
"Suamimu akan pendidikan dua bulan di Jakarta, kamu jangan enak-enak saja jualan kue. Pikirkan kalau kamu juga harus segera hamil dan punya anak," kata Ibu Suwandi kepada Miranti dengan pedasnya.
"Jangan merasa diri punya wajah cantik dan badan bagus jadi tak mau hamil dan punya anak. Ibu tidak suka kalau sampai kamu punya pikiran begitu".
Miranti hanya diam saja, dia tak berani bicara apapun cuma meneteskan air mata saja sambil menunduk.
"Bu, Jaya dan Miranti juga paham kok, kami juga ingin punya keturunan. Dan Miranti tidak mencegah apapun, dia juga ingin hamil tapi memang belum diberi kepercayaan saja oleh Tuhan ," Jaya mencoba memberikan penjelasan kepada Ibunya.
"Dengar yah, dulu Ibu sekali hubungan dengan ayahmu langsung hamil. Kakakmu juga dulu sama begitu menikah langsung hamil, masa Miranti susah hamil".
"Kalian coba ke dokter, siapa tahu istrimu mandul. Wajah
cantik tapi mandul kan repot," Ibu Suwandi tetap saja mengomel dan ucapannya sungguh menyakitkan hati.
Miranti sudah tak tahan lagi, dia berlari ke kamar tidurnya sambil menangis.
"Bu, istriku sakit hati pasti deh, Ibu itu kalau bicara pedas sekali tak memahami perasaan orang lain,"kata Jaya terlihat kesal kepada Ibunya.
"Memang aku sengaja biar kalian berpikir, umur kalian sudah tidak muda. Istrimu sebentar lagi tiga puluh tahun, wajah cantik, badan bagus bukan jaminan rumah tangga kokoh. Punya anak, kalian harus punya anak....Titik !!!," Ibu Suwandi yang memang keras kepala memegang prinsipnya.
"Ibu sama Bapak akan pulang ke Solo, kami beri waktu sampai akhir tahun ini. Kalau sampai akhir tahun nanti istrimu belum hamil dan kalian tidak ada usaha ke dokter. Kita lihat nanti apa tindakan ibu".
Jaya menepuk dahinya karena tak bisa lagi berkata apapun kepada Ibunya.
"Nak sabar yah, kamu tahu sendiri Ibumu memang begitu wataknya. Keras kepala dan selalu bertahan dengan pendapatnya walaupun salah." ujar Pak Suwandi sambil mengelus bahu Jaya yang tengah duduk sambil tertunduk lesu.
"Nanti Bapak bicara lagi dengan Ibumu, beliau harus diajak bicara perlahan baru bisa paham".
"Iya Pak, Jaya sih paham watak Ibu. Tapi istriku kan belum paham, Bapak lihat sendiri dia menangis di kamar pasti sakit hatinya mendengar ucapan Ibu," sahut Jaya terlihat ikut merasakan perasaan Miranti.
Lalu Pak Suwandi menyuruh Jaya segera menemui istrinya dan sampaikan maaf atas ucapan Ibunya.
Jaya mengetuk dan membuka pintu kamarnya, Miranti istrinya tampak masih menangis sambil menelungkupkan kepalanya di bantal tempat tidur.
Lalu Jaya mengelus rambut panjang dan punggung istrinya sambil berkata ," Sayang, maafkan ibuku, beliau memang begitu wataknya keras kepala dan selalu ingin menang sendiri.
"Sabar yah sayang, aku juga paham kamu pasti sakit hati. Dan aku juga sangat kecewa dengan ucapan ibuku. Tapi mau apalagi, kita harus bisa memaklumi beliau".
Miranti bangkit lalu duduk dihadapan Jaya suaminya, wajahnya yang biasanya cantik sekarang basah dengan air mata dan acak - acakan.
"Kamu mau sedang dalam keadaan bagaimana juga tetap saja kelihatan cantik. Aku malah jadi gemas lihat penampilanmu sekarang, jadi pengen sayang-sayangan lagi deh," ujar Jaya sambil menatap wajah istrinya yang sedang berantakan
"Ih Mas Jaya tuh, aku lagi sedih malah diminta yang lain-lain saja deh. Sebel banget deh,"keluh Miranti sambil membalikan badannya.
Jaya malah memeluknya dan mendekap erat lalu mencium istrinya.
