
Setelah pembicaraan malam itu mulai keesokan harinya Mela selalu terjemput oleh Anton saat dia pulang kuliah.
Selalu saja ada alasan Anton yang secara tiba-tiba berada di dekat kampus Mela di jam-jam pulang kuliah.
Sebenarnya Mela merasa aneh dengan Anton yang tiap malam selalu ada menjemputnya namun bila ditanya apakah Anton sengaja menjemputnya pasti jawabannya selalu berkelit dengan dalih ada keperluan ke kota.
Dan sekarang sudah kamis malam, Anton bertanya kepada Mela mengenai masalah skripsinya ke Bandung.
"Mela kamu jadi dengan saran saya membuat skripsi ke Bandung ?"tanya Anton sambil sebenarnya dalam hatinya sangat berharap Mela mau.
"Ya itu dokter, Mela tidak enak hati sama dokter. Nanti Mela nebeng, disana Mela kalau harus menginap bagaimana?Mela tidak punya uang untuk membayar penginapan,"jawab Mela sambil terlihat bingung.
"Terserahmu Mela, kalau kamu percaya saya, mari besok malam ikut saya ke Bandung. Kalau tidak juga tak masalah. Saya sih sangat mengenal dengan baik dengan pengelola tempat usaha itu, bahkan sejak saya kecil.
Untuk menginap mereka juga punya tempat untuk tamu," Anton mencoba menjelaskan kepada Mela.
Setelah terdiam beberapa saat lalu Mela berkata , "Baik saya mau dokter, siapa tahu setelah lulus saya bisa bekerja ditempat mereka".
Andai Mela tahu didalam hati Anton sedang berteriak "YES"
Sekarang Mela sedang berpikir lagi bagaimana minta ijin kepada Wak Atin, pasti akan sulit sekali.
Keesokan paginya Mela menelepon ibunya, dia menceritakan perihal dokter Anton yang akan membantu masalah skripsinya.
Sejenak mimi Sinah yaitu panggilan ibunya Mela terdiam sejenak mencoba merenungkan apa yang sedang anaknya sampaikan.
Lalu mimi Sinah berkata,"Baka nok yakin iki dokter arepan nulungi, ya wis, mene mimi kang ngadepi jaluk nang ijin ning wak Atin".
(\=Kalau kau yakin dokter itu akan menolongmu,ya sudah, sini biar ibu yang bicara dengan Wak Atin untuk meminta ijin).
Lalu Mela berjalan menemui wak Atin sambil membawa telepon genggamnya dan menyampaikan bahwa ibunya ingin bicara sesuatu.
Terdengar tampaknya ada adu argumen diantara mereka, namun Mela diam saja dan berharap wak Atin bisa setuju.
Tak lama terdengar wak Atin menutup teleponnya dan memandang tajam kepada Mela.
" Lantaran kang jaluk ijin mboke ira, ya wis ira tak pai ijin tiap rong minggu sepisan unggal dina sabtu libur. Tapi inget telung bulan bae, bli bisa luwi maning".
(\=Karena Yang minta ijin adalah ibumu, ya sudah kamu diijinkan setiap dua minggu sekali libur di hari sabtu. Tapi ingat hanya tiga bulan saja, tidak bisa lebih lagi)
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Wak Atin, maka Melapun pamit untuk menuju toko.
Tapi hatinya masih galau, ada sedikit rasa resah khawatir dokter Anton hanya akan membohongi dirinya.
Mela lalu mengirim chat kepada Anton untuk meyakinkan dirinya.
M: Dok, ibu saya dan wak Atin pun sudah memberi ijin untuk saya ke Bandung. Tapi saya mohon dokter benar-benar mempertemukan saya dengan pemilik usaha itu. Saya hanya bermodalkan kepercayaan kepada dokter.
Lama chat tidak dijawab, bahkan sudah beberapa jam masih tidak ada tanda Anton sudah membaca isi chat tadi.
Siang hari sudah terlewati dua jam lalu, dan baru saja ada chat masuk ke telepon genggamnya Mela disaat dia sedang sibuk dengan pembeli.
Setelah beres lalu dia duduk di mejanya dan melihat telepon genggamnya. Ternyata ada chat masuk dari Anton setengah jam yang lalu, berdebar dia membukanya.
Ada perasaan takut juga bagaimana kalau Anton tersinggung tadi.
A: Insyaallah Mela, saya tulus membantumu tanpa ada sedikitpun saya mempunyai niat buruk kepadamu. Saya kembalikan kepada Mela, bila memang percaya kepada niat baik saya, mari kita lanjutkan rencana ke Bandung. Bila merasa ragu dengan saya, tidak apa-apa saya tidak memaksa.
