
Pagi itu ibu Sinah datang ke rumah kediaman Anton dan Mela, membawa pepes ikan gurame yang ukurannya besar dan beliau membawa lima bungkus.
Ikan gurame dibumbui rempah kuning, diberi daun kemangi lalu dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang.
Setelah matang kemudian ditiriskan, kemudian di bawa oleh beliau dan rencananya nanti setibanya di rumah Mela, pepes ikan itu akan dibakar sebentar di atas kompor.
"Assalamualaikum....anak Mimi yang cantik...Alhamdulillah akhirnya hamil juga sayang...maafkan Mimi baru bisa datang hari ini menengok," kata Ibu Sinah sambil memeluk dan mencium kening Mela setibanya di rumah tersebut.
"Walaikumsalam, iya Mimi tidak apa-apa, Mela baik-baik saja kok. Ayo kita masuk, kebetulan ada Mamah Aryani juga sedang menginap di sini," sahut Mela sambil mencium tangan ibunya memberi salam hormat kepadanya.
"Oh begitu, ada dimana beliau sekarang, Mimi juga sudah lama tak berjumpa," ujar Ibu Sinah yang merasa cukup kaget ternyata besannya sudah mendahului menengok anaknya.
"Biasa beliau sibuk di dapur, dan aku tidak boleh membantunya karena kan beberapa waktu kemarin sempat jatuh," sahut Mela sambil membawakan bungkusan yang dibawa Ibunya.
"ASTAGFIRULLAH !!!!".
Ibu Sinah menjerit lalu memegang tubuh dan perut Mela.
"Kamu tidak apa-apa nak, astaga... Masyaallah nak...jatuh dimana, bagaimana kandungannya?"Ibu Sinah begitu panik mendengar Mela jatuh.
"Astaga Mimi, kan aku sudah ke dokter dan kami baik-baik saja. Cuma memang kata dokter seminggu ini jangan terlalu banyak bergerak karena trauma benturan saja tapi janinnya Insyaallah baik-baik saja," Mela menjelaskan kepada Ibunya yang terlihat panik.
"Alhamdulillah nak...puji syukur kepadamu Ya Allah, tidak terjadi suatu hal buruk kepada anak hamba," Ibu Sinah terlihat mencucurkan air matanya.
Mela menghela nafas, dia merasa aneh sekali, entah itu mertuanya dan sekarang Ibu nya semuanya berlebihan terhadapnya.
Padahal dia merasa baik-baik saja tetapi orang sekitar dirasa terlalu berlebihan memperlakukan dirinya.
Lalu mereka masuk ke dalam, dan ibu Aryani melihat besannya datang segera menyambutnya dengan gembira.
"Wah...Ibu Sinah apa kabar? Alhamdulillah kita akan segera punya cucu lagi," kata Ibu Aryani dengan senang sambil memeluk besannya.
"Kabar baik, bagaimana juga Ibu Salim dan Pak Salim? Semoga sehat selalu ," sahut Ibu Sinah menyalami besannya tersebut.
"Pak Salim baik-baik saja, beliau ada kok di sini tapi ya itu kakek tua senang jalan-jalan. Sekarang sedang ikut Anton ke Puskesmas, katanya ingin tahu kegiatan di sana. Hmmm...ada - ada saja deh," kata Ibu Aryani menceritakan suaminya.
Pak Salim sudah menjadi kakek tua, bosan di rumah anak tidak jelas mau mengerjakan apa di sana.
Sudah dua hari ini beliau ikut ke Puskemas, selain ingin tahu Puskemas tempat kerja anaknya juga ingin tahu keadaan kota Cirebon.
Anton setiba di Puskemas langsung masuk ruang praktek, sambil mewanti-wanti ayahnya untuk tidak pergi kemana-mana.
Tapi dasar kakek bandel, kemarin siang dicari Anton ternyata sudah ada di pasar kota sedang makan ketoprak.
Dan sore hari kembali di cari, di telepon berkali-kali ke ponselnya, ternyata sedang naik ojek online menuju Puskesmas entah dari mana yang pasti membawa buah-buahan yang sangat banyak.
Hari ini juga ikut lagi, dan kembali Anton memperingatkan ayahnya agar jangan pergi jauh-jauh seperti hari kemarin.
"Papah jangan pergi jauh-jauh lagi seperti kemarin, bikin panik saja. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana," kata Anton terlihat wajahnya tegas kepada ayahnya.
"Sudah Papah akan disini saja, nanti paling mencari makanan di sekitar sini," sahut Pak Salim tapi Anton tak percaya begitu saja.
Anton masuk ke ruang prakteknya karena sudah cukup banyak pasien menantinya.
Komar pagi itu sudah mendapat banyak tugas, mengantar berkas ke dinas kesehatan.
Lalu mengambil pesanan obat, setor ke Bank dan juga ke beberapa tempat lainnya.
"Nak...kamu mau kemana sepagi ini?" tanya pak Salim kepada Komar yang tengah bersiap hendak pergi.
