
Leo baru saja Menerima laporan dari salasatu orang kepercayaannya lewat ponsel Leo yang satunya lagi. Leo memegang handle pintu, lalu kembali masuk ke dalam ruangan Abian.
" Abian. Devdas sudah kembali ke apartemen pribadinya, baru saja orang kepercayaan kita melaporkannya. "
Leo berdiri di depan sofa menjelaskan, sementara Abian sedang duduk di sofa, menjatuhkan kepalanya ke belakang sambil memejamkan mata.
" Lalu istriku? " tanya Abian masih memejamkan mata.
" Aisyah sekarang sedang ada di apartemen ayahnya, om Agus."
" Oh... terus perketat penjagaan untuk Aisyah atau pun keluarga yang lain." Abian membenarkan posisi duduknya menatap Leo yang masih berdiri di hadapannya. " Dan untuk nanti malam, siapkan orang-orang kepercayaan kita. Aku ingin mengunjungi sahabat lamaku. "
Abian tersenyum menyeringai, berdiri dari duduknya, lalu pergi kedalam ruangan istirahatnya, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Yaitu melaksanakan solat pardu magrib tiga rokaat, karna memang waktu sudah menunjukan masuk waktu magrib.
Abian memang masih berhutang penjelasan kepada istrinya Aisyah. Namun, Abian berpikir untuk lebih dulu mengurus masalahnya dengan Devdas.
Saat Leo mendengar ucapan Abian yang sekaligus sebagai perintah untuknya, Leo langsung menghubungi orang-orang kepercayaannya. Agar melakukan segala persiapan untuk nanti malam. Untuk berjaga-jaga, Leo juga menghubungi sala satu kolega bisnis pratama, pemilik dari apartemen tempat Devdas tinggal.
Menjelaskan kalau Leo dan Abian akan berkunjung malam ini ke gedung apartemen tersebut. Tentu saja sang pemilik apartemen mengijinkan apapun yang akan di lakukan Leo dan Abian di gedung apartemen miliknya itu.
Karna sang pemilik gedung sangat tau, siapa Abian pratama sesungguhnya. Dan sebagai sala satu perusahaan yang bernaung di bawah perusahaan pratama, pemilik gedung apartemen itu sama sekali tidak mau mencari masalah apapun dengan keluarga pratama.
Saat malam sudah tiba tepat pukul 21.00 wib, Abian berjalan keluar dari kantor, masuk ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di depan kantor.
Tiga mobil melaju menuju apartemen tempat tinggal Devdas. Dari depan satu mobil berisikan para pengawal kepercayaan Abian. Di tengah, mobil yang di tumpangi, Leo, Abian dan satu pengawal yang menjadi supir. Dan di belakang, satu mobil lagi berisikan para pengawal kepercayaan Abian juga.
Saat sudah sampai di gedung apartemen tersebut. Abian langsung naik ke lantai tempat unit apartemen Devdas berada. Begitu juga beberapa pengawal Abian yang ikut naik lift bersamanya, dan sebagian pengawal lain naik ke dalam lift yang di sebelahnya lagi, yang kebetulan sedang kosong.
Saat sampai di lantai tempat unit apartemen Devdas berada, beberapa pengawal Abian dengan sigap berjalan di depan Abian dan sebagian lagi berjalan di belakang Abian dan Leo. Terlihat ada sekitar empat orang laki-laki yang berpakian rapih sedang berjaga di depan pintu apartemen Devdas.
Entah mereka hanya berjaga biasa, atau mungkin Devdas sudah mengetahui kedatangan Abian. Para pengawal Abian yang berjalan di depan, dengan sigap langsung melumpuhkan ke empat laki-laki yang sedang berjaga di depan pintu, mengikat tubuh mereka, dan membuat mereka tidak berkutik.
Pengawal Abian yang lain dengan sigap menekan bel yang ada di depan pintu apartemen tersebut. Saat ada yang membuka pintu, pengawal Abian langsung masuk melumpuhkan penjaga yang baru saja membuka pintu.
Begitu juga saat berada di dalam apartemen, para pengawal kepercayaan Abian langsung menaklukan beberapa pengawal Devdas yang ada di dalam. Semua pengawal Devdas berhasil di taklukan oleh pengawal kepercayaan Abian yang lumayan banyak jika di bandingkan dengan pengawal Devdas.
Sementara Devdas, hanya duduk santai di atas sofa sambil menatap layar ponselnya, membiarkan para pengawal Abian melakukan apapun yang mereka inginkan.
Saat semua pengawal Devdas berhasil di taklukan. Abian masuk ke dalam bersama Leo dan berjalan mendekati Devdas yang sedang duduk santai di sofa. Berdiri di dekat Devdas, menatap Devdas dengan wajah dinginnya.
Devdas tersenyum menatap Abian, berdiri dari duduknya, berjalan mendekat menghampiri Abian.
