
Matahari pagi sudah memancarkan cahayanya, kicau burung gereja sudah terdengar bercicit dan tampak saling berkejaran di atas pagar paviliun.
Mela sedang duduk di kursi tamu paviliun diminta menemani dokter Anton.
Di atas meja ada roti dengan ukuran cukup besar dan mereka sedang makan sambil saling berbagi. Mela tak bisa minum susu jadi dia hanya air putih saja.
"Jadi kamu ambil jurusan apa?"tanya Anton
"Akuntansi dok," jawab Mela.
"Sekarang semester berapa?".
"Semester akhir menjelang persiapan skripsi, tinggal menyelesaikan 3 mata kuliah lagi saja".
"Hmmm...sebentar lagi sarjana dong yah".
" Ah dokter bisa saja, masih lama dok. Ini juga sangat terlambat, seharusnya tahun lalu sudah bisa lulus. Cuma ya itu terbentur biaya, saya masih harus mendahulukan adik saya".
"Tidak ada kata terlambat Mela, selagi kita terus berusaha. Saya juga dulu terlambat lulus, bahkan sempat mengulang lagi. Tapi saya terus berusaha dan sekarang saya sudah menjadi dokter".
Mela tersenyum mendengar semangat dari dokter Anton.
"Sekarang juga masih ada kendala di pengajuan skripsi. Sudah 2 kali pengajuan di tolak terus".
"Kenapa alasannya? Kamu membahas apa memangnya?".
"Menurut dosen topik yang saya ajukan masih sangat mentah, karena saya memang hanya mengajukan sistem pembukuannya saja. Seharusnya semua alur proses pengelolaan keuangan harus disampaikan, seperti misalkan apakah ada pendapatan yang diinvestasikan, atau cara pembagian keuntungan seperti apa.
Dan memang saya tidak akan pernah bisa menyampaikan bahkan mungkin melampirkan bukti. Sementara itu harus ada," panjang lebar Mela menjelaskan.
"Memangnya kamu mengemukakan perusahaan apa?," tanya Anton lagi.
"Toko besi Darma Jaya dok," jawab Mela sambil tertawa kecil.
" Saya pikir perusahaan keluarga tidak harus seribet itu penyampaiannya. Tapi kenyataannya tidak seperti yang saya pikirkan".
"Memang Mela kalau perusahaan yang management nya baik, semua itu harus di sampaikan secara transparan".
"Bagaimana bisa disini seperti itu, uang masuk rekening dan saku Wak Atin. Bagaimana saya bertanya, yang ada malah saya dituding macam-macam", beber Mela sambil menghela nafas.
Anton memandang Mela, dalam batinnya gadis ini lama-lama menarik juga dan enak diajak bicara.
"Kalau saya bantu skripsimu boleh tidak?"tanya Anton.
"Maksud dokter?"tanya balik Mela.
"Iya saya mau bantu kamu, tapi saya harus ijin dulu kepada pengurus perusahaannya".
"Wah mau dong dokter, benaran kan dokter... perusahaan dimana dokter," Mela gembira sekali sampai tak tahu berkata apa.
"Benar nanti saya bantu, saya nanti hubungi dulu pengurusnya dan kalau mereka sudah setuju nanti aku beritahu kamu lagi".
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih sekali dokter".
" Tapi ada 3 syarat dari saya loh, tidak semudah itu".
"Apa saja syaratnya dokter, pasti saya lakukan asal jangan yang aneh-aneh saja".
"Hahahah... aneh apa lagi. Syarat biasa saja, syarat pertama saja dulu yah. Saya minta tolong tiap sore kamu kupaskan buah untuk saya, simpan di piring dipotong dadu. Sekarang ada buah naga".
" Mudah benar syaratnya. Siaplah kalau segitu saja sih. Lalu yang dua lagi apa?".
" Nanti sajalah, yang satu saja belum terlaksana," kata Anton sambil tertawa dan dalam hati merasa gemas melihat Mela.
