Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kedelapan


__ADS_3

Anton tiba di puskemas Jamblang, dan dia disambut oleh pak Tarmidi dan juga semua rekan lainnya.


Hari ini dia memulai prakteknya sebagai dokter umum disana.


Puskemas mulai buka operasional dari jam 07.30 sampai 15.00, kemudian boleh pulang. Hanya saja dokter umum harus bersiap kalau sewaktu-waktu di telepon ada yang mendadak harus segera diobati.


Di hari pertama cukup banyak pasien yang berobat, kebanyakan orang tua manula.


Semua pasien merasa cukup terkejut dengan penampilan dokter baru.


Jarang sekali melihat dokter yang etnis tionghoa mau bertugas di skala puskesmas.


Namun ternyata dokternya ramah dan menyenangkan. Dalam memeriksa penyakit dia sangat sabar dan seksama lalu memberika saran kepada pasien apa yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi atau dilakukan.


Selain itu dokter Anton juga sangat ramah kepada sesama rekan-rekan lainnya juga.


Dan yang membuat semua tambah terkejut saat Adzan terdengar dokter langsung menuju Musholla untuk beribadah.


Para wanita lajang yang tahu bahwa dokter juga lajang mulai melirik dan berencana ingin menanamkan harapan kepada sang dokter.


Namun ketika dilihatnya dokter bukan hanya menanggalkan sepatu saat akan berwudhu, tetapi menanggalkan kaki kirinya juga.


Serentak yang melihat terpana, ternyata cara jalannya yang terlihat agak aneh itu karena salah satu kakinya palsu.


Seketika para gadis lajang yang tadinya berencana mencari perhatian menjadi mulai mundur teratur.


Dengan santai dokter Anton berkata kepada pak Tarmidi yang sedari tadi memandangnya.


"Kalau sholat dengan kaki palsu tidak enak pak, jadi saya lepas agar lebih khusyuk".


Pak Tarmidipun hanya diam sambil termangu-mangu.


Merekapun sholat berjamaah di Musholla puskesmas.


Tak sedikit yang kagum memandangnya, setelah sholat selalu dia sempatkan berdzikir bersholawat.


Setelah itu baru dia kembali mengenakan kaki palsunya dan mencari makan siang.


Dia makan di warteg samping puskesmas dengan santai, dan tampak tidak membedakan diri dengan siapapun disana.


Dokter sebelumnya yaitu dokter Harsono juga baik dan ramah, hanya kalau makan agak rewel. Dia tidak mau makan di warteg, selalu minta bagian kebersihan untuk membelikan makanan juga penuh dengan persyaratan.


Tapi dokter Anton berbeda, dia yang datangi warteg dan dia pilih sendiri makanan yang sekiranya cocok untuknya.


Selepas sholat ashar, kegiatan puskemaspun berakhir.


Dokter Anton bersiap untuk pulang. Namun dilihatnya masih ada beberapa rekan kantornya yang belum pulang.


Mereka adalah Jaya, Murni sebagai petugas administrasi dan juga Komar, nama terakhir adalah bagian kebersihan yang pasti pulang paling akhir.


Anton berbincang dan bertanya tentang tempat wisata atau tempat nongkrong enak di daerah terdekat.


"Ada dokter namanya Pancuran Daris di daerah Balerante. Nanti saya antar kalau dokter mau kesana,"kata Komar.


"Iya dokter tempatnya enak banyak kuliner juga, selain itu kan dokter belum menikah yah. Itu kalau cuci muka disana bisa gampang dapat jodoh," Jaya menimpali.


"Waduh sembarangan bae, siapa tahu pak dokter sudah punya calon istri. Emangnya kamu jomblo abadi,"Cetus Murni kepada Jaya.


"Pasti jomblo abadi Mbak Murni,


aku kan tiap hari meja kerjanya berdekatan sama emak-emak," kata Jaya sambil menunjuk kepada Murni yang memang sudah menikah.


"Sembarangan aku sih emak-emak jaman now...,"katanya sambil menonjok lengan Jaya.