"Kamu itu istri yang selalu bikin aku kangen, kita mau berpisah dua bulan. Aku tak bisa membayangkan harus jauh dari kamu selama itu,"ujar Jaya sambil memeluk erat dan menghisap wangi tubuh istrinya.
"Masa tak bisa ijin, pasti ada jeda hari tertentu. Biasanya hari sabtu atau minggu kan bisa ijin pulang dulu,"sahut Miranti
"Kita pelukan saja yah, aku sayang banget sama istriku. Sudah jangan sedih lagi, aku yakin kita pasti akan punya anak," kata Jaya sambil terus memeluk istri tercintanya.
Haikal baru bangun, biasa hari libur setelah sholat Subuh pasti dia tidur lagi sampai matahari sudah hampir di ubun-ubun.
Dia meraih ponselnya, ada pesan dari Aprilia yang memintanya segera ke rumah Anton kalau sudah sadar.
Lalu ada pesan lain dari Anton yang mengatakan tadi Siska ke rumahnya marah-marah kepadanya dan Mela.
Ada beberapa pesan dari teman main dan teman kuliahnya, yang terakhir ada pesan dari Siska.
"Mana mobilku, mana kunci kamar kakek dan mengapa menjual rumah tidak memberi uang penjualannya kepadaku".
Sepele sekali hidup Siska, seakan dunia juga harus dia berikan kepada dirinya seluruhnya.
Haikal bangkit dan keluar dari kamar tidurnya, terlihat Tante Linda sedang duduk di ruang televisi.
"Kamu sudah bangun, barusan Siska telepon aku. Entah dia mendapat nomor kontakku dari mana. Marah-marah mau mengambil mobil kakek, sinting sekali orang itu," kata Tante Linda memberitahu kalau baru saja mendapat rejeki diomeli oleh Siska.
"Namanya orang gila, hidup seenaknya saja. Sudah habis harta Papih, lalu Papih ditelantarkan. Sekarang ribut mau harta Kakek," ujar Haikal sambil mengucurkan air mineral ke dalam gelas.
Memang sudah hampir dua bulan lebih Haikal tinggal di rumah adik ibunya ini, kebetulan Tante Linda juga seorang janda hanya tinggal berdua dengan pembantu saja setiap harinya.
Suaminya dulu meninggal karena serangan jantung sehabis pulang berolah raga, anaknya cuma satu seorang perempuan dan sekarang sedang kuliah di New Zealand.
Tante Linda memilih tidak menikah lagi, dia bekerja keras menjadi seorang notaris untuk membiayai Naura anak semata wayangnya.
"Aku sebentar lagi mau pergi ke rumah Apri, dan rencananya siang ini mau kencan tiga pasang. Bang Anton bersama istrinya, Bang Jaya bersama istrinya juga dan aku bersama Apri," kata Haikal sambil minum dua gelas air mineral dan sekarang mengisi yang ketiga kalinya untuk segera dia minum.
"Ya silahkan saja, lebih baik segera pergi dan bawa mobil kakek. Jadi saat Siska kemari, dia tidak akan menemukan mobil itu," kata Tante Linda memberi ide kepada Haikal.
"Ya rencananya begitu, kami kan perginya beramai-ramai. Aku mandi dulu deh...Eh by the way...Kata Mommy kemarin ini mau mengenalkan Tante dengan kawannya Uncle James. Benarkah?".
" Sudah sana mandi, jangan dipikirkan. Memang Mommy kamu suka begitu, selalu berusaha menjodohkan tante dengan kawan-kawannya James," sahut Tante Linda sambil wajahnya memerah.
Haikal senyum lebar melihat tantenya menjadi malu-malu saat ketahuan akan dijodohkan oleh ibunya.
Setelah mandi, lalu Haikal menyambar setangkup roti isi daging ayam dan sayur, dan sebotol air mineral.
Dia pamit kepada Tante Linda untuk menuju ke rumah Anton, karena siang ini mereka bertiga pasang akan berjalan-jalan menghabiskan hari dengan kencan bersama.
Pagi tadi Siska mendatangi kediaman Anton dan Mela sambil terlihat tidak senang.
"Jadi rumah depan sudah kalian beli, kapan dan mana uangnya?"tanya Siska dengan ketus.
"Bu, kami membeli rumah itu kepada Haikal dan sudah mendapat ijin dari ibunya. Tentu kami membayarkan uang pembelian rumah itu kepada Haikal karena dia yang berhak menerimanya," jawab Anton tadi pagi kepada Siska.
