
Fajar membaca buku yang ada dihadapannya dengan seksama,
lalu setelah yakin dengan apa yang dibacanya diapun menutupnya.
Kemudian dia mendekati Anita istrinya yang sedang mengganti popok bayinya, " Bun dari teori yang aku baca barusan, saat ini antara Anton dan Mela terjadi suatu hubungan akibat auto sugesti mereka masing-masing".
"Maksud ayah bagaimana aku tak paham?," tanya Anita sambil bayinya digendong kedalam pelukannya.
"Jadi di alam bawah sadar mereka berdua, Anton selalu mengatakan ingin bertemu dengan keluarga korban tapi tak pernah bisa. Sementara Mela ingin pelaku menemuinya dan memohon maaf tapi tak pernah datang, " Fajar berbicara sambil menatap istrinya dalam.
" Lalu tanpa mereka sadari dari hati dan pikiran masing-masing terjadi suatu panggilan alam yang suatu saat akan menemukan titik pertemuan keduanya".
"Cuma aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat mereka saling tahu bahwa kenyataan keduanya memilukan, dan aku paling khawatir terhadap Mela karena kemungkinan besar dia yang akan paling terpuruk".
Lalu Anita mendekati suaminya dan menatap suaminya dengan khawatir," Kita harus bagaimana dong ayah? Haruskah kita menyampaikan kepada mereka?".
Fajar menggeleng dan berkata,"Tidak bisa bun, kita hanya bisa memantau saja biarkan semua berjalan sesuai alam yang bicara. Karena saat ini kedua lintasan itu sedang mencari titik temunya".
"Semoga saja semuanya tidak akan seperti yang kita pikirkan, semoga jangan sampai terjadi hal buruk untuk mereka," kata Anita sambil mendekat menghampiri rangkulan suaminya.
"Satu-satunya cara kita harus mencoba menanamkan auto sugesti juga kepada mereka. Untuk Anton kita diam-diam tanamkan rasa percaya diri dan keberanian untuk menghadapi persoalan apapun. Dan Mela kita auto sugesti untuk bisa menerima kenyataan dan memaafkan kesalahan orang lain".
"Nah itu dia, suamiku selalu punya ide untuk memecahkan kesulitan hidup. Aku semakin cinta sama ayah deh," Mela sambil nyengir lalu menempelkan pucuk hidungnya ke hidung suaminya.
"Mesra-mesraan terus, nih anak yang gede nangis pada engga tahu deh orangtuanya," Anton tiba-tiba masuk sambil menggendong Keiza yang wajahnya basah tampak habis menangis.
"Wah anak ayah kenapa? Sini sayang sama ayah,"bujuk Fajar.
Keiza jadi menangis lagi sambil pindah ke gendongan ayahnya.
"Kei pingin bapaw tapi mamangnya engga dengel Kei panggil, dia pelgi telus," Kei menjelaskan kepada ayahnya.
"Cup sayang nanti kita beli bapaw yuk, kita pergi sama ayah".
"Engga mau sama ayah, mau sama Oom Ton aja,"sambil tangan mungilnya menunjuk ke arah Anton.
Tak tahunya Mela yang sudah mandi ternyata berdiri diujung ruang keluarga memperhatikan semuanya.
"Tante Mela boleh diajak engga sama kita Kei?"tanya Anton.
"Boleh, tapi jangan dikasih bapaw yah," jawab Keiza yang diiringi tawa dari semua yang mendengar.
Lalu Melapun ikut bersama Anton dan Keiza mencari penjual bapaw.
Saat mobil sudah melaju dijalan,sang bocah cilik mulai merajuk lagi yang semula ingin bapaw sekarang lain lagi.
Dia menangis lagi ingin makan ayam goreng di mall.
Kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal Anita ada sebuah mall yang tidak terlalu besar, dan disana ada resto ayam goreng terkenal.
Setelah memarkirkan mobil, merekapun bertiga menuju resto tersebut. Bagi yang melihat mereka bertiga layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Anton memesan dua paket makanan untuk Mela dan Keiza. Sambil makan Keiza sambil bermain, disana ada ayunan, perosotan dan jungkat jungkit.
Walau Mela belum kenal lama dengan Keiza tapi dia bisa mengasuhnya dan juga sekarang dengan sabar menyuapi anak itu.
Bahkan Mela membiarkan makanan untuknya, dia mendahulukan Keiza. Setelah Keiza selesai makan, baru Mela memakan bagiannya sambil tetap memperhatikan Keiza.
Dalam hati Anton sangat terenyuh dia kagum kepada Mela yang tanpa dibuat-buat menunjukan rasa sayang kepada Keiza.
"Mela kamu capek tidak, biar saya gantian yang mengawasi Keiza," kata Anton.
"Ah tidak, santai saja dokter. O,ya, nanti kita segera pulang yah. Tidak enak kasihan cici dan mbak Pertiwi. Walau sabtu malam begini kan tetap buka sampai jam 20.00. Aku mau bantu mereka sekalian belajar,"ujar Mela kepada Anton.
