CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

" Aku sungguh tidak mengerti, apa sebenarnya maksud ka Dev? "


Aisyah masih duduk di tempatnya, menatap Devdas dengan wajah bingungnya.


" Kenapa? apa kau tidak percaya padaku? kali ini aku bersungguh-sungguh Aisyah. "


Devdas tersenyum ramah, memberikan satu Bros kerudung kepada Aisyah, Bros kerudung berwarna pink berbentuk kupu-kupu.


Aisyah menerima Bros tersebut, memandang Devdas masih dengan wajah bingungnya. Aisyah sungguh tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Devdas. Menyatakan cinta dan memberikan Bros kerudung berbentuk kupu-kupu berwarna pink.


" Kau tau? dulu saat ayahku meninggal dunia karna menyelamatkan Abian suamimu, aku selalu menyendiri dan kesepian, aku merasa sangat terpukul dan sangat merasa kehilangan. Dan di saat aku terpuruk karna kehilangan sosok seorang ayah, ayah mulah yang selalu memberiku semangat. Membuatku merasa seolah aku kembali memiliki seorang ayah." Devdas mulai bercerita.


Aisyah yang sedang memperhatikan Devdas mulai sedikit mengerti alur yang di ceritakan oleh Devdas, karna dirinya sudah pernah mendengar sedikit cerita tentang kematian ayahnya Devdas dari Abian.


" Lalu, apa hubungannya denganku? " tanya Aisyah, masih belum benar-benar mengerti.


Devdas tersenyum memandang Aisyah. Lalu kembali memandang lurus ke depan.


" Aku begitu berterima kasih kepada ayahmu om Agus, karna ayahmu, aku bisa bangkit dari traumaku dan bisa bangkit dari keterpurukanku."


Devdas terdiam mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Seolah sedang mengambil ancang-ancang untuk kembali bercerita.


" Aku begitu menghormati ayahmu sama seperti aku menghormati almarhum ayahku sendiri. Di saat ayahmu berkunjung untuk menemuiku, ayahmu selalu menceritakan tentang pertemanan dirinya dengan ayahku, dan juga selalu menceritakan tentang putrinya kepadaku. Sampai akhirnya aku penasaran, siapa sebenarnya putri om Agus sesungguhnya? "


" Lalu? " Aisyah semakin penasaran.


Devdas tersenyum, memandang wajah Aisyah sebentar. " Kau tau? dulu aku sampai nekat datang ke kampung halaman om Agus dan mencari tau siapa putri om Agus yang sebenarnya? Sampai aku menyuruh orang kepercayaanku, untuk membeli satu rumah kecil di kampung halaman om Agus, agar aku lebih mudah mencari tau, mengenal dan memantau putrinya om Agus itu, yang tidak lain adalah dirimu. " Devdas tersenyum ramah memandang Aisyah.


Aisyah yang dari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Devdas, mulai sedikit mengingat serpihan kenangan masalalunya saat dirinya masih anak-anak.


Tidak mungkin, apakah ka Devdas adalah dia? laki-laki yang dulu selalu mengiburku di saat aku bersedih. Dan selalu memberikanku permen lemon di saat aku menangis karna merindukan ayahku.


Devdas kembali memandang lurus ke depan, memulai kembali ceritanya.


" Di saat aku tau, kalau ternyata kau adalah putrinya om Agus. Aku langsung mengamatimu dari kejauhan, mencari tau semua tentang dirimu, mulai dari mencari di mana tempat tinggalmu, di mana kau sekolah dan di mana kau mengaji bersama kawan-kawanmu di kampung. Saat itu aku ingin sekali mengenal dirimu dan menjadi temanmu, tapi saat itu aku masih tidak memiliki keberanian. " ucap Devdas terdengar sedikit lirih.


" Sampai akhirnya aku.... "


" Sampai akhirnya kita bertemu di saung yang ada di pinggir sawah, dan saat itu kau terjatuh karna tersandung akar pohon yang ada di dekat saung tempat aku sedang menikmati pemandangan hampar sawah yang luas, benar begitu bukan? " Aisyah memotong pembicaraan Devdas, menatap Devdas dalam.


" Apa kau sudah mengingatnya sekarang? " ucap Devdas tersenyum bahagia.


" Gaang... apakah itu kau ka?" tanya Aisyah yang mendapat anggukan dan senyuman dari Devdas.


* * *


Bruk...


" Siapa itu? "


Aisyah kecil yang masih berusia sekitar sepuluh tahun berdiri dari duduknya. Berjalan ke arah belakang saung, tempat iya berteduh sambil menikmati hamparan sawah yang hijau.


" Kamu? siapa kamu? ngapain kamu di belakang saung sampai terjatuh kaya gitu? " tanya Aisyah berdiri menatap seorang anak laki-laki berusia sekitar dua puluh satu tahunan itu.


