
Kisah Fajar
Batam merupakan kota terbesar di Kepulauan Riau, kota ini berbatasan
air langsung dengan Singapura
dan Malaysia.
Penduduk di kota ini bermacam ragam ada orang Melayu, Jawa, Batak, Minang, Tionghoa dan lainnya.
Bahasa daerahnya juga campur aduk, namun kelebihannya tingkat kesukuan dan ras di kota ini kecil dibanding kota lainnya di Indonesia terutama di pulau Jawa.
Agama terbesar di Batam adalah Islam, tak sedikit orang Tionghoa juga yang memeluknya di kota ini.
Bagi sebagian orang di kota lain atau di pulau lain, orang keturunan Tionghoa identik dengan kekayaan. Contohnya di pulau Jawa hampir sebagian besar orang keturunan Tionghoa memiliki tingkat ekonomi di atas rata- rata.
Berbeda dengan di kota Batam, ternyata banyak keturunan Tionghoa yang malah memiliki tingkat ekonomi yang sulit.
Salah satunya Joni Sanjaya dan istrinya Siu Hoa atau biasa dipanggil Ahoa. Mereka tinggal di pemukiman kumuh
di sekitar Tanjung Riau Kecamatan Sekupang.
Mereka tinggal di rumah sepetak yang terletak di gang kecil dengan deretan rumah yang saling berhimpitan.
Mereka punya satu orang anak laki-laki yang diberi nama Fajar Sanjaya.
Joni Sanjaya dan Ahoa sama-sama bekerja di sebuah restoran bernama California.
Tugas Joni sebagai keamanan di sana dan Ahoa adalah pelayan pengantar makanan dari meja ke meja di restoran tersebut.
Jam kerja Ahoa dari jam sepuluh pagi hingga sepuluh malam, sementara Joni bekerja sampai jam enam pagi.
Fajar tumbuh menjadi anak yang selain kekurangan kasih sayang orang tua, dia juga jelas kekurangan makan. Tubuhnya kecil kurus, dan matanya sayu.
Dia tidak yang namanya sekolah taman kanak-kanak, dia bisa membaca karena diajari ibu Maryati seorang pensiunan guru yang membuka Rumah Belajar di dekat masjid di lingkungan kampung tersebut.
Ayah ibu nya yang dia panggil Apah dan Aman tidak punya waktu untuk memberi pelajaran kepada anaknya bahkan untuk sekedar mengajak anaknya bicarapun sangat jarang.
Pulang kerja Ahoa tidur, lalu bangun pagi mencuci pakaian, menjemur, dan menyetrika pakaian sebelumnya.
Kemudian membersihkan rumah dan memasak makanan untuk Fajar, satu macam makanan untuk pagi, siang dan malam.
Saat hendak pergi kerja dia titipkan Fajar anaknya ke tetangga sebelah rumah mereka.
Beruntung anak tetangganya selalu membawanya ke rumah ibu Maryati.
Joni dan Ahoa tidak peduli anaknya yang baru berumur lima tahun sudah pandai membaca dan menulis atas bimbingan ibu Maryati.
Bahkan karena Fajar juga tidak pernah diajarkan suatu agama oleh kedua orang tuanya, maka ibu Maryati telah membimbingnya menjadi seorang anak muslim dengan mengajari sholat dan mengaji.
Waktu tak terasa, Fajarpun harus masuk Sekolah Dasar, ibu Maryati menemui orang tuanya disuatu pagi.
Namun orang tuanya Fajar malah hanya berkata maaf tolong ibu saja yang urus nanti harus bayar berapa untuk biaya
sekolah Fajar mereka tinggal bayar.
Untung ibu Maryati paham karena dia jatuh kasihan melihat Fajar, maka beliau yang mengurus segala keperluan sekolah anak itu.
Fajar sudah dianggap cucunya sendiri, sekarang malah Fajar lebih banyak tinggal bersama ibu Maryati.
Malahan yang dulu tubuhnya kurus kecil, sekarang mulai menggemuk.
Joni dan Ahoa senang melihatnya, mereka setiap bulan malah memberikan uang yang memang cukup lumayan untuk biaya sekolah Fajar dan biaya makan anaknya.
