
Kita rehat sebentar urusan cinta Haikal dan Aprilia yang bikin gemes dan selalu penuh sensasi.
Sebentar kita tengok kehidupan Triana pasca kembali ke rumah orang tuanya di kota Semarang.
Yang pasti mau tak mau Triana harus menghidupi kedua anaknya dan dia sekarang membantu usaha orang tuanya membuat usaha abon ayam dan sapi.
Selain itu dia mencari lagi uang tambahan dengan membuat makanan olahan lain yaitu siomay ayam dan sapi.
Karena untuk membuat abon dibutuhkan daging yang terbaik, maka beberapa bagian yang tak dipakai biasanya hanya dikonsumsi untuk makan sehari-hari.
Maka Triana memutar otak dan bermodal keberanian membuat bagian daging yang tak digunakan lalu diolah lagi agar bisa menjadi menghasilkan uang.
Siomay buatannya itu dicoba ditawarkan kepada orang tua siswa yang sama-sama mengantarkan anaknya ke sekolah.
Ternyata respon yang didapatkan positif, semua yang membeli mengatakan enak makanan buatan Triana itu bahkan dia akhirnya mendapat pesanan cukup banyak setiap harinya.
Memang lelah, sehabis membantu mengolah daging menjadi abon, lalu dia juga mengolah bahan lain untuk membuat siomay.
Semua pekerjaan itu harus menggunakan kedua tangannya. Apalagi membuat abon tidak semudah yang dikira, makanan kering olahan yang enak rasanya itu harus diproses secara benar dan higienis.
Kalau membuat siomay lain lagi, Triana harus mengaduk bahkan membanting adonan tepung sampai kalis agar bisa dibentuk menjadi siomay yang lembut dan enak rasanya.
Suatu hari Triana diberikan referensi oleh salah satu ibu yang sama mengantarkan anaknya ke sekolah, ibu ini mengatakan agar besok Triana datang ke satu perkantoran dan menemui sahabatnya.
Ibu itu kemarin ini menceritakan kepada sahabatnya kalau dia telah membeli siomay yang enak rasanya, sahabatnya ingin mencoba makanan itu.
Lalu Triana diminta membawa dagangan siomaynya itu ke kantor tempat sahabat Ibu itu bekerja.
"Nanti Mamah Hiro temui Ibu Wendi yah, nama kantornya PT. Bijaksana Sejahtera," kata Ibu yang anaknya sama bersekolah dengan anaknya Triana.
"Oh baik Mamah Tomi, nanti saya kesana. Terima kasih yah sudah membantu mempromosikan dagangan saya," sahut Triana yang sekarang berubah jauh lebih sabar dan lebih santun.
Ibu yang dipanggil Mamah Tomi itu mengiyakan dan meminta Triana segera menemui sahabatnya.
Biasanya memang begitu, kalau di sekolah Taman Kakak-kanak atau di Sekolah Dasar, pasti ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah tidak pernah dipanggil namanya sendiri.
Pasti dipanggil dengan nama anaknya, seperti Triana yang mempunyai anak bernama Hiro, maka Triana seringnya dipanggil Mamah Hiro.
Contoh lainnya temannya Hiro yang bernama Tomi, maka Ibunya dipanggil Mamah Tomi.
Dengan mengendarai motor tua milik ayahnya dia melaju menuju alamat yang diberikan oleh Mamah Tomi tadi.
Tempatnya cukup jauh dari sekolah anaknya, Triana berharap nanti tidak akan terlambat menjemput anaknya pulang sekolah.
"Selamat siang pak, apakah saya bisa bertemu dengan Ibu Wendi?" tanya Triana kepada petugas keamanan yang berjaga di muka kantor tersebut.
"Dengan ibu siapa yah, nanti saya panggilkan beliau," sahut petugas keamanan itu kepada Triana.
"Hmm..sebutkan saja Mamah Hiro, pasti beliau paham," jawab Triana sambil senyum.
Triana menunggu di ruang tunggu kantor itu, sementara petugas keamanan tadi memanggil Ibu Wendi ke dalam kantor tersebut.
"Mamah Hiro yaaahhh...," sapa seorang wanita yang baru keluar dari ruangan kantor kepada Triana.
Saat Triana menoleh, keduanya terkejut karena ternyata mereka saling mengenal.
"Wendi!!!???"Triana memanggil wanita itu dengan terpana.
"Yana...astaga....apa kabarmu?"sapa Wendi sambil berjalan dan memeluk Triana.
