
Anton dan Mela sedang saling adu mulut, terkait dengan proses urusan pembuatan paspor keberangkatan mereka keluar negeri.
Keduanya baru sadar karena mereka belum mengurus surat kepindahan kependudukan, apalagi kartu keluarga.
Masalah akhirnya jadi melebar kemana-mana, dari paspor jadi ke urusan penetapan akan tinggal dimana.
Mereka sebenernya belum ada kata sepakat akan tinggal di kota mana.
Anton ingin Mela yang pindah kependudukan menjadi warga Bandung, sementara Mela juga ngotot minta Anton yang pindah kependudukan ke Cirebon.
Ya masalah ini belum pernah dibahas oleh mereka, jadi sekarang mereka berdebat mengenai masalah itu.
"Pi....aku ingin kita tinggal di Cirebon, karena aku melihatmu masih suka bergantung kepada keluarga,"kata Mela dengan wajah kesal.
"Mi...jangan menilai aku seperti itu, bukan salahku kalau aku menjadi anak bungsu sehingga aku diberikan fasilitas oleh orang tuaku. Dan itupun bukan aku yang minta,"sahut Anton juga sambil kesal kepada istrinya.
"Apa!!!!....Pi tidak pernah meminta.... benar tidak pernah minta????" Mela menatap tajam suaminya yang berkata seperti itu.
Anton diam tapi terlihat sedikit resah namun tetap mencoba tenang.
"Bulan lalu ada yang menelepon kakaknya mengatakan mau ambil dulu uang sebesar 5 juta, tapi saat itu kebetulan kakaknya sedang kosong dananya karena dipakai untuk perputaran obat," Mela mulai bicara mencoba membongkar bagaimana suaminya ini sosok yang manja.
"Lalu tak lama Papahnya telepon kepada kakaknya,menyuruh kakaknya melakukan sebuah transaksi. Kemudian kakaknya melakukan transaksi uang milik Papahnya dipindahkan ke rekening adiknya".
"Satu jam kemudian kakaknya menerima kiriman gambar kwitansi dari adiknya, dan kakaknya meminta tolong aku sebagai pegawainya untuk mencatat di pembukuan Papahnya".
Sambil kesal Mela lalu melanjutkan," Kwitansi pembelian Hard Disk External untuk game, itu yang namanya anak bungsu yang tidak merepotkan, anak bungsu yang tidak pernah meminta".
"Begini Mi, jujur aku diberi saham oleh Papah, jadi setiap tahun pasti aku juga mendapat pembagian keuntungan. Jadi uang tadi akan dipotong oleh cici Anita untuk dibayarkan kepada Papah,"Anton mencoba menjelaskan dengan nada pelan dan agak terbata-bata.
"Oh ya...memangnya aku tak tahu apa yang Papah bilang kepada Cici, sudah Nita nanti uang Anton jangan dipotong biar saja tidak apa-apa. Hitung-hitung Papah memberikan kepadanya. Itu yang Papah katakan kepada Cici".
"Sekarang apa yang menjadi masalah untukmu Mi, sedikitpun aku tidak melibatkanmu,"sahut Anton dengan nada mulai meninggi lagi.
"Masalah dong....pikir olehmu Pi, saat itu kita mau menikah dan kamu Pi.., lalu kamu membeli hal yang tidak penting. Coba sepenting itukah membeli game untukmu....akan sampai sakit kah Pi... kalau tidak membeli game semahal itu," Mela merasa kesal karena suaminya membeli hal yang tidak berguna dan sangat mahal.
"Mi....tapi kemarin ini saat membeli benda itu waktu aku masih bujangan, wajar dong... mengapa Mi harus marah kepadaku," Anton tetap ngotot membenarkan pendapatnya.
"Oh...oke....baiklah...maaf aku lupa... aku cuma pegawai yang dinikahi anak majikan...kalau begitu maafkan saya tuan muda, saya sudah lancang kepada anda,"lantas Mela membalikan badan dan segera naik ke tempat tidur sambil menutupi badannya dengan selimut.
Dibalik selimut dia menangis sambil tak bersuara, merasa kesal, sakit hati dan sangat tersinggung sekali.
Mela memang paham kalau dibalik sikap dewasanya Anton, dibalik bijaknya Anton, dan dibalik baiknya Anton selama ini terkadang masih terlihat sifat manjanya.