Memang tidak salah Fajar kecil ikut ibu Maryati, dia malah banyak belajar dari pensiunan guru itu. Sehingga di sekolah dia menjadi anak yang pintar dan selalu menjadi juara kelas dari SD sampai SMA.
Ibu Maryati berpulang ke rahmatullah sekitar setahun yang lalu karena sakit jantung yang telah lama dideritanya.
Padahal saat itu Fajar hampir lulus SMA dan telah lulus ujian untuk menerima beasiswa di salah satu Universitas Negeri di kota Bandung.
Dia diterima di Fakultas Kedokteran, Jurusan Psikologi.
Saat itu di sekolahnya diadakan test PMDK dan tersedia hanya 5 kursi untuk bisa melanjutkan studi di salah satu Universitas Negeri di Indonesia.
Author: PMDK : Penulusuran Minat dan Kemampuan.
Setelah mengikuti serangkaian test ternyata dia lulus dan mendapatkan beasiswa 100% di Universitas UNPAD di kota Bandung.
Orangtuanya sangat bersyukur sekali, mereka sangat mendukung Fajar pindah kesana.
Hanya ada yang sedikit ganjil, ketika suatu hari ibunya berkata kepadanya sambil Fajar membereskan keperluan untuk ke Bandung.
"Fajar, ini Amah kasih buku tabungan dan kartu ATM. Kamu pakai secukupnya yah bila sesekali diperlukan. Kamu kan kuliah gratis, tapi ini uang semoga bisa membantu biaya hidupmu,"kata Ibunya dalam bahasa tiochiu.
Author: maaf yah author tidak pandai berbahasa tiochiu.
"Iya Amah terima kasih, pasti Fajar pegang baik-baik. Kan buat ongkos sesekali Fajar pulang, "ujar Fajar sambil melihat jumlah uang yang cukup banyak di buku tabungan yaitu sekitar 30 juta.
Di awal tahun 2000 an uang uang segitu masih bisa dikatakan cukup banyak.
"Jangan nak... jangan pernah kembali lagi ke Batam. Tinggal saja di pulau Jawa sana. Kau tak mungkin kembali lagi kesini,"kata ibunya sambil langsung memeluk anaknya dan menangis.
Fajar kebingungan dan bertanya," Memangnya kenapa Fajar tidak boleh kemari lagi, memang nanti Amah dan Apah tidak kangen sama aku?".
"Biar saja nanti Amah dan Apah mu yang kesana menengok. Jangan kau pikirkan kami nak. Sekolah yang benar, ķarena kau anak pintar bimbingan ibu Maryati. Buatlah beliau bangga dari alam sana".
Saat sedang berdua dengan ibu nya, tak lama ayahnya masuk.
Lalu berkata kepada Fajar sambil memberikan sejumlah uang tunai," ini ongkosnya untuk naik pesawat besok dan juga ini mungkin cukup untuk satu bulan, sisanya kau hemat-hematlah".
"Nanti dulu.......ini ada apa sebenarnya Apah dan Amah memberikan aku uang cukup besar. Selama ini kita miskin dan rumah seperti ini, tapi ternyata Apah dan Amah ada uang sebanyak ini".
"Mengapa kita tidak pindah dari dulu?" tanya Fajar sangat bingung melihat diberikan lagi uang tunai 10 juta rupiah.
"Sudahlah kau tidak perlu tahu, semua tabungan kami untukmu. Besok Apah antar kamu ke bandara".
"Simpan uangmu dengan benar jangan sampai hilang dan jangan pernah kau hamburkan, hanya itu yang bisa kami berikan," ucap ayahnya dengan bernada berat dan sedih.
Akhirnya Fajarpun tak banyak bertanya lagi, dia hanya bisa diam saja mengikuti perintah orang tuanya.
Keesokan paginya dia diantar ayahnya ke bandara dengan naik bis.
Ibunya tidak bisa mengantarkannya hanya terus berpesan agar jangan kembali lagi ke Batam.
