Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Bonus Menjelang


__ADS_3

Maret 2020 terlewati sudah, dimana merupakan bulan yang sangat berat untuk dilalui oleh Anton.


Selain dia harus jauh dari keluarga, merawat begitu banyak orang sakit tertular virus, bahkan sampai harus merasakan sendiri terkena tertular virus mematikan itu.


Untung dia selalu hidup sehat selama ini dan selalu berpikir positif, maka dia cepat sembuh dari penyakit akibat virus tersebut.


Tapi Anton lupa kalau akhir Maret adalah hari ulang tahun istrinya, sama sekali dia tidak ingat dan jangankan itu hari juga tanggal yang tengah dilaluipun dia tak tahu menahu.


Yang pasti saat ini dia sudah sembuh seperti sedia kala dan kembali merawat begitu banyak orang yang tertular virus.


Mela sendiri selama hampir tiga tahun menikah selama ini selalu bahagia, suaminya selalu tak pernah lupa kalau dia ulang tahun.


Selalu ada kejutan kecil kalau saat dia ulang tahun, bahkan tahun lalu merupakan kejutan paling indah.


Seharian suaminya tak menyapa dirinya, bahkan pergi bekerjapun terburu - buru hanya mencium Gibran lalu segera berangkat.


Namun siang harinya Mela terkejut saat menerima kiriman karangan bunga segar yang sangat indah.


Dan dia begitu terharu saat membaca pesan yang ada di amplop kecil yang tergantung di salah satu tangkai bunganya.


"Selamat ulang tahun istriku sayang, terima kasih untuk cinta yang selalu kau berikan untukku. Aku tak punya apa-apa, hanya cinta ini tak akan pernah layu kepadamu".


Amplop itu dia simpan, dan tak akan pernah dia buang karena itu adalah ungkapan cinta dari suaminya untuk dirinya.


Bukan itu saja, saat dia merapihkan tempat tidur tiba-tiba ada kotak kecil terjatuh dari balik bantal.


Mela meraihnya dan membukanya, ada seuntai gelang tangan yang lucu dengan hiasan hati dan sepasang kupu-kupu terbuat dari emas.


"Kita adalah sepasang kupu-kupu yang mempunyai sepasang hati dalam lingkaran kasih yang tak akan berkesudahan".


Gelang itu tak pernah lepas dari pergelangan tangannya, selalu dikenakan sebagai hadiah dari suami tercintanya.


Tahun ini wajar suaminya tak ingat ulang tahunnya, karena di luar sana banyak orang tak berdaya yang harus di rawat oleh tangan suami tercintanya.


Hanya seuntai doa yang selalu dikirimkan untuk keselamatan dan kesehatan suaminya, dengan harapan agar wabah segera berlalu dan suaminya bisa kembali ke rumah.


April 2020 datang menjelang, bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan yang ditunggu oleh setiap umat muslim sedunia.


Sejak kenal suaminya dulu, Mela selalu melayani dan menyediakan Anton makanan untuk sahur dan buka puasa.


Sewaktu Anton masih tinggal di paviliun rumah Haji Darma, saat itu belum ada kata cinta terucap tapi Anton sudah terkesan melihat Mela selalu menyediakan sahur dan buka puasa untuk dirinya.


Setiap jam tiga pagi mengetuk pintu Paviliun, lalu menyerahkan sup hangat dan nasi hangat. Begitu juga sore hari menjelang maghrib ketika Anton kembali dari bekerja, sudah tersedia hidangan di atas meja di ruang makan kecil yang tersedia di Paviliun.


Tahun ini Mela menjalani puasa di rumah, dan Ibu Sinah sejak sebelum puasa sudah tinggal di rumah Mela.


Sebenarnya Mela tak enak hati selama ini, sebab baik Eti maupun Ibunya hanya tidur beralaskan kasur tipis atau biasa disebut kasur palembang.


Selain belum ada cukup uang untuk membeli kasur yang layak, juga sekarang tidak ada kesempatan membeli karena terputus oleh wabah sehingga untuk sementara tidak ada toko yang buka.


"Tak apa Mela, tetap nyaman kok tidur di kasur seperti itu. Malah Mimi kan biasanya tidur di lantai beralaskan tikar saja karena gerah," ujar Ibu Sinah ketika Mela meminta maaf karena hanya bisa kasur seperti itu yang tersedia.


