Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketujuh Puluh Enam


__ADS_3

Sepulang kerja Jaya memasuki garasi rumahnya, lalu dia membuka tutup terpal sebuah sepeda motor skuter antik buatan tahun 1985.


Tahun itu adalah masa kembali produksi motor tersebut setelah lama terhenti di tahun 1973.


Motor itu dahulu adalah milik ayahnya dan dipergunakan sebagai sarana transportasi pulang pergi bekerja.


Sesekali motor itu masih dipergunakan, hanya motor jenis ini suka mogok tiba-tiba.


Namanya juga motor sudah tua, saat ini Jaya berusia tiga puluh satu tahun di tahun 2017.


Sedangkan motor itu sudah ada sebelum dia lahir ke dunia, tapi jangan salah motor seperti ini masih dicari oleh kolektor.


Dan harganya masih bersaing dengan motor keluaran yang terbaru.


Jaya memeriksa oli dan bahan bakarnya, ternyata masih cukup untuk dipakai hari ini.


Dia mencoba menyalakan mesin motornya dengan tuas kaki dan ternyata benar masih menyala walau suaranya berisik.


Setelah yakin semua bisa berjalan dengan baik, lalu dia mandi. Selesai Maghrib dia melaju dengan skuter antiknya menuju ke hotel tempat Miranti menginap.


Miranti sudah bersiap-siap berdandan karena akan dijemput oleh Jaya, dia sudah punya firasat kalau Jaya pasti akan menjemputnya dengan kendaraan roda dua.


Jadi dia sudah mengenakan jaket agar tidak masuk angin saat nanti berjalan-jalan dengan Jaya.


Lalu Miranti turun ke lobby menunggu dijemput oleh Jaya.


Selagi dia duduk menanti sambil membaca majalah yang ada di meja hotel itu, tiba-tiba terdengar suara berisik motor skuter.


Semua orang menengok keluar ruangan termasuk Miranti.


Jaya menghentikan skuternya di tempat parkir di halaman depan hotel itu.


Ketika dia turun dari skuternya, tiba-tiba dari belakangnya ada seorang wanita menghampiri sambil tertawa lebar.


"Hahaha...Jaya kamu keren sekali masih punya skuter seperti ini...Hahaha...aku senang sekali loh naik skuter seperti ini...,"Miranti terlihat tertawa senang dan sangat tulus.


"Kamu serius suka naik motor skuter seperti ini?"tanya Jaya sambil merasa heran.


"Hei...aku juga bisa mengemudikan skuter loh, jangan dianggap enteng. Miranti dilawan...hahahah," Miranti tertawa dengan begitu senang, tulus dan tidak ada kebohongan dalam setiap katanya.


"Coba kalau benar bisa, kamu yang membonceng aku. Berani tidak?"tantang Jaya kepadanya.


"Hayuk...mana helm ku, sini kuncinya biar aku yang bawa," Miranti menyambut tantangan dari pria di depannya itu.


Jaya memberikan kunci dan helm untuk Miranti, walau wanita itu berdandan keren tapi dia tidak malu.


Dengan kakinya dia menekan tuas, lalu menyalakan skuter tersebut.


Dia naik ke atas skuter itu, lantas mengajak Jaya segera naik


"Ayo naik, kita keliling kota bersama aku!".


Jaya tentu saja tidak menunggu dipanggil dua kali, segera dia duduk di jok belakang skuter itu.


Miranti mengemudikan skuter itu dengan lihainya, mereka berkeliling kota sambil tertawa ceria di sepanjang jalan.


Ingin rasanya memeluk pinggang Miranti, tapi takut kena tempeleng.


Karena itu Jaya sepanjang jalan berceloteh saja menceritakan hal-hal lucu.


Lumayan sekali, kalau Miranti tidak mendengar dan minta diulang kalimat Jaya, maka kesempatan baik buat Jaya untuk menempelkan dirinya ke punggung Miranti.


Sesekali dia juga memegang pundak Miranti, sengaja saja bicara tak jelas jadi saat Miranti minta diulang lumayan sekali Jaya bisa menyentuh dirinya.


