Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketujuh Puluh


__ADS_3

Pagi ini Mela tidak berbelanja di pedagang sayur keliling, karena tadi pagi dia masak cukup banyak selain untuk bekal suami ke kantor juga rencananya dia membawa masakan untuk ibunya.


Mela juga berjanjian dengan Atikah, dia akan mengajaknya kerjasama karena kebetulan teman Atikah banyak yang masih menjadi karyawan toko.


Triana terlihat memakai baju gamis yang sangat kebesaran, terlihat seperti mau terbang saja kalau tertiup angin.


Dia membawa kedua anaknya menuju pedagang sayuran, walau tak terlihat ada Mela dia santai saja memilih beberapa macam bahan makanan.


Lima potong sosis, wortel, kentang dan bawang daun, sepertinya dia mau membuat sup sosis.


"Mas Joko, hitung jadi berapa semua?"ujar Triana dengan nada sombong.


"Hmmm, lima belas ribu saja bu".


"Ya sebentar saya ambil uang dulu".


Triana terlihat bergegas seperti hendak mengambil uang, namun Ibu-ibu yang melihat langsung saling menyenggol karena beloknya bukan ke arah rumah sendiri tetapi ke rumahnya Mela.


"Dik....Assalamualaikum, selamat pagi...!!!," Triana memasuki halaman rumah Mela dengan setengah berteriak.


"Walaikumsalam!!!..Astagfirullah... siapa itu pagi begini sudah teriak - teriak," ujar Mela sambil setengah berlari ke depan rumahnya.


"Dik...alhamdulillah ada di rumah, ini mbak mau titip anak-anak yah. Kebetulan hari ini mereka libur sekolahnya karena ada kegiatan seminar guru. Dan kebetulan mbak juga mau pergi seharian ada perlu".


"Ini bahan masakan anak-anak untuk mereka makan nanti, tadi minta dibuatkan sup sosis, jadi tolong yah dik nanti dibuatkan".


"Eh iya, ada uang tidak lima puluh ribu, ini sayuran belum aku bayar. Coba minta dulu, tidak enak dong kalau berhutang sama tukang sayur".


Mela bengong tak bisa berkata apa-apa, ingin marah tapi melihat kedua wajah polos menatapnya maka hatinya jadi meleleh.


Di saku bajunya ada uang lima puluh ribu untuk rencana membeli bahan bakar motornya, maka uang tadi terpaksa diserahkan kepada Triana.


Tanpa basa-basi lagi, langsung saja Triana menyambar dan bergegas ke mang Joko penjual sayur.


Lah...belanjanya kan cuma lima belas ribu, lalu kembaliannya kemana yah... lebih baik pura-pura tak tahu saja deh.


Untuk membayangkannya juga merasa malu hati ini, entah ada dimana pikirannya Triana itu.


Mela menghela nafas melihat tatapan kedua anaknya Triana, lalu dibawanya masuk ke dalam rumah. Sementara ibunya raib entah pergi kemana.


Melihat dua wajah anak kecil yang tampak kelaparan, lalu Mela segera ke dapur dan kedua anak tadi di suruh menunggu sambil menonton kartun di televisi.


Memasak sup sosis memang tidak butuh waktu berjam-jam, asalkan kentang juga wortel sudah matang dan empuk, maka sosis dan bawang daun segera meluncur.


Akhirnya sup sosis matang juga, lalu Mela memanggil keduanya dan kedua kakak adik itu makan dengan lahannya.


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi, Mela sudah harus pergi tetapi ada dua anak kecil di rumahnya jadi dia merasa bingung.


"Hiro...tante mau pergi sebentar karena sudah ada janji, apakah kalian berani tinggal di rumah berdua saja?" tanya Mela kepada kedua anak itu.


Hiro dan Hera berpandangan lalu mereka melihat sekeliling rumah yang jauh lebih besar dari yang mereka tinggali, keduanya menciut hati nya ketakutan.