"Ibu sepuh, bagaimana kalau tidurnya bersama Eti saja yuk. Kamar Eti kan di belakang, enak loh lebih banyak angin di sana sih," ajak Eti kepada Ibu Sinah.


"Ah masa sih, iya aku mau deh. Lebih baik di belakang yah, soalnya serba salah kalau tidur di kamar Mela pakai AC malah jadi kedinginan. Di kamar dalam pakai kipas angin malah sakit perut," ujar Ibu Sinah sambil mengusap perutnya yang merasa kembung.


Akhirnya Ibu Sinah ikut tidur di kamar Eti, lumayan dingin karena kamarnya ada di atas tapi di luar bangunan utama, tepatnya di sebelah tempat cuci pakaian dan jemuran.


Kamarnya memakai kaca nako dan dibaliknya diselimuti kawat nyamuk, jadi walau kaca terbuka tidak ada nyamuk masuk malah adanya hawa segar sehingga yang tidak nyaman dengan AC atau kipas angin pasti akan senang di kamar ini.


"Gibran saja kalau tidur siang di kamar ini, saya yang jaga sambil menyetrika pakaian. Ibu Mela kalau siang kan urusan bisnis di ponsel. Ada saja yang pesan kosmetik atau vitamin," kata Eti bercerita kepada Ibu Sinah.


"Ya itulah untung masih ada pekerjaan, apotik tutup lalu suaminya jauh tapi masih ada sedikit kegiatan. Sampai kapan wabah berakhir belum ada yang tahu,"ujar Ibu Sinah terlihat sedih kalau ingat Mela dan Gibran.


"Untung saja anak kedua saya Rahman masih bekerja jadi sekuriti, walau Banknya tutup karena cabang kecil tapi lumayan masih bertugas jaga malam untuk ATM dan kantor takut ada yang membobol," lanjutnya lagi menceritakan anak keduanya.


"Kalau yang bungsu yang bekerja di Bandung sering pulang tidak, bu?"tanya Eti.


"Sewaktu belum terjadi wabah juga jarang pulang apalagi sekarang, tapi dia kan sambil kuliah di sana. Koko Fajar itu yang membimbing dia, tadinya mau mundur kuliah tapi terus dinasehati dan disemangati oleh Koko Fajar,"sahut Ibu Sinah.


"Alhamdulillah yah bu, keluarga Ibu dan keluarga dokter Anton itu semuanya baik. Orang suami dan anak saya juga hampir setiap hari mendapat lauk dari sini, bahkan kemarin Ibu sepuh kirim beras untuk di rumah sini dan juga untuk ke rumah saya. Saya malu bu, tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan keluarga di sini," kata Eti sambil berkaca-kaca.


"Ya sudah, kenapa jadi nangis segala. Suka lebai kamu tuh, sudah kerja yang benar. Jaga anak dan cucu saya selagi suaminya jauh, saya kan habis Idul Fitri akan kembali lagi ke kampung," ujar Ibu Sinah sambil mendelik.


"Eh iya...maaf Ibu Sepuh, Eti suka lebai yah...eh...


lebai...tapi kan gemes yah bu...eh iya...gemes...," sahut Eti sambil bergaya manja.


"Gemes dari Hongkong, sudah tidur...nanti sahur kesiangan deh".


"Iya Ibu Sepuh, mari kita sliping selonjor*...hihihi".


(*mungkin maksudnya sleeping sambil selonjoran)


Ibu Sinah langsung berbaring sambil memunggungi Eti yang cekikikan sendirian sehabis menggoda neneknya Gibran itu.


Sementara Mela di kamarnya sedang menelepon suaminya, anaknya sudah tidur lelap setelah diberi ASI tadi.


"Pipi besok puasa tidak?"tanya Mela sambil membelai kepala anaknya.


"Sepertinya tahun ini aku tidak bisa puasa Mi, kemarin habis kena virus lalu sekarang sudah harus bertugas lagi dan pasien yang sakit juga tidak berkurang malah semakin banyak," jawab Anton menceritakan kondisinya saat ini.


"Iya Pi, tidak apa-apa sayang. Yang penting Pipi harus sehat jangan sampai kena lagi virus yah. Kami di sini hanya bisa bantu doa untuk Pipi di sana".


"Iya sayang, Mi juga harus sehat yah, Gibran jangan main keluar apalagi bertemu orang lain, jangan dulu yah".