"Makan sate yuk!!"ajak Jaya.


"APA ...?"tanya Miranti setengah berteriak.


"SATE !!!"jawab Jaya.


"HAAHHH...PETE !!!"


"SATE !!!"


"OH SATE...HAYUK DIMANA?!!"


"DI DEPAN".


"APA...??? KETAN...???".


"DEPAN !!!"sahut Jaya sambil menunjukan jarinya ke arah penjual sate.


Miranti mengangguk tanda mengerti lalu dia melaju ke arah kedai sate pinggir jalan.


"DI SINI KAN?"tanya Miranti sambil berteriak padahal skuternya sudah dimatikan mesinnya.


Orang sekitar melirik ke arah Miranti yang barusan berteriak.


"Bu...skuternya sudah mati mesinnya, tidak usah teriak yah," kata Jaya sambil tersenyum lebar.


Miranti tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu dia mencubit gemas dadanya Jaya.


Ampun Ya Tuhan...Jaya semakin gemas saja kepada wanita itu.


Mereka duduk berdua di kedai sate dan memesan nasi dengan dua puluh tusuk sate ayam.


"Kamu makan sate, apakah tidak takut susuknya copot?"goda Jaya tapi siap-siap akan dimarahi Miranti.


Miranti tertawa, lalu mencomot sebatang sate ayam dan menarik semua dagingnya dari tusukan sate itu memakai giginya.


Lalu dia menusuk-nusuk pipinya dengan tusukan sate, sambil berkata," Waduh copot nih susuknya, wah jadi nenek- nenek deh aku".


Jaya pura-pura kaget ," Wah iya nenek-nenek cantik, aku jadi terpesona".


Lalu keduanya tertawa-tawa, sambil makan sambil saling bercanda.


Ternyata kegiatan mereka itu tak sengaja terlihat oleh beberapa pemuda yang duduk di meja seberang mereka.


"Amit-amit yah sudah tua tapi masih pada lebai deh," kata salah satu pemuda itu.


"Tante cantik bro, gue juga suka lihat seperti itu sih,"kawannya menimpali.


"Sttt..nanti kedengaran kaga enak loh," kata yang lain.


Lantas semua lanjut makan, setelah selesai makan Jaya membayar tagihan lalu mereka kembali ke skuternya.


Miranti ingin mengemudikan skuter itu lagi karena jaman dulu dia punya kenangan dengan skuter.


Saat kakeknya hidup dulu harta paling mahal yang mereka miliki adalah sebuah skuter tua keluaran tahun 1950 an.


Walau sering mogok dan sudah pasti harus punya tenaga ekstra untuk mendorong, tapi saat itu adalah hal terindah dalam hidup Miranti.


Mempunyai sosok lelaki yang bisa melindungi dirinya dan juga ibunya walau kondisi sang kakek cacat hanya memiliki satu kaki saja.


"Aku saja yang bawa, senang hatiku bisa jalan-jalan lagi sambil mengemudi skuter. Ingat masa lalu deh," kata Miranti ketika di depan kedai sate.


Jaya memberikan lagi kunci skuter kepada Miranti, dan setelah mesin menyala dia duduk lagi di jok belakang.


Para pemuda tadi juga bersamaan keluar dengan mereka, dan saat mereka naik ke motornya masing-masing, jelas mereka melihat Miranti sedang siap-siap membonceng Jaya.


"Gila yah...itu Tante cantik mau- maunya membonceng pria kayak gitu".


"Hahaha...iya yah itu cowok kaga ada guna banget yah...hahahah...".


"Mending gue aja yah yang duduk di belakang...hahahah...".


"Gue yakin ini sih mereka pasangan selingkuh... hahaha".


"Iya yah...benar juga...yuk kita godain...hahahah".


Lalu para pemuda itu mendahului Miranti dan Jaya, salah satu dari mereka melaju perlahan lalu berkata ," Tante hati- hati yah di jalan...Oom... hati-hati juga yah tangannya...".


