
Pagi ini, karna sudah sangat terbiasa dengan rutinitasnya itu, seperti biasa Alarm alam membangunkan Aisyah dari tidur lelapnya. Membangunkan Aisyah, untuk menjalankan kewajiban nya melaksanakan sala satu solat pardu yang lima waktu, yaitu solat pardu subuh dua rokaat.
Aisyah menggeliat, menggerakan tubuhnya dari rasa pegal yang dirasakan nya. Sambil sesekali menguap merasakan kantuk yang masih menderanya.
Aisyah membalikan badan nya ke arah samping. Menatap wajah suaminya yang masih tertidur lelap dengan posisi menyamping ke arahnya, dengan rambutnya yang masih acak-acakan.
Aisyah terkekeh, menatap wajah tampan yang sedang tertidur bersamanya. Di atas ranjang yang sama dan berselimutkan selimut yang sama dengan nya.
" Aku mencintaimu karna Alloh a. " Aisyah berucap pelan sambil terkekeh, tangan nya mulai mengelus wajah tampan suaminya itu.
" Aku sama sekali tidak tau, seperti apa kehidupan mu di masa lalumu yang sesungguhnya. Jika kau mengijinkan, aku ingin sekali mengenalmu lebih dalam lagi. " Aisyah masih bergumam dengan nada suara pelan dan mengelus wajah Abian lembut.
Tak lama, Abian pun menggerakan tubuhnya pelan, mengerjapkan mata dan tersenyum. Menatap wajah istrinya yang sudah menyambutnya di pagi hari.
" Emm... kenapa selalu kamu yang bangun duluan sayang? " Abian mendekatkan tubuhnya, memeluk Aisyah erat.
Aisyah terkekeh " Nanti, kalau aa sudah terbiasa dengan rutinitas aa untuk solat subuh. Aa juga pasti akan terbangun dengan sendirinya. Awalnya aku juga masih tergantung sama Alarm, tapi setelah lama, aku mulai terbiasa bangun sendiri." Aisyah menjelaskan.
" Oh.. gitu. Kamu tau sayang? Sekarang aa juga memiliki kebiasaan baru. " ucap Abian masih memeluk tubuh Aisyah di bawah selimut.
" Apa? "
Tanya Aisyah masih di dalam pelukan hangat suaminya.
Abian menyeringai. Seketika, dalam waktu sepersekian detik saja, Abian langsung membalik tubuhnya yang masih memeluk Aisyah. Menjadi Aisyah di bawah kungkungan tubuhnya.
" Kamu tau kebiasaan baru aa apa? " Abian menatap wajah Aisyah dekat.
" Apa? " Aisyah semakin penasaran.
" Ini. "
Ucap Abian, sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah cantik Aisyah. Mencium kening, kedua pipi, kedua mata dan yang paling Abian sukai adalah, di bagian bibir mungil Aisyah.
Bagi Abian, itu adalah Morning Kiss, dan hampir setiap pagi, saat Abian terbangun dirinya selalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Aisyah.
Seiring berjalan nya waktu, Aisyah mulai terbiasa dengan ciuman Yang di lakukan Abian padanya. Seperti dirinya yang sudah terbiasa menggunakan baju tidur kekurangan bahan dan berbahan tipis seperti yang di inginkan Abian, dan tentunya tampa menggunakan pakean dalam juga. Aisyah pun hanya tersenyum, ikut menikmati ciuman yang di berikan Abian kepadanya.
Walaupun, setelah berbulan-bulan usia pernikahan nya dengan Abian, Aisyah masih belum berani melayani Abian di atas ranjang. Tapi Aisyah percaya, Abian akan sabar menunggunya, sampai dirinya benar-benar siap.
Setelah semua rutinitas Aisyah dan Abian terlaksana. Kini Aisyah sudah berada di kampus seperti biasa.
" Kaka ipar tunggu. "
Terdengar suara Selin dari kejauhan. Menghentikan langkahnya, Aisyah menengok ke arah belakang, dimana arah suara berasal.
Dan benar saja, Selin berlari mendekati Aisyah yang masih berdiri, yang tadi berniat untuk pergi ke dalam kelas.
" Pagi adik ipar." Aisyah tersenyum ramah.
" Pagi juga, kaka ipar. "
Mereka pun tersenyum, sambil berjalan bersama menuju kelas tempat mereka belajar.
" Gimana, lancar kencan sama ka Leo nya? " tanya Aisyah masih berjalan bersama Selin.
" Tentu dong, lancar banget. Semalam, setelah ka Leo nganterin aku pulang, di dalam mobil, ka Leo nyium kening aku. " ucap Selin tersenyum-senyum sendiri.
" Idihh.. yang lagi jatuh cinta. Cinta lama bersemi kembali nih... " goda Aisyah.
