Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keempat Puluh Satu


__ADS_3

Hari sabtu mendatang Mela akan diwisuda, dia sedang duduk di depan Anita mengajukan ijin cuti mulai dari hari kamis.


Karena hari Kamis nanti adik keduanya yaitu Rahman akan menikah dengan Atikah gadis yang bekerja di toko yang bersebelahan dengan bank swasta tempat Rahman bekerja.


Hubungan mereka sudah cukup lama sudah 10 bulan, namun pihak keluarga Atikah ingin segera keduanya segera menikah.


Rumah kediaman Atikah masih sekitar satu jam dari kampungnya keluarga Mela yaitu Desa Wanasari ke arah Kabupaten Brebes kota penghasil telur asin.


Atikah selama ini tinggal di rumah sewaan bersama dengan tiga kawannya. Untuk itu keluarga Atikah khawatir, agar tidak terjadi fitnah maka minta segera Rahman menikahinya.


Pernikahan akan diselenggarakan di rumah kediaman Atikah, dan rencana rombongan dari desanya akan turut menghantarkan calon pengantin pria kesana.


"Mela yakin keluargamu cuma mau pakai mobilnya Anton saja...akan cukup tidak?"tanya Anita saat Mela mengajukan ijin cuti selama tiga hari.


"Insyaallah cukup cici...karena untuk rombongan saudara lainnya sudah ada yang menyiapkan. Jadi rencananya di mobilnya Anton hanya Rahman, ibu , Jaya yang menyetir lalu Anton dan saya,"Mela menjelaskan kepada Anita.


"Baiklah....tapi katamu Anton dari kemarin sulit dihubungi, kemana anak itu," kata Anita merasa ada yang aneh adiknya sulit dihubungi.


"Telepon genggamnya selalu diangkat Jaya, katanya Anton sedang sibuk sekali...tidak apa-apa sih....mungkin memang benar demikian,"Mela menjelaskan lagi kepada Anita dengan harapan tidak khawatir tentang adiknya.


"Ya semoga tidak ada apa-apa yah... karena adikku itu memang suka kumat, terkadang kalau punya masalah suka dipendam sendiri".


Beberapa hari ini memang Anton sulit sekali dihubungi, padahal Mela ingin menanyakan kesiapan Anton nanti untuk mengantarnya ke pernikahan adiknya dan juga wisudanya.


Walaupun Rahman adiknya sudah menyampaikan kalau wak Darma dan Surya juga akan datang membawa kendaraan jadi tidak perlu terlalu khawatir, tapi tetap ingin rasanya bersama kekasihnya


Sebenarnya pak Kuwu Bahar yang masih tergolong sepupu jauh dari pihak ayahnya juga akan membantu soal kendaraan, selain itu beliau juga memberi amplop yang cukup tebal untuk calon pengantin.


Namun entah mengapa beberapa hari ini Anton sulit dihubungi, selalu dijawab Jaya yang memberitahukan kalau Anton sedang sangat sibuk.


"Duh kayak artis bae...duwe demenan sibuk nemen...sekien bature kang jadi asisten,"guman Mela dalam hati karena cukup sebal kepada kekasihnya.


(\=Duh seperti artis saja, punya kekasih sibuk sekali, sekarang temannya yang jadi asisten)


Anita juga merasakan hal yang sama, beberapa kali mengontak adiknya untuk merencanakan pesta kecil atas wisudanya Mela. Tapi selalu saja Jaya lagi....Jaya lagi.....dan Jaya lagi.... mengangkat telepon dan menyatakan Anton sibuk sekali tidak bisa diganggu.


Fajar sudah mulai curiga ada yang tidak beres, tapi belum bisa memprediksikan apa yang terjadi.


Anita juga cemas, tapi dia berusaha untuk menenangkan diri dan berpikiran positif bahwa memang benar adiknya sedang sibuk sekali.


Tanpa mereka ketahui sesungguhnya Anton saat ini sedang menghadapi masalah yang rumit. Dari urusan dituding membunuh, harus beradu argumen dengan polisi sampai harus berada di sarang mafia yang ingin bekerjasama dengannya.


Atas permintaannya Anton kepada Jaya agar menutupi permasalahannya dari keluarganya di Bandung agar mereka semua tidak cemas.