"Hahahahahaha....!!!" para pemuda tadi langsung tancap gas sambil tertawa-tawa.


"Dasar anak-anak sinting...tahu saja isi hati orang," guman Jaya sambil tertawa kecil.


Setidaknya dia juga ingat ketika usianya seperti mereka juga pernah melakukan kekonyolan seperti itu.


Untung saja Miranti tidak terlalu peduli dengan para pemuda tadi.


Di satu belokan jalan, benar saja skuter mogok. Dan yang membuat Jaya tambah kagum kepada Miranti yaitu melihat wanita itu malah tertawa tergelak saat skuter itu mogok.


Mereka berdua mendorong skuter itu sambil tertawa sepanjang jalan.


Miranti terlihat berkeringat saat berjalan mendorong skuter itu menuju stasiun pengisian bahan bakar, tapi dia santai saja dan sepanjang jalan itu malah saling bercanda.


Jaraknya padahal cukup jauh sekitar dua kilometer tapi mereka tidak merasa lelah, bahkan Miranti terlihat ceria gembira.

__ADS_1


Setelah tiba di SPBU, Jaya segera mengisi bahan bakar dan Miranti juga tahu cara mengisi bahan bakar skuter seperti bagaimana.


Walau agak rumit karena harus dicampur oli, tapi dia sangat paham karena dulu memang sering berurusan dengan mogoknya skuter.


Setelah selesai mengisi bahan bakar, mereka memutuskan kembali ke hotel saja.


Miranti turun di depan lobby hotel, dan Jaya pamit tapi sebelumnya mereka berjanjian besok malam akan kembali berjalan-jalan lagi.


Malam itu lain lagi dengan Haikal, dia menjemput Aprilia di stasiun radio sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh gadis itu.


"Waduh...Apri sudah ada yang jemput aja nih...siapa itu cowok di depan?"tanya Brandon Law pemilik radio tersebut.


"Hmm...teman aja boss, teman kantornya Kak Anton kakak sepupuku," jawab Aprilia dengan santai.


"Hmmm...dokter dong yah... boleh juga penggemar elu. Yang di sana manajer, di sini baru dua hari sudah ada dokter, luar biasa elu Pri...".


"Biasa aja lah...teman kok boss, bukan siapa-siapa".


"Iyalah, dulu gue sama bini gue juga berteman dulu...hahahah... ya sudah sana pulang. Besok sudah ada yang wawancara untuk penyiar, nanti bantu yah," kata Brandon Law lagi.


"Siap boss...pamit yah...".


Aprilia lalu menemui Haikal, dan dia senang melihat dirinya dijemput dengan naik motor.


Haikal naik ke jok pengemudi, lalu Aprilia juga langsung naik ke jok belakang, yang membuat Haikal kaget adalah karena tiba-tiba ada sepasang tangan memeluk pinggangnya.


Aprilia sih santai saja memeluk pinggang Haikal, tapi yang terpeluk merasa dag dig dug.


Jantungnya berdebar kencang tapi dia berusaha tetap konsentrasi mengemudi.


"Aku ngantuuuukkkkk!!!!"teriak Aprilia dari belakang.


Haikal terkejut, lalu dia mengemudi motor dengan lebih perlahan.


Terasa punggungnya jadi lebih sedikit berat, mungkin gadis ini benar tertidur.


"Waduh bahaya nih...".


Haikal segera menuju SPBU terdekat dan menghentikan motornya.


Benar saja Aprilia tidur karena saat Haikal menggerakkan punggungnya untuk membangunkan Aprilia, ternyata gadis itu tidak bergerak.


Yang terdengar malah hembusan nafas orang tidur pulas.


Haikal diam saja di atas motornya sambil kedua tangannya mendekap tangan Aprilia agar jangan sampai terjatuh.


Orang-orang yang melihat agak heran melihat keduanya, sebab sudah cukup lama sekitar dua puluh menit Haikal duduk di motor sambil memegang tangan seorang gadis.


Aprilia enak sekali tidurnya, semalam kurang tidur lalu seharian bekerja sampai malam maka dia sekarang merasa mengantuk dan lelah saat duduk di atas motor.


