CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Pertemuan kembali dan kenyataan tentang Devdas.


__ADS_3

Hari ini mentari cerah menyinari bumi. Secerah hati Aisyah yang merasa gembira, karna hari ini dirinya mulai masuk kuliah lagi seperti hari-hari biasa yang dia jalani.


" Em... kamu cantik sayang," Abian memeluk erat Aisyah dari belakang.


Seperti biasa, Aisyah berdiri di depan meja riasnya. Merias dirinya dengan polesan makeup yang sederhana. Dan tak lupa, hijab yang selalu melingkar sempurna menutupi Auratnya.


" Udah siang, kita ke bawah sekarang. Sarapan dulu, lalu antar aku ke kampus seperti biasa." Aisyah tersenyum menatap Abian yang masih memeluknya.


Aisyah dan Abian pun turun ke lantai bawah untuk sarapan. Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat bersama Leo dan Pak Mun. Begitu juga Mbok Siti dan beberapa pelayan wanita yang mengantar kepergian tuan muda dan nona mudanya ke depan rumah.


Setelah perjalanan yang cukup lama, Abian dan Aisyah pun sampai di parkiran depan universitas tempat Aisyah dan Selin kuliah.


" Ya udah, aku keluar dulu, udah nyampe a. " Aisyah menyalami tangan suaminya Abian.


Saat Aisyah mau keluar, Abian menarik tangan Aisyah dan mencium bibir mungil istrinya yang sudah menjadi candunya itu.


Tok... Tok... suara kaca mobil yang di ketuk. Dan ternyata Selin sudah berdiri di dekat kaca mobil. Membuat Abian mendengus kesal karna kesenangan nya terganggu oleh adiknya sendiri.


" Haduh... kalau mau ciuman di rumah aja ka. " sindir Selin dari luar.


Abian memencet tombol, menurunkan kaca mobil. " Dasar adik durhaka, ganggu aja. " gerutu Abian menatap tajam Selin yang masih berdiri menunggu di luar mobil.


Leo dan Pak Mun hanya tersenyum kecil mendengar perdebatan adik kaka tersebut. Aisyah pun keluar dari dalam mobil menghampiri Selin. Leo yang duduk di kursi depan menurunkan kaca mobil dan tersenyum menatap Selin. Selin pun tersenyum tersipu malu.


" Heh... jalan! mau sampe kapan lo tatap adik gue? " gerutu Abian dari kursi belakang sengaja menjahili Leo.


" Brisik lo! " Leo tak mau kalah.


Akhirnya Pak Mun melajukan mobilnya kembali, Abian melambaikan tangan kepada Aisyah dan tersenyum penuh kemenangan menatap adiknya Selin. Abian merasa senang karna telah berhasil mengganggu kedekatan adiknya Selin dan Leo.


" Ikhhh... awas kau ka Abian. Dasar jelek. "


Teriak Selin meledek, yang masih bisa terdengar jelas di telinga Abian. Abian pun tersenyum, sambil duduk santai bersandar di dalam mobil.


" Udah ah Sel, kita masuk aja. " Aisyah merangkul tangan Selin sambil tersenyum.


" Aku gak ngerti sama kamu kaka ipar. Kamu ko betah punya suami kaya kakaku yang jahil itu. " ucap Selin sambil berjalan bersama Aisyah.


Aisyah pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Selin, Selin yang masih dengan wajah marahnya, karna kaka nya Abian yang menyebalkan menurut nya.


" Aisyahhhh.... "


Teriak seseorang dari kejauhan yang ternyata adalah Joko dan Jono yang berlari menghampiri Aisyah dan Selin.


" Aku kangen kamu Aisyah. " Joko berjalan mendekati Aisyah, merentangkan tangan seperti ingin memeluk Aisyah.


Selin yang melihat itu langsung memukul kepala Joko dengan keras. Membuat Joko mengurungkan niatnya untuk memeluk Aisyah.


" Aduh... sakit Selin sayang. Kenapa kepala Abang di pukul? " Joko mencoba melucu.


" Cih... abang dari hongkong. " cibir Selin sambil berjalan dengan Aisyah menuju kelas.


Aisyah dan Jono hanya tersenyum melihat perdebatan Selin dan Joko.


" Sabar Jok. " Jono menepuk pundak Joko sambil tersenyum merangkulnya dan berjalan menuju kelas yang sama dengan Aisyah dan Selin.

__ADS_1


Merekapun Akhirnya sampai di dalam kelas dan duduk di kursi mereka masing-masing. Selin dan Aisyah selalu duduk di kursi depan. Dan di belakang mereka atau di samping mereka selalu di ikuti Jono dan Joko.


Bel masuk pun terdengar, dan tak lama dosen pun masuk ke dalam kelas.


" Anak-anak mohon perhatian nya. " ucap dosen tersebut.


" Hari ini kita kedatangan guru baru yang akan mengajar di kelas ini. Beliau akan mengajar Seni dan Budaya. " dosen itu menjelaskan.


" Baiklah, kita langsung panggil saja. Silahkan masuk. " ucap dosen tersebut.