"Astaga Wendi, sudah lama sekali yah kita tak berjumpa," kata Triana sambil memegang tangan Wendi.
"Kamu kemana saja Yana, seakan menghilang dari peradaban," ujar Wendi yang ternyata adalah kawan sekolahnya dulu.
Lalu Triana menceritakan sekilas tentang kehidupan yang selama ini dia jalani.
"Ya ampun Yana, kasihan sekali kamu. Eh besok ada waktu tidak?...Kita ketemuan yuk sambil makan....kamu ingat tidak penjual tahu pong langganan kita...masih ada loh," ajak Wendi kepada sahabat sekolahnya dulu itu.
"Kamu kan kerja, bagaimana cara keluar kantornya?"tanya Triana kepada Wendi.
"Aduuuuuh...memangnya aku kerja tidak ada jam pulangnya yah...besok jam lima sore kutunggu ditempat tahu pong yah," kata Wendi sambil mengambil semua dagangan siomay Triana.
"Ini aku beli semua, teman kantorku aku beri gratis hari ini tapi besok kalau yang mau pesan harus bayar....hahahaha," kata Wendi sambil memberikan uang atas siomay yang dibelinya.
"Wen, ini lebih banyak loh".
"Sudah ambil untuk anak-anakmu, mumpung aku masih jadi boss di kantor ini...hahahaha".
Triana mengucapkan terima kasih dan dia berjanji besok akan menemui Wendi kembali di tempat penjual tahu pong langganan mereka dari jaman sekolah dulu.
Lalu Triana bergegas memacu motornya kembali ke sekolah untuk menjemput anak-anaknya.
"Wongso...coba tebak tadi aku bertemu siapa?"kata Wendi sambil menelpon saudara sepupunya.
"Siapa memangnya?"tanya Wongso merasa bingung.
"Hahahaha...cewek yang selalu menjadi impianmu...hahahaha...
masa kamu lupa sih?"goda Wendi lagi.
"Hmmm....siapa sih...masa iya Triana...,"sahut Wongso dengan lesu.
"Ya itu dia....hahahaha...tadi aku ketemu sama dia loh".
"Haaaahhhh...masa iya...dia ada di sini lagi?".
"Hahahah...iya bro...sudah janda dia sekarang loh".
"Wah....masa....serius kamu?".
Lalu Wendi menceritakan sekilas apa yang dia dengar dari Triana tadi, dan juga menceritakan kehidupan Triana sekarang.
"Besok aku janjian sama dia makan tahu pong di tempat biasa, mau gabung tidak?"tanya Wendi kepada sepupunya.
"Lihat besok yah Wen, kalau bisa nanti aku menyusul".
Malam itu Triana baru saja menyelesaikan membungkus pesanan abon dan siomay untuk esok hari.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, dia sebenarnya sudah lelah tapi dia tak mungkin bisa tidur kalau pesanan belum selesai dibungkus.
"Yana, apakah kamu tidak akan mencari orang untuk membantu, karena sekarang pesanan makanan dari pelanggan tambah banyak," kata Ibunya yang merasa kasihan dengan anak perempuannya yang giat membanting tulang untuk mereka dan juga anak-anaknya.
"Amak...kalau cari orang takut aku belum sanggup membayar, biaya sekolah anak-anak juga mahal. Biar saja aku masih kuat kok mengerjakan semuanya," jawab Triana sambil senyum kepada Ibunya.
Ibunya tak bisa berkata apa-apa, memang ketika Triana belum kembali ke rumah itu, kedua orang tuanya berdagang abon hanya untuk sekedar menyambung hidup saja.
Tapi ketika Triana datang dan membuat perubahan cara berdagang tentu mengakibatkan banyak pelanggan baru setiap harinya.
Ingin rasanya mencarikan orang untuk membantu anaknya tapi Ibunya juga tak ada uang cukup untuk membayarnya nanti.
Hanya bisa mendoakan saja semoga Triana selalu diberikan kesehatan dan kekuatan, karena beliau dan suaminya sudah tua dan tak mungkin bisa terlalu banyak membantu.
Esok harinya seperti biasa sambil mengantar anak ke sekolah sambil mengantarkan pesanan dan juga membawa dagangannya berkeliling.
Alhamdulillah setiap harinya selalu saja habis, dan selalu ada saja pesanan untuk besok atau untuk orang yang memesan untuk acara tertentu atau yang mau keluar kota menjadikan dagangan Triana sebagai oleh-oleh.
