
Setelah Sholat Subuh, Haikal bersiap berangkat menuju kota tempat tinggalnya Aprilia.
Perjalanan akan memakan waktu sekitar dua atau tiga jam, dengan membaca Basmalah lalu Haikal melaju menjalankan motornya.
"Bang Ruslan, nanti jam sepuluh pagi bertemu di Bank di kantorku, dan apakah Septa sudah mau menanda tangani surat kontrak yang abang buat?"tanya Isman kepada abangnya karena pada hari ini siap untuk mencairkan dana sejumlah besar.
"Sepertinya dia sudah mau, jangan lupa kamu bawa perempuan bodoh itu yah, agar kalau terjadi sesuatu maka dia jadi jaminan kita," kata Ruslan mengingatkan kepada Isman.
"Tentu bang, sebentar lagi akan aku jemput dia. Semoga saja tidak ada masalah agar aku juga tidak repot dengan berurusan dengan perempuan bodoh itu," Isman juga merasa sangat kesal mengingat kelakuan Aprilia mengotori mobilnya.
"Begitu pak Polisi, dan ini adalah bukti kontrak kerja juga ini bukti draft surat pengunduran diri orang tersebut saat uang cair ke rekening kakaknya," kata Martin melaporkan rencana kejahatan Isman dan Ruslan.
"Ruslan Sangkuni, orang ini sudah lama kami cari. Banyak tindakan kriminalnya, dan salah satunya adalah kecurigaan kami akan menghilangnya ayah orang itu".
"Ayah orang itu tidak sepaham dengan aksi jahat anaknya, mereka punya proyek terbengkalai di dekat kaki gunung. Aku curiga kalau kontrak yang diajukan ini adalah untuk proyek yang sama," kata Kepala Polisi sambil menatap surat kontrak yang disampaikan oleh Martin.
"Maaf pak, apakah mungkin salah satu anggota bapak beserta dengan kami untuk menangkap mereka, karena dalam beberapa jam ke depan akan ada proses akad palsu di Bank tersebut," kata Martin meminta tolong kepada Polisi untuk bersama menangkap pelaku.
"Aku ikut, dan beberapa anggota lain akan berjaga tak jauh dari lokasi kejadian. Aku ingin menangkap mereka dengan tanganku sendiri," kata kepala polisi memperlihatkan betapa dirinya kesal dengan kedua penjahat itu.
Septa sedang menikmati sarapan paginya bersama istrinya, tiba-tiba pegawai rumah mereka mengatakan ada seorang pemuda mencarinya di depan rumah.
Kedua suami istri bertatapan karena tidak tahu siapa pemuda yang sedang duduk di depan teras rumah mereka.
Setelah selesai makan lalu Septa beranjak menemui pemuda tadi.
"Hai, saya Septano Hidayat, maaf dengan siapa yah?"tanya Septa kepada Haikal yang sedang duduk di tangga teras.
"Oh, saya Haikal, saya teman kerjanya Bang Anton Wiharja. Dan saya teman dekatnya Aprilia," kata Haikal memperkenalkan dirinya.
"Hmmm, silahkan duduk di kursi dong jangan di tangga teras. Tidak enak nanti kita bicaranya," ajak Septa kepada Haikal.
Lalu keduanya duduk berhadapan di kursi teras, dan Septa menanyakan apa maksud kedatangan Haikal menemuinya.
"Saya sangat sayang dan mencintai adik pak Septa, dan saya tahu sekali kalau Apri tidak pernah suka dengan Isman,"kata Haikal kepada Septa dan tentu saja membuat Septa jadi kebingungan.
"Oke, kalau benar kamu suka dengan adik saya nanti akan saya pertemukan kalian. Cuma pagi ini saya ada urusan dengan Isman, kalau kamu mau ikut silahkan saja siapa tahu ada Apri di sana".
Lalu Haikal dengan naik motornya mengikuti mobil Septa yang menuju sebuah gedung yang bertuliskan "Bank Swasta Terpercaya".
Karena merasa tidak ada urusan, lalu dia duduk di parkiran motor yang ada di halaman Bank tersebut.
Haikal duduk di kursi dekat tempat parkiran itu dan berbincang dengan petugas parkir di sana.
