
Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang menyayangimu, karna kamu akan benar-benar merasakan kehilangan jika dia sudah benar-benar menjauh darimu, lalu sekuat apapun kamu menyesali jarum jam tidak akan berputar kembali.
Mungkin perkataan itulah yang pantas di terima Leo saat ini, dulu dirinya dan Selin begitu akrab, begitu dekat dan begitu hangat. Tertawa bersama, bercanda bersama, sampai Selin sendiri bersikap manja padanya, sama seperti Selin bersikap manja kepada Abian kaka kandung nya.
Di saat Selin sendiri sudah memutuskan untuk mengubur perasaan nya terhadap Leo. Kini Leo sendiri lah yang mulai tertarik kepada Selin, gadis kecil yang dulu pernah dia tolak dan sekarang telah tumbuh dewasa dan menjelma menjadi gadis cantik, yang mampu menggoda hati lawan jenisnya, termasuk seorang Leo yang dulu pernah menolaknya.
Saat ini pun Leo tidak hentinya menatap layar ponsel di tangan nya, yang sudah tersambung dengan kamera CCTV yang ada di depan kamar Selin sambil duduk di sofa kamarnya.
Seperti biasa, jika tugas Leo belum selesai, Leo selalu setia di rumah pratama, atau di manapun Abian berada maka Leo juga ada di sana. Dan saat ini dirinya sedang frustasi melihat kamera CCTV berharap Selin keluar dari kamarnya, sehingga dirinya memiliki kesempatan untuk melihat Selin secara langsung entah dengan cara apapun nantinya.
" Itu dia! "
Leo yang sedang pokus melihat layar ponsel nya langsung terperanjat kaget. Berdiri dari posisi duduknya dan langsung menatap layar ponsel dengan wajah seriusnya.
" Kau akan berjalan ke mana?" ucap Leo masih pokus melihat layar ponsel nya sambil berjalan mondar-mandir.
Leo melihat Selin keluar dari kamar, dan terus berjalan menuju tangga mengarah ke lantai bawah, Leo yang masih pokus melihat layar ponselnya pun tersenyum bahagia.
" Akhirnya kau keluar juga, kau mau kemana? tunggu, bukan kah dia berjalan mengarah ke taman belakang? " ucap Leo yang masih pokus mengikuti arah Selin berjalan dari kamera CCTV yang sudah tersambung dengan ponsel di tangan nya.
Leo pun menekan pengaturan di ponsel nya, agar tersambung dengan kamera CCTV yang berada di taman belakang. Saat ponsel itu sudah tersambung dengan kamera CCTV taman belakang, Leo tersenyum memandang Selin yang sedang duduk manis di taman belakang. Terlihat jelas di ponsel nya bahwa Selin sedang menikmati malam yang cerah di taman belakang.
" Maafkan abang Selin. "
Leo menatap layar ponselnya sendu, sambil kembali duduk di sofa memperhatikan Selin dari layar ponselnya.
Leo memutuskan untuk berjalan ke arah taman belakang menyusul Selin dengan ponsel masih menyala di tangan nya. tiba-tiba.
" Bruk.. "
Leo tidak sengaja menabrak mamah Santi yang berpapasan dengan nya di lantai bawah.
" Ya ampun Leo, kamu ini gak lihat mama apa? kamu maen tabrak aja." Santi menatap Leo.
" Maaf mah, Leo gak sengaja." ucap Leo masih berdiri di hadapan Santi, sambil menyembunyikan ponsel nya ke arah belakang tubuhnya.
" Kamu ini ada-ada saja, lagian ini sudah malam, yang lain juga udah pada tidur, kamu mau kemana? "
" Leo cuma mau ngecek keamanan di sekeliling rumah aja mah. " Leo beralasan agar tidak ketauan Santi.
" Kamu ini memang tidak pernah berubah, ya udah mama ke atas duluan, mama udah ngantuk." ucap Santi menepuk bahu Leo.
Santi tersenyum merasa bangga akan sikap Leo yang tidak pernah berubah, selalu mementingkan keamanan keluarga pratama. Tampa Santi ketahui alasan apa sebenarnya Leo malam-malam keluar kamar.
Walaupun memang setiap malam sebelum tidur, entah di rumah Abian atau di rumah utama kediaman pratama. Leo selalu mengecek keamanan sekeliling rumah dan mengecek orang-orang yang bertugas berjaga malam.