Sore harinya dia ijin kepada orang tua dan juga anak-anaknya karena ada janji dengan Wendi.
"Jangan nakal yah, kalian harus menuruti apa kata Oma dan Opa. Setelah membuat PR jangan main kemana-mana, diam di rumah membantu Opa membungkus abon," kata Triana kepada kedua anaknya.
"Mamih juga jangan lama-lama yah, nanti pulangnya bawakan Hera makanan enak yah," kata anak bungsunya dan Triana mengiyakan permintaannya itu.
Tak butuh waktu lama, dia segera tiba di kedai penjual tahu pong langganannya, dan ternyata Wendi sudah ada di sana menunggunya sambil berbincang dengan penjualnya.
"Nah masih kenal tidak pak?...ayo siapa teman saya ini?"tanya Wendi kepada penjual tahu pong yang memang sudah mengenalnya sejak lama.
"Masyaallah...Mbak Yana yah.... Astagfirullah...sudah lama sekali tidak kemari?"penjual tahu pong sangat terkejut saat melihat Triana.
"Pak....apa kabar...Hahaha...iya ini Yana...jadi bulat yah pak sekarang sih," sahut Triana kepada sang penjual.
Lalu mereka tertawa bersama dan saling bercerita walau tak semua hal dapat disampaikan.
"Yana...apakah sudah tak mungkin kamu menuntut hak kepada mantan suamimu untuk memberikan nafkah bagi anak- anakmu?"tanya Wendi sambil memakan tahu pong kesukaannya.
"Hehehe...aku menikah siri dan bodohnya tak ada secarik kertaspun yang bisa aku pegang untuk menjadi acuan menuntut nafkah. Dulu aku terlena harta jadi aku tak berpikir kalau suatu hari bisa semua harta bisa hilang sekejap mata," sahut Triana menjelaskan kehidupannya selama ini.
"Sekarang aku harus berjuang untuk anak-anak, kasihan mereka, aku berdosa Wen pernah menjadikan mereka alat untuk meminta suamiku memberikan uang," Triana ingat kelakuannya dulu pernah begitu jahat menelantarkan anak-anaknya.
"Yah sudah, yang penting kamu sekarang lain sudah berubah dan juga semangat berusaha demi anak-anakmu," Wendi memberikan semangat kepada sahabatnya itu.
"Yana...kamu niat menikah lagi tidak?...siapa tahu niat nanti aku kenalkan kepada seseorang".
"Hahahah....siapa yang mau Wen, aku sekarang sudah punya paket. Sudah ada buntut dua, mana ada lelaki yang mau. Kalau barang promosi enak beli satu dapat tiga, kalau aku... Hahaha...menikahi aku otomatis harus langsung membiayai tiga orang," kata Triana merasa geli mendengar tawaran dari Wendi.
"Tapi artis juga ada yang janda punya anak tiga dan menikah lagi, ada saja kok lelaki yang mau bertanggung jawab," tukas Wendi sambil senyum-senyum.
Padahal Wendi tahu sedari tadi sepupunya Wongso sudah datang dan tengah duduk sambil makan di samping Triana yang sedang duduk membelakanginya.
"Ya lain dong, artis sih cantik walau janda juga, nah aku....sekarang gemuk dan sudah tidak menarik lagi....hahahaha," sahut Triana sambil merasa lucu sahabatnya menyamakan dirinya dengan artis.
"Yana kamu masih ingat Wongso sepupuku tidak?"tanya Wendi tiba-tiba kepadanya.
"Oh...Ya ingat dong, dia dimana sekarang. Sebenarnya Wongso itu lelaki baik, aku ingat sekali dia dulu beberapa kali menyatakan cinta kepadaku," kata Triana mengingat masa lalu.
"Hahahah...padahal dia tidak buruk rupa loh. Segitu sih ganteng dan baik hati...Hahaha...alasan aku dulu menolak dia karena dulu aku menganggap kalau menerima dia pasti akan jadi saudara sepupu denganmu.... hahaha," jawab Triana sambil tertawa ingat kebodohannya.
"Memangnya mengapa kalau jadi sepupuku, memangnya aku ini jahatkah?"tanya Wendi lagi sambil tak mengerti alasan Triana.
"Iya....hahahah...bukan kamu jahat, jujur deh...ini kan masa lalu yah... Hahaha...dulu itu aku cemburu kepadamu. Pikirku dulu Wongso itu selalu perhatian kepadamu, bahkan pernah dulu aku diajak pergi kencan dengan dia. Tapi ketika kamu tiba- tiba menelepon dia, maka cepat- cepat dia mengantar aku pulang dan segera menemuimu...Hahaha," Triana jujur mengatakan alasan mengapa dulu dia menolak Wongso.
