
Dengan perasaan hati yang masih berkecamuk, Dhafina mencoba melangkahkan kakinya berniat masuk kembali kedalam rumah tempat acara pesta pertunangan masih berlangsung.
Di setiap langkahnya, hati Dhafina terus saja menangisi nasib hidupnya yang tragis dan menyedihkan. Mulai dari memiliki orang tua yang tidak memperdulikannya, di campakan dan di hianati oleh setiap laki-laki yang sedang bersamanya. Dan hidupnya sebagai seorang wanita yang sudah tidak sempurna lagi karna rahimnya yang sudah di angkat.
Hanya satu nama yang dia sebutkan di hatinya saat ini, yaitu Abian pratama. Seorang laki-laki yang dulu sangat memcintainya, selalu memberi perhatian kepadanya dan selalu menghormati harkat derajat dirinya sebagai seorang wanita.
Tidak pernah bermain kasar terhadap dirinya, bahkan selalu memberinya kasih sayang dan cinta yang berlimpah.
Abian... andai waktu bisa ku putar kembali. Aku tidak akan meninggalkanmu, kini aku sadar akan cinta dan kasih sayangmu yang begitu besar untuku. Maafkan aku, aku telah menyakitimu dan mencampakan laki-laki baik seperti dirimu. Ya tuhan, apakah ini teguran darimu untuku karna telah menyia-nyiakan laki-laki baik seperti Abian.
Hati Dhafina semakin menjerit merasakan sakit menangisi takdir hidupnya yang begitu pahit. Sambil memaksakan diri melangkahkan kaki untuk kembali masuk ke dalam rumah, karna acara yang masih berlangsung.
Saat Dhafina masih melangkahkan kakinya, matanya menangkap sosok seorang laki-laki yang sangat dia rindukan saat ini. Laki-laki itu terlihat sedang berdiri seorang diri, berbicara dengan seseorang lewat sambungan telpon di tangannya.
Berdiri penuh wibawa, masih sama di area taman belakang rumah. Namun di sisi taman yang berbeda. Sosok laki-laki itu tidak lain adalah Abian pratama.
Tubuh Dhafina seketika membeku, menatap laki-laki yang sangat ia rindukan saat ini. Hatinya bercampur aduk antara rindu dan rasa bersalah, perlahan namun pasti, kaki Dhafina melangkah mendekati Abian yang berdiri tidak jauh darinya. Namun dengan posisi membelakangi Dhafina dan masih pokus berbicara dengan seseorang lewat sambungan telpon di tangannya.
Dhafina menatap sendu punggung Abian yang sudah berada dekat di hadapannya saat ini. Tubuh Laki-laki yang sangat Dhafina rindukan, yang dulu selalu memberinya kehangatan dan pelukan kasih sayang.
Tampa berkata sepatah katapun, Dhafina langsung memeluk tubuh Abian dengan erat, merasakan kehangatan yang sudah lama ia rindukan. Abian langsung terdiam kaku tampa bergerak sedikitpun, wajah Abian yang tadinya ramah sedang berbicara dengan sesorang, kini berubah dengan ekspresi wajah dingin dengan tatapan mata yang tajam.
Rahang Abian mengeras, perasaan marah dan kecewa langsung berkecamuk di hati Abian. Abian memang sudah lama tidak bertemu dengan Dhafina, tapi Abian masih sangat mengenal betul pelukan seorang wanita yang sedang memeluknya saat ini.
Abian mematikan sambungan telponnya dan berdiri terdiam, mencoba meyakinkan dirinya untuk tetap tenang agar semua rencananya tidak berantakan. Abian memang sudah tau semua informasi kebenaran tentang Devdas, termasuk informasi lengkap tentang Dhafina yang berada di bawah kendali Devdas.
" Fina... lepaskan tanganmu. " ucap Abian tegas mulai bisa kembali mengatur emosinya, berdiri memandang lurus ke depan dengan wajah datarnya.
Dhafina terkejut dengan perkataan Abian barusan, walaupun Abian tidak melihat kedatangannya, Abian masih mengenal pelukannya. Apa mungkin Abian masih mencintainya? ataukah Abian masih menyimpan rasa untuk Dhafina?
Dhafina sama sekali tidak mendengarkan ucapan Abian, Dhafina malah semakin mempererat pelukannya di tubuh Abian.
" Fina, jangan sampai aku mengulangi perkataanku. " ucap Abian tegas.
" Tidak mau, aku merindukanmu Bi... aku sangat merindukanmu, hiks... " terdengar Dhafina mulai terisak menangis memeluk Abian.
