CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Mulai Mendekat


__ADS_3

" Aisyah... ayolah, kau kan kaka iparku, masa kau tidak mau cerita padaku. Setidaknya sedikit saja, supaya aku dapat pelajaran berharga gitu." Selin tersenyum menatap Aisyah yang masih mengunyah makanan-nya.


Jiwa kepo Selin semakin menjadi-jadi. Dirinya semakin penasaran dengan malam pertama yang di lakukan kaka-nya bersama Aisyah. Selin sendiri begitu penasaran, seberapa perkasa kakanya jika sedang bertarung dengan kaka iparnya.


Selin berpikir kaka-nya Abian memiliki tubuh yang sangat ideal dan menggoda, pastilah kakanya sangat perkasa jika sedang bertarung di tempat tidur. Otak halu Selin mulai bekerja, membayangkan sang sekertaris pribadi kakanya Leo yang sama memiliki tubuh indah dan menggoda, yang kini menyjadi laki-laki idaman-nya.


Wahh... aku gak kebayang, ka Abian pasti sangat perkasa dan bisa membuat istrinya puas. Ikhhh... gimana kalau nanti aku sampai nikah sama bang Leo ya? bang Leo rasanya gimana? Aduhhh.... aku jadi kepo.


" Selin, Selin." Aisyah memanggil nama Selin dua kali namun tidak ada jawaban.


" Selin! " teriak Aisyah sedikit kencang, yang langsung membuyarkan lamunan Selin.


" I-iya kaka ipar, ada apa? " Selin gagap.


" Kamu ini kenapa sih? udah, ayo kita jalan lagi." Aisyah berdiri dari duduk-nya.


" Eh, tunggu-tungu. Apa makanan ini udah di bayar? " Selin menyusul langkah kaki Aisyah yang sudah lebih dulu berjalan melangkahkan kakinya.


" Udah dari tadi, makanya jangan melamun terus, kamu ini ngehayal mulu. " gerutu Aisyah keluar dari lestoran tersebut.


" Ikhh... kaka ipar, maaf, aku salah. " Selin cengengesan sambil memegang tangan Aisyah.


Aisyah menghentikan langkahnya " Baiklah. Sekarang kita mau ke mana lagi? " menatap Selin.


" Emm... antar aku belanja baju dulu ya Sya. " ucap Selin melepaskan genggaman tangan nya dari Aisyah.


" Ox. Ayo! "


" Cus. Kita ke toko baju dulu." ucap Selin semangat mengacungkan tangan nya. Sementara Aisyah hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


Selin dan Aisyah pun berjalan menuju sala satu toko baju ternama di moll tersebut. Sala satu toko ternama yang menyediakan pakean laki-laki maupun perempuan. Saat sudah sampai di toko tersebut, Aisyah langsung mengikuti langkah kaki Selin yang sedang memilih baju yang kira-kira cocok untuknya.


" Aku serius Sya. Aku penasaran, ka Abian sanggup melakukan nya berapa kali dalam semalam? " memulai lagi pembicaraan yang tadi, bicara tampa saringan, sambil tangan nya sedang memilih baju yang cocok.


" Jangan mulai lagi deh Sel, kamu ini keterlaluan tau gak? kalau kamu mau tau, kenapa gak tanya langsung sama ka Abian? " ucap Aisyah masih berdiri di samping Selin.


" Hehe... gak berani aku. Kalau aku nanya itu, ka Abian pasti akan marahin aku nanti. " Selin tersenyum cengengesan menatap Aisyah.


" Nah... itu kamu tau. Jadi... buang jauh-jauh jiwa kepomu itu. " ucap Aisyah yang berhasil membuat Selin terdiam.


" Ya udah, kamu belanja sendiri aja ya! aku mau cari tempat duduk dulu. " ucap Aisyah yang mendapatkan anggukan dari Selin.


Aisyah pun berjalan menuju sofa yang ada di toko tersebut sedikit dekat dengan ruang ganti. Dari pada mengikuti Selin memilih baju, akan lebih baik menunggu saja di sofa sambil duduk santai pikir Aisyah.


Aisyah duduk santai bersandar di sofa sambil memegang ponselnya. Membuka akun sosial miliknya, sambil terkadang senyum sendiri melihat sesuatu yang menurutnya lucu.


" Ehem... Aisyah. " seseorang memanggil.


Aisyah mendongak, menatap seseorang yang memanggil nama-nya, yang sekarang sedang berdiri di hadapan-nya.


" Ka-ka Devdas. " Aisyah menatap heran, tidak menyangka akan bertemu dengan Devdas.


" Boleh aku duduk? " Devdas tersenyum menatap Aisyah yang juga mendapatkan anggukan dari Aisyah.


" Kamu sedang apa di sini? " Devdas duduk di sofa yang sama dengan Aisyah, sedikit berjauhan menjaga jarak.


" Cuma jalan-jalan aja ka. Kaka sendiri sedang apa di sini? "


" Sama kaya kamu, lagi jalan-jalan aja cari angin. " ucap Devdas tersenyum ramah.