"Hahaha...itu rupanya alasanmu menolak Wongso, hahahah... tapi bagaimana yah... hubungan persaudaraan kami sangat dekat. Suamiku juga dulu pernah cemburu kepadanya, tapi sekarang sih sudah terbiasa ....hahahaha," Wendi menjelaskan mengapa dia dan Wongso bisa dekat.
"Aku anak tunggal dan Wongso juga anak tunggal, ayah kami bersaudara dan rumah kami juga berdekatan. Namun ayahku lebih dulu meninggal karena kecelakaan, maka otomatis ayahnya Wongso memintanya untuk menjagaku jadi dia menjalankan amanat itu. Begitu say....," kata Wendi melanjutkan kisah kedekatan dengan sepupunya itu.
"Oh begitu, maaf aku tak tahu kalau seperti itu kenyataanya. Maafkan aku yah.... Eh...sekarang Wongso sudah menikah yah".
"Sama nasibnya dengan kamu, dia juga duda...hahahah... istri dia selingkuh dan menuntut cerai untuk menikah dengan lelaki lain," jawab Wendi memberitahukan status Wongso.
"Oh...kasihan yah...orang sebaik dia dikhianati. Coba saja dulu aku mau menerima dia tentu akan lain cerita hidupku yah," kata Triana berangan-angan kepada Wendi.
"Tapi Wongso belum punya anak waktu cerai dulu, jadi sekarang dia sendirian saja jadi duda keren," Wendi seakan mempromosikan sepupunya.
"Hmmm...kalau misalkan dia masih suka sama kamu nih, apakah kamu mau menerima dia sekarang?" Wendi langsung saja pada pokok pembahasan.
"Hahaha...mimpi kali yeee... mana mungkin Wendi...., aku sudah tak secantik dulu, gemuk begini dan sudah ada paket dua anak. Mungkin Wongso juga akan berpikir dua sampai tiga kali untuk mencintai aku lagi...Hahaha....," Triana tertawa geli mendengar Wendi yang terus menggoda dirinya.
"Kamu kemari naik apa Yana?" tanya Wendi tiba-tiba.
"Itu motor Apak...motor tua yang dulu suka aku pakai, lumayan masih bisa digunakan," sahut Triana sambil tertawa.
"Pinjam sebentar kunci dan STNK nya, aku mau menyuruh sopirku sebentar," pinta Wendi kepada Triana dan tanpa pikir panjang Triana memberikan apa yang diminta oleh sahabatnya itu.
"Pak...antar motor ini ke alamat yang tadi aku kirim lewat chat, antarkan bungkusan makanan ini dan sampaikan kepada orang tua Ibu Triana kalau anaknya nanti pulang agak malam. Dan ini ongkos pulang dari rumah Ibu Triana nanti yah," kata Wendi memerintah sopirnya untuk mengantarkan motor milik Triana ke rumahnya.
"Wen...nanti aku pulangnya gimana nih, aku tidak bawa ongkos banyak untuk pulang. Dan juga tak bisa pulang malam karena harus membuat pesanan untuk besok," kata Triana merasa bingung dengan Wendi.
"Tenang nanti kamu pulangnya diantarkan kok...tapi bukan sama aku yah".
"Lah sih...jadi siapa yang akan mengantarkan aku pulang nanti?".
"Itu tuh cowok yang duduk di belakangmu, nanti dia yang akan mengantar kamu pulang dan mungkin mengajak kamu menikah," jawab Wendi dengan enteng sambil membayar semua makanan yang dipesan dan dibungkus juga tadi.
Triana bingung lalu dia menoleh ke belakang tempat dia duduk, dan ternyata ada Wongso yang mungkin sejak tadi mendengarkan apa yang dia katakan.
Wajahnya merah padam karena malu luar biasa, sementara Wongso hanya senyum-senyum saja sambil menatap dirinya.
"Aku duluan yah...bro antar dia sampai ke rumahnya yah... sekalian saja lamar jangan lama-lama lagi yah... daaaggghhhh,"ujar Wendi sambil berlalu menuju mobilnya dan segera pulang ke rumahnya.
Tinggal Triana berhadapan dengan Wongso, lidahnya kelu, lehernya tercekat sampai tak bisa bersuara. Kalau ada sumur ingin rasanya nyemplung ke dalamnya karena merasa malu kepada Wongso.
