Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kelima Puluh Tujuh


__ADS_3

Selama disimpan di sasana latihan karate milik Juan di kota Bekasi, disana Romi juga mendapatkan pelatihan karate bersama murid-murid lainnya dibawah bimbingan Juan.


Tapi dia sama sekali tidak boleh keluar dari sasana, khawatir ada orang jahat mengintai dan bisa saja membunuhnya.


Kepolisian Bekasi sudah berkoordinasi dengan Kepolisian Batam dan juga Palembang. Sehingga kemarin gudang penyimpanan minuman keras di kedua kota itu telah habis diluluhlantakan oleh tim Kepolisian gabungan Batam dan Palembang.


ibarat rayap sekarang menunggu ratunya keluar dari sarangnya, ketika seluruh bagian luar sarangnya telah dibakar.


KAPOLDA Cirebon sudah menerima berkas laporan dari POLDA Bekasi.


Menurut catatan didalam berkas itu tercantum nama daerah tempat lokasi yang dicurigai sebagai pusat tempat penyebaran minuman keras impor ilegal berada di dekat POLSEK Plumbon Kabupaten Cirebon.


Saat ini Rudi Banjarnahor KAPOLSEK daerah itu sedang dipanggil oleh Komandannya.


Beliau diberikan berkas yang diterima dari Kepolisian Bekasi.


"Silahkan kamu pelajari dan cari bukti otentik atas pelaporan ini, libatkan seluruh tim kerjamu. Kejahatan ini harus segera kamu selesaikan".


"Siap Komandan, laksanakan".


KAPOLSEK Rudi Banjarnahor segera meninggalkan ruangan atasannya dan kemudian dia menuju kantornya sambil menghubungi seluruh timnya untuk merapat.


"Kamu kalau malam setelah pulang kerja melakukan apa saja?"tanya Jaya kepada Miranti setelah mengambil laundry express, mukenah dan baju-baju tunik barunya.


"Di apartemen sendirian sambil minum kopi dan merokok, atau mencari hiburan di cafe bersama beberapa teman kantor,"jawab Miranti yang sudah merasa lelah karena Jaya terus mengacak-acak semua hal yang dia senangi dalam hidupnya selama ini.


"Sekarang coba kamu sebutkan surat Al-Fatihah sendiri tanpa bimbingan aku dan doa pendek lainnya...coba surat Al-Ikhlas," Jaya kembali melakukan test kepada Miranti.


Seketika Miranti diam tak bersuara, dia benar-benar lupa dengan semua doa-doa pendek tersebut.


"Kok diam saja....memangnya kamu benar-benar lupa semuanya?"tanya Jaya nadanya mulai tinggi.


"Ini di dalam mobil bukan di dalam masjid, mengapa aku harus tiba-tiba mengaji".


"Sumpah Jaya, aku lupa semua. Bahkan saat sekolah dulu pun aku selalu menyontek kalau ulangan pelajaran agama," jawab Miranti membuang mukanya ke arah jendela.


"Rencananya mau sampai kapan kamu tidak sembahyang juga tidak belajar agama. Aku mau tahu, coba katakan padaku. Karena orang hidup harus punya keinginan dan rencana,"pelan namun sangat memukul sampai ke ulu hati Miranti saat mendengar ucapan Jaya.


Sudah dua hari ini Miranti serasa ditelanjangi oleh Jaya, semua perbuatan buruknya terbongkar.


Jaya memang baik ingin membantunya, tapi memang tahap awal berubah itu sangat menyakitkan.


Setiap ucapan Jaya terasa menghujam tapi tak mungkin ditentang karena apa yang disampaikan Jaya kepada Miranti itu benar adanya.


Miranti menggelengkan kepalanya, karena dia memang tak tahu harus menjawab apa kepada Jaya.


Dia sendiri labil, tak tahu arah hidup seperti apa yang harus dia jalani ke depannya.


Arah mobil menuju ke apartemen Miranti, sebelum berbelok ke jalan menuju apartemen dari kejauhan terlihat tulisan "Rumah Mengaji".


Jaya lalu meminggirkan mobil Miranti dan parkir di depan bangunan kecil yang bertuliskan " Rumah Mengaji" itu.