Mela terdiam sambil memeluk telepon genggamnya dan berpikir bahwa mungkin benar dokter Anton memang tulus membantunya.
Lalu diapun menjawab chat dari Anton.
M: Baik dok terima kasih. Mela jadi ikut, rencana kapan berangkatnya ?
A: Ok siap, kita berangkat nanti setelah sholat Ashar yah.
Lantas Melapun mengiyakan dan lalu diam-diam dia bersiap untuk keperluan ke Bandung, karena mau tak mau harus menginap disana.
Untuk menghindari masalah terutama dengan Wak Atin, maka Anton dan Mela janjian bertemu di depan pos kamling yang terletak di ujung jalan.
Setelah Anton tiba di pos kamling, Melapun masuk ke dalam mobil sambil jantungnya berdebar, antara takut, ragu, cemas, bimbang semua rasa bercampur aduk.
Setidaknya dia tiba-tiba harus ikut keluar kota dengan pria yang belum lama dikenalnya dan juga dia tidak tahu perusahaan seperti apa yang dengan begitu baik mengijinkan dia untuk menjadikan bahan skripsinya bahkan memberikan sarana menginap.
Mela sepanjang jalan diam saja, tangannya berkeringat dan dia terus memeluk tasnya. Terlihat dirinya sangat tegang sekali.
Dari ujung matanya Anton bisa melihat dan merasakan bahwa Mela saat ini tampak ketakutan.
Lalu berusaha membuka pembicaraan ringan agar Mela lebih santai.
"Mela kamu takut yah..padahal kamu mau saya buang di jalan tol depan loh," kata Anton mencoba menggoda Mela.
"Jahat amat dok sama saya, emang saya salah apa?"tanya Mela serasa sambil serius.
"Ya iyalah mending saya buang saja, orang kamu dari tadi diam saja seperti orang diculik, dasar kamu tuh yah".
"Wajar dong Mela takut, orang dokter juga banyak rahasianya ditanya nama perusahaannya apa, dijawab nanti saja kamu tahu. Ditanya yang punya siapa, dijawab begitu lagi. Jujur sekarang Mela cemas, siapa tahu Mela nanti dijadikan kelinci percobaan atau organ Mela dijual oleh dokter".
Seketika Anton tertawa, lalu dia menyahut," Badan kamu kurus kering kurang gizi, mana bisa laku organnya dijual juga... hahahah...takutnya hanya cacing didalamnya".
Mela cemberut lalu tak lama dia juga jadi ikut tertawa, "iya yah... mana bisa saya terpilih jadi korban penjualan organ atau kelinci percobaan yah....
Setidaknya harus yang bertubuh sehat dan kekar seperti dokter dong yah..
hahaha".
Melihat Mela tertawa lalu Anton berseloroh , " Nah gitu dong ketawa dari tadi diam saja... awas kalau diam lagi... saya lempar kamu ke jalan tol depan... hahahaha".
Lalu Melapun mulai mencair, sepanjang jalan mereka mulai berbincang. Antonpun menanyakan tentang Mela dengan dokter Harsono dulu sedekat apa.
Mela menjelaskan bahwa dokter Harsono menganggap dia seperti adiknya sendiri bahkan Mela juga kenal dengan tunangan dokter Harsono.
"Nanti di Bandung saya akan dikenalkan juga yah dengan tunangan dokter? "
tanya Mela.
"Jelas tidaklah, nanti kamu cemburu," jawab Anton.
"Kok cemburu? Emang kenapa saya musti cemburu?".
__ADS_1
Anton diam saja senyum-senyum tidak mau menjawab. Membuat Mela jadi kesal.
"Kan rahasia lagi, penuh rahasia sekali, capek deh".
Memang Anton sengaja tidak mau menjawab karena dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Tunangan tidak punya, kekasih pun tak jelas.
Berharap gadis disebelah mau menjadi kekasih tapi masih tak ada nyali dirinya.
Dia sendiripun masih galau, karena dia juga belum tahu banyak tentang Mela.
Lalu Anton bertanya tentang keluarga Mela, dan Melapun menceritakan dengan santai.
Namun saat ditanya tentang ayahnya dan bagaimana ayahnya meninggal, disitulah dia diam lagi.
Sambil memejamkan mata menahan tangis dia berkata,
" Dokter, ayah saya meninggal karena kecelakaan tapi mohon maaf dokter jangan bertanya lagi seperti apa kecelakaannya. Terlalu sakit dan sedih untuk saya bila mengingatnya".
