Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keenam Puluh Delapan


__ADS_3

Sebelas tahun yang lalu di suatu Universitas Swasta terkenal di Kota Bandung, terlihat ada beberapa mahasiwa Fakultas kedokteran sedang duduk santai di kantin kampusnya.


Ada si gadis tomboy bernama Wina, ada si kalem ganteng bernama Anton, juga duo sepupuan yaitu Hendro dan Bahari.


Mereka berempat dekat sekali hampir disebut empat sekawan karena kemanapun selalu berempat.


"Sttt..Ada orang sok pinter... pasti dia akan kemari,"kata Hendro sambil menunjuk Fabian yang baru saja datang.


Tentu masih ingat kan di bab-bab terdahulu ada nama dokter Fabian yang tabiatnya buruk sekali.


"Hai Anton, tumben di kantin, ayo kita ke perpustakaan saja mencari bahan materi,"kata Fabian kepada Anton tetapi dia tidak menyapa ketiga teman lainnya.


"Aku disini saja dulu, menunggu pesanan siomay nih, dari tadi belum datang juga," sahut Anton kepada Fabian.


"Oh...oke...Aku duluan yah, sorry loh siomay bukan makanan bergizi,"kata Fabian pamit sambil menepuk bahu Anton.


"Sumpah anak itu reseh banget, sok pintar, sok kaya, nyebelin banget. Kok elu bisa sih gaul sama dia," kata Wina kepada Anton sambil mencibir.


"Gue sih sama siapa juga gaul, biar aja dia sok pintar yang penting gue engga," jawab Anton santai.


"Iya sih bro, cuma memang anak itu terkadang bikin sebel kita yang melihatnya," sambung Bahari kepada temannya.


Kemudian mereka makan siomay yang sudah dipesan sejak tadi, dan mereka sangat menikmati makanannya itu.


Tiba-tiba masuklah tiga orang perempuan cantik, diantara ketiganya ada salah satu yang paling tinggi dan paling cantik.


"Aiiihhh...anak sastra bro...anak tingkat baru, cakep-cakep coy," kata Hendro sambil menyenggol lengan Bahari.


"Waduh model begitu sih berat di ongkos, aku cuma anak petani tak sanggup membiayai yang seperti itu," kata Bahari geleng-geleng kepala.


"Nah kalau Anton cocok nih, secara bokap nya juga tajir, pasti sanggup membiayai yang seperti itu sih," goda Hendro kepada Anton.


"Hmmm, cantik sih tapi dia yang engga bakalan mau sama cowok seperti aku...hahahah," kata Anton sambil tertawa dan diikuti ketiga kawannya.


"Jangan Ton, kata orang-orang sih ketiganya golongan cewek matre, nyari nya cowok tajir melulu," kata Wina mengingatkan sahabatnya.


"Lagian siapa juga yang tajir, Papahku memang tajir tapi aku kan engga. Jadi aku bukan tipe cewek itu dong ,"kata Anton sambil menyuap satu butir siomay yang tersisa di piring Wina.


"Sialan elu yah...siomay gue diembat...," kata Wina cemberut tapi malah mengundang tawa ketiga sahabatnya.


"Tria, elu lihat meja di ujung sana. Itu ada anak-anak kedokteran di atas kita dua tahun. Yang satu itu yang agak putih sipit namanya Anton. Dia anak orang tajir," kata Clara kepada sahabatnya Triana.


"Sebelah mana sih?"tanya Triana sambil pura-pura berdiri seakan mencari temannya.


Lalu dia duduk lagi, sambil berkata," Yang duduk dekat tukang siomay bukan?".


"Iya benar banget, itu orangnya yang paling putih aja diantara dua cowok lainnya," kata Tania sahabat satunya lagi.


"Culun kali cowok kayak gitu, tampangnya juga engga banget," kata Triana sambil mencebikan bibirnya.


"Elu tuh Tria, orang culun kayak gitu kan bisa elu kerjain. Elu masih bisa pacaran sama si Nata diluar sana, nah di kampus juga elu dapat penghasilan tambahan dari cowok itu,"kata Clara memanasi Triana.


Triana diam sejenak sambil berpikir, memang selama ini dia punya kekasih tapi suami orang lain.


Kekasihnya bernama Hendra Nata seorang pengusaha kaya raya.


"Benar apa kata Clara, kan si Nata datang ke Bandung juga dua minggu sekali. Nah elu baru dapat duit kalau dia datang saja kan. Nah sehari-hari sambil nunggu dia datang elu ngapain, mending cari tambahan lumayan buat beli bedak ama lipstik," Tania juga ikut memanasi Triana.