"Ayo kita turun," ajaknya kepada Miranti, lalu Miranti ikut turun mengikuti Jaya dari belakang.


"Assalamualaikum,"Jaya mengucapkan salam dimuka pintu bangunan tersebut.


"Walaikumsalam, silahkan masuk pak.. Silahkan masuk mbak...,"sapa ramah seorang wanita berusia sekitaran awal empat puluh tahunan kepada Jaya dan Miranti.


Lalu mereka berdua masuk ke dalam.


"Maaf mbak...maaf pak...apa ada yang bisa kami bantu?"tanya wanita itu dengan ramah.


"Maaf saya Jaya, maaf apakah anda ibu Ustadzah ?"tanya Jaya kepada wanita itu.


"Alhamdulillah, saya Ustadzah Asih, kebetulan saya pengurus Yayasan Cinta Islami. Dan kami disini melakukan pengajaran mengenal dan mempelajari Al Quran. Kami mengajarkan anak-anak dan dewasa untuk bisa mengaji Al -Quran," wanita yang bernama Ustadzah Asih itu menerangkan kepada Jaya.


"Berarti ada kelas dewasa juga yah ibu Ustadzah untuk belajar mengaji disini?" tanya Jaya lagi minta penjelasan.


"Ada pak, kalau berkenan bisa ikut belajar disini. Hanya mohon maaf kami mengajarkan dari dasar lagi. Dari awal pengenalan huruf hijaiyah, agar ke depannya Insyaallah bisa lancar sampai membaca Al- Quran,"sahut Ustadzah lagi masih dengan ramahnya.


"Pukul berapa kalau misalkan seorang dewasa belajar mengaji disini?"tanya Jaya ingin tahu jadwalnya.


"Jam berapapun bisa, tapi kami batasi paling akhir setelah Sholat Isya sekitar jam tujuh malam dan pelajaran sekitar satu jam lamanya".


Jaya menatap Miranti yang saat ini hanya bisa diam saja membisu.


"Kamu mau tidak kalau sehabis pulang bekerja mampir kemari belajar mengaji, mengisi waktu luangmu dengan bermanfaat," kata Jaya berharap wanita itu mengatakan mau.


Miranti diam, wajahnya terlihat sangat tidak ramah, dalam hatinya berkecamuk antara merasa terintimidasi oleh Jaya tapi di sisi lain dia membenarkan juga apa yang Jaya katakan padanya.


"Boleh saya minta waktu dulu yah bu Ustadzah?...Saya masih perlu waktu untuk berpikir,"kata Miranti pelan-pelan.


Lalu Ustadzah Asih mengiyakan dan memang untuk belajar agama tidak bisa dipaksakan, semuanya harus dari hati sendiri. Hanya hidayah dari Yang Kuasa yang bisa segera mengubah total hidup seseorang.


Jaya berpamitan dengan ibu Ustadzah tersebut dan segera kembali ke mobil Miranti.


Mereka melaju sampai memasuki area parkir di basement apartemen Miranti, lantas Jaya memarkirkan mobilnya Miranti lalu dia mengambil kopernya dari bagasi mobil Miranti.


"Oke Miran...sorry yah kalau dalam beberapa hari ini aku sudah terlalu memaksakan kamu. Mungkin aku sangat berlebihan ingin membawamu ke arah yang lebih baik".


"Maafkan aku yah, kalau aku sempat membuatmu jadi sakit hati atas ucapanku. Tidak ada maksud untuk menjatuhkan harga dirimu, aku cuma berharap suatu saat kita bisa ketemu lagi dalam kondisi yang jauh lebih baik. Selamat tinggal yah....terima kasih atas kebaikanmu sudah menampung aku," Jaya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, tapi Miranti diam saja tak bergerak dan tatapannya lurus ke depan tidak menoleh Jaya sama sekali.


Jaya paham lalu dia menutup pintu mobil dan berjalan keluar halaman apartemen, memesan taksi online menuju ke kediaman Wiharja.


Miranti menangis di dalam mobil, hati kesal dan pikirannya berkecamuk.


Dia belum pernah bertemu lelaki seperti Jaya, mengenal sosok Jaya memang belum lama.


Tapi entah mengapa saat dulu jumpa dengan Jaya, dia bisa pergi begitu saja dan menghabiskan waktu semalaman.