" Oh..."


" Kamu sama siapa ke sini? " tanya Dev.


" Sama Selin ka, tadi Selin lagi milih baju. Aku tunggu aja di sini sambil duduk."

__ADS_1


" Kamu sendiri gak milih baju? "


" Enggak ah."


" Kenapa tidak? biasanya kan wanita selalu suka shoping, belanja baju baru atau tas baru. " ucap Dev.


Aisyah tersenyum " Tidak semua wanita seperti itu ka, bisa jadi ada juga wanita yang tidak suka shoping. " ucap Aisyah.


Ya. Dan wanita itu adalah kamu. aku tau, kamu tidak akan mengingatku, kalau sebenarnya dulu kita pernah bertemu. Tapi aku selalu mengingatmu, karna kamu sudah berhasil mendapatkan hatiku dengan segala kesederhanaan-mu ini.


" Kaka sendiri kenapa tidak belanja? " Aisyah balik bertanya menatap Dev.


Devdas tersenyum " Tadi aku sedang jalan-jalan saja, saat aku masuk, aku melihat dirimu. " Dev menjelaskan.


" Oh... " Aisyah mengangguk mengerti.


" Boleh aku tanya? sudah sejak kapan kau dan Abian menikah? " Dev memulai akting-nya, pura-pura tidak tau dan bertanya.


" Sudah lama ka, apa kaka tidak menerima undangan pernikahan kami? " tanya Aisyah. Karna setau Aisyah, surat undangan telah di buat dengan jumlah yang banyak, untuk keluarga dan semua rekan bisnis Bagas pratama.


" Tidak. Mungkin Abian lupa kali ya! " Dev tersenyum.


Devdas berbohong. Padahal dulu, surat undangan pernikahan Abian dan Aisyah sampai ke rumah Devdas, lewat sala satu rekan kerja Bagas pratama yang ada di luar negri. Bahkan, ibunya Dev yang mau berangkat ke indonesia menghadiri acara pernikahan tersebut, sampai di larang oleh Dev karna rasa cemburunya kepada Abian dan Aisyah.


" Kau beruntung menikah dengan Abian Sya. Abian laki-laki yang kaya dan berkuasa, dia bisa membahagiakan mu dengan semua hartanya. "


Devdas tersenyum ramah, Dev sengaja bicara seperti itu karna dirinya ingin tau jawaban apa yang akan di ucapkan oleh Aisyah.


Aisyah tersenyum mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Devdas.


" Bukan harta yang aku cari ka Dev. Tapi aku mencari seorang suami yang mau menyayangiku dan menerima diriku dengan segala kekurangan ku. Harta bisa di cari, tapi kejujuran, kebaikan dan kasih sayang yang tulus, tidak akan bisa di bandingkan dengan apapun di dunia ini. " ucap Aisyah.


Dev tersenyum puas mendengar jawaban yang di ucapkan oleh Aisyah. Wanita yang Dev kagumi dan cintai ternyata masih Aisyah yang sama, istimewa dengan segala kekurangan nya yang membuat Dev terpikat.


" Wahh... hebat, aku pikir kamu sama dengan semua wanita yang selalu bersama dengan Abian dan menemani malam Abian. Tapi ternyata aku salah, kau memang berbeda. Maafkan aku ya Sya. " Dev tersenyum ramah.


" Ya. Kau benar sekali. " Dev tersenyum ramah.


Kau salah Aisyah. Justru aku menginginkan kehancuran untuk Abian, karna dia sudah menghancurkan hidupku, membunuh ayahku dan merebut dirimu.


Devdas dan Aisyah pun berbincang-bincang, sambil terkadang tertawa karna candaan yang di ucapkan oleh Devdas. Sampai akhirnya Selin datang menghampiri.


" Eh.. ka Dev ada di sini juga? " ucap Selin menghampiri.


" Ya. Tadi kebetulan sekali aku melihat Aisyah dan ngobrol sebentar dengan-nya di sini. "


" Udah selesai belanja bajunya? " tanya Aisyah.


" Udah. Sekarang kita mau ke mana lagi? "


" Emm... gimana kalau kita nonton dulu sebelum pulang? " ucap Aisyah.


" Boleh juga. Ka Dev, Kaka mau ikut kami nonton atau gimana? " tanya Selin.


" Emm... kalau kalian tidak keberatan, mungkin asyik juga nonton. " ucap Dev masih duduk di sofa bersama Aisyah.


" Ya udah, kita nonton sama-sama. Tapi aku mau ke parkiran dulu, mau nyimpen belanjaan aku dulu, gak apa-apa 'kan Sya? "


" Ya udah iya, nanti aku tunggu kamu di depan bioskop bersama ka Dev yah! " ucap Aisyah yang mendapat anggukan dari Selin.


Selin pun melangkahkan kakinya keluar dari moll menuju parkiran. Sementara Devdas dan Aisyah berjalan menuju Bioskop.