"Iya Pi, Gibran paling main sampai batas halaman depan lalu masuk rumah, naik ke atas. Sekarang lumayan ada nenek baru tadi datang".


"Oh ya, tadi nenek disemprot desinfektan tidak?".


"Sudah aku lakukan semuanya Pi, sesuai standar protokol kesehatan yang berlaku. Dan nenek juga tidak marah kok waktu tadi disemprot ... hahaha... malah nenek lebih cerewet kemana saja bawa hand sanitizer dan Gibran pegang apa saja langsung semprot...hahahah," Mela menceritakan bagaimana ibunya menjalankan protokol kesehatan jauh lebih tertib daripada dirinya.


"Bagus dong, untung saja Mumu ada di Bandung yah. Kalau sempat kumpul di rumah kita dua nenek itu pasti kamu pusing deh. Tak terbayang olehku, pasti Mamah Aryani seperti apa menjaga kebersihannya... hehehe," ujar Anton sambil tertawa ingat Ibunya.


"Pi...memangnya tak tahu yah. Keiza dan Kaysan sekarang ada di rumah bukit. Untung ada keponakan bi Encum yang dirumahkan dari pabriknya jadi bekerja di rumah bukit sekalian bisa mengajarkan kedua anak itu sekolah jarak jauh...dan...ayo tebak apa yang terjadi?"kata Mela sambil tertawa kecil.


"Ada apa memangnya?".


"Apotik tutup, melayani penjualan obat bebas dan vitamin via telepon seperti di rumah kita. Karyawan apotik cuma ada adikku Wahyu, lainnya kan dirumahkan. Sekarang dong...hahaha..


Cici Anita telat lagi... hahaha...kemarin telepon kepadaku sudah telat sebulan,"Mela menceritakan keadaan keluarga Wiharja yang dia dapat dari Anita kemarin ini.


"Walah...pandemi malah nambah anak yah...Koko Fajar nakal juga yah... hahaha...".


Keduanya saling tertawa terbahak ditelepon karena mendengar cerita lucu seputar keluarga Wiharja di Bandung.


Sementara di rumah lain ada yang kebanjiran rejeki juga di saat wabah melanda.


Kebetulan memasuki bulan Suci Ramadhan, banyak orang yang takut ke pasar belanja bahan makanan.


Miranti kebagian orderan masakan siap saji untuk sahur dan buka puasa.


Setiap hari dia menerima banyak chat atau telepon dari tetangga sekitar maupun dari langganan kuenya selama ini.


Dan semuanya memesan lauk untuk teman sahur dan buka puasa. Jaya seorang suami yang baik dan menolong istrinya secara luar biasa.


Mengasuh anak bayinya, sementara Miranti sibuk memasak lauk pauk pesanan orang-orang yang butuh makanan tapi tidak berani keluar rumah.

__ADS_1


Doni tukang becak selalu siap sedia berbelanja dan mengirimkan bahan mentah berupa ikan, daging dan sayuran juga bumbu masak.


Dan Jaya siap sedia juga mengirimkan pesanan yang sudah matang ke rumah pemesan sesuai alamat yang di tempel di setiap bungkusan masakan tersebut.


Suatu siang di bulan puasa saat Miranti sedang santai sehabis membumbui daging yang nanti sore tinggal di masak, dia duduk santai bersama suami dan anak bayinya yang usianya sekitar lima bulan.


Ponsel Miranti berbunyi dan tercantum nama Handoko, mantan atasannya yang dulu telah membuat dirinya mengundurkan diri karena sakit hati atas ucapan orang itu.


"Miranti apa kabar? Semoga kamu sehat selalu yah," terdengar suara Handoko seakan membawa suara kedamaian.


"Alhamdulillah baik pak, semoga bapak sekeluarga juga diberi kesehatan di masa seperti ini,"jawab Miranti dengan nada damai juga.


"Tentu sehat dan kaya dong, perusahaan obat jaman wabah begini malah untung besar loh. Produksi vitamin meningkat karena semua orang pasti mengkonsumsi multi vitamin. Kamu mau gabung lagi atau tidak nih, mumpung saya lagi butuh orang loh," ujar Handoko lagi dengan nada riang, ringan dan damai.


"Syukur yah pak kalau perusahaan masih untung besar, setidaknya tidak ada karyawan yang dirumahkan atau diberhentikan kerja yah," sahut Miranti menanggapi perkataan Handoko.