Juga dia bisa begitu terbuka kepada Jaya mengatakan siapa dirinya dan segala kelakuan buruknya dia ungkapkan tanpa merasa berbeban


Dia sempat merasa resah ketika Jaya tak lagi menghubungi dia, sampai rasanya rindu sekali.


Akhirnya setelah berbagai upaya bisa juga saling kontak lagi dan bertemu di pernikahan Anton.


Jaya kemudian diajaknya menginap di apartemennya, dan disitulah semuanya semakin terbongkar keburukan dirinya.


Saat ini dia merasa tidak terima atas apa yang Jaya lakukan dan ucapkan. Dia harus mengubah segalanya yang selama ini membuat nyaman dirinya.


Tapi kalau diingat apa yang Jaya katakan semuanya benar. Apa yang Jaya ucapkan itu sesuai kenyataan kalau hidup itu bagai dikejar waktu untuk mencari jalan yang benar.


Miranti mematikan mesin mobil, lalu mencabut kuncinya dan segera membuka pintu mobil kemudian membantingnya.


Dengan memakai sepatu high heels nya dia berlari mencoba mengejar Jaya.


Tapi sudah tak terlihat lagi bayangan lelaki itu, Jaya sudah berangkat menuju hidup kesehariannya lagi.


Setibanya di kediaman Wiharja bersamaan dengan rombongan keluarga yang baru kembali berwisata dari kota Garut.


Wajah Anton terlihat cerah sekali, setidaknya dia sudah bahagia bersama istrinya apalagi baru pulang wisata.

__ADS_1


Sementara Jaya terlihat sedih, lalu dia dan Anton saling menempelkan salam kepalan tangannya.


"Bro, mess di belakang masih ada yang kosong tidak yah. Aku numpang tidur boleh kan?"tanya Jaya kepada Anton sahabatnya.


"Ada bro....tapi kok tampak sedih begini...curiga ada sesuatu deh,"Anton menyelidiki wajah Jaya dengan antusias.


"Capek bro...kurang tidur tapi beda versi lah denganmu... hehehe,"sahutnya sambil terlihat sangat tidak seperti biasanya.


Walau tak tahu ada apa tapi Anton paham mungkin sahabatnya sedang dalam problema sendiri, jadi dia biarkan saja karena pasti nanti juga Jaya akan cerita sendiri.


Malamnya Jaya tidur di mess belakang di kamar sebelumnya pernah dia gunakan saat kelelahan setelah pergi semalaman bersama Miranti.


Sementara malam itu Anton manja sekali kepada istrinya, karena selama seminggu dia akan meninggalkan istrinya.


Jadi malam itu Anton sibuk terus menggoda istrinya meminta bonus lebih untuk satu minggu ke depan.


Setelah sholat subuh keesokan paginya, Jaya dan Anton kembali ke kota Cirebon untuk bertugas kembali sesuai perintah atasannya.


Ibu Sinah juga ikut pulang, dan beliau minta diantar ke rumah Haji Darma kakak kandungnya.


Tanpa Jaya ketahui malam tadi di apartemen di kota Bandung, ada seorang wanita berusia matang sekitar 28 tahun sedang membaca buku tata cara sholat yang benar.


Dan malam kemarin serta tadi subuh dia juga melaksanakan sholatnya sendirian.


Bahkan ketika paginya berangkat ke kantor dia memakai busana tunik yang dipadu padan dengan celana panjang ketat kesukaannya.


Tidak buruk ternyata celana ketat tertutupi oleh pakaiannya dan saat ini dia memakai pakaian yang tidak ketat memamerkan tubuhnya.


Justru dengan pakaiannya yang santun membuat orang jadi terkesan, dan banyak staff nya memuji penampilan yang berbeda pagi ini.


Setelah ibu Sinah tiba di rumah Haji Darma, lalu Anton sebentar masuk dulu berkunjung namun karena harus segera bertugas maka dia pamit kepada keluarga istrinya itu.


Ketika dijalan menuju puskesmas terlihat Jaya masih juga tidak seceria biasanya, tapi sudahlah biarkan saja nanti ada saat yang tepat untuk bicara.


Pengantin baru disambut oleh semua rekan kerjanya, tentunya digoda dan ditanyakan segala rupa tentang malam pertama.


