
Sudah beberapa hari Mela merasa aman dan tentram tidak ada gangguan dari Triana.
Dia sering keluar rumah dari pagi jadi jarang membeli sayuran di pedagang keliling yang biasa ke perumahan.
Belakangan ini dia sering pergi entah menemui Atikah atau juga teman-teman kampusnya bahkan teman sekolahnya dulu.
Mela bertekad mengembangkan bisnis krim kecantikan tersebut.
Dia juga mulai kekinian dengan mendatangi Bank dan mendaftarkan E- Banking di ponselnya agar memudahkan transaksi.
Dia mulai melakukan pesanan dengan jumlah yang cukup banyak kepada Anita, karena sekarang peminat mulai banyak dan dari setiap pembeli Mela memberikan discount 5% apabila mereferensikan produk tersebut kepada orang lain.
Hari ini kebetulan tidak ada janji, sehingga pagi itu Mela seperti biasa dengan wajah cerah ceria mendatangi pedagang sayuran untuk membeli bahan makanan.
"Bu Anton, maaf yah kemarin tuh Ibu Triana di sini berkoar-koar kalau ibu Anton itu pelakor. Katanya Ibu Anton yang merebut pak Anton dari dia sepuluh tahun lalu," kata salah satu Ibu-ibu mengadukan apa yang dia dengar dari Triana.
Mela tersenyum lalu berkata," Bu, saya sekarang baru mau berusia dua puluh tujuh tahun. Berarti sepuluh tahun lalu saya masih sekolah dengan usia tujuh belas tahun".
"Saya SMA di Cirebon, suami saya dan Ibu Triana sudah kuliah saat itu di Bandung. Lantas bagaimana caranya saya merebut yah".
"Kalau saya dulu merebut mungkin sekarang kami sudah punya anak yang sudah besar dong".
"Sementara sekarang yang punya anak yang sudah besar siapa yah...," sahut Mela dengan tenang sambil memilih sayuran.
"Wah berarti ibu Triana saja yang stress, orang ibu Anton dan pak Anton baru menikah beberapa bulan yang lalu kok," tukas Ibu Darwis yang baru saja datang.
Mela tersenyum kepada Ibu Darwis seraya mengucapkan terima kasih atas pembelaannya.
"Sepertinya Ibu Triana itu terganggu kejiwaannya, dia sering marah- marah tidak karuan," kata ibu lain menimpali.
"Yah kalau saya pribadi sih paham bu, sudah biarkan saja, orang saya yang digosipkan juga santai saja kok," ujar Mela sambil terus senyum-senyum.
"Ya iyalah, pak Anton pasti pilih ibu Anton, senyumnya manis begini. Saya juga suka kok," Mas Joko ikutan nimbrung dan otomatis semua ibu-ibu protes atas ucapannya.
"Huuuhhh...dasar ikut-ikutan saja...memangnya mas Joko ganteng...dasar genit...!!!".
"Salah lagi...salah lagi...,"ujar Mas Joko sambil menepuk dahinya karena habis di protes para ibu yang belanja.
Setelah selesai memasak dan membereskan rumah, dari depan pintu terdengar ada yang mengetuk sambil memanggil namanya.
"Tante Mela...Tante Mela... apakah ada di rumah?!!!" teriak anak-anak kecil di halaman rumahnya.
Mela mengintip, ternyata benar ada dua anaknya Triana di depan pintu rumahnya.
Ingin rasanya Mela membuka pintu dan memberikan makanan kepada mereka.
Kedua anak itu mencarinya pasti karena merasa lapar dan haus.
Sambil menitikan air matanya dari dalam rumah Melapun memesan Food online, dan membayar secara digital.
Minta dikirimkan dua paket makan nasi dan ayam goreng yang sudah ada minumnya.
Dia berpesan kepada petugas Food Online itu agar jangan menyebutkan siapa pengirim makanan itu sebenarnya, sebutkan saja dari Mamih Triana.
Kedua anak Triana yaitu Hiro dan Hera duduk di teras rumah Mela.
Keduanya menanti kedatangan Mela, dikiranya Mela sedang pergi sebentar.