Anton mengangguk, merekapun membujuk Keiza untuk mau pulang.
Setiba di rumah Anita, bi Encum segera membawa Keiza untuk dibersihkan lagi dan ditukar pakaiannya.
Anton dan Mela melaksanakan Sholat maghrib berjamaah di musholla rumah Anita.
__ADS_1
Dalam hati Mela merasa kagum dan bahagia bisa sholat bersama Anton yang menjadi imamnya.
Ada setitik harapan kecil dalam hatinya terdalam ingin rasanya selamanya bisa seperti itu.
Setelah selesai ibadah, Mela sesuai keinginannya membantu Anita dan Pertiwi di apotik.
Dia berharap selain bisa menyelesaikan skripsi juga siapa tahu bisa diterima bekerja di tempat ini suatu saat nanti.
Anton seperti biasa selalu berdoa dan berdzikir sambil menunggu datangnya Isya.
Tak lama Isya datang dan Fajarpun menghampiri Anton untuk menunaikan ibadah bersamanya.
Kemudian setelah Isya, Fajar dan Anton duduk bersebelahan. Sambil bersandar di tembok Fajar bertanya kepada adik iparnya," Ton maaf nih, koko mau tanya sebenarnya kamu sama gadis itu sejauh mana hubungan kalian?".
"Ya masih temanlah, belum ada komitmen apapun diantara kami,"
jawab Anton.
"Begini Ton, koko sebagai kakak menyarankan agar kamu sebagai lelaki walau bagaimanapun harus jantan. Kamu sekarang sudah mulai dekat dengan dia, jangan sampai kamu hanya memberi harapan tak pasti. Kalau misal kamu merasa nyaman dengan dia segera ambil keputusan melangkah lebih jauh, kalau memang tidak ada hati lebih jangan kamu halangi langkahnya".
Anton terdiam lalu menatap kakak iparnya," Iya ko, sedang Anton bawa dalam doa kok. Siapa tahu ada jalan untuk kami. Dan berharap semoga dia jauh lebih baik dari yang dulu".
"Ah kamu tuh, yang dulu sudah lupakan, buka hatimu dengan yang baru. Namun dengan gadis ini nanti kamu harus siap dengan segala kemungkinan".
"Koko memang bukan peramal tapi koko membaca akan banyak rintangan karena ada perbedaan etnis dan sebagainya. Disitu kamu harus bisa menunjukkan kesungguhan seorang Anton," kata kakak iparnya itu sambil menepuk bahu adik iparnya.
Setelah kakak iparnya beranjak, Antonpun duduk sambil merenung.
Saat ini dia sudah termasuk berani membawa gadis ke rumah keluarganya, pasti dalam hati gadis itu juga menaruh sedikit harapan kepadanya.
Dia jadi ingat dulu ketika kakaknya mencoba mengenalkan dia kepada Pertiwi dan saat itu hatinya masih sangat tertutup oleh luka. Namun tak bisa dia membalas perhatian Pertiwi.
Dan akhirnya wanita sebaik Pertiwi dipinang lelaki lain. Sekarang dia menemukan gadis yang hampir sama kualitasnya, maka dia akan berusaha untuk bisa memilikinya.
Akhirnya tibalah saat makan malam, Anita mengundang Mela untuk makan bersama.
Di meja makan seperti biasa makan sambil berbincang santai
Mela baru selesai membantu bi Encum mencuci piring dan sebagainya. Saat dia akan menuju ke ruang keluarga, kembali dia melihat buah pisang yang segar berwarna kuning memikat hati.
Ingin mengambil sendiri tapi takut, biasanya ada orang jadi bisa ijin.
Lalu dia mendekati Anton yang sedang duduk dan mencoba berbisik.
"Dokter maaf bisa sebentar ke ruang makan, saya mau minta tolong?"tanya Mela dengan wajah ragu-ragu.
Lalu Anton segera berdiri dan berjalan disamping Mela sambil bertanya," Mau minta tolong apa?".
Setelah masuk ke ruang makan, Mela dengan malu-malu berkata sambil tersenyum dipaksakan," Saya mau minta pisang disana, bolehkan?".
Anton sambil menepuk kepalanya sendiri berkata," Astaga Mela...kirain apa, ambil saja kirain ada apa..nih ambil".
Anton mengambilkan satu buah pisang kuning ke hadapan Mela.
Dengan bahagia dia menerimanya dan langsung membuka dan memakannya.
Lalu Anton menggodanya sambil tertawa ," memang kamu tuh yah niat banget memancing saya, mau pisang saja harus panggil saya".
Sambil mengunyah Mela melirik Anton dan keningnya berkerut dia masih tak paham maksud Anton soal pisang dan memancing.
Anton kembali ke ruang keluarga, lalu Anita berkata kepadanya," Ton mumpung masih belum terlalu malam, ajaklah Anita berkeliling kota Bandung".
"Mela....sini kita jalan-jalan yuk, mau engga?"panggil Anton sambil mengajak Mela pergi.