Apalagi Murni, dia begitu semangat minta Anton menceritakan dengan detail apa yang terjadi di malam pertamanya mereka.


Anton tak bisa menjawab hanya tertawa saja melihat mimik wajah penasaran Murni yang terus berusaha mengorek cerita darinya.


"Halo Nita...Sibuk tidak kamu?"tanya Septa lewat telepon kepada Anita.


"Tidak...tumben kamu telepon aku nih, kayaknya mau ngasih gratisan lagi?" tanya Anita menggoda sepupunya.


"Kamu pengen ku getok sampai benjol tampaknya yah...hahaha,"balas Septa kepada Anita.


Dan Anita hanya tertawa cekakakan mendengar sepupunya mengomel.


"Nita aku mau nanya nih, kamu merasa aneh tidak sama nyonya besar kita... tumben dia tiba-tiba datang sendiri ke Garut. Terus ikut menginap dan mau traktir kita semua jalan-jalan....kamu aneh tidak, bukankah dia itu selama ini suka pelit, suka ruwet kalau disuruh traktir-traktir begitu,"Septa merasa ada yang aneh dengan sepupunya sehingga dia berbagi cerita dengan Anita.


"Oh aku kira kemarin itu memang kalian sudah rencanakan, karena kalian join usaha makanya aku kira itu skenariomu dengan Ceceu,"sahut Anita yang mengira kalau kejadian di Garut kemarin itu adalah skenarionya Septa.


"Tidaklah, bahkan kalau kamu mau tahu yah, bisnis hotel itu ajakan dia loh bukan aku yang mengajaknya".


"Oh aku kira kamu yang mengajak Ceceu bisnis loh. Karena kamu kan punya tanah warisan dari kakekmu kemarin ini".


"Beneran Nita, aku yang diajak bahkan dia kirim uang dalam jumlah besar, jadi aku langsung membuat hotel itu. Kalau kamu mau tahu, dia sekarang masih di sini loh. Nginap di hotel sendirian, banyak melamun. Aku malah jadi khawatir," Septa menjelaskan karena melihat kondisi kakak sepupu mereka yang terlihat aneh dan berbeda.


"Coba nanti aku tanya Fajar yah Septa, soalnya mereka sedang sering saling bertelepon merencanakan jalan-jalan akhir tahun nanti. Dia beneran loh minta Fajar carikan tiket, cuma yah itu anehnya dia nanti hanya akan sendirian. Tapi dia minta kalau kita semua ikut bersamanya,"Anita juga jadi ikut membahas sepupunya itu.


"Iya deh Nita kamu tolong tanyakan Fajar yah, kan biasanya Fajar bisa membaca kalau sebenarnya seseorang itu sedang galau atau sedih. Nanti kamu kabari aku lagi yah,"kata Septa sebelum mengakhiri pembicaraannya.


"Oke siap nanti aku kabarin kamu yah," sahut Anita sambil menutup telepon genggamnya.


Kemudian dia membuka pintu pelan- pelan dan keluar kamar lalu turun ke bawah.


Di bawah dia melihat Mela sedang makan pisang sambil saling mengirim chat dengan suaminya.


Lalu Anita iseng kepadanya," Ada yang lagi kangen sama suaminya yah... sampai makan pisang banyak-banyak kayak begini...hihihi".


Mela yang merasa digoda kakak iparnya hanya senyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anita lalu mencari suaminya ternyata ada di ruangan kantor apotik sedang menelusuri internet mencari promo tiket pesawat di akhir tahun.


"Ayah lagi sibuk tidak?"tanya Anita kepada suaminya.


"Tidak juga, kenapa sayangku?"Fajar bertanya balik sambil menyimpan kacamatanya di meja.


"Begini tadi Septa telepon aku cukup lama, menceritakan keanehan Ceceu Serina Mustika,"kata Anita kepada suaminya.


"Keanehan...apa maksudnya?"Fajar tampak bingung.


Lalu Anita menceritakan apa yang tadi dia dan Septa bicarakan melalui telepon genggamnya.


"Hmmm pantas kalau begitu, kemarin saat di Garut aku juga sebenarnya merasa ada yang aneh dengan dia. Tak biasanya dia begitu semangat mau membayari kita semua," Fajar akhirnya merasakan hal sama juga.


