
Anita tampak sedang berbicara dengan serius melalui telepon kantornya.
Dia sedang membahas pengiriman obat yang aneh dengan salah satu apotik lain yang sejawat dengan tempat usahanya.
"Betul yah bu Dea, ternyata sama yah PT. GOLDEN Farmasi itu kalau mengirim obat seenaknya sendiri yah,"ujar Anita kepada seseorang di seberang telepon yang dipanggil ibu Dea pemilik apotik Sehat Farma.
"Benar ci Anita, di sini masih ada dua dus obat yang sama yang belum terjual dan mereka sudah mengirim lagi dong dua dus lagi. Saya juga tak habis pikir dengan cara penjualan mereka," terdengar ibu Dea mengeluhkan hal yang sama dengan Anita.
"Sama bu Dea, mereka juga tadi mengirim lagi dua dus kepada kami. Sementara stock yang kemarin juga belum terjual semua. Nanti malah menumpuk di apotik, Kalau sampai kita lupa nanti tetap harus bayar juga, bisa rugi nanti deh,"keluh Anita.
"Ya justru itu ci Anita, hampir semua apotik mereka perlakukan demikian. Begini saja kan nanti awal bulan kita ada pertemuan rutin pedagang farmasi sekalian arisan, nanti ketika kumpul kita tanyakan apakah mereka sama tidak diperlakukan seperti kita oleh pihak PT. GOLDEN, kalau sama nanti kita harus bersama-sama mengajukan perjanjian kesepakatan," saran ibu Dea kepada Anita.
"Kemungkinan sama bu, kemarin suami saya bertemu dengan Pak Haji Saedi pemilik apotik Insan Bahagia, katanya sama begitu juga. Menurut beliau itu trik dagang manager area PT. GOLDEN yang namanya Miranti kalau tak salah," kata Anita menyampaikan berita dari suaminya.
"Aaaiiihhhh....cici Anita hati-hati sama Miranti, itu yang suka pakai baju seksi. Tukang goda suami orang, dokter Jaka tuh kena sampai ribut istrinya minta cerai," mulai deh ibu-ibu bergibah.
"Walah....amit-amit yah bu...oke deh nanti kita ketemu di kumpulan saja yah, nanti kita janjian lagi yah,"kata Anita mengakhiri perbincangan.
Anita malas kalau sudah menjalar ke gibah, karena gosip dan rumor itu belum tentu benar.
Setelah menutup telepon dia melihat para stafnya yang juga sedang menanti berita dari dirinya.
"Benar Tiwi... ternyata semua apotik dikirim juga padahal tidak pesan, aneh yah perusahaan itu," kata Anita memulai pembicaraan.
Sambil mengelus perutnya yang kian membuncit, Pertiwi berdiri mendekati dus yang sedang dipegang Wahyu.
"Nah ini ada dua lagi baru datang, Wahyu yang terima tadi . Jadi kita bagaimanakah yah ci?"tanya Pertiwi kepada Anita.
"Tadi yang kirim bilang apa sih Yu?" Anita coba bertanya kepada Wahyu.
"Nah itu bu, Wahyu mohon maaf karena belum hafal. Tadi saya langsung terima dan tanda tangan surat jalannya. Karena saya pikir memang pesanan,"kata Wahyu sambil merasa bersalah.
"Begini deh lain kali kalau ada kiriman barang lagi, tolong siapapun yang terima nanti konfirmasi dulu sama mbak Pertiwi atau ke saya langsung. Jangan ditanda tangani dulu surat jalannya," kata Anita kepada semua yang disitu.
"Wahyu sekarang jadi catatan buat kamu yah, pokoknya ada yang kirim barang apapun tanya dulu ke dalam jangan langsung kamu tanda tangan apapun".
"Iya bu, Wahyu minta maaf, karena lalai langsung main terima saja. Jangan pecat saya yah bu,"ujar Wahyu sambil memelas ketakutan.
Semua yang di ruangan langsung tertawa mendengarnya.