Selin dan Aisyah pun terkekeh bersama, sambil berjalan menuju kelas.
" Joko dan Jono gak keliatan, kemana ya mereka? biasanya, pagi-pagi begini Joko dan Jono udah ganggu kita. " ucap Aisyah celingukan.
" Udah kaka ipar, biarin aja. Palingan juga mereka udah di dalam kelas. " ucap Selin.
__ADS_1
" Oh.. Mungkin juga ya, eh.. Sel, boleh aku tanya sesuatu? " ucap Aisyah menatap Selin masih berjalan santai bersamanya.
" Apa? "
Selin menatap Aisyah sejenak, lalu kembali berjalan pelan.
" Kalau laki-laki suka mandi malam, itu apa? " tanya Aisyah dengan polosnya.
Seketika, Selin menghentikan langkahnya dan menatap Aisyah sambil tertawa. Selin tidak menyangka kalau kaka iparnya ini sungguh sangat polos.
" Memangnya kenapa? " tanya Selin masih tertawa.
" Aku heran, terkadang aku suka liat a Bian mandi malam. Tapi saat aku nanya, kenapa mandi malam? a Bian gak mau jawab, dia malah tersenyum. " ucap Aisyah menjelaskan.
Selin malah semakin tertawa sambil memegangi perutnya. Dengan pertanyaan Aisyah seperti itu, Selin sudah bisa menebak. Kalau Aisyah belum melayani kakanya Abian di atas ranjang.
Walaupun Selin sendiri belum pernah melakukan hubungan intim seperti orang dewasa. Tapi, dengan pergaulan yang di alami Selin di kota, Selin sudah tau. Apa yang di maksud dengan mandi malam yang di lakukan kakanya Abian.
Selin sudah bisa membayangkan, betapa sengsara kakanya Abian. Harus menahan hasratnya sebagai pria dewasa, dan menuntaskan napsu birahinya dengan bersolo atau dengan mandi air dingin di kamar mandi, karna istrinya Aisyah yang masih polos itu.
" Udah-udah, kita masuk kelas aja. Nanti kamu bisa tanyain lagi sama ka Bian. " ucap Selin menarik tangan Aisyah berjalan menuju kelas, sambil sesekali dirinya masih menahan tawa.
Dan saat sudah sampai di dalam kelas. Joko dan Jono juga sudah duduk santai di dalam kelas. Mereka pun saling menyapa dengan lambayan tangan.
Tak lama, Dosen pun datang mulai menjelaskan mata pelajarannya. Setelah beberapa lama, jam kuliah pun sudah selesai. Semua murid keluar dari kelas mereka masing-masing.
Begitu juga dengan Joko, Jono, Selin dan Aisyah. Mereka berjalan melewati anak tangga yang biasa mereka lalui untuk pulang atau masuk kelas.
" Selin cantik... hari ini makan siang sama bang Jono yah. " goda Jono yang berjalan di belakang Aisyah dan Selin sambil menuruni anak tangga.
" Aduhhh... mulai lagi nih.. " Ucap Aisyah tersenyum.
Aisyah ataupun Selin, sudah hapal betul dengan sikap Jono atau Joko yang suka bercanda atau menggoda mereka seperti saat ini.
" Akhhh...! "
Aisyah seketika terjatuh, membuat Joko, Jono maupun Selin berteriak kaget.
" Aisyah...! "
Teriak Joko, Jono dan Selin secara bersamaan. Mereka pun berjalan mendekati Aisyah.
" Aisyah, kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Selin panik, sambil memegangi tangan Aisyah, mencoba membantunya bangun dari lantai.
" Aku gak apa-apa, cuma kepeleset sedikit, lagian jatuhnya juga gak tinggi, cuma tiga tangga ke bawah aja. " Aisyah menjelaskan sambil menepuk-nepuk pakean nya yang sedikit kotor.
Saat Aisyah mencoba berdiri, Aisyah meringis kesakitan, merasakan rasa sakit yang teramat di pergelangan kakinya bagian kanan.
Repleks, Selin membantu memegangi tangan Aisyah, agar tidak terjatuh saat berdiri.
" Ya ampun, yayang Aisyah, abang Joko bantuin pegangin yah. " ucap Joko mendekati Aisyah berniat memegangi Aisyah.
Namun, seketika tangan Joko di pukul oleh Selin dengan melempar tatapan tajam ke arah Joko.
" Aw... sakit Sel, ko malah di pukul? " rengek Joko.
" Awas lo, kalau lo berani nyentuh Aisyah, gue aduin lo berdua sama ka Bian. " ancam Selin.
" Ikhhh... atut. " ucap Joko dan Jono secara bersamaan mengejek ancaman Selin.
