
Malam itu hujan sangat lebat sekali, Mela menanti dijemput oleh Anton.
Tadi menjelang Mela ke kampus, Anton mengatakan akan menjemput tapi kemungkinan agak terlambat sedikit karena dia ada janji dulu dengan kawannya.
Sekarang sudah hampir 1 jam Mela menanti dan Anton juga tidak bisa dihubungi. Dia sudah mengirim pesan chat, namun hanya cek saja pertanda belum terkirim.
Sebenarnya Mela cukup kesal karena malam ini sudah kali ketiga Anton selalu terlambat menjemput.
Mela sekarang tidak ada perkuliahan lagi, hanya bolak balik kampus untuk bimbingan skripsi.
Urusan akademik dia sudah lulus semua tinggal menyelesaikan skripsi agar bisa langsung sidang.
" Nok durung dijemput tah?"kata bapak penjaga kampus.
(\= Mbak belum dijemputkah)
"Iya pak durung, amit kita melu ndodok ning kene ya," jawab Mela. (\=iya pak belum, maaf saya ikut duduk disini yah)
Pak penjagapun mempersilahkan Mela duduk di depan pos jaganya.
Lama-lama Melapun mengantuk dan dia tertidur sambil kepalanya bersandar ke talang air dipinggir kursi di depan pos jaga.
Tiba- tiba tubuhnya serasa diguncang dan diapun terbangun dihadapannya Anton berdiri dengan wajah tak suka.
"Kamu ngapain tidur disini, bikin malu saja,"kata Anton sambil tampak kesal.
Mela melirik jam tangannya dan sudah menunjukkan jam 10 malam.
"Aku dari tadi nunggu kamu disini,Yang, kamu lama sekali datangnya jadi aku ketiduran,"Mela mencoba menjelaskan.
"Engga usah pake tidur juga dong, kayak apa saja deh, "Anton menggerutu kesal kepada Mela.
"Emang kamu tadi beres jam berapa sih?".
"Jam delapan juga aku sudah beres kok, tadi hujan deras. Setelah reda kamu belum datang juga Yang," jawab Mela menjelaskan.
"Maaf aku kelelahan menunggumu jadi tertidur di depan pos jaga".
"Iya Say, lain kali jangan begitu yah. Malu-maluin saja perempuan ketiduran sembarangan gitu," kata Anton masih tidak terima melihat Mela tadi tidur.
Mela hanya diam sambil dalam hati harusnya juga dia yang marah karena Anton terlambat hampir dua jam lamanya.
Keduanya segera masuk mobil, di dalam mobil keduanya terdiam dan Anton melajukan kendaraannya.
Biasanya Anton menanyakan apakah Mela sudah makan atau belum, lalu mengajak makan atau sekedar jajan ringan.
Tapi belakangan ini saat sering terlambat menjemput, tak pernah lagi Anton bertanya apalagi mengajaknya makan.
Setibanya di paviliun dan mobil sudah terparkir, Mela menitipkan tas dan bukunya di teras depan paviliun.
Lalu dia pamit sebentar kepada Anton, dan otomatis Anton memanggilnya dan bertanya, " Astaga Mela kamu mau kemana sih, sudah malam begini".
"Aku mau ke warung kopi di ujung jalan sana, mau mencari mie instan siapa tahu masih ada," jawab Mela.
"Ya ampun mengapa dari tadi diam saja, padahal tadi di dekat kota masih ada mini market yang buka".
"Yang, dari tadi kamu ngebut dan diam saja seakan marah padaku, mana berani aku memintamu berhenti,"bantah Mela membela dirinya.
"Jadi kamu belum makan, sudah jangan beli mie instan. Aku ada roti, sini masuklah makan roti saja di dalam".
Melapun menurut dan mengikuti Anton ke dalam paviliun. Lalu Anton mengambilkan roti keju untuk Mela.
Sesungguhnya Mela tidak suka roti keju, tapi daripada Anton semakin marah diapun dengan segala upaya mencoba mengunyah dan menelan roti itu.
Anton lalu duduk di hadapan Mela, sambil menatapnya dia berkata," Say, kamu sudah jadi kebiasaan buruk makan disaat menjelang tengah malam seperti ini. Suatu hari nanti kamu akan melar, gemuk membesar. Apalagi setelah punya anak, kamu nanti bisa jadi bulat seperti bola".