Beberapa hari sebelumnya seperti biasa Anton memeriksa pasien yang sakit, dan kebanyakan pasien dokter Anton adalah orang yang berusia lanjut.


Kaum manula sangat senang diperiksa dokter Anton, selain ramah juga sangat perhatian kepada mereka.


Hari sudah menjelang sore perkiraan setengah jam lagi jadwal praktek harusnya sudah tutup. Pasien terakhir baru saja selesai diperiksa oleh Anton.


Sembari menanti resmi waktu tutup jam operasional, diapun melaksanakan ibadahnya dulu.


Tiba-tiba ada angkutan umum memasuki halaman puskesmas, ada kakek Sapto pasien lamanya Anton datang.


Sejak siang tadi beliau mengeluh sesak nafas, jadi dia minta anak dan cucunya mengantarkan ke puskesmas.


"Pak...wes ning rumah sakit bae yah... aja kesmas maning...ambir sekalian di rawat ning rumah sakit yaaaa,"Kami anak kakek Sapto ingin membawa ayahnya untuk dirawat di rumah sakit.


(\=Pak...Sudah kita ke rumah sakit saja, jangan ke puskesmas lagi, agar bapak segera dirawat di rumah sakit)


"Mong...kita pengen ning kesmas bae....ning dokter Anton bae...urip mati pokok jaluk ning dokter Anton bae..


mong dokter sejen...,"dengan suara lemahnya kakek Sapto meminta ingin diperiksa dokter Anton.


(\=Tak mau...aku ingin ke puskesmas saja, ingin dengan dokter Anton...hidup atau mati hanya ingin dengan dokter Anton tidak mau dokter lainnya)


Akhirnya Karno dan istrinya mengalah, lalu Karno meminta Romi anaknya untuk mencegat angkutan umum untuk membawa sang kakek ke puskesmas. Memang kalau sudah usia lanjut pasti kebanyakan seperti itu, kalau sudah percaya dengan satu dokter tidak akan mau ditangani dokter lainnya.


Tak lama Romi datang bersama kawannya yang supir angkutan umum yang sering dipanggil si Jabrik.


"Brik...amit sih gawa nang bapa tua kita jaluk ning kesmas...pengen berobat dokter ning kana," kata Romi kepada Jabrik meminta tolong mengantarkan mereka ke puskemas.


"Siap...,"kata Jabrik sambil segera melaju ke rumah Romi untuk membawa kakeknya ke puskesmas Jamblang.


Setelah masuk mobil, Jabrik membawa keluarga kawannya ke puskesmas setelah sebelumnya bernegosiasi harga dengan Karno ayahnya Romi.


Tak lama merekapun tiba di puskemas, dan kakek Sapto segera disambut oleh petugas untuk dibawa ke ruang prakteknya dokter Anton.


Di sana juga ada petugas kesehatan yang biasa disebut mantri, setelah kakek Sapto dibawa masuk ke ruangan praktek Anton, lalu segera menemui Anton yang baru selesai beribadah.


"Dok pasiennya kakek Sapto , sekaranh terlihat sesak nafasnya, oksigenasi saja yah dok?"tanya Rizal petugas Mantri kesehatan di puskemas.


"Oh...iya tolong oksigenasi... konsentrasi standar dulu 21% yah... sebentar saya segera kesana,"kata Anton sambil memasang kaki palsu kirinya.


Rizal segera bergegas kembali ke ruangan praktek Anton dan memasang oksigen untuk kakek Sapto.


Jabrik sambil merokok di halaman puskesmas melihat ada dokter berkaki palsu dan etnis Tionghoa, dia memandang dengan aneh.


Jabrik merupakan salah satu orang yang berpikiran sempit, memandang negatif orang dari suku atau etnis berbeda dengannya.


Karno dan Romi masih ada di ruangan praktek dokter, mereka melihat bagaimana Rizal dengan cekatan memasang selang yang terhubung tabung oksigen ke hidung kakeknya. Dan Rizal memutar tekanan oksigen sesuai petunjuk dokter Anton.


Anton tidak bisa berjalan atau berlari cepat, tapi dia berusaha segera ke ruang prakteknya sambil tertatih-tatih.


" Assalamualaikum, selamat sore pak Karno...selamat sore kakek Sapto... maaf saya baru selesai sholat... sebentar saya ambil jas dan stetoskop," Anton menyapa ramah pak Karno sambil tangannya membuka lemari yang ada di sana untuk mengambil jas dan stetoskopnya.


