
"Halo Mommy..apa kabar?"tanya Haikal melalui ponselnya kepada ibunya yang berada di Australia.
"Hello Haikal my dear, Mommy baik-baik saja. How are you son?" tanya balik Ibunya kepada Haikal.
"Sama Mommy aku juga baik-baik saja kok. By the way, aku sekarang mengganggu tidak?"Haikal bertanya lagi.
"Oh No.. im very happy, Mommy bahagia sekali bisa menerima telepon dari anak kesayangan satu-satunya".
"Ada apa nak...apakah kamu sudah berubah pikiran dan menerima tawaran Mommy untuk tinggal di Aussie?".
"Hmmm...tidaklah, aku bukan mau membicarakan itu. Tapi soal rumahnya Mommy yang dua lantai yang di perumahan".
"Ooww...kenapa dengan rumah itu, my dear?".
"Ada teman berminat membeli rumah itu. Apakah Mommy jadi menjual rumah itu?".
"Oh...Ya jual saja, toh Mommy juga tidak akan kembali ke rumah itu. Tidak masalah jual saja kepada temanmu".
"Oke, Mommy mau jual dengan harga berapa?" tanya Haikal lagi.
"Up to you, i don't care about that building. Kamu bisa jual sesuka hatimu dan uangnya sudah untukmu saja".
"Mommy masih berharap Haikal mau ikut tinggal di Aussie. Secara Uncle James juga di sini kan seorang direktur Rumah Sakit, pasti dia mau membantu mu untuk berkarier di sini," Ibunya Haikal mencoba merayu anaknya agar mau bergabung bersamanya.
"No Mommy...terima kasih. Aku sudah nyaman di Indonesia. Dan aku ingin membaktikan diri sebagai dokter di Indonesia saja".
"Ok my Son, tidak apa-apa sayang. Mommy menghormati keinginanmu. Tapi tangan Mommy sangat terbuka bila suatu saat kamu ingin ke Australia".
Mereka mengakhiri pembicaraan, dan ada sebutir air menetes di pipi Haikal.
Sesungguhnya dia juga sangat rindu kepada ibunya, tapi tidak mungkin bagi dirinya untuk bergabung bersama keluarga baru ibunya.
Sekarang Ibunya sudah menjadi istri seorang dokter terkenal di negara Australia sana.
Baik Ibunya maupun ayahnya sama saja, keduanya ingin Haikal ikut kepada salah satu dari mereka.
Ayahnya sangat ingin Haikal ikut dengan dirinya di Papua.
Karena sekarang ayahnya mem punyai usaha pertambangan tembaga di sana.
Tapi dia malas sekali kalau harus berkomunikasi dengan ayahnya.
Luka di hatinya masih melekat kuat, saat itu dia pulang sekolah.
Ayahnya berkantor di rumah yang hendak dibeli oleh Anton.
Waktu itu dia senang sekali karena tim futsalnya menang ketika bertanding dengan sekolah lain.
Sejak dari sekolah dia ingin menceritakan keberhasilan ini kepada ayahnya.
Dia memacu sepedanya dengan sangat kencang karena sudah tak tahan ingin menyampaikan kemenangannya ini.
Sesampainya di halaman kantor ayahnya, dia segera memarkirkan sepedanya dan berlari menuju ruangan ayahnya.
Tapi apa yang terjadi, ketika pintu ruangan kantor ayahnya dibuka, sang ayah tengah berciuman mesra dengan sekretarisnya.
Sekarang sekretaris itu menjadi istri ayahnya setelah resmi cerai dengan ibunya.
Haikal kecewa melihat apa yang ayahnya lakukan, dia membanting pintu dan pergi berlari menuju ke rumahnya.
Waktu itu rumah yang mereka tinggali adalah yang sekarang di sewa oleh Anton.
Setibanya di rumah dia segera berlari memeluk ibunya sambil menangis.
Ibunya bertanya mengapa, tapi dia tak bisa menjawab hanya terus menangis.
Saat itu tak sengaja matanya menatap komputer meja, dan ternyata sebelum dia pulang ibunya sedang melakukan komunikasi video dengan seorang pria asing.
Pria bernama James Wayne, seorang dokter dari Australia.
Haikal segera mendorong ibunya, dan bertanya siapa pria di komputer itu.
Ibunya hanya diam tidak bisa menjawab.