Kelemahan Anton adalah dalam hal keuangan, dia bisa dibilang cukup boros sering membeli hal-hal yang tidak terlalu penting.
Dibalik kebaikan Anton kepada orang lain, terkadang dia suka dengan mudahnya menghamburkan uang untuk membayari teman-temannya.
Ada sifat buruknya yaitu asal semua senang dan dia juga senang, berapapun dia yang membayarkan.
Baginya uang tidak terlalu masalah, karena dipikirnya nanti juga dia akan dapat pembagian hasil atau mendapat bonus dan hal sejenis lainnya.
Sementara bagi Mela hal itu sangat berarti, dia ingin Anton harus mulai bisa berubah karena bisa saja terjadi hal buruk menimpa mereka.
Dan apabila misalkan terjadi hal buruk lalu tidak punya simpanan uang pasti akan sangat menyakitkan.
Mela pernah merasakan hal itu, pernah begitu terpuruk sampai tidak ada uang di rumahnya untuk membeli segenggam beraspun untuk dimasak menjadi nasi.
Saat diawal ayahnya meninggal dulu, sebelum dia bekerja di toko pamannya, dia dan ibunya sempat bekerja dari rumah ke rumah menjadi buruh cuci dan setrika.
Bahkan ketika sudah mengenal Anton juga dia mencari tambahan dengan mencuci dan setrika pakaian Anton.
Anton diam di sofa kamar hotel, dia merasa hari ini penat sekali.
Sudahlah siang tadi harus berhadapan dengan Aris di rumah mertuanya, lalu malamnya ketika dia berharap bisa bermesraan dengan istrinya, yang ada malah bertengkar.
Dia diam merenungkan apa yang istrinya inginkan, Mela ingin mereka tinggal di Cirebon.
Memulai usaha baru disini, selain bekerja di puskemas, yang Mela inginkan adalah Anton juga mengurus status profesinya agar bisa mendapat ijin membuka praktek sendiri di rumah.
Mela ingin bisa membuka apotik dan dia yang mengelolanya.
Dia benar-benar ingin memulai segalanya dari nol, dan kalau bisa jangan sampai melibatkan keuangan mertuanya.
Masakan sudah menjadi suami tapi masih menggantungkan keuangan dari mertuanya.
Sementara Anton salah berpikir, dia inginnya Mela tetap bekerja di apotik keluarganya selama belum mempunyai anak.
Tapi ternyata istrinya malah lebih dewasa pemikirannya, dan dia sekarang merasa menyesal sudah membentak istrinya.
Dia membuka tas laptopnya, lalu mengambil Hard Disk External yang Mela permasalahkan tadi.
Anton memotret benda itu dengan ponselnya, lalu dia menjadikan foto benda itu status chatnya.
"Dijual HDE Gaming 10tb baru 1 bulan, harga nego".
Dan setelah status itu tayang tentu banyak kaum pria yang tertarik, akhirnya benda itu mendapat penawaran tertinggi dari dokter Haikal.
Anton menghampiri tempat tidur tapi tidak berani menyentuh istrinya, karena pasti akan ditolak mentah-mentah.
Esok paginya setelah Sholat subuh mereka masih saling diam.
Anton berbaring di tempat tidur, maksudnya memancing istrinya untuk mendekatinya.
Tapi Mela terlihat malah membereskan pakaiannya, dimasukan kedalam koper satu per satu.
"Mi sayang, kita masih ada jatah menginap satu malam lagi. Mengapa sudah membereskan pakaian?"tanya Anton kepada istrinya.
Mela diam saja sambil membereskan pakaiannya.
Anton menghela nafas, lalu bangkit dari tempat tidur dan menghampiri istrinya.
"Mi...sayangku...maafkan aku sayang," katanya sambil merangkul istrinya.
Tentu saja istrinya menolaknya, dan sambil tetap membereskan pakaian sambil berkata," Aku mau pulang ke rumah Mimi ke kampung, nanti saat matahari mulai terbit".
"Memangnya mau ke rumah ibumu sendirian...tanpa aku menemani?"tanya Anton mencoba menggodanya.