Anton juga terdiam lalu sambil tatapannya ke depan jalan dia juga berkata," Kalau begitu kamu juga jangan bertanya sama saya yah tentang kaki saya".
Lalu dia memandang Mela, "Deal?".
Mela menjawab," Deal !".
Mereka saling memahami bahwa dimasa lalu ada sesuatu yang membuat luka di hati yang tak usah dibahas lagi.
Hadapi saja kenyataan sekarang dan terus maju melangkah ke depan.
Mereka berhenti sebentar di rest area jalan tol untuk melaksanakan Sholat maghrib. Disitu Mela melihat bagaimana seorang Anton berusaha membuka kakinya dan dia berjalan menggunakan tongkat menuju musholla di rest area tol.
Banyak orang yang melihatnya, ada yang kagum, ada yang tampak tak suka, ada juga yang berkasak kusuk sambil menunjuknya.
Disitu Mela tersadar dan merasa kasihan kepada Anton, tapi dia kagum melihat Anton tampak biasa saja dengan pandangan orang.
Selesai sholat mereka kembali ke mobil, dan Anton memasang kembali kaki palsunya.
"Dokter, mengapa kakinya tidak dipakai saja saat sholat?"tanya Mela pelan-pelan.
Anton menjawab santai," Tidak bisa nona, ini kan palsu bagaimana saya wudhunya. Lalu ini juga tidak bisa ditekuk kalau saya sujud".
" Ya tapi tadi ada orang yang terlihat mencemooh dokter, saya jadi sebal melihatnya".
"Mengapa harus sebal, biarkan saja mereka mau mencemooh atau mengejek, asalkan kita jangan seperti itu kepada orang lain".
Mela menatap Anton, dalam hatinya dia merasakan kekaguman atas kebesaran hati Anton.
Setelah selesai kakinya terpasang dia menoleh melihat Mela sedang lurus memandangnya.
" Kamu terpesona yah sama saya ?"
goda Anton.
Seketika Mela memerah wajahnya dan segera membuang muka.
"Siapa juga yang terpesona, geer sekali yah dokter tuh".
Padahal dalam hatinya dag dig dug, berasa mulai ada suatu rasa yang lain menyelimuti hatinya.
Mela melihat keramaian kota Bandung dan juga kemacetannya.
Tak lama merekapun memasuki suatu jalan besar yang cukup ramai, dan terlihat di kiri jalan sebuah bangunan besar apotik dan klinik yang megah bertuliskan "WIHARJA FARMA".
Mela merasa familiar dengan nama itu, dan kemudian mobil memasuki halaman sebuah rumah yang tampak mewah disebelah bangunan apotik tadi.
Pintu pagar besar dibukakan oleh seorang penjaga, karena di pinggir halaman ada semacam pos penjaga. Dan penjaga tampak memberi hormat kepada Anton saat dia melambaikan tangannya ke orang itu.
Kecil hatinya disaat disuruh turun oleh Anton, dia merasa salah tingkah dan malu saat Anton mengajaknya ke teras rumah dan Anton memencet bel disisi pintu.
Tak lama terdengar seseorang mendekat ke arah pintu depan.
Saat pintu dibuka oleh seorang wanita hampir setengah baya yang tiba-tiba berteriak gembira melihat Anton ,
" Astagfirullah den Anton, duh
sareng saha ieu meuni geulis. Walah tos gaduh kabogoh deui ayeuna, alhamdulillah ya Allah!"
(\=Astagfirullah den Anton, duh bersama siapa ini cantik sekali. Walah sudah punya kekasih baru lagi sekarang, alhamdulillah Ya Allah)
Anton masuk kedalam sambil berkata" Assalamualaikum...Bi Encum meuni rame wae..gandeng euy...".
(\=Bi Encum ramai sekali, bising tau)
Bi Encum tertawa-tawa, lalu melihat Mela dan berkata,
" Neng hayu masuk sini, jangan malu-malu. Sudah ditunggu sama Cici disana".
Melapun masuk dengan malu-malu dan tampak bingung dengan situasi saat itu. Dia melihat Anton langsung masuk ke dalam seakan masuk ke rumahnya sendiri dan juga pembantu yang membuka pintu pun serasa mengenal baik kepada Anton.
Dari dalam tampak seorang wanita berhijab dan memakai gamis, kulitnya putih dan wajahnya cantik.
Dia melambaikan tangan memanggil Mela untuk masuk kedalam ke ruang keluarga.
Mela dibawa Bi Encum masuk ke ruang keluarga yang sangat mewah dan nyaman.
Lalu Mela bersalaman dengan wanita tadi.
