
"Aksi heroik yang dilakukan oleh tim Kepolisian Kota Bekasi menuai pujian dan decak kagum dari seluruh masyarakat Indonesia".
"Dari Video yang diunggah di chanel media sosial oleh Max Z, terlihat di sana anggota kepolisian begitu kompak membekuk para pengedar minuman keras ilegal di kota Bekasi".
"Pada penyergapan yang dilakukan kemarin malam terlihat totalitas dari dua anggota polisi yang menyamar sebagai waria dan keduanya yang akhirnya berhasil menaklukan para penjahat tersebut".
Seluruh anggota kepolisian Kota Bekasi bertepuk tangan saat bersama melihat tayangan berita di televisi.
Disana terlihat video amatir kiriman Max Z memperlihatkan bagaimana semalam ABRIPTU Ryan dan Asep berdandan waria namun berhasil melumpuhkan para pengedar minuman keras ilegal tersebut.
Semalam memang Max Ardyanzah ketua klub Motor Gede mengikuti AKP Yansen, rupanya dia merekam kejadian tersebut dengan ponselnya dan menggunggahnya ke media sosial.
ABRIPTU Ryan Hidayat dan Asep Nugraha saat ini tengah menjadi sorotan seluruh media sosial, bahkan nama keduanya naik daun karena totalitas keduanya melakukan penyamaran menjadi waria.
Wartawan berebut berdatangan ke kantor Polisi ingin mewawancarai keduanya.
Seharian ini kedua polisi itu harus lelah menghadapi berbagai pertanyaan dan pujian dari wartawan.
Bahkan keluarga Asep sejak pagi tadi menelepon dirinya bergantian, seluruh keluarganya sangat berbangga dengan totalitas dan loyalitasnya bersedia menjalankan tugas menjadi apapun.
Begitu juga keluarga dan kekasihnya Ryan, sama mereka juga senang dan bangga kepada dirinya.
Ini chat dari kekasihnya Ryan :
"Rayni sayang tetaplah jadi polisi kecintaanku yah....tapi plis sekali ini saja yah sayang.. aku takut kamu goyah... hahahah".
Ryan hanya membalas dengan mengirimkan emoji gambar hati.
ABRIPTU Asep berkata kepada Ryan," Bro...kita terkenal...tapi aku sedih... alamat jomblo permanen deh aku...".
Dan ABRIPTU Ryan tertawa keras mendengar keluhan partner kerjanya.
"Sialan...BANGS*T....BRENGS*K.....!!!!
Kang Japar alias Kang Jap Fan membanting gelas minuman keras yang sedang dipegangnya.
"PRAAAAKKK!!!!
"Cari dan bunuh anak sialan itu, lalu bungkam mulutnya jangan sampai dari keluar informasi keberadaan kita," kata Kang Japar dengan tatapan nanar dan dingin, sambil menyuruh anak buahnya bergerak mencari keberadaan Romi.
Anak buahnya segera berpencar untuk melakukan tugasnya mencari Romi dan membunuhnya segera sebelum Romi membeberkan segalanya.
Max dan Juan sedang di dalam ruangan AKP Yansen Simanjuntak, Juan bersedia menampung Romi untuk ditempatkan di sasana latihan karatenya.
Romi sementara akan tinggal di sana, karena saat ini dia menjadi saksi kunci untuk membongkar sindikat pengedaran minuman keras impor ilegal.
Nyawa Romi saat ini terancam karena dia sekarang menjadi sasaran empuk para penjahat agar dirinya tidak membeberkan rahasia sindikat tersebut.
Saat ini Romi sedang di interogasi oleh IPDA Murad, dan dia sangat kooperatif membeberkan segalanya karena dia juga sudah tidak tahan hidup di bawah ancaman para penjahat.
Dia juga ingin teman-temannya bebas dari jeratan cengkeraman sindikat kang Japar.
Di seberang kantor polisi Kota Bekasi ada sebuah sepeda motor tampak parkir di sana.
Ada dua orang yang naik sepeda motor itu, seorang pengemudi dan yang duduk di belakang adalah ahli tembak.
Di halaman terlihat mobil patroli jenis sedan sedang bersiap untuk membawa seseorang dari dalam kantor polisi.
Tak lama muncul seorang anak muda dengan kepala menunduk diapit oleh dua orang polisi lalu masuk ke dalam mobil tersebut.
Pengendara sepeda motor memberi kode kepada kawannya, mereka segera naik ke atas motor bersiap akan membuntuti mobil tadi.
Di dalam mobil sekarang ada empat orang polisi dan seorang pemuda, dua orang di depan sebagai pengemudi dan di samping pengemudi.
Dua orang lagi di jok belakang mengapit pemuda tadi yang duduk diantara keduanya.
Sepeda motor mengikuti kemana mobil itu melaju, ahli tembak mencoba mengarahkan senjatanya untuk menembak orang yang duduk di tengah.