"Astagfirullah Wahyu...hahahaha..sudah dari pada kamu bingung. Bawa dus itu ke gudang belakang, itu ruangan besar yang ada di belakang mess. Di sana ada rak berjajar, kamu simpan disalah satu rak, nih spidol nanti beri tanda di kertas yang menempel di rak. Tulis tanggal juga nama perusahaan yang tertera di dusnya,"kata Anita sambil meminta Wahyu menyimpan kedua dua obat tadi.
Lalu Wahyupun membawa kedua dus obat menuju gudang, dalam hatinya dia bersyukur tidak dimarahi habis. Tapi kesalahan tadi akan dia ingat kalau lain kali dia harus menanyakan tentang barang kiriman yang datang, harus konfirmasi dengan bagian kantor.
Wahyu sampai di gudang, sebelumnya dia belum pernah masuk ke ruangan ini sendirian. Dengan agak takut dia masuk perlahan ke dalam gudang yang agak gelap.
Dia melihat di salah satu sudut ada rak yang masih agak kosong lalu dia menuju ke rak sana.
Saat menyimpan rak tersebut tak sengaja dia menyenggol sesuatu dan kemungkinan tumpah.
GLOTRAK !!!!!
Tentu dia kaget dan segera mencari sakelar lampu untuk menyalakan lampu gudang. Akhirnya ketemu juga dan setelah lampu menyala dia mencari barang yang kemungkinan tadi tumpah.
Dia memeriksa ke belakang rak, dan ternyata hanya botol air mineral bekas yang jatuh tadi. Rupanya ada orang minum dan lupa membuangnya.
Saat hendak beranjak dia melihat ada sesuatu di belakang rak tadi yang ditutupi kain terpal.
Timbul rasa penasarannya dan dengan hati-hati dia mendekati kain tadi lalu membukanya.
Dilihatnya ada sebuah sepeda motor besar berwarna merah hitam type Ninja 250 CC.
Motor mahal, walaupun tampak sudah lama tapi harganya masih selangit. Motor idaman pria, karena pasti sangat gagah kalau pria menggunakan motor seperti itu.
Cuma dia perhatikan lagi ada yang aneh, ternyata bagian mesinnya sudah terbelah, setangnya patah dan bagian tengah juga tampak bengkok ke kiri.
Dalam hatinya Wahyu merasa sangat menyayangkan kondisi motor mahal malahan seperti demikian.
Lalu dia ingat kaki Anton, dalam hatinya bertanya-tanya apakah motor ini penyebab kakinya Anton hilang satu.
"Woi... lagi ngapain kamu Yu?"tanya Yanto yang masuk ke gudang karena heran melihat pintu gudang terbuka dan lampunya menyala.
"Hai To, ini aku habis simpan dus obat lalu ada yang jatuh ternyata botol mineral bekas. Aku lihat ke belakang rak kok ada motor ini. Punya siapa ini?" tanya Wahyu kepada Yanto yang baru datang.
"Oh itu dulu oom Anton bro, kecelakaan dulu sampai kakinya hilang satu tuh. Dia nabrak orang juga sampai seketika meninggal," jawab Yanto.
" Walah...ngeri juga yah... emang kecelakaannya dulu dimana sih?"tanya Wahyu lagi sambil memandang miris motor tersebut.
"Kalau tak salah yah itu kejadian sudah lama, ada 7 tahun kebelakang deh. Sekitar Cirebon kalau tak salah. Oom Anton juga sampai koma 5 bulan loh. Nabrak pegawai kelurahan kalau tak salah,"cerita Yanto kepada Wahyu.
Cirebon.... pegawai kelurahan....
7 tahun lalu.....
Semua terasa tidak asing dengan kehidupan Wahyu.
__ADS_1
Yah 7 tahun lalu saat dia masih Sekolah Dasar, ayahnya yang seorang pegawai kelurahan dibawa pulang ke rumah dalam keadaan meninggal dunia.
Ayahnya ditabrak seorang pengendara sepeda motor besar sampai meninggal seketika.
Dia masih ingat kepala ayahnya bocor, darahnya bercucuran bahkan sampai hendak dimandikan dan dikafani semua orang cukup kesulitan karena darahnya terus mengucur.