Ternyata sama saja, orang tuanya sama-sama sudah saling mengkhianati.
Dan saat itu bahkan sampai hari ini yang paling merasa terluka adalah Haikal.
Hingga detik ini dia masih belum bisa menerima kalau orang tuanya melukai perasaannya.
Anton datang menghampiri Haikal yang sedang duduk di ruang tunggu Puskesmas.
"Bang, aku sudah mendapat ijin untuk menjual rumahnya kepada abang. Tapi harganya nanti yah Bang. Aku juga sedang nego sesuatu, nanti aku samakan saja dengan apa yang akan aku beli," kata Haikal kepada Anton sore itu.
"Memangnya kamu mau membeli apa sih?" tanya Anton ingin tahu.
"Eeemmm....malu ah...jadi tidak enak hati," kata Haikal sambil senyum-senyum tak jelas.
Anton memutar matanya, merasa aneh dengan Haikal yang sulit sekali ditebak orangnya.
"Hahaha...Bang Anton...Oke deh...aku sedang mengincar Harley Davidson yang seri Touring, kalau modelnya ada dan harga cocok. Maka rumah itu aku lepas dengan nilai yang sama dengan motor yang akan aku beli," Haikal menjelaskan sambil tersenyum kepada Anton.
"Wadaw...harganya berapa boy...itu bisa bikin bangkrut...di luar budget aku dong," Anton menepuk dahinya mendengar penuturan Haikal.
"Tenang Bang...sudah k hitung kok tidak akan sampai membuat Bang Anton berantakan," Haikal geli juga melihat Anton kelihatan terkejut.
"Oke deh bro, eh nanti hari minggu kamu tidur dimana? Selama ini kan di rumah Jaya yah".
"Iya Bang Anton, habisnya kasihan Bang Jaya sendirian jadi aku tidur di rumahnya".
"Hmmm...begini saja nanti sabtu kalian ke rumahku, kamu ajak Jaya sesekali menginap. Hari minggu istriku ulang tahun, mau aku beri kejutan buat dia".
"Siap Bang Anton, nanti aku ajak mister Jaya ke sana. Ya benar sesekali aku ajak dia yah menginap di rumah kakek ".
Rumah kakek Haikal masih di sekitar perumahan yang sekarang ditempati oleh Anton dan Mela.
"Mela sayang, ini aku Miranti. Maafkan daku sayang, bolehkah
aku nanti mampir ke rumahmu.
Aku ingin belajar memakai hijab tapi ingin bisa yang modelnya macam-macam seperti yang kamu selalu lakukan," kata Miranti menelepon Mela di suatu siang.
"Oh tentu saja boleh Mbak, kapan akan kemari? Emangnya tahu rumah kami?"tanya Mela.
"Ya nanti Mela kirim saja alamatnya, sekarang kan banyak taksi online ," sahut Miranti.
"Iya sih, kapan Mbak rencananya ke rumah kami?".
"Mungkin sabtu nanti yah, aku dari Bandung hari sabtu pagi. Nanti setelah menyimpan barang di hotel, aku akan kesana ".
"Baiklah aku tunggu yah mbak".
Hari bergulir, sampailah di hari Sabtu yang ditunggu. Besok minggu Mela akan ulang tahun yang ke kedua puluh tujuh tahun.
Anton sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuk istrinya.
Tapi dia seakan-akan berpura - pura tidak tahu kalau istrinya akan ulang tahun.
Hari Sabtu biasanya suaminya sudah ada di rumah sekitar pukul dua siang, tapi tadi ijin kepada Mela akan ada urusan sebentar.
Yang datang malah Miranti yang berhasil menemukan rumah yang ditempati Mela.
"Akhirnya ketemu juga yah, ayo masuk Mbak. Apakah sudah makan siang ?" tanya Mela ketika Miranti masuk ke dalam rumahnya.
"Oh sudah kok, tadi di hotel saat habis check in. Tapi aku bawa kopernya kemari, karena kain kerudungku banyak di tas ini. Kalau aku bongkar repot lagi sehingga aku bawa saja dulu kemari," kata Miranti menjelaskan kepada Mela karena dia datang sambil membawa kopernya.
"Santai saja Mbak, ayo masuk. Simpan saja kopernya di kamar ini, nanti aku ajari cara memilin dan membentuk kerudung di kepala tanpa harus banyak jarum," kata Mela sambil menunjukkan salah satu kamar yang kosong.