Setibanya di bandara, ayahnya yang sejak dia kecil tak pernah memeluknya, hari itu dia dipeluk erat sambil ayahnya menangis.
__ADS_1
"Fajar, ingatlah Apah dan Amah sangat sayang kepadamu. Ingat pesan kami jangan pernah kamu kembali ke Batam. Tinggallah di Jawa sana, suatu saat kalau ada kesempatan pasti kami akan kesana juga".
Fajar sangat terharu, dia merasa haru dan bahagia akhirnya merasakan bisa pelukan ayahnya. Walau dia tak pernah tahu kalau itu juga merupakan pelukan terakhirnya.
Akhirnya Fajar mendapat tiket pesawat ke Jakarta, dan nanti baru lanjut ke Bandung.
Setelah hampir dua jam naik pesawat tibalah dia di Jakarta.
Sejenak dia berdiri merasakan bahagia berada di pulau Jawa.
Lalu dia melihat ternyata ada bis yang bisa membawanya ke stasiun di Jakarta.
Walau belum paham dia nekad naik bis itu, untuk sekedar lumayan melewati kota Jakarta.
Diapun sangat menikmati perjalanannya dengan naik bis itu, dan melihat banyak pencakar langit di kota Jakarta. Hampir sama dengan di kota Batam.
Akhirnya bis tiba di Stasiun di Jakarta dan juga dengan modal nekad mencari loket mencari jadwal kereta api jurusan ke Bandung.
Dia merasakan kenyamanan perjalanan di dalam gerbong kereta api. Ada AC juga ada televisi jadi dia bisa melihat film sampai akhirnya tertidur.
Sesampainya di kota Bandung dia bertanya kepada orang-orang dimana alamat universitas yang dimaksud.
Ternyata ada di kabupaten Bandung dan dari stasiun masih sangat jauh.
Karena hari menjelang malam, maka dia menginap di salah satu penginapan murah dekat stasiun. Selanjutnya besok mencari alamat kampusnya.
Esok paginya petugas penginapan memberitahukan bahwa dia masih harus naik angkutan umum yang menuju ke terminal bis di kota Bandung. Nanti dari terminal baru naik bis menuju alamat kampus tadi.
"Alamaaakkk.. jauh nian yah bang harus menuju sana,"kata Fajar kepada petugas penginapan.
"Darimana sih, seperti orang sumatera dari logatnya sih,"kata petugas itu.
"Anak Riau bang,"jawabnya pendek.
"Oh deket atuh Riau mah, tinggal lurus lalu belok sedikit ke kanan dari sini mah," petugas tadi berkata dengan santainya.
Fajar terbengong gagal paham, saat mendengar ucapan petugas itu yang
memasang wajah tanpa dosa saat menjelaskan soal jalan riau.
#author: DiBandungadajalandulunyabernamajalanriausebelumberubahnamamenjadinamapahlawan.
Akhirnya Fajar naik angkutan umum yang bisa membawa dia ke terminal bis. Dia memilih duduk di depan bersama sopir.
Dia menikmati perjalanannya sampai dari belakang ada orang berteriak,"Mang Riau kiri mang!!!"
Fajar makin gagal paham, karena nama jalan tertera nama pahlawan tapi mengapa dari tadi disebut Riau. Biarin saja deh itu jadi misteri buat dia.
Naik angkutan terasa lama dan jauh sekali, karena jarak dari penginapan ke terminal memang sangat jauh.
Sambil terngantuk-ngantuk, angkutan berhenti tepat di muka apotik besar entah di jalan apa dia tak paham.
Apotik bangunan tua yang berdiri tinggi besar bernama Wiharja Farma.
Entah mengapa dia merasa tertarik memandangi bangunan itu, padahal cuma apotik. Lalu angkutanpun melaju lagi menuju ke terminal.
Di terminal lumayan banyak warung nasi, dia makan dulu di sana. Setelah itu dia bertanya lagi naik bis jurusan apa yang arah kampusnya.
Ternyata ada beberapa yang searah ke sana dan diapun segera naik.
Tak biasa dia menempuh perjalanan sejauh ini dari kemarin.
Secara kota Batam kemanapun dekat tidak perlu berjam-jam dan macet.