"Oh seperti biasa ayahnya dokter, setelah selesai sapu dan pel, giliran jalan-jalan ke berbagai tempat sambil membawa tugas," sahut Komar kepada Pak Salim.
"Sttt...ada helm lagi tidak? Aku ikut kamu yah...bosan aku di sini terus," kata pak Salim meminta Komar mengajaknya.
"Waduh, nanti dokter Anton marah tidak yah ayahnya dokter?"tanya Komar dengan ragu.
"Sebentar saya ijin dulu yah".
Lalu pak Salim terlihat mendekati ruangan Anton dan berkata ," Papah ijin mencari makanan dulu yah".
Anton hanya menganggukan kepala, karena dipikirnya pasti tidak akan pergi jauh.
Dasar kakek tua, sifatnya kembali ke anak kecil, beliau berkata kepada Komar kalau sudah mendapat ijin dan segera ikut Komar berkelana mengantarkan semua tugas yang diperintahkan kepadanya.
"Bu Sinah itu pepesnya jangan dibakar kalau untuk Mela, takutnya tidak baik untuk kandungannya," kata Ibu Aryani kepada besannya.
"Oh masa iya yah, kalau tidak di bakar nanti jadi kurang wangi loh," tukas Ibu Sinah.
"Iya memang benar, tapi Mela sedang hamil nanti takutnya tidak baik untuk kandungannya".
"Ya sudah, nanti saja kalau yang lain mau nanti saya bakar sebentar di kompor".
"Sudah Mimi, sini biar Mela makan saja ikannya. Pepesnya tidak usah diapa-apakan lagi," kata Mela sambil mengambil satu bungkus pepes ikan tersebut.
"Oh ikannya bukan ikan laut yah, padahal orang hamil bagusnya makan ikan laut. Besok Mamah buatkan sup ikan salmon yah nak," kata Ibu Aryani kepada Mela.
Ibu Sinah terlihat tak mau kalah juga dengan besannya.
"Padahal lebih enak sup ikan mayung loh. Nanti besok Mimi cari ke pangkalan ikan di Pantai. Nanti dicarikan ikan laut yang segar," kata Ibu Sinah sambil senyum kepada Mela.
"Oh jauh sekali ke pantai bu, di pasar sini juga ada kok. Besok saya dan Eti akan ke pasar saja mencari ikan laut," sanggah Ibu Aryani dengan senyum kecut.
Mela pusing mendengarnya, dia diam saja sambil makan pepes ikan tersebut.
Ibu Sinah dan Ibu Aryani juga terus ribut saling berebut perhatian kepada Mela.
Tadi soal ikan, sekarang ribut soal ayam.
"Di rumah saya itu banyak ayam kampung, besok biar saya saja kemari lagi membawa sup ayam kampung," kata Ibu Sinah memulai membahas ayam.
"Ah sama saja kok mau ayam apa juga, yang penting cara mengolah untuk menjadi makanan enak. Asal bisa memilih saja jangan ayam yang banyak lemak," sindir Ibu Aryani kepada besannya.
"Ayam di pasar itu pasti banyak lemak, nanti malah jadi kurang bagus untuk orang hamil," tukas Ibu Sinah.
Lalu kembali mereka membahas panjang lagi soal ayam, tanpa mereka sadari kalau Mela sudah menghabiskan satu bungkus besar pepes ikan gurame buatan Ibunya.
Sambil kesal mendengarkan mertua dan ibunya sedang berdebat, dia juga ke dapur mengambil mangkuk dan menciduk sup ayam buatan mertuanya dari panci.
Lalu dia lanjut makan sup ayam tersebut.
Pepes ikan tuntas, sup ayam tandas dan sekarang Mela menyeduh susu ibu hamil.
Ting...ting...kelinting...kelinting
Suara sendok beradu dengan gelas menyadarkan kedua Ibu yang masih berdebat tak jelas.
Keduanya tersadar dan melihat di atas meja makan ada sisa kerangka ikan dan daun pisang yang sudah kosong.
Lalu ada mangkuk kosong bekas sup ayam beserta sisa serpihan tulang ayamnya.
"Tuh kan benar, Mela itu hamil kebo, dia bisa makan sebanyak ini padahal hamil muda," kata Ibu Aryani sambil takjub melihat mangkuk kotor dan sampah daun pisang di meja.
"Iya yah...kata orang kampung sih ngebo namanya," ujar Ibu Sinah yang sama takjub melihat cara makan anaknya.
"Kebo ah...masa ngebo".
"Ngebo kalau kata orang kampung saya sih, bukan kebo".
"Hamil kebo".
"Ngebo".
Eti yang membersihkan meja makan hanya senyum-senyum menahan tawa tapi tak berani keluar suara. Takut nanti dia digantung di pohon toge oleh kedua Ibu tua itu kalau sampai berani keluar suara tawanya.
Mela pusing melihat dan mendengar ibunya dan mertuanya sejak tadi berdebat tentang segala apapun.
