
"Istri Bapak hamil, jadi kami rujuk langsung ke dokter Obgyn yah," kata dokter umum di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Ibu dan Anak yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman mereka.
"Baik dokter, terima kasih ," sahut Anton lalu dia menatap istrinya yang berbaring tapi masih terlihat kebingungan.
"Pi...apa benar aku hamil?" tanya Mela tak percaya.
Anton menggenggam tangan istrinya, lalu mengelus pipinya.
"Ya sayang, Mi hamil dan aku tak tahu hal itu. Maafkan aku Mi sayangku," kata Anton merasa bersalah karena tidak tahu sejak awal kalau istrinya hamil.
"Aku juga minta maaf Pi, aku juga tak paham kalau aku hamil," kata Mela sama dia juga merasa salah karena tak paham kondisi dirinya sendiri.
Anton mengecup kening istrinya, lalu kembali menggenggam tangan istrinya sambil mendekatkan ke hidungnya dan menghirup berkali-kali tangan lembut dan halus itu.
"Pak, maaf istrinya kami bawa dulu yah ke ruangan Obgyn. Silahkan Ibu Melati duduk di kursi roda. Mari saya bantu, " kata seorang perawat yang datang sambil membawa kursi roda.
Anton dan perawat itu membantu Mela duduk di kursi roda, kemudian mendorongnya menuju ruangan praktek dokter Ahli Kandungan.
Perawat tadi menghentikan kursi roda yang diduduki Mela di depan sebuah pintu yang bertuliskan "Dhani Ramlan, SPOG"
"Pi sini...,"Mela memanggil suaminya lalu berbisik.
"Pi... kalau SPOG itu apa sih, lalu Obgyn tadi yang disebutkan perawat itu apa juga?" Mela bertanya dengan polos.
"SPOG itu dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi alias dokter ahli kandungan, dan Obgyn itu singkatannya," Anton menjelaskan kepada istrinya.
"Pi... tapi itu nama dokternya laki-laki, aku malu nantinya. Aku ingin dokternya perempuan,"bisik Mela lagi saat dia melihat nama yang tertera di pintu.
Anton lantas melihat nama yang tertera di pintu itu ,"Dhani Ramlan ?? Apakah benar dia?? ..semoga saja benar....".
"Sudah Mi tak usah takut, kan ada aku menemani ke dalam," ujar Anton menenangkan istrinya.
Dalam hati Anton berharap semoga nama Dhani Ramlan adalah benar seseorang yang pernah dia kenal di masa dulu kuliah.
"Silahkan masuk Ibu Melati," kata Perawat tadi sambil membantu Anton yang mendorong kursi roda yang diduduki Mela.
Di dalam terlihat seorang dokter wanita berhijab yang memiliki paras yang cantik.
"Selamat malam dokter Dhani Ramlan," sapa Anton ketika melihat ternyata yang dia harapkan adalah benar adanya.
"Selamat malam...eh....hahaha...
Unpas yah...,"sambut dokter Dhani sambil terkejut melihat Anton.
"Iya dokter Dhani...aku adik tingkat," balas Anton lagi.
"Eh iya...kamu kan...yang dulu... hahahahahha....Ya Allah...dunia sempit banget yah...hahahahha," dokter Dhani malah tertawa ketika melihat Anton dan sepertinya ingat sesuatu.
"Iya benar...hahahaha....,"Anton malah membalas dengan tertawa lagi.
"Wah...luar biasa yah... sekarang praktek di kota ini juga?"tanya dokter Dhani lagi kepada Anton dan Mela hanya senyum-senyum bingung melihat mereka berdua.
"Iya dok, tapi aku masih di umum belum SP...hahahaha," sahut Anton lagi.
"Tak apalah, sama saja, mau umum atau SP kan pekerjaan kita sama mengobati orang...hahahaha," sahut dokter Dhani lagi sambil tetap tertawa lebar.
"Eh iya namamu siapa yah, lupa?".
"Anton".