Yang membuat Mela tambah terenyuh adalah kedua anak itu memunguti sampah daun di halaman rumahnya dan membuangnya ke tong sampah.
Tapi Mela tak mungkin keluar menemui keduanya, karena Mela juga harus memberi pelajaran kepada ibunya.
Tak lama datang seorang pria naik motor membawa dua kotak paket nasi, dan menghentikan motornya di depan rumah Mela.
"Hei anak-anak, apakah ada yang bernama Hiro dan Hera?"tanya orang itu.
Kemudian Hiro dengan takut-takut mendekati orang tadi dan menjawab ," Iya Oom, saya Hiro, ada apa yah Oom?".
"Oh, ini ada paket makanan dari Mamih, ayo ambil dan segera makan. Nanti sampahnya dibuang di tempat sampah," kata orang itu sambil memberikan sebungkus kantong plastik berisi dua paket makanan.
"Tapi kata Mamih tidak boleh menerima makanan atau apapun sembarangan dari orang asing," jawab Hiro dengan tatapan ragu.
"Nak, ini yang pesan Mamih mu namanya Ibu Triana kan?"orang tadi kembali menjelaskan kepada Hiro.
Mendengar nama Ibunya disebut, maka Hiro segera mengambilnya sambil mengucapkan terima kasih.
Lalu dia berlari mendekati adiknya, dia membawa adiknya mencuci tangan dari ledeng di taman.
Lalu duduk berdampingan sambil mengucapkan doa sebelum makan, dan mereka makan di halaman rumah Mela dengan senangnya.
Padahal Mela sedari tadi melihat mereka dari balik tirai jendela, dia menangis pilu melihat kedua anak itu.
Setelah makan keduanya masih duduk-duduk di halaman. Hiro kakaknya membantu adiknya membersihkan tangannya dan membuang sampah sisa makan mereka ke tempat sampah.
Siang itu panas sekali, kedua anak kecil kakak beradik itu merasa mengantuk.
Hawa panas dan hembusan angin sepoi-sepoi membuat kedua anak itu tak sanggup untuk membuka matanya.
Mereka tidur di teras rumah Mela sambil berpelukan.
Saat itu Mela baru selesai sholat Dzuhur, lalu dia mengintip lagi ke jendela.
Sontak air matanya tak terbendung lagi, dia menggigil sambil menangis.
Mela merasa dulu dirinya juga pernah miskin, tapi tak sampai terpuruk seperti kedua anak itu.
Pelan-pelan Mela membuka pintu garasi, dan meletakan satu poci plastik air putih, dua gelas kosong juga dua bungkus biskuit.
Hatinya perih pedih melihat dua anak kecil yang terlelap di teras rumahnya itu.
"Kalau ibunya ada di sini ingin rasanya aku tekuk-tekuk badannya, lalu dimasukan ke dalam dus, dan ku kirim dia ke negara yang sedang perang ," kata Mela sambil menggerutu kesal mengingat ibunya kedua anak itu.
Menjelang sore kedua anak itu bangun, lalu melihat ada minuman merekapun minum dan memasukan biskuit ke dalam saku bajunya.
Lalu setelah menyimpan gelas dengan rapih, mereka berlari pulang ke rumahnya. Rupanya mereka takut kalau harus bertemu dengan Anton, mungkin karena wajahnya terlihat tidak ramah ketika dulu pertama bertemu.
Memang tak lama Anton pulang ke rumah, saat itu Mela baru selesai mencuci gelas bekas kedua anak tadi minum.
Mela seperti biasa menyambut suaminya, mengambilkan tasnya dan membawakan minum segelas air putih segar.
"Banyak pasien hari ini, Pi?" tanya Mela sambil membawakan sandal jepit rumah untuk suaminya.
Memang cuma sebelah sih, yang sebelahnya lagi disimpan karena berguna, oleh Mela di potong menjadi beberapa bagian.
Ada yang dijadikan tatakan pot bunga di halaman, juga ada yang dijadikan penganjal meja rias di kamar dan untuk menahan rak piring di tempat cuci piring agar tidak selip.