"Elu mending cari cowok culun, jadi bisa diakalin. Kalau sama cowok buaya juga kayak kita yang gawat dong, nanti bisa ketahuan siapa kita," kata Clara lagi sambil terus membakar suasana.


"Iya Tria, gue sama Clara kan udah punya gebetan lain selain oom-oom kesayangan, Clara sama Herman anak Teknik Kimia dan gue sama Fabian anak kedokteran juga,"kata Tania menjelaskan kalau dia dan Clara sudah melakukan hal seperti itu.


"Tapi elu kalau di kampus engga pernah kelihatan jalan sama Fabian?"tanya Triana kepada Tania.


"Nah itu otak elu dangkal, makanya gue cari yang bloon biar diakalin. Gue bilang di kampus kita diam-diam saja yah sayang biar tidak heboh. Nah di kost an gue kasih dia yang asik-asik, toh dia diam tidak berkoar-koar," Tania merasa dirinya perempuan paling hebat membodohi lelaki.


"Oke deh, gue beraksi yah, kalian lihat deh pasti cowok itu bisa gue gaet,"kata Triana sambil berdiri dan bersiap menjalankan aksinya.


Triana membawa sebuah gelas berisi air putih, dan dia melangkah menuju penjual siomay seakan-akan hendak memesan siomay.


Anton dan teman-temannya masih tertawa-tawa di meja kantin sedang membahas bagaimana kemarin semua teman sekelasnya heboh saat operasi bedah mayat.


Anton duduk menghadap ke arah teman-temannya sehingga tidak memperhatikan ada orang datang.


Tiba-tiba....


BRRAAKKK....!!!!


Triana jatuh menimpa punggung Anton dan air yang dibawanya membasahi seluruh bagian belakang pakaiannya Anton.


Tentu saja Anton terkejut dan ketika menengok ke belakang ternyata si cantik tinggi yang barusan menimpa punggungnya sampai basah.


"Aduh maaf Kakak, saya tidak sengaja, ini barusan ada batu kecil terinjak jadi saya hampir jatuh. Maaf Kakak bajunya jadi basah semua," kata Triana saat memulai aksinya.


"Iya sih basah, tapi sudah tidak apa-apa nanti juga kering sendiri kok," kata Anton sambil mencoba menolong Triana yang terlihat hilang keseimbangan.


"Makanya ke kampus itu pakai sepatu biasa saja, tidak usah pakai high heels segala," kata Wina sambil menatap sebal ke arah Triana.


Lalu Triana juga melirik kesal ke arah Wina, keduanya saling cemberut saat berpandangan.


"Sudahlah tidak apa-apa kok, lain kali hati-hati yah," kata Anton sambil tersenyum.


"Ya Kakak, terima kasih yah, maaf aku Triana. Kalau Kakak siapa namanya?"tanya Triana berpura-pura kepada Anton.


Anton dengan polosnya menyebut namanya juga, lalu mereka saling berkenalan dan bersalaman.


Bagi teman-teman sesama lelaki, Anton bagaikan mendapat durian runtuh.


Semua memuji dan bahkan mendukung agar Anton bisa berpacaran dengan Triana.


Sementara teman-teman wanita malah merasa kasihan kepada Anton, karena mereka tahu kalau Triana pasti cuma memanfatkan Anton saja.

__ADS_1


Anton sendiri biasa saja, dibilang dekat dengan Triana, ya benar mereka dekat.


Dibilang pacaran, mungkin juga benar pacaran tapi Anton tidak pernah menyatakan apapun kepada Triana.


Hanya yang pasti, sejak kejadian kemarin ini Triana terus menempel kepada Anton.


Membuat Anton tidak enak hati, jadi dia juga berusaha membalas perhatian Triana walau sebenarnya dia tidak merasakan perasaan apapun kepadanya.


Triana berusaha ingin kenal dengan keluarga Anton, dan ketika dibawa ke rumah dia tidak sungkan memperlihatkan kemesraan kepada Anton dihadapan orang tuanya dan kakak perempuannya Anton.


Anita kakaknya Anton sangat kesal sekali melihat kekasih adiknya, perempuan itu terlihat palsu dan memang benar Anton seperti di kuras habis tabungannya.


Sering Anton meminjam uang kepada kakaknya dengan berbagai alasan hanya untuk menyenangkan hati Triana.