"Mereka ini "Tom and Jerry"nya di puskemas sini dok, kerjanya bareng tapi berantem terus,"sahut Komar.


"Wah, Komar yah sembarangan bae yah," Murni juga menonjok lengan Komar.


"Dokter nanti kalau mau santai di cafe kapan-kapan hubungi saja Jaya Permana yah," Kata Jaya kepada Anton.


"Kita hunting cewek cantik dok, sesama jomblo abadi harus saling mendukung".


Lalu Anton menjawab,


" Sesama Jomblo abadi..??? Maaf yah situ aja keles, sini sih kaga".


Dan serentak semua tertawa, ternyata dokter Anton bisa juga bercanda.


Merekapun asyik berbincang sampai tak terasa waktu sudah hampir jam 17.00.


Akhirnya semua pamit kembali ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Saat pulang Anton melewati penjual buah-buahan dan dia sangat tertarik sekali, lalu diapun membeli satu buah pepaya kecil dan satu kilo jeruk.


Lalu dia juga mampir ke mini market membeli susu murni cair kemasan.


Setibanya di paviliun dia baru sadar bahwa tidak ada lemari es disana.


Lalu dia berpikir mau minta tolong Mela titip di lemari es milik yang punya rumah.


"Mela saya bisa minta tolong, mau titip buah-buahan dan susu kemasan ini di kulkas dalam apakah bisa?"tanya Anton.


"Bisa kok dokter nanti Mela cuci dan simpan disana".


" Tapi kalau saya mau ambil bagaimana yah. Sulit juga. Saya lupa kalau di paviliun tidak ada kulkas".


" Tenang saja, nanti saya simpan di kotak khusus disana. Nanti kalau dokter mau buah atau apa tinggal bilang saya".


"Untuk malam ini apakah buahnya mau dokter makan?" tanya Mela.


"Iya pepaya, kalau boleh saya minta tolong Mela potongkan buahnya apakah bisa?" tanya Anton jadi tidak enak hati.


" Dokter mau seperti apa? Dipotong panjang atau dadu? Nanti jam berapa mau makannya?".


" Maaf yah Mela, pepaya dipotong dadu saja. Sama besok pagi minta susunya 1 gelas disimpan di meja saja".


"Jeruknya saja tolong di simpankan di kulkas untuk besok saya makan".


Melapun menjalankan apa yang diminta Anton. Dan setelah isya tampak satu piring pepaya tersedia di meja Anton.


Sambil menikmati pepaya, Anton berpikir untuk membeli kulkas kecil untuk mengisinya dengan buah-buahan.


Karena dia merasa di Cirebon panas sekali jadi harus banyak makan buah-buahan.


Kemudian dia juga terpikir membeli sepeda motor matic untuk keperluan pergi- pulang ke puskesmas.


Kalau membawa mobil terasa sesak di halaman parkir puskesmas.


Sembari menikmati pepaya dia merasa sendirian tidak ada yang diajak ngobrol.


Mau mengajak Mela kemari pasti tidak enak, kalau dia yang ke tempat Mela juga sama.


Akhirnya dia pikir iseng chat Mela, yah setidaknya saat ini yang bisa diajak bicara cuma dia.


Tapi sebelum chat terkirim dia kembali berpikir, apakah tidak akan jadi bumerang untuknya nanti kalau sampai misalkan Mela jatuh hati dan menaruh harapan kepadanya.


Sementara saat inipun dia masih sulit untuk membuka hati untuk wanita.


Terlintas ingatannya lebih dari 7 tahun lalu saat dia masih kuliah di semester akhir di kedokteran Universitas Negeri PJ di kota Bandung.


Dia mempunyai kekasih seorang mahasiswi yang berasal dari Semarang, namun berbeda fakultas, kekasihnya mahasiswi fakultas ekonomi.


Kekasihnya bernama Triana, dia sama dengan dirinya wanita keturunan tionghoa dan juga muslimah.