"Walaikumsalam, dokter Anton....biasa ini kakek sesak nafas...mau saya bawa ke rumah sakit agar dirawat malah menolak katanya ingin ketemu dokter, maklum sudah tua," kata Karno sambil memandang ayahnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anton sambil mengatur nafasnya lalu mendekati kakek Sapto yang sedang tertidur, Romi yang berdiri tak jauh dari situ melihat kakeknya membuka matanya saat dokter Anton menghampirinya namun sang kakek segera menutup matanya kembali setelah memandang Anton.


Anton membuka kancing baju kakek lalu menempelkan stetoskopnya ke dada kakek Sapto.


Dia terhenyak...lalu segera memeriksa nadi kakek Sapto dan matanya membelalak.


Tapi seakan tak percaya begitu saja, dia mencoba memompa dada kakek Sapto, namun memang detak jantungnya telah hilang.


"Pak Karno....kakek meninggal... innalillahi wa innalillahi rojiun....," kata Anton seraya mengusap wajah kakek Sapto.


"Astagfirullah...bapak....!!!! Pak....!!!," Karno mengguncang tubuh ayahnya yang ternyata sudah berpulang ke rahmatullah.


"Maafkan saya pak, sudah berusaha menolong semampu kami tapi mungkin Allah berkehendak lain. Kami turut berduka cita yah pak, "Anton mengucapkan turut bela sungkawa yang diikuti oleh Rizal.


"Heeèeiiii...dokter Cina...kau apakan kakekku!!!!"teriak Romi sambil menuding ke arah Anton.


"Tadi aku lihat kakek masih membuka matanya saat kau dekati....kau apakan kakek...pasti kau bunuh kakek!!!!"teriak Romi kepada Anton.


"Astagfirullah Romi....kakek memang sudah waktunya meninggal. Kamu jangan sembarangan bicara,"kata Karno kepada ayahnya.


"Dik...sabar...tadi kami sudah mencoba memberikan tindakan kepada kakekmu, bukankah dari tadi adik di sini melihat kami memasang oksigen untuk membantu pernafasannya,"ujar Rizal yang merasa tak enak mendengar ucapan kasar anak kemarin sore itu.


"Iya saya melihat bapak memasang oksigen tapi Cina ini memegang kakek saya lalu mati...pasti kau bunuh kakekku!!!!" masih Romi menuding Anton dengan memasang wajah penuh kebencian.


"Saya bukan membela diri, tapi bukankah pak Karno juga melihat saya hanya memeriksa detak jantung dan nadi ayah anda...saya tidak melakukan hal lain...saya memompa mencoba memberikan kejutan agar jantungnya aktif kembali namun memang beliau sudah berpulang dan itu diluar kuasa saya sebagai dokter, "kata Anton mencoba menjelaskan tindakan yang diperbuatnya barusan semata untuk menolong kakek Sapto.


Mendengar ada keributan, pak Tarmidi, Jaya dan beberapa kawan lain masuk ke ruang praktek Anton.


Lalu Rizal sambil membawa kain putih penutup jenazah kakek Sapto menuturkan kejadian yang baru saja terjadi.


"Benar nak...hidup mati seseorang Allah yang menentukan, kami pihak puskesmas hanya mencoba memberikan pertolongan yang terbaik," kata pak Tarmidi kepada Romi mencoba mencairkan amarah anak muda itu.


"Baik...kalian membela Cina ini...tapi kita belum selesai... , "katanya sambil tetap menuding Anton dan ujung matanya memandang tajam ke arah Anton.


Anton hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya menghaturkan sembah dan permohonan maaf mendalam kepada keluarga kakek Sapto.


Lalu jenazah kakek Sapto dibawa oleh ambulans milik puskesmas menuju ke rumah Karno.


Sementara Romi naik angkutan umum milik Jabrik temannya menyusul dari belakang.

__ADS_1


"Jabrik....dokter Cina kampret... kakek Sapto mati ditangan dia," kata Romi kepada Jabrik sahabatnya.


"Wah memang diapakan kakek Sapto oleh dokter Cina tadi?"tanya Jabrik dengan kaget dan memasang wajah emosi.