Dia tidak tahu kalau ada sebuah mobil berwarna hitam terparkir membelakangi dirinya, di dalamnya ada seorang wanita muda yang sedang merokok sambil membuka jendela mobil.
Septa masuk ke gedung Bank tersebut untuk menemui Isman, dan ketika memasuki lobby Bank ada Martin dan seorang pria lagi yang tidak dia kenali.
"Pak Septa kenalkan ini Kepala Polisi, dan kita semua akan berpura-pura menjadi mitra bapak. Nanti kita masuk bersama saat Isman memanggil untuk masuk ke ruangannya," kata Martin memberitahukan Septa sambil mengenalkan Polisi tersebut.
Septa setuju karena memang akhirnya dia menyadari kalau Ruslan dan Isman akan menjebaknya untuk akhirnya terlilit hutang atas uang yang tak pernah dia gunakan sama sekali.
Benar saja tak lama Isman datang menemui Septa dan dia cukup terkejut ketika melihat ada Martin dan seorang pria lagi yang katanya kolega mereka.
"Oh ternyata pak Septa dan pak Martin ada hubungan kerja yah. Luar biasa sekali, ayo silahkan masuk di dalam sudah menunggu pak Ruslan," sambut Isman dengan sangat ramah.
"Hmmm....iblis memang selalu tampak ramah sekali kalau beraksi," bisik Kepala Polisi dalam hatinya.
Mereka masuk ke dalam ruangan kantor Isman, dan di sana sudah ada Ruslan yang duduk menanti kedatangan mereka.
"Selamat datang sahabat, hari yang luar biasa kita akan segera bekerjasama mendirikan gedung hotel impian kita," sambut Ruslan sambil merangkul Septa.
Septa hanya tersenyum getir, betapa dia tidak menyangka Ruslan yang selama ini dia anggap sahabat tetapi hari ini akan menjerumuskan dirinya.
"Ruslan kenalkan ini kolegaku, dan nanti mereka yang juga akan turut serta dalam proyek kerjasama kita ini," ujar Septa memperkenalkan Martin dan Kepala Polisi.
"Padahal aku tak perlu dibantu pihak lain, tapi kalau kau ingin kerjasama kita akan lebih lancar maka aku tak masalah,"sahut Ruslan terlihat tak senang.
"Apakah saya boleh tahu dimana sebenarnya lokasi pembangunan proyek hotel ini?"tanya AKP Yudo yang berpura- pura sebagai kolega Septa.
"Oh lokasinya di dekat kaki bukit, saat ini memang sudah ada sisa proyek lama yang tidak jalan, tapi dengan adanya suntikan dana dari Bank Terpercaya maka proyek hotel akan berlangsung lagi," Ruslan menerangkan kepada Yudo.
"Ternyata benar dugaanku, kalau sampai Septano menanda tangani kontrak itu, maka hancurlah dia,"ujar Yudo dalam hatinya, ternyata dia paham sekali lokasi tersebut.
"Baik sekarang kita mengadakan akad kredit antara Bank Terpercaya dengan saudara Septano Hidayat. Silahkan menanda tangani kontrak kerjasama dengan saudara Ruslan Sangkuni ," kata Isman memulai proses kredit palsu itu.
"Di dalam kontrak sudah dijelaskan pencairan dana akan kami transfer ke rekening Ruslan Sangkuni sesuai dengan kesepakatan yang tertera di dalam kontrak kerjasama tersebut," kembali Isman melanjutkan proses kreditnya tersebut.
"Pak Isman bukankah kalau ada akad kredit harus ada saksi salah satu karyawan bagian hukum dan juga notaris?"tanya Yudo yang memang paham soal hukum.
"Oh tidak perlu pak Yudo, saya kan Kepala Cabang di sini maka saya punya wewenang untuk melakukan transaksi tanpa perlu ada saksi karyawan," kata Isman seakan dia yang paling berkuasa di tempat itu.
Martin sedari tadi diam-diam merekam kejadian itu melalui ponselnya yang langsung terhubung dengan kantor pusatnya.
Septa menandatangani kontrak kerjasama tersebut, karena dia tahu Martin sudah meminta kantor pusatnya untuk menghilangkan akses Isman sehingga dia tak akan bisa lagi mengakses ke data base perusahaan tersebut lagi.