Anak laki-laki itu berdiri " Em... itu, aku lagi jalan-jalan di sekitar sini, lalu aku nyasar ke sini. " ucap Devdas mencari alasan, padahal dirinya sengaja mengikuti Aisyah kecil.

__ADS_1


" Alasan! " ucap Aisyah sinis, kembali duduk di saung.


" Aku ikut duduk di sini ya? " ucap Devdas mengikuti Aisyah untuk duduk di saung yang sama dengan Aisyah.


" Ngapain kamu di sini? aku gak kenal kamu ya. Sana pergi, ini saung sawah milik keluargaku. " ucap Aisyah kecil sinis.


Devdas tersenyum " Aku cuma mau kenalan aja ko, aku di sini lagi berkunjung menemui sala satu kerabat aku. Dan di sini aku gak punya teman, boleh aku berteman denganmu? " ucap Devdas berbohong sambil tersenyum ramah.


" Dasar gaang ( anjing tanah) sembunyi-sembunyi di belakang, sekarang so mau kenalan segala. " ucap Aisyah kecil sinis.


" Apa? gaang, apa itu gaang? " Dev keheranan.


" Gaang itu adalah anjing tanah yang selalu menggali di dalam tanah dan bersembunyi di dalam tanah, berbunyi nyaring di kala magrib tiba. Sama seperti kau tadi, sembunyi di belakang pohon lalu sekarang pura-pura mau kenalan, alasan aja! " ucap Aisyah.


Devdas tersenyum memandang anak wanita yang masih berusia sekitar sepuluh tahun tersebut. Berhijab, lucu dan sedikit cuek. Membuat Devdas merasa semakin tertarik.


" Mau permen lemon? " Devdas menyodorkan beberapa permen lemon kepada Aisyah kecil.


Walaupun Aisyah terkesan cuek dan sedikit kasar, Aisyah tetap menerima permen lemon yang di berikan oleh Devdas. Dan sejak saat itu Devdas dan Aisyah sedikit sering bertemu, mengenal satu sama lain dan terkadang sering bercanda layaknya anak-anak biasa.


Tapi Aisyah tidak pernah mengetahui nama Devdas sesungguhnya, Aisyah hanya memanggil nama Devdas dengan panggilan si gaang.


Sampai akhirnya, setelah sekitar dua minggu Devdas tinggal di kampung halaman Aisyah, Devdas harus kembali ke kehidupannya dan kembali kepada ibunya.


" Ada apa kau ingin menemuiku di saung ini? " tanya Aisyah menatap Devdas sambil duduk di saung yang sama, tempat mereka pertama bertemu.


" Aku sudah terlalu lama di sini, dan nanti sore aku harus kembali ke kota. " ucap Devdas berbohong. Padahal dirinya harus kembali ke luar negri, pulang kembali ke rumahnya.


" Oh... lalu buat apa kau ingin menemuiku di sini? " tanya Aisyah kecil.


" Lalu? "


" Em... apa sebagai teman kau tidak mau memberikanku sebuah kenang-kenangan?"


" Idih... ko kenang-kenangan? aku kan hanya mengenalmu sebentar. " ucap Aisyah kecil menatap heran Devdas.


Devdas tersenyum. " Kau ini lucu sekali, jika suatu saat kita bertemu lagi, jangan pernah kau melupakan aku, kau harus selalu mengingat diriku. " ucap Devdas tersenyum.


" Apa harus? " tanya Aisyah kecil.


" Ya. Harus. Tapi kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa. Ya sudah, aku pulang dulu, aku masih harus mengemasi barangku." ucap Devdas melangkahkan kakinya.


" Eh... tunggu. "


Devdas menghentikan langkahnya, berbalik menatap Aisyah yang sudah berdiri di dekatnya.


" Ini untuk kamu. " Aisyah melepaskan Bros hijabnya.


Devdas tersenyum memandang Bros berwarna pink berbentuk kupu-kupu itu.


" Kalau tidak mau ya udah!"


" Hey, tunggu. Sini, itu buat aku 'kan? " tanya Devdas.


Aisyah menganggukan kepala, memberikan Bros itu kepada Devdas. Membuat Devdas tersenyum bahagia mendapatkan kenang-kenangan sederhana dari seorang wanita yang dia kagumi dan sayangi.

__ADS_1


Tampa Aisyah tau, walaupun sederhana, kejadiannya bersama Devdas saat itu, membuat laki-laki itu terus menyimpan rasa untuknya. Bahkan sampai mereka sama-sama tumbuh dewasa.


* * *


" Kenapa kau tidak memberi tauku sejak awal, kalau ternyata kau adalah dia. Laki-laki yang pernah menemuiku saat aku kecil. " Aisyah menggenggam erat Bros itu menatap Devdas.


" Maaf... aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Dan walaupun aku tau kau sudah menjadi milik Abian, entah kenapa aku masih menginginkanmu sampai saat ini. " ucap Devdas lirih.