Saat dosen baru tersebut masuk, semua mata langsung tertuju menatap ketampanan dosen tersebut. Membuat beberapa wanita yang ada di kelas tersebut langsung berbisik memuji karisma dan ketampanan dosen baru tersebut.


Aisyah tampak sedikit terkejut melihat dosen baru tersebut. Seseorang yang pernah dia temui di kantor suaminya Abian.Sedangkan Selin yang melihat itupun tampak biasa saja.


" Halo semuanya, apa kabar? perkenalkan nama saya Devdas. Mulai hari ini saya yang akan mengajar di kelas ini. " dosen baru itu memperkenalkan diri yang ternyata adalah seorang Devdas raharjo.


" Baiklah pak Devdas saya pergi dulu. Semoga lancar di hari pertama mengajar. " ucap dosen tersebut berpamitan dan keluar dari kelas tersebut. Dan mendapat anggukan dan senyuman dari Devdas.


Setelah kepergian dosen tersebut. Devdas sekilas menatap Aisyah yang sedang tersenyum dan berbincang dengan Selin yang duduk di sampingnya. Devdas tersenyum menatap Aisyah, yang terkesan cuek dengan kedatangan nya menjadi guru baru yang mengajar di kelas tersebut.


Berbeda dengan murid wanita yang lain. Terus saja berbisik dan tersenyum ke arah Devdas, seolah menunjukan ketertarikan mereka kepada Devdas.


Kau memang tidak berubah Aisyah. Kau masih tetap seperti dulu, kau selalu bisa membuatku tertarik dengan segala kesederhanaan mu itu.


Devdas tersenyum dan memulai menjelaskan mata pelajaran yang di bawakan nya. Sampai akhirnya bel istirahat pun terdengar. Semua murid mulai keluar dari kelas untuk istirahat.


Begitu juga dengan Joko, Jono, Selin dan Aisyah. Mereka berempat berjalan bersama sambil tersenyum dan bercanda bersama, mereka berniat untuk ke kantin bersama seperti biasa.


" Aisyah, bisa tunggu sebentar? " Devdas memanggil Aisyah.


" Hai, apa kabar? kita bertemu lagi. " Devdas menyapa Aisyah.


" Kamu kenal dia Sya? " tanya Selin sedikit keheranan.


" Ka devdas ini teman kaka kamu a Bian. Waktu itu aku juga ketemu ka Devdas di kantor. Bersama ka Leo dan ka Kalandra juga. " Aisyah menatap Selin menjelaskan.


" Oh... gitu. " ucap Selin.


" Kamu Selin Adiknya Abian 'kan? waktu dulu aku masih bersama kakamu, aku rasa kamu belum lahir, itu sebabnya kamu tidak mengenal saya. " Devdas tersenyum ramah menjelaskan. Joko, Jono, Selin dan Aisyah pun mengangguk mengerti.


" Kalian mau kemana? apa bisa aku ikut dengan kalian? aku belum terlalu mengenal orang lain di sini. Mungkin bisa di bilang aku hanya mengenal Aisyah saja, jadi, bisakah aku berteman dengan kalian? " ucap Devdas tersenyum ramah.


" Tentu bisa pak guru, kami akan senang jika pak guru mau berteman dengan kami. " ucap Joko.


" Jangan panggil saya pak, panggil saja saya kaka. Saya rasa saya tidak setua itu. " ucap Devdas tersenyum ramah.


" Baiklah ka... Devdas. " ucap Jono tersenyum sedikit canggung.


Dan di balas senyuman ramah oleh Devdas, yang akhirnya membuat mereka tersenyum bersama.


" Kami mau ke kantin kampus ka, kalau kaka mau ikut bersama kami, kita bisa bareng sekalian. " Aisyah menawarkan dengan ramah.


" Em... kalian duluan saja, saya mau menyimpan buku dulu ke ruangan saya. Nanti saya akan menyusul. " ucap Devdas tersenyum ramah.


" Oh... ya sudah kami duluan ya ka. " ucap Aisyah.

__ADS_1


Mereka berempat pun akhirnya pergi meninggalkan Devdas menuju kantin kampus. Melihat Aisyah dan teman-teman nya pergi, Devdas masih berdiri sambil tersenyum penuh kemenangan karna langkah awalnya sudah berhasil.


Akhirnya langkah pertama ku sudah berhasil. Aku pastikan, kalau aku akan mendapatkan mu Aisyah, aku akan mendekatimu, berteman dengan mu dan juga teman-teman mu yang lain. Sampai akhirnya aku akan semakin dekat dengan mu Aisyah.


Devdas berjalan melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadinya sebagai sala satu dosen di universitas tersebut. Devdas kembali memperlihatkan wajah ramahnya di hadapan orang lain.


* * *


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di ruangan pribadi Abian. Leo duduk di kursi di hadapan meja pribadi Abian dan memberikan sebuah berkas kepada Abian.


" Bacalah. Baca dengan teliti, aku rasa kau akan sangat terjejut melihat laporan ini. Ini semua adalah laporan yang kita dapatkan dari orang-orang kepercayaan kita. " ucap Leo.