Tetapi kaca belakang mobil polisi terlalu gelap dan jalannya terlalu cepat menerobos jalanan.
Keduanya tidak tahu kalau di dalam mobil tersebut anak muda yang duduk ditengah sedang tukar pakaian.
Pakaian kemeja sebelumnya dibuka dan sekarang dia sama dengan empat orang kawannya yang berseragam Kepolisian Indonesia.
Mobil polisi melaju semakin cepat, begitu juga sepeda motor mengekornya dengan kecepatan tinggi juga.
Tak lama mobil polisi melambat dan terlihat berbelok ke suatu jalan, sepeda motor juga mengurangi kecepatan dan melaju lambat-lambat membuntuti dari belakang.
Mobil polisi menyalakan lampu sein ke kiri memberi tanda akan parkir di depan suatu rumah makan Padang.
Ahli tembak bersiap dari seberang jalan akan menembak Romi saat nanti turun dari mobil. Hanya saja keduanya merasa cukup heran, mengapa polisi membawa saksi kunci ke rumah makan.
Satu persatu polisi turun dengan santai dari dalam mobil sampai tak ada satu orang pun di dalamnya.
Terlihat ada lima orang polisi turun dan masuk ke rumah makan tersebut lalu memesan makanan di dalamnya.
Kedua orang yang naik motor terlihat kesal sekali, mereka telah ditipu, rupanya tim polisi paham akan ada orang yang membunuh Romi.
Jadi mereka yang berencana makan siang bersama membuat skenario seakan-akan membawa Romi ke suatu tempat, padahal mereka hanya ingin mengisi perut yang keroncongan.
Ketika mobil polisi tadi meninggalkan halaman kantor Polisi dibagian depan, dibagian samping ada sebuah mobil besar berwarna hitam milik Max Ardyanzah.
Satu orang polisi berpakaian biasa yaitu AIPDA Nugroho membawa masuk Romi ke dalam mobil itu.
Dia yang bertugas menjaga Romi dari sasaran pembunuhan anak buah Kang Japar, saat ini mereka menuju sasana latihan karate milik Juan.
"Bro...aku baru dari ruangan pak Tarmidi mengajukan ijin cuti menikah... hahahah.. kamu tahu aku diberi ijin berapa hari?"Anton menemui Jaya untuk sedikit mencurahkan isi hati.
"Berapa hari yah...paling seminggu atau dua minggu, benarkan....,"sahut Jaya sambil mengangkat bahunya.
Anton menjentikkan tangannya lalu menunjuk ke arah sahabatnya," Bravo...tepat sekali...ini persetujuan yang telah ditanda tangani beliau".
Lalu Anton menunjukkan surat persetujuan cutinya dari pak Tarmidi kepada Jaya, dan setelah membaca otomatis mata Jaya membulat.
"Wadidaw....cuma dua hari....jum'at dan sabtu.....hahahahah....kasihan sekali hidupmu....hahahah,"Jaya tertawa setelah membacanya.
"Hahahah...iya benar...jum'at depan aku menikah dan esok harinya tambah hari minggu. Senin paginya harus dan wajib ada di sini lagi untuk bertugas,"Anton mempetakan cara bicara pak Tarmidi.
"Hahahahah....tak terbayang olehku.... hahahaha....mending saat itu sudah berhasil...kalau pas malam pertama tahu-tahu istrimu halangan...hahahah... bisa jadi PR itu...hahahaha," Jaya terus terkekeh menertertawakan sahabatnya.
"Dasar kamu...bukannya mendoakan yang baik, eh malah senang melihat penderitaanku,"Anton merasa sebal mendengar Jaya terus meledeknya.
"Hahahah....maaf bro...cuma semoga saja nanti malam pertama dilewati dengan bahagia agar seminggu kedepannya, membuatmu tambah semangat bekerja dan "bekerja" ... hihihihi," Jaya cekikikan terus mentertawakan Anton.
Anton mendelik dan mengacungkan tinjunya ke arah Jaya, tentu Jaya semakin kencang tertawa bukannya takut.
Menjelang sore Anton kembali ke Bandung dan tentu saja sahabat kentalnya turut beserta menemaninya.
Rencananya besok minggu mereka akan melihat pameran elektronik terbesar yang akan diadakan besok minggu di kota Bandung.
Akan ada discount besar-besaran hanya satu hari, semua barang elektronik dijual dengan potongan harga 75%.
Anton dan Jaya akan mengajak Mela juga besok kesana, rencananya Anton ingin membeli beberapa peralatan elektronik untuk keperluan mereka nanti berumah tangga.
Rencananya Mela masih akan tinggal di rumah kediaman Wiharja sampai Pertiwi selesai cuti melahirkan sekitar satu atau dua bulan kedepan.
Kemarin ini pak Salim memberikan hadiah untuk Anton dan Mela berupa sejumlah uang untuk dipergunakan sebagai uang muka untuk membeli rumah di Cirebon.