Dia lalu menuju ruang televisi dan berbaring di sofa, mau apalagi banyak gerak diomelin, diam saja malah pusing mendengar ibu tua saling debat.
Perut kenyang otomatis mata berat, lalu diapun tertidur di sofa panjang.
"Lah...Mela kemana yah?barusan di sini minum susu," Ibu Sinah mencari anaknya.
"Sedang tidur di panjang...eh iya..
panjang...di sofa panjang...situ Ibu Mimi...," kata Eti menunjukkan Mela yang terlelap di sofa depan televisi.
"Nah dia begitu loh kalau sudah makan kenyang pasti tidur," kata Ibu Aryani sambil mendekati sofa.
"Sudah jangan dibangunkan, kasihan namanya juga lagi hamil," Ibu Sinah mencegah besannya membangunkan Mela.
"Ya tidaklah, kasihan aku juga dengan dia. Habis jatuh kemarin gara-gara adikku," kata Ibu Aryani terlihat merasa bersalah.
"Walah...kok bisa begitu, bagaimana ceritanya?" Ibu Sinah terkejut mendengarnya.
Lalu Ibu Aryani bercerita tentang kejadian yang dia dengar dari Anton dan Mela, bagaimana Mela jatuh dan baru ketahuan hamil.
Waktu menunjukkan jam istirahat siang, sudah terdengar suara Adzan Dzuhur berkumandang.
Anton memberhentikan sejenak pasien yang berobat untuk sejenak istirahat dan juga beribadah.
"Bro, kau lihat Papahku ada dimana yah?"tanya Anton kepada Jaya yang terlihat tengah bersiap pergi.
"Loh bukannya tadi beliau pergi dengan Komar, katanya sudah dapat ijin dari bro dokter," sahut Jaya sambil mengacingkan jaketnya.
"Mendapat ijin dari aku? kapan juga ijinnya?" Anton kaget mendengar ayahnya pergi dengan Komar atas seijin dirinya.
"Iya bro, maaf yah tapi aku harus segera pulang ke rumah nih. Soalnya ditunggu oleh Bapak dan Ibuku, sekalian mau urus surat keterangan dari Kelurahan," Jaya pamit terburu- buru untuk kembali ke rumahnya karena ada orang tuanya di sana.
Lalu Jaya segera pergi dan Anton merasa kesal sendiri karena ponsel ayahnya tidak aktif dan ponsel Komar juga di luar jangkauan.
__ADS_1
Sholat tak fokus, makan tak fokus kepikiran kemana ayahnya dibawa Komar.
Padahal pak Salim bahagia sekali bisa berjalan-jalan bersama Komar, dan beliau membawa banyak jajanan saat kembali ke Puskemas.
"Papah dokter bawa makanan yah....,"kata Murni mendekati Pak Salim saat tiba di ruangan tunggu Puskemas.
"Oh iya...ayo kita buka bersama, ini ada banyak jajanan saya beli," kata Pak Salim terlihat senang sekali.
Tentu saja Murni gembira sekali dan tanpa sungkan mencomot jajanan yang tadi dibeli Pak Salim.
Anton sudah selesai jam praktek, ketika keluar ruangan dilihatnya ayahnya dan Murni sedang menikmati makanan yang tadi dibeli ayahnya.
"Papah darimana saja sih, dari tadi pergi seharian. Naik motor sama Komar, kalau sampaip ada apa-apa bagaimana coba...haduh...Papah.... Papah....," ujar Anton menunjukkan rasa kesal karena ayahnya pergi seharian.
"Anton...justru Papah senang diajak pergi sama Komar itu, anak itu baik sekali. Mengemudi juga tidak cepat-cepat, dan bawa Papah ke tempat banyak jajanan," sahut Pak Salim tampak bahagia sekali.
"Hmmm...ya sudah sekarang kita pulang yuk, barusan Mamah sudah menanyakan Papah,"ajak Anton kepada ayahnya.
"Ini buat Murni saja yah, besok Papah dokter beli lagi. Jadi kue ini habiskan yah sama Murni," kata Pak Salim memberikan satu kotak kue kepada Murni.
"Lah...Papah...senang dia sih kalau diberi makanan, enak yah...dasar Embot...,"celoteh Anton saat melihat Murni begitu bahagia diberi kue.
"Jangan dengar Anton, besok Papah dokter kesini lagi. Nanti temani yah cari makanan enak," bisik Pak Salim kepada Murni.
"Wah...Papah dokter memang baik,
siap nanti besok pasti akan Murni temani," sahut Murni cekikikan dan berjanji rahasia bersama Pak Salim.
"Pah, jangan makan sembarangan, ingat usia yah. Jangan jajan berlebihan, itu kue beli kue banyak begitu nanti siapa yang makan coba...," kata Anton sambil mengemudi.
Anton merasa cukup kesal ayahnya makan sembarangan dan sekarang membeli banyak jajanan kue manis.
"Ini buat istrimu, dia kok yang minta tadi pagi. Kasihan sedang hamil anakmu. Jadi dia harus banyak makan,"sahut Pak Salim menjelaskan kepada anaknya.