"Tante, boleh tidak kami ikut saja. Kami ada helm juga kok di rumah, sebentar kami ambil yah kebetulan ada di teras depan".


Mela mengangguk dan segera kedua anak tadi berlarian menuju rumahnya mengambil helm kecil mereka.


Tak lama mereka datang dan tampak siap untuk ikut bersama Mela.


Mela tersenyum, lalu dia mengambil barang yang akan dibawa ke rumah Ibunya.


Setelah mengunci semua pintu dan pagar, Mela sudah siap di atas motor.


Hera berdiri di depan dan Hiro dibelakang sambil memeluk pinggang Mela, lantas mereka meluncur menuju rumah Ibu Sinah.


Setibanya di rumah Ibu Sinah, tentu saja ibunya Mela sangat kaget karena anaknya membawa dua anak kecil.


"Anak tetangga, tadi ibunya menitipkan kepada Mela," sahut Mela ketika ditanya ibunya.


"Bawa anak orang hati-hati nok, nanti ada apa-apa jadi tidak enak loh," Ibunya memberi peringatan kepada Mela.


Dalam hati Mela berkata ," Untung saja Mimi tidak tahu ibu mereka sangat menyebalkan ".


Setelah berbincang sejenak dengan ibunya, dan apalagi topiknya kalau bukan urusan hamil. Mela rasanya bosan sekali, setiap kali bertemu ibu nya atau sekedar menelepon pasti pertanyaan itu selalu menjadi topik utama.


Lantas Mela bergegas menemui Atikah yang perutnya semakin besar, perkiraan dua bulan lagi dia akan segera melahirkan.


Mela menjelaskan tentang paket kecantikan tersebut, dan Atikah tertawa senang melihat wajah kakak iparnya terpampang di brosur.


Mendengar penjelasan Mela dan juga teknik penjualan, maka Atikah sangat tertarik dan dia bersedia menjadi sub distributornya.


Mela mendapatkan perpanjangan tangan untuk memulai bisnisnya ini.


Atikah juga mengikuti langkah Mela menjadikan bisnisnya itu di pajang di status chat dan media sosialnya.


Apalagi ada brosur yang jelas memperlihatkan perubahan dirinya tentu membuat Mela semakin semangat mengembangkan bisnisnya.


"Mela....!!!!" teriak Ibu Sinah dari arah halaman belakang.


"Dalem Mi...," sahut Mela sambil bergegas menemui ibunya.


"Ini anak tetanggamu jatuh dan lututnya berdarah," kata Ibu Sinah sambil menunjuk Hera yang sedang menangis kesakitan.


Mela segera menolong dengan membersihkan luka di lututnya lalu memasang perban luka.


"Sudah bawa pulang sana, gampang nanti kamu kemari lagi atau Rahman yang ke rumahmu. Anak orang dibawa begini nanti jadi omongan," kata Ibu Sinah seraya menyuruh Mela segera membawa kedua anak Triana pulang ke rumah.


Dengan rasa sebal juga akhirnya Mela menurut apa kata Ibunya dan segera kembali pulang membawa kedua anak itu.


Sesampainya di perumahan, Mela melalui rumah Triana. Dan nyata rumah Triana masih kosong jadi terpaksa kedua anaknya dibawa ke rumah Mela.


"Bro dokter, makan apa nih. Hmmm...bawa bekal rupanya sekarang sih, enak banget yang punya istri ," ujar Jaya sambil melihat sahabatnya sedang makan di pantri puskesmas.


"Iya dong, emangnya jomblo galau makan siang dimana saja, malam hari jajan sembarangan," goda Anton sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya.


Mela memasak bekalnya enak sekali, balado telur, dan tumisan brokoli dengan jamur dicampur suwiran ayam.

__ADS_1


Lalu tak lupa ada jus apel di dalam termos juga buah jeruk dan pisang untuk cemilan suaminya.


"Bro sambil makan, aku mau cerita bisa tidak?" tanya Jaya sambil sebelumnya memeriksa siapa tahu ada orang lain mencuri dengar.


