS_1
Membuat bagian dada Aisyah terpapang nyata di hadapan mata Abian. Tentu saja sebagai seorang suami Abian tidak akan melewatkan kenikmatan dunia yang sudah tersaji di hadapannya.
" Emm... " Aisyah mendesah masih memejamkan mata menikmati tidurnya. " Akhh... " Aisyah langsung membuka matanya, merasakan sakit di bagian dadanya.
Aisyah melongo kaget saat melihat Abian yang sudah menindih tubuhnya, mengunci pergerakannya, dan dengan rakus menikmati bagian dadanya.
" Ikhh... aa hentikan." gerutu Aisyah.
Dengan bertelanjang dada tampa menggunakan baju hanya menggunakan celana, Abian tersenyum menatap Aisyah yang sudah berada di bawah tubuhnya.
" Aa udah pulang? kapan aa pulang? perasaan ini masih sore. " tanya Aisyah melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul 14.00 wib. " Oh... iya, si Boy man.. "
Perkataan Aisyah terpotong, karna Abian sudah membungkam Aisyah menggunakan ciumannya. Aisyah ingin berontak, namun pergerakannya sudah di kunci oleh Abian. Membuat Aisyah hanya pasrah dengan perlakuan Abian kepadanya yang pastinya akan berujung dengan pergulatan panas mereka di atas ranjang.
* * *
" Ikh... Aa, ngapain sih sore-sore begini kita ke Bandara? papah Bagas dan ayah Agus kan tidak keluar negri a. " gerutu Aisyah.
Tepat pukul 16.30 Abian membawa Aisyah ke Bandara tampa menjelaskan sama sekali dengan tujuan apa mereka ke Bandara. Membuat Aisyah merasa heran, Aisyah sendiri hanya bisa pasrah mengikuti langkah Abian yang menggenggam tangannya erat masuk ke dalam Bandara.
Langkah Aisyah dan Abian berhenti di dekat kursi tunggu, dan sudah ada seseorang yang sedang duduk santai di kursi tersebut.
" Ka Devdas? "
Aisyah berdiri di samping Abian, menatap Devdas yang sedang duduk di kursi tunggu dengan pakaiannya yang sudah rapih.
Abian berbalik, memegang pipi Aisyah dan tersenyum menatap Aisyah, seolah mengisyaratkan kalau Aisyah harus mempercayakan semuanya kepada Abian. Abian melepaskan genggaman tangannya dari Aisyah, berjalan menuju kursi tunggu yang berada sedikit jauh dari Aisyah dan Devdas.
Abian duduk di kursi tunggu tersebut sambil meperhatikan Aisyah dan Devdas. Abian terkadang menggerutu sendiri, karna dirinya yang harus memberikan sedikit pripasi untuk Devdas permamitan kepada Aisyah istrinya.
" Ka Devdas ke mana aja? ka Dev menghilang selama berminggu-minggu tampa ada kabar. Ka Devdas baik-baik saja 'kan? " tanya Aisyah ikut duduk di samping Devdas namun tetap menjaga jarak. Terdengar kekhawatiran yang terselip di nada pertanyaan Aisyah.
Devdas tersenyum, memandang lurus ke depan. Merasa bahagia, bahwa wanita yang dia sayangi menghawatirkannya.
" Apa kau mengkhawatirkan aku? " tanya Devdas memandang wajah Aisyah.
" Tentu. Aku sangat mengkhawatirkan ka Devdas, karna walau bagaimanapun, sampai sekarang kita masih berteman, bukan? "
Devdas kembali memandang lurus ke depan, tersenyum getir menerima kenyataan bahwa wanita yang dia sukai hanya menganggapnya sebagai teman saja tidak lebih. Dan semua itu membuat Devdas semakin sadar, bahwa dirinya sudah di kalahkan oleh sahabat kecilnya Abian pratama.
" Maaf, aku sudah membuatmu khawatir. " Devdas memandang Aisyah. " Aku hanya ingin berpamitan padamu, aku akan kembali ke Singapura." ucap Devdas.
" Apa? Singapura? " Aisyah merasa kaget.
" Iya, aku akan pulang. Di sana ibuku sudah menunggu, sudah terlalu lama aku meninggalkan ibuku. Aku sendiri tidak tau, kapan aku akan kembali ke Indonesia lagi? itu sebabnya aku ingin berpamitan kepadamu secara langsung. " ucap Devdas tersenyum ramah.
" Tapi kenapa? lalu bagai mana dengan bisnis ka Devdas yang ada di sini? " tanya Aisyah masih merasa heran.
__ADS_1
Devdas tersenyum. " Bisnis yang mana? apa maksudmu bisnis gelapku? " ucap Devdas tersenyum menatap Aisyah.