Sampai akhirnya setelah dibantu oleh tindakan tim medis maka tetesan darahnya bisa dihentikan.
Padahal saat itu menjelang dia naik kelas 6 SD, dia harus menghadapi kenyataan seperti itu saat dia pulang sekolah.
Motor tadi kemudian dia tutup kembali, dan segera dia mematikan lampu gudang dan menutup pintunya lalu kembali ke apotik bersama Yanto.
Sambil berjalan dia sambil berpikir, apakah ada hubungannya kejadian Anton dengan kematian ayahnya.
Dia hanya bisa menghela nafas sambil berusaha untuk melupakan hal itu.
Sore harinya hujan cukup deras, apotik tidak banyak yang membeli mungkin karena hujan.
Namun pendaftaran dokter umum, dokter mata dan klinik konsultasi psikologi sudah ada dalam catatan, perkiraan sekitar dua jam lagi baru akan mulai operasional.
Wahyu sedang berbincang bertiga dengan Yanto dan juga salah satu pegawai wanita yang bernama Sila. Biasa saling bercanda cerita yang lucu dan juga saling ledek antar karyawan.
Karena hujan maka perut suka ikutan kruyukan terasa lapar.
Tiba-tiba di halaman apotik berhenti sebuah mobil, kemudian turunlah sepasang kakek dan nenek sambil tampak membawa beberapa bungkusan plastik.
Lalu mereka masuk ke dalam apotik dan serentak karyawan yang melihat langsung mendekatinya.
Wahyu masih tampak bingung, dia belum paham siapa kedua orang tua tadi.
"Wah pak Salim, bu Salim, selamat sore," sapa Yanto sambil menyalami keduanya.
Lalu diikuti oleh Sila dan juga beberapa karyawan lain yang melihat langsung berlarian menyalaminya.
Yanto segera memerintah Wahyu untuk menyalami juga.
"Ini boss yang punya perusahaan bro," kata Yanto kepada Wahyu.
Wahyupun menghampiri dan menyalami keduanya.
"Kamu baru bsaya lihat, apakah kamu adiknya Mela?" tanya pak Salim.
"Wahyu mendongak dan berkata," Benar pak..".
Namun seketika dia tercekat, karena jelas dia masih ingat bapak dan ibu ini adalah orang tua dari pengendara motor yang menabrak ayahnya dulu.
Dia ingat bagaimana kedua orang tua inipun ikut menangis, mereka sangat prihatin dengan kehidupan keluarga Wahyu.
Harus ditinggalkan oleh kepala keluarga secara tiba-tiba, sementara ketiga anak-anaknya masih membutuhkan biaya sekolah.
Wahyu berusaha menahan perasaannya yang tiba-tiba berkecamuk. Dia merasa seperti dihadapkan kepada beberapa tahun lalu saat berhadapan dengan kedua orang tua ini.
"Oh, Wahyu yah kamu. Terima kasih yah kamu sudah mau bergabung di sini dan kamu juga jadi teman baiknya Keiza," kata pak Salim lagi dengan ramah.
Memang cucu bapak dan ibu Salim yang bernama Keiza itu sekarang sangat dekat dengan Wahyu.
Disaat luang dia pasti menemani Keiza bermain, dan tentu Anita dan Fajar orang tuanya Keiza sangat senang. Karena selain bermain, Wahyu juga suka mengajarkan anaknya doa-doa pendek.
Jadi sambil bermain Wahyu selalu mengajarkan doa pendek, dan Keiza harus mengingatnya. Kalau Keiza lupa, Wahyu berpura-pura tak mau menemani.
Jadi Keiza harus bisa menyebutkan dulu misalkan doa makan, atau doa sebelum tidur, baru setelah itu Wahyu menemaninya bermain.
"Iya Wahyu terima kasih yah, Keiza jadi banyak ingat doa pendek kata bundanya karena diajari oleh Wahyu," Aryani atau disebut ibu Salim menimpali sambil tersenyum.
Lalu Aryani membuka bungkusan yang dibawanya, ternyata itu kue buatannya sengaja dibawa untuk dibagikan kepada semua karyawan.