"Apaan sih, mau cerita saja kok repot banget bro. Memangnya ada apa sih?" tanya Anton merasa aneh melihat tingkah Jaya.


"Begini, aku mau bicara serius nih. Beberapa waktu kemarin aku jadi mengikuti status Miranti dan juga postingan fotonya di media sosial. Berarti benar yah dia sekarang penampilannya berubah," Jaya mulai mencurahkan isi hati soal Miranti.


"Hmm... rupanya memang sulit melupakan yah, kalau memang cinta yah sudah hampiri lalu untuk membuktikan dan tanyakan benar berubah demi siapa".


"Jadi cowok kok reseh amat bro, kalau memang mau serius sih langsung saja ajak nikah," Anton juga kalau bicara suka langsung to the point.


"Masalahnya bukan begitu bro, tapi aku bingung bagaimana caranya ingin bisa menemui dia. Sementara aku sama sekali tidak pernah komentar apapun baik di media sosialnya maupun di status chatnya ," kata Jaya lagi sambil terlihat galau.


"Sini ponselnya Bang, biar aku yang kerjakan chatnya seperti waktu itu," Haikal tiba-tiba ikut nimbrung, rupanya dari tadi dia mencuri dengar tanpa sepengetahuan Jaya.


"Hei anak kecil ikutan bicara, aku jotos miskin kau," kata Jaya kepada Haikal.


"Enak saja anak kecil, waktu itu kan aku yang membuat status sehingga abang bisa komunikasi lagi. Ayo sini biar cepat beres, mau bagaimana di ajak nikah langsung sajakah?" kata Haikal tembak langsung.


"Jangan bro, beda kasus kalau sekarang sih. Sumpah aku takut loh, gimana yah ," Jaya kelihatan cemas dan galau.


"Sudah Haikal biarkan saja jomblo galau, malas aku sih mau menolong juga. Mulut saja besar, nyali kecil, pasti yang lainnya juga kecil ," goda Anton sambil menutup kotak bekal makannya karena sudah habis.


"Bro, jangan sembarangan, dulu perempuan pada nangis minta lagi tapi tidak kuberikan ," sahut Jaya dengan gaya sok aksi.


"Jaman dulu dibawa-bawa, kadaluwarsa bro. Yang penting sih sekarang, umur udah berapa masih kayak anak SMA galau".


"Sudah bro kita tinggalkan saja, kita kan masih ada bisnis lain," ajak Anton kepada Haikal sambil mengedipkan matanya memberi kode agar berpura-pura cuek kepada Jaya.


Lantas Anton dan Haikal pergi keluar meninggalkan Jaya di pantri sendirian.


Anton sedang melakuka nego harga rumah yang di dekat portal penjaga keamanan yang di perumahannya sekarang.


Rumah dua lantai milik ibunya Haikal yang memang akan dijual olehnya.


"Begini Bang Anton, kalau aku sih sesuai harga pasaran saja, yang kemarin kita bahas loh?" kata Haikal kepada Anton.


"Hmm...apakah tidak bisa aku nego lagi harganya nih, karena istriku cocok dengan bangunan itu dan juga lokasinya tepat untuk membuka usaha," kata Anton terlihat menerawang ingin segera memiliki bangunan itu.


"Ya nanti aku pikirkan lagi bang, karena aku juga harus kontak Mamihku dulu. Secara dia di luar negeri jadi agak sulit juga untuk komunikasi," kata Haikal sambil senyum tapi terlihat wajahnya sedih.


Siapa yang tidak sedih, ayah ibu berpisah dan punya keluarga masing-masing. Hanya dia terpuruk sendiri, menjadi korban akibat ego orang tuanya.


Sementara di suatu tempat keramaian di pinggiran kota, Triana tampak ikut sibuk berdesakan dengan orang-orang yang sedang memilih perhiasan emas di sebuah toko mas yang sangat ramai.