"Oh iya...hahahaha...eh...jangan panggil aku dok lah...panggil nama saja atau dulu kamu panggil aku apa".
"Mbak Dhani Macho...hahahah".
"Hahahaha...iya yah itu nama panggilan aku...hahahah... jangan disebutin dong Macho nya....malu tahu...hahahah".
Kembali Anton dan dokter Dhani tertawa-tawa, dan Mela jadinya dikacangin.
"Eh iya...ini istrimu yah...Ibu Melati Sekar Wangi...wow keren namanya," kata dokter Dhani sambil membaca datanya Mela yang tertera pada lembar kertas data pasien.
"Apa keluhannya?".
"Begini Mbak Dhani, tadi istriku jatuh dan ketika aku periksa ternyata hamil. Kacaunya aku baru tahu dia hamil barusan saja ketika jatuh," Anton menjelaskan kondisinya Mela.
"Ya ampun Anton...hahahah...
kemana saja kamu...hahahah...
istri hamil sampai tak tahu. Ini kehamilan yang keberapa?".
"Pertama dong Mbak".
"Saya periksa dulu yah, sus tolong dong pasien dibaringkan dan siapkan peralatan".
Perawat membawa Mela dan membantunya berbaring ke atas tempat berbaring pasien.
Dokter Dhani memeriksa perut Mela dan meraba sambil menanyakan apakah ada yang sakit.
"Tadi sakit sebelah bawah sini ketika sehabis jatuh, sekarang tidak sakit cuma seperti linu," Mela menerangkan apa yang dia rasakan.
Lalu dokter Dhani memeriksa perut Mela dengan alat Ultra Sonografi untuk memastikan kondisi bagian dalam kandungannya.
"Janinnya tidak apa-apa, hanya mungkin rahimnya ada sedikit trauma benturan di bagian bawah...eh...Anton sini...!!!".
Anton mendekat dan melihat ke arah monitor yang tengah memperlihatkan keadaan kandungannya Mela.
"Ini anakmu nih...masih kecil sekali, dia sehat kok sekarang usianya lima minggu. Sakit perut tadi karena trauma benturan saja di dinding rahim tapi janinnya baik-baik saja," dokter Dhani menerangkan sambil memutar-mutarkan alat di atas perut Mela.
"Ya Allah...Alhamdulillah... Mbak aku minta cetak USG nya yah," kata Anton sambil terpana melihat ada wujud kecil mungil di dalam rahim istrinya.
Mela terharu sampai menitikkan air mata, dia merasa bahagia dan tak menyangka ada satu kehidupan lagi sekarang di dalam tubuhnya.
"Baik- baik saja kok, tapi kalau khawatir nanti diberikan penguat rahim dan juga vitamin. Dan Ibu Melati harus minum susu juga yah, susu ibu hamil untuk kesehatan ibu dan juga janinnya".
"Urusan makanan dan lainnya sih Anton tahulah...Ya kan bro...eh iya...kalau berkunjung jangan terlalu heboh yah... santai saja yah bro... hahahaha," dokter Dhani bisa saja menggoda Anton.
Anton hanya tersipu-sipu, saat digoda oleh kakak tingkatnya itu.
"Nanti bulan depan saja periksa lagi kemari, kecuali ada keluhan lain bisa sewaktu-waktu datang untuk periksa. Nanti harus rajin minum susu, vitamin dan jangan lupa boleh bergerak tetapi jangan berlebihan karena usia kandungan masih sangat rawan".
"Makasih Mbak Dhani, pasti aku jagain nih istriku,"ujar Anton sambil memandang istrinya.
"Eh iya dulu gosipnya angkatanmu ada yang kecelakaan sampai di amputasi, tapi sekarang tetap jadi dokter. Kamu tahu tidak siapa sih?"tanya dokter Dhani kepada Anton.
Anton tersenyum sambil jari telunjuknya ditunjukkan ke arah hidungnya.
"Oh kamu...walah...coba lihat mana kakimu".