"Tidak usah, aku naik angkutan umum saja. Aku tahu diri siapa aku, walau bagaimana juga aku cuma seorang pegawai rendah seorang pembantu. Sampai kapanpun tak punya hak bicara seperti layaknya seorang istri".
"Aku minta maaf Mi sayangku, aku mengakui kekeliruanku. Setelah kupikir masak-masak semalaman, aku setuju dengan rencanamu untuk tinggal di kota Cirebon".
"Kita akan mencoba menjalani semuanya dari nol, aku akan mencari rumah kontrakan dulu sementara untuk kita tinggal. Nanti kita pelan-pelan mencari rumah atau tanah yang bisa kita bangun menjadi rumah tinggal sekaligus klinik dan apotik".
Mendengar ucapan Anton, tentu saja hati Mela sangat bahagia. Tapi kalau segera mengiyakan tentu saja gengsi rasanya. Jadi dia tetap memilih diam saja dan memberikan respon apapun.
"Mi...kok diam saja...baiklah sekali lagi aku minta maaf, aku baru tersadar sekarang sudah bukan lagi anak bungsu pak Salim Wiharja. Sekarang aku sudah menjadi seorang suami, maafkan kalau semalam aku sempat bicara tak enak kepadamu".
Anton berusaha merebut kembali hati sang istri yang masih saja tetap diam membeku.
Kemudian Mela bergerak berjalan menuju sofa panjang yang ada di kamar itu dan duduk di atasnya.
Anton segera mengikuti dan merapatkan duduknya di samping istrinya, sekarang istrinya sudah mulai diam saja tak menolaknya.
"Yah tapi percuma saja, tetap saja aku ini cuma pegawai di matamu, bukan istri yang bisa mengeluarkan pendapatnya," ucap Mela sambil terlihat ada lelehan air di pipinya.
"Mi...bukankah aku sudah mengikuti keinginan istriku, barusan masa tidak kamu dengar sayang. Aku menuruti apa kata istriku untuk memulai segalanya dari nol dan tinggal di kota Cirebon memulai segalanya dari titik nol,"ujar Anton sambil memeluk istrinya dan mengusap air mata yang jatuh di pipi istrinya.
Mela menganggukan kepalanya sambil tertunduk tak mau menatap suaminya. Jelas saja suaminya malah menjadi gemas melihat istrinya yang mulai mencari dan sikap manja mulai ditunjukkannya lagi.
"Maafkan aku yah sayangku, istriku, cintaku...,"kata Anton lagi sambil memegang wajah istrinya dan menariknya ke atas sehingga mereka saling bertatapan.
Mela senyum tipis mengiyakan suaminya sambil mengangguk pelan.
Suaminya menjadi semakin gemas, lalu menurunkan kepalanya dan mencium bibir istrinya.
Tak hanya itu saja, dia menjadi bergairah lalu memeluk istrinya dan menjatuhkan tubuh istrinya ke sofa itu, lalu menindih tubuh ramping istrinya itu.
Dan pagi itu diwarnai dengan percintaan menggairahkan di atas sofa panjang kamar hotel, setelah terjadinya pertikaian semalam.
Setelah mereka mandi bersama di pagi itu, lalu sama-sama mengeringkan badan dan berpakaian.
Mela juga sudah mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut yang ada di kamar hotel itu.
Tak lama setelah rapih berpakaian mereka keluar dan menuju resto tempat sarapan pagi sudah disediakan.
Ketika sedang menikmati sarapan, ponsel Anton berdering lalu dia mengangkatnya.
"Ya..oke...siap...sampai ketemu disana," itu pembicaraan yang didengar Mela, sehingga membuatnya merasa aneh.
__ADS_1
"Dari siapakah Pi, kok jawaban nya singkat begitu," Mela bertanya sambil menikmati bubur ayam yang nikmat.
Melihat istrinya makan dengan nikmat, Anton malah minta disuapi dan tidak menjawab pertanyaan istrinya.
"Habis makan nanti kita ke rumah ibu yah, sekalian kita nanti ke makam ayahmu".
Mela mengangguk tapi dia belum mendapat jawaban dari suaminya, siapa yang baru saja menelepon suaminya.
Setelah sarapan, mereka lalu kembali ke kamar hotel bersiap untuk ke rumah ibu Sinah.