"Tidak dong, Golden Farma masih kuat. Perusahaan obat terpercaya, masa sampai harus ada pengurangan karyawan. Semua aman dan sejahtera, makanya aku mau ajak kamu gabung lagi nih," ujar Handoko lagi.


"Terima kasih pak atas ajakannya, tapi saya tidak bisa sepertinya. Sekarang sudah punya suami dan anak bayi, jadi saya mau fokus saja urus keluarga".


"Miranti, aku paham kok. Suamimu itu cuma pegawai Puskemas dan setahu aku semua Puskemas saat ini sedang ditutup, pegawainya juga dirumahkan. Gaji suami kamu berapa sih, aku ini punya niat baik mau membantu loh".


"Aku mau ajak kamu gabung lagi, dari gaji terakhir kamu akan aku naikkan dua juta. Sebentar lagi idul fitri loh, kamu juga akan diberikan tunjangan hari raya secara penuh walaupun kamu baru gabung lagi. Bagaimana, mau kan menerima ajakan saya?" tanya Handoko sambil berharap Miranti menerima tawarannya.


Miranti diam sejenak sambil memandang suaminya yang sedang meminang dan menidurkan Solana anak bayi mereka.


Dia juga ingat bagaimana suaminya membantunya memasak, mengantarkan pesanan naik sepeda walau ada motor tapi sekalian olah raga katanya.


Lalu kalau malam Solana rewel selalu Jaya yang siaga mengganti popok dan menimang anaknya sampai tidur lagi setelah diberi susu.


"Miranti...ayo jawab dong".


"Maaf pak Handoko, saya tidak bisa gabung lagi dengan Golden Farmasi. Saya sudah bahagia dan nyaman dengan keluarga saat ini," jawab Miranti dengan tegas.


"Oh kurang rupanya uang tambahan yang aku tawarkan. Oke, aku tambah gajimu lima juta asal mau gabung lagi menjadi senior manager di tim yang aku pegang," kembali Handoko ngotot mengajak Miranti bergabung lagi di perusahaannya.


"Jujur pak saya butuh uang, semua orang butuh uang. Apalagi nilai yang bapak tawarkan itu sangat tinggi buat saya. Tapi pak maaf, ada kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang jutaan bahkan milyaran, dan saya saat ini sedang menikmati kebahagiaan tersebut pak. Jadi mohon maaf saya tidak bisa menerima tawarannya," jawab Miranti dengan tenang dan bijak.


"Baiklah kalau itu mau mu, percuma aku memaksa wanita bodoh seperti kamu yang menyia-nyiakan hidup hanya menjadi ibu rumah tangga dengan penghasilan suami pas-pasan...Suatu saat kamu akan merangkak menangis meminta untuk bergabung lagi bekerja denganku," kata Handoko yang hilang nada damainya berganti dengan genderang perang.


"Insyaallah tidak akan pak, karena saya dan suami selalu bersyukur dengan apa yang kami terima saat ini dan niscaya Allah akan selalu memberikan kecukupan," sahut Miranti lagi tetap dengan nada damai dan bijaknya.


Handoko menutup teleponnya tanpa berkata apapun lagi.


Setelah telepon terputus lalu Miranti beranjak mendekati suaminya yang sedang membaringkan Solana yang sudah tidur nyenyak.


Lalu dia memeluk suaminya sambil berkata,


"Aku cinta kamu mas Jaya".


Jaya paham apa yang baru saja terjadi kepada istrinya, dia tidak ingin membahasnya namun yang pasti dari lubuk hati yang terdalam dia bangga karena istrinya bisa memilih jalan bijak demi kebahagiaan rumah tangganya.


Anita sedang muntah-muntah di wastafel kamar mandinya, dia sedang hamil lagi anak ketiganya.


"Ayah, kamu jahat sekali. Muntah-muntah begini itu sudah lima tahun lalu dan sekarang harus aku alami lagi," kata Anita sambil menyeka mulutnya dengan air.


"Sayang, ini rejeki dari Allah bukan karena aku juga. Kalau memang Allah berkehendak maka akan terjadi, banyak orang ingin punya anak tapi sulit mendapatkannya dan kita malah diberikan kepercayaan lebih," sahut Fajar sambil mengusap punggung istrinya.