Anton menyingkap celana panjang kirinya sambil memperlihatkan kaki prostetik yang dikenakannya.
"Wah luar biasa...semangat yah bro...aku kagum sama kamu".
Setelah berbincang lain lagi sebentar, kemudian Anton dan Mela pamit. Anton membayar biaya konsultasi dan juga sekalian menebus semua resep yang harus dikonsumsi istrinya.
Disepanjang jalan menuju rumah, Anton bercerita dulu ketika dia masih menjadi mahasiswa baru dikerjai oleh kakak tingkat.
__ADS_1
Disuruh mencari kakak tingkat bernama Dhani Ramlan dan harus sampai mendapatkan tanda tangan atas nama tersebut.
Seharian Anton mencari kakak tingkat lelaki yang bernama itu, dari yang memakai tanda pengenal sampai yang tidak dia cari satu per satu.
Habis-habisan dia dikerjai seharian di ping-pong ke sana- sini karena belum juga menemukan kakak tingkat lelaki yang bernama itu.
Baru menjelang sore hari dia menemukan kakak tingkat perempuan memakai tanda pengenal panitia, dan disitu tertera namanya Dhani Ramlan.
Ternyata itu nama kakak tingkat perempuan, dan bukan hanya Anton saja waktu itu yang menjadi korban.
Banyak teman seangkatan lainnya juga yang terjebak dengan nama itu.
Dan sialnya setelah bertemu bukannya segera ditanda tangan buku ospeknya, malah Anton masih disuruh joget tanpa musik dan lagu di lapangan karena dianggap lambat mencari pemilik nama tersebut.
Mela tertawa terbahak-bahak mendengar cerita suaminya, pantas tadi di dalam ruang praktek dokter Dhani antara Anton dan dokter seperti menyimpan suatu cerita sambil tertawa-tawa.
Hampir saja Mela menyangka dokter Dhani adalah salah satu mantan kekasih suaminya, tapi ternyata lain lagi ceritanya.
Haikal melihat Anton terburu- buru membawa istrinya ke rumah sakit, dia menjadi tidak enak hati sendiri.
Andai saja dia tadi tidak datang untuk menemui Aprilia tentu tidak akan ada kejadian- kejadian seperti tadi.
Tapi dia tidak bisa membohongi diri dan hatinya, dia memang sudah jatuh cinta kepada Aprilia.
Walaupun dia bukan gadis yang pandai mengerjakan urusan yang berhubungan dengan masalah perempuan, tapi dia suka dan cinta dengan gadis tomboy itu.
Semua gaya dan tingkah gadis itu, keluguan dan kepolosannya membuat Haikal tak bisa pindah lain hati.
Tidak harus memiliki pasangan yang serba pandai tapi justru menemukan wanita dengan segala kekurangannya yang bisa membuat hati Haikal nyaman.
"Den Haikal yang sabar yah," kata Eti mendekati Haikal yang duduk termanggu di teras rumah kediaman Anton.
Haikal tidak menjawab, pikirannya kalut, hatinya hancur.
Dia memikirkan apa yang akan terjadi dengan Aprilia selanjutnya.
Ingin rasanya dia mengejar mobil Isman dan merebut kembali Aprilia lalu membawanya pergi entah kemana.
"Mbak Eti, aku pamit dulu yah. Sampaikan maaf kepada Pak Anton dan Ibu Mela. Terima kasih yah Mbak,"ujar Haikal dengan wajah sangat kusut.
"Iya...iya...Den...Ya Allah...Den...
Eti sedih Den....sabar yah...,"sahut Eti sambil ikut berkaca-kaca.
Haikal kemudian mengeluarkan motornya, lalu melaju kencang entah kemana.
Eti masih menunggu Mela dan Anton pulang ke rumah, dia juga ikut khawatir dengan kondisi Mela
Tak lama Anton dan Mela kembali, Mela sudah tidak kesakitan lagi seperti tadi.