"Mi...kalau sebelum pergi kita ngapain dulu yuk, mumpung masih pagi juga," bujuk Anton sambil memeluk istrinya dengan tiba-tiba.
"Pi...nanti malam sajalah, baru juga terjadi sudah mau lagi. Nanti kalau terlalu siang ke makam, matahari sudah tinggi akan panas sekali disana,"sahut Mela sambil cemberut karena suaminya meminta terus.
"Ya sudah, tapi nanti malam lagi yah," masih saja Anton mencoba merayu istrinya.
"Hmm...iya, dasar lelaki mesum terus pikirannya,"ujar Mela sambil mencubit manja pipi suaminya.
"Kan mesumnya juga kepada istrinya, memangnya boleh mesum kepada perempuan lain?"godanya kepada istrinya.
Tentu saja sekarang istrinya mencubit perutnya dengan kencang sambil melotot.
Tak lama merekapun meluncur menuju rumah ibu Sinah, sambil sebelumnya membeli makanan khas Cirebon juga yaitu ketan bumbu.
Olahan nasi ketan dibungkus dengan daun pisang, lalu dikukus dan makannya dicocolkan ke bumbu udang ebi.
Entah mengapa Anton malah membeli cukup banyak, tapi Mela berpikir mungkin untuk dibagikan kepada kerabat di kampungnya.
Sepanjang jalan Mela berbincang ringan saja dengan suaminya, dia sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya suaminya sedang membuat kejutan untuknya.
Ketika mobil mereka berbelok ke arah rumah ibunya, disitu Mela melihat sesuatu dan dia terkejut sampai menutup mulutnya.
Ternyata keluarga besar suaminya ada di rumah ibunya, kedua mertuanya, kedua kakak iparnya beserta anak-anaknya, dan yang paling mengejutkan adalah suami istri pejabat terkenal beserta anaknya Mahendra.
Sungguh pejabat yang rendah hati bang Cak itu, dia pergi keluar kota tanpa embel-embel pengawal, mereka hanya membawa serta seorang sopir saja.
Mela bergegas turun dan segera berlari kecil, langsung menyalami kedua mertuanya, kakak iparnya dan juga kakak sepupu iparnya.
Antonpun menyusul setelah mengunci mobilnya sambil membawa bungkusan ketan bumbu yang tadi dibawanya.
"Papah dan Mamah kok bisa kemari, memang jalannya sudah ingat sekarang?"tanya Mela yang selalu saja polos.
"Ya tahu dong, kan membawa petunjuk arahnya langsung,"sahut Pak Salim sambil tertawa.
Mela belum paham, sampai melihat ada seseorang dipintu melambai-lambai tangannya, baru dia paham maksud mertuanya.
Tentu saja kan sekarang ada Wahyu adiknya sebagai petunjuk jalan.
"Kalau Ceceu dan Bang Cak, kok bisa tahu kemari?".
"Aduh dasar kerupuk melarat...hahaha, Jaman now dong, pake GPS...tinggal bingka Batam berbagi lokasi saja, mudah dong mengikutinya,"sahut Serina yang selalu makjleb kalau bicara.
"Mami...suka gitu deh, nanti Mela kaget mendengar cara bicara Mami,"kata Bang Cak mengingatkan istrinya.
"Papi...kerupuk kan sudah hafal bagaimana sifat Mami...hahahaha... biar kecil begini kayak anak SMP tapi jagoan loh, dia yang mengatur korslet dan tahu mematikan daya listrik,"Serina memuji Mela dihadapan suaminya.
"Oh ternyata itu idenya kamu, luar biasa, kok bisa paham seperti itu sih?"Bang Cak seakan tak percaya melihat sosok Mela mampu berpikir dan melakukan hal itu.
"Kan saya dulu bekerja di toko besi, bahan bangunan dan alat listrik, jangankan listrik, mengaduk semen dan pasir juga bisa...hahahaha,"jawab Mela sambil tertawa geli dengan dirinya sendiri.
"Istriku...ini Istriku...siapa dulu dong suaminya,"tiba-tiba Anton ikut nimbrung, dan serentak yang mendengar meneriakinya.
"HUUUUHHHHHH!!!!"
Fajar menikmati ketan bumbu yang dibawa oleh Anton dan Mela, sambil membubuhi ketan itu dia berkata,"Nah ini enak, bumbunya udang kecele kering".