Mela kebetulan mencuri dengar, lalu dia mendekati kedua kakak iparnya sambil berkata," Cici...Koko...maaf kalau Mela lancang, tapi kebetulan terdengar jadi maaf Mela mau ikut bicara yah".


"Bicara apa Mela?"tanya Anita.


"Begini Cici... kan waktu di Garut kemarin Ceceu Serina tidur dengan ibuku. Nah yang awalnya cerita yang santai tentang keluarga, lama-lama beliau menangis. Menceritakan kalau dia sebenarnya merasa tidak ada kebahagiaan dalam keluarga dan pernikahannya. Namun pastinya bagaimana tidak cerita jelas,"Mela menceritakan tentang Serina yang dia dapatkan kisahnya dari ibunya.


Fajar menarik nafas dalam-dalam, lalu memandang wajah istrinya.


"Tugasku lagi sepertinya nih, detektif Fajar Sanjaya harus segera beraksi,"kata Fajar sambil menggaruk kepalanya.


Anita memonyongkan bibirnya, lalu menatap Mela. Dan Mela menggedikkan bahunya sambil kedua tangannya diangkat.


Ketika semua beranjak ke kamar tidur, lalu Anita kembali menggoda adik iparnya.


"Kasihan deh lu...bobo sendirian


hihihi...awas jangan bawa pisang ke kamar yah".


Mela menutup kedua telinganya sambil kembali menggelengkan kepala melihat kejahilan kakak iparnya.


Anton masih duduk di ruang televisi rumahnya Jaya, dia baru saja selesai saling mengirim chat mesra dengan istrinya.


Dia lalu melihat Jaya sedang menatap televisi tapi pikirannya tidak ada di situ.


Anton iseng mengganti chanel televisi, tapi Jaya cuek saja. Berarti benar pikirannya tidak ada di ruangan ini.


"Bro...jangan melamun saja woi...nanti kuntilanak seksi lewat kan bahaya loh," goda Anton saat melihat Jaya tampak tidak biasanya.


Jaya diam saja tidak membalas ledekannya Anton seperti biasanya.


Lalu, dia yang tadinya berbaring segera beranjak mengambil posisi duduk.


"Dok...dulu aku sungguh seorang b*jing*n, kerjaan ku kalau tidak mabuk, judi bahkan main wanita".


"Sampai dua tahun lalu aku sudah kerja di puskesmas tempat kerja kita, aku masih melakukan itu," Jaya tiba-tiba bercerita tentang dirinya.

__ADS_1


"Lalu aku suatu malam ingat umur sudah mau tiga puluh tahun. Tapi hidup yang aku jalani tanpa manfaat sama sekali. Uang gajian habis, tabungan tak ada, mau jadi apa pikirku".


"Teman-teman satu per satu menikah, bahkan ada teman sekarang sudah sukses menjadi seseorang. Ada yang jadi pejabat, ada juga yang jadi pengusaha".


"Tapi dok...serusak-rusaknya aku, senista-nistanya aku, di masa itu terkadang aku masih ingat sholat. Pernah aku dua hari dua malam mabuk, begitu sadar aku menangis di masjid. Besoknya aku mencukur rambut, mandi, ambil wudhu lalu sholat dan mengaji di masjid dekat rumah,"Jaya benar-benar habis-habisan mencurahkan isi hati kepada Anton.


"Lalu ceritamu ini apa hubungannya dengan situasi hatimu sekarang?"tanya Anton sambil merasa temannya ini tampak terluka.


"Bro...cewek sebentar lagi umur 28 tahun, punya karier bagus, wajah cantik, body bagus, akhlak hancur,"lanjut Jaya lagi dengan terlihat dirinya tampak mengesalkan orang yang akan dia ceritakan.


"Itu cewek dari SMP sejak kakeknya meninggal, tidak pernah lagi sholat. Aku tanya bagaimana dulu waktu pelajaran agama di sekolah, dia jawab nyontek. Sampai lupa cara sholat, lupa mengaji. Ngeri tidak...".


"Aku pernah punya teman wanita malam, tapi wanita itu masih ingat sholat, masih ingat mengaji. Sekarang sudah tobat dan sudah punya rumah tangga baik-baik".