Setelah hampir dua jam tibalah didepan kampus yang dimaksud.
Lalu dia turun dari bis untuk mencari tempat kost. Banyak macam dan harga rumah kost di daerah sana sampai ketemu yang nyaman dan ekonomis.
Esok harinya dia ke kampus mencari fakultas yang dia tuju dengan berbekal surat pemberitahuan beasiswa yang dipegangnya.
Menemui bagian administrasi dan ternyata benar sudah tercatat namanya di sana.
Tinggal dia memberikan beberapa data persyaratan lainnya.
Kemudian dia mengikuti masa orientasi selama seminggu dan memulai awal perkuliahan di minggu berikutnya.
Di hari ketiga awal kuliahnya tiba-tiba dia dipanggil oleh pihak kantor kampus.
Ternyata ada kabar dari Batam, ayah dan ibunya telah meninggal di bunuh orang.
Dia bertanya siapa yang menghubungi pihak kampus dan disebutkan sebuah nama yaitu Adam anaknya ibu Maryati.
Pihak kantor kampus juga memberikan secarik kertas bertuliskan sederet angka yang merupakan nomor telepon yang bisa dihubungi di Batam.
Dengan hati yang hancur lebur dia berusaha mencari informasi ke Batam, jaman itu masih ada yang namanya "Warung Telekomunikasi", berupa sebuah tempat yang memiliki beberapa box telepon yang bisa digunakan untuk telepon lokal maupun interlokal. Telepon terhubung dengan perangkat penghitung berapa lama seseorang melakukan komunikasi.
Ternyata nomor tersebut milik anaknya ibu Maryati yang bernama Bang Adam, dari beliaulah Fajar mendapatkan sedikit informasi bahwa orang tuanya benar telah meninggal karena malam sebelumnya ada yang membunuh.
Pembunuhan terjadi saat keduanya berada di rumah. Ada beberapa orang berpakaian serba hitam mendatangi, menembak mati keduanya dan memporak porandakan rumahnya.
Sebelum polisi datang, tetangga yang sebelah rumah yaitu ibu Nina melihat kedalam rumah mereka berharap keduanya masih hidup.
Ternyata didapati keduanya sudah meninggal dan di dekat tangan Ahoa terlihat tulisan tangan di lantai. Rupanya ditengah sakaratul maut Ahoa mencoba mengirim pesan " Fajar jangan kembali".
Hal itupun diberitahukan kepada Fajar oleh bang Adam, menurutnya ada beberapa peninggalan orang tuanya yang sekiranya bisa berguna.
Dan barang-barang tersebut akan mereka kirim ke Bandung.
Berminggu-minggu Fajar hidup dalam kesedihan, tak tahu harus mencurahkan isi hatinya kepada siapa.
Belum ada sahabat atau siapapun yang bisa dia jadikan tempat berkeluh kesah. Hanya berdoa dan berdoa yang dia lakukan saat mengingat kedua orang tuanya.
Beberapa lama kemudian dia menerima paket dari Batam yang dikirimkan oleh bang Adam.
Dia membukanya dan isinya adalah sebuah buku seperti diari bertuliskan tangan ibunya, satu buah liontin milik ibunya, dan beberapa foto pemakaman.
Pemakaman kedua orang tuanya telah dilakukan warga atas dana iuran khusus yang dikumpulkan setiap bulannya oleh Rukun Tetangga setempat.
Malamnya dia membaca diari ibunya yang sebagian bertuliskan bahasa tiochiu.
Tidak banyak yang bisa dia pahami tentang apa yang melatarbelakangi pembunuhan tersebut.
Dari beberapa sumber disampaikan bahwa orang tuanya memiliki hutang kepada rentenir, karena tidak terbayar maka keduanya dibunuh.
Tapi terasa janggal dan sampai hari ini masih menjadi suatu hal yang tak terungkap.
__ADS_1
Hal sesungguhnya yang terjadi dan tidak pernah diketahui Fajar adalah Joni ayahnya dan Ahoa bekerja di restoran California dan tanpa banyak orang tahu di balik dinding restoran adalah pusat perjudian gelap.