Mela hanya menatap Anton, ingin rasanya dia menangis kesal. Tak biasanya Anton tiba-tiba mengatakan hal seperti ini dengan serius.
Mela menatap Anton dengan berusaha tenang, dan dia berkata, "Kalau aku memasak di dapurmu apakah boleh? Nanti aku pindahkan komporku kemari, dan aku juga bisa menyimpan bahan makanan di lemari es mu".
"Aku bisa masak dulu sore hari, dan makan sebelum ke kampus agar malam tidak kelaparan".
"Silahkan saja, aku tidak keberatan. Mengapa bukan dari kemarin-kemarin kamu berpikiran seperti ini. Sudah besok pindahkan saja kemari, kamu boleh masak dan sesekali aku juga bisa makan. Kalau tidak ada uang untuk belanja nanti bilang saja ke aku".
Mela terdiam, dia merasa ada yang berbeda dengan gaya bicara dan juga perlakuan Anton kepada dirinya.
Namun dia berpikir lagi setidaknya dia hanya orang rendahan yang tiba-tiba menjadi kekasih seorang dokter.
Seperti apapun fisiknya tetap saja dia adalah dokter, jauh berbeda dengan dirinya.
Lalu dia pamit ke kamarnya, saat hendak keluar paviliun terdengar telepon genggamnya Anton berbunyi, dan saat menutup pintu dia mendengar sayup-sayup Anton menjawab telepon dengan begitu bahagia sekali.
Mela kesal sekali malam ini, namun pantang menangis apalagi menangis karena perlakuan pria.
Justru sebagai seorang wanita harus dapat menunjukkan kalau wanita bukan kaum lemah.
Setelah Sholat subuh Mela mendapat Chat dari Anton kalau dia sakit perut melilit dan buang-buang air.
Sesuai kesepakatan kemarin maka paginya Mela segera memindahkan kompor gasnya ke dapur Anton.
Dia membuatkan bubur dan juga dia menyiapkan telur asin untuk dimakan nanti bersama bubur. Konon telur asin cukup efektif untuk mengurangi buang-buang air.
Anton juga meminta bantuan kepada Mela menggosokkan punggungnya dengan minyak kayu putih.
Puskesmas juga sudah diberi kabar bahwa Anton ijin karena sakit.
"Sebenarnya semalam makan apa sih kamu, Yang?"tanya Mela sambil mulai menggosokkan kayu putih ke punggung Anton.
" Hanya makan sup tom yam di traktir oleh teman orang PT. GOLDEN,"Jawab Anton.
Tak lama dia mengeluh mulas lagi lalu kembali lagi ke kamar mandi.
Mela lanjut ke dapur menyelesaikan masak bubur nya.
Saat sedang memasak bubur telepon genggamnya Anton berdering terus, sementara Anton ada di kamar mandi.
Mela tidak berani mengangkat karena tidak ada permintaan dari Anton.
__ADS_1
Antonpun dari kamar mandi berteriak," SAY!!! MELA !!! TOLONG ANGKAT DULU, BILANG NANTI AKU CALL BACK".
"IYA!!".
Lalu Mela mendekati telepon genggam milik Anton, dan tertera disana nama PT. GOLDEN.
Mela mengangkat dan belum sempat bicara, dari seberang sana terdengar suara wanita bicara ," Beib.. selamat pagi.. hari ini aku akan berkunjung ke puskesmas yah".
Deg.... Mela terkejut karena ternyata PT. GOLDEN itu wanita dan memanggil Anton dengan mesra seperti itu, Mela menarik nafas untuk tetap tenang.
" Maaf bu, dokter Anton sedang ada di kamar mandi, tadi beliau bilang tolong sampaikan kepada penelepon nanti akan di telepon balik".
"Oh gitu, eh ini siapa yah?"tanya wanita disana.
" Saya pembantunya bu,"jawab Mela.
"Ok mba jangan lupa yah bilang nanti sama dokter harus hubungi saya yah penting. Makasih".
" Sama-sama bu".
Mela berusaha berpikiran positif jangan sampai menjatuhkan tuduhan buruk terhadap seseorang tanpa bukti yang jelas.
Tak lama Anton keluar kamar mandi, lalu duduk di kursi makan dan di meja sudah ada bubur hangat dan telur asin yang sudah dibelah.