Aisyah terkejut dengan perkataan Devdas " Ka Dev. Maaf, tapi kau harus tau, sejak awal aku hanya menganggapmu sebagai teman saja tidak lebih ka. Apalagi sekarang aku sudah menikah, aku sudah memiliki suami dan aku sangat mencintai suamiku. Aku harap kaka bisa mengerti itu."


" Tapi aku mencintaimu Aisyah, apakah salah jika aku mencintaimu? apakah salah jika aku menyayangimu? Akulah yang lebih dulu mengenalmu bukan Abian. "


" Iya, aku juga tau itu ka. Tapi dari dulu sampai sekarang, aku hanya menganggapmu sebagai teman saja, tidak lebih. Aku sungguh tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Aku minta maaf jika kenyataannya membuatmu kecewa dan sakit hati. Tapi kau harus tau, aku sangat mencintai a Bian ka, dan itu adalah kenyataannya. " Aisyah berusaha menjelaskan.


" Apa kau sungguh-sungguh mencintai Abian pratama? " suara Devdas terdengar sedikit lirih namun menyimpan benci di hatinya untuk Abian.


" Ya, awal menikah aku sendiri tidak tau, apakah aku mencintai a Bian atau tidak? tapi sekarang aku yakin, aku mencintai suamiku. Walaupun memang banyak kekurangan dari diri a Bian, tapi aku bisa menerima itu. Dan aku yakin, a Bian akan berubah. " ucap Aisyah penuh keyakinan.


Devdas tersenyum menatap Aisyah. Devdas merasa bahagia dan senang karna sudah mengutarakan perasaannya kepada Aisyah, wanita yang selama ini dia kagumi, sayangi dan cintai.


Tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Devdas merasa sakit menerima kenyataan, bahwa wanita yang dia sukai tidak memiliki perasaan yang sama kepadanya. Bahkan wanita yang dia cintai mengatakan mencintai laki-laki lain yang sudah menjadi suaminya, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri yaitu Abian pratama.


" Ka Dev... maaf, kalau aku sudah menyakiti hatimu. Maaf... untuk kenyataan yang sudah ku ucapkan yang membuatmu kecewa."


Aisyah menatap Devdas dengan perasaan bersalah di hatinya. Sungguh Aisyah tidak enak hati, karna secara tidak langsung menolak perasaan cinta dari Devdas untuknya. Tapi Aisyah sendiri tidak bisa berbohong, bahwa dirinya sangat mencintai Abian.


" Tidak apa-apa. Jika kau memang mencintai Abian, aku ikut senang, semoga hidup kalian selamanya bahagia. Apa sekarang kita masih menjadi teman? " Devdas tersenyum getir mencoba menerima kenyataan yang ada di depan matanya.


" Tentu. Sampai kapanpun kita akan tetap berteman ka, terima kasih ka Devdas sudah mau mengerti diriku."


Aisyah tersenyum bahagia karna Dev sudah mau mengerti dirinya. Tampa Aisyah ketahui, jauh di lubuk hati Dev, dirinya belum bisa menerima kekalahannya.


Karna merasa masalah sudah selesai, Aisyah berpamitan kepada Devdas untuk kembali pulang. Tampa Aisyah dan Devdas sadari, dari kejauhan orang kepercayaan Abian sudah mengambil poto kebersamaan Devdas dan Aisyah. Lalu segera mengirim poto itu kepada Abian.


Saat ini Abian sangat cemas, duduk di kursi kebesarannya menghawatirkan Aisyah.


Pasalnya Mbok Siti memberi laporan kepadanya, tentang Aisyah yang pergi dari rumah sendiri tampa di dampingi oleh Pak Mun.


Leo yang mendengar semua itu langsung menghubungi orang-orang kepercayaannya, orang-orang yang Leo suruh untuk menjaga keamanan Aisyah.


Ting...


Suara ponsel Leo berbunyi, menandakan ada sesuatu yang masuk ke dalam ponselnya. Saat Leo ingin membukanya, Abian langsung merebut ponsel itu dari tangan Leo.


Leo hanya berdiri memandang Abian yang sedang pokus membuka ponselnya dan melihat sesuatu di dalam ponsel itu yang membuat mata Abian menajam dan wajahnya yang seketika berubah dingin.


Brak....


Abian tiba-tiba melempar ponsel Leo dengan keras, membuat ponsel itu hancur seketika. Wajah Abian terlihat di penuhi amarah dan kebencian.


" Brengsek! apa yang sebenarnya kau inginkan dariku Dev? kenapa sekarang kau berani menemui istriku, bahkan kalian hanya duduk berdua di taman. "


Abian langsung memporak porandakan semua benda yang ada di atas mejanya. berbalik menatap tajam ke arah Leo yang sedang berdiri diam menatapnya.


" Cari tau dimana keberadaan Devdas saat ini, aku harus membuat perhitungan kepadanya. " ucap Abian dengan tatapan tajamnya menatap Leo.

__ADS_1


__ADS_2