Karena Anton dan Mela berencana ingin membuka usaha seperti usaha keluarga di Bandung yaitu apotik dan klinik kesehatan.
Awalnya Mela merasa tidak enak hati karena pak Salim memberi hadiah dengan nilai yang baginya sangat besar sekali.
Tapi pak Salim dan ibu Aryani menjelaskan bahwa uang itu hanya uang muka saja, sedangkan sisanya silahkan Anton mencicil sendiri ke Bank mengambil kredit pemilikan rumah.
Mencari dan membeli rumah tak semudah membeli sayuran di pasar, maka mereka berdua memutuskan nanti setelah menikah akan pelan-pelan mencari dulu rumah kontrakan sambil mencari lokasi yang tepat untuk membuka usaha apotik dan kliniknya.
"Selamat siang, apakah saya bisa bertemu dengan bapak Fajar Sanjaya?" tanya seorang wanita cantik nan seksi kepada Sila yang saat itu sedang berjaga di apotik.
"Oh ada pak Fajarnya, ibu dari mana yah sebentar saya panggilkan,"sahut Sila sambil setengah terpana melihat wanita cantik dihadapannya.
"Saya dengan Miranti dari PT. GOLDEN FARMASI,"Miranti menjawab Sila lalu dirinya mencari tempat duduk di ruangan sebelah apotik tempat pasien menunggu panggilan.
Di ruangan itu ada dua ruangan praktek, dipintu pertama terpampang tulisan klinik dokter umum dan disampingnya ada klinik konsultasi psikologi.
Lalu dia juga menatap ada tangga, dan ada petunjuk bertuliskan klinik kulit dan kecantikan juga klinik indera.
"Pak Fajar maaf ada seorang wanita mencari di depan, katanya dari PT. GOLDEN FARMASI,"Sila memberitahu Fajar yang saat itu tengah duduk di ruangan kantor apotik membantu Anita dan Mela memperbaiki tinta printer.
"APA...!!! Wanita ...PT. GOLDEN....!!!.
__ADS_1
"Yang mana orangnya?"Anita memekik sambil ingin tahu yang mana wanita tersebut.
"Itu tuh bu...yang pakai baju seksi dan celana panjang ketat,"jawab Sila sambil menunjukkannya kepada Anita dari balik kaca nako jendela kantornya.
Anita mengintip melihatnya, lalu dia mendelik kepada suaminya,"Awas weh mun wani cunihin...di teke geura ku pamajikan".
(\= awas kalau berani genit, nanti istrimu ini akan menggetok kepalamu)
Fajar menatap istrinya lalu dengan santai balas menjawab," Apa yang bunda cakap itu, awak tak paham".
(\=apa yang kau katakan istriku, aku tak paham)
Lalu Fajar mencubit gemas hidung istrinya sambil keluar ruangan.
Mela dan karyawan lain yang melihat kejadian itu, semuanya tertunduk pura-pura tak paham sambil menahan tawa.
"Ibu Miranti, ayo silahkan kita bicara di ruangan saya saja,"ajak Fajar kepada Miranti sambil terus melangkah menuju ruang prakteknya.
Fajar sengaja ingin mempermainkan istrinya yang saat ini masih mengintip sambil cemberut.
Lalu Miranti beranjak mengikuti Fajar masuk ke ruangan prakteknya, dan pintupu ditutup rapat.
Di ruangan kantor apotik ada seorang istri yang sedang memasang wajah cemberut kesal karena cemburu berat melihat suaminya malah membawa wanita cantik itu masuk ke ruangannya.
Sambil menutup pintu ruangan prakteknya, Fajar tertawa dalam hati berhasil menggoda istrinya.
"Apa kabar ibu Miranti, bagaimana apa yang bisa saya bantu....tampaknya masih berkenaan dengan masalah kemarin...,"Fajar memulai pembicaraan sambil setengah memberondong percakapan.
"Pak Fajar bisa saja, saya kemari hanya sekedar silaturahmi saja. Sudah lama mendengar nama bapak tapi baru sempat kemarin bertemu jadi saya sempatkan hari ini untuk bisa mengobrol,"sahut Miranti sambil mulai memasang gaya duduk yang menggoda.
"Oh begitu...ya sama saya juga pernah mendengar nama ibu, dan sama saya juga baru bisa mengobrol dengan ibu hari ini,"Fajar menyahutinya dengan nada asal tak acuh.
"Begini pak intinya saya merasa janggal dengan keputusan dari kumpulan pengusaha apotik, untuk apa melakukan pemusatan produk kami hanya di apotik ini. Kan sungguh aneh yah,"Miranti langsung menyampaikan kekesalannya atas
"Nah itu juga kami rasakan beberapa bulan yang lalu, pihak perusahaan ibu mengirimkan vitamin penguat tulang untuk manula. Itu obat yang bagus, kami mengakuinya dan obat itu lalu keras di pasaran,"kata Fajar mencoba menjelaskan kepada Miranti.