"Lantas rumah ini setahu ku masih milik suamiku, jadi kalian seharusnya membayar uang sewa kepadaku," kata Siska lagi dengan ngotot.
"Setahu saya rumah ini sudah atas nama Haikal, dan sama kami juga sudah membayar sewa rumah ini untuk satu tahun kepadanya,"ujar Anton lagi menjelaskan kepada Siska.
Siska memandang sinis ke arah Anton dan Mela, dia terlihat tidak suka kalau tenyata Anton juga tahu kalau pemilik rumah itu adalah Haikal.
"Kalau begitu aku mau pinjam pembantu rumah tanggamu untuk membersihkan rumah besar di sana. Kalian harus mengijinkan sebagai tanda ganti rugi kepadaku," kata Siska seenaknya saja saat melihat ada Eti yang sedang menyapu.
"Maaf Bu, asisten rumah tangga kami bukan budak belian. Kami tidak akan mengijinkan anda semena-mena memberi perintah kepadanya untuk membersihkan rumah anda," kata Anton mulai gerah dengan perkataan Siska.
"Lalu bagaimana dengan rumah besar itu, aku kemari semalam dan rumah itu kotor sekali. Dan tak ada satupun pembantu yang mau membantu membersihkan atau mencarikan aku orang untuk membereskannya," kata Siska dengan berapi-api.
"Sekali lagi maaf Bu, kami sebagai penyewa rumah ini sudah melaksanakan kewajiban membayar sewa kepada yang berhak".
"Lalu kami juga membeli rumah depan dan sekarang sedang direnovasi, juga sudah membayar pembelian rumah kepada yang berhak yaitu saudara Haikal Subrata".
"Sekarang Ibu tiba-tiba datang menagih uang dan meminta segala macam, itu diluar urusan kami. Sebab kami sudah melakukan kewajiban kami dihadapan notaris dan kami tidak mengenal Ibu sama sekali," Anton dengan tegas berkata demikian kepada Siska.
"Jadi mohon maaf, sebaiknya Ibu silahkan meninggalkan kediaman kami. Dan untuk urusan lain-lain silahkan hubungi saja saudara Haikal".
Tentu saja Siska kehilangan akal dan juga kehilangan kesempatan untuk memeras Anton.
Lalu dia berjalan kaki pulang ke rumah kakeknya Haikal sambil terlihat sangat kesal kepada keadaan yang menghampiri dirinya.
"Siska...darimana saja kamu? Aku dari tadi sibuk membereskan rumah dan kamu pergi begitu saja," kata Ray kekasihnya Siska yang usianya jauh lebih muda dari dirinya.
"Aku sedang mencari pembantu Ray, makanya aku pergi mencari orang yang mau membereskan rumah ini," sahut Siska sambil cemberut kepada Ray.
"Oh bagus dong, mana sekarang pembantunya... mana...!!!!".
"Aku sudah lelah dari tadi, mau minum mencuci gelas dulu, mau ke kamar mandi harus mencuci kamar mandi dulu, mau apapun harus aku bersihkan sendiri....muak aku lama- lama tinggal di sini !!!"teriak Ray dengan kesal kepada Siska.
"Ya itu Ray, aku juga aneh dengan semua ini. Aku datang kemari dan ternyata semua di luar dugaanku," seru Siska kepada Ray dengan kesal juga.
"Siska....ingat...kamu janji kepadaku bahwa akan memberikan rumah besar, mobil mewah dan fasilitas rumah yang enak. Tapi apa??? Kamu membawaku tinggal di rumah hantu. Aku kecewa sekali tahu!!!"teriak Ray lagi karena merasa dikecewakan oleh Siska.
"Maaf Ray, begini saja kita ambil mobil mewahnya lalu kita jual. Aku tahu mobil itu ada di rumah Linda adiknya Nova mantan istri Bambang," kata Siska berusaha merayu Ray dengan mengimingi mobil mewah.
"Baik, aku antar kamu kesana untuk mengambil mobil itu. Sekarang kita pergi dan kamu isi bahan bakar mobilku, sudah mau habis," kata Ray sambil membanting gelas ke meja dan berjalan ke dalam kamar untuk bertukar pakaian.
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian tampak Ray mengemudikan mobil tuanya untuk mengantar Siska menuju kediaman Linda.