"Ayo aku antar kamu pulang, masih tinggal di rumah orang tuamu kan," ajak Wongso sambil senyum manis.
Dan Triana hanya mengangguk tanpa bisa berkata apapun juga.
Lalu dia mengikuti langkah Wongso masuk ke dalam mobil Wongso dan melaju menuju rumah orang tuanya.
__ADS_1
Selanjutnya bisa kita tebak yah, pastinya lelaki sebaik dan setulus Wongso sudah pasti akan menerima paket cinta Triana.
Setelah kasus Isman dan Ruslan ditangani Kepolisian, Ibu Cahyani juga menjadi sadar kalau selama ini dirinya hampir saja tertipu oleh kedua orang itu.
Ternyata muslihat pura-pura mau menjodohkan adiknya dengan Aprilia, padahal Ruslan bermaksud agar Septa mau menandatangani kontrak kerjasama yang hampir saja membuat Septa terjerumus ke dalam jebakan Ruslan.
Keesokan malamnya Ibu Cahyani mengundang Haikal untuk makan malam bersama keluarganya.
Semua anak dan menantunya di minta untuk berkumpul di rumah peninggalan suaminya.
Aprilia memang tak pernah bisa akur dengan ibunya, bahkan masalah memasak juga sampai harus saling tarik urat leher.
Ibu Cahyani adalah orang yang harus segalanya terlihat sempurna sementara Aprilia adalah orang yang apa adanya saja.
"Apri cepat kamu beli telur, masih kurang satu macam lagi masakan. Rasanya kurang mantap kalau tidak ditambah telur balado," kata Ibu Cahyani sambil menatap tiga macam masakan yang ada di atas meja makan.
"Mamah...sudah cukup, untuk apa lagi memasak telur balado segala. Itu sudah banyak sekali macam masakan yang kita buat," ujar Aprilia sambil memegang kepalanya.
"Kamu itu aneh yah, Mamah mengundang semua keluarga kita dan juga Haikal. Masa kita tidak menyiapkan masakan yang lebih, bukankah semua anak, menantu dan cucu Mamah akan datang semua malam ini," tukas Ibu Cahyani yang merasa tidak puas dengan suguhan yang sudah dibuatnya.
"Baiklah, sekarang Apri membeli telur tapi nanti Apri yang memasak telur balado itu".
"Tidak bisa, Mamah paham nanti kamu akan memasak dengan bumbu instan. Mamah tidak suka hal itu".
"Astaga Mamah, bukankah jauh lebih praktis memakai bumbu itu dan sudah teruji juga sebagai bahan yang halal".
"No....No....mengulek cabe sendiri tidak akan membuat tanganmu putus".
"Oke, cabe merah tapi kan bisa digiling saja jaman sekarang ini, daripada di ulek".
"Tidak bisa...sekali diulek tetap harus diulek, tidak bisa ditawar lagi".
Lalu Aprilia membuka lemari es dan terlihat masih ada beberapa potongan ayam yang belum dimasak.
"Mamah...ini masih ada ayam yang belum diolah, sudah kita masak ayam balado saja biar tidak repot lagi".
"Ayam goreng sudah ada, masa menyajikan ayam lagi. Aneh kamu itu, ayo cepat ke pasar sebentar saja nanti keburu sore".
Sambil mendumel Aprilia berangkat juga ke pasar membeli telur dan bahan untuk memasak telur balado.
Sampai di rumah dia kembali sibuk di dapur sambil mukanya masam, karena baginya nyonya sempurna tak bisa dibantah lagi.
Malamnya semua kakak dan kakak iparnya juga keponakan kecil hadir meramaikan rumah Ibu Cahyani.
Beliau sangat bahagia sekali, apalagi baginya kehadiran cucu- cucunya merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Walau terkadang rasa sedih mendera hatinya karena ingat suaminya belum kesampaian memiliki cucu karena lebih dahulu berpulang menghadap Sang Khalik.
Tak lama Haikal datang dengan naik motor menuju ke rumah tersebut. Selama beberapa hari ini dia menginap di hotel milik Septa, dan dia tidak seenaknya sendiri tentunya dia membayar sesuai ketentuan yang berlaku.
"Assalamualaikum, selamat malam," sapa Haikal kepada seluruh anggota keluarga Hidayat.
"Walaikumsalam, ayo masuk Haikal bergabung makan malam bersama kami," ajak Septa sebagai kakak sulung di keluarga itu.
