
Masih di ruangan pribadinya. Malam ini Abian masih ada di kantor, karna pekerjaan yang sedikit menumpuk mengharuskan dirinya untuk lebur, padahal waktu sudah menunjukan pukul 19.30 wib.
" Kenapa kau terus berjalan mondar-mandir seperti itu? " Leo yang sedang duduk di sofa merasa heran melihat tingkah Abian.
" Si kalandra kemana sih? dari tadi belum juga datang. " Abian menggerutu sendiri, sambil terus berjalan mondar-mandir.
" Kau memanggil Kalandra ke sini? kapan? " tanya Leo semakin heran.
" Sudah dari tadi, tapi dia tidak muncul-muncul juga. Awas saja, kalau dia tidak muncul, akan aku pecat dia. " gerutu Abian masih berdiri.
" Buat apa kau memanggil Kalandra? "
" Aku memanggil Kalandra karna aku sakit. "
" Sakit apa? kau terlihat sehat begitu. " Leo menatap Abian heran.
" Diam! dasar berisik. Kau ini dari tadi bertanya terus, dari pada kau berisik gak ada kerjaan, lebih baik kau kerjakan semua berkas yang menumpuk itu." bentak Abian kepada Leo, menunjuk berkas yang menumpuk di atas meja pribadinya.
" Aih... baiklah pak presiden... kau memang rajanya. " gerutu Leo menyindir Abian, sambil berjalan lalu duduk di kursi kebesaran Abian, mulai membuka dan melihat satu-persatu berkas yang menumpuk.
" Dasar Dokter gadungan. Beraninya kau membuatku menunggu, awas kau, akan ku pecat kau. " teriak Abian mulai kesal menunggu.
" Lo gak akan pernah berani mecat gue, karna lo sendiri membutuhkan gue. " sindir Kalandra yang baru saja sampai di ruangan Abian.
" Dasar ! kenapa kau lama sekali? lo berani buat gue menunggu? " gerutu Abian menunjuk Kalandra yang sudah duduk di sofa.
" Sudah diam jarang berteriak, suaramu itu berisik sekali. Berbaring sana di sofa, gue akan meriksa lo, Lagian kau ini sakit apa? aku lihat kau ini baik-baik saja. " ucap Kalandra malas.
" Hey... aku ini sakit. Itu sebabnya aku menyuruhmu untuk memeriksaku. Dasar kau ini Dokter tidak berguna. " gerutu Abian sudah berbaring di atas sofa.
" Lagian aku heran, apa yang harus aku periksa darimu? kau ini terlihat sangat sehat dan baik. " ucap Kalandra duduk di samping Abian di sofa yang berbeda.
Kalandra hanya menatap Abian heran. Kalandra semakin kebingungan, apa yang harus dirinya periksa?
" Aku hanya akan mendengar keluhanmu tidak akan memeriksa orang yang sehat dan normal seperti dirimu. Cepat katakan, apa keluhanmu?" ucap Kalandra.
" Kau tau sendiri, sudah berhari-hari aku dan Aisyah belum baikan. Aku sudah berpuasa untuk beberapa hari dan beberapa malam, sampai aku harus mandi malam hanya untuk menidurkan senjataku ini. Sudah lama sejataku ini tidak di serpis, bisa-bisa nanti senjataku ini karatan lagi. Cepat periksa, aku takut karna terlalu lama berpuasa nanti senjataku ini tidak bisa hidup lagi. " ucap Abian menjelaskan.
" Apa? apa kau sudah tidak waras? kau menyuruhku memeriksa hal konyol seperti itu." bentak Kalandra, Sementara Leo yang mendengar perkataan Abian langsung tertawa sambil melihat beberapa berkas di tangannya.
" Kau bilang apa? konyol? dasar kau Dokter gadungan, ini adalah senjata kebahagiaan masa depanku bersama Aisyah." bentak Abian tak mau kalah.
" Lalu aku harus apa? jangan konyol Abian, kau ini terlihat sehat dan normal. Sementara di rumah sakit masih banyak orang yang sakitnya jauh lebih parah dari dirimu, yang sangat membutuhkan Dokter seperti diriku ini." ucap Kalandra sinis.
" Hey... dasar kau, protes saja, kau itu Dokter khusus kepercayaan keluarga pratama. Apa kau sudah berani membantah diriku sekarang?" Abian tidak mau kalah.
__ADS_1
Abian dan Kalandra terus saja berdebat, memperdebatkan pemeriksaan konyol yang di inginkan oleh Abian. Sementara Leo hanya tersenyum puas, karna ternyata bukan dirinya saja yang hari ini kesal akan sikap Abian yang telah menyuruhnya mengerjakan berkas segunung.
Ternyata, Kalandra juga menjadi sasaran kekonyolan Abian hari ini. Saat Kalandra dan Abian masih berdebat, ponsel Abian berbunyi menandakan adanya panggilan masuk, yang ternyata panggilan itu adalah dari Dhafina.
