
" Wah... menang lagi a. " Aisyah tersenyum senang karna mendapatkan ikan mas yang dia dapatkan dari pancingannya.
" Em... bagus. Itu baru istriku. " Abian tersenyum memeluk tubuh Aisyah dari belakang.
Saat ini Abian dan Aisyah sedang duduk lesehan di atas tikar pinggir kolam ikan, kusus memancing yang ada di salasatu rumah makan khas sunda yang mereka datangi.
Saat Abian dan Aisyah sampai di rumah makan tersebut, Aisyah memutuskan untuk langsung memancing di kolam ikan sambil menunggu menu makan siang mereka siap, menu bakar ikan khas sunda, beserta lalaban, beraneka sambel dll.
Rumah-rumah bambu dan atap yang masih alami, berjajar rapih mengelilingi kolam ikan tersebut. Tradisi makan lesehan khas sunda menjadi ciri khas yang sangat Aisyah rindukan. Makan lesehan persis seperti di kampung halamannya.
Sala satu pelayan yang sedang menemani mereka langsung sigap mengambil ikan yang di dapatkan Aisyah. Melepaskan ikan itu dari kail pancing dan kembali melepaskannya ke dalam kolam.
" Udah dulu ya mancingnya, dari tadi mancing ikan terus. Sambil menunggu makanan kita matang, Aa mau menghabiskan waktu bersamamu." ucap Abian memeluk Aisyah.
Aisyah tersenyum mengerti.
Pelayan itupun membereskan semua peralatan memancing dan pergi meninggalkan Abian dan Aisyah. Melangkahkan kaki melewati Leo yang sedang pokus dengan layar Laptopnya.
Leo yang duduk tidak jauh di belakang Abian dan Aisyah sangat pokus menatap layar Laptopnya. Mengurus semua masalah perusahaan dengan sangat teliti agar tidak terjadi satupun kesalahan.
" Apa kau suka tempat ini sayang? " Abian memeluk Aisyah mesra, menjatuhkan kepalanya di pundak Aisyah, memandang kolam ikan yang cukup luas di hadapan mereka.
" Aku suka a. Di sini udaranya sejuk, rumah panggung khas sunda yang masih alami, berlantai palupuh yang di buat dari bambu, dan pemandangan kolam ini juga sangat indah. Di penuhi beraneka ragam ikan, mulai dari ikan mas, ikan nila, ikan patin, ikan tawes, ikan nilem, ikan lele, ikan gurame dan ikan bawal. " ucap Aisyah sambil melempar pakan ikan ke dalam kolam, untuk memberi makan ikan yang sedang menunggu di hadapan mereka.
" Em... sama. Aa juga suka, apalagi sambil meluk kamu di sini. " bisik Abian membuat Aisyah sedikit merinding geli sambil tersenyum.
" Aa gombal ya. "
" Emang kenapa? gak mau aa gombalin? " memeluk erat Aisyah.
" Mau dong, apalagi di gombalin sama suami sendiri. Semua wanita pasti menginginkan itu. Apalagi yang udah Halal akan menjadi ibadah a. " Aisyah kembali melempar pakan ikan sambil tersenyum.
" Lalu, kenapa kamu tersenyum kaya gitu? "
" Aku gak apa-apa. " Aisyah masih tersenyum mencoba mengelak.
" Jangan boong sama aa ya. "
" Ikhh... beneran a, aku gak apa-apa. "
" Boong ya kamu. " Abian menggelitiki perut Aisyah. Membuat Aisyah berteriak karna geli.
" Aa udah... geli a. " teriak Aisyah.
" Ya udah, jawab pertanyaan aa. Kenapa kamu senyum-senyum kaya gitu? "
__ADS_1
" Idih... emangnya kenapa? gak boleh aku tersenyum? suka-suka aku dong. " jawab Aisyah masih tersenyum.
" Oh... mulai berani ngelawan ya sekarang. Nih, rasain kamu ya. " Abian kembali menggelitiki Aisyah.
" Akhh... udah a geli. " teriak Aisyah membuat Abian juga tersenyum.
Abian memeluk Aisyah erat, kembali menjatuhkan kepalanya di pundak Aisyah. Menghirup aroma tubuh Aisyah yang wangi menurutnya.
" Jawab pertanyaan aa. Kalau kamu gak mau jawab, nanti aa gelitikin lagi. " Abian tersenyum menyeringai.