Dia ikut bertanya ini dan itu, saat pegawai lengah maka hilanglah satu buah cincin, Triana langsung kabur dari toko itu dan segera menghilang secepat mungkin.


Kemudian dia naik lagi angkutan umum mencoba lagi mencari toko sejenis di tempat lain, dan melakukan hal yang sama juga.


Dia tidak mengambil perhiasan yang besar, hanya cincin saja sehingga mudah di selipkan ke dalam baju lebarnya.


Bukan hanya itu saja, dia juga sesekali masuk ke supermarket yang kira-kira tidak ada CCTV nya, dan secepat kilat dia memasukan barang atau bahan makanan ke balik baju lebarnya.


Itulah yang sering dia lakukan di saat belum mendapatkan kiriman uang dari suaminya.


Setelah mendapat cukup uang, dia segera pulang membeli sedikit kebutuhan keluarga dan juga untuk biaya sekolah anaknya.


Melihat ada Anton yang mempunyai istri baik hati, maka dia berpikir memanfaatkan kebaikan Mela, memaksanya secara halus untuk membayarinya belanjaan dan juga menitipkan anaknya dengan seenaknya.


"Mamih.....!!!!" kedua anak Triana menyambut ibunya yang baru saja tiba di halaman rumah Mela.


Sekejam apapun seorang ibu, pasti anaknya tetap akan menunjukkan rasa sayangnya.


Triana juga memeluk kedua anaknya, sebenarnya hatinya juga sakit karena dia harus melakukan hal buruk demi anak-anaknya.


"Tadi adik jatuh di rumah Ibunya tante Mela, adik tadi mengejar ayam tapi ayamnya kabur jadi saja jatuh ," cerita Hera kepada ibunya.


Mela keluar rumah ingin tahu anak-anak tadi bersama siapa, dan dilihatnya sudah bersama ibunya.


"Dik, lain kali kalau diberi amanat menjaga anak itu, tolong dijaga yang benar yah. Masa anak Mbak sampai jatuh, lain kali jangan lagi yah".


"Sekarang Mbak mau pulang, mana tadi sisa sup sosisnya, mau Mbak bawa. Tolong masukan ke dalam plastik yah, jangan lupa sama nasinya juga sekalian untuk Mbak makan malam," kata Triana dengan cueknya memerintah Mela.


Mela merasa sangat geram, mau meledak rasanya, hati nya jengkel luar biasa melihat sikap Triana.


Kedua tangannya mengepal, tapi saat hendak meledak marah kembali terlihat dua pasang mata yang memandangnya dengan tatapan nanar.


Mela menghela nafas lagi, lalu dia segera ke dapur membungkus sisa sup sosis beserta dengan tiga bungkus nasi.


"Mbak, ini pesanannya dan mohon segera pulang karena sebentar lagi suami saya pulang," ucap Mela dengan nada datar dan dingin kepada Triana.


Dan Triana santai saja menerima bungkusan itu sambil berlalu.


Mela duduk di sofa, dia benar-benar kesal sekali dengan sikap Triana.


Lalu dia mengambil ponselnya dan menelepon Anita.


Tak lama Anita mengangkat juga ponselnya saat ada panggilan dari Mela.


Setelah saling menyampaikan salam dan juga menanyakan kabar, Mela juga melaporkan tentang produk kecantikan.


Rencananya besok Mela akan mengirimkan uang untuk barang yang sudah dibayar dan rencananya akan memesan lagi karena ternyata banyak peminatnya.


Anita tentu menyambut gembira apa yang disampaikan oleh iparnya itu, dan besok akan segera mempersiapkan pesanan Mela.


"Cici...maaf aku mau bertanya tentang seseorang yang mungkin Cici kenal," kata Mela kepada Anita.


"Hmm...Siapa yah...aku sepertinya tidak punya teman orang Cirebon ," jawab Anita sambil mengingat- ingat.