Memeluk Haikal dari belakang serasa empuk membuatnya tak kuasa menahan kantuk.


Haikal sabar menanti Aprilia terbangun, padahal kakinya cukup pegal menahan beban motor dan juga badan Aprilia.


Ditambah dengan hembusan angin membuat dirinya agak kedinginan dan sekarang timbul rasa ingin buang air kecil.


Sudah tiga puluh menit lebih tapi belum ada reaksi Aprilia terbangun dari tuturnya.


Semua rasa bercampur aduk dirasakan Haikal, pegal, letih, bosan, ingin buang air dan sebagainya.


Tapi ini momen tersabar yang dia lakukan sepanjang hidupnya. Selama ini walau banyak diam, tapi Haikal bukan orang penyabar.


Sungguh dia baru sekali ini bisa menahan sabar tingkat dewa, dia tidak tega membangunkan Aprilia.


Mungkin kalau saja teman lain pasti sudah dia bangunkan dan diomeli sejak tadi.


Tapi sekarang lain, dia benar - benar merasa sayang kepada gadis ini, walau belum lama mengenalnya.


Hampir empat puluh lima menit dan tiba-tiba tangan yang digenggam Haikal bergerak, lalu mulai terasa ada yang berkurang beban yang menempel di punggungnya.


"Turun dong, aku pengen pipis,"kata Aprilia dengan suara khas orang bangun tidur.


Haikal melepaskan genggaman tangannya, lalu menarik standar motornya dan turun bersama menuju toilet yang ada di SPBU itu.


"Minta uang dong receh dong, kan harus bayar kalau ke toilet," kata Aprilia meminta uang kepada Haikal.


"Sudah nanti aku yang bayar, sama aku juga perlu ke toilet," sahut Haikal.


Sekitar sepuluh menit keduanya ada berada di dalam toilet berbeda, dan ketika keluar dari sana Haikal sudah membayarkan.


"Itu ada mini market, minta uang dong aku mau beli minum," kata Aprilia lagi kepada Haikal.


Aprilia hanya mengambil sebotol air mineral, Haikal juga sama dan mereka berdampingan menanti antrian membayar ke kasir di mini market itu.


"Dua botol air mineral yah pak, apakah mau sekalian isi ulang pulsa atau token, hari ini juga ada promo beli roti coklat pak. Beli satu gratis satu," penjaga kasir menawarkan segala macam.


Haikal bertanya kepada Aprilia apakah mau membeli yang lain, tapi gadis itu hanya menggeleng saja.


"Baik pak, semuanya delapan ribu lima ratus rupiah".


Haikal mengeluarkan selembar dua puluh ribu rupiah, dan ketika uang kembalian belanja tersebut akan diberikan kepada Haikal oleh kasir.


Tiba-tiba...sreet...uang itu diambil oleh Aprilia dan langsung dimasukan ke dalam saku celananya.


Kemudian dia melenggang keluar tanpa rasa bersalah.


Kasir tadi tersenyum kepada Haikal yang masih terlihat terpana oleh kelakuan Aprilia.


"Lapar nih...belikan aku makanan dong," pinta Aprilia ketika naik ke atas motor.


"Mau makan apa kamu?"tanya Haikal.


"Bebas apa saja yang penting enak".


Lalu Haikal melaju menuju jalan besar, sambil dia melirik ke kanan dan kiri mencari penjual makanan.


"Pecel lele saja...!!!"teriak Aprilia sambil menunjuk warung tenda yang menjual nasi pecel lele di pinggir jalan.


Haikal mengangguk kemudian dia menghentikan motornya di depan warung tenda tersebut.


"Mas...nasi pecel lele yah sama tahu goreng untuk dua orang," kata Aprilia kepada penjual nasi tersebut.


"Aku sebenarnya tidak biasa makan di warung begini loh," kata Haikal sambil wajahnya terlihat tidak nyaman.


"Mulai deh, dokter tuh suka sombong kayak gini deh. Sesekali mencoba dong, enak tahu makanan pinggir jalan itu," kata Aprilia sambil mencebik.