"Hanya.......cara pengirimannya sangat luar biasa, per dua hari sekali dua dus besar, satu dus isi 50 box, 1 box isi 10 strip, total 1 dus ada 500 strip obat. Di kirim dua dus jadi ada 1.000 strip obat".
"Dalam seminggu ada dua kali pengiriman, sebulan berarti ada sekitar 4.000 strip obat tersebut dalam satu apotik. Sementara rata-rata pembeli per bulan seribu orang saja, masih ada tiga ribu obat di dalam satu apotik".
"Tidak bisa dikembalikan kepada perusahaan anda, lalu resiko kadaluarsa dan....Obat yang belum laku tetap harus kami bayar kepada perusahaan anda, bisnis yang sangat cerdas sekali,"Fajar menjelaskan dengan nada bicara yang cukup tegas dan menyentil.
Miranti diam sejenak, lalu dia mulai berkata membela diri dengan agak sengit,"Tapi pak Fajar setahu saya obat kami ini sangat laku di pasaran, tak mungkin sampai terjadi penumpukan barang".
"Benar bu, untuk apotik besar dengan lokasi di pinggir jalan raya seperti kami jelas cepat terjual. Tapi teman lain juga banyak yang lokasi apotiknya di pelosok. Di sana terjadi penumpukan, karena marketing anda sama sekali tidak memilah. Main pukul rata jumlah pengirimannya,"Fajar juga menyampaikan argumennya.
"Apotik kami sampai menyusuri apotik di pelosok, kami membeli dari mereka agar mereka bisa membayar kepada perusahaan anda. Coba anda bayangkan, sampai akhirnya kami kompak untuk memusatkan di apotik ini saja dan itu juga harus disesuaikan dengan kebutuhan kami,"Fajar melanjutkan kekesalannya kepada perusahaan Miranti.
Miranti menghela nafas lalu dia menatap Fajar dan berkata," Pak Fajar, anda tahu tidak perbuatan anda membatasi kami ini telah merusak penilaian saya. Sekian bulan area yang saya bawahi menjadi nomor satu terus penjualannya, dalam tiga bulan ini merosot gara-gara ide anda dan kumpulan anda".
"Ibu...anda sendiri yang sudah salah langkah dalam menjalankan pemasaran, kami yang menjadi korban atas cara pemasaran anda. Tidak bisa demikian kalau bisnis, seharusnya kedua belah pihak mendapat keuntungan,"Fajar menekankan kalau Miranti telah salah dalam berbisnis.
Miranti kesal tapi dia tetap mencoba mencari pembenaran diri dengan mencoba menyuap Fajar.
"Pak Fajar, katanya merasa dirugikan, bagaimana kalau saya ganti kerugian anda. Berapa yang bapak butuhkan asal saya bisa tetap menjalankan cara bisnis saya seperti kemarin ini," Miranti memberi iming-iming sejumlah uang kepada Fajar.
"Anda luar biasa yah ibu Miranti, seharusnya anda berusaha untuk berubah dalam menjalankan usaha anda. Bukan malah anda berusaha memberikan uang kepada saya untuk meluluskan cara usaha anda yang salah,"Fajar jelas tersinggung dengan kelakuan Miranti.
"Hmmm....atau anda butuh yang lain....misalkan bercinta dengan saya....,"Masyaallah Miranti benar-benar tidak tahu malu.
"Saya baru sekali ini bertemu wanita segigih anda dalam menjatuhkan harga diri sendiri. Hati-hati ibu Miranti, apa yang anda lakukan ini bagai menuju jatuh ke dalam jurang perbuatan anda sendiri. Segera ubah diri dan pola pikir anda,"Fajar memperingatkan perbuatan Miranti yang sangat merendahkan dirinya sendiri.
Miranti sangat kesal dan marah, dia bangkit dari duduknya lalu segera meninggalkan ruangan Fajar.
Sambil berjalan dia menahan diri ingin menangis, ucapan Fajar sangat menampar diri, hati dan perasaannya.
Belum pernah ada seorangpun yang berani berkata seperti itu kepadanya. Biasanya lelaki bisa dengan mudah dia bujuk, apalagi sampai di rayu dengan ajakan bermalam bersamanya.
Dia berjalan bergegas menuju ke mobilnya, saat sedang berjalan dia melihat Anton sedang turun dari sebuah mobil di halaman apotik itu.
Miranti melihatnya dengan terkejut, karena kebetulan saat turun dari mobil tersingkap kaki palsunya.
"Anton...benarkah kamu dokter Anton?,"tanya Miranti sambil berjalan mendekat ke arah Anton.
"Oh Miranti...iya ini aku Anton, apa kabarmu?"sapa Anton sambil celingukan ke arah apotik karena dia khawatir bila sepasang mata melihat pasti jadi repot masalahnya.
"Kamu difabel?"tanya Miranti sambil menatapnya.