"Aku sudah umur tiga puluh delapan tahun, malu aku hamil lagi. Untung sedang wabah jadi tidak keluar rumah, coba kalau tidak wabah pasti aku malu sudah tua hamil lagi," kata Anita sambil terlihat kesal kepada suaminya.


"Astagfirullah, bunda tidak boleh begitu. Istri Nabi Ibrahim juga umur berapa ketika melahirkan, jangan tidak percaya kalau yang saat ini terjadi adalah kehendak Allah," kata Fajar sambil memeluk istrinya.


"Aku malu tahu, nanti dikira orang doyan sih jadi hamil lagi," ujar Anita sambil mencubit dada suaminya.


"Ya pasti doyan dong, masa sama istri tidak doyan. Masa aku harus doyan sama yang lain,"goda Fajar kepada istrinya.


Fajar tertawa dan memeluk istri tercintanya, dia bahagia sekali karena akan segera memiliki anak ketiga.


Selama bulan Ramadhan, Mela bertiga dengan ibunya dan Eti melaksanakan sholat tarawih hanya di rumah saja. Mereka bergantian kalau Gibran belum tidur, dan kalau Gibran sudah tidur bisa melaksanakan berjamaah bertiga.


Mela tak putus mengaji setiap selesai sholat, berharap suaminya yang berada nun jauh disana diberikan kesehatan dan bisa segera kembali ke rumah berkumpul bersama keluarganya.


Untuk Gibran tentu saja doa terbaik agar kelak anaknya menjadi anak yang berhasil, sukses dalam segala hal kelak.


Untuk sekarang tentunya minta selalu diberikan kesehatan agar anak lelakinya jauh dari penyakit apapun.


Beruntung Bidan Ayu yang bertugas di Puskesmas selalu siaga, dia rela berkeliling naik motor ke rumah-rumah untuk menyuntik imunisasi bagi bayi yang dibantu kelahirannya oleh dia.


Gibran salah satunya, walau hanya bertemu di pagar rumah, lalu jos...., Gibran disuntik, setelah itu beliau pergi lagi mengunjungi balita lainnya yang ada dalam catatannya.


Dan Gibran seperti tahu saja kalau sebulan sekali tiba-tiba digendong di halaman rumah, lalu tak lama ada ibu-ibu naik motor datang. Pasti dia menangis duluan karena paham pasti pahanya akan menjadi sasaran suntikan.


Anton tak bisa puasa, tapi setiap sholat dia selalu berdoa dan berdzikir meminta jalan terbaik agar wabah ini segera berlalu.


Pasien terjangkit virus terbagi dalam beberapa tahap, sehingga ditempatkan di ruangan berbeda.


Pasien yang kritis, pasien yang mulai membaik dan pasien yang masa pemulihan untuk menuju sembuh dan boleh pulang.


Anton menangani pasien yang mulai membaik dan pasien yang masa pemulihan.


Karakter penyakit ini adalah segera dan kritis, banyak orang tidak menyadari terkena sakit ini.


Orang tanpa gejala, tiba-tiba pingsan lalu kritis, dan itu jumlahnya meningkat setiap harinya.


Yang meninggal dunia karena sakit ini juga sudah sangat banyak sekali, dan mirisnya jenazah tidak boleh dibawa pulang ke rumah dan dikebumikan dengan cara yang khusus agar virusnya tidak menyebar.


Setiap harinya Anton berkutat memeriksa kondisi pasien yang jumlahnya ratusan orang banyaknya, walau dalam satu tim ada beberapa dokter tapi memeriksa kondisi pasien tidak bisa hanya sekali saja dalam sehari.


Rutin berkeliling sejak pagi hari sampai siang, beristirahat satu jam bergantian, lalu lanjut berkeliling lagi memeriksa kondisi pasien.


Karena pasien yang tampak mulai membaik, bisa saja sewaktu-waktu jadi kritis lagi, karena faktor usia atau karena ada penyakit bawaan pada tubuhnya sehingga terjadi komplikasi antara virus dengan penyakit lamanya.


Mengingat hal itu, maka pemeriksaan harus lebih teliti dan teratur agar apabila terjadi perubahan kondisi dapat segera ditangani.


Pasien yang mulai stabil segera dipindahkan ke ruangan pemulihan, jumlahnya tidak banyak dibandingkan yang masih kritis.


Senang hati dokter dan perawat kalau ada pasien yang sembuh dan bisa segera pulang.