"Udang rebon kering atau ebi, sebutannya bumbu ebi kering, bukan udang kecepe,"tukas istrinya sambil melihat suaminya dengan gemas.
"Bumbu udang kecepe!!!,"Fajar menggoda istrinya.
"Bumbu ebi!!!"timpal Anita.
"Eleuh-eleuh...sudah sama saja,
kalian tuh suka seperti anak kecil,"ibu Aryani menghentikan adu debat kosong anak dan menantunya itu.
Suasananya ramai sekali pagi itu di rumah Ibu Sinah, setelah semua menikmati jamuan.
Kaysan dititipkan pada Atikah, sementara Keiza dan Mahendra ikut bersama oom Maning atau Wahyu untuk memancing ikan di belakang rumahnya.
Makam pak Suganda baru saja dibereskan juga oleh Wak Darma, sekalian kemarin masih ada sisa batu bata dan semen.
Sekarang sudah lebih rapi bentuk makamnya.
Anton dan Mela menabur bunga, sambil membacakan Surat Yasin untuk almarhum.
Setibanya di rumah, Anita ingin melihat foto almarhum ayahnya Mela, dan untuk hal itu Mela harus mengobrak-abrik lemari jaman dia gadis dulu.
"Mela dulu terlalu terpukul saat bapaknya meninggal, jadi semua foto bapaknya dia simpan di dalam lemari nya,"kata Ibu Sinah memberitahu soal itu kepada Anita.
Wajar saja karena Mela adalah anak kesayangan ayahnya dulu saat masih hidup.
"Ini foto Bapak, maaf nunggu karena Mela harus mencari dulu,"ujar Mela sambil memberikan figura foto ayahnya.
Anita dan Fajar melihatnya, sosok seorang pria sederhana yang terlihat orangnya pasti jujur dan bijaksana saat masih hidupnya.
Figura berkeliling ke Pak Salim dan Ibu Aryani, kemudian Serina dan Bang Cak juga ingin melihatnya.
Dan terakhir tiba di tangan Anton yang waktu itu sedang habis bertelepon dengan seseorang.
"Apa ini....foto siapakah ini?"katanya terlihat tidak memahami.
"Ya ampun Anton, dasar dokter kampung, ngapain saja barusan, mau dipecat kamu jadi menantu...itu foto almarhum mertuamu,"siapa lagi kalau bukan nyonya bermulut petir langsung menyambar.
"Sorry nyonya...Oh.. ini foto pak Suganda...maafkan saya pak,"kata Anton sambil memegang foto lalu meminta maaf kepada figura itu.
Serina langsung mendelik, sambil menatapnya,"Menantu tidak sopan, ayo minta maaf sama ibu mertuanya!".
Anton hanya mengangguk sambil tersenyum kepada ibu mertuanya.
Sambil duduk Anton memandang figura foto itu, dan tiba-tiba dia merasa pernah bertemu dan berbincang dengan Bapak itu.
Entah dimana dia tidak mengingatnya, tapi benar dia tahu pernah bertemu tapi tak tahu kapan dan dimana.
Padahal bapak yang ada dalam foto itu lah yang memintanya kembali saat bertemu di suatu taman di suatu dunia lain.
Hari menjelang siang, Wahyu bersama Mahendra dan Keiza berhasil menangkap banyak ikan.
Lalu Mela membersihkan ikan lalu melumurinya dengan garam dan jeruk nipis agar tidak amis.
Ibu Sinah membuat bumbu olahan kunyit, karena hendak memasak pesmol atau ikan goreng bumbu kuning.
Atikah yang menggoreng ikan tersebut, lalu setelah semua matang, baru bumbu kuning tadi ditumis dan setelah tumisan matang, semua ikan goreng tadi dimasukan ke dalam wajan bersama bumbu tadi sampai meresap.
Anita dan ibu Aryani hendak membantu tetapi ditolak, dan mereka dipersilahkan duduk saja menanti masakan matang.
Tak hanya itu saja, ibu Sinah juga sudah mempersiapkan pepes tahu jamur, dan juga tak ketinggalan sambal dan lalabannya.
Mela kemudian membungkus nasi dengan daun pisang, lalu bungkusan nasi itu dibakar sebentar di atas bara.
