
Pintu paviliun dibuka oleh Anton agar hawa sejuk masuk memberikan kesegaran di pagi hari.
Tak lama Mela masuk membawa keranjang pakaian yang sudah rapih di setrika dan juga segelas susu.
Ketika dilihatnya wajah Anton yang tampak tidak bersahabat dia pun tak menyapanya hanya sedikit senyum sambil menganggukan kepala.
Karena Anton masih duduk disitu maka dia keluar ruangan lagi karena merasa kurang etis kalau tiba-tiba menyapu padahal masih ada orang di dalam.
Lantas diapun menuju ke belakang toko untuk membuka pintu menuju ke dalam toko.
Tak sengaja saat dia memasukan anak kunci terdengar dari dalam keributan kecil antara ibu dan anak gadisnya.
"Bunda..Wiwit tidak mau pokoknya. Malas harus kesana. Seakan Wiwit mencari perhatian saja. Pokoknya tidak mau titik!"ucap Wiwit bernada keras kepada Bundanya.
Tak kalah lebih keras lagi sang Bunda berkata sambil berteriak," Dasar anak bodoh, coba kamu lihat dia itu dokter. Masa depanmu akan cerah kalau dokter itu suka kepadamu. Coba pikir, Bunda tidak rela kalau sampai si Mela yang jadi dengan dokter itu ".
" Aduh bunda, terserah saja yang pasti Wiwit tidak suka dengan dokter itu. TITIK!"jeritnya sambil lari ke kamarnya. Lalu terdengar ibunya mengomel sambil marah- marah.
Sambil menutup mulut dengan tangan kirinya karena menahan geli mendengar pertikaian itu, diapun masuk ke toko sambil mulai memeriksa nota.
Anton diam sambil memandang susu di gelas dan juga tumpukan bajunya yang sudah rapih.
Tercium wangi harum pewangi pakaian yang sangat lembut. Lalu dia juga melihat susu dalam gelas yang rapih tidak ada setitikpun susu yang berceceran.
Dalam hatinya dia berpikir gadis itu sesungguhnya cekatan, dia pasti berjalan dari dapur membawa segelas susu ditangan kanan dan keranjang baju ditangan kiri tapi semuanya tiba dihadapan Anton dalam kondisi baik.
Masalahnya jaraknya ada sekitar 5 - 7 meter dari dapur ke arah paviliun dengan kondisi tanah yang tidak rata.
Dan wajahnya selalu senyum tanpa beban, walau mungkin banyak yang harus dilakukannya.
Wajahnya manis tidak membosankan, dan tampaknya ada semangat diwajah itu.
Tapi sedang apa dia di depan hotel di malam hari kemarin. Apakah dia juga sama dengan wanita lain yang berjubah malaikat tapi berlaku nista.
" Ya Allah mengapa harus gadis itu berlaku seburuk itu jika dia memang butuh tambahan uang," batin Anton.
Selesai meminum susu, tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Lalu Anton mengambilnya dari meja dan dilihatnya nama kakaknya tertera disana "Cici Anita".
"Assalamualaikum, cici apa kabar?"sambut Anton.
"Walaikumsalam, baik dik. Kamu apa kabar juga dik?"tanya sang kakak.
"Alhamdulillah baik juga. Tumben cici telepon pagi sekali. Ada yang bisa Anton bantukah?"
"Ah engga dik, justru cici mau minta maaf. Uang bagi hasil apotik tahun lalu baru bisa beres sekarang perhitungannya.
Jadi cici baru bisa siang nanti transfer ke kamu. Kebetulan dede bayi masih bobo jadi cici sempatkan hubungi kamu".
"Walah cici ini, kirain ada apa? Tenang saja, orang Anton engga nagih kok. Kayak ke siapa saja deh cici tuh".
"Ya bukan begitu, kan emang peraturannya gitu. Eh, kamu gimana di Cirebon? Baik-baik sajakah?".
" Baik-baik saja alhamdulillah tidak kekurangan apapun. Kangen aku sama Keiza dan dede bayi".
"Iya Keiza suka nanyain kamu. Lalu dia bilang oom Ton sombong engga mau nemenin Kei katanya,"kakaknya menceritakan anaknya yang kangen juga sama Oomnya.
"Dik, nanti cici transfer siang yah, kamu perkiraan dapat sekitar 15 juta, papah sama mamah dapet lebih yah".