" Halo temanku... akhirnya kau berkunjung juga menemui sahabat lamamu ini. " Devdas tersenyum ramah, merentangkan kedua tangannya berniat menyambut Abian dengan sebuah pelukan. Dan...
Buk...
__ADS_1
Satu pukulan keras dari Abian mendarat di wajah Devdas. Membuat Devdas jatuh ke lantai dan ujung bibirnya langsung mengeluarkan darah segar.
Devdas berdiri dan tersenyum menatap Abian.
" Apa ini hadiah kunjunganmu yang kau berikan untuk sahabatmu ini Bi? " Devdas masih tersenyum, berdiri memandang Abian.
Abian mendekati Devdas dan langsung mencengkram kerah kemeja yang Devdas gunakan. Menatap Devdas dengan tatapan dinginnya.
" Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku Dev? beraninya kau mulai mendekati istriku. " Abian masih dengan wajah dinginnya dan tatapan matanya yang tajam menatap Devdas.
" Kau ingin tau? lepaskan dulu tanganmu dariku. " tatapan Devdas yang tadinya tersenyum, kini berubah dingin dengan tatapan mata yang sama tajamnya seperti Abian.
Saat Abian melepaskan tangannya dari kemeja Devdas. Tiba-tiba saja Devdas membalas Abian dengan melayangkan pukulan keras di wajahnya. membuat Abian tersungkur ke lantai dan mengeluarkan darah segar di ujung bibirnya. Sama seperti yang di lakukan Abian kepada Devdas.
Para pengawal Abian langsung bergerak, berniat ingin membantu. Namun, tangan Leo yang terangkat, mengisyaratkan kalau mereka tidak boleh ikut campur akan urusan dua rival sejati yang memiliki masalah pribadi itu.
Kini Leo dan Abian memiliki luka yang sama di bagian wajah. Berdiri berhadapan saling tatap dengan ekspresi wajah mereka yang dingin dan tatapan mata yang sama tajam.
Abian mulai kembali melangkah mendekati Devdas, mencengkram kerah baju Devdas dan kembali melayangkan pukulan di wajah Devdas membuat Devdas terpental ke sofa. Abian mendorong Devdas sambil kembali melayangkan beberapa pukulan keras di wajah Devdas.
Devdas juga tidak tinggal diam, Devdas menendang tubuh Abian sekuat tenaga sampai tubuh Abian terpental ke lantai. Dengan wajah yang sudah sedikit babak belur, Devdas berjalan ke arah Abian, menindih tubuh Abian dan melakukan hal yang sama seperti Abian. Memberikan beberapa pukulan keras di wajah Abian, sama seperti Abian memukul dirinya.
Sementara Leo dan para pengawal hanya berdiri diam, menyaksikan dua singa jantan yang sedang berkelahi. Saling memukul dan saling menendang sesuka hati mereka, sampai membuat mereka terengah dan seluruh wajah dan tubuh mereka berdua babak belur.
Cukup lama Abian dan Devdas berbaring berdampingan di atas lantai, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah dan kembali mengatur napas mereka.
" Apa yang sebenarnya kau inginkan Dev? " Abian bertanya, memulai pembicaraan masih berbaring bersama Devdas di atas lantai.
Devdas tersenyum menyeringai." Aku menginginkan nyawamu, sebagai ganti nyawa ayahku yang sudah berkorban menyelamatkan hidupmu." ucap Devdas sinis, berbaring menatap langit-langit apartemen.
" Kalau begitu, jika memang itu yang kau inginkan dan bisa membuatmu benar-benar memaafkan diriku. Maka, bunuhlah aku sekarang juga, aku tidak akan melawan. " ucap Abian terdengar sedikit lirih seperti seorang laki-laki yang mengakui kesalahannya.
" Cih... dasar! mati terlalu mudah untukmu, kau harus menderita untuk menebus nyawa ayahku yang sudah menyelamatkan hidupmu."
" Apa kau benar-benar tidak ingin aku mati? Lain kali kau tidak akan mendapatkan kesempatan untuk membunuhku, kau hanya mendapatkan kesempatan sekarang untuk membunuhku. "
" Aku tidak ingin membunuhmu, aku hanya ingin membuatmu menderita. Sama seperti aku yang kehilangan orang yang aku cintai, kau juga harus merasakan kehilangan orang yang kau cintai." ucap Devdas sinis.
Abian terdiam sebentar, memandang langit-langit apartemen, mencoba mencerna apa yang di maksud oleh Devdas.
" Apa maksudmu? " nada suara Abian terdengar tegas.
" Kau sangat mencintai Aisyah bukan? bagai mana kalau aku bilang, aku juga menginginkan Aisyah istrimu dan ingin merebutnya darimu. " ucap Devdas tegas tersenyum menyeringai.
Abian yang mendengar pernyataan Devdas, langsung kembali emosi. Darahnya seolah memanas, pikirannya seolah kacau. Abian kembali bangkit menindih tubuh Devdas, dan mencengkram kerah baju Devdas, menatap Devdas dengan tatapan seolah ingin membunuh.