"Ya tapi tak usah sebanyak itu lain kali, mana habis kue sebanyak itu".
"Nanti kan bisa kita bagi juga buat Eti, nanti Eti bisa bawa pulang untuk anak-anaknya".
Anton tidak menjawab, hanya menghela nafas saja. Bingung jadinya melihat ayahnya jadi seperti itu belakangan ini.
Rupanya Anton tidak paham, karena dia tidak mengenal sosok kakek. Saat Anton masih bayi dulu kakeknya sudah tiada jadi tak pernah tahu kalau orang
berumur akan senang membeli sesuatu untuk orang muda.
Ibu Sinah sudah pulang sejak tadi dan rencananya besok pagi akan kembali lagi ke rumah itu.
Saat hendak pulang beliau meminta kalau esok hari Ibu Aryani tidak usah repot memasak karena akan dibawakan masakan dari kampung.
Memang keduanya semakin hari semakin terlihat bersaing dalam hal masakan, tapi mungkin di usia mereka sekarang hal seperti itu menjadi kebanggaan tersendiri.
Ibu Aryani tengah sibuk di dapur menghangatkan beberapa makanan dan juga memasak tumisan sayur agar masih segar saat di makan.
Mela sejak tadi tampak sibuk melakukan telepon video dengan seseorang yang menghubunginya.
Sudah hampir satu jam mereka berbincang dan terlihat Mela seperti serius membahas sesuatu.
"Iya sekali lagi selamat yah Mbak, Mela turut bahagia kalau sekarang hidup Mbak sudah lebih baik," ujar Mela kepada penelepon.
"Terima kasih Mela, aku sekali lagi mohon maaf kepadamu dan juga kepada Anton. Maaf kemarin ini sempat berbuat buruk kepada kalian," ujar Triana yang menelepon Mela.
"Sudahlah lupakan, yang penting saat ini Mbak bahagia. Semoga pernikahannya bulan depan dilancarkan, dan Mbak bisa mendapatkan kebahagiaan,"sahut Mela lagi.
"Terima kasih yah Mela, sampaikan maaf kepada Anton dan juga kepada semua keluarga Wiharja. Kalau bukan karena kesalahan dulu mungkin Anton tidak menjadi cacat seperti sekarang".
"Aduh Mbak, itu mungkin sudah jalan Tuhan. Kalau Pi Anton tidak seperti sekarang tentunya bukan jadi suami Mela dong...hahahaha".
"Iya yah....hahahaha...Kalau aku tidak kembali ke Semarang juga tentunya aku tidak akan bertemu Wongso lagi...hahahah".
"Hahahah...perjalanan cinta tidak semudah yang dikira yah...hahaha
...kita saling doakan yah Mbak".
"Tentu dik Mela, semoga kehamilanmu juga dilancarkan sampai nanti melahirkan,"kata Triana sambil senyum manis kepada Mela.
"Asyik banget ngobrolnya, dengan siapa sih ?"tanya Ibu Aryani ingin tahu.
"Tapi janji kalau Mela kasih tahu, Mama jangan marah yah,"sahut Mela sambil senyum lebar kepada Ibu mertuanya.
"Hmmm...memangnya siapa sih? Kok sampai takut Mamah marah," tanya Ibu Aryani merasa aneh.
"Hihihi...itu tadi Triana...masih ingat tidak Mamah sama nama itu," sahut Mela sambil cekikikan menutup mulutnya.
"APA!!!!...kok kamu bisa berteman dengan perempuan itu. Gara-gara perempuan itu Anton jadi seperti itu. Ada dimana dia sekarang, kalau ketemu pengen Mamah jambak orang itu," kata Ibu Aryani langsung geram mendengar nama itu.
"Tuh kan Mamah pasti marah. Triana sudah berubah, tadi dia juga kembali minta maaf kalau pernah membuat kesalahan kepada keluarga Mamah dan Papah," kata Mela menjelaskan.
"Aneh kok dia bisa mempunyai nomor kontakmu sih. Dari mana dia bisa punya nomormu?"tanya Ibu Aryani dengan ketus.
"Hmmm tapi sudahlah yang penting kamu jangan jadi terlalu dekat dengan dia. Mamah tak suka mendengarnya,"Ibu Aryani terlihat masih merasa kesal kalau mengingat sosok Triana.
Anton baru kembali, lalu segera turun dari mobil diikuti oleh Pak Salim yang membawa banyak bungkusan makanan.
"Mela...ini kue enak...kamu pasti suka," kata Pak Salim saat memasuki rumah langsung memperlihatkan bungkusan makanan kepada menantunya.
"Wah...asyik...hayuk Papah, mari
kita buka bungkusan makanan ini....unboxing...hahahah,"ujar Mela sambil tertawa.
"Iya benar, bahasa kekinian... semua anak muda bilang buka bungkusan itu unboxing...hahaha," Pak Salim juga tertawa mendengar kata yang disampaikan Mela.