" Halo. Ada apa Fina? " tanya Abian mengangkat ponselnya masih berbaring di atas sofa.
" Abian maaf aku mengganggumu. Aku cuma mau bilang, tadi aku bertemu dengan Aisyah dan menjelaskan semuanya pada Aisyah. Tapi saat aku sudah menjelaskan semuanya, Aisyah malah terlihat murung dan sedih. Maafkan aku, bukan maksud aku untuk ikut campur, aku hanya ingin meluruskan masalah yang timbul di antara kalian karna diriku, agar kau dan Aisyah tidak salah paham lagi. Aku menghawatirkan Aisyah yang terlihat murung dan sedih. " ucap Dhafina dari sebrang telpon.
" Sudahlah tidak apa-apa. Terimakasih Fina, kau sudah mau menjelaskan semuanya kepada Aisyah. " ucap Abian ramah.
Setelah lama berbincang, Abian mematikan sambungan telponnya. Duduk di sofa sambil terdiam memikirkan sesuatu. Membuat Kalandra dan Leo menatap Abian keheranan.
" Gak jadi di periksanya? " tanya Kalandra namun tidak mendapat respon dari Abian.
" Lo gak usah khawatir, percayalah sama istri lo sendiri. Gue yakin Aisyah wanita yang kuat dan mampu menerima kenyataan." ucap Kalandra kembali berbicara, karna memang Kalandra sudah mengetahui semua masalah Abian dari Leo.
" Ya sudah, gue masih ada kerjaan di rumah sakit. Gue balik dulu ke rumah sakit. " ucap Kalandra berpamitan lalu pergi dari kantor Abian.
Tak lama, ponsel Abian kembali berbunyi. Dan ternyata panggilan tersebut berasal dari Mbok Siti Kepala pelayan di rubah Abian. Mbok Siti memberi tau Abian kalau Aisyah sudah kembali pulang ke rumah Abian bersama Pak Mun seperti biasa.
Mendapat pemberi tahuan dari Mbok Siti, Abian langsung pulang ke rumahnya membawa mobil sendiri. Sedangkan Leo masih di ruangan Abian untuk lembur mengerjakan tugas yang seharusnya di kerjakan oleh tuan mudanya itu.
Sampai di rumah Abian langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui Aisyah. Saat sudah di dalam kamar, Abian mendapati Aisyah yang sudah tertidur lelap. Hanya lampu penerangan di atas nakas saja yang menyala menerangi kamar menemami tidur Aisyah.
Abian pergi ke ruang ganti, untuk membersihkan tubuhnya ke kamar mandi. Sudah rapih menggunakan piamanya, Abian naik ke atas ranjang masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya.
Aisyah mengerjap membuka matanya, merasakan jemari Abian yang membelai lembut wajahnya. Saat membuka mata, Aisyah melihat Abian sudah berada di sampingnya dan tersenyum menatap dirinya.
Aisyah langsung masuk ke dalam pelukan Abian, menumpahkan rasa rindunya yang sudah berhari-hari dia tahan. Menangis menumpahkan rasa bersalahnya karna sudah membenci suaminya tampa mendengarkan penjelasannya.
" Ssst... udah, jangan nangis sayang. " ucap Abian pelan memeluk Aisyah dan mencium pucuk kepala Aisyah.
" Kenapa aa gak mengatakan semuanya? hiks.." Aisyah masih menangis sesegukan bersandar di dada bidang Abian, memeluknya erat.
" Maaf. Aa hanya gak mau membuatmu sedih sayang. Saat sekarang kau tau, kau sendiri malah menangis bukan? "
Aisyah terus menangis di pelukan Abian, menumpahkan air mata dan kekalutannya yang sudah mengetahui semua kenyataannya dari Dhafina. Cukup lama Aisyah terdiam di dalam pelukan suaminya, merasakan kehangatan yang selama ini juga di rindukan oleh Aisyah.
" Apa aku salah a, karna aku sudah menolak cinta ka Devdas? " ucap Aisyah sudah tidak menangis lagi.
" Tidak. Kau sudah benar sayang. " ucap Abian mendengarkan.
" Dulu waktu aku di kampung, aku pernah mengenal seorang laki-laki yang tidak sengaja aku temui dan menjadi salasatu temanku. Aku tidak menyangka, kalau ternyata laki-laki tersebut adalah ka Devdas. " ucap Aisyah, sementara Abian hanya mendengarkan mulai bisa menebak arah pembicaraan Aisyah.
" Maafin aku a, karna aku tidak mendengarkan penjelasan aa dari awal. Sampai membuat kita harus berjauhan dan terpisah untuk beberapa hari. " ucap Aisyah masih memeluk erat tubuh Abian.