#author:sebenarnyamerekabicarapakaibahasacirebonankarenakebanyakanterjemahannantiauthorbingungsendiri.


"Aku melihatnya sendiri kakekku hanya diperiksa saja oleh dokter itu...cuma karena dia Cina jadi aku kesal...aku tak suka saja kakek mati ditangan Cina," Romi tidak menyadari kalau ucapannya itu membawa makna negatif yang bisa menjadi bahan provokasi.


"Benar kamu yakin kakekmu tidak diapa-apakan oleh dokter tadi....?"tanya Jabrik menegaskan lagi.


"Ya aku lihat sendiri, dokter tadi memeriksa dan menolong kakek..cuma karena dia Cina jadi aku sebal...itu saja..., "Romi memberikan pernyataan kembali bahwa dia tidak suka etnis lain.


"Rom....kita ramaikan saja yuk...Cina pasti banyak duit...kita peras saja.... besok setelah kakekmu dimakamkan kita panggil teman kita semua, kita takut-takuti Cina itu ...nanti dia pasti akan ketakutan lalu keluarkan duit buat bereskan masalah ...nah duitnya kita pakai buat pesta minuman keras,"ajak Jabrik kepada Romi yang memang merupakan anak labil.


"Benar juga yah...kita ajak anak kampung lebak...biar kita ramai - ramai ke puskemas. Nanti Cina itu ketakutan dan memberikan kita uang...cerdas kamu kawan..hahahaha, "Romi malah mendukung dan berpikir akan melakukan tindakan tak terpuji daripada memikirkan pemakaman kakeknya.


Setiba di rumah Karno, jenazah kakek Sapto diturunkan, dan setelah dimandikan lalu disemayamkan di masjid terdekat sore itu juga segera dimakamkan.


Sementara orang tuanya dan kerabat lainnya sibuk mengurusi pemakaman kakeknya, Romi dan Jabrik malah berkasak kusuk mengumpulkan kawan-kawan mainnya.


Sebagian besar tampak tertarik dan termakan omongan dari Jabrik kalau kakeknya Romi dibunuh dokter Cina yang praktek di puskemas.


Akhirnya terkumpullah sekitar tujuh orang tim perusuh yang besok pagi akan bergerak ke puskemas.


Setelah selesai pemakaman, tetangga sekitar mulai berdatangan karena akan melaksanakan doa tahlil.


Bahkan Rizal malam itu hadir ke rumah pak Karno sebagai perwakilan dari Puskesmas, tadi sore dokter Anton menggalang dana sebagai tanda bela sungkawa dari teman-teman puskemas.


Nilai terbesar dari kantong dokter Anton, kemudian dari pak Tarmidi. Biasanya Anton suka ikut hadir namun kali ini dengan alasan kepalanya agak sakit jadi dia meminta Rizal sebagai perwakilan.


Romi ditemani Jabrik bukannya turut dalam doa Tahlil malam itu, tapi mereka malah berkumpul di pinggir rumahnya bersama kelima kawan lainnya menyusun rencana untuk berdemo ke puskemas esok hari nanti.


Malam itu Jabrik seperti biasa mengajak beberapa temannya naik motor dan melakukan aksi menjambret atau menodong bahkan memalak orang-orang yang akan berangkat ke pasar induk untuk berbelanja bahan pokok.


Komplotan anak-anak begal yang selama ini memang digawangi Jabrik selalu eksis di sepanjang jalanan Cirebon - Bandung. Mereka menamakan komplotannya THE XATRO.


Romi salah satunya dari mereka, sebenarnya dia pelajar yang baik. Namun karena salah gaul dengan Jabrik maka dia sering terbawa nakal bahkan pikirannya mulai teracuni.


Beda kulit, beda suku, beda agama bisa menjadi pemicu bahan kerusuhan untuk anak-anak muda ini.


Intinya bukan karena benar benci tapi pura-pura benci dengan memanfaatkan perbedaan itu, memaksa pihak lain mengeluarkan uangnya.


Dengan mengancam kenyamanan mereka, membuat yang merasa berbeda terpojok lalu diminta sejumlah uang agar membuat mereka diam.


Uangnya untuk mabora alias mabok ramai-ramai.


Racikan minuman keras oplosan buatan Jabrik sangat terkenal bagi anak-anak muda galau.