"Nah Anton...Mamah mau tanya sebentar, coba kamu duduk dulu sebentar," tiba-tiba Anton dipanggil Ibunya yang memasang wajah perang.
"Ada apa ini...kok tiba-tiba berasa diajak perang," kata Anton sambil bingung melihat wajah Ibunya.
"Ton, coba jelaskan sama Mamah dan Papah, apakah kamu masih suka berurusan dengan Triana ?" tanya Ibu Aryani menatap tajam kepada Anton.
"Waduh...siapa lagi itu...maaf yah Mamah...itu urusan ibu Mela Wiharja. Silahkan saja tanyakan nama itu kepada istri saya," kata Anton sambil mengangkat kedua tangannya.
"Iya Mamah....Pi Anton sama sekali tidak berurusan dengan Triana. Selama kejadian kemarin ini dia berurusan dengan saya kok," sahut Mela sambil tertawa kecil.
"Hmmm...ya syukur kalau begitu sih, pokoknya sudah baik Mela apalagi Anton tidak usah lagi berurusan dengan dia,"Ibu Aryani menegaskan.
"Kok bisa dia berhubungan dengan Mela, dimana dia sekarang dan untuk apa menelepon Mela ?"tanya Pak Salim merasa aneh.
"Begini Papah, dulu dia pernah tinggal di blok belakang. Dan tahu nomor Mela dari brosur kecantikan yang saya jual. Sekarang dia juga sudah di Semarang kok," Mela menerangkan kepada Papah mertuanya.
"Oh begitu, sudah di sana tapi ada apa menelepon kamu yah?" tanya Pak Salim lagi.
"Oh tadi dia bercerita kalau bulan depan akan menikah dengan pacar masa sekolahnya yang bernama Wongso. Dan dia juga minta maaf kepada keluarga kita kalau pernah membuat kesalahan fatal,"ujar Mela kembali menjelaskan maksud Triana menghubungi dirinya.
"Ya syukur deh kalau benar akan menikah baik-baik sih, mungkin sudah sadar yah dan sudah taubat tidak akan melakukan hal buruk lagi," kata Pak Salim memberikan tanggapannya.
Malam harinya di kamar tidur Anton dan Mela, keduanya berbincang sambil berpelukan.
"Nah kalau Pi tidak pakai deodoran dan lain-lain malah enak deh menciumi aroma tubuhnya Pi".
"Lagi hamil memang berubah semua, dulu waktu sebelum hamil pasti aku diwajibkan untuk memakai segala wewangian bahkan sebelum tidur juga harus".
"Sekarang aku tak boleh memakai apapun. Tapi tak apa yang pasti aku bahagia saja, apalagi kalau istriku mau aku peluk. Yang penting aku senang bisa memelukmu tanpa disebut bau," sahut Anton sambil memeluk erat Mela.
"Pi...nanti Triana menikah di Semarang, kita akan datang tidak?"tanya Mela sambil menatap suaminya.
"Ah...buat apa, tak usahlah. Mana jauh pula lalu sekarang kan Mi juga lagi hamil muda begini. Usia kehamilan masih muda begini masih rawan pergi jauh," sahut Anton acuh tak acuh.
"Hmmm....Pi...kenapa sih waktu dulu dia di sini, kok Pi sama sekali tak mau menyapanya. Pi masih sebal yah sama dia?"tanya Mela sambil manja kepada suaminya.
"Mi...jangan memancing kerusuhan. Sekarang pikir deh, kalau waktu itu Pi menanggapi dia, apakah Mi tidak akan marah?"timpal Anton sambil sebal.
"Hihihi...marah sih tidak yah, cuma pasti aku akan ajak Pi musuhan saja.... hahahah....".
"Nah kan...lelaki itu serba salah. Ketemu mantan, tidak ditanggapi, istri nanya kenapa cuek. Tapi kalau benar ditanggapi, pasti akan kena marah juga oleh istri. Jadi sebagai suami aku harus bagaimana?" Anton menutup wajahnya dengan bantal.
"Pi...idiiihhh...sensi amat sih...lagi apa sih pakai tutup muka segala... reseh deh," Mela mencoba menarik bantal suaminya.
"Aku pingsan Mi".
"Mana yang pingsan...kok pingsan tapi gemesin sih...jadi pengen cium yang pingsan deh".
"Ayo cepat cium dong, nanti pingsan beneran loh".
"Ah...jangan aaahh...mau bobok aja deh...".
"Wah ini sih perbuatan kriminal, membiarkan orang pingsan... jadi Polisi saja deh....aku tangkap yang membiarkan pingsan tadi".
"Hahahahaha..".
Lalu Anton memeluk istrinya dan seterusnya kita sudah tidak boleh tahu lagi apa yang terjadi. Hihihihi.
Tadinya Ibu Aryani dan Pak Salim hanya berencana satu minggu di kediaman Anton.
Tetapi ternyata pengajuan pinjaman Anton ke Bank untuk renovasi rumah telah disetujui.
