
"Sapu tangan gue, bukannya aku sudah membuangnya?" tanya Echa penasaran
"Aku tahu kamu tidak sengaja membuangnya, dan aku tahu ini adalah sesuatu yang berharga bagi kamu, dan kamu tidak mau kehilangan sapu tangan itu makannya aku menyimpannya, sama seperti aku yang selalu menyimpan kamu dalam hatiku, karena kamu adalah wanita spesial dalam hidupku, karena aku suka sama kamu, I Love you Echa," ucap Selo membuat Echa ternganga begitu juga Amar yang tidak sengaja mendengarnya
Echa masih diam tidak menjawab ataupun menanggapi ucapan Selo.
"Kamu marah ya, kamu gak suka sama aku Cha?" tanya Selo kecewa
"Gak marah kok, cuma aku gak bisa balas cinta kamu, karena aku sudah menyerahkan hatiku untuk orang lain," jawab Echa
"Iya aku tahu, tapi bolehkan aku sayang sama kamu?" tanya Selo
"Terserah, itukan hak kamu, tapi sekali lagi maaf, aku gak bisa balas cinta kamu," jawab Echa
Kenapa kamu tidak menerima Selo Cha, dia itu lelaki yang baik, Sholeh, dan aku rasa sangat cocok dengan kamu, kamu jangan mengharapkan aku lagi Cha, kita sudah tidak bisa bersama lagi,
Amar segera kembali menuju ke ruangannya, sebenarnya ia merasa cemburu melihat kedekatan Selo dengan Echa, tapi mendengar penuturan Echa, ia mulai merasa lega karena gadis itu masih sayang padanya. Tapi disisi lain ia juga kasian kepada Echa, karena pasti gadis itu masih susah move on dan sedih pasca tahu kalau mereka adalah saudara sepupu dan kedua orang tuanya melarang mereka menikah.
Beberapa menit kemudian Echa kembali ke ruangannya, Amar langsung berpura-pura sibuk, agar gadis itu tidak bertanya babibu padanya, atau setidaknya dia tidak menggangunya.
Gadis itu langsung duduk dan melanjutkan aktivitasnya tanpa bertanya ataupun menyapa Amar.
"Kenapa dia jadi cuek gini, jangan-jangan pas aku pergi tadi, dia berubah pikiran dan menerima cinta Selo lagi, duh kenapa gue gak rela kalau dia cuekin aku sih, apa ini artinya aku juga belum bisa move on dari Echa." gumam Amar
Tepat pukul lima sore Echa bersiap-siap untuk pulang karena pekerjaannya sudah selesai.
"Saya pulang dulu ya ka," gadis itu berpamitan padanya
"Iya, hati-hati," jawab Amar
Echa melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
Gadis itu sengaja pulang melalui tangga, ia tidak mau phobia liftnya kambuh jika ia menggunakan lift.
__ADS_1
"Echa!!" seorang pemuda berlari menyusulnya, namun Echa hanya menengok kearahnya dan tersenyum simpul.
"Kamu mau pulang kan?, kita bareng yu" ajak Selo
"Kalau tidak merepotkan bolehlah," jawab Echa
Keduanya kemudian berjalan keluar menuju ke parkiran.
Selo segera melajukan mobilnya meninggalkan Sedayu Group dengan kecepatan sedang, tidak ada perbincangan selama dalam perjalanan, karena Echa tertidur pulas selama perjalanan pulang.
"Cha...sudah sampai!" ucap Selo membangunkan Echa
Namun karena kecapean Echa susah dibangunkan, sehingga membuat Selo terpaksa menggendongnya sampai ke dalam rumahnya.
Aisyah segera membukakan pintu ketika Selo beberapa kali mengetuknya, dan ia terkejut ketika melihat putrinya di gendong oleh seorang lelaki.
"Echa kenapa nak?" tanya Aisyah panik
"Gak papa kok tante, dia cuma kecapean, tadi Elo udah bangunkan tapi mungkin karena saking lelahnya jadi ia tidak bangun juga, makanya saya berinisiatif menggendongnya, maaf tante bukan maksud kurang ajar, tapi aku cuma membantu Echa saja," jawab Selo
"Makasih ya Elo, Kate sudah mengantar Echa pulang," ucap Aisyah
"Sama-sama tante, yaudah saya sekalian pamit tante, assalamualaikum," ucap Selo
"Waalaikum salam," jawab Aisyah mengantarnya hingga keluar rumah.
********
Stelah lamaran yang gagal Bhumi mencoba menghubungi Kyai Sodiq untuk meminta pencerahan dari guru spiritualnya itu.
"Jadi gimana Kyai?, apa Amar dan Echa boleh menikah?" tanya Bhumi di ujung telepon
Kyai Sodiq hanya tertawa mendengar pertanyaan dari Bhumi.
__ADS_1
"Sebenarnya boleh kok pernikahan saudara sepupu itu, karena mereka itu berbeda nasab, yang tidak boleh itu adalah pernikahan dari mahram garis lurus misalnya kakek menikahi cucunya, paman menikahi ponakannya dan seterusnya, seperti firman Allah dalam QS Al Ahzab ayat 50 yang berbunyi:
"يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَٰجَكَ ٱلَّٰتِىٓ ءَاتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّٰتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَٰلَٰتِكَ ٱلَّٰتِى هَاجَرْنَ مَعَكَ وَٱمْرَأَةً مُّؤْمِنَةً إِن وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِىِّ إِنْ أَرَادَ ٱلنَّبِىُّ أَن يَسْتَنكِحَهَا خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۗ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِىٓ أَزْوَٰجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Yang artinya : Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan juga seperti yang dijelaskan dalam QS Annisa ayat 23 dan 24:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Yang artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Kyai Sodiq menjelaskan dengan gamblang membuat Bhumi mengangguk paham.
"Terima kasih atas penjelasannya Kyai, Alhamdulillah saya jadi lega mendengarnya, semoga Amar juga bahagia mendengar kabar ini, sekali lagi terima kasih, assalamualaikum," Bhumi mengakhiri telponnya
Tidak lama kemudian Amar sudah tiba di rumahnya, Bhumi menyambutnya dengan senyum manisnya.
"Assalamualaikum Abi," sapa Amar
"Waalaikum salam nak, kenapa kamu terlihat kusut sekali hari ini?" tanya Bhumi
"Hari ini banyak pekerjaan Bi, " jawab Amar
"Apa Echa masuk kerja?" tanya Bhumi
"Iya,"
"Mungkin mulai besok kau tidak akan terlalu capek lagi, karena pewaris Sedayu Group yang sah sudah datang, dan dia akan mengambil alih perusahaan itu mulai besok," ucap Bhumi
"Benarkah?, jadi aku bisa kembali ke pondok lagi, Abi?" tanya Amar dengan mata berbinar
"Tapi kamu harus mentrainingnya dulu, jika dia sudah paham semua tugas-tugasnya makan kamu boleh kembali ke Pondok," jawab Bhumi
__ADS_1
"Alhamdulillah, jadi penasaran siapa pewaris sah Sedayu Group," gumam Amar