" Iya cici alhamdulillah masih dapat juga. Gampang lah transfer sih, cuma kalau cici memang mau transfer tolong nanti potong dulu 2,5% yah buat zakat. Nanti tolong cici sampaikan zakatnya untuk yang berhak".
"Siap, tentu saja sudah cici perhitungkan dan sisihkan juga nanti cici serahkan kepada yang berhak".
"Terima kasih yah cici, salam juga buat Koko Fajar".
__ADS_1
"Oke, nanti kalau kamu pulang ke Bandung bawa oleh-oleh dari Cirebon".
"Siap pasti Anton bawakan ke rumah cici sambil pengen ketemu anak-anak".
"Baik-baik yah dik disana, Assalamualaikum".
"Walaikumsalam, sama-sama".
Dan merekapun mengakhiri pembicaraan. Mendengar akan ada dana bagi hasil dari kakaknya, lalu Anton terpikir kembali keinginannya membeli lemari es kecil dan juga sepeda motor matic untuk ke puskesmas.
Memang sudah perjanjian di keluarga mereka untuk ada bagi hasil atas usaha apotik setiap tahunnya. Anita kakaknya baru melahirkan sehingga perhitungan bagi hasil tahun lalunya tertunda sekian bulan.
Hari masih cukup pagi, tapi Anton lebih cepat ke puskesmas pagi ini.
Karena selain malas hampir setiap pagi ibu Atin dan anak gadisnya Wiwit menemuinya seakan mencari perhatian dengan membawakan cemilan atau apalah yang tak jelas.
Dia juga masih merasa kesal kepada Mela, walau dia sendiri tak paham alasannya apa yang dikesalkannya.
Sesampainya di puskemas tampak masih sepi, ada juga Komar bagian kebersihan yang tampak sedang membersihkan lantai.
Lalu Anton menyapanya dan juga bertanya dimana penjual sepeda motor bekas.
"Komar kamu tahu tidak dekat sini yang jual sepeda motor seken?"tanya Anton.
"Ada sih dokter cuma agak jauh di daerah Palimanan, memang kenapa dokter?" Komar memberitahu lokasi dan juga balik bertanya.
"Saya mau beli sepeda motor bekas saja tapi yang masih baguslah".
"Untuk siapa?"tanya Komar lagi.
"Yah untuk saya dong".
" HAH !!!dokter emang bisa naik motor?!!!".
"Sembarangan sekali kamu, haha hahaha... dari dulu juga saya naik motor tahu,"kata Anton sambil tertawa.
"Iya kali saja dok, soalnya kan maaf kaki dokter kan gimana gitu,"kata Komar sambil tersipu.
"Sekarang saya bisa naik yang matic sih, kalau dulu naik moge. Tapi hasilnya begini Mar...hahahahah," Anton santai sekali sambil menepuk kaki palsunya.
Lalu keduanya pun tertawa.
"Eh iya dokter, kalau tidak salah pak Hadi kepala keuangan berencana menjual sepeda motornya. Nanti saya tanyakan deh".
" Oh gitu, iya tolong yah Komar tanyakan siapa tahu masih bagus dan murah".
"Siap dokter".
Tak lama semua petugas mulai berdatangan dan tak lama juga kegiatan di puskemas mulai berlangsung.
Siang hari setelah sholat dzuhur pak Hadi dan Komar mendekati Anton.
"Dokter Anton maaf, kata Komar sedang mencari sepeda motor yah?"tanya pak Hadi.
"Oh iya, pak motor matic yang seken buat saya,"jawab Anton.
"Hmmm...sebenarnya saya mau menjual motor saya sih dokter, siapa tahu dokter berminat".
"Oh begitu, boleh saya lihat dulu?"tanya Anton.
"Boleh kok, ada di depan di parkiran".
Lalu mereka menuju parkiran motor, dan memang benar sepeda motor pak Hadi masih terawat walau usianya sudah 5 tahun kebelakang.
__ADS_1
"Cuma ini dokter, sebentar lagi STNK nya ulang tahun... hihihi, masih 5 bulan lagi sih. Nanti saya bantu proses perpanjangannya".
"Tak masalah pak Hadi, motor kan tidak semahal mobil pajaknya".
Lalu merekapun bernegosiasi soal harga, karena Anton merasa cocok dengan motor tersebut.
Pak Hadi rencananya akan membeli sepeda motor yang ukurannya lebih besar, karena tiap pagi bonceng tiga untuk mengantar anak ke sekolah lalu mengantar istri ke tempat kerjanya.