Membuat Aisyah menunduk merasa bersalah, takut kalau perkataannya menyinggung hati Devdas.
" Maaf ka, aku tidak bermaksud untuk menyinggung pekerjaan kaka. " ucap Aisyah lirih.
" Tidak apa-apa. Aku yakin, kau sendiri pasti sudah tau tentang pekerjaan gelapku. Aku dengar Dhafina sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Aku minta maaf, sebagai seorang teman, aku sudah mempermalukanmu dengan pekerjaan gelap yang aku lakukan. " ucap Devdas tersenyum ramah.
" Tidak apa-apa ka. Aku yakin, suatu saat ka Devdas pasti bisa berubah dan kembali ke jalan yang benar. "
" Ya, kau benar. Aku begitu beruntung mempunyai sahabat seperti kau dan Abian. Kau tau, tampa sepengetahuanmu, suamimu Abian sampai menghajarku habis-habisan, menyuruhku untuk meninggalkan pekerjaan gelapku dan kembali seperti diriku yang dulu yang suamimu kenal sebagai Devdas teman masa kecilnya. " Devdas tersenyum menatap Aisyah.
" Saat Abian berkata seperti itu. Hatiku merasa tersentuh, ternyata aku tidak hidup sendiri, bahkan Abian saja masih menganggapku sahabatnya. Kau, Kalandra, Leo dan Abian sudah membuatku sadar, bahwa aku berada di jalan yang salah. Dan aku berjanji padamu, mulai saat ini aku akan belajar untuk berubah. " ucap Devdas.
Aisyah yang merasa terharu dan bahagia, sama sekali tidak bisa mengatakan apa-apa. Aisyah hanya berdoa dalam hati, bahwa yang dia lihat saat ini bukanlah mimpi.
" Hey... sampai kapan kalian akan berbincang seperti ini? kalian itu sudah mulai membuatku jengkel dan cemburu." gerutu Abian menghampiri Aisyah dan Devdas.
Sementara Devdas dan Aisyah hanya tersenyum menertawakan sikap konyol Abian saat ini. Tak lama terdengar suara pemberitahuan keberangkatan pesawat ke Singapura yang akan di tumpangi oleh Devdas sebentar lagi akan berangkat.
" Baiklah. Aku rasa sudah waktunya aku berangkat Bi. " ucap Devdas berdiri dari duduknya menghampiri Abian mengulurkan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Abian tersenyum menerima uluran tangan Devdas dan memeluknya sebagai tanda perpisahan.
" Jaga Aisyah untuku Bi. " bisik Devdas masih memeluk Abian.
Abian tersenyum mendengar perkataan Devdas. " Tampa kau suruhpun aku akan menjaga dan mencintainya. " bisik Abian.
Abian dan Devdas melepaskan pelukannya. Beralih menatap Aisyah, Devdas tersenyum getir, karna mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya mereka bertemu dan entah kapan mereka bisa bertemu lagi.
" Aku berangkat ya Sya. " ucap Devdas tersenyum ramah menatap Aisyah yang sedang di rangkul Abian.
Devdas berjalan melangkahkan kakinya meninggalkan Abian dan Aisyah. Dari kejauhan terlihat sekertaris kepercayaan Devdas berdiri menunggu. Saat sudah semakin menjauh, Devdas menghentikan langkahnya kembali menatap ke belakang.
Aisyah... kau adalah cinta pertamaku. Sampai kapanpun, aku akan terus mengingatmu. Dan aku akan terus berdoa, semoga kau hidup bahagia bersama Abian, sampai hanya kematianlah yang dapat memisahkan kalian.
Devdas tersenyum melambaikan tangannya menatap Aisyah dan Abian. Kembali melangkahkan kaki bersama asisten kepercayaannya, lalu semakin menjauh masuk ke dalam, sampai Devdas dan asistennya itu sudah tak terlihat lagi.
" Terima kasih. Aa sudah berhasil membuat ka Devdas berubah. " ucap Aisyah menatap Abian dalam.
" Sama-sama sayang." Abian tersenyum merangkul Aisyah. " Tapi... aa gak mau cuma terima kasih aja. Aa maunya yang lain sayang. " bisik Abian di telinga Aisyah.
" Yang lain, apa? " Aisyah menatap Abian heran.
Abian semakin mendekat dan membisikan sesuatu di telinga Aisyah. Membuat Aisyah bersemu merah karna merasa malu mendengar sesuatu yang sangat pulgar di bisikan oleh Abian di telinganya.
" Ikhh... aa itu apaan sih? gak malu apa? " gerutu Aisyah, melangkah meninggalkan Abian lebih dulu dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
Sambil menyusul langkah Aisyah, Abian hanya tertawa karna sudah berhasil mengerjai istrinya. Malah sepanjang perjalanan, Abian tidak hentinya menggoda Aisyah.