
Seiring berjalannya waktu, Aisyah pun mulai terbiasa dengan sikap Arogan Abian. Apalagi Abian sering menjahili Aisyah, sampai Membuat Aisyah marah di buatnya.
Terkadang, Aisyah sendiri sampai heran di buatnya. Jika di hadapan orang lain Abian akan bersikap dingin. Tapi, jika di hadapan Keluarga atau di hadapan orang yang sudah dia kenal, Abian akan berubah akrab dan hangat, nakal, atau terkadang jahil, seperti yang sering Abian lakukan pada Aisyah akhir-akhir ini.
" Kamu sedang buat apa ? "
Tanya Bian, yang baru saja sampai di Dapur dan membuka Kulkas untuk mengambil Air dingin untuk dia minum. Abian melihat Aisyah sedang berkutat dengan Pisau dan Bumbu dapur lain nya.
" Rencana nya hari ini aku mau buat Nasi Liwet a. Lauknya Nila goreng, lalu lalab nya Pucuk Singkong, dan sambal Cabe goreng itu aja a. " Aisyah menjelaskan masih berkutat dengan bumbu dapur.
" Aku gak ngerti apa yang kamu bicarakan, Nasi Liwet itu apa ? " tanya Bian sambil duduk di kursi memperhatikan Aisyah.
Abian yang terbiasa di Luar negri sama sekali tidak tau apa itu Nasi Liwet. Karna sejak remaja Bian menempuh Pendidikan di Luar negri. Bahkan, setelah Dewasa pun Bian lebih sering di Luar negri. Karna tuntutan pekerjaan yang harus dia kerjakan.
" Ya Alloh, aa gak tau apa itu Nasi Liwet ? " tanya Aisyah menatap Abian keheranan.
" Emang nasi liwet itu apa ? " tanya Bian yang kebingungan.
" Nasi Liwet itu makanan Khas Indonesia a, Nasi Liwet itu Beras yang di masak di dalam Kastrol." jelas Aisyah sambil kembali mengerjakan pekerjaan nya.
" Hah.. Kastrol ? apa itu kastrol ? " Tanya Bian semakin kebingungan.
" Ya alloh, aya jelema nu kie di alam dunia. " gerutu Aisyah.
" Kamu bicara apa lagi ? aku gak ngerti ? "
Abian pun semakin kebingungan saat Aisyah bicara dengan menggunakan Bahasa Sunda.
Aisyah pun hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan Bian.
"Untung aja a Bian gak ngerti Bahasa Sunda, kalau dia ngerti, a Bian pasti marah. " pikir Aisyah.
" Gak ko a gak apa-apa, aa mau belajar masak Nasi Liwet ? kalau mau, sini masak sama Aisyah." Aisyah menawarkan.
" Ogah, kamu aja yang masak, biar aa yang makan. " ucap Bian enteng yang mulai terbiasa dengan panggilan aa dari Aisyah untuknya.
" Ya udah, dengerin aku ya, Aisyah jelasin.
Ini Berasnya di cuci bersih, lalu iris Bawang Putih, Bawang Merah, Tomat, Bawang Daun, dan tambah Daun Salam dan Sereh sedikit. Minyak Sayur, Garam, Mecin sama penyedap yang lain, semua bahan yang tadi di masak di Kastrol a, ketika udah mendidih, nasinya di aduk dan apinya di kecilin, dan tunggu sampai Nasinya matang." ucap Aisyah menjelaskan sambil mempraktekan nya.
" Ohhh... Lalu ? " tanya Bian memperhatikan masih duduk santai di kursi.
" Sekarang kita tunggu Nasinya matang aja a. Dan sambil menunggu Nasinya matang, kita mulai goreng Ikan Nila nya, mulai merebus lalab Pucuk Singkongnya dan buat sambel goreng nya a. "
Ucap Aisyah, sambil terus mengerjakan pekerjaan nya, Abian hanya duduk di kursi memperhatikan Aisyah Masak.
" Kamu pinter masak ya ? " tanya Bian masih memperhatikan Aisyah.
" Gak ko a, cuman waktu aku di kampung, aku suka mengerjakan pekerjaan dapur sendiri. " ucap Aisyah.
" Kenapa gak nyuruh Koki aja untuk masak ? kan banyak Koki di rumah ini, tinggal kamu suruh aja. " ucap Bian enteng.