Haikal hanya diam saja, maklum dia anak orang kaya dan dokter pula, setidaknya dia dari kecil tidak pernah makan sembarangan.


Dia terlihat risih sekali berada di warung tenda pinggir jalan, karena memang sedari kecil tidak pernah makan di warung pinggir jalan.


Tak lama datang pesanan mereka, dan Aprilia melihat makanan yang dihidangkan itu sangat gembira sekali.


Nasi hangat plus pecel lele dan sambal di tambah tahu goreng panas, sangat menggoda selera sekali.


"Cuci tangannya dimana yah?"tanya Haikal kebingungan.


"Ya ampun dokter, ini nih... kocok jari tangannya di sini," kata Aprilia sambil tangannya masuk ke dalam air kobokan yang sudah disediakan oleh pemilik warung.


Haikal mengikuti apa yang dilakukan Aprilia, lalu dia melihat gadis itu makan memakai tangan setelah mencuci tangannya di mangkuk kecil barusan.


"Makan nasi pecel lele itu kayak gini bro, baru mantap".


Aprilia makan dengan lahap, Haikal mencoba mengikuti caranya.


Awalnya dia merasa agak jijik dengan tempat seperti itu, tapi ketika nasi dan potongan ikan masuk ke mulutnya, dia baru merasakan rasa makanan enak di lidahnya.


"Iya enak juga yah...".


"Makanya biarin dokter juga, kalau makan sih makan saja. Nih tambah sambalnya, pasti akan tambah enak lagi".


Akhirnya Haikal mengikuti dan dia mulai bisa menikmati makanan seperti itu.


Haikal menghabiskan ikan lelenya, tapi tidak menyisakan nasi putihnya.


"Kenapa disisakan nasinya?" tanya Aprilia dengan mulut masih penuh makanan.


"Aku tidak banyak makan nasi,"sahut Haikal lagi.


"Hmm...dasar dokter, sini berikan padaku," kata Aprilia sambil mengambil sisa nasi putih yang ada di piring Haikal.


Dan dia makan sampai tandas tidak ada lagi nasi tersisa di piringnya.


"Ooeeee...!!!"Aprilia bersendawa dengan seenaknya dan keras.


Haikal kembali takjub dengan gadis ini, dan bisa-bisanya Aprilia itu wajahnya datar saja kalau melakukan yang aneh-aneh.


"Bayar dong nasinya, aku mau ke seberang dulu sebentar".

__ADS_1


Lalu tanpa basa basi lagi Aprilia menyeberang jalan menuju sebuah kios kecil yang menjual rokok dan kopi eceran.


Dia kembali lagi menuju Haikal yang sedang berdiri di depan motornya.


"Sebentar yah bro, sebatang dulu habis makan barusan biar tidak enek," ujar Aprilia dengan santainya.


Dia duduk di pinggir trotoar di atas pot bunga besar sambil menghisap sebatang rokok.


"Beli rokok pakai uang kembalian tadi yah," kata Haikal sambil menatap Aprilia.


"Hahaha...iya...habis aku tak punya uang sama sekali. Ini masih ada sisa sepuluh ribu, lumayan untuk besok makan siang di radio,"kata Aprilia sambil mengepulkan asap rokoknya.


"Buat makan siang atau buat beli rokok?"sindir Haikal.


"Buat dua-duanya juga bisa, paling seperti tadi siang. Kebetulan aku masih punya sisa uang lima ribu, jadi beli siomay saat lapar tadi. Hanya tidak punya uang buat beli rokok".


"Besok sih bisa nih, beli siomay sama beli rokok," sahut Aprilia sambil cengar - cengir.


"Kok bisa kamu tidak punya uang, katanya dulu kerja di kota tempat tinggalmu?"tanya Haikal lagi karena merasa aneh dengan gadis ini.


"Uang sih ada, hanya kartu ATM dan buku tabungan disimpan oleh ibuku, gajian masuk rekening sih. Paling nanti aku minta saja ke ibuku untuk ongkos dan untuk makan. Aku malas pegang uang banyak- banyak," sahut Aprilia lagi sambil garuk-garuk kepala.