Membuat diri menjadi berani melawan apapun juga setelah meminumnya.


Menjelang subuh Jabrik berhasil merebut dompet seorang wanita yang hendak belanja ke pasar Induk. Seorang ibu setengah baya yang tengah duduk di becak yang di gowes suaminya, setiap hari mereka terjaga jam tiga pagi untuk membeli kebutuhan pokok yang akan mereka jual pagi nanti di warungnya.


Jabrik subuh hari itu duduk di belakang motor miliknya yang dikendarai oleh salah satu kawannya.


Motor mendekati becak, dengan kakinya ditendangnya bapak yang sedang menggowes becak itu.


Becak terjungkal dan ibu di dalamnya terlempar keluar ke jalanan. Jabrik mendekatinya lalu merebut dompetnya dan segera melarikan diri dengan motor tadi sambil berteriak-teriak kegirangan.


Setelah menyusuri berbagai gang kecil sambil memainkan gas motor tibalah mereka di sebuah warung yang memang menjual minuman keras.


Dompet dibuka dan uangdi dalamnya banyak sekali. Lalu setelah uang diambil, dilemparnya dompet tadi entah kemana.


Minuman keras di tumpahkan kedalam plastik-plastik kecil agar tidak mencolok mata orang.


Saat matahari mulai menampakkan dirinya, plastik-plastik minuman dibagikan dan dengan langkah serasa gagah sebagian naik ke mobil angkutan umum milik ayahnya Jabrik dan sebagian lagi naik motornya masing-masing.


Anton dibonceng motor oleh Jaya, biasanya mereka masing-masing membawa kendaraan sendiri-sendiri. Namun karena Anton mengeluh sakit kepalanya maka Jaya memboncengnya.


"Bro...mampir dulu yuk ke nasi Jamblang Yu Nanik, siapa tahu sembuh sakit kepalanya,"Jaya mulai menggoda Anton.


"Sembuh itu kalau Yu Nanik memijat kepalaku...bukan makan disana... hahahah,"sahut Anton tak mau kalah.


"Memangnya berani mendobrak markas besar...,"sahut Anton lagi sambil mengetok helm Jaya.


" Hahahaha....kemarin ini markas besar hampir kebobolan....wah penjagaan kurang ketat bro.,"Jaya meledek Anton yang mengagungkan markas besar.


"Beda cerita itu sih...hahahaha...


Itu tikus menyelusup ke kandang macan.... ,"kata Anton membela diri dihadapan Jaya.


"Untung ada macan senior cekatan, macan yang ini sih kayaknya loyo....hahahah,"kata Jaya kembali meledek sahabatnya.


"Si*lan kau Jaya....hahahah," Anton menggetok helm Jaya beberapa kali.


Setiba dimuka puskesmas tampak ada angkutan umum parkir sembarangan dan di depannya ada beberapa anak muda membawa rantai, pisau, pipa besi dan parang.


"Oowww...ada apa gerangan?" Jaya menghentikan motornya tepat didepan kerumunan anak muda itu.


"TURUN KAU CINA !!!!"teriak Romi sambil ditangannya terhunus parang yang panjang.


" Eits...mau apa kalian...tolong jangan bikin rusuh di puskemas, kalau mau bicara baik-baik di dalam,"Anton sambil menurunkan kakinya dari jok belakang motor.


"KAMU BUNUH KAKEKKU...GANTI RUGI SEKARANG!!!!"Romi kembali berteriak sambil berdiri di depan mobil angkutan umum milik Jabrik.


"Hei....apa maksudnya ganti rugi... emang nyawa kakekmu mau kau hargai berapa?"tantang Jaya kepada Romi.


"BAPAK DIAM...AKU URUSAN SAMA CINA INI...!!!"


sambil parang yang ada di tangannya ditudingkan ke wajah Anton.


Jaya mulai gerah, lalu dia turun dari motornya dan berdiri disamping Anton.


"Kamu anak kecil jangan kurang ajar yah...kami ini lebih dewasa dari kalian...coba ngomong yang sopan dong !!!" Jaya dengan mulai geram memperingatkan anak-anak muda itu.


"Hajar Rom...hajar bae.... jangan takut... Mereka berdua kita banyak....!!!!" temannya memanas-manasi Romi.


"HABISI CINA....DOKTER TUKANG BUNUH ORANG!!!!!"