"Ya Allah Bu Anton...bagaimana kondisi Ibu?"tanya Eti sambil menyambut kedatangan Mela.
"Mbak Eti, Alhamdulillah...saya hamil Mbak...," ujar Mela dengan senang ketika turun dari mobil.
"Halim...eh...hamil...Alhamdulillah...benarkan kata Eti juga apa...berarti Eti tidak sok tempe kan," Eti merasa ikut bahagia mendengar Mela hamil.
"Mbak Eti, saya nanti minta bantuan Mbak yah, kalau misal saya belum pulang kerja, nanti Mbak Eti jangan pulang dulu. Kalau saya keluar kota juga kalau bisa Mbak Eti menginap saja disini, bawa anak-anaknya Mbak juga tidak apa-apa," kata Anton kepada Eti.
"Iya...eh...iya...siap pak...siap...
Eti laksanakan...eh....laksanakan," kata Eti seperti biasa muncul latahnya.
Anton geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Eti.
"Ya itu tadi Den Haikal ngebut...eh iya...ngebut kabur pak Anton...Eti khawatir," Eti memberitahukan soal Haikal pergi mengebut.
Anton mencoba menghubungi ponsel Haikal, tapi tidak diangkat.
Sungguh Anton khawatir kalau sampai Haikal berbuat bodoh seperti dia jaman dulu.
Saat ini dia hanya bisa mendoakan semoga anak muda itu bisa berpikir positif agar tidak berpikiran pendek yang bisa merugikan dirinya sendiri.
Malam itu Haikal berdiam sendiri di atas bukit, dia ingin memenangkan hati dan pikirannya.
Keesokan harinya Anton melihat hasil cetak USG kandungan istrinya, dan dia mengelus-elus foto itu sambil berharap ingin segera kandungan istrinya besar dan anaknya lahir ke dunia.
Sementara di tempat lain, tepatnya di kediaman Anita dan Fajar, terlihat Ibu Aryani sedang mendengarkan adiknya mencurahkan isi hati dan seluruh kekesalannya melalui ponselnya.
Versi Ibu Cahyani, Anton dan Mela mendukung Aprilia menjalin kasih dengan teman kantornya Anton yang cuma seorang pegawai rendahan.
Ibu Cahyani begitu kesal sekali karena Anton dan Mela seakan mengajarkan agar anaknya selingkuh dari Isman.
Tentu saja Ibu Aryani mendengar nama anak dan menantunya disebut berkelakuan buruk membuat emosinya terpancing.
Ibu Aryani juga ikut kesal atas penuturan adiknya itu, lalu setelah menutup ponselnya dia bergegas mencari Anita.
"Nita!!!!...Anton benar-benar keterlaluan membuat malu Mamah. Barusan Mamah Cahyani menelpon memberitahukan kalau Anton dan Mela sudah mengajarkan yang tidak baik kepada Apri," Ibu Aryani menuturkan kepada Anita sambil emosi.
"Masa sih, rasanya tidak mungkin Anton dan Mela sampai berbuat begitu. Aku tak percaya," sahut Anita tidak terima dengan cerita itu.
Lalu Ibu Aryani menceritakan apa yang didengarnya dari Ibu Cahyani, dan Anita tidak percaya atas apa yang dia dengar
Sedang mereka Ibu dan anak itu berdebat, tiba-tiba Anton menelepon video kepada Anita.
"Nah kebetulan Anton menelepon video, mari kita tanyakan," kata Anita mengajak ibunya untuk menerima panggilan itu.
"Ya Anton, ada apa?"tanya Anita.
Ibu Aryani masih tampak cemberut karena masih kesal mendengar cerita adiknya tadi.
Anton tidak menjawab, tapi dia malah memperlihatkan foto hasil cetak USG semalam kepada kakaknya.
"Apa itu?"tanya Anita sambil mengamati gambar yang sedang dipegang oleh adiknya itu.
"Ayo tebak," kata Anton kepada kakaknya.