Dan betapa sedih para tim medis kalau mendapati pasien tidak dapat bertahan, hingga harus meninggal dunia.


Semoga saja virus segera hilang dari muka bumi agar kita semua selamat, dan sekarang harus hidup sehat dan selalu menjaga kebersihan.


Himbauan pemerintah tentang perayaan Idul Fitri tahun 2020 adalah untuk tidak mudik atau pulang kampung.


Bersilaturahmi cukup dengan telepon atau melalui media sosial lainnya.


Para dokter dan perawat sudah tidak peduli akan masalah itu, melihat orang sakit begitu banyak saja sudah membuat mereka tidak bisa berpikir apapun lagi.


Sering terlihat perawat wanita yang menangis di sudut ruangan, karena merasa lelah tapi tak bisa lepas karena tugas yang diemban.


Anton mempergunakan waktu istirahatnya setelah sholat dan makan untuk menghubungi istrinya, dia ingin melihat perkembangan anaknya.


Walau dadanya terasa sesak dan serasa ingin meledak saat melihat tawa atau tangis anaknya.


Kadang saat menelepon anaknya sedang menangis karena ingin sesuatu yang dilarang ibunya, ingin rasanya berlari dan memberikan apa yang diinginkan anaknya.


Pernah juga merasa cemas karena Gibran panas setelah diimunisasi, sampai tidak bisa konsentrasi saat memeriksa pasien.

__ADS_1


Berkali-kali menghubungi Mela dan memberikan instruksi apa yang harus istrinya lakukan kalau anak sakit.


Syukur semuanya bisa cepat ditangani oleh Mela, sehingga Gibran tidak pernah lama kalau tidak enak badan.


Kalau tahu Gibran sakit selalu timbul rasa bersalah kepada anaknya, karena saat sakit tapi dia tak ada disisi anaknya menangani penyakitnya.


Tapi mau tak mau, dihadapan matanya banyak nyawa diujung tanduk, butuh banyak tangan tenaga medis untuk membantu menyelamatkan banyak nyawa tersebut.


Sebulan berlalu sudah bulan Ramadhan dijalani, besok hari menjelang Idul Fitri.


Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, semua orang pasti berburu pakaian atau barang-barang baru lainnya untuk digunakan di hari raya.


Tapi tahun ini semuanya tidak ada, semua pertokoan tutup bahkan mall atau supermarket besar juga semuanya tertutup rapat tak boleh dibuka sama sekali.


Pasar sayur mayur masih ada yang buka, tapi itupun hanya dua jam saja. Tapi keluarga Mela tidak berani kalau harus pergi ke pasar, karena pasti bertemu orang banyak yang tidak diketahui apakah terjangkit atau tidaknya.


Biasanya Mela memesan kebutuhan bahan makanan dari mas Joko yang masih mau berkeliling mengirim pesanan dari ibu-ibu perumahan.


Sehari sebelumnya mengirim pesan ke ponsel mas Joko, apa saja yang diminta untuk keesokan harinya, dan biasanya mas Joko berusaha mencari yang dipesan walau kadang sering juga tidak komplit karena kondisi pasar juga belum semuanya beroperasi.


Mela sudah kebutuhan dapur dan daun ketupat untuk persiapan memasak di hari raya nanti.


Ayam dua ekor yang besar, dikirim langsung oleh Rahman adiknya dari kampung atas pesanan ibunya.


Mereka semua akan memasak opor ayam dan nanti dibagikan juga untuk keluarganya Eti.


"Ibu, maafkan keluarga Eti merepotkan saja. Eti sungguh berterima kasih karena keluarga Ibu sudah memberikan begitu banyak untuk Eti," ujar Eti sambil sesenggukan karena terharu dengan kebaikan keluarga Anton dan Mela.


"Sama-sama mbak Eti, selama ini sudah menemani saya dan Gibran sampai tidak pulang ke rumah sendiri," sahut Mela ketika memberikan gaji dan uang hari raya untuk Eti.


"Bu, ijin pulang dulu yah, nanti dua hari lagi saya kembali kemari. Mau ketemu dulu sama anak dan suami sama mau nyekar ke makam orang tua. Sekali lagi mohon maaf lahir batin yah bu Anton dan bu Sepuh," kata Eti meminta ijin kepada Mela dan Ibu Sinah.