Joni selama hidupnya menjadi petugas keamanan di sana untuk menutupi kegiatan perjudian tersebut dari incaran polisi.
Ahoa bekerja di restoran menjadi pelayan pengantar makanan, dan harus melayani pengantaran tersebut kedua gedung berbeda setiap harinya bolak balik.
Sehingga setiap malam dia sangat lelah tanpa sempat memperhatikan anaknya.
Suatu ketika saat mengantar makanan ke dalam tempat perjudian, dia melihat seseorang sedang disiksa dan dibunuh oleh majikannya yang pemilik restoran dan tempat judi tersebut.
Ahoa menjadi saksi mata lalu diancam untuk tutup mulut atau keluarganya akan dihabisi.
Saat itu Ahoa gemetar ketakutan tapi dia tetap berusaha bekerja dan menutup rahasia itu.
Namun naasnya dia melihat kejadian pembunuhan yang dilakukan dengan keji oleh majikannya itu bahkan lebih dari satu kali.
Dia sesungguhnya tak tahan harus terus menutupi kejadian itu, bahkan korban pembunuhan dikuburkan secara tak layak di kebun belakang restoran di dekat tempat sampah.
Bertahun dia menutupinya sampai akhirnya mendapatkan kabar bahagia bahwa Fajar anaknya mendapatkan beasiswa ke pulau Jawa.
Joni dan Ahoa sengaja mengumpulkan uang karena memang sudah bertekad akan mengirimkan Fajar keluar dari Batam.
Dia dan suaminya akhirnya bertekad membulatkan diri akan melaporkan perbuatan biadab majikannya kepada polisi saat nanti Fajar sudah pergi jauh.
Setelah yakin Fajar sudah di tanah Jawa keduanya mendatangi kepolisian dan menceritakan apa yang bertahun-tahun mereka alami.
Restoranpun digerebek oleh Kepolisian, terbongkarlah di balik dinding dapur ada kegiatan perjudian ilegal.
Dan polisi juga membongkar tanah di sekitar bak sampah yang ada di halaman belakang restoran.
Ditemukan ada banyak tulang belulang manusia yang dulunya dikuburkan secara tak layak.
Majikannya Joni dan Ahoa pun segera ditangkap polisi, namun beberapa anak buahnya berhasil lolos.
Dan anak buah yang lolos tersebut merupakan orang setia kepada majikan mereka.
Walau ada dibalik jeruji tapi perintah kejahatan masih berjalan.
Akhirnya suatu malam Joni dan Ahoa didatangi kawanan penjahat yang merupakan orang yang lolos dari kejaran polisi sebelumnya.
Mereka menembak kepala Joni dan dada Ahoa, seketika Joni meninggal namun Ahoa masih bertahan dan mencoba menulis pesan agar anaknya jangan pernah kembali.
Para penjahat sampai hari ini masih berusaha mencari jejak Fajar, namun tak pernah ada ditemukan.
Bahkan tetangga sekitarpun berusaha melupakan Fajar nagar jangan sampai ditemukan penjahat.
Bahkan bang Adampun setelah kejadian itu menghilang tanpa ada yang pernah mengetahuinya lagi.
Kisah Anita
Bunadi Wiharja pada awal tahun 1950 an mendirikan sebuah apotik di suatu jalan raya di kota Bandung.
Memang bukan jalan raya utama tapi merupakan jalan yang menghubungkan jalur Bandung menuju ke keluar kota lainnya.
Termasuk daerah pinggiran tapi itu adalah daerah yang terus berkembang.
Dia menjalankan usahanya bersama Santosa Wiharja anak lelakinya hasil pernikahannya dengan Meilan.
Santosa kemudian menikah dengan gadis pilihan hatinya yang merupakan anak pengusaha muslim ternama di kota Bandung.
Gadis itu bernama Aliyah, sebelum menikah sempat terjadi keributan karena masalah perbedaan etnis dan agama.
Tetapi karena sudah terlanjur cinta, maka Santosa pun mendapat hidayah dan pindah menjadi seorang muslim. Ternyata dia orang yang berkomitmen, setelah pindah agamapun dia konsisten mempelajari Islam sampai benar-benar paham dengan segala ajarannya.