Mela masuk ruangan sambil mulutnya masih penuh mengunyah dan diapun mengangguk.
"Makan apa Mela?"tanya Anita.
"Ehm...pisang Ci,"jawab Mela tersipu malu sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
Lalu Anita dan Fajar tertawa seketika, sambil Fajar berkata, "Ton..dari kemarin dia nyari pisang terus..ayolah cepat jangan ditunda lama-lama".
"Emang dia sih mancing- mancing saja nih," kata Anton sambil tersenyum menggoda Mela.
"Memangnya salah yah saya suka pisang?"tanya Mela serius dan bingung.
"Engga salah Mela...cuma gara-gara pisang tuh cici punya Keiza dan Kaysan...hahahaha," Anita menimpali candaan suaminya.
" Kok bisa sih Cici...Mela engga paham deh suwer,"ujar Mela sambil bingung dan membuat Anita dan Fajar tambah tertawa.
"Sudah jangan didengarkan, kita pergi yuk. Naik motor saja seperti biasa yah, "kata Anton kepada Mela.
"Emang di Cirebon kamu ada motor Ton?"tanya Anita.
"Ada kan cici ngasih duit kemarin ini," jawab Anton sambil mengangkat kedua alisnya kepada sang kakak.
"Iya dokter kita naik motor saja biar bisa jajan,"ujar Mela sambil malu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Nah ini Mela mulai keluar aslinya nih, badan kecil perut karet, kuat makannya loh, habis pecel lele bisa nyambung mie rebus atau habis nasi goreng bisa lanjut seblak, ya kan..,"kata Anton sambil menggoda Mela.
"Perbaikan gizi kalau jalan sama dokter tuh," Mela berkata lagi sambil masih malu-malu.
" Berarti kalian sering jalan berdua dong," sela Fajar.
"Kan dokter sering jemput Mela kalau pulang kuliah belakangan ini," Mela dengan polos berkata demikian.
Pasangan suami istri sontak bertatapan sambil berteriak " Wooowww!!"
Lalu Anton segera menarik Mela menuju ke belakang rumah untuk mengambil motor. Dan Mela sambil berjalan sambil pamitan.
Setelah Anton dan Mela berlalu, Anita berkata kepada suaminya,"Ayah si Anton beda banget yah. Terlihat lebih santai dan ceria sama Mela sekarang, makan di kaki lima juga mau. Beda sama yang dulu, harus dari cafe ke cafe. Naik motor apalagi manalah perempuan itu mau, alasannya angin lah, rambutnya nanti rusaklah, ini lah itu lah, pokoknya menyebalkan".
"Ayo bun yang dulu engga usah disebut lagi dong. Bersyukur saja lihat Anton sekarang bisa bahagia lagi".
"Iya sih, cuma kadang suka teringat dan aku sebagai kakak pasti suka kesal".
"Sudah tidak usah dibahas lagi, nah... anak-anak sudah tidur. Yuk kita tuntaskan masalah pisang di kamar".
"Maaf tuanku Fajar Sanjaya tercinta, istrimu sedang merah merona loh..
..hahahahh".
Fajar menepuk jidat dan berkata,"Kacau deh dunia percintaan".
Sementara Anton membawa Mela ke daerah kampus terkenal di Bandung, dimana disana malam haripun banyak kuliner enak di warung tenda sepanjang jalan kampus.
Sekarang Anton sedang menatap takjub seorang gadis dengan tubuh kecil dan kurus sedang duduk santai menghadapi mie instant rebus campur telur dan kornet. Dibelakang mangkuk mie itu sedang berbaris roti bakar dan juga pisang bakar.... alamaaaakkkkkk..
Menjelang tengah malam Anton seperti biasa kembali ke rumah orang tuanya di utara kota Bandung.
Aryani ketika mendengar pintu depan ada yang membuka segera terbangun.
Walau dia tahu itu pasti anaknya tapi diapun tetap turun dari kasur dan keluar kamar untuk memastikan.
Dan Aryani mendapati anaknya tampak ceria di tengah malam itu, lalu bertanya, "Darimana kamu Ton, kok baru pulang?"
" Ah biasa, jalan sama teman".
"Hmmm... tapi kayak kelihata yang senang sekali kamu tuh".
" Ah Biasa sajalah Mamah, tidak ada apa-apa".
" Oh iya besok mamah dan papah mau ke rumah cici nengok anak-anak, nanti kita makan siang disana".
"Mamah!!!!...please....jangan ke rumah cici nanti capek urusin cucu, kita makan siang saja bertiga di rumah makan yuk sebelum Anton ke Cirebon lagi".
Aryani memandang aneh, "Ah Mamah mau kesana kok, orang kangen sama cucu. Kok dilarang segala".
Lalu Aryani masuk ke kamar lagi untuk melanjutkan istirahatnya, tinggal Anton sendiri saat ini sedang kebingungan lalu mengaruk kepalanya walau tidak gatal.
__ADS_1
"