Dan kacaunya lagi kalau Anita menegur pasti ayahnya membela Anton dan memberinya sejumlah uang sesuai keinginannya.


Makanya sampai sekarang Anton merasa management keuangannya sangat buruk, dan untungnya dia menikah dengan Mela yang pandai mengatur keuangan.


Satu tahun berpacaran menurut versi Triana, tapi terlihat Anton biasa saja kepadanya.


Maka atas saran teman dekatnya, Triana menjebak Anton dengan membuat dirinya ditiduri oleh Anton di kamar kostnya.


Saat itu Triana berpura-pura menangis dan meminta Anton bertanggung jawab, lalu dia minta Anton harus bertemu keluarganya di Semarang.


Anton menuruti apa kata Triana, karena dia khawatir takut Triana hamil atas perbuatannya.


Lain halnya keluarga Anton yang terlihat tidak senang dengan Triana.


Keluarga Triana di Semarang sangat menyukai Anton yang sangat sopan santun dan juga calon dokter.


Ayah dan ibu mana yang tidak bangga akan punya menantu lelaki seorang dokter nantinya.


Mereka tidak tahu kalau anak perempuan mereka sebenarnya tidak cinta kepada Anton dan dia hanya memanfaatkan lelaki itu.


Anton akan segera membuat skripsi karena diperkirakan tahun depannya akan segera lulus kuliah menjadi sarjana kedokteran.


Sehingga cukup banyak waktu luang untuk dirinya, karena perkuliahan sudah habis, masa Ko As juga sudah dilalui jadi dia tinggal menyusun skripsi.


Mahasiswa tingkat bawah jurusan manapun sekarang sedang liburan untuk kenaikan tingkat.


Triana pamit pulang ke Semarang katanya ingin menengok orang tuanya sambil merayakan ulang tahunnya di sana.


Anton merasa pernah tidur dengan Triana, dia merasa bertanggung jawab, untuk itu dia berencana akan ke kota Semarang diam-diam.


Dia akan memberikan kejutan kepada Triana dengan melamarnya di hari ulang tahunnya.


Memang dia tidak terlalu cinta kepada Triana, tapi ya sudahlah hubungan kedekatan mereka sudah terlanjur jauh pikir Anton jadi dia akan bertanggung jawab kepada Triana.


Maka suatu hari dia pergi ke kota Semarang dengan mengendarai motor besarnya.


Setibanya di sana ternyata Triana tidak kembali ke Semarang malah berada di Kota Cirebon.


Anton selama ini pernah mendengar kalau Triana mempunyai hubungan asmara terlarang dengan seorang pria beristri yang bernama Hendra Nata.


Tapi Triana selalu berbohong dan menutupi kisah asmara terlarang itu kepada Anton.


Sampai akhirnya Anton melihat sendiri kebusukan Triana yang telah membohonginya sekaligus melukai perasaannya.


Amarahnya memuncak saat melihat Triana yang selalu terlihat baik di hadapannya, ternyata berbuat hal yang menjijikan dengan lelaki lain.


Kejadian itu telah membuat Anton kecewa dan hilang arah sampai terjadi kecelakaan yang membuat dirinya menjadi cacat.


Anton memandang wajah istrinya yang tengah tidur disampingnya.


Dia merasa bersyukur memiliki Mela, wanita yang baik hati, tidak suka menuntut lebih bahkan selalu mendukung apapun keinginan Anton selama bisa dia terima.


Terkadang Mela juga suka marah tetapi mengungkapkan rasa marahnya dengan elegan.


Tidak pernah sampai terdengar dia berteriak-teriak memaki suami.


Mela tidak pernah banyak bicara kalau sedang marah atau kesal, tapi sekali mengucap akan terasa menghujam ke dalam hati dan jiwa.


Anton merasa sangat sayang dan cinta sekali kepada istrinya, lantas dia mencium pipi istrinya yang sedang pulas itu.


Merasa dikecup lantas matanya Mela membuka sedikit dan terlihat suaminya sedang memandangi dirinya.


Lalu Mela bergerak memeluk suaminya sambil bertanya," Pi, wanita tadi kok bisa kenal sama Pi sayang, memangnya siapa sih dia itu?".


Anton membalas pelukan istrinya sambil menjawab," Ah cuma teman lama saja kok, sudah lupakan saja tidak penting".


Tapi terdengar suara nafas orang terlelap, rupanya istrinya hanya bertanya dan langsung tertidur lagi.


Anton jadi tertawa sendiri, lalu dia peluk istrinya lebih erat dan sama-sama tertidur sampai pagi.