Miranti masuk ke salah satu kamar dan membongkar kopernya mengeluarkan berbagai jenis kain kerudung.
Ada yang berbentuk persegi empat, segitiga, pashmina dan sebagainya.
Mela membuatkan minuman segar untuk Miranti, lalu mereka berdua di kamar itu melihat-lihat berbagai jenis kain kerudung yang dibawa Miranti.
"Aku sudah mencoba berlatih di media sosial, tapi gagal terus. Mungkin tanganku kurang terampil ," keluh Miranti.
"Hahaha...padahal dulu aku juga belajar dari media sosial loh Mbak, tapi entah mengapa aku sih mudah saja meniru nya," ujar Mela sambil tertawa.
Miranti tampak sedih, lalu Mela menghiburnya dengan mengatakan kalau setiap orang pasti punya keahlian berbeda.
Miranti juga membawa jarum untuk mengaitkan kerudung agar kuat seharian menutupi rambut dan kepala.
Mela mulai mengajarkan cara memakai kerudung dari model paling sederhana sampai agak sulit untuk digunakan di acara tertentu.
__ADS_1
"Mbak Miran, setiap orang punya ciri khas dan kenyamanan sendiri kalau memakai kerudung. Sekarang kita coba cari style yang paling cocok untuk mbak".
Miranti sangat gembira dan dia sungguh merasa dibantu oleh Mela dalam menemukan cara memakai kerudung yang terbaik.
"Maaf yah Mbak, rahang mbak lebar jadi saranku untuk menutupinya seperti ini ".
"Yang pasti tetap di dalam kita harus memakai ninja, lalu satu sisi lipat ke dalam. Patokannya tulang pipi yah mbak, tekan pake jari, lalu tarik sisi satunya ke arah berlawanan. Dan tusuk jarum di tengah di bawah dagu".
"Nah mbak terlihat lebih tirus kan wajahnya," Mela mencontohkan dan mengajarkan berbagai cara simpel memakai hijab.
Miranti mematut-matut di depan cermin, memandangi wajahnya terlihat lebih tirus dibanding ketika terbuka.
Sungguh senang hati Miranti bisa mendapatkan tips dari Mela dan dia juga diberikan berbagai tips lain agar berhijab tapi tidak merasa gerah.
Anton dan Jaya sedang duduk di ruang tunggu Puskesmas.
Sebenarnya Puskemas sudah tutup sejak tadi, namun ada yang ditunggu oleh Anton yaitu kiriman kue ulang tahun yang dipesan khusus untuk istrinya.
Sambil menunggu, sudah pasti Jaya mencurahkan isi hati kalau dia sesungguhnya jatuh hati kepada Miranti, bahkan sampai sekarang masih sulit melupakannya.
"Bro, jujur aku sekarang sama sekali tidak punya lagi teman perempuan tidak jelas yang suka aku chat atau telepon. Malas rasanya, sejak aku kenal Miranti semua wanita cantik lain lewat. Tak ada yang bisa menandingi Miranti kalau soal fisik," Jaya terlihat sangat rindu dengan sosok wanita itu.
Tergambar di wajahnya yang terlihat membayangkan Miranti sambil dia bercerita kepada Anton.
"Kamu sudah mengontak dia belum? Percuma kalau cuma hanya membayangkan saja tanpa ada usaha mendekati lagi," sahut Anton dengan ketus.
Jaya memandang Anton sambil memasang wajah memelas.
"Bro, aku tak sanggup...rasanya tak sanggup... Aku takut dia malah menolak saat aku hubungi".
"Hmm...mulut saja besar, hati kecil kayak cacing. Sudah ah cerita yang lain saja, malas aku mendengarnya. Mengeluh terus tapi tidak punya keberanian," Anton mendelik sebal ke arah Jaya.
Jaya menghela nafas, sungguh rasanya ingin sekali menekan nomor telepon Miranti. Tapi entah berat sekali rasanya, rupanya Jaya sudah berpikiran takut ditolak dan sebagainya.
Padahal mencoba saja dia belum, atau sekedar memeberikan tanda suka saat Miranti memposting sesuatu di media sosialnya juga tidak.
Hanya memandangi fotonya sambil merasakan rindu yang menggebu.
"Assalamualaikum, permisi dokter Anton," tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama Anton di pintu utama yang sudah setengah tertutup.