"USG yah...hasil USG yah...Mela hamil...Mamah....Mela hamil Mah!!!"
Anita berteriak kegirangan.
"APA!!!!....Mela hamil...mana lihat," Ibu Aryani terkejut dan langsung lupa kalau dia sedang marah.
Ibu dan anak itu jadi kegirangan sekali, mereka malah tertawa - tawa dan lupa dengan masalah Aprilia dan Ibu Cahyani.
"Mana Mela, Mamah mau bicara".
Lalu Anton membawa ponselnya ke tempat tidur, Mela sedang berbaring untuk sementara karena kemarin habis jatuh jadi sementara dia tidak boleh banyak bergerak dulu.
Anton menceritakan kepada Ibunya perihal kehamilan Mela sampai semalam dia jatuh karena tak sengaja terdorong oleh Ibu Cahyani.
"APA!!!...Waduh...Cahyani gila, menantuku didorong!!!...Lalu bagaimana kondisi Mela sekarang?"Ibu Aryani kembali merasa emosi tapi sekarang marahnya lain dengan tadi.
Beliau emosi, karena menantunya yang sedang hamil semalam terjatuh karena di dorong Ibu Cahyani.
"Sudah mendingan Mamah, cuma dokter bilang Mela tidak boleh banyak bergerak dulu," sahut Mela menjawab pertanyaan mertuanya.
__ADS_1
"Wah...Sudah besok Mamah dan Papah ke Cirebon. Nanti diantar oleh sopir saja, kecuali Fajar mau mengantar," kata Ibu Aryani yang penasaran dengan kondisi Mela.
Kebetulan Fajar baru saja tiba ke dalam rumah setelah mengantarkan ayah mertuanya membeli sesuatu.
"Fajar, besok antar Mamah dan Papah ke Cirebon, Mela hamil dan dia semalam jatuh karena didorong oleh Mamah Cahyani. Awas saja kalau sampai menantuku kenapa-napa," kata Ibu Aryani dengan wajah gemas dan kesal.
Fajar hanya bisa mengiyakan, mau bagaimana lagi mertua sedang emosi, kalau ditolak pasti akan menjadi hari yang panjang dan kelabu.
"Bang Ruslan, tadi malam Aprilia si perempuan bodoh sudah dibawa ibunya pulang. Tampaknya bisa kita jadikan umpan agar Septa mau tanda tangan," kata Isman menelepon kakaknya.
"Hahahaha....siap...bagus sekali
semoga rencana kita dilancarkan dan kita bisa meraup uang yang banyak...hahahaha," Ruslan merasa senang merasa didukung semesta untuk kelancaran penipuan terhadap Septa.
Haikal bangun tidur tengah hari, dia dari tadi malam pergi berkeliling kota sampai pagi hari.
Setelah itu dia lelah dan tertidur di karpet lantai kamarnya sampai siang hari.
Dia terduduk di lantai, masih berpakaian lengkap yang tadi malam di gunakan ke rumah Anton.
Bahkan sepatunya juga belum dia lepaskan, lalu dengan rasa berat dia bangkit melangkah keluar kamar tidurnya.
Dilepaskannya sepatunya, kemudian dia masuk lagi ke kamarnya dan masuk ke kamar mandi.
Dia berdiri di bawah pancuran shower kamar mandinya, wajah Aprilia masih membayang lekat di pikirannya.
Dengan handuk masih melilit tubuhnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi lalu dia berjalan mengambil benda tersebut yang tergeletak di tempat tidur.
Nomor tak dikenal, tapi dia tetap menjawabnya.
"Haikal, ini tante Siska...mau memberitahu kalau Papih mu sekarang sudah tidak berdaya. Dia ke serangan stroke, usahanya bangkrut. Rumah di Papua sudah aku jual".
"Papih dimana sekarang?"tanya Haikal dengan nada dingin.
"Sekarang Papihmu sudah aku buang, dia aku simpan di rumah pegawai. Aku tak mau mengurusi Papihmu, sudah miskin, penyakitan".