Mendengar Dhafina terisak sambil memeluknya, entah kenapa hati Abian sedikit luluh dan merasa kasihan kepada Dhafina. Abian teringat akan semua laporan yang di berikan oleh Leo kepadanya, laporan lengkap tentang Devdas dan laporan secara rinci tentang semua kehidupan Dhafina.
__ADS_1
Semua kehidupan Dhafina sangat miris dan menyakitkan. Namun Abian berpikir, semua itu adalah ulah Dhafina sendiri. Yang menjerumuskan dirinya sendiri kedalam jurang kematian yang membuat hidupnya seketika hancur.
" Fina, aku bilang lepaskan tanganmu! " suara Abian mulai meninggi, emosi mulai kembali menguasai hati Abian.
" Tidak mau, aku merindukanmu Bi, sungguh aku merindukanmu, izinkan aku memelukmu sebentar saja. " ucap Dhafina lirih sambil terisak, terdiam sebentar tampa melepaskan pelukannya dari Abian.
" Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku Fina? kenapa kau melakukan ini? kau tau sendiri kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. " nada bicara Abian kembali seperti semula.
" Maafkan aku Bi... aku mohon maafkan aku. Aku tau aku salah, aku telah menyakitimu, aku telah meninggalkanmu dan menghianati cinta tulusmu padaku. Izinkan aku untuk meminta maaf dan menebus semua kesalahanku padamu. " ucap Dhafina lirih, terdengar suaranya sudah mulai kembali normal tidak terisak lagi.
" Aku sudah dari dulu memaafkanmu Fina, jadi aku minta lepaskan tanganmu sekarang. " ucap Abian masih dengan wajah dinginnya.
" Apa kau membenciku Bi? "
Kata-kata yang keluar dari bibir Dhafina sudah seperti seorang wanita yang sedang putus asa.
" Tidak. " menjawab singkat.
Bagaimana mungkin aku bisa membencimu Fina. Sampai sekarangpun aku tidak bisa membencimu. Karna walau bagaimanapun, kau adalah wanita pertama yang aku cintai.
Begitulah yang dirasakan Abian saat ini. Beberapa tahun yang lalu, Abian memang masih menyimpan rasa cinta untuk Dhafina. Tapi setelah dirinya bertemu dengan Aisyah, seorang wanita yang mampu memikat hatinya walau hanya dengan segala kesederhanaan yang Aisyah miliki.
Saat itu pula, nama Dhafina mulai memudar di hati Abian. Dan sudah tergantikan dengan nama Aisyah yang kini sudah menjadi istrinya, wanita yang sangat dia cintai dan lindungi.
" Lalu kenapa sampai saat ini kau begitu acuh padaku Bi, kau bilang kau tidak membenciku. Apa mungkin cintamu masih sama seperti dulu? apa namaku masih ada di hatimu Bi? aku percaya, kau masih Abian yang aku kenal dulu 'kan? " Dhafina seolah masih berjuang mendapatkan Abian dengan kata-kata manisnya. Masih memeluk erat Abian.
" Apa kau sangat percaya diri? sampai mengira namamu masih ada di hatiku. "
Ucapan Abian sudah seperti pisau dapur yang tajam, seolah menusuk di hati Dhafina. Membuat Dhafina perlahan melepaskan pelukannya di tubuh Abian.
Merasakan Dhafina sudah melepaskan pelukannya, Abian berbalik menatap dhafina masih dengan raut wajah dinginnya.
" Bi... aku percaya, kau belum berubah. Kau masih Abian yang ku kenal dulu 'kan? " ucap Dhafina lirih.
" Tidak. Aku sudah berubah, aku sudah bukan Abian yang kau kenal dulu. Bahkan sekarang, aku sudah menikahi wanita yang sangat aku cintai, menjadikannya istriku, menjadikannya wanita yang akan selalu aku lindungi dan mendampingi hidupku. " Abian menjelaskan masih dengan raut wajah dinginnya.
Perkataan Abian seolah membuat kepercayaan diri Dhafina hancur seketika. Namun Dhafina merasa belum menyerah, Dhafina berpikir untuk terus memperjuangkan Abian dan berharap memiliki kesempatan untuk mendapatkan Abian kembali.
__ADS_1
" Abian. " Dhafina semakin mendekat, memegang tangan Abian. " Berhentilah mejadikan pernikahanmu sebagai sebuah alasan, aku mohon. Aku tau kau tidak mencintai Aisyah, aku tau kalian itu menikah karna di jodohkan dan tidak saling mencintai bukan? " ucap Dhafina.
Abian terdiam sebentar mencerna perkataan yang keluar dari bibir Dhafina. Bagai mana Dhafina bisa tau tentang Aisyah dan dirinya yang di jodohkan?