"Ya ampun,"kata Miranti sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya.
"Hai mbak Miranti, apa kabar?"Jaya tiba-tiba muncul dari samping mobil berusaha mencari perhatian Miranti.
Saat yang tidak tepat, Miranti berlari menuju mobilnya. Dia menekan remote alarm mobilnya, membuka pintu mobil, menutup dengan sangat keras dan dia menangis di dalam mobil.
Hatinya kesal karena ucapan Fajar yang seakan menelanjangi perbuatan dan kebodohannya selama ini.
Dia juga sedih melihat Anton, bukan karena Antonnya, tapi dia ingat saat masih kecil mempunyai kakek yang sangat menyayanginya.
Kakeknya seorang difabel, dia ayah dari ibunya. Miranti ingat bagaimana kakeknya selalu menjaganya, walau saat kecil dia suka diejek teman- temannya karena mempunyai kakek difabel tapi dia tak peduli karena satu-satunya lelaki dewasa yang menjaga dan menyayangi dirinya adalah kakeknya.
Dia sangat terpukul saat kakeknya meninggal dunia, tak ada lagi orang yang menjaganya.
Miranti menangis sejadi-jadinya di dalam mobil, dia merasa sangat terpuruk sekali saat itu.
Jaya melihatnya, dia heran mengapa mobil Miranti tak juga bergerak.
Sementara Anton segera masuk ke kantor apotik untuk mencari aman, untung Mela sedang sibuk menginput sesuatu sehingga dia tidak paham ada siapa tadi di luar sana.
Setelah menyapa Mela, dia masuk ke rumah keluarganya dan dilihatnya Fajar sedang menjelaskan sesuatu kepada Anita yang terlihat cemberut.
Tok...Tok...Tok..
Kaca mobil diketuk oleh Jaya, tapi tak ada reaksi apapun. Lalu dia mencoba mengetuknya kembali. Tak lama kaca jendela mobil terbuka dan terlihat wajah Miranti acak-acakan. Rambutnya tak beraturan dan riasan wajahnya luntur sebagian.
"Mbak...kenapa...ada yang bisa saya bantu....saya Jaya temannya dokter Anton...masih ingat tidak yang dulu ketemu di seminar," Jaya menyapanya dengan lembut dan mencoba membuat Miranti mengingat dirinya.
"Saya lupa, maaf ada apa yah," Miranti menatap Jaya tanpa ekspresi.
"Ya sudah tidak apa-apa, cuma mengapa menangis. Sambil menyetir mobil menangis nanti bahaya loh,"kata Jaya mencoba menenangkan Miranti.
Mendengar Jaya begitu lembut berkata membuatnya meneteskan air matanya lagi.
"Mbak mau kemana..biar saya yang bantu menyetir mobilnya,"kata Jaya menawarkan diri membantu Miranti.
"Saya tidak tahu mau kemana, cuma pingin mati rasanya...hu..hu..hu...," Miranti kembali menangis dengan tersedu-sedu.
Jaya melihat Wahyu dari kejauhan lalu melambaikan tangan memanggilnya.
Wahyu mendekat dan Jaya menitipkan kunci mobil milik Anton kepadanya sambil menitip pesan kalau Jaya akan menghubunginya.
Sekarang hendak pergi dulu dengan ibu Miranti. Wahyu hanya mengiyakan saja lalu segera pergi ke dalam.
"Yuk geser duduknya, biar aku antar kamu mau kemana, tak baik bicara ingin mati lebih baik bicara ingin hepi,"kata Jaya sambil membuka pintu mobil Miranti, dan seakan sudah kenal lama Miranti juga menggeser duduknya ke bangku disamping pengemudi.
Lalu Jaya melaju mengemudikan mobil milik Miranti sambil dia juga tak tahu mau kemana tujuannya.
"Kak Anton ini kunci dari oom Jaya, katanya nanti dia akan menghubungi kakak, sekarang dia pergi dengan ibu Miranti,"kata Wahyu menyampaikan pesan dari Jaya kepada calon iparnya.
"Hah....aduh Jaya kacau....yah oke.. sudahlah...terima kasih Wahyu,"kata Anton sambil menepuk bahu Wahyu.
Anton pura-pura mengambil gelas dan mengambil air minum dingin di dalam lemari es, padahal dia ingin mencuri dengar apa yang sedang diperdebatkan oleh kakaknya dan suaminya.
"Yang aku tidak terima adalah kenapa pintu harus ditutup, kan ayah tahu dari awal aku sudah tidak suka melihatnya... eh...ini malah sengaja menutup pintu,"
Anita mengomel dengan wajah kesal kepada suaminya, sementara Fajar santai saja senyum-senyum.
"Bun...aku mau tanya, kalau ada orang lain konsultasi apakah pintu ruanganku itu terbuka atau tertutup?"tanya Fajar sambil menatap wajah istrinya.