Lalu disampingnya ada gelas berisi air putih dan obat untuk sakit perut.
"Say, siapa tadi yang telepon?"tanya Anton sambil menyuapkan bubur kedalam mulutnya.
"Orang PT. GOLDEN," jawab Mela acuh tak acuh.
Anton diam, hatinya mulai gemuruh tak tenang.
Lalu dia bertanya lagi dengan nada lebih pelan,"Bilang apa orang tadi?".
Mela menghela nafas lalu dengan santai berkata," Dia bilang beib nanti aku berkunjung ke puskesmas yah".
Sambil berlalu Mela berkata lagi," Beib nanti mangkuk dan gelas kotor simpan saja di bak cuci piring tidak usah kau cuci yah Beib".
Diapun berlalu tanpa menoleh lagi pada Anton.
Setelah Mela berlalu, Anton hanya bisa diam, merasakan sakit perut, juga merasakan rasa salah dan tidak enak hati.
Selesai makan Antonpu menyimpan mangkuk dan gelasnya di bak cuci piring. Biasanya memang Mela yang selalu membersihkan segalanya.
Tapi karena ada rasa salah, Anton nekad mencuci piring walaupun tahu resikonya fatal buat dia.
Benar saja tak sampai 15 menit tangannya langsung mulai terasa gatal, panas dan memerah. Memang Anton kulitnya alergi terhadap sabun pencuci piring maupun deterjen karena ada salah satu unsur kimia pengawet yang tidak cocok dengan kulitnya.
Bahkan mandipun sesungguhnya dia memakai sabun bayi.
Dia memeriksa tasnya, ternyata salep gatalnya habis. Disaat begini siapa lagi yang bisa untuk dimintai tolong selain kekasihnya. Dia pun dengan susah payah menelepon Mela.
"Say..tolong aku dong sini. Aku sangat kesakitan," Anton dengan memelas.
Sebenarnya Anton memang cocok dengan Mela. Walaupun dokter tapi dia anak bungsu, jadi dalam saat-saat tertentu diusia berapapun pasti akan muncul sifat manjanya.
Sementara Mela adalah anak sulung, sembilan puluh sembilan persen anak sulung pasti lebih kuat, tegar dan sabar orangnya.
Lalu Anton menceritakan penyebab kedua telapak tangannya kesakitan. Melapun kesal mendengarnya, lalu dia minta tolong Japri untuk ke apotik membeli obat salep sesuai petunjuk Anton.
Sambil menunggu Japri membeli obat, Mela mengambil es batu dan dia mulai kompres tangan Anton dengan es batu untuk sementara mengurangi gatal dan panasnya.
"Yang, ngapain juga kamu cuci piring. Kan tadi aku bilang nanti biar aku yang bereskan".
" Iya Say, aku tadi merasa tidak enak hati saja sama kamu. Selalu mengurus keperluanku tadinya aku ingin bantu meringankan pekerjaanmu saja".
"Engga harus juga kayak gitu, Yang, itu kan pekerjaan mudah kok buat aku. Nah sekarang efeknya panjang di kamu kan."
"Iya Say maafkan yah aku bodoh nih".
Mela hanya diam sambil wajahnya di tekuk dan mengerucutkan bibir.
"Yang, sekarang perutmu gimana masih mulas tidak?"tanya Mela sambil masih mengompres tangan Anton.
"Sudah mendingan Say, cuma sekarang ini tangan aku yang tak kuat gatal sekali dan panas".
Tak lama Japri datang membawa salep yang dimaksud, lalu Mela menhambil tissue untuk mengeringkan tangan Anton mulai mengoleskan dengan lembut ketangan Anton.
"Kalau sudah begini aku pasti tidak bisa pegang apa-apa, harus tunggu gatal dan panasnya reda. Bisa seharian kalau begini tuh," Anton kesal juga dengan dirinya.
"Ya sudah lain kali tidak usah sok baik sama aku, mencuci piring segala. Biasanya juga aku melakukan apapun untukmu, Yang. Pembantu spesial loh aku ini".
"Aku tidak pernah loh menganggapmu pembantu, mengapa kamu bilang begitu sih Say?" tanya Anton sambil mendelik.