"Luar biasa, kerjasama yang akan menghasilkan proyek besar dan terhebat di kota ini. Baiklah sebentar saya akan mengakses pemindahan dana ke rekening saudara Ruslan Sangkuni," kata Isman dengan penuh percaya diri.
Isman segera beranjak dan duduk di meja kerjanya dan langsung meraih komputer untuk mengakses data agar dia bisa segera memindahkan uang ke rekening Ruslan.
Dia mencoba beberapa kali, dan mulai terlihat panik karena saat memasukan namanya ke sistem ternyata di tolak.
"ACCESS DENIED - UNKWON PERSONALITY"
Lalu Isman menghubungi Ronald sebagai staff kepercayaannya dan bertanya mengenai sistem di kantornya.
"Ronald...apakah sistem operasi kantor sedang bermasalah? Saya sejak tadi tidak bisa mengakses masuk ke dalam sistem data kita?"tanya Isman ķepada Ronald.
"Tidak pak, semua berjalan baik tidak ada masalah," jawab Ronald dari ruangannya, padahal dia sudah paham apa yang sedang terjadi.
"Coba kamu kemari sebentar, saya sejak tadi tidak bisa mengakses data apa komputer saya bermasalah?"tanya Isman lagi karena dia belum paham kalau namanya sudah di blokir oleh kantor pusatnya.
Ronald masuk ke dalam ruangan kerja Isman, lalu dia bersalaman dengan Martin.
Isman merasa aneh, Ronald bisa begitu akrab dengan Martin.
"Pak Isman, bukan sistem yang bermasalah".
"Tetapi pak Isman sendiri yang bermasalah," kata Ronald dan Martin saling bersahutan.
"Selamat Isman, kamu berhasil kami pecat dan selanjutnya silahkan nikmati penginapan mewah di dalam penjara," kata Direktur Utama sambil bertepuk tangan di monitor ponsel Martin dan diikuti oleh Direktur lainnya.
Isman terperanjat, tak menyangka aksinya telah diketahui oleh orang-orang di sekitarnya.
"Anda mengaku Kepala Cabang dan saya adalah Kepala Audit dari Kantor Pusat, tindak tanduk anda sudah lama kami ketahui kalau anda adalah seorang penipu licik yang suka memeras dan membuat orang lain kesusahan," kata Martin sambil memperlihatkan kartu pengenalnya kepada Isman.
"Dan kau Ruslan, sudah lupa dengan aku rupanya, aku Yudo Purnomo yang menangani kasus penipuan proyek kaki gunung dan sampai hari ini ayahmu hilang tanpa jejak," kata AKP Yudo sambil menatap Ruslan dengan tajam.
__ADS_1
"HAAHHH!!!...sialan kalian...kau bodoh Isman, kita dijebak. Ayo lariiii!!!!" teriak Ruslan sambil berusaha mendorong Yudo.
Untung Martin dan Ronald ada di depan pintu sehingga menghadang Ruslan, lalu tiba-tiba masuk tiga orang anggota Polisi sambil mengacungkan pistol kepada Ruslan.
Isman melihat itu lalu dia berdiri dan tanpa menunggu aba-aba dia melompat dari jendela besar yang ada di sebelah meja kerjanya.
"Kejar dia!!!"teriak Yudo kepada salah satu anggota Polisi.
Lantas anggota Polisi tadi mengejar Isman keluar kantor menuju ke tempat parkir mobil.
Isman meloncat dari jendela sehingga membuat Haikal yang tengah berbincang ringan dengan penjaga parkir sangat terkejut.
Lalu Isman berlari menuju mobil hitam yang ada di depan Haikal.
"HEEEHHH!!!! Apa-apaan sih elu loncat segala, sinting yah!!!" terdengar suara perempuan mengomel dari dalam mobil yang kacanya sejak tadi terbuka karena orang merokok di dalamnya.
"Apri?....APRI !!!!!.....APRI...!!!!" teriak Haikal sambil mengejar mobil hitam yang tampak akan melaju.
"Haikal???....HAIKAL !!!!!"teriak Aprilia saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang di belakangnya.
"BERHENTI!!!!! ATAU KAMI TEMBAK!!!!"