"Aku nanti mau pulang ke sana dua minggu lagi, rumah besar itu akan menjadi milikku. Aku masih istri sah Papihmu, jadi kamu angkat kaki dari rumah itu".
"Nanti aku tiba di sana, aku tak mau melihat batang hidungmu. Aku berhak atas rumah besar itu dan aku berhak atas harta Papihmu yang masih ada di sana," kata Siska istri kedua ayahnya yang ternyata memang seorang wanita materialistis.
Jadi selama ini dia tak pernah cinta kepada ayahnya Haikal, yang dicintai adalah hartanya saja.
Usaha ayahnya di Papua bangkrut karena istrinya itu gemar berfoya - foya saja tanpa peduli kepada suami.
Membeli barang branded, berpesta pora, jalan-jalan terus ke luar negeri dan hidupnya hanya menghabiskan uang ayahnya Haikal.
Terakhir perusahaannya digadaikan kepada sebuah Bank untuk modal usaha.
Tapi ternyata istrinya tahu dan uang itu dihabiskan untuk berfoya-foya tidak karuan.
Akhirnya usahanya bangkrut disita oleh Bank, ayahnya putus asa lalu tekanan darah tinggi naik sehingga jatuh pingsan dan sekarang menderita stroke.
Istrinya mengetahui suami jatuh sakit bukannya berbakti merawat tetapi malah berusaha ingin meninggalkan dan tak mau peduli lagi.
"Aku tak masalah, terserah tante Siska saja. Ambillah semua yang tante mau, aku tak peduli lagi," kata Haikal merasa sakit hati mendengar wanita yang sudah merusak rumah tangga orang tuanya sekarang menelantarkan ayahnya yang jatuh sakit.
"Aku hanya minta nomor kontak orang yang mengurus Papih. Aku ingin tahu kondisi Papih sekarang," tanya Haikal kepada ibu tirinya itu.
"Nanti aku berikan, yang pasti aku sudah menyampaikan kondisi Papihmu dan aku juga sudah menyampaikan apa keinginanku".
Lalu Haikal menutup ponselnya, mengakhiri pembicaraan dengan wanita berhati busuk itu.
Tak lama ada kiriman nomor kontak dari Siska, lalu Haikal menghubungi nomor itu.
Haikal menangis saat melihat ayahnya berbaring di sebuah rumah sederhana.
Tangan dan kaki kanannya lumpuh, bicarapun tak jelas yang pasti intinya ayahnya meminta maaf kepada Haikal.
"Papih...sabar yah nanti Haikal ke sana, Haikal yang urus Papih. Jangan patah semangat, Papih harus yakin bisa sembuh," kata Haikal sambil berurai air mata melihat kondisi ayahnya.
"Pak Timo, maaf saya minta nomor rekening Bank. Saya mau kirim uang untuk pengobatan Papih dan juga untuk membantu keluarga Bapak,"ujar Haikal kepada Pak Timo pegawai setia ayahnya yang sekarang merawat ayahnya.
"Nak Haikal, pak Bambang baik- baik saja di sini, hanya kondisinya masih belum bisa bicara. Tapi kami rawat beliau, karena ibu Siska malah pergi meninggalkannya," kata Pak Timo yang begitu baik merawat Bambang Subrata ayah dari Haikal Subrata.
"Terima kasih pak Timo, nanti saya kirim sedikit uang. Dan nanti saya akan ke sana merawat Papih. Mohon maaf kami merepotkan pak Timo".
"Tidak repot nak, kita semua bersaudara. Pak Bambang orang baik, kami banyak hutang budi atas kebaikan beliau. Jangan sungkan kepada kami nak," sahut pak Timo dengan senyum lebar dan ramah.
Timo Rambai adalah orang asli Papua, walau non Muslim tapi beliau adalah orang yang jujur dan baik hati. Tak pernah membedakan orang yang berlainan kepercayaan dengannya.
Haikal sangat berterima kasih atas bantuan pak Timo Rambai yang telah merawat ayahnya.