Anton dan Jaya menoleh, ternyata yang datang adalah dua orang pemuda tanggung yang dulu pernah membuat kerusuhan kepada mereka.
"Walaikumsalam, ada yang bisa saya bantu?" tanya Anton dengan keheranan, sementara Jaya bangkit berdiri sambil bersiap-siap antisipasi kalau kedua pemuda itu akan rusuh lagi.
Kedua pemuda tadi sambil tampak ketakutan dan malu, tapi mendekati ke arah Anton.
"Dokter, maaf kedatangan kami berdua mau minta maaf kepada dokter. Kami dulu pernah berbuat salah kepada dokter," ujar pemuda tanggung yang bernama Romi.
"Iya dokter, kami sudah sadar sekarang dan kami sekarang sudah belajar di suatu Balai Pelatihan Kerja, sekarang kami beternak ikan lele dan ikan mujair," Jabrik ikut bicara sambil menyalami dokter Anton dan Jaya.
"Ooh...alhamdulillah, saya ikut senang kalau kalian sekarang sudah bisa usaha sendiri. Dan sekarang kalian juga sudah berubah banyak yah," sahut Anton sambil tersenyum kepada keduanya.
Kedua pemuda tadi tersipu-sipu malu, karena sosok dokter Anton itu sama sekali tidak mempersalahkan kejadian beberapa waktu yang lalu.
Romi dan Jabrik sore itu membawa ikan yang di potong dan dibumbui untuk Anton.
"Dokter, kami belakangan membuka usaha ikan bakar dan goreng. Maaf ini kami mau memberikan kepada dokter, ikan yang sudah kami beri bumbu nanti tinggal di goreng atau di bakar," kata Romi sambil menyerahkan satu kotak besar ikan kepada Anton.
"Wah banyak sekali ini, apakah ini hasil tambak kalian?" tanya Anton sampai terkesima melihatnya.
"Iya dokter, ini hasil tambak kami, dan malam hari kami juga berjualan ikan bakar dan goreng ," Jabrik menjelaskan kepada Anton.
Tentu saja Anton menerima dengan gembira, dan mereka bersalaman saling memaafkan satu sama lain.
Bahkan Anton mengatakan kalau dirinya bangga kepada mereka berdua karena sekarang sudah berani untuk berubah hidupnya menjadi lebih baik.
Keduanya pamit dan Anton mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua atas pemberiannya.
"Wah ada yang habis dapat rejeki nih ," kata Trisno karyawan bagian IT yang tiba-tiba hadir di ruangan itu.
"Ya, barusan ada yang mengirim ikan sebanyak ini. Tentu saja saya senang sekali," sahut Anton sambil tersenyum lebar.
"Dokter sedang menunggu Kue Ulang Tahun yah untuk istrinya," ujar Trisno lagi kepada Anton.
"Hmm iya benar, kok kamu tahu?".
"Tahu dong, kan dokter pesan lewat media sosial. Pesan ke Lovely Bakery, bukan?...itu kan pacar saya dok," kata Trisno sambil senyum.
Anton dan Jaya terhenyak kaget karena baru sekali ini melihat sosok Trisno tersenyum.
Gaya berdandannya mirip Miranti masa lalu, cuma ini lebih heboh lagi. Roknya mini sekali dan pakaian atasannya juga terbuka.
Walau masih muda belia, tapi bentuk body nya sangat dewasa sekali. Bagian dada dan belakangnya juga luar biasa sangat menggoda iman kaum pria.
Pasti pria yang memandang akan meleleh kalau berpapasan dengan gadis berdandan demikian.
"Hai sayang, udah lama nunggu yah," kata gadis itu kepada Trisno, suaranya sangat manja menggoda.
"Tidak juga kok sayang, eh..ini dokter Anton yang memesan kue padamu ," sahut Trisno sambil mengenalkan pacarnya kepada Anton.
Jaya juga tak mau kalah, dia segera bangkit dan ikut bersalaman dengan gadis itu.
Sang gadis senyum saja malu-malu sambil tangannya menggelayut ke lengan Trisno.
"Ini pesanan kue nya yah dokter, semoga berkenan dan kalau puas bisa pesan lagi kepada Lovely ," gadis itu berkata manja sambil mem berikan pesanan kue nya kepada Anton.
"Sayang, kamu pulang sama aku kan?" tanya Lovely kepada Trisno.