"Aku tahu ditutup, tapi sekarang beda lagi, masalahnya ayah sudah tahu aku tak suka orang itu. Tapi mengapa sengaja ditutup...mana aku tahu terjadi apa di dalam sana,"Anita masih tetap memasang wajah perang kepada suaminya.
"Anton baru datang nak...?"tiba-tiba dari tangga sepasang kakek nenek sedang turun ke bawah menuju ruang makan.
"Papah....mamah...apa kabar... iya Anton baru tiba belum lama,"sahut Anton memberi salam dengan mencium tangan kedua orang tuanya.
Pak Salim dan ibu Aryani duduk di meja makan, lalu ibu Aryani meminta tolong Anita untuk membawakan kue dan teh jahe hangat dari dapur ke atas meja makan.
Anita segera bergerak menyiapkan apa yang diinginkan oleh orang tuanya.
Teh jahe hangat buatan Encum tersaji di meja makan bersama dengan kue bolu pisang buatan ibu Aryani.
__ADS_1
Anita mengisi air teh jahe hangat ke dalam dua buah cangkir untuk ayah dan ibunya.
Lalu mengambil cangkir satu lagi dan mengisikan air yang sama untuk dirinya.
Aryani melihatnya lalu segera menegur,"Nita kenapa bukan untuk suamimu dulu, ini malah bikin untuk diri sendiri. Tak pantas istri seperti itu".
Anita yang masih kesal dengan suaminya lalu mengambil cangkir lagi, mengisinya dengan teh yang sama dan menyimpan tepat di depan suaminya dengan cara yang kasar.
"Nita....astaga...kenapa kamu itu...dari kemarin kasar terus kepada suami... kapan mama mengajarkan kamu begitu,"Aryani terlihat sangat marah kepada anak perempuannya itu.
Anita diam saja menahan kesal, dia menunduk sambil matanya mulai berkaca-kaca.
"Fajar...tolong kamu terbuka sama papah dan mamah, sejak kemarin kami melihat ada yang tidak beres dengan kalian di mata kami," Pak Salim mulai berbicara meminta menantunya untuk jujur.
"Mengapa pah....kami baik- baik saja selama ini ," Fajar menyampaikan kondisi keluarganya.
"Tidak....papah melihat anak papah ini yang bermasalah... papah tidak senang kemarin melihat Anita memperlakukan kamu seperti kepada pegawai saja.... memberi uang seperti itu...kamu suaminya bukan pegawainya," pak Salim menjelaskan ketidaksenangannya atas perlakuan anaknya kepada suaminya.
"Oh...ya...ya...begini Papah... mamah... untuk urusan uang memang sudah kesepakatan saya dengan Anita. Kami sekarang punya anak kecil dua orang, harus hemat dalam pengeluaran uang.," Fajar mencoba menjelaskan kepada mertuanya.
"Keiza dan Kaysan masih butuh biaya banyak untuk susu, popok, makanan belum lagi mulai tahun depan Keiza akan masuk sekolah taman kanak- kanak. Jadi kami harus betul-betul berhemat".
Aryani memandang ke arah suaminya yang masih merasa tak percaya dengan menantunya
"Lantas tadi apa maksudnya melayani suami dengan kasar seperti itu, puluhan tahun kami menikah....mamahmu tak pernah sekalipun berbuat begitu kepada papah".
"Hmm...Anita barusan memang sedang ada salah paham dengan saya, karena tadi ada orang dari perusahaan obat kemari, dan kebetulan dandannya berlebihan".
"Kami tadi berbincang di ruang praktek dengan pintu tertutup. Sehingga Anita merasa tidak nyaman dengan kondisi itu," Fajar dengan sabar menerangkan kepada mertuanya.
"Anita...masa kamu tidak kenal Fajar, malah papah yang lebih kenal...Fajar lelaki baik, papah percaya dia sangat sayang kepadamu tak mungkin dia main api...lagipula lelaki kalau main api tak mungkin di kandang sendiri,"pak Salim berujar mencoba menasehati dan menenangkan hati anak perempuannya.
"Kalau memang keputusan kalian untuk berhemat itu bagus, hanya lain kali kamu harus lebih sopan kalau bicara dengan suamimu".
"Papah tahu suamimu bahkan tak pernah membentakmu walau dia sedang kesal sekalipun. Dan caramu kalau mau memberikan uang kepada suami jangan dimuka umum yah... takutnya ada orang berpikir lain, kami saja orang tuamu sempat berpikir lain," pak Salim dengan bijak menasehati Anita dengan panjang lebar.
"Fajar, maafkan Anita yah.. mamah tahu bagaimana anak mamah. Anita itu memang dari kecil selalu ketus dan manja, cerewet dan kalau ingin tahu apapun harus sedetail mungkin, tak jauh dengan Keiza anakmu,"ibu Aryani ikut menasehati Fajar dan Anita.