Sementara tanpa Siska sadari dia berselisihan jalan dengan Haikal yang sedang menuju kediaman Anton untuk menjemput Aprilia dan juga pasangan Anton dan Mela.
Tenyata ketika Haikal datang semua sudah siap dan segera naik ke mobil, sebelumnya Mela memberikan honor kepada Eti dan berpesan tidak usah menunggunya kembali karena takutnya sampai malam hari.
Di dalam mobil Anton menceritakan tentang Siska yang tiba-tiba datang sambil marah-marah dan tentu saja topik itu menjadi bahan guyonan.
"Ya itulah Bang, orang aneh tak masuk akal, jadi aku sekalian saja mengerjai mereka. Karena sikapnya sudah sangat keterlaluan bahkan seakan menghina keluarga kami," sahut Haikal menjelaskan kepada Anton.
"Orang kayak gitu harusnya dibekukan dan masuk museum lalu dibawahnya pakai tulisan "ORANG PALING TAK TAHU DIRI SEDUNIA"...biar semua orang bisa tahu sosoknya," kata Aprilia menambahkan.
"Ih kamu Apri, jangan begitu loh...biar begitu juga mertua loh...hahaha," goda Mela kepada Aprilia sambil tertawa.
"Wew sorry Mbak...amit- amit aku tak pernah mengakui kalau dia ibu tiri...hahaha.... jijik Mbak...," seru Haikal sambil merinding.
"Tapi benar juga loh sayang, dia kan setidaknya istri muda Papihmu loh...hahaha," Aprilia juga ikut menggoda pacarnya.
"Amit-amit...hhhiiihhh... kasihan Papih pernah hidup sama wanita kayak gitu. Ya Allah, ampuni Papih...sudah ah...jijik aku kalau ingat dia...hahahah," kata Haikal terlihat tak suka bahkan sampai tak mau menyebut nama wanita itu.
Tentu saja sepanjang jalan menuju rumah Jaya, dia dijadikan bulan-bulanan terkait hubungannya dengan Siska.
Mereka tiba di rumah Jaya, dan suami istri itu juga rupanya pasangan itu juga sudah siap dan segera naik ke mobil.
"Orang tuamu sudah kembali ke Solo?"tanya Anton saat keduanya sudah duduk bersama di bangku tengah mobil yang luas.
"Sudah Oom, tadi pagi dijemput sopir dari Solo, mereka akan mampir dulu ke beberapa kerabat di kota Kudus,"sahut Jaya menjawab pertanyaan Anton.
"Wah enak dong, bisa leluasa. Mana kamar ada tiga di sana, bisa-bisa dicoba semuanya deh,"ujar Anton menggoda pasangan itu.
"Tentunya dong, soalnya kami diancam, akhir tahun harus sudah hamil nih dia," kata Jaya sambil mencubit gemas pipi istrinya.
"Tapi jangan setiap hari juga loh Bang, menurut yang aku pelajari justru kalau setiap hari, malah lelaki tidak bisa memberikan bibit unggul,"ujar Haikal tiba-tiba sambil mengemudi.
"Nah, dengar tuh, dokter Haikal memberi nasehat. Benar itu, walau dia juga belum praktek...hahahah," kata Anton sambil tertawa.
"Masa sih, aku sama dia tiap hari loh. Iya kan sayang...," kata Jaya sambil menatap istrinya dan tentu saja dia langsung mendapat cubitan di pinggangnya.
"Iya bro, harus ada jeda. Tapi balik lagi yah, semua rahasia Tuhan,"ujar Anton lagi.
Sambil mengusap pinggang yang kesakitan karena dicubit Miranti, Jaya tetap bicara yang cukup vulgar.
"Iya benar aku tiap malam pasti meminta sama dia, habis tak tahan sih...hahaha," kata Jaya dengan cueknya dan tentu membuat Miranti merah padam dan kembali mencubit paha suaminya.
Mela dan Aprilia hanya bisa cekikikan saja mendengar Jaya selalu saja seenaknya kalau bicara urusan ranjang.
"Waduh Oom, hati-hati jantung, tiap malam dipaksa bahaya juga loh. Lelaki banyak yang good bye karena serangan jantung saat melakukan hubungan intim berlebihan," Haikal kembali menjelaskan karena dia paham teori walau belum tahu realisasi.
Jaya terdiam dan merasa agak ciut hatinya.