"Oh ya.. kamu juga kalau mau makan saja buahnya. Saya beli kan banyak, buah kalau kelamaan juga jadi kurang segar".
"Tidak dok makasih, tidak ada buah favorit saya sih".
__ADS_1
"Emang apa buah favoritnya kamu?".
"Pisang Cavendis yang kulitnya kuning matang dan besar".
"Wah.. kamu mancing ini sih".
Mela bingung mendengarnya dan melongo," Kok mancing sih dok?".
Anton hanya tertawa lalu diapun segera keluar menyalakan motornya dan pergi ke puskesmas.
Mela bahagia sekali mendengar akan dibantu oleh dokter Anton untuk menyelesaikan skripsinya.
Dia yakin pasti seorang dokter punya banyak pasien yang memiliki perusahaan besar dan berharap semoga saja bisa sekalian melamar pekerjaan jadi ketika lulus bisa langsung bekerja di perusahaan baru.
Hari sabtu puskesmas buka setengah hari saja, jam 12 siang sudah tutup operasional.
Biasanya pasien juga tidak banyak, seperti hari ini hanya ada sekitar 6 orang saja sejak pagi.
Anton sudah selesai Sholat dan makan siang, dia sebentar lagi akan kembali ke paviliun. Tapi dipikirnya mau apa juga masih jam begini ke paviliun, sementara dia juga tidak ada kegiatan lain.
Lalu dia mencoba menelepon kakaknya menanyakan dan minta ijin akan membawa temannya suatu saat nanti untuk menjadikan apotik dan klinik sebagai bahan skripsinya.
Tapi yang mengangkat ternyata kakak iparnya, rupanya sang kakak sedang menyusui anak bayinya.
"Ko Fajar, maaf ganggu nih. Kalau misalkan saya bantu teman membuat skripsi tentang apotik dan klinik di Bandung boleh tidak?"tanya Anton.
"Boleh dong, sudah pernah ada juga beberapa mahasiwa yang mengajukan seperti ini kok,"jawab Fajar.
"Siap kalau begitu nanti saya bilang ke orangnya, terima kasih yah ko Fajar," Anton penuh semangat.
"Hei..Buat siapa emangnya? Yang mau skripsi siapa?"tanya Fajar menyelidik.
"Hehehe... adalah nanti juga Anton bawa kesana karena pasti dia harus ketemu sama cici dan ko Fajar,"jawab Anton.
"Baiklah, nanti kapan mau kemari kalian bilang saja yah, nanti kami sempatkan waktunya".
Fajar lalu memeriksa kedalam kamar, melihat apakah istrinya masih menyusui atau sudah selesai.
Ternyata Anita baru saja menidurkan anaknya, dengan meletakan di tempat tidur bayinya dengan pelan-pelan.
Setelah aman anak bayinya tertidur pulas, diapun mendekati suaminya.
"Siapa yang telepon barusan?"tanyanya kepada suaminya.
"Bun, sepertinya Anton gerak cepat nih. Dia tadi minta ijin temannya ada yang mau membuat skripsi tentang apotik dan klinik. Aku bilang boleh dong tentunya. Dan Anton tampak senang sekali, masa iya kalau temannya pria? Pasti seorang gadis dong," Fajar bercerita kepada istrinya.
"Duh alhamdulillah semoga sajs benar perempuan yah. Aku takut kalau adikku goyah".
" Astagfirullah Bunda, kamu tuh sama adik sendiri seperti itu. Amit- amit tahu kamu tuh,"Fajar melotot kepada istrinya.
Anita cekikikan sambil berkata, "Ya iyalah amit-amit..jangan sampai adikku seperti itu".
Anton lalu mengirim chat kepada Mela mengabarkan tentang tempat usaha yang mau dijadikan bahan skripsinya sudah menyetujui.
A: Mela, kabar baik nih, pengurus di tempat usahanya sudah setuju untuk dijadikan bahan skripsi.
M: Serius dok? Makasih yah.
Kapan Mela bisa kesana? Dan menemui siapa?