Melihat mereka bertengkar, membuat Aisyah malah tertawa. Menurut Aisyah mereka sangatlah lucu.
" Udah ah, jangan bertengkar terus. Sel, tolong antar aku ke parkiran ya, Pak Mun pasti sudah menungguku di sana. Aku sulit berjalan, kayanya kaki aku terkilir. " ucap Aisyah menatap Selin.
" Ya udah, aku anter pulang. Nanti, kalau sudah sampai di rumah, aku akan menghubungi ka Bian. " ucap Selin.
__ADS_1
" Kita ikut dong, kita juga kan peduli sama Aisyah. " ucap Jono.
" Berisik lo, ya udah, kalau mau ikut, bawa tuh buku kaka ipar gue sama tasnya. Buat diri kalian berguna." ucap Selin sinis.
" Ala makkk.. yayang Selin, mulutmu itu selalu pedas setiap hari. " sindir Jono sambil tersenyum memegangi buku Aisyah, Sedangkan Joko ikut membantu membawa tas milik Aisyah.
Mereka pun berjalan menuju parkiran, untuk menemui Pak Mun yang pasti sudah menunggu. Selin pun membantu Aisyah berjalan sambil memegani tangan nya.
" Ya ampun, nona muda kenapa? " tanya Pak Mun berdiri cemas mendekati Aisyah, saat melihat Aisyah berjalan pincang mendekati parkiran dengan di bantu oleh Selin.
" Aku gak apa-apa Pak Mun, cuma kepeleset aja. " ucap Aisyah mencoba menenangkan kecemasan Pak Mun.
Aisyah pun masuk ke dalam mobil sambil di bantu oleh Selin. Begitu juga dengan Joko dan Jono.
Pak Mun kembali masuk ke dalam mobil, dan duduk di depan kemudi, dengan Joko yang duduk di samping kursi Pak Mun. Sedangkan Selin dan Aisyah duduk di kursi tengah dan Jono duduk di kursi belakang.
Untung saja, hari ini Pak Mun membawa mobil keluarga yang cukup besar dan mewah. Sehingga muat membawa beberapa orang sekaligus. Sedangkan mobil Selin, sudah ada yang mengurus, yaitu sala satu orang kepercayaan Bagas yang di utus untuk selalu mengawasi Selin.
Setelah perjalanan yang cukup lama. Kini mobil yang di kendarai Pak Mun sudah sampai di depan kediaman mewah yang di tempati Abian dan Aisyah.
Dengan sigap, Mbok Siti dan para pelayan menyambut kedatangan mereka. Apalagi Mbok Siti menerima laporan dari Pak Mun, kalau nona Aisyah cidra yang membuat Mbok Siti khawatir.
Aisyah pun di bantu Selin dan Mbok Siti berjalan menuju kamar, di ikuti Joko dan Jono yang membawakan buku dan tas milik Aisyah.
Dan di ikuti juga beberapa pelayan wanita dari arah belakang.
" Aduhh... sakit. "
Aisyah meringis saat dirinya mencoba duduk bersandar di atas ranjang dengan kakinya yang berada di atas ranjang.
Mbok Siti membantu Aisyah melepaskan sepatu yang dia gunakan. Alangkah terkejutnya Mbok Siti, saat melihat pergelangan kaki Aisyah yang sudah membengkak dan berwarna kebiruan.
Sedangkan Selin, Joko dan Jono duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
" Ala makkk... jiwa miskwin gue meronta-ronta." ucap Joko yang terkagum-kagum melihat kamar mewah tersebut.
" Lo bener Jok, ini mah seribu kali lipat dari kamar gue, begitu besar dan mewah. " tambah Jono celingukan menatap interior kamar tersebut.
Sementara Selin. Hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum duduk di sofa memperhatikan tingkah konyol kedua teman nya itu.
" Ya ampun, nona. Kaki nona sampai biru seperti ini. " ucap Mbok Siti sambil memegangi kaki Aisyah.
" Iya Mbok, sakit banget. " ucap Aisyah.
Mbok Siti pun berdiri, merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi nomer Abian.
" Halo.. Tuan muda. "
" Ada apa Mbok? " tanya Abian dari sebrang telpon.
" Nona muda celaka tuan, kakinya cidra. Sekarang sudah ada di rumah. " Mbok Siti menjelaskan.
" Apah? " teriak Abian dengan kencang.
Membuat Mbok Siti sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Sambungan telpon itu pun langsung terputus.
Sementara itu Mbok Siti duduk kembali di samping Aisyah, sambil menghembuskan napasnya kasar.
Mbok Siti sudah menduga, kalau setelah nanti sampai di rumah Abian pasti akan marah besar karna kejadian yang menimpa Aisyah. Sementara Selin, Joko dan Jono hanya menatap Mbok Siti keheranan.
*
*
*
__ADS_1