Bahkan kontraktor yang akan merenovasi rumah tersebut adalah mantan anak buah Papihnya Haikal, sehingga bisa mendapatkan harga perbaikan yang lebih murah tapi kualitas pekerjaan terjamin.
"Anton bekerja saja, biar Papah yang memantau perbaikan rumah agar bisa segera selesai," Pak Salim sangat penuh semangat membantu memantau proses perbaikan rumah yang kemarin ini telah dibeli dari Haikal.
Sementara kehamilan Mela juga sudah menjelang bulan keempat.
Ibu Aryani dan Ibu Sinah sedang sibuk membahas rencana syukuran kehamilan empat bulanan.
__ADS_1
Masing- masing meributkan tradisi yang biasa dilakukan keluarganya.
"Kalau di kampung itu harus ada ketupat karena istilahnya itu ngupati. Jadi wajib ada ketupat dan opor ayam," kata Ibu Sinah memberikan idenya.
"Iya benar, tapi itu untuk nanti dibagikan saja bu. Kalau di rumah nanti kumpul keluarga saja, harus ada tumpeng yang setiap lauknya ada empat macam masakan dan isinya juga empat buah".
"Misalkan telur empat buah, ayam goreng empat buah, perkedel empat buah dan sayurannya misalkan buntil ada empat buah juga," kata Ibu Aryani menyampaikan adat di keluarganya.
"Wah nantinya malah boros loh, sudah saja yang simpel dan mudah ketupat dan opor ayam saja," tukas Ibu Sinah kepada besannya.
"Loh bukan boros, tapi kan ini tradisi loh. Masa sih tidak mau ikut tradisi, nanti cucu kita bagaimana," Ibu Aryani tak mau kalah.
Mereka berdebat terus, Mela tak bisa berkata apa-apa karena kalau ikut bicara pasti ada salah satu akan membentak.
Untung saat keduanya sedang adu argumen, tiba-tiba Anton masuk ke dalam rumah. Kebetulan hari sudah sore dan hari itu tak banyak pasien jadi bisa pulang lebih cepat.
Langsung ditodong pertanyaan oleh ibunya, disuruh memilih mau pakai tradisi mana.
"Mamah, lebih baik tanya ke Mela saja yah. Kalau saya ikut saja, apa kata yang hamilnya saja deh. Urusan say sih nanti memanggil pak Ustadz dan lain-lain," kata Anton sambil segera masuk ke kamarnya.
Mela sedang di dalam kamar mengurusi keperluan mandi suaminya yang baru pulang kerja.
"Mi...coba deh damaikan keduanya, setiap bertemu pasti saja berantem urusan makanan dan apapun juga. Aku pusing mendengarnya," kata Anton kepada Mela.
"Justru lucu Pi...lumayan bahan hiburan, aku dan Mbak Eti pasti tertawa di dapur kalau keduanya bertemu dan ribut soal makanan," sahut Mela sambil tertawa geli.
"Ya tapi kan jadi tak enak kalau sampai didengar orang loh. Kesannya besan ribut melulu,"kata Anton mengingatkan istrinya.
"Iya deh nanti aku bantu menengahi, biar keduanya rukun dan damai".
Akhirnya Mela menengahi dan kedua tradisi dipadukan agar ibunya dan mertuanya sama-sama puas.
Hari yang telah ditentukan untuk acara syukuran hamil empat bulanan tiba juga.
Yang tadinya akan sederhana ternyata tidak bisa, karena keluarga besar Ibu Cahyani akan datang.
Lalu Fajar dan Anita juga akan ikut hadir sekalian akan menjemput orang tuanya.
Ditambah lagi orang tua Jaya yang masih ada di kota itu juga akan ikut hadir, dan tentu saja akan membawa Miranti.
Miranti sekarang tinggal tak jauh dari kediaman Jaya, dan sudah membuka toko kue kecil-kecilan. Nanti akan dibahas di bab berikut kisah perjalanan cinta Miranti dan Jaya.
Yang pasti saat ini ada galau yang luar biasa sedang merudung diri Miranti.
Miranti membawa empat macam kue sesuai amanat dan pesanan dari Ibu Aryani.
Anton berbisik kepada Mela ," Mi...lihat deh...ada Mamah Aryani dan Mamah Cahyani, plus ada Ibumu. Aku tak tahu nanti pasti akan seramai apa yah".
"Sssttt...ada satu lagi...nyonya Anita Sanjaya, memangnya ibu itu pendiam...hihihihi,"sahut Mela sambil tertawa geli.
"Nak...sabar yah sayang, tenang saja yah mendengar keramaian. Yang penting Mimi mu makan terus dengan gembira," kata Anton sambil mengelus perut istrinya.
"Astaga Mela...bulat sekali dirimu.... hahahaha...," ujar Anita saat baru tiba di rumah itu.
"Aduh Cici Anita...hahaha, istriku ini waktu belum hamil beratnya hanya 42 kilogram. Sekarang hamil 4 bulan sudah naik menjadi 50 kilogram. Bayangkan kalau 9 bulan nanti," kata Anton sambil mencubit gemas pipi istrinya.