Memang Mela istri yang kreatif, kalau di rumah tidak bisa diam saja. Selalu ada saja yang dia lakukan dan seperti tidak kenal lelah.
Anton melihat pasangan sandal jepit yang dipakainya menjadi digunakan banyak fungsi lain malah menjadi senang.
Karena istrinya menjadikannya berguna untuk kepentingan yang lain.
Anton segera mandi karena sebentar lagi menjelang maghrib dan sebagai umat muslim yang taat, dia tidak pernah mau meninggalkan Sholat nya.
Waktu bergulir, pasangan suami istri baru selesai makan malam, dan sekarang Anton sedang berdzikir setelah selesai Sholat Isya.
Mela masih membereskan meja makan dan piring kotor, sambil mengupas buah mangga untuk cemilan sambil nonton televisi nanti.
Baru saja selesai memasukan kotak berisi potongan mangga ke dalam lemari es, dari depan terdengar suara ribut-ribut.
Mela bergegas melihat ke depan dari balik tirai jendela, terlihat Ibu Darwis sedang menghalangi Triana yang mau masuk ke halaman rumah Mela sambil membawa kedua anaknya.
__ADS_1
Triana terlihat panik, sepertinya dia ketakutan dengan sesuatu pipinya dipenuhi dengan cucuran air mata, wajahnya resah dan gelisah.
"Ibu Darwis, saya mohon bu, saya mau minta tolong kepada Pak Anton dan istrinya. Tolong bu, saya takut anak saya diambil ayahnya," Triana menangis sambil berteriak-teriak kepada ibu Darwis.
"Kamu pasti mau jahat lagi sama Ibu Anton, orang sebaik dia mau kamu manfaatkan lagi yah," kata Ibu Darwis sambil telunjuknya menunjuk ke muka Triana.
"Sumpah Bu, tidak seperti itu. Sekarang saya minta tolong bu, ampun Ya Allah. Saya minta tolong".
Mela melihat pemandangan seperti itu menjadi tidak enak hati, dia segera membuka pintu rumahnya.
"Astaga ada apa ini bu?"tanya Mela sambil terkaget-kaget.
"Ini Bu Anton, dia ini mau bikin rusuh lagi ke rumah Ibu," kata Ibu Darwis sambil terlihat kesal sekali kepada Triana.
"Dik...dengarkan Mbak, mohon dik...mbak minta tolong. Anak- anak mau diambil paksa oleh ayahnya. Saya tidak mau dik," kata Triana sambil kedua tangannya memohon dan dia menangis tersedu-sedu.
Mela serba salah, tidak di ajak masuk maka menjadi keramaian di depan rumahnya. Tapi diajak masuk pasti suaminya akan marah lagi kepadanya.
Tapi mau bagaimana, lalu dia mengajak Triana dan kedua anaknya masuk.
Ibu Darwis tak tinggal diam, dia sangat peduli dan segera dia berlari memanggil Bapak dan Ibu RT.
Melihat keramaian, Ibu Lukas yang di seberang rumah segera menyusul masuk ke dalam rumah Mela, diikuti juga ibu Dadang tetangga kiri rumah Mela yang kemarin ini memberi tips bermesraan dengan suami.
Tak lama Ibu Darwis datang bersama pak RT dan istrinya, dia juga sudah geram selama ini kalau melihat sikap Triana.
Triana masuk ke dalam rumah, kedua anaknya dibawa Mela masuk ke ruang keluarga untuk menonton televisi.
Mela keluar lagi sambil membawa minuman dan meminta Triana segera minum karena dia sedang terus menangis.
"Mbak minum dulu, sudah jangan menangis lagi. Lebih baik sampaikan ada masalah apa ?" Kata Mela dengan nada dingin.
Tak lama Pak RT dan istrinya juga ibu Darwis masuk ke rumah Mela juga.
Anton baru selesai berdoa dan berdzikir, mendengar di depan kamar tidurnya seperti banyak orang maka dia segera keluar.
Karena Anton orangnya apa adanya dan ingin santai di rumah, maka dia keluar kamar tidak mengenakan kaki palsunya jadi hanya memakai tongkat saja.