__ADS_1
" Apa yang kau katakan barusan, hah..? " Bentak Abian. Mencengkram baju Devdas dengan kencang.
" Menurutmu? " Dev tersenyum menyeringai. " Ya, aku menginginkan Aisyah istrimu, aku menyukai Aisyah dan aku mencintai Aisyah. Menurutmu, untuk apa aku datang ke negara ini? dan untuk apa, aku menjadi dosen di kampus tempat Aisyah kuliah? itu semua aku lakukan untuk mendekati Aisyah dan mendapatkan Aisyah. " ucap Devdas.
Abian terpancing emosi dan kembali melayangkan pukulan di wajah Devdas.
" Dasar kau! katakan yang sesungguhnya, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" bentak Abian mencengkram baju Devdas.
" Bukankah sudah aku katakan, aku menginginkan istrimu Abian pratama. " ucap Devdas tersenyum menyeringai.
" Brengsek... " teriak Abian sambil terus memukul wajah Devdas dengan brutal dan kasar, seolah Abian marah dan tidak terima kalau ternyata Devdas bukan mengincar harta atau kekuasaan di perusahaannya. Melainkan yang Devdas incar adalah istrinya sendiri yaitu Aisyah.
Melihat Abian di liputi amarah dan memukul Devdas dengan brutal. Leo langsung memegang Abian dengan erat, menarik dan menjauhkan Abian dari atas tubuh Devdas.
" Sudah tuan muda, hentikan! " Leo mencoba menyadarkan Abian yang masih berusaha mencoba mendekati Devdas untuk memukulnya.
" Minggir kau Leo, aku akan bunuh dia sekarang juga. Dia berani mengatakan menginginkan istriku. " ucap Abian dengan kasar, berdiri sambil berontak mencoba melewati Leo yang menghalanginya.
" Sadarlah tuan muda, lihat keadaan Devdas sekarang. Devdas sudah babak belur bersimbah darah karna kau pukuli terus menerus. Jangan sampai kau terpancing hasutan Devdas yang akhirnya membuat dirimu menjadi seorang pembunuh. Sadarlah tuan muda, ingat istrimu Aisyah yang sedang menunggumu. " Leo setengah berteriak mencoba menyadarkan Abian.
" Akhh...! " Abian berteriak memukul tembok melampiaskan amarahnya.
" Lebih baik sekarang kita pulang saja tuan muda." ucap Leo lalu menatap para pengawalnya." Kalian semua, lepaskan para pengawal Devdas yang kalian ikat. Dan setelah itu, kembalilah kerjakan pekerjaan kalian masing-masing." ucap Leo yang mendapat anggukan dari semua pengawal kepercayaannya.
Leo berjalan bersama Abian menuju lift dan keluar dari gedung tersebut. Masuk ke dalam mobil, melajukan mobil meninggalkan gedung apartemen tersebut.
" Apa kita akan langsung pulang ke rumah Bi? " tanya Leo, nada bicaranya kembali seperti biasa. Karna memang di dalam mobil hanya ada mereka berdua, dan saat ini Leo lah yang menjadi supir.
" Aku merindukan istriku. " ucap Abian menyandarkan tubuh dan kepalanya di kursi belakang sambil memejamkan mata, merasakan sakit dan pegal di sekujur tubuhnya.
" Baiklah, aku mengerti." ucap Leo sambil melajukan mobilnya menuju apartemen tempat dia tinggal.
Karna memang, selama ini Leo, Kalandra dan Agus ayahnya Aisyah tinggal di gedung apartemen yang sama, bahkan tinggal di lantai yang sama.
Setelah perjalanan yang cukup lama, Abian dan Leo sampai di gedung apartemen tempatnya tinggal. Leo dan Abian langsung masuk lift dan naik ke lantai tempat apartemen Agus, Kalandra dan Leo berada.
Abian dan Leo berdiri di depan pintu apartemen Agus. Memencet tombol bel berharap ada yang membukanya. Dan ternyata, Aguslah yang membuka pintu. Mereka pun langsung masuk ke dalam, dengan ekspresi wajah Agus yang keheranan menatap Abian yang terlihat kusut dan babak belur.
" Om.. di mana kamar nona Aisyah?" tanya Leo yang memang sudah tau Aisyah ada bersama Agus.
" Di... Di sana." tunjuk Agus masih kebingungan.
Tampa bicara, Abian langsung berjalan ke arah kamar tempat istrinya berada. Sedangkan Leo bersama Agus duduk di sofa, dan Leo menjelaskan semua kejadiannya dengan detil kepada Agus.
Abian masuk ke dalam kamar, mendekati Aisyah yang sudah tertidur lelap, karna memang waktu sudah menunjukan sekitar pukul 22.30 wib. Abian melepaskan jas dan dasi yang dia pakai, melemparnya sembarang arah lalu ikut masuk ke dalam selimut, dan tidur lelap memeluk Aisyah.
__ADS_1