"Emangnya ada apa dengan pembantu, ada yang salahkah?"tanya Mela sambil mendelik manja.
"Kesannya itu Say, nanti anggapan orang sepertinya aku memperlakukan kamu seperti itu," Anton membela diri.
"Nah sekarang ada istilah di kampus Pembantu Dekan atau di kesehatan Puskesmas Pembantu, lalu ada juga istilah kantor cabang pembantu, apakah itu buruk ?" Mela bertanya balik sambil nyengir menggoda Anton.
"Hmmm....terserah aja deh," jawab Anton sambil sebal.
Tiba-tiba telepon genggamnya Anton berbunyi lagi dan muncul lagi nama yang sama PT. GOLDEN.
" Kok engga diangkat?"tanya Mela menelisik.
"Biarkan sajalah tidak penting," jawab Anton sambil wajahnya agak berubah.
Melihat itu Mela tambah penasaran.
"Itu pacarmu juga kah?" Mela bertanya
santai tapi menusuk hati.
"Kamu tuh ada-ada saja deh Say, masa aku pacaran lagi," Anton ngotot.
"Kalau bukan pacar yah angkat dong".
__ADS_1
"Tak bisalah kan tanganku sedang diobati," ngeles lagi deh Anton ini.
"Aku bantu angkat yah tapi speaker diaktifkan, Ok?" Mela sambil menatap tajam ke arahnya.
Anton diam sejenak, lalu dengan wajah ragu-ragu dia berkata,"OK".
Mela segera meraih telepon genggam lalu tombol jawab dia tekan sambil mengaktifkan speaker lalu benda itu dia arahkan kepada Anton.
"Beib..Kok lama amat sih angkatnya
...iiihh... Kamu tuh yah tadi aku sudah bilang sama pembantumu agar telepon aku, dia sampaikan tidak sama kamu beib...," terdengar suara wanita manja dari seberang sana langsung nyerocos saat telepon dijawab.
"Iya tapi mohon maaf saya tadi belum sempat menghubungi ibu," jawab Anton agak pelan terbata-bata.
"Kenapa sih beib, sibuk yah... honey....," terdengar lagi nada manja yang mulai menjijikan.
"Eemm..saya sedang tidak enak badan, jadi hari ini juga tidak bekerja, "jawab Anton lagi sambil menatap Mela yang terlihat santai mendengar percakapan mereka.
"Oh..why beib? Semalam kamu sehat - sehat saja, kok sakit sih... sakit apa sih beib?".
"Saya sakit perut bu, buang-buang air".
"Aaahhh....so poor you honey, pasti karena semalam sup tom yam nya terlalu pedas yah.. aku nengokin yah, boleh kan...,"tanya wanita di seberang yang nada bicaranya semakin sok manja.
Mela membelalakan matanya tapi tidak menatap Anton sambil bibirnya ditutup dengan tangan kirinya.
"Oh jangan deh saya mau istirahat... sudah membaik kok sekarang juga," Anton mulai keluar keringat dingin.
"Oh begitu.. ya sudah aku tunda deh kunjungan ke puskesmas.. cepat sembuh yah beib".
"Baik bu, terima kasih...".
" Kebiasaan deh suka panggil ibu tuh.. awas yah kalau ketemu aku cium ..," wanita ditelepon pura - pura protes manja.
Dan yang berhadapan dengan Anton sekarang melotot tajam ke arahnya.
"Ya sudah bu, terima kasih".
Dan teleponpun diakhiri.
Mela meletakan telepon genggam Anton disamping bantalnya.
Lalu dia bergerak berdiri.
"Kamu mau kemana Say?" tanya Anton yang sekarang terlihat wajahnya resah.
Mela tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Anton ," Aku kerja dulu yah beib, nanti siang aku kemari lagi... jangan nakal yah beib".
Lalu sebelum keluar kamar dicubitnya cuping hidung Anton dan dia berlalu sambil berjalan bak peragawati.
Siangnya Mela kembali ke paviliun dan Anton tampak sudah semakin membaik kondisi perutnya.
Telapak tangannyapun memang masih gatal tapi tidak separah sebelumnya.
Karena kompor sudah di dapur paviliun dan tadi pagi juga sudah belanja, maka siang ini Mela membuatkan sup ayam untuk Anton.