"Lalu kalau kamu harus membeli keperluan pribadi bagaimana?"tanya Haikal lagi.


"Maksudnya gimana?".


" Yah perempuan kan butuh pakaian, bedak atau apalah...".


"Ya kadang dibelikan ibuku atau kami pergi bersama dan ibuku yang membayar pakai uang punyaku. Aku sendiri malas pegang uang atau belanja, lebih senang ada yang membelikan saja".


"Benar-benar perempuan aneh yah kamu itu," kata Haikal sambil tertawa kecil dan Aprilia hanya senyum saja karena sudah biasa mendengar kalimat seperti itu.


Mereka tiba di depan rumah yang ditempati Anton sekitar pukul setengah sebelas malam.


"Makasih yah bro, sudah jemput aku. Besok mau jemput lagi tidak?"tanya Aprilia kepada Haikal sambil senyum lebar.


"Kalau kamu mau pasti aku jemput".


"Oke makasih yah, tapi besok traktir aku lagi mau tidak?".


"Tak masalah, hmm...tapi kamu buat besok makan siang punya uang tidak? Kalau tidak punya ini aku beri saja untuk pegangan".


"Tak usah, nanti aku minta kak Anton saja. Oke makasih yah".


Aprilia masuk ke halaman rumah Anton, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan muncul wajah Anton sambil cemberut.


Matanya menatap tajam ke arah Haikal, dan Haikal mengangguk sambil melambaikan tangannya.


"Dari mana saja kalian?"tanya Anton terlihat kesal.


"Pulang kerja terus makan dulu".


Anton menghela nafas, lalu dia mengunci pagar dan pintu masuk.


"Besok pulang jam berapa? nanti aku saja yang menjemput".


"Tak usah Kak Anton, besok juga sudah janjian dengan Haikal. Nanti aku minta uang saku saja yah buat makan".


Mela senyum-senyum saja melihat suaminya terlihat sebal sekali dengan adik sepupunya itu.


"Apri, tadi siang Mbak sudah belikan kamu sabun pembersih wajah, shampoo dan juga kebutuhan lainnya. Bisa kamu lihat di kamarmu yah, ada krim pagi dan malam juga ada serum wajah dan lain-lain,"Mela menerangkan kepada Aprilia.


"Oke makasih Mbak, aku mau mandi dulu yah".


"Ehm...Pi...sayang...".


"Ya...apa Mi?".


"Pi nanti akhir bulan bayar hutang ke aku yah...lima ratus ribu".


"Hah...hutang apa?".


"Itu belanjaan untuk kebutuhan Aprilia," ujar Mela sambil senyum lebar.


Anton kembali menepuk dahinya, adik sepupunya ini benar-benar membuat ruwet segalanya.


Selama seminggu ini Anton dibuat ruwet oleh Aprilia, selain setiap hari selalu saja ada tingkahnya yang aneh ditambah setiap malam pulang dengan Haikal.


Mela sih tenang-tenang saja walau Aprilia dan Anton setiap hari seperti kartun Tom si kucing dan Jeri si tikus.


Anton layaknya Tom selalu marah - marah melihat kelakuan Aprilia si Jeri tikus, entah gadis itu susah dibangunkan atau menyimpan barang sembarangan dan apa saja pasti tak luput dari omelan Anton.


Untung Aprilia gadis yang tidak pernah ambil pusing atas apapun, mau Anton mengomel sampai bagaimana juga dia sih santai saja.


Lain halnya dengan Haikal yang lebih bisa memahami Aprilia, untuk menasehati gadis itu jangan pakai amarah tapi sampaikan dengan santai malah lebih mengena.


Sudah tiga hari ini Aprilia tidak merokok lagi, karena ternyata Haikal punya jurus jitu untuk mendidik gadis itu.


"Apri mau nonton tidak nanti sabtu malam?"tanya Haikal di tengah minggu kemarin.


"Mau dong...mau banget".