Setelah Devdas dan Aisyah membeli tiket Bioskop dan membeli minuman juga popcorn. Aisyah dan Devdas menunggu di tempat duduk depan Bioskop.


Tak lama, Selin pun datang menghampiri Aisyah dan Devdas yang sedang duduk menunggu.

__ADS_1


" Maaf, lama nunggu ya? " ucap Selin.


" Enggak ko, cuma sedikit bete aja nungguin kamu. " sindir Aisyah tersenyum.


" Ye... itu mah sama aja. " ucap Selin. Selin dan Aisyah pun tersenyum bersama.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam Bioskop dan memilih tempat untuk duduk. Devdas duduk di tengah antara Selin dan Aisyah. Mereka bertiga begitu asyik menonton filem bergendre action.


Tidak selamanya orang jahat berasal dari kalangan preman atau kalangan bawah. Orang jahat pun, bisa berasal dari kalangan atas yang berpendidikan.


Dan tidak selamanya pula orang baik berasal dari kalangan orang kaya dan berpendidikan.


Orang baikpun bisa berasal dari kalangan biasa, yang belum tentu mendapatkan pendidikan yang layak seperti orang kaya.


Mungkin pepatah itulah yang layak di sematkan kepada Devdas saat ini. Entah kenapa, Devdas saat ini menjelma menjadi sesosok laki-laki tampan yang ramah dan baik hati.


Devdas juga terkadang bercanda dan tertawa bersama dengan Aisyah dan Selin. Seolah dirinya menjelma menjadi sesosok kaka laki-laki untuk Selin atau sosok seorang suami untuk Aisyah.


Mungkin karna cinta bisa membutakan semua orang, dan itulah yang mebuat Devdas sejenak merubah sikapnya. Yang tadinya dingin, cuek dan kejam, kini menjelma menjadi sosok seorang laki-laki yang berparas tampan dan tersenyum ramah di hadapan Aisyah dan Selin.


Setelah selesai menonton di Bioskop, Devdas pun berpamitan meninggalkan Selin dan Aisyah.


" Baiklah. Aku duluan ya! terima kasih kalian sudah mengajaku nonton. " ucap Devdas berpamitan.


" Sama-sama ka! " ucap Selin dan Aisyah bersamaan.


Aisyah dan Selin pun mulai melangkahkan kaki, keluar dari moll tersebut menuju parkiran. Sesampainya di parkiran Pak Mun seperti biasa sudah menunggu. Begitu juga dengan Selin yang berpamitan untuk pulang.


" Kaka ipar, aku duluan ya! "


" Iya. Salam untuk mama santi ya Sel. "


" Iya, kali-kali main dong ke rumah. " ucap Selin berpamitan sambil masuk ke dalam mobil.


Selin melajukan mobilnya sambil membunyikan kelakson mobil-nya melewati Aisyah.


Pak Mun yang sudah menunggu, membuka pintu mobil untuk Aisyah. Setelah Aisyah masuk, Pak Mun pun ikut masuk dan duduk di depan kemudi untuk melajukan mobilnya seperti biasa.


* * *


Ruangan pribadi Abian pratama.


" Ting. "


Suara tanda ada chat masuk ke dalam ponsel milik Abian. Ternyata itu adalah chat yang di kirim oleh orang kepercayaan Abian, yang Abian suruh untuk mengawasi Aisyah maupun Selin.


Abian mulai melihat semua poto yang di kirim oleh orang kepercayaan-nya itu. Poto itu berisi kebersamaan Aisyah, Selin dan Devdas.


Wajah Abian mulai memanas, sorot matanya mulai menajam, rahang-nya mengeras menahan amarah. Abian menyimpan ponsel-nya di atas meja, tangan-nya mengepal sempurna menandakan emosi Abian mulai meninggi.


Namun, sebisa mungkin Abian menahan Amarah-nya dan mencoba untuk berpikir dengan jernih. Abian sudah mulai bisa mengatur kembali emosinya, menyandarkan tubuhnya ke belakang.


Dev... sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? kenapa kau sekarang malah mendekati adik dan istriku. Kalau kau menginginkan aku, kenapa tidak kau hadapi saja aku secara langsung.


Abian menghembuskan napas-nya kasar sambil bersandar ke belakang, menutup kedua matanya untuk menenangkan diri.


* * *


" Aduhh.... Pak Mun kenapa berhenti mendadak? "


Aisyah sedikit kaget karna Pak Mun mengerem mobil secara mendadak. Membuat tubuh Aisyah sedikit terguncang, namun masih aman, karna sabuk pengaman menahan tubuh Aisyah. Mobil yang di kendarai Pak Mun dan Aisyah masih berada di area parkiran moll.


" Maaf nona, itu di depan ada seseorang. " ucap Pak Mun.


Saat Aisyah menatap ke arah depan, Aisyah sangat terkejut melihat seorang wanita yang sedang berdiri menghadang di depan mobil. Dengan keadaan wanita tersebut seperti sedang ketakutan.

__ADS_1


" Astagpiruloh... Ka Dhafina. " ucap Aisyah kaget.


__ADS_2