Wangi sekali tercium semuanya, membuat perut menjadi keroncongan.
Terdengar suara Adzan Dzuhur, lalu para pria bersama-sama berjalan ke masjid di dekat kantor Kuwu yang tidak jauh dari rumah ibu Sinah.
Sementara para wanita menunaikan ibadahnya di rumah saja, ibu Sinah meminta Mela mempersiapkan keperluan untuk mertuanya dan kakak iparnya untuk lebih dahulu sholat.
Mela segera menyiapkan sajadah dan mukenahnya, namun ibunya menegur karena yang akan diberikan adalah bekas pakai dirinya.
"Nok, ambillah mukenah yang di dalam lemari, berikan tamu itu yang terbaik. Kamu sudah menjadi seorang istri, apalagi untuk keluarga suami. Carikan mukenah yang paling baik dan paling bersih untuk ibu mertuanya," Ibu Sinah mengajari anaknya untuk menghormati dan memberikan yang terbaik kepada tamu.
Apalagi saat ini yang bertamu adalah keluarga suaminya, dan ada ibu mertua yang juga harus dihormati dan dihargai.
Mela menurut apa kata ibunya, segera mencari mukenah yang paling baik dan bersih untuk ibu mertuanya.
Para wanita bergantian sholat di kamar dulu Mela saat gadis, setelah sebelum nya ibunya meminta Mela untuk segera membersihkan kamarnya itu.
"Jadi istri harus serba rapih dan bersih, jangan sampai dicela oleh mertua dan suami. Sepandai apapun dan setinggi apapun jabatanmu dalam pekerjaan, tetapi di rumah kamu adalah istri. Jangan pernah lupa kepada kodratmu".
Ibu Sinah selalu tegas kepada Mela, karena beliau ingin anak perempuannya bisa menjadi istri dan menantu yang baik.
__ADS_1
Tak lama para pria sudah kembali dari Masjid, hanya Anton yang belum kembali.
Atikah dan Rahman menggelar tikar di lantai teras rumah ibu Sinah, lalu kemudian keluar satu persatu nasi, ikan bumbu kuning, pepes tahu jamur, tempe goreng, lalu sambal dan lalaban.
"Duh Papi....enak sekali makan seperti ini, di kota susah mencari makanan begini," kata Serina yang tiba-tiba merasa kelaparan melihat sajian makanan tersebut.
"Ayo silahkan dimakan, ayo itu nasi dibungkus daun pisang, ini ada sambal dan lalabannya,"kata Ibu Sinah mempersilakan keluarga besannya makan.
"Waduh ini enak sekali pastinya, nasinya wangi sekali,"kata pak Salim ketika disodorkan bungkusan nasi oleh Ibu Aryani.
"Sebelum makan ayo Keiza berdoa dulu, anak bunda yang pintar yang membaca doa nya,"kata Anita kepada gadis kecilnya.
Dengan malu-malu si gadis kecil mulai membaca Doa sebelum makan.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Alloohumma barik lanaa fiimaa razatanaa waqinaa 'adzaa bannar
Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka"
Anita dan Fajar merasa bangga karena anak gadis kecilnya walau belum sekolah tapi sudah hafal beberapa doa-doa pendek.
Dan merekapun mulai makan, Mela belum mengambil nasi karena menunggu suaminya belum kembali dari Masjid.
Tak lama muncul suaminya sambil berboncengan tiga di atas motor Haikal, satu orang lagi sudah bisa dipastikan adalah Jaya Permana.
"Benar bro, kita datang tepat waktu saat makan baru dimulai,"ujar Jaya kepada Haikal.
"Ayo masuk, kita makan bersama,"ajak Anton kepada kedua sahabatnya.
Setelah mencuci tangan lalu keduanya duduk di atas tikar, sementara Anton membuka dulu kaki palsunya baru dia bisa duduk di atas tikar.
Mela mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.
Jaya lalu menggodanya sambil berkata kepada Haikal, "Sombong yang sudah punya istri sih bro, makan saja ada yang mengambilkan. Padahal dulu kalau ada makanan pasti dia yang mengambil sendiri duluan".
"Oom Jaya mau Mela ambilkan juga, ayo sini," sahut Mela dengan baik hati.