__ADS_1
" Aisyah cuma lagi pengen masak sendiri aja a, hari inikan hari Minggu, gak ada kerjaan juga. " ucap Aisyah sambil terus meneruskan acara memasak nya.
" Oya, aku baru sadar, di rumah ko sepi.? pada ke mana orang-orang ? " tanya Bian.
" Papah Bagas sama Ayah Agus kan lagi ke luar Kota a, Mamah santi lagi ke acara Arisan dan Selin katanya mau ke Salon a. " Aisyah menjelaskan, masih berkutat dengan pekerjaan nya.
" Oh.. kamu gak ke Salon ikut Selin ? " tanya Abian.
" Kan aku mau masak a."
" Ya.. kali aja kamu mau nyalon kaya Selin, Selin aja bisa nyampe seharian di Salon. " Abian menjelaskan.
" gak ah, sayang uang nya a, ke Salon kan pasti mahal. Kalau masalah uang aku harus belajar hemat apalagi aku belum bisa kerja. Kuliah aja aku masih ngerepotin ayah a. " ucap Aisyah masih bergelut dengan pekerjaan nya.
" Oh..."
Bian pun memperhatikan Aisyah yang sedang Memasak, dengan mengagumi jawaban yang Aisyah ucapkan.
Tampa Abian sadari, senyuman di Bibirnya terukir, mengagumi ucapan yang keluar dari bibir mungil Aisyah. Ada rasa kagum di hatinya untuk Aisyah. walaupun Bian tidak mengucapkan nya karna rasa Gengsi seorang Abian yang cukup tinggi.
Tidak lama semua masakan yang Aisyah masak pun matang.
Aisyah pun menata semua makanan di atas meja.
" Wah... kaya nya enak nih. "
Ucap Bian tiba-tiba mendekati meja, berniat ingin mencicipi Ikan Nila goreng.
" Cuci tangan dulu. " ucap Aisyah tegas menatap tajam ke arah Abian.
Abian pun menuruti perkataan Aisyah
" kenapa harga diri gue kaya jatuh ? mau aja gue nurutin perkataan Aisyah. " pikir Bian keheranan sendiri.
Merekapun Makan bersama, Abian mengikuti Aisyah yang makan langsung menggunakan tangan, tampa garpu ataupun sendok.
" Kalau aku di kampung, makan Nasi Liwet itu enaknya di saung Sawah a. Makan Nasi Liwet sama Bakar Nila, lalu sambal Kacang dan Pete yang di Bubuy a, emm.... sedaaaaap apalagi makan nya pake tangan langsung kaya gini a. " ucap Aisyah menjelaskan.
Abian pun hanya bisa diam mendengar penjelasan Aisyah. Karna Abian sama sekali tidak tau makanan apa yang di bicarakan oleh Aisyah. Apalagi mendengar kata Pete, Bian sampai bertanya tanya di pikirannya, apa itu pete ?.
Abian pun mulai makan dengan mengikuti Aisyah menggunakan tangan langsung dan tentunya sebelum makan mereka sudah mencuci tangan terlebih dahulu.
Saat menyuapkan makanan dan mengunyah nya, mata Abian langsung membulat sempurna.
" Emm... Gilaaaa enak banget ! " ucap Bian sambil terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Abian baru tau kalau ternyata Nasi Liwet itu begitu enaknya. Apa lagi di makan selagi hangat bersama Ikan Nila goreng, dan lalab yang di padukan dengan Sambal Cabe yang gurih dan Pedas.
Aisyah pun hanya bisa tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat Abian memakan-makanan nya dengat sangat rakus. Solah-olah dia takut kalau makanannya akan di curi orang.
" Makan nya pelan-pelan aja a, gak akan ada yang mencuri makana mu. " sindir Aisyah sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
__ADS_1
Abian pun terkekeh mendengar sindiran yang di ucapkan Aisyah. Sambil terus memakan Nasi Liwet dan Sambel, Abian merasa saat ini harga dirinya sebagai seorang Ceo runtuh seketika, saat mendengar sindiran yang di ucapkan oleh Aisyah.
Tapi, Abian sama sekali tidak perduli. Dirinya malah terkekeh menatap wajah Aisyah. Baginya, saat ini yang penting mengisi perutnya dengan nasi liwet yang lezat itu.