"Kalau Anita berlaku kasar kepadamu, tegur saja dia. Sudah tak pantas seorang istri juga sudah menjadi ibu tapi tidak memberikan contoh yang baik" Aryani kembali menegaskan kepada Fajar agar bersikap tegas kepada istrinya jika tidak menghargai suami.
"Mamah sabar yah...Anita itu istri yang baik, dia juga ibu yang sabar dalam menghadapi Keiza dan Kaysan".
"Saya merasa bersyukur Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi suaminya Anita. Karena buat saya Anita adalah wanita paling istimewa, Papah dan Mamah jangan khawatir, karena Anita tidak pernah membangkang kepada suami," Fajar memuji istrinya sambil merangkul dan mengelus bahu istrinya.
Anita tersenyum kecil dan menggigit bibir atasnya. Dia tak menyangka suaminya membela dirinya dihadapan orang tuanya.
Mertua Fajar menganggukan kepalanya tanda setuju dengan menantunya.
Lalu mereka melirik Anton yang sedari tadi ikut duduk tapi hanya diam-diam sambil memakan irisan kue bolu pisang.
"Kamu sudah menemui calon mertuamu di belakang?"tanya ibunya menatap tajam ke arah Anton.
"Eeehhmmm belum...baru mau akan kesana....,"jawab Anton terbata-bata.
"Sama saja kamu juga, harus diomeli dulu baru ingat sopan santun, kamu sudah mau menikah minggu depan, coba lebih dewasa sebagai lelaki itu".
"Masa ada calon mertua di belakang rumah kita ini dan kamu bisa lupa. Jangan sok kamu itu dokter sampai lupa etika kepada orang tua,"kembali anak bungsunya juga kena sengatan omelan ibunya.
Anton segera bangkit tak berkata apa-apa lagi langsung menuju dapur dan segera ke halaman belakang rumahnya menuju mess karyawan dimana ada calon mertuanya di sana.
Ibu Sinah sedang mengiris pisang untuk membuat keripik pisang, rupanya pohon pisang di belakang rumah Anton panen jadi hari ini di rumah mereka pesta pisang.
Anton menyalami calon mertuanya dengan mencium tangannya.
"Nak Anton, tadi wak Darma menelepon Mela katanya rumah ibu sudah hampir selesai perbaikannya. Nanti setelah kalian menikah, ibu pamit yah pulang ke kampung,"kata ibu Sinah kepada calon menantunya.
"Siap bu, nanti bareng saya saja ke Cirebonnya karena kebetulan saya juga tidak diberi cuti lama, setelah menikah nanti senin depannya harus tetap praktek,"ujar Anton menceritakan bahwa dia tak diberi libur lama setelah menikah.
"Ya sudah tidak apa-apa, yang penting nak Anton tetap sehat yah, maafkan nanti kalau Mela diawal nikah nanti masih bodoh dalam melayani suami. Mohon dimaklumi yah nak,"Ibu Sinah meminta Anton untuk bisa menerima kekurangan Mela pengetahuan dalam urusan berumah tangga saat awal menikah nanti.
"Tidak apa-apa bu, mungkin saya juga diawal menikah nanti pasti akan banyak ketidaktahuan juga. Kami mencoba saling memahami dan menerima kekurangan masing-masing," jawab Anton kepada calon mertuanya meyakinkannya.
Jaya memasuki SPBU untuk membeli bahan bakar mobil Miranti yang sudah hampir habis.
Saat Miranti mengeluarkan uangnya ditolak Jaya, dan dengan menyebutkan sebuah nominal, Jaya membayar dengan uangnya.
Setelah itu Jaya meluncur lagi menuju ke utara kota Bandung, di sana ada kota wisata yang bernama kota Lembang.
Malam minggu jalanan cukup macet, sepanjang jalan Jaya mencoba mengajak Miranti mengobrol segala macam.
Dan Miranti merasa senang karena baru pertama kali dia bertemu lelaki yang sangat berbeda.
Jaya cuek dan sepanjang jalan menceritakan hal-hal yang lucu sehingga Miranti yang tadinya sedih mulai tertawa karena lucu mendengar ceritanya.
"Kamu tidak akan ada yang mencari memangnya dari tadi aku bawa berputar-putar begini?"tanya Jaya ingin tahu karena Miranti seakan santai saja dibawa dirinya.
"Ah tidak ada, aku sudah yatim piatu, dari kecil tidak pernah mengenal ayah. Beberapa tahun lalu ibu meninggal, jadi aku sendiri saja,"jawab Miranti padahal dia tak pernah menceritakan hal seperti itu kepada lelaki manapun.
"Oh..kamu sebenarnya berasal dari mana...dan sekarang kamu tinggal dimana juga bersama siapa?"tanya Jaya lagi kepadanya.
"Kamu kok pengen tahu banget... memangnya mau apa ingin tahu aku tinggal dimana segala?"Miranti malah balik bertanya kepada Jaya.