Dia menuju ruang tamu, dan disana sudah berkumpul pak RT dan istrinya, Mela, Ibu Darwis, Ibu Lukas dan Ibu Dadang juga Triana.
Semua terkejut melihat kondisi Anton, ternyata Triana tidak tahu kalau Anton sekarang cacat.
Tapi Anton dan Mela tenang saja, lalu Anton melihat di halaman rumah ada pak Dadang, pak Lukas dan Pak Darwis.
Ketiga pria itu mau menyusul istrinya masing-masing, dan Anton pamit kepada pak RT akan di depan saja bersama ketiga bapak lainnya.
Karena di dalam ini perkara istrinya dan dia yakin istrinya tentu bisa menangani.
Lalu Anton ke depan rumah, dan mengobrol bersama ketiga tetangganya tersebut.
"Dik, sejak kapan Anton menjadi seperti itu?"tanya Triana dengan keheranan.
"Sudah lama Mbak, saat mau skripsi dulu katanya dia pulang dari Semarang naik motor lalu kecelakaan ," Mela menjelaskan dengan datar saja.
Deg...Triana terhenyak lalu tertegun, dia merasa kalau Anton cacat pasti karena kejadian atas pengkhianatan yang telah dia lakukan.
"Mbak, sekarang ada pak RT dan Ibu RT, juga ada ibu-ibu lain. Maaf ada apakah Mbak sampai datang kemari lagi. Saya butuh penjelasannya?" tanya Mela dengan tegas.
"Ya betul Bu Triana ini ada apa yang terjadi, saya sering dengar tapi belum sempat membuktikan. Kebetulan sekarang ada kesempatan yang pas, jadi tolong dijawab pertanyaanya Ibu Anton," ujar Pak RT dengan bijaksana.
Triana memandang semua yang hadir, lalu dia mulai bercerita.
Siang tadi dia pergi ke rumah Hendra Nata, yaitu lelaki yang menikahinya secara siri.
Ternyata sesampainya disana orangnya tidak ada, dia hanya bertemu dengan istri ketiganya yang merupakan istri sahnya sekarang.
Triana mau minta uang untuk biaya anak-anaknya dan juga untuk biaya bayar kontrakan rumah.
Terjadilah perkelahian antar wanita, mereka saling dorong dan saling tarik pakaian.
Sampai akhirnya baju istrinya Nata sobek parah karena ditarik Triana, lalu wanita itu lari masuk rumah dan dikejar oleh Triana.
Saat di dalam rumah Nata, dia melihat ada dompet istrinya di atas meja, lalu dia mengambilnya dan membukanya.
Ternyata banyak uang kertas di dalamnya, lalu dia ambil semua sambil melempar dompetnya dan segera kabur dari rumah itu.
Istrinya tidak terima dengan perbuatan Triana, lalu dia mengadu kepada Nata suaminya.
Mendengar penuturan istrinya, maka Nata menjadi murka lalu dia menelepon Triana mengancam akan membawa kedua anaknya dan tidak akan pernah dipertemukan lagi dengan Triana.
Tentu saja Triana ketakutan, dan sekarang dia minta ingin menyembunyikan kedua anaknya di rumah Mela.
"Bu Triana, sebenarnya Ibu dan suami apakah sudah bercerai?" tanya istri pak RT.
"Bagaimana yah Bu, kami dulu menikah secara siri tapi tidak ada bukti apapun, maka kalau disebut cerai juga yah berpisah begitu saja. Saya tertipu dulu waktu menikah," katanya sambil menangis lagi.
Semua yang ada di ruangan itu saling bertatapan, ternyata dari awal juga kehidupan Triana juga memang berantakan.
Pak RT yang juga seorang sarjana hukum menanyakan perihal dulu mereka menikah bagaimana, kapan terjadinya dan dilakukan dimana.
Triana tidak bisa menjawab, semuanya dulu yang mengatur adalah Nata suaminya.
Berarti benar Triana juga sudah tertipu oleh suaminya sendiri sejak awal mereka menikah.