"Aku ajarin lagi dia sholat kemarin ini, aku juga belikan dia mukenah dan sajadah. Lalu aku belikan juga pakaian yang pantas, yang setidaknya menutup auratlah walau tidak berhijab juga. Minimal santunlah berbusananya. Dan dia marah loh....marah tidak terima usahaku untuk membuat dia lebih baik,"Jaya menghela nafas dan terasa berat sekali.


Anton terdiam mendengar curahan hati sahabatnya, tapi dia menilai kalau sahabatnya rupanya sudah jatuh hati kepada wanita yang diceritakannya.


"Bro...kamu tampaknya sudah jatuh cinta yah sama dia?"tanya Anton sambil menatapnya.


Jaya terdiam lalu dia menatap Anton sambil berkata,"Bro, aku tidak berani mengatakan ya atau tidak. Tapi yang pasti kalau hubungan terus berjalan juga, akan terlalu banyak PR ku. Takut tak sanggup nanti aku jalani, malah akan menyakiti hatinya juga hatiku sendiri".


Memang masalah jodoh sulit ditebak, semua rahasia Allah.


Anton juga tidak bisa memberi banyak saran atau apapun, karena memang ini masalah perasaan.


Cuma bisa berharap akan ada kebaikan dibalik semua kisah sahabatnya itu.


"Shadaqallahul ‘azhim"


Miranti baru saja selesai belajar mengaji di "Rumah Mengaji" di bawah bimbingan ibu Ustadzah Asih.


"Alhamdulillah mbak Miranti, sudah selesai halaman ke 7 buku belajar huruf Hijaiyah nya hari ini. Termasuk cepat loh, besok kita masuk halaman selanjutnya. Siapa tahu baru satu bulan kelak sudah masuk ke Al Quran ," kata Ustadzah Asih memberikan semangat kepada Miranti yang dengan niat dan giat belajar mengaji.


"Aamiin, Insyaallah ibu Ustadzah, saya akan berusaha untuk segera bisa mengaji. Maafkan saya, terakhir saya mengaji saat masih SMP lalu semuanya saya tinggalkan,"kata Miranti dengan berkaca-kaca bercerita kepada ibu Ustadzah.


"Mbak Miranti, manusia itu gudangnya lalai dan dosa, tapi ingat Allah tidak pernah meninggalkan kita. Selalu dibukakan jalan bagi kita untuk berdekat kepada Nya. Selalu yakin dan percaya yah Mbak, saat ini kita bisa bertemu dan belajar ini juga atas ijin Allah," Ustadzah Asih terus memberi masukan dan semangat kepada Miranti.


Tak lama diapun pamit, berjalan kaki menyeberang jalan menuju apartemen tempat tinggalnya.


Sekarang dia merasa cukup aman berjalan kaki dengan memakai pakaian lengan panjang, celana panjang dan juga hijab instant.


Sesampainya di apartemen, penjaga apartemen sampai terpesona melihat perubahan penampilan ibu Miranti.


Setibanya di dalam kamar, ada godaan di atas meja rias menanti. Rokok merek terkenal dan mahal masih ada satu kotak penuh belum dibuka sama sekali.


Dia menatapnya dan meraihnya, lalu berjalan menuju dapur dan membuka kotak sampah lalu membuangnya.


Tiba- tiba terlintas olehnya beberapa waktu yang lalu, Jaya bercerita kepadanya.


"Miran...aku ini merokok dari kelas 6 SD, mencuri-curi dari pengawasan orang tuaku. Dan terus merokok sampai ulang tahun ke 27 beberapa tahun lalu akhirnya dioperasi jantung pasang ring 1. Lalu aku total berhenti, dan tidak merokok sama sekali membuat aku tetap hidup. Kalau aku lanjut merokok mungkin sekarang aku tidak kenal kamu,"itu ucapan Jaya beberapa waktu lalu kepadanya sambil menunjukan bekas operasi di dada kirinya.


Miranti menghela nafas panjang dan mulai berkaca-kaca, entah mengapa dia merasa sangat merindukan dan kehilangan Jaya.


Tapi entahlah apakah akan terjadi atau tidak untuk bisa bertemu lagi dengan Jaya.


Kalau Tuhan berkenan pasti suatu saat akan bertemu kembali.