" Uhh... hah ! "
Abian terlihat kepedesan. Tapi, walaupun kepedesan Bian tidak berhenti memakannya.
Aisyah pun hanya tersenyum melihat aksi Abian. Dan ahirnya merekapun sudah selesai makan.
" Gilaa... aku kenyang banget. " ucap Bian sambil duduk di sofa ruang keluarga.
" Emang aa baru pertama kali makan Nasi Liwet ? sampe lahap sekali memakannya. " ucap Aisyah sambil ikut duduk di sofa yang ada di ruang keluarga bersama Abian.
" Ya, ini pertama kalinya aku makan Nasi Liwet. Ternyata, makanan khas Indonesia pun gak kalah enak sama makanan di luar negri." ucap Bian masih bersandar di sofa karna kekenyangan.
Aisyah pun hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Abian. Semua yang di katakan Abian berbanding terbalik dengan dirinya.
Aisyah terbiasa dengan masakan Indo apalagi makanan Sunda, tapi Aisyah tidak tau makanan Luar Negri karna belum pernah ke Luar Negri. Sedangkan Abian sendiri, malah tidak tau makanan khas Indonesia karna telalu sering tinggal di Luar Negri.
Setelah Abian puas makan, Abian pun mengusap-ngusap perutnya yang kekenyangan. Abian terbangun dari sandaran sofa, melihat Aisyah yang sedang asyik memainkan ponsel pintarnya nya itu.
Abian merasa heran terhadap Aisyah, baru saja Aisyah masak di dapur, tapi Aisyah sama sekali tidak terlihat kepanasan dengan menggunakan Hijab nya.
" Sya, kamu gak gerah menggunakan Hijab seperti itu ? apalagi, tadi kamu masak di dapur emang gak panas ? " tanya Bian menatap Aisyah keheranan.
Aisyah pun hanya tersenyum mendengar ucapan Abian. Bagi Aisyah, dirinya sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu dari orang-orang.
" Pastinya gerah dong a, hanya saja, sejak aku kecil aku mencoba membiasakan diri. Karna memang, ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai seorang Wanita Muslim." jawab Aisyah masih fokus melihat layar ponsel pintar nya itu.
" Emang segitu harusnya seluruh tubuh Wanita Muslim gak boleh terlihat ? " tanya Abian menatap Aisyah.
Aisyah pun tersenyum.
" Alaurotu Minannisa Mingjamii Badanihi. Aurat wanita itu adalah seluruh tubuh wanita itu sendiri." ucap Aisyah menatap ke arah Abian.
" Emang gak Panas ? " tanya Abian.
" Lebih panas Api Neraka a. " jawab Aisyah tersenyum ramah, kembali pokus menatap ponsel di tangan nya.
Abian pun hanya tersenyum mendengarkan penjelasan Aisyah. Di mata Abian, Aisyah berbeda, tidak seperti Wanita-wanita yang sering ia tiduri. Yang selalu rela menjajalkan tubuh nya pada Abian dan menuruti apapun yang Bian inginkan terhadap wanita itu.
" Maaf, bukan Aisyah menganggap diri Aisyah Suci a. Aisyah juga hanya Wanita biasa yang terkadang masih suka melakukan kesalahan. Tapi Aisyah ingin, selama hidup, Aisyah berusaha menjadi Manusia yang lebih baik lagi. Harta dan Tahta gak bisa di bawa mati, yang akan menemani kita nanti di alam Kubur sama di Akhirat adalah amal baik yang kita lakukan selama di dunia, harta hanyalah hiasan dunia selama kita hidup saja. " ucap Aisyah menatap Abian menjelaskan.
Abian pun tersenyum mendengarkan penjelasan Aisyah. Entah apa yang Abian rasakan saat ini. Abian sendiri tidak tau, apakah rasa kagum atau apa ? rasa aneh di hati Abian ini tidak bisa dia jawab nya sendiri. Mungkin hanya waktu lah yang akan menjawab.
Dengan kedekatan Abian dan Aisyah. Yang selalu bertemu setiap hari dan ngobrol bareng seperti saat ini. Membuat Abian sendiri mulai merasa nyaman dengan segala kesederhanaan dari Aisyah.
*
*
__ADS_1
*