"Yah barangkali suatu saat aku tersesat di Bandung, setidaknya bisa minta tolong kamu sekedar minta makan dan ongkos,"jawab Jaya santai sambil melirik Miranti.
Miranti tertawa merasa lucu dengan jawaban Jaya,"Kamu lucu sekali...masa mau mencari tempat tinggalku hanya ingin minta makan...hahahah... memangnya tak ada warung nasi".
"Banyak warung nasi sih, cuma kalau makan sama orang secantik kamu itu yang susah," Jaya menggodanya sehingga membuat Miranti salah tingkah.
Lalu mereka tiba di kota Lembang dan segera mencari salah satu cafe terkenal yang bernama cafe I Love You.
#aslicafedengannamainiadadikotalembangsampaisekarangdanauthorjugapunyakenangandisana
Jaya mengajak Miranti turun ke cafe itu, setelah membetulkan riasannya lalu Miranti turun mengikuti langkah Jaya.
Mereka duduk menempati tempat saung-saung yang pemandangannya ke arah lampu-lampu kota Bandung.
Mereka memesan makanan dan minuman hangat, dan sangat menikmati suasana malam itu.
Karena sikap Jaya yang mengemong dan selama ini Miranti tak pernah merasakan saat kencan dengan lelaki mana juga, maka mulailah mereka terbawa suasana dan meluncurlah semua kisah kehidupan Miranti dari bibirnya yang lembut.
Anton merasa aneh, sahabatnya sampai larut malam belum juga kembali dan tak ada kabar apapun.
"Memangnya dia pergi kemana sih?" tanya Fajar kepada Anton yang terlihat resah karena belum ada kabar apapun dari sahabatnya.
"Hmmm...gimana yah...tadi dia pergi sama Miranti orang PT. GOLDEN FARMASI,"jawab Anton dengan ragu-ragu.
"Hah...kalian juga kenal dengan Miranti?" tanya Fajar terkejut.
"Ya gitu deh...hehehe...koko plis jangan terlalu kencang menyebut nama itu," Anton tiba-tiba merasa resah sambil celingukan ke kanan dan kiri.
"Wow...kamu punya cerita apa sama perempuan itu?"tanya Fajar menyelidiki iparnya.
"Hehehe...tidak ada yang fatal kok...asli hanya yah...begitulah koko juga paham kan dia bagaimana,"jawab Anton terlihat salah tingkah.
"Yah...terserahmu yang pasti kamu dan aku sama lelaki, tolong kamu jangan sampai berbuat hal di luar batas yang bisa merugikan dirimu," Fajar memperingatkan adik iparnya agar jangan berbuat hal yang bodoh.
Lalu Fajar segera naik ke lantai dua rumah itu menuju kamar tidurnya bersama istrinya.
Anita tampak tersenyum saat suaminya masuk ke dalam kamar, ketika Fajar duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memandang box bayi melihat anaknya bayinya sedang terlelap.
Tiba-tiba ada yang memeluk pinggangnya dari belakang sambil berkata," Makasih ayah sudah membela bunda di depan papah dan mamah".
Fajar membalikan badannya dan balas memeluk istrinya sambil bertanya,"Lantas apa bayarannya sehabis membelamu itu?".
Tanpa banyak bicara Fajar ditarik ke atas tempat tidur oleh istrinya.
"Nok..Nanti setelah menikah kamu harus patuh sama suami, jangan menolak keinginan suami yah. Kecuali memang kamu benar-benar sedang tidak bisa, dan sampaikan dengan keberatanmu dengan hati-hati yah," Ibu Sinah sambil menyisir rambut anak gadisnya sambil memberikan nasihat karena Mela akan segera menikah.
"Perempuan harus bisa membuat suami bahagia selain memberinya masakan yang enak, berikan juga kebahagiaan ketika di atas peraduan".
"Berikan senyum saat suamimu pulang bekerja, jangan tambahkan masalahnya selagi kamu bisa menangani sendiri. Apapun harus terbuka kepada suami yah nok, karena selepas akad terucap kamu telah menjadi tanggung jawab suamimu".
Mela mendengarkan nasihat ibunya sambil memegangi tangan kanan ibunya dan menciumnya.
"Miranti, apa yang terjadi pada ibumu adalah perjalanan hidup ibumu. Kamu tidak akan pernah bisa membalaskan dendamnya dengan kamu merusak kehidupan orang-orang".
"Kamu memang mendapat kebahagiaan sesaat lalu hampa lagi. Yang ada apa semakin lama orang semakin menjauh kepadamu".
"Maaf aku memang baru mengenali kamu, tapi saranku cobalah kamu memandang kehidupan ini dari sisi lain. Jangan kamu sia-siakan, banyak hal indah yang seharusnya kamu cari," Jaya mencoba memberi nasihat kepada Miranti yang sedang mencurahkan kisah hidupnya.
__ADS_1
Miranti senyum sambil air matanya mengalir di pipinya, dan Jaya menghisapnya dengan lembut.