Dokter Haikal malam itu menelepon Jaya ketika dia sudah ada di tempat tidur.


"Bro...maaf mengganggu, besok malam pulang kerja aku menginap dirumahmu boleh tidak?"tanya dokter Haikal kepada Jaya melalui telepon genggamnya.


"Boleh dong, tapi bawa makanan yang banyak yah," jawab Jaya sambil bercanda.


"Siap Bro...besok malam aku bawakan yang asik-asik,"kata Haikal sambil mengakhiri teleponnya.


Lalu mereka semua tidur karena sudah larut malam.


Kebanyakan kaum lelaki usia muda kalau habis sholat subuh pasti tidur lagi, dan ini pun terjadi kepada dua sahabat karib ini.


Jaya terbangun karena mendengar ibu seberang rumah mengomeli anaknya yang sudah kalau disuruh ke sekolah.


Sementara Anton terbangun karena Mela melakukan panggilan video kepadanya.


"Assalamualaikum...Pi...kok belum siap-siap, sudah siang loh nanti terlambat ke puskemas,"istrinya mengingatkan agar segera bangun agar tidak terlambat.


"Habis Mi sayang tidak ada disini, aku kan kangen...,"Anton manja kepada istrinya.


"Idiiihh.. ayo bangun sayang, nanti kan jumat malam juga pulang ke rumah kaaannn".


"Iya kalau Haikal mau gantian sih bisa jumat malam, kalau tidak bisa yah sabtu sore aku sampai rumah".


"Ya sudah tidak apa-apa, aku menanti di rumah sayangku".


"Hmmm nanti kalau aku pulang ke rumah, siap-siap yah nanti Mi sayang akan aku buat tidak tidur semalaman".


"Mau ngapain memangnya, ngajakin aku meronda".


"Bukan dong, tapi mau bikin Mi sayang menangis minta sesuatu yang enak dari aku".


"Apaan sih...aku tak paham".


"Ya tunggu saja nanti yah..pasti Mi bakalan ketagihan".


Mela masih juga tak paham apa maksud suaminya, lalu diapun tak lama menyudahi teleponnya.


Jaya mengintip di pintu kamar Anton sambil berteriak,"Wooiii siang...terlambat kita bro!!!".


Anton sedang bersiap-siap ke puskemas, saat ini sedang memasang kaki palsunya. Jaya sedang menghangatkan motornya di halaman depan rumahnya.


Pembantu rumah tangga yang datang setiap pagi juga sudah hadir, dia sedang mulai mengambil cucian kotor.


Televisi menyala dan sedang menayangkan berita, tapi semua tidak ada yang perhatian karena sibuk masing-masing.


"Kasus penyelundupan minuman keras impor ilegal di kota Batam dan Palembang beberapa waktu lalu ternyata belum tuntas".


"Disinyalir ketua komplotan yang berinisial KJP alias KJF sekarang masih buron. Dan dari data terakhir juga dari pengakuan beberapa tersangka, KJP alias KJF itu berada di Jawa Barat namun belum bisa dipastikan berada di kota mana tepatnya".


"Dugaan sementara masih mengarah ke kota Cirebon, karena berdasarkan pengakuan salah satu saksi kunci utama bahwa yang bersangkutan berasal dari kota tersebut".


Anton tak peduli dengan berita televisi karena saat ini khawatir terlambat ke puskemas.


"Fajar...nanti siang gue mau ke Bandung yah, elu jangan kemana-mana, ada yang mau gue omongin sama elu," Serina Mustika menelepon Fajar dan akan meminta waktunya Fajar.


"Siap boss, awak tunggu pasti," jawab Fajar dengan semangat.


Benar saja menjelang sore hari Serina tiba di kediaman Wiharja, kebetulan pak Salim dan ibu Aryani sudah pulang ke rumah bukit.


Jadi sore itu Serina disambut oleh Fajar dan Anita, lalu mereka masuk ke rumah ruangan tengah.


"Fajar....tolong gue dong...sudah tak tahan lagi...gue ingin cerai,"kata Serina sambil bercucuran air mata dihadapan Anita dan Fajar.

__ADS_1


Sontak keduanya membelakakan matanya karena sangat terkejut sekali mendengar apa yang dikatakan Serina.


__ADS_2