"Kalau begitu mengapa Mbak tidak kembali saja ke kota asal Mbak ?"tanya Mela kepada Triana.
"Aku sudah hampir sepuluh tahun tidak kembali ke rumah orang tua, sehingga aku tak tahu lagi apakah mereka akan menerima aku dan anak-anak ," Triana berkata sambil berurai air mata.
"Tapi Bu Triana, bagaimanapun orang tua tentu tidak akan menolak, apalagi kalau sudah melihat cucu pasti akan terenyuh hatinya," ujar Ibu Dadang dan yang lainnya juga setuju.
"Iyalah daripada kamu disini bikin susah orang lain, Ibu Anton sekarang menjadi sasaran kamu. Seenaknya saja kamu sama dia," Ibu Darwis ketus sekali berkata.
Semua saling pandang mendengar cetusan ibu Darwis, tapi memang benar apa yang dikatakannya.
"Benar sekali Bu Triana, lebih baik ibu kembali ke tempat asal ibu, kalau tidak salah kota Semarang yah," kata istri pak RT kembali menasehati.
"Benar Mbak, kasihan anak-anak, sekolah berantakan, setiap hari terlantar kelaparan. Saya tidak tega Mbak, mereka masih punya harapan. Siapa tahu di Semarang ada solusi buat kehidupan Mbak," kata Mela juga sambil ingat bagaimana anak-anak menderita.
Triana menunduk, dia berpikir benar juga apa yang dikatakan oleh semua tetangga di situ.
Apalagi yang terakhir Mela katakan, sangat mengena sekali ke dalam hatinya.
Setelah diam beberapa saat, dia berkata kepada pak RT sambil membuka dompetnya.
"Pak RT, ini sisa uang yang ada, tadi yang saya ambil dari istri Nata sudah saya bayarkan kepada pemilik rumah yang saya sewa," kata Triana sambil memperlihatkan sisa uang hanya beberapa ribu rupiah saja.
"Bagaimana cara saya pulang ke Semarang. Untuk makan besok saja saya tidak tahu,"ujar Triana dengan wajah memelas.
"Selama ini Ibu pergi kemana saja, seharian meninggalkan anak-anak baru kembali menjelang malam, bekerja apa?"tanya Ibu Lukas yang sedari tadi diam saja menyimak.
"Jujur yah, aku setiap hari pergi ke pasar, mencopet, mencuri. Kadang mencari toko yang tidak ada CCTV, dan aku mencuri lalu aku jual ke penadah ," jawab Triana sambil menatap semua orang di depannya.
Semuanya melongo mendengar itu, lalu saling pandang dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
Sesaat semuanya terdiam, lalu tiba-tiba Ibu Darwis berkata sambil mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu dari saku bajunya.
"Aku menyumbang dua ratus ribu rupiah, asalkan benar besok kamu pulang ke rumah orang tuamu di Semarang".
Ibu Lukas dan Ibu Dadang saling bertatapan, lalu Ibu Dadang pamit ke rumahnya sebentar begitu juga ibu Lukas.
Tak lama mereka kembali dan memberikan uang dengan jumlah yang sama.
__ADS_1
Sekarang ada enam ratus ribu rupiah di atas meja, Mela terdiam sejenak lalu beranjak ke dalam kamar dan tak lama dia keluar dan menyampaikan empat lembar uang.
Genap sudah satu juta rupiah, nilai yang lebih untuk naik bis ke kota Semarang.
Uang itu diambil oleh istri pak RT, dan beliau berkata ," Uangnya saya yang simpan, besok saya dan suami yang akan mengantarkan mereka ke terminal bis".
Pak RT juga berkata ," Benar, besok kami yang akan mengantarkan ke terminal bis, membelikan tiket dan memastikan mereka berangkat ke Semarang".
"Bu Triana jangan berpikir kami semua jahat, bukannya kami ingin mengusir anda. Tapi coba dipikirkan lagi, anak-anak masih butuh biaya dan juga perhatian".
"Setidaknya kalau di rumah orang tuamu, walau kamu bekerja kesana kemari tapi anak ada keluargamu yang menjaga," Ibu Dadang juga turut membukakan pikirannya Triana.