Mereka mulai berteriak-teriak menyudutkan Anton, memancing agar masyarakat sekitar bisa terpancing omongan mereka.


Dan benar saja orang-orang sekitar ada yang mulai terpancing, ditambah beberapa teman Romi mulai berkasak-kusuk kepada orang-orang mengatakan bahwa Anton seorang dokter pembunuh.


"Tangkap saja serahkan ke polisi.... Tangkap mereka....!!!!," beberapa orang berteriak seperti itu.


Romi tampak gusar saat beberapa orang berkata polisi.


Jabrik melihatnya dan segera dia maju mendekati Jaya dan Anton.


"Hei Cina...daripada urusan dengan polisi menjadi panjang...kita selesaikan saja...kau bayar dua puluh lima juta...urusan kita selesai,"Jabrik berkata memasang tampang sinis kehadapan wajah Jaya dan Anton.


Seketika Jaya dan Anton segera paham....anak-anak ini mau memeras mereka.


Anton mesem-mesem memahami tujuan anak-anak konyol itu, lalu jari telunjuknya ditekankan ke dada Jabrik sambil berkata, "Kalau gue gak mau bayar, elu mau apa!!!".


"ANJ*NG!!!!....CINA JANGAN SENTUH-SENTUH...DUIT BAE KELUAR BERES URUSAN...!!!".


"Terlalu sekali kalian...menuduh dokter Anton membunuh lalu kalian sekarang minta uang sebanyak itu....maksudnya apa !!!" Jaya tambah kesal saat Jabrik memaki Anton dengan kata-kata kotor.


"Maksudnya duit.... paham... duit.... Cina itu suruh keluarin duit...beres urusan...atau sekarang kami teriak panggil massa...habis kalian!!!ancam Jabrik lagi kepada Jaya dan Anton.


"Kalau cuma mau duit bukan gini caranya....tinggal bilang baik-baik nanti gue kasih....cuma seikhlas gue dong soalnya kan gue engga bunuh orang, "Anton mulai menyerang balik mereka.


Jaya mengangguk-anggukan kepalanya setuju atas pernyataan Anton.


"Sudah bawa saja ke polisi kalau benar dokternya membunuh!!!"teriak seorang ibu-ibu kepada mereka.


Jaya yang mendengar itu langsung berkata , "Ayo bawa saja kami ke polisi...kita selesaikan di sana".

__ADS_1


Tentu saja Jabrik tidak mau sampai melibatkan polisi, malah mereka yang akan bahaya kalau sampai ke tangan polisi.


Lalu dengan otak pendeknya dia malah mendorong Anton sampai jatuh, pikirnya dia akan mengancam Anton dengan pisau yang ada di tangannya kalau Anton tersungkur.


Pasti dalam keadaan tak berdaya Anton akan kalah pikirnya.


Anton tersungkur ke belakang dan saking kerasnya kaki palsunya sampai terlepas.


Jaya yang melihat Anton jatuh tak tinggal diam, dia juga menendang tangan Romi yang saat itu berdiri di hadapannya.


Parang Romi terlepas terpental jauh, lalu Jaya melayangkan tinjunya ke arah wajah Romi sehingga anak itu tersungkur.


Jabrik melihat Anton tampak tak berdaya dia segera bergerak ke arah Anton sambil menghunuskan pisaunya.


Sementara Anton ketika kakinya lepas segera berpikir cepat, dia raih kaki palsunya dan ketika Jabrik mendekat dia pukulkan kakinya ke arah tangan Jabrik lalu ke wajahnya.


Jabrik terhuyung dan pisaunya juga terlepas, Anton segera bangkit sambil meloncat dengan satu kakinya.


Teman-teman Romi yang lain melihat Anton segera berlari menuju Anton sambil mengacungkan senjatanya masing-masing...rantai ...pisau dan pipa besi...


Tapi Anton tak takut dia berbekal kaki palsunya mencoba menghajar anak-anak muda tadi.


Dia memukulkan kaki palsunya sekenanya ke arah mereka, ada yang kena wajah, dada maupun perut.


Jaya juga terlihat menghadapi beberapa anak-anak muda itu, ketika dirasa mereka akan mengeroyok...segera dia loncat ke motornya dan menyalakan mesinnya.