"Ah tidak terima kasih Mela, kami bisa ambil sendiri kok," jawab Jaya dengan menjadi malu.
"Sudah Mi sayang, biarkan saja itu jeritan hati jomblo galau , bisanya cuma iri hati tapi tak berani mencari," sindir Anton sambil bicara kepada istrinya.
Haikal cuma senyum-senyum saja mendengar kedua sahabatnya saling beradu sindiran, dia sih asik saja menikmati makanannya.
Baru sekitar setengah jam selesai makan siang, tiba-tiba muncul lagi satu nampan besar buah-buahan segar yang sudah dipotong dan juga bumbu sambal rujak.
Ada mangga, jambu air , nenas dan kedondong, di coelkan kepada sambal yang enak, rasanya sungguh segar luar biasa.
Ibu Sinah menjamu keluarga besannya dengan luar biasa, beliau memanjakan perut mereka dengan makanan desa tapi nikmat sekali.
Membuat semakin lengkap saja pesta keluarga siang itu.
"Bang Anton, benarkah mencari rumah kontrakan dan juga tanah untuk membangun apotik dan klinik?"tanya Haikal kepada Anton setelah mereka makan siang.
"Iya benar, bukankah kamu punya tempat untuk dikontrakkan?"Anton membenarkan sambil bertanya balik.
"Jangankan rumah, tanah juga banyak, ayo kalau mau aku tunjukkan sekarang,"kata Haikal kepada Anton sambil menaikan alisnya.
"Sebanyak apa memangnya rumah dan tanahmu sih?"tanya Jaya kepada Haikal.
"Ayo saja kita jalan sekarang, pinjam mobilmu bang, biar aku yang tunjukkan. Lokasinya tidak jauh dari rumah mertuanya bang Anton ini,"ajak Haikal kepada mereka berdua.
Lalu Anton mengajak istrinya juga untuk melihat kediaman Haikal yang akan di kontrakan.
Mela dan Anton pamit sebentar kepada keluarganya yang sedang kumpul.
Lalu mereka berempat meluncur menuju kediaman Haikal, sepanjang jalan Jaya terus saja mengomentari kemesraan Anton kepada istrinya yang tengah berpelukan di bangku belakang mobil.
Dari rumah ibu Sinah sekitar lima belas menit perjalanan, mereka tiba di daerah perumahan yang terlihat cukup elite.
"Kita lihat rumah mamaku dulu yah, lalu ke rumah papaku. Baru nanti rumah kakekku,"ujar Haikal dengan santai, yang lain yang mendengar menjadi bingung.
Mereka tiba di depan rumah yang disebut Haikal adalah rumah mamanya.
Bangunan rumah dua lantai, letaknya tepat begitu masuk komplek ada disebelah kiri jalan tepat di dekat gapura nama komplek.
Mereka masuk ke dalam rumah tersebut, rumahnya lengkap sudah ada perabotan rumah tangga beserta perlengkapan kamar tidur yang lengkap.
Di lantai satu ada satu kamar tidur besar, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur.
Di lantai dua ada dua kamar tidur, kamar mandi dan tempat semacam ruangan terbuka untuk mencuci dan menjemur pakaian.
Mela sangat tertarik dengan rumah itu, dirasakan cocok apabila digunakan untuk rumah tinggal, juga bisa dibuat apotik dan klinik di bagian depan rumah tersebut.
Tapi dia diam saja, tidak berani bicara, pikirnya biarkan saja suaminya yang memutuskan.
"Ini rumah mamaku, sudah sekitar lima tahun ini kosong saja. Kalau mau di kontrak boleh, mau dibeli lebih baik," ujar Haikal sambil terlihat sedih ekspresinya.
Lalu Haikal membuka senilai nominal rupiah apabila Anton ingin membelinya.
Setelah itu mereka menuju rumah yang disebut sebagai rumah papanya.
Letaknya sekitar tiga blok dari rumah sebelumnya, bangunan satu lantai dengan tiga kamar tidur.
Anton merasa cocok dengan rumah ini kalau untuk ditempati.
Tapi dia juga diam dulu, menanti tanggapan dari Mela.
Lalu terakhir menuju rumah kakeknya, letaknya di ujung blok dekat rumah papanya Haikal.