"Seharusnya aku yang berbahagia bersama Anton, bukan perempuan itu," Triana menatap dirinya di depan cermin sambil pipinya basah dengan air mata.


Tiba-tiba dia merasa sangat iri hati kepada Mela, dia merasa kalau dia yang lebih berhak bahagia bersama Anton.


Saat ini dia merasa terpuruk sekali, bertahun-tahun dia menikah dengan Hendra Nata sampai punya dua anak.


Sekarang Nata menikah lagi dengan wanita muda, karma telah menimpa dirinya karena dulu dia melakukan hal yang sama.


Sejak masih kuliah dia sudah menjalin hubungan dengan Hendra Nata seorang pengusaha kaya raya asal Cirebon.


Pria ini sering ke Bandung untuk urusan bisnis dan juga mencari hiburan di klab malam.


Triana merasa diri muda dan cantik, sering menghabiskan waktu di klab malam bersama kedua sahabatnya.


Mereka menari-nari sambil mabuk, sehingga para pria yang melihat tingkah mereka timbul rasa ingin menggoda bahkan mengajaknya lebih dari itu.


Hendra Nata salah satunya yang begitu tergoda melihat tubuh tinggi semampai dan padat menggiurkan.

__ADS_1


Nata saat itu mendekatinya dan merayu Triana, dengan mudahnya dia menerima segala ajakan pria itu.


Akhirnya Triana menjadi wanita simpanannya Nata dan untuk menutupi perbuatannya dia menjadikan dirinya kekasih Anton.


Saat itu lelaki muda mana yang tidak bangga mempunyai kekasih seorang wanita yang paling cantik di kampus.


Walau banyak orang berkata miring tentang Triana, tapi Anton seakan tutup telinga dan tetap menjalin kasih dengan gadis itu.


Dan disaat kebohongan Triana terungkap oleh Anton, disaat itu pula Triana sudah mengandung anaknya Nata.


Kejadian di hotel ketika Anton memergoki dirinya sedang bersama Nata di dalam kamar hotel tanpa busana.


Triana belum tahu kalau Anton saat ini kakinya cacat, sejak kejadian dulu akhirnya dia menghilang.


Sahabatnya juga sampai saat ini tidak tahu keberadaan Triana, bahkan orang tuanya di Semarang juga sampai saat ini tidak tahu Triana ada dimana.


Padahal di Semarang ada seorang pria yang masih sangat mencintai Triana.


Pria itu adalah tetangga rumah mereka bernama Wongso, sejak kecil mereka bermain bersama dan selama itu juga Wongso menyimpan rasa cinta kepada Triana.


Anton juga tahu sosok pria ini, karena dulu sewaktu jaman kuliah, Wongso pernah menyambangi kampus demi menemui Triana.


Dan saat itu ketika mereka bertemu hatinya hancur mengetahui kalau Triana sudah menjadi kekasih Anton.


Kini Triana harus menerima kenyataan pahit, selama belasan tahun bersama Nata hanya dijadikan istri siri.


Kedua anaknya bahkan tidak memiliki akta hukum yang sah, pernikahannya dengan Nata juga tidak bisa dianggap sah secara hukum negara karena tidak ada bukti apapun yang menguatkan kalau dulu mereka menikah.


Triana berusaha memutar otak bagaimana caranya agar dia minimal bisa hidup layak lagi.


Sekarang dia jatuh miskin disaat Nata meninggalkan dirinya untuk menikah lagi dengan wanita muda.


Dan yang membuat dirinya lebih terluka adalah pernikahan ketiganya Nata sekarang sah secara hukum, karena istri pertamanya meninggal dunia.


Sementara Triana tidak memiliki bukti apapun kalau mereka dulu menikah siri. Jatuh-jatuhnya ibarat dia adalah wanita tanpa suami yang memiliki anak di luar nikah.


Istri pertama Nata jatuh sakit lama ketika tahu suaminya selingkuh dengan Triana.


Dia sakit sampai meninggal dunia dengan meninggalkan satu anak yang sekarang berada di luar negeri.


Tapi Triana tidak sadar kalau dia yang menyebabkan istri pertama Nata meninggal karena menahan luka hati yang terlalu dalam.


Sekarang Triana juga sama, dia ditinggalkan oleh Nata dan hanya sesekali memberinya sedikit uang untuk biaya sekolah anak-anaknya.


Dulu dia dimanjakan oleh Nata, sekarang disia-siakan bahkan untuk membayar sewa rumah juga harus pinjam sana sini dan menjual semua barang berharganya.