"Ya aku tidak bawa kendaraan kok, sebentar yah tunggu di depan nanti aku yang menyetir," jawab Trisno sambil mengedipkan mata kepada pacarnya.
Lalu Lovely pamit kepada Anton, kemudian dia berlari- lari kecil menuju mobilnya.
"Wah hebat Trisno bisa dapat yang cantik dan seksi seperti itu," ujar Anton sambil mengacungkan jempolnya.
Jaya diam-diam saja tapi terlihat wajahnya kesal karena kalah telak dari Trisno yang suka dia ejek.
"Masa sih secantik dan seseksi itu mau dengan mu?" tanya Jaya sambil mencibir ke arah Trisno.
"Iya dong Bang, makanya sering - sering nonton anime, biar dapat inspirasi cewek cantik sesuai keinginan ," Trisno meledek Jaya sambil menepuk bahunya lalu dia keluar dari pintu Puskesmas.
Jaya merasa sebal sekali, dan Anton tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Trisno kepada Jaya.
Entah benar Lovely itu kekasih Trisno atau bukan, yang pasti sekarang Jaya dongkol sebentar gunung karena dia kalah saing dengan Trisno.
Disepanjang jalan Anton terus mentertawakan Jaya, selama ini Jaya selalu meledek Trisno yang serius di depan komputer.
Dipikirnya orang seperti Trisno tidak akan bisa punya pacar yang cantik, tetapi ternyata kenyataan berkata lain.
Pacar Trisno sangat muda, cantik dan luar biasa seksi.
Hari ini rencananya Jaya akan menginap di rumah Haikal, dan kebetulan rumahnya dekat dengan tempat tinggal Anton.
Sebelum menuju ke kediaman Anton, mobilnya yang dikemudikan oleh Jaya berbelok dulu ke rumah Haikal.
Anton menitipkan ikan dan kue untuk istrinya besok ulang tahun.
Rencananya lewat jam dua belas tengah malam nanti, Anton akan memberi kejutan kepada istrinya.
Setelah menyimpan kue dan ikan, juga pakaian Jaya lantas mereka segera menuju rumah yang ditinggali Anton.
Haikal naik motor sehingga dia tiba duluan di halaman rumah, lalu dia segera membuka pagar dan masuk ke halaman.
Mela yang sedang mengajari Miranti terkejut ada orang masuk halaman, lalu dia mengintip dari balik tirai jendela.
Ketika dilihatnya ada Haikal, malah dia menyuruh masuk saja karena sudah kenal dan tahu pasti Haikal menunggu suaminya.
Lantas Mela kembali ke kamar tadi meneruskan pelajarannya dengan Miranti.
Tak lama terdengar mobil Anton tiba, tapi tidak dimasukan ke dalam garasi hanya disimpan di halaman saja.
Pikir Mela mungkin suaminya nanti akan pergi dengan Haikal.
Di luar terdengar suara pria sedang bercakap-cakap sambil tertawa riang.
Rupanya Anton menceritakan tentang Trisno tadi kepada Haikal, sehingga membuat Haikal juga ikut mentertawakan Jaya.
Anton tidak sadar di depan garasi ada sepasang sepatu yang bukan milik istrinya.
Kemudian Anton mengajak Jaya dan Haikal masuk ke rumahnya.
"Assalamualaikum, Mi...ada dimana ?" panggil Anton kepada istrinya.
"Walaikumsalam, sebentar Pi !!" teriak Mela dari dalam kamar.
__ADS_1
Jaya dan Haikal masuk ke ruang makan, mereka langsung saja duduk di sana.
Haikal dengan cueknya membuka lemari es dan ternyata ada sirup, lalu dia membuat minuman segar untuk dirinya dan Jaya.
Mela baru selesai merapihkan kerudung Miranti, lalu dia mengajaknya untuk bertemu dengan suaminya.
Ketika melihat di depan kamar ada Jaya dan Haikal yang sedang duduk di ruang makan sambil minum dan memakan cemilan yang ada di sana.
Mela langsung mencari suaminya dan ternyata ada di dalam kamar sedang berganti pakaian.
Anton diberitahu Mela bahwa sedang ada Miranti bertamu dalam rangka belajar memakai kerudung kepadanya.
Tentu saja Anton kaget, dia segera menarik tangan istrinya ingin tahu di depan kamar apa yang terjadi saat Jaya bertemu dengan Miranti.