Triana diam lalu sambil meneteskan air matanya dia menganggukan kepalanya.
Akhirnya dia setuju akan kembali ke kota Semarang, ke tempat orang tuanya.
Ketika semua bubar dari dalam rumah, di halaman depan tampak empat orang bapak-bapak sedang saling bercerita.
Mereka berempat dari tadi tidak ada yang membahas apapun yang berkaitan dengan masalah di dalam.
Yang mereka bahas soal kecelakaan Anton, soal pekerjaan atau usaha masing - masing, soal keluarga, sedikit menyinggung soal ranjang agar Anton cepat bisa menghamili.
Lalu beralih ke soal ekonomi dan politik belakangan ini, lalu soal kendaraan , soal olah raga, hobi dan lain-lain.
"Jadi memancing itu kami setiap sebulan sekali, ayo gabung boss, pak RT juga tim memancing ," ajak pak Dadang kepada Anton.
"Oke saja, dimana biasanya pak kalau memancing?"tanya Anton penasaran.
"Biasa sih ke sungai atau ke laut, tergantung suara terbanyak saja," sela Pak Darwis.
"Ayolah bro, akhir bulan kita cabut yuk.... istri-istri sih biar saja punya kesibukan sendiri nanti. Biasanya pulang memancing, kita bakar ikan di halaman rumah pak Dadang ," kata Pak Lukas menjelaskan.
"Iya kan rumah saya paling besar, dua kavling jadi satu rumah. Makanya halamannya luas, jadi bisa bakar-bakaran ikan ," Pak Dadang menjelaskan kepada Anton.
"Siap jadilah saya ikut, tenang walau tampilan begini tapi saya tidak merepotkan,"kata Anton kepada yang lain.
"Santai my man... belum tahu pak Gustiaji yah...yang rumahnya di blok barat. Nah dia pakai kursi roda bro. Lumpuh karena kecelakaan juga. Nanti dia ikut kok jadi tim mancing juga," pak Darwis menjelaskan kepada Anton.
"Cuma dia anaknya tiga bro, kamu kaki masih bisa jalan juga belum bisa goal. Ayo kejar... masa kalah sama yang lumpuh".
Hahahahahha....mereka berempat tertawa mendengar ucapan pak Darwis.
Ternyata tetangga di sekitar orangnya santai semua, tidak saling sombong malah terasa kompak.
Kemudian terlihat rombongan keluar dari dalam ruang tamu rumahnya Anton.
"Aman pak RT...hahaha...," sambut pak Lukas kepada RT.
"Aman bro...tenang sama RT Lukman sih semua aman...," tenyata nama pak RT adalah Lukman.
"Te..mancing kita...akhir bulan...
nambah satu peserta...," kata pak Darwis sambil menunjuk Anton.
"Ah bisa tidak pak Anton... hayuk kita berangkat, cuma aku ragu sama pak Anton," goda pak RT sambil melirik Anton.
"Bisa dong pak, mancing doang sih saya sering kok," jawab Anton sambil mengangkat alisnya.
"Ah bohong...itu buktinya belum buncit perutnya...jadi belum bisa...hahahahah," kata pak RT lagi sambil tertawa dan menunjuk ke arah Mela.
Ternyata maksudnya Mela belum hamil juga, sehingga mereka menggoda Anton.
"Tenang...nanti saya tanya pak Gustiaji...ingin tahu resepnya," jawab Anton tak mau kalah juga.
Mereka serempak tertawa, sambil membenarkan kalau Anton harus berguru kepada pak Gustiaji.
"Nanti setiap Jum'at malam dan malam minggu, kumpul dong di pos keamanan dekat portal. Hampir semua Bapak-bapak perumahan kumpul disana ," ajak pak RT kepada Anton.
"Siap boss, laksanakan nanti saya merapat," sahut Anton lagi.
Para istri bubar dan mendekati suaminya masing-masing, lalu Triana membawa kedua anaknya keluar sambil melewati Anton.