"Benar bro, hati-hati lelaki sangat rentan dengan masalah jantung. Kita tidak bisa memaksa kerja tubuh kita, apalagi hubungan intim itu sama dengan kita lari mengelilingi lapangan loh," kata Anton juga menambahkan penjelasan kepada Jaya.
Miranti mendelik kepada suaminya sambil berbisik,"Jangan sampai aku jadi janda gara-gara kamu sering begituan".
Jaya cuma nyengir sambil mengedipkan mata kepada istri tercintanya.
Mereka menuju pantai Indramayu dan memilih salah satu rumah makan di sana, lalu memesan berbagai macam masakan olahan laut.
Ikan bakar, cumi dan udang, hampir semua dimasak pedas sehingga membuat makan siang menjadi lebih semangat.
Ibu hamil begitu lahap makan sup kepala ikan, kuah rempah dan rasa pedasnya sangat nikmat sekali.
Menjelang sore ketiga pasangan berjalan-jalan di pantai, Anton dan Mela berjalan menikmati hawa laut dengan sangat bahagia.
"Mi, dulu ketika aku masih SMP kelas dua kalau tak salah, usiaku saat itu sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Aku pernah ke pantai Indramayu ini loh," kata Anton memulai cerita kepada istrinya.
"Dalam acara apa kemari?" tanya Mela sambil menyedot air kelapa muda yang langsung dari buahnya.
"Pramuka, waktu itu sekitar tiga hari kami tim pramuka sekolah berkemah di pantai Indramayu ini".
"Lalu ada cerita apa? Pasti soal pacar SMP mu yah".
Mela mendelik manja," Lalu mau cerita apa dong, biasanya di pantai pasti urusan pacaran seperti dalam novel".
"Waktu itu sempat aku terlibat suatu kejadian, aku melihat gadis kecil perempuan berusia sekitar enam atau tujuh tahulah. Gadis kecil itu sedang berusaha menolong adiknya yang baru belajar jalan yang lari ke air dan terhempas ombak".
"Kebetulan waktu itu aku melihatnya dan tanpa pikir panjang aku segera menolong gadis itu yang tengah menarik adiknya dari air. Masalahnya dari kejauhan ada kapal kayu yang akan menabrak mereka berdua".
"Saat aku menarik dan menggendong adiknya, tenyata kapal kayu sudah sangat dekat. Dan gadis itu malah berusaha menahan ujung kapal kayu itu dengan kedua tangan kecilnya agar tidak menghantam kepalaku yang sedang menggendong adiknya".
"Tangan gadis kecil itu sampai berdarah banyak karena dia harus menahan ujung kapal dengan sekuat tenaga".
"Sesampainya di pantai, Ibu gadis itu sudah menjemput mereka sambil menangis, dan beliau berterima kasih kepadaku".
"Yang aku salut, gadis kecil itu walau tangannya berdarah tapi dia tak menangis bahkan dia berulang kali berterima kasih kepadaku karena sudah menyelamatkan adiknya," kata Anton bercerita mengenang kejadian lama saat dirinya masih remaja dulu.
Mela mendengar cerita itu dan matanya menjadi melotot sambil menatap Anton, mulutnya menganga terkesima memandang suaminya.
"Mi, kamu kenapa sih?"tanya Anton heran melihat istrinya menganga seperti itu.
"Pi, gadis kecil berbaju merah muda, dengan rambut diikat kuda yah?"tanya Mela kepada suaminya.
"Iya, kok kamu tahu sih?".
Lalu Mela memperlihatkan telapak tangannya, memang di telapak tangan kanan Mela ada bekas jahitan seperti tanda luka dalam.
"Anak gadis kecil itu aku Pi, dan adik yang terseret ombak itu Wahyu adikku".
"Ya Allah, Mi kita itu memang jodoh yah. Waktu itu kamu sedang apa kemari?"tanya Anton sambil memegang tangan istrinya.
"Kami sedang berlibur ke pantai, kami naik truck bersama orang kampung lainnya berwisata ke pantai ini," cerita Mela kepada Anton.
Ternyata Anton dan Mela memang sudah berjodoh sejak mereka kecil, dan alam semesta yang melakukan hal itu.
Mela jadi penasaran dan dia juga bercerita tentang dirinya.
"Aku pernah ke suatu kampus di Bandung, waktu itu masih SMP kebetulan aku terpilih sebagai salah satu peserta pidato dalam bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh UNPAS".