Anggota Polisi berdiri menghadang mobil sambil mengacungkan pistolnya ke arah Isman.
Haikal terkejut melihat itu, tapi mobil hitam itu tak mau berhenti bahkan berusaha menabrak Polisi tadi.
Untung Polisi sigap sehingga meloncat ke samping kiri dan jatuh di halaman parkir tadi.
Haikal melihat Aprilia berteriak- teriak di dalam mobil sambil berusaha keluar tapi terlihat dia tak bisa membuka kunci mobil itu.
Segera Haikal berlari menuju tempat parkir tadi dan segera menyalakan motornya lalu melaju kencang mengejar mobil hitam yang dikendarai Isman.
Di belakang Haikal mobil Polisi juga mengejar mobil hitam, di sana ada satu anggota Polisi, Kepala Polisi dan juga Septa.
"Pak Polisi, tolong adik saya pasti akan dicelakakan oleh Isman. Saya sangat khawatir sekali," kata Septa begitu khawatir memikirkan apa yang akan terjadi kepada Aprilia.
Isman memacu mobilnya dengan sangat kencang bahkan beberapa kali hampir saja menabrak orang menyeberang jalan.
Dia terus mengebut sampai menuju ke daerah perbukitan, dan akhirnya mereka tiba di suatu kaki bukit yang ada bangunan terbengkalai.
Tampaknya bangunan itu adalah proyek gagal dan ditinggalkan oleh kontraktor yang membangunnya.
Isman masuk ke halaman gedung itu dan maju terus sampai ke belakang bangunan terbengkalai itu.
"Cepat turun atau aku pukul kamu!!!"hardik Isman kepada Aprilia yang tengah ketakutan.
Lalu Aprilia turun dan dia berusaha lari tapi Isman dengan sigap menangkapnya dan menyeretnya masuk ke dalam bangunan itu.
Lalu Isman seperti menggeser dinding yang menyerupai rak buku yang tinggi, dan tampaklah ada beberapa pintu dibalik dinding tersebut.
Isman membuka salah pintu di sana dan mendorong Aprilia masuk ke dalam suatu ruangan gelap.
"****** kau wanita bodoh, tak akan ada yang bisa menemukan
jasadmu sekalipun juga," kata Isman sambil mengunci pintu dari luar.
"HEI !!!! BUKAAAA....ISMAN.... BUKA !!!!! SIALAAAANNNN!!!!".
Aprilia berteriak-teriak sampai lelah tapi tak ada yang mendengar dan juga semuanya gelap.
Dia diam karena lelah menjerit sambil tubuhnya ditempelkan ke tembok, lalu dia ingat punya korek api dan menyalakan korek itu.
"Pasti ada jalan keluar, aku yakin. Hmmm...langit-langitnya cukup tinggi tapi sepertinya itu bukan beton, aku yakin itu plafon,"ujar Aprilia bicara sendiri di tengah ruangan yang lama-lama membuatnya sulit bernafas.
Haikal tiba di bangunan terbengkalai itu, tidak ada satu orangpun di sana. Awalnya dia ragu kalau mobil hitam tadi melewati jalan ini, tapi dia melihat ke arah lumpur tanah ada bekas jejak ban mobil yang masih sangat baru.
Kebetulan dia tadi pagi sudah bertukar nomor kontak dengan Septa, maka dia segera mengirimkan posisinya kepada Septa.
Lalu dia segera melaju menuju bangunan terbengkalai tersebut, dan dia memarkirkan motornya di dekat pintu gerbang bangunan itu lalu dia mengendap-endap memasuki halaman bangunan itu.
Dari kejauhan Haikal melihat Isman sedang berdiri sambil menyalakan rokok di depan mobilnya.
Dia berusaha mencari keberadaan Aprilia, lalu dia berputar ingin tahu dimana Isman menyekap Aprilia.
"Kecil sekali jendela itu, dipasang terali pula. Tapi bukan Apri kalau menyerah, aku kan tim panjat tebing masa tidak bisa berpegangan ke terali itu dan aku tendang plafon di atas," kata Aprilia sambil mengambil ancang-ancang kemungkinan baginya meraih terali jendela dan menendang plafon langit-langit.