Lalu dia mengirimkan sejumlah uang yang cukup besar jumlahnya untuk pengobatan ayahnya juga untuk kebutuhan hidup keluarga pak Timo.
"Tante Linda, apakah ada waktu? Nanti Haikal mau berkunjung," tanya Haikal kepada adik ibunya yang merupakan seorang notaris yang mengurusi harta warisan kakeknya.
"Datang saja kesini, aku di rumah kok. Aku tunggu yah ," sahut adik ibunya menanti kedatangan keponakannya.
Lalu Haikal segera bersiap- siap dan langsung menuju ke rumah adik ibunya.
Setibanya di rumah adik ibunya, dia menceritakan semua kejadian yang menimpa ayahnya dan juga permintaan istri ayahnya untuk menempati rumah milik kakeknya
"Hmmm...Haikal begini saja, semua pegawai di rumah kakek akan aku bayarkan pesangon. Anggap saja sebagai tanda terima kasih atas pengabdian mereka dan seterusnya mereka bisa melanjutkan hidup dengan berdagang atau usaha lain".
"Rumah kakek tidak akan bisa dipindahtangankan atau dijual dengan mudah karena semua surat tanah dan sertifikat bangunan ada padaku".
"Jika sampai wanita itu mengusik semua aset keluargamu tentu tidak akan bisa karena semuanya sudah dialih namakan menjadi namamu," kata Ibu Linda yang merupakan notaris senior di kota itu.
"Aku tidak masalah kalau Siska mau merebut juga semua harta tapi apakah dia bisa mengelolanya. Rumah kakek suatu saat akan aku hibahkan untuk kepentingan kemanusiaan, entah menjadi pesantren atau Rumah yatim piatu atau Rumah jompo. Aku belum tahu pasti".
"Sementara rumah Mommy akan aku jual dan uangnya yang sedianya akan aku belikan motor Harley akan aku batalkan".
"Lebih baik untuk pengobatan Papih saja," kata Haikal tampak bersedih sekali kala mengingat kondisi ayahnya.
Keesokan harinya Ibu Aryani berbelanja segala macam kue kecil-kecil berbagai bentuk dan rasa.
Menantunya bercerita kalau beberapa waktu ini selalu tertarik untuk makan kue kering kecil, baik manis atau gurih.
"Mamah, sebaiknya jangan terlalu banyak juga kue seperti itu. Takutnya ada bahan pengawet, sebaiknya Mela makan buah-buahan, ikan dan makanan segar lain," kata Fajar mengingatkan mertuanya.
"Tapi dia katanya saat ini senang makanan begini, kalau orang hamil tidak dituruti nanti bayinya saat lahir akan berliur terus," sanggah Ibu Aryani yang tetap sibuk memilih kue-kue kering.
"Maaf Mamah, tapi itu mitos. Semua bayi juga berliur apalagi kalau mau tumbuh gigi," Fajar kembali mengingatkan mertuanya.
"Jadi harus dibelikan apa dong? Kamu itu banyak aturan sekali," Fajar kena semprot mertuanya.
Sambil menarik nafas, lalu Fajar menjawab," Seperti dulu saya belikan untuk Anita saja, kue gandum, kacang almond, keripik buah, dan cemilan organik lainnya".
"Hmmm...pantas yah, dulu saat Anita hamil selalu makan di rumahku minta yang aneh-aneh dariku. Ternyata baru paham kalau suaminya terlalu banyak aturan," Ibu Aryani meng skak mat Fajar, dan otomatis menantunya diam seketika.
Akhirnya Fajar membiarkan mertuanya membeli segala macam kue untuk Mela.
"Aku mah apa atuh, cuma menantu ganteng. Mending diam daripada di pecat jadi menantu," katanya dalam hati sambil menunggu di mobil saja.
Setelah puas membeli berbagai macam kue untuk Mela, kemudian mereka meluncur menuju kota Cirebon.
__ADS_1