Waktu itu Anton sangat mencintainya, bahkan berencana setelah setahun lulus kuliah mereka akan menikah.


Suatu saat disaat liburan semester Triana ijin pulang ke Semarang. Disaat bersamaan Triana juga sedang berulang tahun.


Lalu Anton dengan mengendarai sepeda motor besarnya dia melaju dari Bandung menuju kota Semarang untuk memberikan kejutan kepada kekasihnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 7 jam tibalah dia di Semarang.


Anton sudah dikenal oleh keluarganya Triana, karena sebelumnya juga sudah beberapa kali berkunjung kesana.


Menjelang sore dia tiba di depan rumah Triana, kemudian dia mengetuk pintu rumahnya.


Ketika dibuka oleh orang tuanya betapa terkejutnya orang tuanya karena dia melihat hanya Anton seorang diri yang datang. Malah orang tuanya Triana menanyakan keberadaan anak mereka.


Tentu saja sekarang Anton yang terkejut juga karena Triana sudah dari 3 hari yang lalu ijin pulang ke Semarang.


Akhirnya keluarga Triana mulai panik, begitu juga Anton. Malam itu Anton diminta menginap oleh orang tua Triana.


Sambil waktu berjalan mereka terus mencoba untuk menghubungi Triana. Sampai akhirnya keesokan harinya Triana bisa dihubungi orang tuanya, dan dia berkata sedang ada acara reuni di hotel BTN di Cirebon.


Jadi dia belum bisa kembali ke Semarang karena harus menghadiri acara tersebut bersama kawan-kawan lamanya.


Atas kesepakatan Anton dengan orang tuanya Triana, mereka tidak mengatakan kalau ada Anton di rumahnya.


Lalu Anton segera menuju Cirebon dari Semarang, dan setelah menempuh 4 jam perjalanan tibalah dia disana.


Segera dia mencari hotel BTN tersebut sesuai petunjuk Triana kepada orang tuanya.


Kemudian setelah dia menemukan lokasi yang dimaksud segera dia mencari kekasihnya.

__ADS_1


Ada sedikit kesal karena kekasihnya setiap dia hubungi selalu mengatakan sudah di Semarang.


Setelah memarkirkan motor dia masuk ke lobby hotel dan mencoba bertanya kepada petugas hotel, ternyata tidak ada acara apapun di sana.


Saat sedang bertanya tiba-tiba dari lift muncul sepasang pria dan wanita berjalan dengan mesra. Dan wanita itu adalah Triana.


Seketika kepalanya mendidih, namun dia mencoba menahan diri menunggu saat tepat untuk membuktikan siapa pria itu.


Kedua orang itu masuk ke resto tanpa melihatnya dan setelah selesai makan keduanya tampak kembali ke kamarnya dengan menggunakan lift.


Selama itu Anton mencoba duduk sambil mengintip dari balik hiasan pepohonan yang ada di hotel itu.


Ketika keduanya masuk lift, Anton bertanya kepada petugas nomor berapa kamar kedua pasangan tadi.


Akhirnya ketemu sebuah nama yaitu Hendranata, dan mereka di kamar 345.


Anton lalu berkata kepada petugas kalau dia adalah suami wanita tadi, dan dia minta tolong untuk ditemani petugas membuka pintu kamar tersebut dengan kunci cadangan.


Akhirnya petugas bersedia dengan perjanjian tidak ada kericuhan.


Anton beserta petugas naik ke atas, dan petugas mengetuk pintu mengatakan "Room Service ".


Tak lama pintu dibuka, Anton segera menerobos masuk dan tampaklah Triana hanya berbalut selimut saja tanpa sehelai kain dibaliknya.


Anton hanya memandangnya tajam tanpa berkata-kata, kemudian dia melemparkan kotak cincin yang dibawanya kepada wanita itu.


Tanpa berkata apapun dia keluar dari kamar dan turun keluar hotel.


Sementara Triana segera berpakaian mencoba mengejar tetapi ditahan oleh prianya.