"Ya aku ingat, itu acaranya fakultas Sastra Inggris. Lalu kenapa di kampus itu?"tanya Anton penasaran.
"Waktu itu hujan, aku dan temanku belum dijemput oleh mobil dari kelurahan kami. Aku kelaparan tapi tak punya uang, temanku juga kelaparan tapi dia punya uang sedikit untuk dirinya maka dia bisa memesan dan makan mie ayam sendirian".
"Hahaha...Aku Ingat, jadi itu juga kamu Mi?...hahaha... anak SMP duduk berjongkok di sudut taman dekat kantin. Terlihat sangat kelaparan dan kedinginan, aku kasihan melihatnya maka aku belikan dia semangkuk mie ayam dan segelas teh manis hangat".
"Hahaha...iya itu aku, dan memang benar aku tak punya uang sama sekali. Untung saja ada kakak ganteng yang baik hati membelikan aku mie ayam....hahahaha".
"Astaga ternyata kita pernah bertemu tapi tak sadar kalau kita ini jodoh yah. Kamu itu Mi, gadis polos dan lugu sungguh tak terpikir akan menjadi istriku".
"Hahaha...waktu dulu aku mendapat mie ayam dari kakak ganteng itu, aku sempat berdoa semoga saja kakak ganteng itu kelak menjadi suamiku...eh ternyata kejadian deh...kakak ganteng jadi suamiku sekarang," kata Mela sambil memeluk suaminya.
Anton memeluk erat istrinya dan dia bahagia sekali ternyata memang sejak dulu mereka adalah jodoh, walau harus ada kejadian tragis yang menimpa Mela dan juga keluarganya akibat kelalaian Anton.
Dan Anton berjanji tidak akan pernah menyakiti istrinya karena Mela adalah tulang rusuknya yang sudah dipersatukan oleh Allah SWT.
Miranti dan Jaya berpegangan tangan sambil melihat matahari terbenam.
"Mas, awas yah jangan ganjen sama cewek saat pelatihan nanti," kata Miranti kepada suaminya.
"Sayang, aku itu cuma omong kosong belaka, kamu harus paham dong. Cuma mulut saja, aslinya waktu kamu menolak aku juga dulu sampai dua bulan aku serasa tak punya semangat hidup," kata Jaya sambil merengkuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Benarkah?"tanya Miranti.
"Harus aku buktikan kalau aku itu cinta dan sayang banget sama Miranti Chandra," katanya lagi sambil mengecup pipi istrinya.
"Aku jatuh cinta kepada Jaya Permana, karena pria ini yang telah membuat aku semangat untuk mengubah diri menjadi lebih baik," kata Miranti sambil menatap wajah suami tercintanya.
__ADS_1
"Nanti kita buat anak yah sayang, selama ini kan nafsu bercinta kalau nanti kita program buat anak,"ajak Jaya kepada Miranti.
"Kalau aku tak hamil saja, nanti bagaimana nasibku?" tanya Miranti merasa cemas.
"Aku yakin kamu akan hamil, percayalah aku pasti akan menghamili kamu bagaimanapun caranya," kata Jaya selalu percaya diri.
Miranti tersenyum dan membenamkan dirinya ke dalam pelukan suaminya.
"Apri, kalau nanti di Papua kita hidup mengembara seperti di film petualang begitu, apakah nanti kamu tidak akan menyesal?" tanya Haikal kepada kekasihnya.
"Please man...aku pernah tersesat di hutan tiga hari tiga malam, tapi aku tak mengeluh. Lalu perjalanan dari Bandung ke Banten jalan kaki dua minggu bersama anak-anak Mapala dulu, dan aku santai saja,"jawab Aprilia dengan enteng kepada Haikal.
"Aku sudah biasa hidup berkelana my man, justru aku yang ragu kepadamu. Apakah dokter muda ini bisa tahan di Papua?"Aprilia mempertanyakan sambil menyenggol lengan kekasihnya.
"Harus bisa dong, aku sudah bertekad bulat kesana. Mengapa harus mundur lagi, apapun harus maju terus jangan sampai kalah sebelum berperang," ucap Haikal penuh semangat.
"Nah gitu dong, itu baru calon suamiku. Kita songsong Papua dan kita bangun kehidupan di sana," Aprilia selalu penuh semangat mendukung Haikal.
Ketiga pasangan itu saling berpelukan dengan pasangan masing-masing.