"Hai, saya Anita kakaknya Anton, ini tadi bi Encum emak-emak super rewel di rumah kami," ujar Anita saat bersalaman dan sambil menunjukan tangannya kepada bi Encum yang hanya tertawa-tawa saja.
Mela masih terkejut dan terkesima mulai menyadari ternyata dia sedang berada di rumah keluarga Anton.
Lalu Anita mengajak masuk lagi ke ruangan lain yaitu ruang makan.
Dari tadi saat masuk pintu depan Anton langsung masuk ke dalam tidak mengajaknya dan tak nampak sosok Anton entah dimana.
Mela duduk di meja makan besar, diatasnya tersedia banyak hidangan yang menggugah rasa laparnya.
"Ton !!! Sini sih dimana kamu tuh?!" kakaknya berteriak memanggil Anton.
Tak lama dari atas tangga tampak turun Anton sambil menggendong anak kecil perempuan yang sangat lucu.
__ADS_1
"Pantesan langsung hilang, rupanya sama si gadis kecil, sini sama bunda biar oom Ton makan dulu".
Tapi si gadis kecil malah memeluk erat pamannya sambil matanya memandang Mela.
"Itu siapa oom? Pacal oom yah?," tanyanya kepada Anton.
Anton hanya memandang si gadis kecil yang mulai terlihat wajahnya menahan tangis.
"Oom Ton nanti engga sayang Kei lagi dong," katanya lagi sambil mulai terisak.
Anton memeluk gadis kecil dengan erat dan berkata,"Oom sayang sekali sama Kei". Lalu dia mencium kening anak itu.
Dan anak kecil itu sama sekali tak mau lepas dari pelukan Oomnya walaupun ibunya sudah membujuknya.
Setelah mencuci tangan kemudian merekapun mulai makan, ketika sedang makan tiba-tiba suaminya Anita pulang.
Lalu diperkenalkan juga kepada Mela.
"Ini rupanya temanmu Ton, pantesan kamu semangat membantu yah," katanya sambil senyum-senyum kepada Anton.
Dan Anton hanya diam sambil kembali makan dengan si anak cantik masih bertengger dipangkuannya.
Setelah makan Anita mengajak semua duduk di ruang keluarga. Mela dari tadi tampak canggung tidak berani banyak bicara.
"Mela mau buat skripsi yah, tentang apotik dan klinik kami. Waktu itu pernah ada juga yang membuat skripsi. Sebentar saya ambil yah," kata Anita sambil beranjak menuju ke suatu ruangan yang seperti perpustakaan.
Rumah ini sangat luas, besar dan mewah, Mela merasa serba kikuk. Bahkan rumah Wak Haji Darma juga tidak sebesar dan semewah ini.
Lalu Anita kembali dan memberikan sebuah buku yang tampaknya seperti skripsi seseorang.
"Ini sewaktu 5 tahun lalu ada yang minta ijin untuk mengangkat tempat usaha kami menjadi skripsinya. Kamu baca saja dulu, agar kamu bisa dapat gambaran tentang tempat usaha kami ini. Hanya sekarang memang berbeda dengan 5 tahun lalu, ada beberapa penambahan kerjasama lagi," panjang lebar Anita menuturkan perihal skripsi.
"Baik bu, terima kasih saya pinjam dulu untuk dipelajari," kata Mela.
"Jangan panggil ibu, saya kakaknya Anton kok. Panggil saja Cici kayak Anton panggil saya".
Mela merah mukanya karena Anita sangat ramah kepadanya. Dia merasa kikuk dan malu sekali.
"Kamu disini santai saja, nanti kamu nginap disini. Sudah saya siapkan kamar untuk tamu. Besok kamu saya kenalkan kepada Pertiwi, dia itu bagian keuangan nanti kamu bisa tanya banyak sama dia. Saya sudah bilang sama dia kemarin," kata Anita lagi sambil tak pernah lepas senyum di wajahnya.
Kemudian Fajar masuk dan duduk di kursi dekat istrinya.
"Kamu kenal Anton dimana?"
tanyanya kepada Mela.
"Di paviliun pak, saya kebetulan pengurus paviliunnya," jawab Mela.
"Jangan panggil pak, samakan saja sama Anton panggil Ko Fajar saja," Kata Fajar kepada Mela.
"Iya Mela, kamu santai saja sih jangan tegang. Dari tadi kamu kelihatan gimana deh," Anita duduk mendekati Mela.
"Anton lagi menidurkan dulu Keiza anak saya, dia memang sangat dekat dan manja kepada Oom nya".
Mela hanya tersenyum kikuk.
"Kamu pengurus paviliun disana, dan bekerja disana juga?"tanya Anita.