Abian yang sedang pokus menatap layar leptopnya, akhirnya beralih menatap berkas laporan yang di berikan oleh Leo.


Abian mengambil berkas itu dan mulai membaca semua laporan yang ada di dalam berkas tersebut dengan teliti. Mata Abian mulai menajam, wajahnya mulai nampak serius membaca laporan tersebut.


" Brak. "


Abian melempar berkas laporan tersebut ke atas meja. Abian berdiri dari duduknya, berjalan ke arah jendela kaca gedung tinggi tersebut. Tangan Abian mengepal sempurna, dengan amarah yang berkecamuk di hatinya.


Abian berdiri di depan kaca tersebut, melihat pemandangan kota yang terlihat jelas dari lantai tertinggi tempat iya berpijak sekarang. Karna ruangan seorang Ceo berada di lantai paling tinggi gedung tersebut.


Abian masih berdiri terdiam menatap pemandangan di luar, sambil menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.


" Apa yang harus kita lakukan sekarang Bi? " tanya Leo.


" Apa papah Bagas sudah tau tentang semua ini? " Abian bertanya tampa menoleh, pandangan nya masih lurus ke depan.


" Ya. Sebelum aku ke sini, tadi aku ke ruangan papah Bagas dulu. Papah Bagas bilang kita tidak boleh gegabah menghadapi Devdas, bisa saja Devdas masih menyimpan dendam kepadamu. Karna kejadian waktu dulu ayahnya Devdas meninggal di depan gedung ini. " ucap Leo.


Abian berbalik menatap Leo. " Aku tidak tau, sebenarnya apa yang di inginkan Devdas? kenapa dia sampai menjadi sala satu dosen di tempat Aisyah dan Selin kuliah. Jika Devdas ingin menghancurkan aku, mungkin sekarang dia sudah mulai menyerang perusahaan pratama. Apalagi dengan kekuasaan nya yang bisa di bilang cukup lumayan untuk bisa menyerang kita. Tapi dia tidak melakukan itu, apa yang sebenarnya Dev incar? " Abian masih berdiri menatap Leo.


" Kau benar. Kenyataan tentang Devdas yang bersekutu dengan dunia gelap, dan kekuasaan yang dia miliki sekarang, bisa di bilang lumayan untuk menjadi lawan perusahaan Pratama Group. Tapi Dev masih terlihat santai dengan pekerjaan nya yang berkedok seorang pengusaha tampan dan sukses. Padahal di balik kesuksesan nya itu, Devdas bersekutu dengan dunia gelap, barang terlarang, prostitusi, bahkan penjualan wanita yang masih perawan." ucap Leo.


Abian berjalan melangkahkan kakinya, dan kembali duduk di kursi kebesaran nya. Abian membuang napasnya kasar, menyandarkan kepalanya ke belakang, sambil menutup kedua matannya.


Rasa bersalah atas kematian ayahnya Devdas, kembali di rasakan Abian di hatinya. Bayang-bayang kejadian kematian ayahnya Devdas kembali terlihat jelas di pikiran nya.


Sesak, itulah yang Abian rasakan saat ini. Apalagi kenyataan tentang Devdas yang bersekutu dengan dunia gelap, membuat hatinya semakin sesak dan pengap.


Walau bagai manapun seorang Abian dengan sikap arogan dan sikap dingin nya itu. Abian masih tetap menganggap Devdas sahabat kecil yang dulu selalu menemaninya bermain dan tertawa bersama.


" Bi. Apa yang harus kita lakukan sekarang? " Leo menatap Abian yang masih memejamkan mata.


" Kita lakukan saja seperti apa yang di ucapkan papah. Kita ikuti saja alur yang di buat oleh Dev, selama dia tidak menyakiti orang-orang terdekat kita. " Abian kembali membenarkan posisi duduknya dan menatap Leo dengan wajah seriusnya.


" Tapi, kita harus tetap waspada dan tingkatkan keamanan untuk Aisyah dan Selin secara diam-diam. Jangan sampai ada orang yang tau, bahkan jangan biarkan Devdas mengetahui gerakan kita. " ucap Abian dengan wajah dingin dan tatapan tegasnya.


" Baiklah, aku akan lakukan. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu. " Leo berdiri dan sedikit membungkukan badan, berpamitan untuk kembali ke ruangan nya.


Setelah kepergian Leo, Abian kembali menyandarkan kepalanya ke belakang. Seolah masih tidak percaya dengan berkas laporan dan beberapa poto, bukti nyata tentang Devdas yang di berikan Leo kepadanya.


Dev. Apakah kau masih membenciku dengan kejadian kita di masa lalu? Apakah kau benar-benar menaruh dendam padaku? Maafkan aku Dev, apapun yang terjadi kau tetap sahabat kecilku sampai sekarang.


Abian berkata lirih di dalam hatinya. Bersandar ke belakang memejamkan mata, berharap semua adalah mimpi. Tapi kenyataan nya, semua itu bukanlah mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang harus Abian terima dan percayai.

__ADS_1


__ADS_2