Mela cekatan soal memasak karena memang dari kecil juga sudah terbiasa membantu ibunya di dapur.
Tak lama sup ayam matang, baunya harum menggoda, Mela meletakan semangkuk sup ayam panas beserta nasi hangat di atas meja. Lalu di samping kiri piring ada air mineral dan obat untuk sakit perut untuk Anton.
Mela menemani Anton makan siang, dia tidak bertanya tentang penelepon tadi pagi.
Hanya Anton yang tidak enak hati, mulai bercerita sambil makan menjelaskan bahwa penelepon bernama Miranti dan seorang manager dari PT. GOLDEN.
Dan Anton menjelaskan bahwa mungkin gaya marketing Miranti seperti itu untuk menarik nasabahnya.
Mela mendongak dan berkata dengan nada setengah menyindir " Berarti banyak sekali dokter pria yang dicium ibu Miranti itu yah ..".
Anton hanya diam sambil menggedikan bahunya, dalam hatinya ada rasa sesal karena terpancing godaan Miranti.
Namun Anton salut atas sikap Mela, dia tidak seperti kebanyakan wanita yang pasti akan langsung marah memaki dan mencak-mencak apabila terendus pasangannya tergoda wanita lain.
Mela juga menunjukkan rasa cemburu tapi dia tidak marah membabi buta, dia hanya memperlihatkan tidak suka dengan menyindir halus namun tajam mengiris hati yang mendengar.
Malamnya Mela tidak ke kampus, dia mengerjakan koreksi bab dari dosennya sambil skripsinya maju ke bab berikut.
Anton memang terlihat manja, dia minta Mela mengerjakan skripsinya sambil menemaninya di paviliun.
Alasannya karena sakit nanti kalau dia membutuhkan Mela akan kesulitan memanggilnya.
Telepon genggam Anton disimpan di kamarnya, dan sudah diubah ke nada getar namun getarannya pasti akan terdengar juga.
"Yang... kenapa telepon tidak diangkat, dari tadi bunyi bergetar terus loh," kata Mela sambil matanya menatap laptop di hadapannya.
"Biarkan saja, sudah malam begini, paling Jaya yang telepon, "jawab Anton sambil menyelonjorkan kakinya di kursi tamu.
"Siapa tahu tukang sup tom yam nanyain kamu loh , Yang," ujar Mela sambil tetap memandang laptopnya.
Anton hanya diam saja sambil terpejam matanya. Dalam hatinya menggerundel sebal dari siang tadi terus menerus di sindir halus oleh Mela.
Setelah kejadian itu Anton sama sekali tidak menghubungi atau mengangkat telepon dari Miranti.
Tentunya membuat Miranti penasaran, dia memang tidak mencintai Anton tapi dia hanya senang menggoda lelaki saja.
Miranti punya sedikit kelainan, dia bila bertemu pria yang tampak lugu pasti akan dikejar dan digodanya.
Dia tidak mengejar harta lelaki karena dia juga punya karir yang bagus. Tapi dia mencari kepuasan saja, apalagi kalau sampai keluarga lelaki itu sampai hancur karena dia, maka dia semakin bahagia dan lalu ditinggalkannya lelaki itu.
Dia juga tidak mau menikah baik-baik, tapi dia bersedia diajak atau bahkan mengajak lelaki yang sedang digodanya untuk berhubungan intim.
Baginya pernikahan hanya kekangan, dia ingin bebas berkencan bahkan menggoda para lelaki. Tapi dia juga anti lelaki hidung belang, dia yang aktif mencari lelaki baik- baik yang polos dan lugu.
Anton dimatanya adalah salah satu lelaki yang tergolong lugu, jadi dia semangat sekali mendekati dan menggoda Anton.
Anton juga bukan tipe lelaki yang aktif dan agresif kepada wanita, dulu saat bersama Trianapun karena teman kampusnya yang menjodohkan.
Begitu juga dia pernah dijodohkan dengan Pertiwi oleh Anita kakaknya, namun hubungan mereka kandas sebelum terjalin.
__ADS_1
Sekarang dengan Mela pun sama saja, dia tidak memutuskan sendiri tapi seluruh keluarganya mendukung.
Dan bagi Anton itu bukan masalah, selama wanita itu bisa menerima dia dan mencintainya dengan tulus maka diapun akan selalu mencintai wanita tersebut.