" Ikhh... aa apaan sih? dasar suka maksa ya. " gerutu Aisyah.
" Emangnya kenapa kalau aa suka maksa? kata orang, yang di paksa itu akan lebih terasa nikmat sayang. " Abian kembali tersenyum menyeringai.
" Idihh... apaan sih? otak aa mulai ngeres ya? " Aisyah mencubit lengan Abian yang melingkar di perutnya.
" Aw... sakit sayang. " rengek Abian.
" Rasain. Itu balasan untuk laki-laki yang suka berpikiran ngeres kaya aa. " Aisyah tersenyum penuh kemenangan.
" Awas ya kamu. Nanti aa pasti akan hukum kamu, sampai kamu merengek minta ampun sama aa. " ucap Abian.
" Coba aja kalau aa berani. " ucap Aisyah menantang.
" Ox. Tapi gak sekarang, nanti malam aa pasti akan hukum kamu. Aa pasti akan memberi kamu hukuman yang berat, sampai kamu tidak akan bisa bergerak dari atas ranjang. " bisik Abian sedikit pulgar membuat Aisyah sedikit merinding.
" Ikh... iya, iya, aku jawab. Aku tersenyum karna masih sedikit tidak percaya. Seorang Abian pratama suamiku ini yang terkenal tampan di kalangan wanita, cuek, dingin dan kejam bisa bersikap manis dan gombal. " ucap Aisyah menyentuh wajah Abian yang bersandar di pundaknya.
Abian tersenyum senang. " Dan hanya dirimu lah yang bisa membuat aa seperti ini. Selama ini tidak pernah ada wanita yang bisa membuat aa menjadi lebay seperti ini. Hanya kamu seorang saja sayang. " Abian menyentuh wajah Aisyah, membuat wajah Aisyah berhadapan dengannya.
Abian mendekati wajah Aisyah berniat mencium bibir istrinya yang sudah menjadi candunya itu. Aisyah yang sudah mengerti niat Abian suaminya langsung menempelkan jemari lentiknya di bibir Abian, menghentikan niat Abian.
" Jangan di sini a, malu di lihat orang. Aku tau aku sudah Halal dan sudah menjadi milik aa, tapi jangan melakukan itu di sini, nanti aja kalau kita udah di rumah. Aa bisa melakukan apapun yang aa suka sama aku. " Aisyah tersenyum ramah berharap Abian mau mengerti dirinya.
" Janji? apapun yang aa mau, akan kamu turuti?"
" Iya, aku janji a. "
" Termasuk.... " Abian menatap Aisyah tersenyum menyeringai.
Aisyah tersenyum, mengerti akan tatapan suaminya itu. Aisyah mengangguk untuk mengiyakan permintaan Abian suaminya.
" Ox. Makasih sayang, makasih kamu udah mau mengerti aa. " Abian tersenyum memeluk erat Aisyah. Menikmati pemandangan yang indah tersaji di hadapan mereka dan hanya tuhanlah yang tau, apa yang di inginkan Abian kepada Aisyah.
Walaupun makan ala rakyat biasa, berpakaian biasa, berbaur dengan rakyat biasa, Aisyah tetap tersenyum merasa bahagia menikmati harinya dengan Abian.
__ADS_1
Pepatah mengatakan, bahagia itu sederhana. Mungkin itulah yang di rasakan Abian dan Aisyah saat ini. Menikmati hari tampa ada satupun yang tau siapa Abian dan Aisyah yang sesungguhnya.
" Hai semua... " suara seseorang terdengar menyapa dari belakang Aisyah dan Abian, membuat Abian dan Aisyah menoleh.
" Selin? " ucap Abian dan Aisyah bersamaan.
" Hai kaka, hai kaka ipar. " Selin tersenyum menyapa, berjalan mendekati Leo. Duduk di samping Leo, memeluk erat tangan Leo dan bersandar di pundak Leo.
Abian dan Aisyah saling tatap terkejut dengan kedatangan Selin. Namun melihat kemesraan Selin dan Leo yang tersenyum melihat kedatangan Selin. Abian dan Aisyah sudah bisa menebak, pasti Leo lah yang memberi tau Selin keberadaan mereka di sini. Apalagi Selin juga datang dengan menggunakan pakaian biasa, sama seperti yang mereka lakukan saat ini.