"Apakah Cici kenal dengan Triana?" tanya Mela dan mendengar nama itu Anita terdengar seperti berhenti nafasnya.


"Kamu mendengar dari siapa nama itu?"tanya Anita dan terasa bibirnya bergetar kesal.


Lalu Mela menceritakan tentang sosok Triana, dan sikapnya yang menjengkelkan kepada Anita.

__ADS_1


"Anton sudah menjelaskan belum siapa dia?"tanya Anita terdengar geram.


"Jawabnya cuma teman saja, tapi aneh juga sih Anton nya seperti benci banget kalau ketemu Triana," jawab Mela apa adanya.


"Kamu nanti tanya sama dia, kalau sampai nanti jawaban dia masih sama. Kamu kasih tahu sama aku, biar aku selesaikan".


Mela kaget juga mendengar kakak iparnya seperti dendam sekali mendengar nama Triana itu.


"Monyong Anton!!!" teriak Anita dengan geram sambil membanting ponselnya ke tempat tidur.


Keiza menatap ayahnya ketika mendengar bundanya berkata seperti itu.


"Ehem...ehem...," Fajar menatap tajam ke arah istrinya.


"Monyong itu seperti begini yah Ayah ?" tanya Keiza sambil memonyongkan mulutnya.


Fajar tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"Terus kata Bunda tadi Oom Anton kenapa monyong?" tanya Keiza lagi ingin tahu.


"Mungkin mulut Oom Anton barusan seperti mulut Kei," kata Fajar sambil menggendong anak perempuannya.


"Sayang, main di bawah dulu yah. Ayah mau bicara dulu sama Bunda, nanti Ayah susul main ke bawah".


Keiza mengecup pipi ayahnya dan lalu pergi keluar kamar turun ke bawah mencari Wahyu yang selalu bisa menemani dirinya.


"Bunda kenapa sih, kebiasaan tidak bisa menahan emosi ," ucap Fajar sambil mendekati istrinya.


Lalu Anita menceritakan apa yang dia dengar dari Mela.


"Ya sudah coba Bunda hubungi Anton, siapa tahu jam segini sudah selesai praktek".


Lalu Anita menghubungi Anton, tapi memang dasarnya Anita cepat emosi ketika adiknya mengangkat telepon yang keluar dari mulutnya langsung caci maki.


"Anton kamu monyong banget yah, Cici kesal sekali sama kamu. Mulai ngaco yah, dasar bodoh".


Anton yang mendengar kakaknya marah tentu saja tidak paham apa yang dimaksud oleh kakaknya.


Fajar langsung bangkit dan segera menghampiri istrinya ," Bunda...sini ponselnya cepat !!!".


Mendengar suaminya berkata dengan nada tinggi, tentu Anita kaget dan segera memberikan ponselnya ke tangan suaminya.


"Ton, nanti Koko akan telepon. Tunggu sebentar yah ," lalu ponsel itu dimatikan dan dia menatap istrinya.


"Lain kali kamu tidak usah bicara kalau sedang emosi, buruk sekali ucapanmu. Ibu itu contoh untuk anaknya, kamu akan menyesal kalau sampai anakmu bicara seburuk itu".


Fajar kesal sekali, lalu dia keluar kamar menuju ke ruangan bawah.


Anita menghela nafas lalu menitikan air mata, dia menyesal dari tadi tidak bisa menahan amarahnya.


Di ruang keluarga Fajar menelepon adik iparnya, dia bertanya tentang Triana yang menurut Mela telah membuat tidak nyaman dirinya.


"Oke, kamu nanti tanya istrimu baik-baik, jangan sampai emosi. Nanti kalian yang rugi kalau gara-gara orang lain kalian yang berantakan ".


"Dan kamu harus jujur menjelaskan kepada istrimu, siapa sesungguhnya Triana. Mela juga punya hak untuk tahu, saat ini mungkin dia merasa sedang dalam kondisi tertekan karena ulah Triana ," kata Fajar meminta Anton juga bisa bijaksana.