" Abian, aku tau kau masih mencintaiku bukan? aku tidak perduli dengan pernikahanmu dengan Aisyah. Aku mohon, beri aku kesempatan kedua, aku sungguh mencintaimu Bi. Aku rela menjadi wanita simpananmu atau mungkin menjadi istri keduamu. Asal kau mau memberikanku kesempatan untuk meminta maaf padamu dan mengizinkanku untuk mendapatkan cintamu kembali. " ucap Dhafina masih terus berjuang sambil memegang tangan Abian dengan erat.
" Hahaha... " Abian malah tertawa di depan Dhafina " Apa kau tidak tau malu fina? dulu kau meninggalkan diriku karna kau bilang aku hanyalah orang miskin, dan kau sendiri yang bilang, bahwa kau sudah mendapatkan laki-laki yang jauh melebihi diriku. Lalu sekarang, apa ini? kau berusaha mendekati diriku lagi, setelah kau tau siapa diriku sesungguhnya. Sungguh menjijikan. " Abian melepaskan tangannya yang sempat di pegang Dhafina, masih dengan wajah dinginnya.
Glek.. Dhafina menelan ludahnya kasar. Nyali Dhafina menciut mendengar perkataan yang keluar dari bibir Abian yang memang benar adanya. Perkataan Abian seolah memojokan dirinya dan membuat dirinya seolah tidak berkutik. Namun Dhafina berusaha kembali mengendalikan dirinya. Mencoba mengubah strategi untuk mendapatkan Abian kembali.
" Bukankah aku tadi sudah meminta maaf Bi. " ucap Dhafina lirih.
" Aku bukan laki-laki bodoh yang bisa kau tipu Fina. Perkataan maafmu itu sangat terlihat jelas tidak tulus. Jadi, jangan pernah mencoba menipuku lagi Fina. " ucap Abian tegas.
Sial! Abian sudah mengetahuinya, persetan dengan nantinya, apakah Abian akan marah padaku atau tidak. Aku harus mendapatkan Abian malam ini juga.
Tampa permisi, Dhafina langsung mencium bibir Abian, bermain sedikit lama di sana. Mengalungkan kedua tangannya di pundak Abian, mencoba mengingatkan Abian akan kenangan lama bersama dirinya.
Sementara Abian, hanya diam mematung tampa perlawanan dan juga tidak berniat meladeni ciuman Dhafina, bahkan bibir Abian masih terus bungkam. Abian berpikir, membiarkan aksi Dhafina untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya Abian benar-benar membenci Dhafina dan menjauhinya.
Dhafina melepaskan ciumannya dari bibir Abian, menatap Abian dalam dengan jarak yang sangat dekat.
" Apa kau sudah puas melakukannya? "
Abian menatap tajam Dhafina dan melepaskan tangan Dhafina yang sempat melingkar di pundaknya. Abian mengambil sapu tangan dari saku jasnya dan menggunakan sapu tangan itu untuk mengusap bibirnya yang sempat di cium Dhafina tadi, lalu membuang sapu tangan itu.
" Kau sungguh menjijikan Fina, dengan kau melakukan itu padaku. Kau sudah menunjukan seberapa rendahnya dirimu. " ucap Abian tegas lalu pergi meninggalkan Dhafina yang masih berdiri mematung.
Dhafina hanya berdiri mematung menatap kepergian Abian yang sudah menjauh meninggalkan dirinya. Dhafina sama sekali tidak menyangka, ternyata seorang Abian sudah benar-benar berubah. Bahkan sudah tidak tertarik lagi dengan dirinya.
Dan tampa mereka sadari, dari tadi ada seseorang yang memperhatikan semua adegan yang mereka lakukan dari kejauhan. Seseorang itu tidak lain adalah Aisyah.
Saat masih berada di dalam pesta, Bagas menyuruh Aisyah mencari Abian untuk dia pertemukan dengan salasatu sahabat lamanya. Alangkah terkejutnya Aisyah, saat melihat Abian di peluk oleh Dhafina bahkan sampai mereka berciuman.
Dan yang paling membuat Aisyah merasa sakit adalah ketika Dhafina mencium Abian, Abian sama sekali tidak melarang atau menolak Dhafina yang menciumnya. Membuat Aisyah berpikir, mungkin Abian suaminya itu masih mencintai Dhafina, wanita yang pernah singgah di hatinya.
Tampa terasa air mata Aisyah menetes menahan sakit dan sesak yang bergejolak di hatinya. Wanita mana yang tidak akan sakit, melihat suami yang dia cintai melakukan itu dengan mantan kekasihnya.
__ADS_1