Tapi kusus malam ini, Leo sangat ingin melihat Selin secara langsung di taman belakang walaupun dari kejauhan. Karna semenjak kejadian ciuman nya bersama Selin di malam resepsi pernikahan Abian dan Aisyah, mereka belum bertegur sapa sama sekali.
" Maafkan abang Selin, karna abang sudah membuatmu kecewa. Ingin rasanya abang memelukmu dan tertawa bersama denganmu seperti dulu. "
__ADS_1
Leo berdiri menatap Selin dari arah yang sedikit jauh dari tempat selin duduk, masih di area taman tersebut.
Leo pun berjalan kembali ke dalam rumah. Tapipi saat dirinya berada di lantai atas berniat masuk kembali ke kamarnya. Leo memikirkan sebuah ide agar dirinya bisa berbicara langsung dengan Selin di tempat yang aman tampa ada kamera CCTV.
Setelah puas dari taman, Selin pun kembali kedalam rumah untuk masuk kedalam kamarnya. Setelah berada di dalam kamar dan mengunci pintu selin terkejut, karna tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
Selin sama sekali tidak mencoba berontak atau menolak. Selin hanya berdiri mematung karna dia sangat mengenali pelukan hangat yang dia rasakan saat ini. Pelukan hangat yang dia coba lupakan namun tetap dia rindukan.
Pelukan tangan itu melingkar sempurna di pinggang Selin dengan erat, dan Selin pun merasakan orang itu menjatuhkan kepalanya di pundak Selin sambil memeluknya dengan erat.
" Maafkan abang Selin. " ucap Leo lirih.
Ya, Leo, seorang laki-laki yang sudah tidak bisa lagi memendam hasratnya karna merindukan sosok seorang Selin, yang selama ini selalu bersikap kasar dan acuh tak acuh padanya.
Setelah berjalan dari taman belakang. Leo berpikir untuk masuk ke Kamar Selin sebelum Selin kembali dari taman belakang, karna hanya di kamar Selin lah dia bisa berbicara Aman tampa adanya kamera CCTV.
Seluruh sudut rumah ini sudah di pasang kamera CCTV demi keamanan. Kecuali kamar tidur lah yang tidak di pasang kamera CCTV.
Selin yang mendengar perkataan yang keluar dari bibir Leo, hanya bisa diam mematung tampa menjawab perkataan Leo.
" Maafkan abang, karna abang sudah menorehkan rasa sakit di hatimu sampai kau menjauh dari abang. maaf malam itu abang sudah mencuri ciuman pertamamu, abang tau itu adalah ciuman pertamamu, abang mohon maafkan abang. " ucap Leo lirih.
Leo masih memeluk erat tubuh Selin. Merasakan kehangatan yang sudah bertahun-tahun iya rindukan itu, menjatuhkan kepalanya di pundak Selin mencium aroma tubuh yang sangat iya rindukan. Walaupun yang di peluk tidak merespon sama sekali.
" Abang merindukan mu Selin, abang mohon kembalilah, jangan pernah acuh kan abang lagi, abang tidak tahan kau acuh kan." ucap Leo lirih.
" Pergi! "
Selin menatap tajam penuh kebencian, seolah masih merasakan sakit di hatinya.
" Abang mohon maafkan abang Sel. " Leo mencoba mendekati Selin, namun Selin malah memundurkan langkahnya.
" Pergi, aku tidak butuh kata maaf darimu bang. Aku tidak akan berharap lagi padamu, aku sudah memutuskan mengubur perasaanku padamu, jadi aku minta lebih baik sekarang kau keluar dari kamarku. " suara Selin meninggi dan tegas.
" Tidak. Abang tidak mau keluar sebelum Kau memaafkan abang. "
Leo tidak mau kalah suaranya pun mulai meninggi. Untung saja kamar itu bisa meredam suara mereka, hingga tidak terdengar oleh siapapun.
" Gue bilang pergi, gue benci lihat wajah lo, kalau lo gak mau keluar biar gue yang pergi. " Selin melangkahkan kakinya berniat keluar dari kamar meninggalkan Leo.