"Pak Polisi, aku mendapatkan lokasi dari Haikal kekasih adikku yang tadi naik motor mengejar Isman," kata Septa kepada AKP Yudo.
Lalu mereka mengikuti petunjuk yang dikirimkan oleh Haikal dan benar mengarah ke bangunan terbengkalai di kaki gunung.
Mobil Polisi berhenti di dekat motor Haikal terparkir, lalu sama Polisi juga mengendap-endap memasuki halaman bangunan itu.
Aprilia meloncat memegang terali besi di jendela kecil, kakinya dia angkat. Kaki kirinya di tempelkan ke sudut tembok dan kaki kanannya menendang plafon langit-langit di ruangan itu.
Sekali...dua kali....tiga kali....empat kali dan BRUUKKK...plafonnya berlubang dan pecahannya jatuh ke lantai.
Lalu dia menendang lagi berusaha membuat lubang yang lebih besar lagi.
Akhirnya plafon ruangan berlubang cukup besar dan bisa memuat ukuran tubuhnya, hanya masalahnya sekarang bagaimana cara naik ke plafon lewat lubang itu.
Aprilia berpikir sejenak dan dia kembali meloncat memegang terali tadi, lalu dia mencoba meraih lubang tadi. Beberapa kali dia mencoba, akhirnya berhasil lalu di berpegangan di lubang itu sambil bergelantungan dan kakinya dia atur agar bisa masuk ke dalam lubang.
Setelah kakinya masuk lalu dia berguling ke sisi plafon yang masih menutup. Aprilia berbaring sambil mengatur nafas karena kelelahan. Lalu pelan- pelan dia merangkak, sambil tak tahu ke arah mana namun dia melihat ada lubang dan terlihat sinar matahari di sana.
Dia merangkak pelan-pelan, tapi tiba-tiba....GUBRAAKKK!!!!
Ada sebilah plafon yang tertekan oleh tangannya jatuh ke bawah dan membuat lubang ke dalam satu ruangan yang mirip dengan tempat dia tadi disekap.
Dari lubang itu tercium bau busuk yang sangat menyengat membuat dirinya mual, lalu cepat-cepat dia merangkak lagi meninggalkan lubang itu menuju lubang kecil bercahaya.
Setelah dekat ternyata benar itu lubang menuju ke halaman, dia mengintip keluar dari lubang itu dan terlihat halaman kosong tidak ada seorangpun di sana.
Lalu dia menendang lubang dengan kedua kakinya.
Haikal saat itu sedang mencari-cari dimana Aprilia disekap, dia mencari di pinggir bangunan terbengkalai itu.
Saat dia mencari-cari, tiba-tiba....
BRUK...BRUK...BRUK...GUBRAAAKK.
Tembok yang tepat berada di atas kepalanya tiba-tiba rubuh ke bawah dan pecahannya hampir menimpa kepalanya.
Dia menengok ke atas, dilihatnya ada sosok wanita yang dia cari.
"Haikal!!!!".
"Apri!!!!".
__ADS_1
Lalu Aprilia meloncat dan Haikal menangkapnya di bawah, mereka lalu berpelukan.
"Haikal....aku takut".
"Jangan takut sayang, ada aku di sini".
Lalu beberapa anggota Polisi datang dan mereka meminta Haikal dan Aprilia menyingkir dari tempat itu.
"Angkat tangan Isman!!!!"
"Anda sudah kami kepung, silahkan angkat tangan dan menyerahkan diri!!!"
AKP Yudo memperingatkan Isman kalau dirinya sudah dikepung polisi.
Isman terlihat acuh tak acuh, dia masih menghisap rokoknya.
AKP Yudo berjalan mendekati sambil mengacungkan senjata ke arah Isman.
"Yudo....Yudo....masih saja kau mengusik hidupku....hahahaha,"
kata Isman sambil mengangkat tangannya terlihat menyerah kepada Polisi.
AKP Yudo mendekati Isman, tetapi ketika sudah sangat dekat tanpa diduga Isman meraih pisau dan ditancapkan ke leher Yudo.
DOR...DOR....DOR....!!!!
Tiga buah peluru melesat ke arah Isman dari belakang punggungnya
Salah satu peluru tadi bersarang di pinggangnya. Isman kesakitan dan dia terjatuh, lalu anggota Polisi segera membekuknya.