__ADS_1
" Aa bisa mengerti itu sayang. Kalau aa tidak mengerti dirimu, aa tidak akan mengikutimu menginap di apartemen ayah Agus. " ucap Abian mengelus kepala Aisyah.
" Makasih aa udah mau ngertiin aku. Di saat aku salah jalan karna kecemburuanku, aa masih saja mau menemani diriku." ucap Aisyah lirih.
" Tentu sayang, aa sudah bilang kalau aa mencintaimu dan juga menyayangimu. Sampai kapanpun aa tidak akan melepaskanmu, hanya kematianlah yang akan memisahkan kita. " Abian memeluk Aisyah erat.
" Tapi, aku masih tidak percaya a. Apa benar ka Devdas seperti itu? saat aku mendengar semua penjelasan dari ka Dhafina, aku merasa, ka Devdas seperti itu karna aku a."
" Jangan menyalahkan diri sendiri. Mungkin itu sudah menjadi jalan hidup yang Devdas ambil, dulu, waktu ayahnya Devdas meninggal dan secara tidak langsung karna aa. Aa juga merasa bersalah sama seperti yang kau rasakan saat ini. Tapi saat aa sudah mengenal dirimu, dan menceritakan semuanya padamu, aa jadi merasa bahwa beban dan rasa bersalah yang aa rasakan saat itu sedikit berkurang. Dan sekarang kau juga sudah punya aa sebagai suamimu, ceritakanlah semua keluh kesahmu, aa akan bersedia mendengarkan. " ucap Abian lembut.
" Makasih aa sudah mau mengerti diriku, aku rasa aku benar-benar beruntung punya suami kaya aa. " ucap Aisyah mendongak menatap Abian sambil tersenyum.
" Sama-sama sayang. " ucap Abian membaringkan tubuh Aisyah menindihnya dan menikmati bibir yang sudah lama dia rindukan.
" Aa udah solat isya 'kan? " tanya Aisyah sedikit mendorong tubuh Abian melepaskan ciumannya.
" Udah. " Abian mengangguk ingin mencium kembali bibir Aisyah, namun tangan Aisyah mencegahnya.
" Sayang... " gerutu Abian merasa kesenangannya terganggu.
" Aku cemburu, karna bibir aa ini sudah bersentuhan dengan ka Dhafina. Dan aku benci itu." ucap Aisyah cemberut.
Abian tersenyum menatap wajah cemberut Aisyah.
" Maafin aa sayang. Lagian malam itu aa juga sama sekali tidak menikmatinya, aa hanya menginginkan dirimu saja, sungguh. " Abian mencoba merayu.
" Ikhh... dasar casanova tua. Aa bohong, malam itu aa menikmatinya juga, bukan? aa sudah melakukan dosa, menghianati istri sendiri dan melakukan dosa dengan wanita yang bukan Mahram aa. " Aisyah masih cemberut membuat Abian yang masih berada di atas tubuhnya tertawa.
" Ya udah, aa minta maaf. Aa akan menebusnya malam ini, gimana? " tanya Abian.
" Menebus? " Aisyah menatap Abian heran.
" Iya sayang... " ucap Abian lembut, tersenyum penuh arti sambil mengusap bibir Aisyah yang sudah menjadi candunya itu.
" Jangan bilang aa ma... "
Perkataan Aisyah langsung terpotong di bungkam Abian menggunakan ciumannya. Malam itu menjadi malam yang panjang untuk Abian dan Aisyah, melepaskan rasa rindu dan hasrat yang telah berhari-hari tak tersalurkan.
Yang terdengar di dalam kamar tersesebut hanyalah suara desahan dan erangan sepasang suami istri yang sedang memadu cinta mengisi heningnya malam, melepaskan rasa rindu yang sudah tak tertahankan.
" Terima kasih kau sudah mau menjadi istriku. Bahkan kau tetap bertahan mencintaiku dan menjaga kepercayaanku, dengan tidak menghianati kepercayaanku di saat ada orang lain yang mencintaimu selain diriku. "
Abian mencium kening dan bibir mungil Aisyah, Aisyah sudah lebih dulu tertidur lelap karna lelah melayani Abian yang tidak hentinya menjamah dirinya selama berjam-jam.
Abian sendiri seolah menikmati kegiatannya menyalurkan hasrat dan rindu yang tak tersalurkan selama berhari-hari. Menyerpis senjatanya itu sepuas hatinya agar tidak karatan seperti yang dia katakan kepada Kalandra.
__ADS_1
Membuat Abian sendiri tersenyum mengingat kekonyolan dirinya yang sudah memanggil Kalandra hanya karna masalah sepele. Abian membenarkan selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya itu. Memeluk erat tubuh polos istrinya Aisyah dan ikut memejamkan mata di bawah selimut yang sama. Menyusul Aisyah yang sudah lebih dulu menikmati dunia mimpinya yang indah.