Mela memberi ijin dan tidak menyuruh agar Eti segera kembali, karena Mela punya perasaan kalau asisten rumah tangga juga pasti ingin berkumpul sebentar dengan keluarganya walau wabah masih mendera.


Ibu Sinah dan Mela melakukan sholat Ied berbarengan dengan tayangan langsung dari Masjid Agung yang ditayangkan oleh beberapa televisi swasta.


Setelah itu Mela memohon maaf lahir batin kepada Ibunya kalau ada salah selama ini, dan Gibran kecil juga melihat Mela bersimpuh di kaki Ibu Sinah maka dia juga tak mau kalah ikut-ikutan meniru ibunya.


Yang melihat semakin gemas kepada anak sehat ini, dan dia bahagia saat mendapat amplop berwarna biru bergambar tokoh kartun dari neneknya.


"Mamah, Papah, maaf lahir batin yah, Mela ada salah selama ini. Mohon maaf juga tidak bisa ke Bandung menemui Mamah dan Papah karena suasana masih seperti ini," kata Mela dengan berurai air mata ketika meminta maaf kepada kedua mertuanya.


"Sama-sama Mela, maafkan juga Mamah dan Papah yah. Aduh kasihan Gibran, tidak merasakan enaknya opor buatan Mumu," ujar Ibu Aryani melalui ponsel sambil melihat Gibran.


"Bu Ar, mohon maaf juga yah. Siapa tahu saya ada salah kata selama ini, tapi maaf yah bu tadi Gibran sudah makan opor ayam juga kok buatan nenek," tiba-tiba Ibu Sinah menyela ketika Mela dan mertuanya sedang bicara.


"Oh iya Bu Sinah, sama-sama mohon maaf yah. Aduh Gibran sudah makan opor yah sayangnya Mumu .... hmmm..


opor ayam buatan Mumu pasti lebih enak. Sayang sekali yah kamu tidak mencicipinya cucuku sayang," sahut Ibu Aryani sambil Gibran yang sedang melambaikan tangan kepadanya.


"Opor sih sama saja yah sayang...buatan nenek juga enak yah...tadi Iban nambah kan makannya," kembali Ibu Sinah tak mau kalah sambil mencium kepala cucunya.


Sementara Gibran sendiri tidak paham apa yang sedang dibahas oleh kedua neneknya ini, dia sibuk membolak balik amplop berwarna biru.


"Oh iya, nanti Mamah kirim amplop yah pakai pos khusus untuk Gibran," kata Ibu Aryani saat melihat cucunya sedang memegang amplop.


Mela segera melirik ibunya yang terlihat ingin memberi komentar lagi kepada mertuanya, dia jadi pusing dan segera mengambil langkah.


"Mamah, mohon pamit yah sekarang mau menelepon cici Anita", kata Mela dengan senyum santun dan Ibu Aryani juga menyetujuinya.


Kalau tidak disudahi pasti kedua nenek itu bisa sampai pagi saling bersaing tak mau saling mengalah.


Mela juga menelepon suaminya karena sejak tadi baru bisa terhubung dan Anton juga memohon maaf kepada Ibu Sinah karena tahun ini sama sekali tak bisa bertemu.


Hampir semua dokter dan perawat yang merayakan Idul Fitri merasa sedih sekali karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga.


Tapi mereka harus tetap bersemangat untuk bertugas menyelematkan banyak jiwa.


Luar biasa sekali menu makanan kotak hari itu adalah opor ayam dan ketupat.


Setidaknya sedikit mengobati rasa sedih karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga di hari raya ini.


Miranti dan Jaya tentu kebanjiran rejeki juga di hari raya, karena banyak sekali yang memesan rendang, opor ayam dan ketupat.


Selama ini Sumarni yang membantu di kedai juga selalu membantu Miranti memasak, dia pulang sore hari seperti biasa dan tentu saja Miranti memintanya mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker dan sering mencuci tangan.


Sejak semalam Sumarni menginap di rumah Jaya dan Miranti, pesanan banyak sekali sehingga hampir semalaman mereka tidak tidur karena mempersiapkan semua pesanan untuk diantar esok paginya oleh Jaya.


Dan benar saja esok pagi setelah Sholat subuh, Jaya sudah siap mengantarkan pesanan ke rumah orang yang sudah memesan masakan kepada istrinya.