Septa mendekati AKP Yudo yang terduduk karena lehernya terluka, untung pisau tadi tidak menancap tapi hanya menggores lehernya saja.
"Pak Polisi....tadi aku berhasil keluar dari lubang di langit-langit, tapi tadi tanpa sengaja tanganku menekan sesuatu sampai membuat plafon berlubang di suatu ruangan".
"Dari dalam ruangan itu tercium bau busuk seperti ada mayat membusuk di sana," kata Aprilia melaporkan kepada Polisi.
Lalu tim kepolisian segera bergerak, sebagian memasuki lubang yang tadi digunakan Aprilia meloloskan diri dan sebagian masuk ke dalam mencari dimana tepatnya ruangan yang dimaksud.
Di dalam ruangan hanya ada rak-rak buku tinggi, lalu Aprilia memberitahukan kalau tadi dia melihat Isman menggeser rak dan terdapat sebuah dinding yang bisa digeser dibalik rak tersebut.
Polisi segera menggeser dinding rak itu dan dibaliknya ternyata ada tiga ruangan terkunci.
Semua pintu didobrak dan ketika pintu yang paling ujung didobrak tercium bau menyengat dan terlihat ada kerangka tiga orang lelaki di dalamnya.
Polisi segera memanggil ambulans dan memasukan ketiga kerangka jenazah tadi ke dalam plastik pembungkus mayat.
Ternyata ada dompet dan tanda pengenal masing-masing orang yang sudah menjadi kerangka tadi.
Idrus Sangkuni, Park Dong Hyun dan Doni Nugraha, itu tanda pengenal ketiga kerangka jenazah tadi.
AKP Yudo lalu memeriksa seluruh ruangan di bangunan terbengkalai itu dan ketika memasuki satu ruangan lain terlihat ada seperangkat alat elektronik yang berserakan.
Ketika di teliti ternyata itu adalah sekumpulan CCTV yang dicabut dan dibiarkan berserakan. Lalu Yudo memeriksa apakah masih ada kaset rekaman di dalamnya dan ternyata masih ada walau terlihat sangat kotor sekali.
Lalu alat-alat tadi di bawa ke kantor Polisi untuk diadakan penyelidikan lebih lanjut.
Haikal dan Aprilia disuruh oleh Septa kembali ke rumahnya, dan setibanya di rumah Septa lalu Lisma istrinya segera menyambut mereka berdua.
Keduanya disuruh membersihkan diri dan diberikan pakaian ganti.
Ibu Cahyani diberitahu oleh Septa tentang kejadian tadi, dan beliau sangat terkejut sampai tubuhnya lemas dan hampir pingsan ketika tahu betapa jahatnya Isman dan Ruslan.
Lima tahun lalu di sebuah bangunan proyek terlihat ada lima orang pria sedang bersitegang.
"Ruslan, apa maksudmu membeli tanah labil di kaki bukit ini. Tidak mungkin proyek pembangunan ini bisa dilanjutkan, kalaupun jadi suatu saat pasti akan roboh karena tanah ini labil sekali," kata Idrus Sangkuni ayah dari Ruslan dan Isman Sangkuni.
"Ayah...dengar...tanah ini aku beli murah untuk kita mendulang uang. Bukankah akan banyak orang bodoh macam korea itu. Kita sekarang sudah mengantungi uang sepuluh milyar," sahut Ruslan kepada ayahnya.
"Astaga Ruslan, ayah tidak setuju dengan ide gilamu ini. Bagaimana kalau orang Korea itu sadar, dan dia menuntut kita," kata Idrus tak percaya dengan kelakuan anaknya yang begitu jahat.
Tiba-tiba dari depan mereka ada dua orang masuk dan mendekat ke depan mereka bertiga.
"Ya kalian begitu jahat telah menipu kami, ayo kembalikan uang tuan Park. Kalian telah menipunya," kata Doni Nugraha yang tak lain sebagai pengacara dan juga penterjemah bagi seorang Korea bernama Park Dong Hyun.
"Hahaha...Doni, sudah jangan kau sok suci. Mau berapa kau minta bagianmu?"tanya Isman sambil mentertawakan Doni.