A: Ya nanti saja kalau kamu tidak ada jadwal kuliah kamu temui saya. Nanti saya jelaskan.
M: Siap komandan.
Antonpun tersenyum geli membaca chat dari Mela, sambil dalam hati merasakan ada yang membikin hati jadi kangen dengan gadis itu.
Sedang dia berpikir mencari kegiatan, masuklah Jaya ke ruangannya.
__ADS_1
"Dok, nanti malam jadi kan kita nonton midnight show?"tanya Jaya.
"Nah itu dia, hayuk banget. Tapi baiknya kita jalan abis ashar yuk bro. Saya pengen makan duren, katanya ada kampung duren yah. Apakah kamu tahu Jaya?"tanya Anton.
"Cakep dok, apa yang Jaya tak tahu. Janda aja saya tahu, apalagi cuma duren ...hmm...cetek, "Kata Jaya sambil menjentikan jarinya dengan sombong.
"Oke kalo gitu, biasa ngumpul di paviliun yah. Nanti naik mobil saya saja".
" Oke dokter... tim jomblo siap gerak".
Lalu Jaya mendekati Anton dan berbisik ," Dok tapi bayarin dulu yah ... hihihi.. cekak boss, akhir bulan kita gantian".
" Hmmm... makanya jangan jajan sembarangan saja, duit habis tuh".
"Wah dokter bisa saja nih".
Dan merekapun tertawa bersama sambil menuju motor masing-masing dan pulang.
Menjelang sore selepas Ashar, Anton sudah siap menanti Jaya dan timnya.
Tak lama hanya Jaya sendiri yang datang, karena Komar ijin kurang enak badan juga Aryo yang anak magang merasa malu kalau tidak ada Komar.
" Berdua saja dok, gimana dong?"tanya Jaya.
"Hmm ya sudah jadilah, kamu yang nyetir yah," Kata Anton sambil memberikan kunci mobil.
Saat hendak pergi terlihat Mela sedang membawa tas ransel seperti hendak pergi ke suatu tempat.
" Mela kamu mau kemana?" tanya Anton.
"Pulang dulu dok, sudah 2 minggu lebih saya tidak menemui mimi,"jawab Mela.
"Kami antar saja yuk,"ajak Anton.
" Telat dok, saya mau diantar Japri sampai terminal".
" Tidak apa-apa bersama kami saja," ajak Anton lagi.
Namun Japri sudah mendekati mereka dengan sepeda motornya.
" Japrinya sudah disini dok?" Kata Mela sambil senyum.
Lalu Antonpun mengangguk, ada sedikit kecewa di hatinya.
Ketika Mela dan Japri sudah menjauh, Anton dan Jayapun mulai melaju.
" Dok itu pacarnya dokter Harsono masih kerja disitu yah rupanya," tiba-tiba Jaya berkata demikian.
Anton matanya membulat saat mendengar penuturan Jaya bahwa Mela pacar dokter Harsono.
" Oh ya, saya tidak tahu dia pacar dokter Harsono loh".
"Wah dokter sih kurang apdet, dari dulu dok, tiap ada acara di puskemas juga suka dibawa kok".
Anton terdiam, dia kembali merasa kecewa lagi. Sungguh dia tidak tahu kalau Mela kekasih Harsono.
Dia memejamkan matanya sekejap tanda ada sedih bersarang dihati walau dia sendiri tak paham apa artinya.
" Pantas saja kamu tidak ribut saat melihatnya, secara kucing diberi pita pun matamu melotot seperti mau copot".
"Hahahahahha... dokter kuh bisa bae jeh*"
*Jeh \=imbuhan yang bermakna penekanan kata atau kalimat, dan diucapkan diakhir kata atau kalimat.
(\=dokter itu bisa saja deh)
Lantas mereka berdua menuju ke kampung Sinapel yang berada di daerah Sumber, Kabupaten Cirebon. Kampung itu merupakan kampung penghasil duren yang terkenal.
__ADS_1