Aprilia menemani Haikal mencuci tangan, lalu menuju ruang makan yang sudah terisi oleh keluarga besar kekasihnya.
"Silahkan duduk nak Haikal, mungkin kamu sudah kenal Septa anak sulung Ibu dan ini Lisma istrinya".
"Ini adalah anak kedua Ibu bernama Janwar dan itu Yanti istrinya baru saja melahirkan".
"Aprilia adalah anak perempuan ibu satu-satunya, gadis tomboy yang selalu berantem dengan ibunya," kata Ibu Cahyani mengenalkan keluarga anak da menantunya.
"Itu cucu-cucu sedang bermain di luar diasuh pembantu, dua orang itu anaknya Septa dan Lisma, sedangkan yang bayi adalah anaknya Janwar dan Yanti".
"Ayo silahkan makan bersama nak Haikal, Apri coba kamu layani temanmu, siapkan air minum dan piringnya".
Lalu Aprilia menyiapkan keperluan makan untuk Haikal, sebenarnya dia risih karena terbiasa melakukan apapun sendiri. Sekarang dilayani oleh Aprilia, menjadikan dirinya sedikit kaku karena tak terbiasa seperti itu.
Mau menolak tentu tak enak hati juga, karena saat ini dia berada di keluarga Aprilia.
"Nak Haikal di Puskemas menjadi petugas kebersihan, memangnya nanti sanggup membiayai kehidupan Aprilia?"tanya Ibu Cahyani secara tiba-tiba.
"Uhuk...uhuk...pppffff....hihihi".
Anak dan menantunya semuanya tersedak sambil menahan tawa mendengar pertanyaan Ibu Cahyani.
Hanya Haikal yang tampak santai saja berusaha tetap tenang.
"Insyaallah Bu, saya memang tidak memiliki penghasilan besar tapi saya yakin bisa membiayai hidup saya dan Aprilia," jawab Haikal dengan sangat tenang.
"Yah terserah saja sih, Mamah tidak bisa melarang kalau memang Apri sudah cinta sama kamu," ujar Ibu Cahyani terlihat agak sedih memikirkan anak gadis satu-satunya hanya akan menikah dengan petugas kebersihan.
"Mamah...aduh lucu sekali deh. Haikal itu dokter, sama dengan Anton. Mereka sama-sama dokter di Puskemas," Septa mencoba memberitahu siapa sebenarnya Haikal kepada Ibunya.
"APA!!!!".
"Hmmm...dasar kalian yah tak sopan, mengerjai orang tua, coba kalau dari kemarin ini bilang pekerjaannya dokter. Tentu saja Mamah sudah setuju," kata Ibu Cahyani sambil terlihat kesal kepada semua anaknya.
"Iya Mamah, Haikal ini dokter. Tapi kalau misalkan kami jadi menikah, maka Apri akan ikut Haikal ke Papua,"ujar Aprilia dengan santai.
"APAA???!!!"
Sekarang semua kaget mendengar ucapan Aprilia tersebut.
Haikal kemudian menjelaskan rencananya ke Papua, bahkan rencana untuk menetap di pulau tersebut.
"Dia ada pekerjaan menjadi dokter, dan kamu akan menjadi apa kalau ikut ke Papua?"tanya Ibu Cahyani merasa sedih.
"Tenang Mamah, aku bisa jadi penulis tentang Papua, jadi Vloger atau mungkin mendirikan stasiun radio".
Semua terdiam dan kehilangan selera makan kecuali Haikal dan Aprilia.
"Aku sih terserah padamu Apri, kamu sudah dewasa. Hanya aku ingin kamu punya komitmen dengan diri sendiri. Menjadi istri seorang dokter di Papua tidak mudah, jangan mengeluh tapi tunjukkan kamu harus mendukung setiap pekerjaan suamimu," tiba-tiba Janwar yang jarang bicara mengatakan hal tersebut.
Haikal dan Aprilia berpandangan dan bergenggaman tangan.
"Insyaallah awal bulan depan saya akan membawa keluarga tante saya kemari untuk melamar Aprilia. Saya akan segera menikah dengan Aprilia".
Ibu dan kakak-kakaknya tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, adik bungsu sudah dewasa dan sudah menentukan pilihan terbaik bagi hidupnya.
__ADS_1
Sebagai keluarga hanya bisa mendoakan agar pilihannya adalah yang paling tepat dan jangan sampai mengeluh atas pilihan sendiri dikemudian hari.