"Anton, maafkan aku yah. Aku sudah banyak salah kepadamu. Terima kasih atas kebaikan istrimu, tak salah kamu pilih istri sebaik dia," kata Triana sambil pamit kepada Anton.
Dan Anton hanya menganggukan kepalanya saja sambil tangannya membuat tanda salam tapi tidak ditempelkan kepada Triana.
Triana juga sadar, tak mungkin Anton bisa sama seperti dulu. Selain sudah pernah kecewa kepadanya juga dia sekarang sudah punya istri yang baik dan cantik.
Esok paginya pak RT dan istri terlihat menjemput Triana dan kedua anaknya.
Mereka mengantarkan ke terminal bis dan membelikan tiket untuk jurusan ke Semarang.
"Bu, ini tiketnya untuk tiga orang dan ini sisa uangnya, saya tambahkan lagi sedikit untuk anak-anak makan di jalan. Maaf saya tak sempat membuatkan makanan karena harus segera buka toko," kata istri pak RT sambil memberikan tiket dan uang kepada Triana.
"Saya berterima kasih kepada pak RT dan juga Ibu, kalian semua baik kepada saya. Maafkan selama ini saya selalu membuat onar," kata Triana sambil kembali menitikkan air mata.
"Sudahlah bu, yang penting ibu harus benar-benar ke Semarang. Kasihan anak-anak, dan kami berharap ada solusi setibanya di rumah orang tuamu ," kata Istri pak RT sambil merangkul Triana.
Tak lama terdengar panggilan untuk penumpang yang akan berangkat ke arah Semarang, merekapun berpamitan dan ketiganya naik ke dalam bis menuju Semarang.
Pak RT dan istrinya pun segera kembali karena harus segera membuka toko kainnya di kios dekat rumah mereka.
Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam perjalanan.
Sekitar pukul dua belas siang Triana dan kedua anaknya tiba di kota Semarang, mereka turun di terminal bis.
Lalu Triana mencari angkutan kota yang mengantarkan ke jalan arah rumahnya.
Tak bisa dia mengungkapkan perasaannya, hampir sepuluh tahun dia meninggalkan kota itu karena kebodohannya.
Tibalah dia di depan suatu jalan, jantungnya berdebar ketika melangkah menuju sebuah jalan pemukiman yang tidak terlalu lebar itu.
Dari kejauhan terlihat sebuah rumah tua dengan cat berwarna coklat muda, sebagian masih ada unsur kayunya.
Kedua orang tuanya adalah pedagang makanan kering yang disebut abon, yaitu daging yang di suwir tipis-tipis lalu dimasak sampai kering. Setelah itu dimasukan ke dalam kemasan plastik kedap udara.
Itu adalah usaha turun temurun dari jaman kakek buyutnya jaman dahulu kala.
Triana anak bungsu, kakaknya sudah berumah tangga juga dan tinggal di luar kota.
Di rumah hanya ada ayah dan ibunya saja, sepasang orang lanjut usia.
"Permisi...assalamualaikum, Apak...Amak...!!!"panggil Triana di depan pintu rumah yang terbuka.
Kedua orangtuanya sedang sibuk membungkus pesanan abon, mereka terkejut mendengar ada yang memanggil seperti itu.
"YANA...!!!!"teriak ibunya sambil matanya membelalak.
"Amak....!!!"sahut Triana sambil berlari dan bersimpuh di kaki ibunya.
Ayahnya juga keluar dan sama terkejutnya, sepuluh tahun lamanya tidak bertemu.
Mereka mencari Triana kesana kemari dan tidak ada yang tahu bahkan kabarnya hilang bagai di telan bumi.
Ayah dan ibunya memeluknya, lalu mereka juga memeluk kedua anak Triana.
Mereka bertiga saling bertangisan karena melepas rindu karena lama tak berjumpa.
Setelah tenang semuanya, lalu Triana menceritakan mengapa dan kemana dia hilang selama ini.
Orang tuanya tak peduli lagi apa yang sudah terjadi, yang pasti hati mereka bahagia anak hilangnya sudah kembali dengan membawa dua bonus.
__ADS_1