Mobil, motor dan perhiasan sudah ludes semua dipakai menyambung hidup sehari-hari dan kebutuhan sekolah anak-anaknya.


"Aku akan menemui Anton, semoga saja dia masih bisa aku manfaatkan seperti dulu,"Triana begitu semangat untuk mencoba memanfaatkan Anton lagi.


Di suatu sore setelah beberapa hari kejadian kemarin ini, Anton dan Mela sedang berada di teras rumah mereka.


Walau istilahnya menyewa rumah tapi setidaknya akan sekitar satu tahun atau lebih mereka akan tinggal disitu, jadi tetap segalanya harus dirawat seperti rumah sendiri.


Anton sedang meminum teh hangat dengan kudapan kukusan singkong diberi parutan kelapa.


Di halaman belakang rumah itu ada pohon singkong yang tidak terawat, lalu ketika di tebang siang tadi oleh Mela ternyata ada akar mudanya.


Segara dia bersihkan dan dikupas lalu dikukus dengan parutan kelapa untuk cemilan sore hari bagi suami tercinta.


Mela saat ini sedang menanam bunga di taman depan, tiba-tiba dia terkejut saat melihat Triana sudah berdiri di depan pintu pagar.


Anton saat itu sedang membaca berita dari gawainya, sehingga dia tidak konsentrasi dengan kehadiran orang lain.


"Pi...ada tamu,"kata Mela dengan tangan dan bajunya penuh tanah.


Anton mendongak dan tampak tidak senang ketika mengetahui siapa yang datang ke rumahnya.


"Selamat sore Bapak Anton dan Ibu Anton, maaf apakah saya diijinkan masuk. Saya kemari ingin bicara baik-baik," kata Triana sambil menatap penghuni rumah tersebut.


Anton berdiri dan berkata," Triana, ada apa lagi sih, bukankah urusan lalu sudah selesai?".


"Ya benar, sudah selesai, sekarang aku kemari untuk bersilaturahmi. Aku ingin minta maaf dan juga ingin diantara kita tetap menjadi saudara," kata Triana dengan nada lembut dan ramah.


Mela dan Anton mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan Triana, lalu keduanya saling berpandangan dan dengan segala kebaikan hati Mela, maka pintu pagar dibukakan lalu Triana masuk ke halaman rumah.


Mela segera mencuci tangannya dan segera duduk di teras depan menemani Anton dan Triana yang duduk berhadapan.


Anton terlihat wajahnya tidak suka dengan kehadiran Triana tersebut.


"Ibu, apakah ada yang bisa kami bantu?"tanya Mela dengan santun.


"Aku mau minta maaf atas sikap dan perkataan kemarin, ternyata kamu istri Anton. Padahal aku ini sudah menganggap Anton seperti saudara sendiri, jadi aku juga mohon kamu bisa menganggap aku sebagai saudara kalian juga," sebenarnya masuk akal ucapan itu, namun melihat siapa yang tengah berucap membuat Anton dan Mela malah jadi bertanya-tanya.


"Terserahmu saja Triana, hanya aku minta tolong jangan ganggu kami. Semua urusan masa lalu biarkan berlalu, kita masing-masing saja yah. Silahkan kalau ada apa-apa bicara sama istriku saja, permisi," ujar Anton sambil beranjak masuk ke dalam rumah.


Sekarang tinggal Mela dan Triana yang berada di teras depan rumah, keduanya saling diam tak tahu mau berkata apa.


"Ibu, saya pribadi sudah memaafkan kejadian kemarin, anggap saja kita sama-sama khilaf," Mela memulai buka suara sambil dia juga masih bingung.


"Ya terima kasih yah dik, aku panggil kamu adik saja yah karena pasti lebih muda dariku. Dan kamu panggil aku mbak Triana saja yah. Kita angkat saudara mulai hari ini ," kata Triana dengan langsung saja merangkul Mela sambil menangis.


Sungguh Mela merasa bingung tapi dia tetap berusaha tenang.


"Ya mbak, sama-sama yah. Tapi sekarang aku harus mengurusi suami karena sebentar lagi maghrib, jadi mohon maaf kita mengobrol lain waktu yah," kata Mela mencoba mengakhiri pembicaraan sore itu dengan Triana.


Dan untungnya Triana paham dan dia juga pamit pulang.


Apakah sebaik itu Triana?


Hmmm...Kita lihat saja nanti.

__ADS_1


__ADS_2