Anton dengan hati yang hancur berkeping, air mata menetes di pipinya sambil berjalan lurus menuju parkiran dan menjalankan sepeda motornya.


Lalu dia melaju menuju pesisir pantai, disana tampak banyak warung temaram yang menyediakan minuman keras.


Dia memesan minuman keras lalu meminumnya sebanyak mungkin sepuasnya. Sampai dia hampir tak sadarkan diri.


Dalam keadaan jalan sempoyongan dia berusaha menjalankan sepeda motornya.


Dia sudah tidak bisa berpikir lagi, terlalu sakit dan nyeri hatinya. Kekasih yang sangat dicintainya mengkhianatinya.


Dia menjalankan motornya sambil dalam keadaan mabuk, dia melaju di sepanjang kota Cirebon tanpa sadar dan tanpa dia tahu menuju kemana.


Sore itu ada seorang pria setengah baya, baru saja beres mengirimkan berkas arsip dari Kabupaten di daerah Kota Sumber Cirebon.


Dia hendak kembali ke rumahnya yang berada di Sindanglaut. Jarak dari Kota Sumber menuju kampungnya sekitar 1 jam perjalanan dengan sepeda motor.


Dia melaju pelan-pelan di sebelah kiri jalan, tanpa disadarinya dari arah berlawanan ada seseorang mengendarai sepeda motor besar dengan kecepatan tinggi namun oleng ke kiri dan kanan.


Akhirnya tak terkendali lagi, motor besar itu menabrak motor pria tadi sampai meninggal seketika. Pria itu adalah seorang ayah 3 anak dan 1 istri.


Sementara si pengendara motor besar terpelanting ke sebuah pohon besar. Lalu kaki kirinya menghantam keras pohon besar itu dan kepalanya terantuk batu.


Orang tua dari pengendara motor besar itu setelah dihubungi polisi segera menuju Cirebon dari Bandung.


Anton tergeletak koma di sebuah rumah sakit di Cirebon.


Lalu orang tuanya bertanggung jawab, mereka membayarkan sejumlah uang untuk pemakaman dan juga untuk modal usaha istrinya yang ditinggalkan kepala keluarga.


Setelah itu masih dalam keadaan koma, Anton dipindahkan ke salah satu rumah sakit di kota Bandung.


5 bulan lebih Anton koma sampai akhirnya tersadar dan kaki kirinya sudah tidak ada karena terbentur keras ke pohon besar, tulangnya hancur remuk dan luka dalam membusuk.


Seketika Anton terhenyak dan mencoba melupakan kenangan tentang Triana.


"Astagfirullah, Ya Allah ampuni hambamu selalu hidup dalam bayangan masa lalu".


Dia lalu ke kamarnya mengambil buku tentang penelitian penanganan pengeroposan tulang manula dan mulai membacanya.


Tak terasa dia membaca sampai jarum panjang jam di angka 12 dan jarum pendek di angka 10, mulai terasa mengantuk.


Ketika dia hendak beranjak ke kamar dari jendela terlihat Mela seperti baru datang dari suatu tempat.


"Darimana tuh anak malam-malam begini keluyuran bukannya istirahat," guman Anton sambil dia masuk ke dalam kamarnya.


Sementara saat Anton mulai tidur, dibelakang paviliun ada seorang gadis yang baru pulang kuliah.


Segera gadis itu membersihkan diri sambil mencuci pakaiannya dan juga pakaian titipan dokter Anton.


Setelah menjemur pakaian, gadis masuk ke kamarnya, setelah sholat Isya diapun mulai menyetrika pakaiannya juga pakaian milik dokter Anton yang sudah kering siang tadi.


Jam menunjukkan jam 23.30 saat semuanya beres dan dia baru bisa berbaring meluruskan tubuhnya.

__ADS_1


Tanpa gadis itu ketahui juga, ada gadis lain mengendap-endap masuk ke dalam rumah yang berada diseberang kamarnya.


Sepupunya baru pulang sehabis kencan diam-diam dengan kekasihnya.


__ADS_2