Mereka menatap matahari senja yang tenggelam berganti dengan sinar purnama.
Harapan mereka agar tali persahabatan dan persaudaraan yang tengah terjalin akan selalu abadi selamanya.
Sementara di rumah Linda tantenya Haikal, tampak Siska datang untuk meminta mobil milik kakeknya Haikal.
"Linda, aku tahu kalau ayahnya Bambang punya mobil jeep yang mahal buatan luar negeri, berikan kepadaku sekarang juga mobil itu," pinta Siska kepada Linda.
"Kamu siapa? Dan aku siapa? Aku kan cuma adiknya Nova, sementara Nova dan Bambang sudah lama berpisah karenamu".
"Masa iya mobil ayahnya Bambang ada di sini, aku sudah tak ada kaitan dengan Bambang," kata Linda dengan santai berkata demikian kepada Siska.
"Seharusnya kamu dong sebagai istrinya Bambang yang paling tahu dimana harta warisan suamimu berada. Ini malah nanya sama aku, sorry yah aku sudah tak ada kaitan apapun lagi dengan Bambang," ujar Linda menekan lagi kepada Siska.
"Nah selama ini bukanlah Haikal tinggal di sini?" tanya Siska kepada Linda.
"Anak itu, dia lelaki mau tinggal dimana saja bebas. Kadang di sini, kadang di rumah temannya, entahlah suka-suka dia saja".
"Lagipula dia masih lajang jadi bebas mau dimanapun. Dia kan jadi hancur begitu karena ulahmu juga," kembali Linda merasakan ada peluang untuk menghantam Siska.
Siska terdiam dan merasa sangat tersudut, dia sudah tidak bisa berkata apapun karena dia memang tidak punya hak apapun atas harta keluarga suaminya...eh ....mantan suaminya.
"Ingat Siska, kamu menikah dengan Bambang secara siri. Tak ada selembar surat apapun yang bisa menguatkanmu untuk menuntut harta keluarganya. Semua harta jatuh ke tangan Haikal, dan seharusnya kamu berterima kasih karena Haikal masih sangat baik memberikan rumah sebesar itu," Linda menatap Siska dengan tajam sambil memperingatkannya secara tak langsung.
"Tapi aku tak akan tinggal diam Linda, aku akan berusaha mencari harta keluarga Bambang. Aku tahu ada lemari besi di kamar kakek, akan ku bongkar nanti,"ancam Siska kepada Linda.
"Silahkan saja, toh aku tak ada urusan dengan rumah itu dan keluarga Bambang. Hanya Haikal yang terkait denganku dan itupun cuma sesekali kami bertemu," ujar Linda seakan tak peduli dengan semua urusan yang dikatakan Siska.
Lalu Siska dan Ray bergegas kembali ke rumah besar dan setibanya di sana langsung saja Ray mendobrak kamar kakeknya Haikal.
Siska dan Ray saling membantu berusaha mendobrak pintu kamar kakek sampai akhirnya bisa juga pintu itu jebol.
Mereka mengacak-acak semua lemari pakaian dan meja yang ada di dalam situ mencoba mencari lemari besi berisi harta.
Dan tibalah Siska di depan kaca rias, lalu tak sengaja tangannya menekan kaca besar itu dan terbukalah kaca itu seperti pintu lemari.
Tampaklah lemari besi kokoh di balik kaca itu, tentu saja membuat Siska dan Ray bahagia.
Saat memegang lemari besi itu, ternyata sangat mudah dibuka dan di dalamnya tenyata kosong melompong.
"Sialan kamu Siska, bodoh aku mau saja ditipu olehmu. Tenyata kamu cuma sampah yang tak punya apapun".
"Aku mau pergi, percuma aku harus hidup dengan perempuan tua dan miskin sepertimu" kata Ray dengan marahnya sambil meraih pot bunga plastik kecil dan melemparkan ke arah kaca.
Tentu saja kaca lemari itu pecah berantakan dan Ray tak peduli lalu dia turun ke kamarnya dan meraih tas kopernya.
"Ray, jangan begitu, bukankah aku sungguh mencintaimu. Jangan tinggalkan aku Ray," Siska memohon kepada Ray.