Jaya sedang asik mengunyah keripik bayam buatan Mela, sambil mengoceh ngalor ngidul dengan Haikal.
Miranti keluar dari kamar yang barusan dia pakai untuk belajar memakai kerudung bersama Mela.
Ketika dia di depan pintu kamar tentu saja dia terkejut karena ada sosok Jaya, si pria yang dia rindukan selama ini.
Kebetulan Jaya duduknya membelakangi kamar itu jadi dia tidak paham ada Miranti.
"Jaya...!?"panggil Miranti.
Saat itu Jaya sedang minum dan dia menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Ketika dilihat ada Miranti, seketika dia batuk tersedak sampai air minum yang di mulutnya keluar semua.
Haikal menghindar sampai berdiri karena jijik dengan muntahan air dari mulut Jaya.
"ASTAGFIRULLAH !!!" teriak Jaya seperti melihat sosok setan.
Miranti juga menjadi terdiam sambil menatap heran ke arah Jaya.
"Miranti...,"ucap Jaya pelan sambil berdiri dan kakinya gemetar melihat wanita yang selama ini dia rindukan juga ada di hadapannya.
Anton dan Mela mengintip dari pintu kamar seberang sambil cekikikan melihat Jaya.
Haikal juga segera menghindar dari situ, memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk saling menyapa.
"Hai...apa kabar Miranti?"sapa Jaya dengan terlihat wajahnya panas memerah.
"Hai Jaya, kabar baik. Apa kabarmu?" Miranti bertanya balik sambil tangannya memberi salam di depan dadanya.
Jaya terpesona dengan penampilan Miranti yang berhijab, hatinya tak karuan semua perasaan bercampur aduk.
Rindu, senang, cinta dan lain sebagainya , namun ada juga rasa takut kalau Miranti akan menolak dirinya.
Mela tiba-tiba menyelonong sambil membawa kain pel, dan mengepel lantai yang basah barusan dengan kakinya lalu dia kabur lagi.
Miranti malu-malu saat Mela dan Anton menggodanya untuk duduk disamping Jaya.
"Nah kan ini orangnya sudah ada dihadapan, ayo dong langsung saja nih. Mau aku panggilkan penghulu sajakah biar sekalian beres ," Anton menggoda sahabatnya yang terlihat sedang salah tingkah.
Jaya senyum-senyum tapi tak bisa berkata apapun.
Mela kemudian beranjak ke dapur mempersiapkan makan malam untuk para tamu.
Miranti melihat Mela sibuk di dapur, maka dia pamit kepada Jaya untuk membantu Mela.
Ternyata Miranti juga pandai memasak, dia membuat cap cay ala Miranti.
Karena Miranti sudah mengolah sayuran, maka Mela mengolah gorengan dengan membuat perkedel tahu.
Walau sederhana masakan mereka tapi dijamin pasti akan menggoyang lidah para pria yang sedang berbincang di rumah makan.
Anton dan Haikal terus menggoda Jaya, sementara Miranti di dapur juga sesekali digoda oleh Mela.
"Mbak, jadi bagaimana nih. Kalau misalkan malam ini oom Jaya menyatakan cinta?"tanya Mela sambil mengulek cabai hendak membuat sambal kecap.
"Kok panggilnya Oom Jaya sih...bukannya mas Jaya saja?" Miranti malah bertanya yang lain.
"Ih Mbak tuh yah, aku tanya apa malah balik tanya deh," sahut Mela sambil sebal.
Miranti cuma cekikikan saja sambil terus memasak sayurannya.
Akhirnya semua matang dan siap dihidangkan, Mela menyediakan piring dan mengisinya dengan nasi dan sayuran untuk suaminya.
Miranti juga demikian, dia melayani dulu makanan untuk Jaya.
Betapa senangnya hati Jaya, apalagi ketika Mela berkata kalau cap cay nya buatan Miranti, dia makan dengan penuh kebahagiaan.
Setelah semua selesai makan malam dan setelah semua piring kotor sudah dirapihkan, Jaya mengajak Miranti berbincang di depan teras rumah Anton.
Sementara Anton dan Haikal sibuk bermain play station berlomba permainan balap motor GP.
Mela kesal sendirian tapi dia tidak mempermasalahkan, akhirnya Mela mencari kesibukan dengan memeriksa pesanan kosmetik.