"Alhamdulillah bu Salim, selalu tahu kami sedang kelaparan," ujar Sila menyambut gembira saat kotak kue dibuka.
Wahyupun mengambil kue itu dan memang kuenya enak dan masih hangat.
"Mamah dan Papah kok naik taksi online kemari, kenapa tidak telepon, kebetulan Fajar sedang diluar padahal bisa sekalian jemput," kata Anita saat mengetahui orang tuanya datang lewat pintu apotik pula.
"Tidak apa Nita, ini sambil sesekali memberi kejutan membawa kue," kata ayahnya sambil tertawa.
Suasana sore yang menggembirakan
di apotik, penuh kehangatan dan kekeluargaan.
Di satu sisi Wahyu merasa nyaman namun sekarang dia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa saat ini dia berada di antara keluarga yang telah menghilangkan nyawa ayahnya.
Tapi pikirnya sekarang kak Mela sudah menjadi kekasih Anton, masa kakaknya tidak tahu kalau Anton adalah penabrak ayahnya.
Tentulah pasti tahu, kak Mela sudah memaafkan mengapa dia tidak. Bahkan kak Mela sampai mau menjadi istrinya, tentu kak Mela punya pertimbangan tersendiri.
Pak Salim sore itu mengajak cucunya bermain, dan sang cucu minta ditemani main bola di halaman depan rumahnya.
__ADS_1
Hari itu sehabis hujan, sang kakek terlalu semangat menendang bola hingga saking semangat terjatuh terpeleset.
Kakinya keseleo, lalu sang kakek dipapah dibawa ke dalam oleh anak dan menantunya.
"Aduh... sakit Nita...kaki Papah.....
sakit ,"Salim mengernyitkan wajahnya menahan sakit saat duduk di sofa.
"Papah tuh sudah tahu licin, pake nurutin Keiza main bola... deuh ...Jadi saja begini kan, "kata Anita sambil mencoba meluruskan kaki ayahnya.
Fajar juga memeriksa kaki mertuanya dan terlihat kemungkinan otot kakinya terseleo karena terlihat membengkak.
"Sebenarnya bisa segera sembuh sih kalau di urut, cuma agak sakit pah," kata Fajar kepada mertuanya.
Wahyu kebetulan masuk ke dalam rumah sambil membawa berkas yang diminta Fajar.
Dia melihat pak Salim kesakitan, lalu setelah tahu kakinya terkilir diapun menawarkan diri untuk mengurut kakinya.
"Kamu memangnya bisa Yu?"tanya Fajar.
"Bisa sedikit, saya belajar dari pak Ustad di kampung. Beliau memang bisa menyembuhkan orang terkilir, keseleo seperti itulah boss," kata Wahyu sambil senyum.
"Kamu itu bas bos bas bos aja.. udah cepetan coba saya lihat beneran bisa engga pijat urut, awas kalo engga bener aku botakin kamu...hahaha..," Fajar memang suka ngasal sambil bercanda.
Wahyu minta body lotion, dan mulai mengurut kakinya Salim yang keseleo.
Awalnya Salim sangat kesakitan namun ternyata memang Wahyu tangannya mantap, kaki Salim berangsur sembuh.
"Waduh kamu hebat, Wahyu ini musti dikembangkan nih bakatnya loh,"
kata Salim yang kini sudah lebih enakan kakinya.
"Untung ada Wahyu, jadi bisa berkurang sakitnya. Besok main bola lagi saja sana, biar kayak Anton sekalian," kata Aryani istrinya sambil kesal melihat suaminya.
"Hmmm tega sekali istriku,"kata Salim sambil mencebikan bibirnya.
"Iya sudah tua tapi masih saja suka sok jago," Aryani masih tampak kesal.
Wahyu hanya tersenyum melihat kedua orang tua ini yang suka saling marah - memarahi satu sama lain.
Dia ingat dulu juga ayah dan ibunya selalu saja seperti orang bertengkar, tapi mungkin itu tanda cinta dan sayang mereka .