"Aku bukan penjahat licik dan busuk seperti kalian. Cepat kembalikan uang tuan Park sebelum kami bertindak melaporkan kalian kepada Polisi," Doni terlihat kesal dan menggertak mereka berdua.
"Benar tuan Doni, silahkan saja laporkan kedua anak saya ini. Sungguh saya kecewa kepada mereka berdua, aku ajarkan yang baik tapi ternyata mereka berdua jahat sekali," pak Idrus melangkah mundur sambil menunjuk kepada kedua anaknya.
Idrus Sangkuni tidak menyangka setelah istrinya meninggal, kedua anaknya berubah menjadi orang jahat.
"AYAH DIAM!!!!"teriak Ruslan.
Di atas meja ada sebuah gunting, lalu Ruslan meraih gunting itu dan menusuk perut Doni.
Park Dong Hyun terkejut saat melihat pengacaranya ditusuk lalu dia berusaha kabur dan dikejar oleh Ruslan lalu ditusuk dadanya dengan gunting tadi.
Isman menyeret mayatnya Doni dan Park Dong Hyun ke dalam suatu ruangan.
Idrus tak menyangka Ruslan anaknya tega membunuh orang dihadapan matanya.
"Aku tak akan tinggal diam, walaupun kalian anakku tapi perbuatan kalian sungguh biadab. Aku akan melaporkan kalian ke Polisi," kata Idrus sambil menunjuk-nunjuk kedua anak durhakanya itu.
"Diam kau tua bangka, kau sama saja dengan orang lain. Sana laporkan kami kalau kau bisa," kata Ruslan kepada ayahnya.
Lalu tanpa diduga, gunting yang dipegangnya ditusukkan ke perut ayahnya dan tak lama Idrus juga meninggal dunia.
Mayat ketiganya disimpan di dalam suatu ruangan dan dikunci dari luar, kemudian mereka membuat rak dari dinding yang bisa digeser untuk menutupi ruangan tadi.
Setelah itu keduanya kabur entah kemana dan lima tahun kemudian kembali lagi untuk membuat kejahatan sejenis tapi untungnya bisa segera digagalkan.
Tim ahli komputer di Kepolisian dapat memperbaiki pita rekaman CCTV yang merekam kejadian lima tahun lalu, sehingga terkuak salah satu bukti lagi kejahatan yang dilakukan oleh Ruslan dan Isman.
Malam harinya Haikal dan Aprilia sedang berendam di kolam renang air hangat yang ada di hotel milik Septa.
"Aku mau ke Papua sekitar satu atau dua bulan mendatang. Aku harus menyembuhkan Papih dan juga aku berencana menetap di sana. Saat ini aku sedang berkoordinasi dengan pengurus Puskemas di desa tempat Papih di rawat," kata Haikal kepada Aprilia sambil menatap wajah gadis itu.
"Haikal...aku ikut...Papua adalah impianku, sejak dulu aku ingin kesana," ujar Aprilia sambil memegang tangan kekasihnya.
"Apri tapi kalau sudah di sana tak mungkin bisa dengan mudah kembali kemari kalau misal kamu tak betah," kata Haikal mencoba menjelaskan kepada Aprilia.
"Haikal, aku akan ikut bersamamu kemana saja. Jangan tinggalkan aku disini, aku mohon kepadamu. Bila kamu benar mencintai aku bawalah aku kemana juga kamu akan pergi," kata Aprilia sambil berurai air mata kepada Haikal.
"Kamu yakin sayang, apakah kamu yakin berani hidup miskin dan susah bersamaku?"tanya Haikal mencoba meyakinkan kekasihnya.
"Mungkin susah karena tak ada harta, tapi untuk apa banyak harta namun hati tak bahagia. Lebih baik aku tak memiliki harta apapun asalkan aku bisa bersamamu," Aprilia juga berusaha meyakinkan kekasihnya.
__ADS_1
Haikal lalu memeluk erat Aprilia, dia juga tak mau berpisah dengan kekasihnya itu.
Mereka tak sadar ada sepasang mata memperhatikan keduanya, dan pemilik mata itu akhirnya sadar kalau cinta keduanya lebih dari segalanya dibandingkan harta berlimpah tapi tak bahagia.