"Wajarlah...aku juga dulu naik 25 kilogram loh, saat hamil Kaysan. Karena enak yang mabuk kan Koko Fajar bukan aku...hahahah,"sahut Anita sambil tertawa.
"Ya benar, aku lima bulan tidak bisa makan enak. Mual dan muntah terus, yang bisa aku makan dengan benar cuma bubur ayam saja.... hahaha," Fajar menceritakan bagaimana saat Anita hamil kedua dulu.
"Hai...lagi pada ngomongin aku yaaahhh...hahaha,"ujar Aprilia tiba- tiba saja ke tengah - tengah sepupunya yang sedang berbincang.
"Hmmm...sombong yang habis tunangan...kapan kalian nikah?" Anton bertanya sambil menjitak kepala Aprilia.
"Enak saja main jitak, awas nih kalau anaknya cewek nanti kayak aku loh...hahaha,"ejek Aprilia kepada Anton.
"Amit-amit...siuh...siuh..sana pergi yang jauh...hahahah," tukas Anton sambil mengelus perut istrinya yang mulai membuncit.
Haikal datang dan langsung merangkul bahu Aprilia.
Fajar dan Anita yang melihatnya langsung memberi komentar.
"Kalian harus segera menikah deh, dimana-mana sudah pelukan terus," sindir Anita kepada keduanya.
"Iya loh, Ko Fajar dulu tujuh tahun baru berani pegang tangan Cici Anita," kata Fajar maksudnya ikutan menyindir.
"Hahahahaha...kasihan amat nyimpen rasa sampai tujuh tahun...penakut banget Koko Fajar itu yah...hahahah," sahut Aprilia malah menertawakan.
"Ember...sampai harus aku yang menanyakan loh. Mau nikah sama aku atau tidak...hahahah," Anita menimpalinya.
Hahahahah....semua jadi ikut tertawa dan Fajar dengan wajah memerah langsung memeluk istrinya dihadapan semua saudaranya.
Tak lama Pak RT dan rombongan tetangga datang bersama dengan Ustadz yang bertugas di Masjid yang ada di perumahan itu.
Kemudian pengajian dimulai, diawali dengan Anton menyampaikan terima kasih atas kedatangan para tetangga dan kerabat, juga sahabatnya beserta dengan keluarganya.
Pak Ustadz mengajak para kaum pria mulai mengaji beberapa ayat dari QS. Yusuf, lalu disambung kaum Wanita mengaji QS. Maryam, setelah bersama-sama membacakan QS. Ar-Rahman.
Kemudian pak Ustadz membacakan doa yang terbaik untuk kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi yang dikandungnya, juga agar keluarga Anton Wiharja diberikan rejeki yang berlimpah dari Allah SWT.
Setelah selesai pengajian, maka para tamu menikmati hidangan empat macam pesanan dari toko kue "Syantik" milik Miranti Chandra.
Ketika pamit pulang semua tetangga yang hadir diberikan bungkusan berupa ketupat dan opor ayam buatan ibu Sinah.
Setelah semua tetangga pulang, kemudian tibalah acara keluarga sendiri.
Telah tersedia tumpeng buatan Mamah Aryani, dan benar saja lauk lauknya hanya ada empat macam di atas tampah.
"Yang makan nasi tumpeng dari tampah ini Ibu hamil dan suami, kalau kita semua silahkan ambil di meja sudah disiapkan oleh miss Eti," kata Ibu Aryani kepada semua keluarganya.
Disinilah ajang keramaian dimulai, Ibu Sinah mengajak orang tuanya Jaya berbincang dan mereka tampak serius sekali.
Mamah Cahyani dan Mamah Aryani juga sibuk membahas soal ingin meminta restu tanggal pernikahan untuk Aprilia dan Haikal.
Kebetulan malam itu juga keluarga tante Linda, sebagai adik ibunya Haikal dan juga wakil keluarga Haikal turut hadir.
Dan keluarga tante Linda ditemani oleh Pak Salim, Anton, Septa dan Fajar.
Haikal dan Jaya juga duduk bersama tak jauh dari mereka semua.
Anita dan Lisma istrinya Septa sibuk berbincang soal anak-anaknya.
Mela, Aprilia dan Miranti bertiga bersembunyi dari keramaian, karena Miranti saat ini menangis.
"Padahal aku tak minta pesta, tak minta apa-apa, cuma minta secarik kertas dari KUA kalau kami menikah resmi,"kata Miranti sambil meneteskan air mata.
"Tapi mungkin seperti itu aturan yang harus dilakukan Mbak, maaf aku juga tak paham," kata Mela sambil mengelus punggung Miranti yang menangis sesenggukan.
"Iya Mbak, tetap semangat yah. Pasti ada jalan keluar dari masalah ini," Aprilia juga memberikan semangat kepadanya.
Setelah makan kumpul semua di dalam ruangan tengah, meja makan dan lain-lain sudah sejak sebelum pengajian dipinggirkan.