Miranti sendiri memilih tidur sejenak dengan bayinya, dia merasa lelah luar biasa memasak dan menyiapkan pesanan sampai menjelang subuh tadi.


Sangat melelahkan tapi hatinya gembira dan puas karena pasti pemesan akan memakan hasil masakannya dengan senang hati.


Kebetulan memang saat itu Miranti sedang halangan jadi dia tidak Sholat Ied, sehingga Jaya melakukannya sendiri bersama tayangan televisi.


Walaupun menurut kabar dari mulut ke mulut sebenarnya sudah ada beberapa Masjid berani membuka untuk umum, tetapi di lingkungan tempat tinggal Jaya tak ada satupun yang berani melanggar seperti itu.


"Bapak, Ibu, mohon maaf lahir batin selama ini Jaya dan Miranti banyak salah dan dosa kepada orang tua. Maaf juga biasanya Jaya kumpul ke Solo, tahun ini tidak bisa sama sekali karena wabah penyakit," ucap Jaya melalui ponselnya kepada kedua orang tuanya.


"Sama-sama nak, Bapak dan Ibu juga mohon maaf lahir dan batin. Mana istrimu kok cuma kamu sendiri yang mengucapkan maaf," kata Ibunya Jaya seperti biasa selalu saja terkesan galak.


"Masih tidur, dia lagi halangan jadi tidak Sholat dan semalam memang tidak tidur karena banyak pesanan masakan untuk hari ini," Jaya menjelaskan kondisi istrinya kepada Ibunya.


"Dia masak semalaman, lantas cucuku bagaimana? Siapa yang urus cucuku?"Ibu Suwandi mulai berang.


"Solana sama Jaya dong Bu, Mama nya sibuk jadi Jaya yang pegang dia," sahut Jaya.


"Kalian jangan terlena cari uang, kasih tahu istri kamu. Kalau sampai cucuku terlantar nanti aku jemput bayi itu, biar Ibu yang urus. Sempat aku dengar bayi kalian sakit, aku kejar kesana lalu kuambil," ancam Ibu Suwandi kepada Jaya.


"Iya bu, nanti kalau Miranti sudah bangun akan Jaya minta untuk menghubungi ibu dan bapak," kata Jaya sambil senyum sementara ibunya tampak kesal karena takut cucunya tak terawat baik.


Siang harinya saat Miranti bangun, lalu memandikan Solana dan kemudian dia berdandan rapih.


Setelah menyusui bayi kecilnya lalu menelepon kedua mertuanya dan ternyata sama mendapat omelan panjang lebar dari Ibu Suwandi.


Mungkin karena nenek terlalu sayang kepada cucunya sehingga takut bayi kecil itu tak terawat benar oleh ayah dan ibunya.


Setelah ponsel ditutup, Jaya dan Miranti berpandangan sambil tertawa, keduanya mendapat rejeki omelan dari ibunda tercinta.


Di wisma olah raga Jakarta terlihat dokter Rossie tampak sedang mencari seseorang sambil ditangannya memegang secarik kertas.


Dia berjalan ke setiap ruangan meneliti setiap dokter dan perawat yang ada di sana, semua berbaju hazmat sehingga sulit mengenali satu per satu.


Sampai akhirnya menemukan juga seseorang yang dicarinya sejak tadi yaitu dokter Anton, teman yang paling bijak dan paling teladan dimata Rossie.


"Dokter, tanggal satu Juni nanti kita boleh pulang. Karena ada tim lain yang akan datang dan katanya ada istilah new normal, sehinga kita berdua diminta untuk kembali menjalankan Puskesmas," kata Rossie memperlihatkan surat keputusan yang ada di tangannya.


Tertera nama mereka berdua yang sudah bisa kembali ke kota masing-masing, tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat akan dipanggil kembali sewaktu-waktu.


Anton terduduk sambil menatap wajah Rossie dari balik masker hazmatnya.


"Serius ini? Kita bisa kembali ke kota kita. Tapi bagaimana dengan orang tuamu? Bukankah mereka ada di Jakarta?".


"Benar dokter Anton, kita bisa kembali ke kota kita. Dan kebetulan orang tuaku juga ada di sana, karena sejak awal wabah mereka segera menghindari kota besar," jawab Rossie dengan mantap.


Mereka bertatapan lalu keduanya berseru kencang sambil saling menempelkan kepalan tangan.

__ADS_1


"YES !!!!"


__ADS_2