Tiba-tiba Leo menarik tangan Selin, memegang tengkuk Selin, membawa Selin kepelukannya, memeluk erat pinggang Selin, sambil mencium bibir mungil Selin yang berhasil menggodanya saat pertama mereka berciuman malam itu.
Selin mencoba berontak berniat melepaskan diri dari pelukan Leo. Namun perlawanan nya sia-sia, karna dia kalah dengan tenaga Leo yang memeluknya dengan erat.
Selin yang kalah pun hanya bisa diam, sedikit mencengkram kemeja di bagian dada Leo merasakan ciuman lembut yang di lakukan Leo padanya.
Selin sendiri mengakui kalau dirinya belum bisa benar-benar melupakan Leo. Apalagi setelah kejadian malam resepsi pernikahan Abian dan Aisyah, membuat Selin semakin tidak bisa melupakan Leo.
Setelah Leo puas mencium bibir Selin, Leo pun melepaskan ciuman nya. Menatap wajah wanita yang berhasil mebuatnya merasa gila tampa melepas pelukan nya dari tubuh Selin.
__ADS_1
" I Love You.. "
Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari bibir Leo.
Selin mendorong tubuh Leo dengan kasar dan " Plak " Selin mendaratkan satu tamparan di pipi Leo.
" Cukup bang, mau sampai kapan kau mempermainkan diriku? dulu kau sendiri yang bilang kalau kau tidak memiliki perasaan apapun padaku. Dan kau sendiri bilang hanya menyayangiku sebagai seorang adik tidak lebih, lalu sekarang apa bang? "
Selin masih berdiri menatap Leo, tak terasa airmata nya pun tumpah.
" Di saat aku menyayangimu kau tidak menganggapku ada, dan di saat aku berusaha melupakan mu, kau tiba-tiba mendekatiku dan berkata seperti itu padaku Hiks.. hiks.. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku bang? "
Selin berkata di sela-sela tangisan nya, merasakan sakit di hati nya dan merasa bingung dengan sikap Leo padanya.
" Maafkan abang sayang, sekarang abang bersungguh-sungguh. Abang menyayangimu, abang juga mencintaimu, abang sadar abang tidak bisa kehilangan mu. " Leo mendekati Selin dan mencoba memeluk Selin yang menangis di hadapan nya.
Namun usahanya sia-sia, Selin menepis kasar tangan Leo yang mencoba memeluknya.
" Aku mohon pergi lah.... aku ingin sendiri bang." ucap Selin sambil mengusap wajahnya yang basah karna air mata.
Leo pun hanya memandang wajah Selin sendu, merasa bersalah karna dirinya lah Selin seperti ini.
" Baiklah, abang akan pergi, tapi percayalah abang bersungguh-sungguh dengan perkataan abang barusan padamu. "
Leo pun berjalan keluar dari kamar Selin, berharap dengan dirinya keluar Selin bisa berhenti menangis.
Selin yang melihat Leo keluar dari kamarnya langsung mendekati pintu dan menguncinya kembali. Selin berlari dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, sambil menangis merasakan sakit di hatinya dan pikiran nya yang kacau saat ini.
Begitu juga dengan Leo yang berjalan menuju kamarnya dengan perasaan bersalah di hatinya. Saat Leo berjalan menuju kamarnya, Leo bertemu dengan Abian yang berdiri menatapnya dengan sudah rapih menggunakan piama nya.
Leo hanya berdiri mematung menatap Abian dengan tatapan wajah kusut di hadapan Abian.
Abian yang melihat itupun mengerti, masalah apa yang sedang di hadapi sekertaris setianya itu sekaligus sahabatnya itu.
Abian berjalan mendekati Leo yang masih mematung di hadapan nya dan memegang pundak Leo.
" Bersabarlah.. aku tau kau Laki-laki yang baik, suatu saat jika kau terus berusaha, kau pasti akan mendapatkan Selin kembali. " ucap Abian.
" Terima kasih tuan muda. " Leo tersenyum menatap Abian yang kembali berjalan menuju kamarnya.
Aku akan berusaha dan terus berjuang memperbaiki kesalahan ku pada Selin, sampai Selin memaafkanku, aku tidak akan berhenti berusaha, terima kasih kau sudah mau mendukungku tuan muda.
Leo berkata dalam hati, sambil menatap punggung Abian tuan mudanya itu.
*
*
*
__ADS_1