"Iya bu..eh..Cici..saya pegawai toko besi dan juga pengurus paviliun di Cirebon. Kebetulan itu milik paman saya. Dan untuk paviliun segala keperluan dokter saya yang menangani," Mela menceritakan pekerjaannya.
"Mengurusi keperluan Anton seperti apa?"tanya Fajar pas kebetulan Anton masuk ruangan tersebut setelah menidurkan keponakannya.
"Hem.. seperti mencuci pakaian, menyapu dan membersihkan paviliun juga misal dokter butuh makan sesuatu atau minta dikupaskan buah seperti itu saja,"jelas Mela kepada keduanya.
"Kayak pekerjaan istri saja yah bun, kenapa tidak dijadikan istri saja yah sekalian. Bener engga bun,"ujar Fajar setengah menyindir Anton.
"Iya bener, kalau aku jadi kamu Mela, pasti sudah minta dinikahi saja sekalian,"Anita malah mendukung suaminya.
Anton terdiam, apalagi Mela dari tadi berasa kepingin lari sembunyi. Dia bingung tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan dan pernyataan kakaknya Anton.
Wajahnya memerah seperti kepiting rebus dan dia salah tingkah, bingung tak karuan.
" Cici sama ko Fajar tuh bikin orang gemetar saja. Kesian tuh Mela dari tadi digodain saja," kata Anton sambil melirik kepada kedua kakak dan iparnya.
"Justru kamu harus mikir Anton, anak orang disuruh ngurusin kamu itu dan ini, bukannya cepetan kamu nikahi saja," tegur Anita sambil melotot mengerjai Anton.
"Sudah aku mau pulang dulu, Mela kamu disini yah. Saya pulang dulu ke rumah orang tua saya. Besok saya kemari lagi".
Mela tambah ciut hatinya mendengar Anton akan meninggalkan dia di sini. Berarti mereka berbeda rumah dengan kakaknya disini.
"Geus aman didieu jeung cici si Neneng na mah, engke isukan rek diajaran sina gancang dikawin ku maneh,"Kata kakaknya dalam bahasa Sunda sambil menggoda adiknya.
(\=Sudah aman disini bersama Cici si Neneng sih, nanti besok mau diajarkan cara agar cepat kamu nikahi)
"Tah Cici mah sok hereuy wae, ulah kitu ah. Bisi eraeun karunya," kata Anton memohon agar kakaknya jangan menggoda Mela lagi.
(\=Nah Cici suka bercanda saja, jangan begitu. Nanti dia malu kasihan)
Kakak iparnya pun menggoda ,
"Jangan khawatir dia akan malu, pasti nanti diapun akan suka".
Fajar tidak bisa berbahasa Sunda tapi memahami karena dia adalah orang dari Batam.
Anton lalu segera keluar rumah karena sebal digoda terus oleh kakaknya.
Tinggal Mela sedari tadi bingung tidak tahu harus bagaimana, sekarang dia sendirian di ruang keluarga.
Tak lama Anita dan Fajar masuk lagi ke ruangan dan Anita menunjukkan kamar buat Mela. Ternyata letaknya disebelah ruang makan tadi. Sejak tadi datang Mela sangat tergoda dengan tampilan pisang Cavendis kesukaannya yang berada di keranjang buah di sebelah meja makan. Lalu dengan malu-malu namun tak kuat sudah ngiler dia berkata kepada Anita," Cici maaf saya lancang, apakah boleh saya minta buah pisang disana?"
Anita menoleh lalu tertawa mendengarnya, "Ya ampun ambil saja neng, jangan kamu malu-malu. Sini ikut saya, ayo ambil mau buah apa yang kami mau".
Lalu Mela mengambil pisang dan memakannya. Ketika sedang asik makan, masuklah Fajar dan melihatnya.
" Wah Bunda, cocok dia sama Anton karena sudah suka pisang,"katanya sambil tertawa dan Anitapun ikut tertawa mendengarnya.
Mela hanya senyum saja sambil terus melahap pisang kesukaannya. Dan melihat cara makan Mela, kedua suami istri itu malah makin cekikikan.
Sementara di dalam mobil Anton senyum-senyum sendiri, dia bingung entah benar dia sedang jatuh cinta lagi atau hanya semata kasihan melihat Mela.
__ADS_1
Antara Mela dan Triana mantan kekasihnya dulu jika dibandingkan secara fisik sangat jauh sekali.
Triana dulu adalah bintang kampus di masanya, bahkan ketika dia terlihat di kejauhan beberapa waktu lalu, walau sudah tampak gemuk tapi masih terlihat cantik.