Setelah menutup ponselnya, Anton menepuk dahinya, lalu dia duduk menyandarkan tubuhnya ke kursi ruang prakteknya.


Kepalanya terasa pusing harus menemui urusan yang tidak dia inginkan untuk terjadi.


Tapi mau tak mau semua sudah terjadi, maka harus dihadapi setiap permasalahan dalam rumah tangga.


Setibanya di rumah, Anton disambut istrinya dan Mela melayaninya seperti biasa saja layaknya tidak ada masalah diantara mereka.


Setelah selesai menunaikan sholat Isya, Anton duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Mela tampak masih sibuk membereskan piring kotor dan sebagainya sehabis mereka makan malam.


Tak lama selesai juga semua piring kotor dan segala yang harus dia bersihkan, setelah mencuci tangan lalu dia menuju ruang tengah bermaksud menemani suaminya.


Anton mematikan televisi dan menatap istrinya. Mela kaget tapi dia tahu suaminya pasti sedang marah kepadanya.


"Mi, kita ini sudah menikah walau belum lama, mungkin banyak yang harus kita pelajari karena kehidupan rumah tangga setiap saat pasti ada saja masalahnya".


"Cuma aku minta sama Mi, kalau sekiranya ada yang ingin kamu tanyakan tentang masa lalu aku atau apapun tentang aku. Tolong jangan tanya ke keluargaku dulu, tapi tanya dulu kepadaku".


Mela terdiam saja mendengarkan apa yang disampaikan suaminya.


"Baiklah akan aku jelaskan, Triana adalah mantan kekasih ku. Tapi dia telah mengkhianati hubungan kami, sampai terjadi kecelakaan yang membuat ayahmu meninggal dan aku menjadi cacat".


Lemas tubuh Mela mendengar penuturan suaminya, ternyata kejadian dulu pemicunya adalah perbuatan Triana.


"Sejak awal aku sudah tidak peduli dengan keberadaan dia, namun nyatanya sekarang dia mencoba memanfaatkan kebaikan kamu".


"Mohon maaf bukan aku tidak mau bertanggung jawab, hanya saja aku mohon kamu selesaikan masalah diantara kalian".


"Ingat dia akan terus memanfaatkan kelemahanmu, tapi aku tahu istriku perempuan pintar. Jadi aku minta kamu bisa tegas dalam hal ini ," kata Anton mengakhiri pembicaraan di malam itu.


Mela terdiam saja tapi dia berpikir harus berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah dengan Triana.


Pagi harinya Mela sedang belanja di mas Joko seperti biasanya.


Dan seperti biasa juga Ibu-ibu pasti belanja sambil mulutnya penuh dengan gosip dan sindiran.


Anton telah mengingatkan kepada istrinya jangan sampai ikut-ikutan kalau ada yang bergunjing.


Untung Mela termasuk orang yang masa bodoh dengan urusan orang lain jadi dia hanya senyum-senyum saja kalau mendengar orang yang nyinyir.


Tak lama tampak Triana mendekati, dan Mela sudah bersiap-siap untuk menyelesaikan masalah.


Triana seperti biasa sok dekat sok akrab, Mela membiarkan saja dia bersikap begitu.


Triana mengambil beberapa macam sayuran dan daging, begitu juga hal yang sama dilakukan oleh Mela.


Saatnya berhitung untuk membayar pun dimulai, dan sebelum Triana meminta dihitungkan, dengan tegas Mela berkata kepada pedagang.


"Mas Joko, belanjaan Ibu Triana akan dibayar sendiri oleh Ibu Triana. Saya tidak punya kewajiban apapun untuk membayarkannya".

__ADS_1


Triana langsung menatap Mela sambil terlihat kesal, sementara Mela santai saja menanggapi hal itu.


Setelah beres dengan belanjaan untuk di rumahnya sendiri, Mela melangkah santai tidak peduli dengan Triana yang menatapnya dengan penuh kekesalan.


__ADS_2