" BRO ...NAIK!!!!"


Antonpun seketika melompat ke bagian belakang motor Jaya dan langsung tancap gas.


Anak-anak muda itu bertambah panas hatinya, merekapun segera meloncat ke motornya masing- masing dan sebagian ke mobil angkutannya Jabrik.


Mereka mengejar Jaya dan Anton yang telah mendahului di depan mereka dengan mengemudikan motor sekencang-kencangnya.


Sampailah mereka ke jalan besar, dari belakang anak-anak tadi masih tampak mengejar... Lalu Jaya tak hilang akal segera dia mengemudikan motornya dengan cepat dan memasuki kantor polisi.


Setelah memarkirkan motornya, Jaya dan Anton segera memasuki kantor polisi tersebut.


Anak-anak konyol tadi melihat mereka masuk kantor polisi langsung menghentikan kejarannya.


" SETAAAAANNNN...masuk kantor polisi...kacau!!!!!"teriak Jabrik pada saat itu.


Saat mereka sedang kesal melihat Jaya dan Anton memasuki kantor polisi, tiba-tiba sebuah motor besar atau biasa disebut Moge alias motor gede mendekati mereka.


Terlihat dua orang pria tinggi besar bertato dan berkaca mata hitam menghentikan motornya sambil berkata," Hei siapa yang mimpin kalian di sini?".


Semua anak-anak terkejut dan lalu serentak memandang Jabrik.


"Hei kamu yah...siapa namamu?"tanya orang itu dengan tampang yang garang.


" Jabrik pak,"jawab Jabrik sambil agak takut-takut.


"Jabrik kalian ikuti saya...kang Japar mau bicara,"kata orang tadi minta anak-anak itu mengikutinya.


Jabrik terkejut mendengar nama Kang Japar, sebab nama itu adalah nama penguasa daerah situ.


Japar atau biasa dipanggil "kang Japar" adalah seorang disegani di daerah Jamblang.


Dia sesungguhnya seorang pengusaha tambak terkenal di daerah situ. Tapi dibalik usahanya itu dia juga menjalankan bisnis ilegal, yaitu pemasok minuman keras ke seluruh wilayah Cirebon.


Usahanya ini sebenarnya sudah lama dicurigai polisi, tapi dia membentengi usahanya dengan ketat sehingga sulit dilacak polisi.


Di usaha legalnya yaitu tambak udang di daerah pesisir, dia banyak membantu masyarakat.


Di daerah tempat tinggalnya rata-rata masyarakatnya sejahtera, jalan umum diperbaiki, mendirikan posyandu, setiap minggu membagikan sembako ke masyarakat miskin.


Bahkan yang lebih mencengangkan adalah rumahnya sengaja dia dirikan tidak jauh dari Kantor Polisi Sektor terdekat, agar dia bisa kenal dengan semua polisi dan mengelabui polisi-polisi.


Bila ada yang membuat kerusuhan atau kejahatan, Kang Japar membantu polisi untuk menangkapnya.


Kedapatan ada sekelompok orang berjudi, Kang Japar turun tangan menyerahkan mereka ke kantor polisi.


Dia menempatkan diri seakan dia kawan kepolisian, padahal dia lakukan itu untuk mengalihkan polisi mencurigai usaha ilegalnya.


Sebenarnya kepolisian sudah tahu usaha ilegal Japar, hanya belum ada kesempatan untuk menangkapnya karena dia terlalu licin sehingga sulit untuk polisi mendapatakan bukti otentik usaha ilegalnya.


Anak-anak tadi digiring oleh ke markasnya Japar, saat memasuki halaman rumah mewahnya Romi agak gemetar lalu menanyakan kepada Jabrik siapa sebenarnya Japar.


"Tenang...siapa tahu kita didukung kang Japar, jadi Cina tadi takut sama kang Japar lalu memberikan uang kepada kita," masih saja Jabrik berpikir seperti itu padahal dia tak tahu kalau bertemu Japar malah akan menjadi bumerang untuk anak-anak konyol itu.


Ketujuh anak itu duduk di satu ruangan besar nan mewah. Mereka semua duduk di lantai, tampak kedua orang berbadan besar bertato tadi ada di dalam situ dan bukan hanya mereka berdua saja karena ada lebih dari lima orang lagi berbadan sama sedang duduk-duduk dan menatap mereka.