Setelah selesai dan ternyata keadaan masih sama, lantas dia mengambil benang rajutnya lalu melanjutkan merajut taplak meja.
Tak terasa waktu merangkak, jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.
Mela mulai merasa mengantuk, dan tak lama Miranti juga pamit untuk pulang ke hotel. Jaya meminjam mobil Anton untuk mengantarkan Miranti.
Sambil Miranti pamit kembali ke hotel bersama Jaya, bersamaan dengan itu Anton juga pamit sebentar ke rumah Haikal.
Mela sendirian di rumah, dan dia segera masuk ke dalam kamar.
Di depan rumah Anton malah meminta Miranti menginap di rumahnya saja, karena nanti tengah malam dan juga besok ada acara ulang tahun Mela.
Miranti bingung tapi Jaya dan Haikal bahkan Anton memintanya untuk bergabung di acara ulang tahun istrinya.
Mereka berempat naik mobil Anton dan hanya berkeliling- keliling saja sambil menunggu tengah malam.
Menjelang tengah malam, setelah kue diambil dari rumah Haikal lalu mereka berempat segera menuju kediaman Anton.
Miranti yang memegang kotak kue, sementara Anton segera mematikan listrik dari box utama panel listrik.
Mela sedang tidur, tapi lama-lama dia merasa gerah karena AC nya mati dan ketika membuka matanya semuanya gelap.
Lalu dia meraba-raba mencari ponselnya dan menyalakan lampu senternya.
Ketika dia membuka kamar, tenyata benar semua gelap. Suaminya juga belum pulang, dia tidak tahu jam berapa saat itu.
Dari arah garasi dia mendengar suara seperti ada orang disana.
"Pi...Pi....apakah Pi sudah pulang?!" Mela memanggil suaminya.
Mela berpikir mungkin ada pencuri mencoba masuk, lalu dia merayap menuju dapur dan mengambil wajan.
Lalu berjingkat-jingkat menuju garasi sambil tangannya memegang wajan untuk dia pukulkan ke pencuri.
Anton sedang memunggungi pintu yang menghubungkan pintu garasi dengan ruangan dalam rumah.
Jantung Mela berdebar ketika melihat ada sosok tinggi besar berdiri membelakangi dirinya.
Seketika Mela memukulkan wajan ke kepala orang itu dan seketika rubuh ke lantai.
Miranti menjerit, lalu Jaya segera menyalakan listrik dari panel. Haikal segera memeriksa kondisi Anton yang pingsan, Mela menangis sejadi-jadinya ketika tahu dirinya telah menghantam suaminya sampai pingsan.
Haikal dan Jaya menggotong Anton dan meletakkannya di atas sofa.
"Aku tidak tahu kalau itu kamu Pi....huhuhuhu," Mela menangis merasa bersalah.
"Tadinya dokter Anton mau memberikan kejutan kepadamu sayang. Tapi malah jadi begini, ini buktinya kue ulang tahunnya," Miranti menjelaskan perihal kejadian yang seharusnya.
"Sudahlah yang penting sekarang kita bawa saja dokter Anton ke rumah sakit. Aku khawatir terjadi sesuatu lagi dengan kepalanya ," ujar Haikal yang tampak khawatir karena dokter Anton belum juga sadar.
Sebenarnya Anton sudah sadar, hanya dia ingin mengerjai istrinya lagi. Padahal kepalanya tidak apa-apa, karena tadi Mela menghantam punggungnya bukan kepalanya.
Anton hanya pura-pura pingsan saja agar terlihat sangat dramatis, tapi lama-lama dia tidak tahan juga dan kasihan melihat Mela menangis terus sampai sesenggukan.
"Bro ngapain mau bawa aku ke rumah sakit, aku kan tidak apa-apa," Anton berkata sambil matanya terpejam.
"Pi....Pi....sudah sadarkah Pi...!!!" seru Mela sambil mengguncang tubuh suaminya.
Lalu Anton meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Selamat ulang tahun istriku sayang, semoga selalu bahagia menjadi bagian hidupku".
Mela tambah menangis di pelukan suaminya, sementara teman-temannya tertawa melihat kelakuan mereka.
Anton segera bangun, lalu menyalakan lilin yang ada di atas kue ulang tahun.
__ADS_1
Kue tart berwarna merah muda berbentuk bunga membuat hati Mela merasa bahagia.