"Kalau sampai hari Sabtu siang kamu tidak merokok nanti aku ajak nonton. Tapi kalau kamu bohong merokok diam-diam, nonton nya batal".


"Nonton dong, merokok sih tidak penting. Aku mau nonton, janji aku tidak merokok".


Dan benar saja tiga hari ini Aprilia sama sekali tidak merokok.


Hari Sabtu dan minggu, stasiun radio diliburkan dulu sambil menunggu perijinan dari Dinas Direktorat Kementrian Komunikasi dan Informatika.


Keputusan Brandon Law selama dua hari ini radio hanya menyiarkan lagu-lagu saja tanpa ada announcer.


Dan memang benar kalau tidak diperintah dan di omel, gadis macam Aprilia adalah seorang yang rajin.


Sejak pagi dia membantu Mela mencuci pakaian, menyapu, mengepel lantai bahkan mengelap seluruh kaca jendela di rumah itu.


Mela lebih tenang memasak makanan untuk makan siang nanti karena suaminya akan pulang lebih awal.


Takjub sih kalau Aprilia sudah bergerak, tanpa di suruh semua perabotan di lap bahkan kondisi rumah lebih terasa bersih dibandingkan sebelumnya.


Yang tidak tertangani oleh Mela sebelumya bisa dibereskan dan lebih tertata rapih.


"Wah terima kasih yah Apri, tempat jemuran jadi lebih bersih sekarang," Mela memuji pekerjaan Aprilia.


Bahkan ketika Anton pulang dia merasa agak lain dengan kondisi rumah, lalu Mela menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Aprilia.


"Nah gitu dong, baru perempuan namanya, " kata Anton memuji sepupunya.


Aprilia hanya senyum saja saat Anton memuji dirinya seperti itu.


"Eh kamu kok sudah dandan rapih, mau kemana?"tanya Anton lagi.


"Mau nonton sama Haikal.... bolehkan".


Anton terdiam saja, lalu Mela menatap suaminya sambil berkata,


"Pi...biarkan saja anak muda malam mingguan, kasihan Apri juga belum kita ajak kemana-mana. Kebetulan Haikal mengajaknya, sesekali tidak apa-apa dong".


"Ya sudah, suruh Haikal minta ijin aku saja. Jangan seenaknya dia mengajakmu, harus ada etika sedikit".


Tak lama Haikal datang menjemput, dan pria itu menghampiri Anton sambil meminta ijin mengajak pergi menonton.


Mau tak mau Anton akhirnya memberikan ijin juga.


Haikal dan Aprilia pergi menonton film aksi terbaru dari bintang kenamaan, film tentang balapan mobil yang sangat disukai oleh keduanya.


Setelah menonton Haikal mengajak Aprilia ke atas bukit, melihat kerlap kerlip lampu kota dari kejauhan.


Motornya di pasangkan standar, lalu Haikal mengajak Apri duduk di depannya untuk melihat kerlipan lampu-lampu itu.


Karena terbawa suasana, Haikal melingkarkan tangannya ke pinggang Aprilia dan dia memeluk gadis itu dari belakang.


Tercium wangi rambutnya dari balik kerudungnya, ingin rasanya mencium gadis itu tapi dia tahan saja keinginan itu karena dia takut malah merusak suasana.


Aprilia merasa kaget ketika tiba- tiba Haikal memeluknya dari belakang, dia mendengar degup jantung lelaki itu berdebar kencang.


Ingin melepas tangan itu, tapi hati ini malah merasa nyaman dan sangat menikmati pelukan itu.


Jantungnya ikut berdebar juga, dia berpikir pasti sebentar lagi dia akan dicium seperti adegan di film-film.


Dan Aprilia menyiapkan hati untuk merasakan ciuman pertama dari seorang lelaki.


"Sudah malam, kita pulang yuk. Kasihan kamu selalu dimarahi bang Anton," ajak Haikal.


Aprilia mengangguk, ternyata batal deh berharap ada ciuman.


Hmm... Haikal...Haikal...membikin penasaran saja deh.

__ADS_1



__ADS_2