" Selin... belum Halal loh. " tegur Aisyah, melihat Selin yang menempel kepada Leo sudah seperti perangko.
" Ikh... kaka ipar. Kali ini aja, biarin aku memeluk bang Leo, pliss..." rengek Selin menatap Aisyah.
" Ka Leo, kalau ka Leo mencintai Selin, ka Leo harus apa? " tanya Aisyah, namun terdengar seperti sedikit menegur dengan secara tidak langsung dan halus.
Membuat Leo tersenyum kikuk, lalu melepaskan pegangan tangan Selin darinya. Leo tau dan mengerti akan pertanyaan Aisyah yang di tunjukan kepadanya.
Sebagai seorang laki-laki yang sangat mencintai pasangannya. Leo mengerti, bahwa dirinya harus menghormati harkat derajat wanita yang sangat dia cintai. Termasuk tidak sembarangan bersentuhan sebelum ada kata Halal di antara mereka berdua. Dan saling menjaga agar mereka tidak terjerumus ke dalam dosa yang semakin dalam.
Walaupun dalam hati Leo mengakui, kalau dirinya dan Selin masih saja sering melakukan dosa dan melakukan hal yang belum boleh mereka lakukan. Tapi mungkin itulah yang namanya manusia, tempatnya khilap dan salah. Karna hanya tuhanlah yang memiliki kesempurnaan.
" Ikh... kaka ipar. Kamu tega sama aku. " rengek Selin merajuk, membuat Leo tersenyum sambil menatap layar Leptop di hadapannya.
" Ka Bian tolong aku. Aku ngikutin kalian datang ke sini karna mau deketan sama bang Leo. " Selin mencoba meminta bantuan kakanya Abian.
" Resiko tanggung sendiri... " ucap Abian mengangkat kedua bahunya dan mencium pipi Aisyah mesra. Mencoba memanas-manasi kelinci kecilnya Selin.
" Ikhh... kaka jahat ya. " rengek Selin, membuat Aisyah, Abian dan Leo tertawa.
Akhirnya Abian mengalah, melepaskan pelukannya dari Aisyah. Membiarkan Aisyah dan Selin memberi makan ikan bersama. Sedangkan Abian berjalan dan duduk di samping Leo, menatap kedua wanita yang sangat mereka sayangi.
" Kapan lo mau ngelamar adik gue? sebentar lagi Selin dan Aisyah lulus kuliah. Lo harus cepet lamar adik gue sama papah. " ucap Abian.
" Secepatnya Bi. " ucap Leo masih pokus memandang Selin.
" Lo gak main-main sama adik gue 'kan? "
" Gue gak pernah main-main sama Selin Bi. Lo tau sendiri kisah hubungan gue sama Selin, walaupun gue tau gue gak sederajat sama Selin dan gue hanya orang biasa, tapi lo harus tau Bi, gue sangat mencintai Selin adik lo. " ucap Leo sedikit lirih.
Abian tersenyum merangkul pundak Leo. " Gak usah bicara kaya gitu, gue yakin dan percaya sama lo Leo. Lo adalah orang kepercayaan papah dan gue. Gue yakin, lo bisa bahagiain adik gue Selin, mendingan sekarang lo cepet lamar Selin sama papah dan lo harus minta restu sama papah. " ucap Abian.
" Pasti, secepatnya akan aku lakukan Bi. Tapi, apa kau merestui aku dan Selin Bi? " Leo menatap Abian dalam. Berharap Abian akan merestuinya.
" Tentu, aku merestui kau dan Selin, Sebagai seorang kaka, aku akan segera menyerahkan tanggung jawabku padamu. Jika kau dan Selin menikah nanti, aku titipkan Selin padamu, jaga dia dan sayangi dia, seperti papah dan aku yang sangat menyayanginya. " ucap Abian tegas, membuat Leo tersenyum mengangguk menatap Abian terharu.
__ADS_1
Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang. Para pelayan membawakan bakar ikan mas dan ikan nila, beserta nasi, aneka lalaban dan aneka sambel tersaji di hadapan mereka.
Mereka pun mulai memakan hidangan yang tersaji di hadapannya saat ini. Termasuk juga para Boiguart yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa dengan berpakaian biasa, juga sedang menikmati hidangan yang sama tepat di samping rumah bambu yang ada di samping rumah bambu yang tempati Abian saat ini.