Wahyu lalu tak sengaja memandang foto besar yang terpampang di ruang keluarga, ada rasa sedih karena dia tidak akan pernah punya foto seperti itu.
"Kamu kenapa Wahyu, kok seperti sedih begitu?"tanya Salim kepadanya.
"Ah tidak, saya terkadang suka ingat sama almarhum ayah,"kata Wahyu sambil berkaca-kaca.
"Disini ada ayah dan ibu juga, kamu dan Mela sudah seperti keluarga dan bahkan mungkin akan segera menjadi keluarga. Panggil saja saya Papah dan Mamah, jangan kamu sungkan,"Kata Salim sambil seraya merangkul pundak Wahyu.
"Ayahmu dulu meninggal karena sakit apakah, Wahyu ? " Aryani bertanya sambil menatap Wahyu.
Wahyu terdiam, dia merasa sulit sekali berkata-kata karena dia tak tahu apakah harus berkata apa adanya atau bagaimana dia sulit mengucapkannya.
"Mamah... Papah... apakah masih ingat dengan almarhum bapak Suganda orang desa Sindanglaut Cirebon?"tanya Wahyu perlahan.
Salim dan Aryani saling berpandangan sambil terkejut.
"Ya tentu kami ingat, apakah kamu itu saudaranya ?" tanya Aryani terkejut sambil bibirnya bergetar.
"Saya anak SD yang berdiri di belakang ibu Marsinah yang selalu memegangi bajunya sambil mengintip, " jawab Wahyu dengan perlahan sambil menundukkan kepalanya.
"Masyaallah..... Astagfirullah... Wahyu... benarkah itu kamu?! "tanya Aryani sambil menjerit.
"Iya Mah benar, saya anak pak Suganda. Berarti benarkah kak Anton yang sudah menabrak ayah?," Wahyu mulai terisak.
Lalu Aryani segera beranjak berdiri menghambur memeluk Wahyu.
"Wahyu... maafkan mamah nak... maafkan papah juga nak... kami sudah lama tidak ke Sindanglaut... maafkan kami nak...,"Aryani menangis sambil memeluk Wahyu.
Salimpun mendengar penuturan Wahyu langsung bergerak mendekati sambil kaki tertatih.
"Wahyu... maafkan papah juga nak, bukannya kami melupakan kalian tapi kami memang sudah tua, kami lupa nama desamu juga lupa jalannya,"Salim juga memeluk Wahyu dengan erat.
Anita dan Fajar baru selesai urusan di apotik dan mendapati ketiganya sedang menangis. Lalu mereka mendekati, mereka menanyakan ada apa, ketika Aryani mengatakan kebenaran tentang Wahyu. Seketika Anitapun menangis dan berjalan memeluk Wahyu.
Setelah mereda bertangisan merekapun duduk bersama di sofa, lalu Fajar selaku perwakilan keluarga menceritakan pada Wahyu tentang sesungguhnya tragedi itu terjadi.
Dan juga menyampaikan bahwa kedua orangtuanya sangat ingin menyambangi mereka lagi tapi karena usia dan waktu dulu kesana kondisi pak Salim dan istri juga sedang kacau karena Anton koma 5 bulan lamanya dan juga kakinya harus diamputasi.
Fajar juga menyampaikan pada Wahyu bahwa keluarga besarnya sampai saat ini masih sangat merasa bersalah dan sesungguhnya ingin membantu lebih banyak. Namun kondisinya waktu itu terputus komunikasi dan juga kendala Anton yang harus mendapatkan segala perawatan lebih.
Wahyu akhirnya memahami hal itu dan dia tidak menyangka ternyata akan bisa dipertemukan seperti ini.
"Anton dan Mela belum tahu hal ini, apakah kita harus memberitahu mereka?" tanya Aryani kepada Fajar.
__ADS_1
"Jangan mah, biarkan mereka tahu sendiri nanti".
"Kita tidak bisa menyampaikan karena nanti bisa fatal. Biarkan waktu yang akan membuka tabir ini,"ujar Fajar dengan bijaksana kepada seluruh keluarganya.