Sebuah rumah mewah, ada tiga orang pembantu di rumah itu.
Lalu Haikal mempersilahkan semua masuk ke rumah itu.
"Aku tinggal disini, kamarku di lantai dua. Ini rumah kakek dan nenekku, tapi sekarang keduanya sudah meninggal. Hanya aku bersama pembantu saja," Haikal menceritakan tentang dirinya.
"Lalu mama dan papamu dimana, tadi kamu hanya memperlihatkan rumah mereka saja," Jaya merasa aneh dengan keadaan Haikal.
"Hahahaha....aku ini adalah korban perceraian bro, aku anak satu-satunya. Sekarang Mama menikah lagi dengan pria asal Australia, dan Papa menikah lagi dengan wanita asal Surabaya," Haikal terlihat wajahnya tidak bahagia.
"Aku ini cucu dari pengusaha kaya, baik dari pihak mama maupun pihak papa, tapi karena itu keduanya menjadi saling egois. Mereka berpisah meninggalkan aku sendirian bersama kakek dan nenek".
"Sekarang semua rumah dan beberapa tanah itu milikku, termasuk rumah ini. Keputusan mereka memberikan semuanya kepadaku. Makanya di awal aku bekerja terlihat tidak ramah, mungkin karena hidupku juga hampa," Haikal menjelaskan bahwa dia punya kehidupan bergelimang harta tapi semuanya hampa tanpa merasa ada kebahagiaan.
"Jadi bagaimana apakah ada yang terpilih?"tanya Haikal kepada Anton.
Anton memandang istrinya, begitu juga Mela menatap suaminya, keduanya bingung tapi tetap harus mengatakan pendapatnya.
"Kalau aku suka rumah yang pertama kalau untuk dibeli, karena cocok sekali lokasinya kalau dibuat apotik dan klinik," akhirnya Mela bersuara juga.
"Hmmm, iya juga sih hanya harganya tinggi yah bro,"kata Anton kepada Haikal.
"Kalau memang suka, santailah denganku bang, cuma perlu diperbaiki rumah tadi juga direnovasi. Harga nanti kita bicarakan lagi, kalau butuh sementara tinggal di rumah papaku saja,"kata Haikal memberi solusi.
Haikal berbisik kepada Anton,"Ambil rumah papaku saja untuk dikontrak sampai abang ada uang untuk membeli rumah depan, bayar kontraknya pakai hard disk yah".
"Oke deal, aku ambil rumah kedua untuk sementara sambil mencari uang untuk membeli rumah yang di depan,"sahut Anton sambil bersalaman dengan Haikal.
"Tapi kami menempati sekitar bulan kedua di tahun depan bro, karena istriku masih harus membantu di Bandung".
"Tenang saja, nanti aku persiapkan semuanya. Aku cat ulang dulu dan aku periksa apakah ada bocor atau tidak".
Lalu mereka kembali ke kediaman ibu Sinah. Dan setelah ibadah Ashar semua pamit kembali ke kota masing-masing.
Sungguh keluarga Anton merasa senang sekali berkunjung ke rumah Ibu Sinah, selain makanan berlimpah juga sambutannya sangat luar biasa.
Saat Anton mengantarkan ayahnya ke mobil, lalu pak Salim berbisik kepada anaknya,"Ton, kalau memang mau tinggal di kota ini dan kalau memang ingin membuka apotik, nanti papah bantu. Sudah ini antara kamu dan papah saja".
Tetap saja pak Salim ingin memberikan uang untuk membelikan anak kesayangannya sebuah rumah yang bisa digunakan juga untuk usaha.
Anton hanya mengangguk tapi tidak berkata apapun.
Malamnya Mela merasa bahagia sekali, tadi siang keluarga suaminya bisa hadir semua dia merasa sangat berarti dimata keluarga suaminya.
Esoknya dia dan Anton membuat paspor untuk keperluan perjalanan minggu depan.
Ternyata jaman sekarang jauh lebih mudah dalam membuat paspor ke imigrasi, bisa daftar secara online.
Baru nanti datang ke imigrasi saat sudah ada balasan dari imigrasi kapan kita bisa hadir untuk membuat foto dan lain sebagainya.
__ADS_1
Selanjutnya akan ada kisah di Batam yang penuh dengan drama.