"Cinta? Hahahah... Cinta apa...kalau uangmu ada tentu aku cinta, sekarang kamu cuma pengemis yang tinggal di rumah mewah. Sorry yah...masih banyak perempuan kaya raya di luar sana yang akan mencintai aku," kata Ray yang tenyata cuma seorang lelaki buaya yang mengejar harta wanita kaya.
"Satu lagi ingat Siska, kamu sudah tua dan miskin. Mana ada lelaki mau, cuma Bambang bodoh saja dulu mau kepadamu. Saat ini maaf saja, aku pergi masih banyak urusanku di luar sana,"kata Ray sambil mengambil tas pakaiannya lalu dia berjalan keluar meninggalkan Siska.
Ray memasuki mobil tuanya dan melaju entah kemana.
Siska menangis kesal, dan dia memaki Ray yang sudah tak terlihat wujudnya.
"Pergi b*jingan, dasar lelaki tak tahu diri. Aku benci kamu!!!!".
Siska menangis sendirian, dia juga tak tahu mau apa dengan rumah besar ini.
Hendak dikuasai tapi tak ada selembar surat apapun yang bisa menguatkan dirinya untuk memilikinya.
Tadinya berharap ada mobil mewah dan harta di lemari besi, ternyata semua sudah tak ada.
Siska hanya bisa gigit jari karena berharap terlalu banyak tapi semua hanya impian kosong belaka.
Andai dia saat bersama ayahnya Haikal hidup baik-baik tentu sampai hari ini akan bahagia.
Andai saja ketika ayah Haikal sakit dan dia mau merawat tentu saja suatu hari Haikal akan memberikan sebagian peninggalan kakeknya kepadanya.
Sekarang Siska hanya bisa menangis meratapi kebodohannya.
Tapi sulit tenyata kalau orang yang berhati tamak dan pikirannya hanya harta dan kesenangan saja.
Diusia yang menjelang empat puluh tahun, Siska memang masih tampak cantik.
Dia masih mencoba mencari lelaki kaya raya lewat media sosial.
Siska berswafoto di depan rumah kakek Haikal dan menggugah ke media sosialnya.
Benar saja tak butuh lama ada saja lelaki yang menyapa dirinya di media sosial.
Selama beberapa hari dia berkomunikasi dengan seorang pria yang mengaku dari negara Eropa.
Lelaki itu mengaku sedang berada di Singapura untuk keperluan bisnis.
Seakan memperlihatkan kalau dia suka kepada Siska dan mengajaknya bertemu di Jakarta.
Tanpa pikir panjang lagi Siska segera berkemas dan meninggalkan rumah kakek Haikal untuk menemui lelaki tadi di Jakarta.
Hati-hati kepada kaum muda khususnya jangan asal berkenalan di media sosial.
Banyak orang tertipu, apalagi kaum wanita. Banyak lelaki jahat mengajak berkenalan sambil merayu dan memuji seakan jatuh hati kepada sang wanita.
Ternyata mereka adalah sekelompok orang gembong narkoba, mereka memasang perangkap seakan jatuh cinta kepada wanita itu.
Rupanya sama dengan nasib Siska, dia dijadikan umpan untuk mengirim narkoba dalam jumlah besar.
Awalnya dia gembira mendapat uang banyak saat diminta tolong oleh lelaki bule tampan itu. Hanya sekedar mengantar bungkusan ke suatu tempat lalu diberi uang banyak.
Siska senang setengah mati, punya kekasih bule dan sekarang banyak uangnya, dia diajak ke Singapura dan Malaysia dengan dalih wisata.
Polisi ternyata mengintai dan jelas mendapat bukti kalau Siska seorang pengedar, maka tak butuh waktu lama Siska tertangkap di Malaysia.
Tak bisa mengelak walau menjerit-jerit berusaha menjelaskan kepada Polisi kalau dia dijebak.
Siska tertangkap sedang membawa narkoba jenis shabu dalam jumlah lebih dari dua kilogram.
Pria bule kekasihnya tentu saja melarikan diri dan tak bisa dilacak sementara ini.
Pria tadi akan dengan mudah mencari wanita bodoh seperti Siska, karena banyak dan mudah wanita tergoda dengan penampilan tampannya.
Hukum Internasional untuk pengedar narkoba adalah ancaman hukuman mati.
Siska sekarang mendekam di penjara, dan hanya tinggal menunggu waktu pengadilan Malaysia akan memutuskan hukuman mati kepadanya.
__ADS_1
- Tamat-
note: akan ada beberapa bonus segera...tunggu saja...