Romi, Jabrik dan kelima temannya menunduk takut saat semua mata menatap mereka.


Tak lama masuklah seorang pria berkulit putih bersih, berpakaian kasual dan hanya bersandal jepit santai duduk dihadapan ketujuh anak-anak ingusan itu.


Sambil tersenyum lebar orang itu berkata, "Kalian bikin onar di wilayah kekuasaanku .... ada apa gerangan.... mengapa kalian tidak kemari dulu kalau ada masalah".


Suaranya lembut tapi bernada yang menyeramkan, penuh dengan misteri saat senyumnya melebar.


"Mengapa semua diam... tadi kalian berteriak-teriak memukuli orang sekarang kalian diam....takutkah kalian kepadaku?"tanyanya lagi sambil tetap senyum dan sekarang dia menghisap rokok yang apinya disulutkan oleh anak buahnya.


"Begini pak....,"kata Jabrik yang belum sempat meneruskan kalimatnya sudah dipotong orang tadi.


"Panggil aku kang Japar, lanjutkan omonganmu".


"Ehm...nnggg...Begini kang Japar, ini teman saya kemarin kakeknya dibunuh oleh dokter Cina yang ada di puskemas sana," Jabrik memulai ceritanya kepada Japar.


"Maksudmu puskesmas Jamblang?" tanya Japar sambil memandang tajam ke arah Jabrik.


"Iya benar kang...di puskemas Jamblang kemarin kakeknya teman saya ini dibunuh dokter orang Cina,"Jabrik meneruskan ceritanya.


Lalu Jabrik memandang Romi dan bertanya,"Siapa namamu...dan benarkah kakekmu dibunuh dokter kemarin?".


Romi mulai galau, dia bingung harus jawab apa. Sebenarnya dia tahu bahwa kakeknya tidak dibunuh siapapun, kemarin dia hanya ingin menggertak dokter Anton saja.


Nafasnya mulai menderu tanda galau dan dia memandang Jabrik. Lalu Jabrik memberi kode agar dia mengiyakan saja.


"Bbbbeeennnaaarrr kang Japar," jawabnya dengan ragu-ragu.


"Hmmm siapa namamu...kau belum menyebutkan,"tukas Japar sambil memandang Romi.


"Saya Romi kang...".


"Hmmm....Romi bagaimana caranya kakekmu bisa dibunuh seorang dokter, apakah kamu melihatnya?" Japar bertanya dengan senyum terkulum.


Romi bingung harus menjawab apa, karena dia tahu kalau kakeknya meninggal sewajarnya namun saat ditangani dokter Anton.


Lalu dia menatap Jabrik dan bertanya harus bagaimana.


"Sssttt...gimana nih..,"Romi tangannya menyenggol Jabrik.


"Bilang saja dicekik,"bisik Jabrik seenaknya.


"Nnnggg...kakek saya dicekik dokter," ujar Romi melanjutkan apa kata Jabrik.


"Dicekik dokter di puskemas... luar biasa...memangnya apa yang diperbuat kakekmu sampai dicekik dokter?"tanya Japar lagi sambil tertawa kecil.


Romi terlihat tambah bingung dengan pertanyaan Japar, tak tahu dia harus menjawab apa lagi.


"Dengar...saat ini dokter yang kalian maksud ada di kantor polisi di depan sini...aku rencananya akan membantu kalian untuk menjebloskan dokter tadi ke penjara...asalkan kalian jujur padaku,"kata Japar menahan tawa melihat kucing-kucing bodoh dihadapannya.


"Benar kang...dia melihat kakeknya dicekik dokter,"ujar Jabrik tiba-tiba berucap lagi sementara Romi sudah diam karena tak punya jawaban.


"Baik aku akan ke kantor polisi tak lama lagi untuk membawa kedua orang tadi kemari... agar kalian bisa puas menyiksa mereka".


Lalu Japar beranjak berdiri dan mencondongkan badannya ke arah Jabrik dan Romi, lalu dia berbisik,"Tapi kalau kalian membuat aku malu di kantor polisi.... kita lihat saja apa yang akan terjadi".

__ADS_1


Setelah berkata Japar melangkah keluar rumahnya, sementara ketujuh anak itu saling berpandangan dan mulai merasa cemas ketakutan.


__ADS_2