Masalahnya anak semakin besar, dan istri juga semakin gemuk. Jadilah dia harus mengganti sepeda motor yang lebih besar.
Akhirnya merekapun mencapai sepakat dengan sebuah nilai. Lalu Anton mencoba menjalankan motornya. Awalnya semua merasa ketakutan Anton terjatuh karena mengingat kondisi kakinya.
Namun ternyata Anton cukup lihai berkendara sepeda motor.
Setelah memeriksa rekeningnya melalui E- Banking di telepon genggamnya dan ternyata kakaknya sudah mengirim dananya.
Diapun segera meneruskan uangnya ke rekening pak Hadi dengan nominal sesuai kesepakatan tadi.
Yang bahagia adalah Komar, dari pak Hadi dia mendapat komisi dan dari dokter Anton juga mendapat uang lelah.
Sorenya Komarpun ditodong Jaya dan Murni untuk mentraktir mereka gorengan.
Komar juga diminta Anton untuk membelikannya helm, lalu sepulang kerja dia bersama dengan Aryo mengantarkan motor ke paviliun karena Anton masih membawa mobil.
Ketika tiba di paviliun, tampak Mela dan kawan-kawan sedang mulai menutup toko.
Melihat dokter Anton seperti habis beli motor, beberapa kawannya Mela mendekati dan berbincang-bincang. Biasa kalau ada yang bawa barang baru pasti saja ramai.
Mela hanya memandang saja dari kejauhan dan tak sengaja Anton juga melihat Mela yang sedang memandangnya, seketika Mela sadar dan lalu cepat-cepat dia melengos merapihkan lagi toko.
Anton jadi tersenyum sendiri melihatnya.
Sehabis maghrib nanti dia akan menjajal sepeda motor itu, sambil sekalian mencari jaket di supermarket kecil di dekat daerah mereka tinggal.
Selesai sholat maghrib ketika dia sedang memasang kaki palsunya tampak Mela berjalan cepat.
Anton berpikir untuk mengejar tetapi tidak mungkin karena dia kesulitan tidak bisa secepat itu mengikat kakinya.
Setelah terikat dia segera menuju gerbang, berharap Mela masih disana. Tetapi sudah tidak nampak siapapun.
Dia kembali lagi dan kemudian diapun berjalan menuju motornya dan kembali ke rencana semula.
Sesampainya di supermarket ternyata sedang ada promo besar-besaran untuk barang elektronik. Sehingga dia juga sekalian membeli kulkas kecil sesuai dengan kebutuhannya. Karena kebetulan barang yang dimaksud sedang promo jadi dia bisa membeli dengan harga yang termasuk murah. Yang awalnya hendak membeli kulkas kecil menjadi kulkas 1 pintu ukuran sedang karena harganya tidak jauh berbeda.
Rencana pihak toko akan mengirimkan besok siang, dan diapun menyetujuinya.
Dia lalu berputar-putar dengan motornya sehingga tahu lebih banyak daerah sana. Ternyata di pelosok banyak keramaian dan banyak penjual makanan, sehingga diapun menikmati kuliner malamnya seorang diri tapi dia cukup bahagia.
Sekitar jam 21.00 dia pulang dan motornya dimasukan ke dalam paviliun.
Lalu seperti biasa dia mencopot kaki palsunya lantas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mengambil wudhu kemudian sholat Isya disambung dzikir malam.
Tak lama dia duduk di kursi tamu sambil menikmati teh hangat dan kemudian terdengar pintu gerbang dibuka dan masuklah Mela dengan tergesa-gesa.
Anton melirik jam di dinding ternyata memang sudah mendekati jam 22.00.
Diapun menghela nafas sambil kembali berpikir darimana gadis itu setiap hari pulang malam selalu tergesa-gesa seperti itu.
Tanpa diketahuinya seperti biasa Mela pulang, lalu membersihkan diri sambil mencuci bajunya dan baju Anton. Beres menjemur, dia sholat Isya, lalu menyetrika baju yang kering. Dan baru setelah itu bisa tidur nyenyak karena kelelahan.
Sementara Anton sudah setengah jam sebelumnya tidur nyenyak dengan nikmatnya.
Malam itu kembali pak Solihin penjaga malam merasa kebingungan, karena hampir setiap malam nona rumah kabur selama beberapa jam dengan seorang pria.
__ADS_1
Dia tidak berani melaporkan ke majikannya karena sang nona mengancam akan bilang ke ibu nya kalau pak Solihin memfitnahnya.