Dan sekarang ruangan masih dibiarkan melongpong untuk dijadikan tempat kumpul keluarga.
"Sebelumnya terima kasih kepada Anton dan Mela, juga kepada keluarga Wiharja yang sudah memberikan tempat untuk berkumpul," kata Septa membuka pembicaraan.
"Kebetulan malam ini juga dihadiri oleh keluarga Tante Linda yang merupakan tantenya Haikal yang sekarang sudah menjadi tunangan Aprilia adik kami".
"Dalam kesempatan ini, kami sekaligus keluarga besar dari pihak keluarga Hidayat meminta kepastian tanggal pernikahan Haikal dan Aprilia. Kapan akan diselenggarakan dan bagaimana nanti prosesnya. Mohon dari pihak keluarga Subrata bisa menyampaikan kepada kami. Terima kasih".
Lalu tante Linda menyampaikan bahwa pernikahan akan diselenggarakan pada minggu ke empat di tiga bulan mendatang.
Karena bertepatan dengan menjelang kepindahan Haikal ke Papua, semua perijinan Haikal disetujui empat bulan mendatang tepatnya seminggu setelah pernikahan mereka.
Pernikahan dilakukan dengan sederhana saja, tidak banyak mengundang orang tapi hanya kerabat dan sahabat saja.
Rencananya akad dan resepsi sederhana dilakukan di rumah tempat tinggal Ibu Cahyani yaitu di kota Garut.
Semua setuju dengan rencana tersebut, tinggal Haikal dan Aprilia mempersiapkan segalanya untuk pernikahan mereka.
"Maaf Bapak dan Ibu sekalian, mohon maaf kami juga mau sekalian minta tolong. Dokter Anton dan anak kami Jaya adalah sahabat yang sudah seperti saudara. Saat ini kami ada kendala untuk pernikahan anak kami. Semoga dari keluarga ini mempunyai jalan keluar untuk masalah anak-anak kami,"tiba-tiba Ibunya Jaya berkata demikian yang tentunya sangat mengejutkan semua yang hadir.
Jaya terkejut dan segera meminta maaf atas kelancangan Ibunya yang tiba- tiba berkata seperti itu.
"Tak apa nak Jaya, sampaikan saja ada apa. Semoga kami bisa membantu, karena Jaya juga sudah kami anggap sudah seperti anak sendiri," kata Pak Salim menanggapi Ibunya Jaya.
"Begini Pak Salim, anak kami Jaya akan menikah dengan Miranti. Dia memang tercatat yatim piatu, tapi cerita dia katanya masih ada ayah yang tidak mengakuinya".
"Tapi kami tak mau sampai ada kesalahan, kami minta kepada Miranti untuk mencari ayahnya sebagai wali atau minimal restu. Tapi dia malah menolak terus, alasannya percuma tidak akan diterima".
"Apakah salah kami meminta dia mencari ayahnya untuk mendapat restu, kami tidak mau kelak mereka menikah tanpa ada restu," ibunya Jaya memang lantang saja bicara.
Tentu saja Miranti yang sejak tadi sedih malah sekarang semakin merasa terpojok sekali.
"Miranti, maaf saya juga yatim piatu, tapi lain denganmu. Saya lelaki dan kamu perempuan, dalam Islam wajib seorang wanita mendapatkan ijin dan restu dari walinya. Walau nanti mungkin saat menikah yang menyerahkan adalah wali hakim, tapi restu orang tua harus tetap ada," Fajar menjelaskan dengan sangat detail.
"Masalahnya begini Ko Fajar, saya dan Miranti bukannya tidak mau mencari ayahnya. Tapi terakhir Miranti bertemu dengan ayahnya itu saat masih SD, setelah itu tak pernah berjumpa lagi," Jaya mencoba membela kekasihnya.
"Bro, memangnya di kota mana tinggalnya dan siapa nama ayahnya?"tanya Anton kepada Jaya.
Jaya melirik Miranti, lalu Miranti membisikkan kepada Jaya.
"Namanya Hartawan Chandra, tinggal di kota Jakarta. Mencari nama orang di kota itu kan luar biasa bro," sahut Jaya kepada Anton.
"Apakah nak Miranti sama sekali tak ingat letaknya rumahnya dimana?" tanya pak Salim.
"Seingat saya dulu almarhum Ibu mengatakan Lebak Bulus, tinggalnya di suatu perumahan elite tempat pejabat," ujar Miranti menjelaskan.
"Mbak Miranti, Bang Jaya, ayo minggu depan kami antar. Sekalian saya juga memang ada rencana ke Jakarta, sama akan menemui paman saya di sana," kata Haikal memberikan solusi.
__ADS_1
"Kalau misalkan ayahnya Mbak Miranti seorang pejabat, pasti paman saya akan kenal dan kita bisa mencarinya dengan cepat".
Semua mendukung saran Haikal, terutama Jaya dan Miranti yang sebenarnya ingin segera menikah tapi terganjal restu.