Santosa dan Aliyah dikaruniai dua orang anak yaitu Hasni dan Salim. Keduanya diberikan ajaran agama Islam yang baik dan benar, nmereka bersekolahkan di sekolah yang berbasis agama Islam sehingga keduanya pandai mengaji bahkan hafal ayat-ayat suci.
Di akhir tahun 1970 an Hasni menikah dengan seorang tentara, dia harus ikut suaminya bertugas ke berbagai pulau dan kota di seluruh Indonesia.
Bahkan sekarang suaminya sudah menjadi seorang duta besar Indonesia di negara lain.
Salim sama dengan ayahnya berlanjut meneruskan usaha apotik bahkan Salim juga sudah menyandang gelar apoteker.
Suatu hari Salim bersama kawannya bermain ke kota Garut, di sana tak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang bernama Aryani.
Salim jatuh hati kepadanya, walau jarak memisahkan tapi dia tak kenal kata menyerah.
Dia kejar cintanya Aryani sampai bisa berhasil mendapatkannya dan akhirnya menikahinya.
Setelah menikah Aryani ikut suaminya Bandung, dia merupakan menantu kesayangan Santosa dan Aliyah karena pandai memasak dan membuat kue.
Dari pernikahannya lahirlah Anita dan Anton yang berselisih jarak 4 tahun an.
Kedua anak itu tiap harinya selalu saja ribut, tapi setelahnya saling menyayangi lagi satu sama lain.
Selalu saja keduanya terjadi kenakalan dan keributan, tak ada yang mau mengalah.
Namun bagaimanapun keduanya saling menyayangi tak mungkin dipisahkan kasih sayang kakak beradik ini.
Di pertengahan tahun 1980 an ketika anak-anak Salim masih kecil, sang nenek Meilan meninggal dunia karena sakit tua dan tak lama Bunadi pun menyusul di tahun yang sama.
Di awal tahun 1990 an Santosa dan Aliyah pergi naik haji, dan di masa itu terjadi tragedi terowongan Mina dimana saat itu ada sekitar 630 orang berasal dari indonesia meninggal terinjak -injak dan kehabisan oksigen karena terjadi lonjakan orang di dalam terowongan tersebut.
Santosa dan Aliyah, mereka berdua menjadi Syuhada haji dan jenazahnya dimakamkan di tanah suci.
Waktu berlalu, akhirnya anak gadisnya Salim dan Aryani sekarang sudah kuliah dan diterima di salah satu Universitas Swasta di daerah Jatinangor yang bernama IKOPIN.
Dan letaknya kampusnya tidak jauh dari UNPAD Bandung. Kalau ada kupu-kupu cantik pasti kumbang jantan akan mencari dan mencoba mendapatkan hatinya.
Begitu juga kabar gadi berhijab yang merupakan mahasiswa tingkat satu yang putih dan cantik segera menyebar.
Seakan menjadi berita Nasional, kisah kecantikan terdengar sampai ke telinga pada pejantan di kampus sebelah.
Bahkan suatu saat secara tak sengaja seorang mahasiwa UNPAD yang saat luangnya berjualan minuman ringan dan juga sesekali menjadi sopir atau kernet angkutan umum, bertemu dengan sang gadis di sebuah masjid di dekat kampus mereka berdua.
Mahasiswa asal Batam yang miskin terpana dengan kecantikan sang putri, jarang dia melihat gadis Tionghoa yang berhijab dan cantik sekali.
Membuat nafasnya terhenti beberapa detik saat melihat senyum sang gadis rupawan itu.
Dia harus mengalahkan banyak sekali pesaing, segala upaya dia lakukan untuk menjadi kekasih hati sang gadis.
Memang semua malaikat berpihak kepadanya, dia memutar otak dengan menjadi pegawai ayahnya sang gadis.
Dengan bersusah payah dan segala kegigiha akhirnya dari menjadi pegawai rendahan sampai menjadi menantu.
Kisah berlanjut di bab berikut ...
__ADS_1