Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketiga Puluh Enam


__ADS_3

Maudy Latumahina adalah gadis asal Maluku yang belum lama bergabung menjadi seorang pengacara muda di salah satu Lembaga Bantuan Hukum


di kota Cirebon.


Dia seorang yang penuh semangat, mau belajar dan bekerja keras.


Dari Lembaga Bantuan Hukum tempat dia bernaung mendapat satu tantangan yaitu menjadi pengacara untuk kasus aborsi ilegal.


Dan yang menjadi klien mereka adalah Supriatin, Suprayitno dan istrinya.


Maudy membaca berkas perkara atas ketiga orang tadi dan merinding sendiri membacanya.


Dahinya berkerut, lalu dia melepaskan kacamata dan memutar-mutar pensil yang ada ditangannya.


"Oh Tuhan.... aku dari dulu ingin jadi pengacara untuk membela orang yang tidak bersalah tapi dituduh bersalah".


"Sekarang aku menghadapi orang yang nyata bersalah tapi harus aku bela agar mereka bebas....tak mungkin ini bisa aku lakukan..., "keluh Maudy sambil termanggu di meja kerjanya.


"Maudy..... aku mau membuat kopi, apakah kau mau sekalian aku buatkan?" tanya Reynald Patiselano sahabat kerjanya yang diam-diam menaruh hati kepadanya.


"Tentu dong, aku mau, makasih Rey.... kamu baik banget, "jawab Maudy selalu dengan senyum mengembangnya.


Itulah yang membuat Rey alias Reynald Patiselano jatuh hati kepadanya. Karena dalam kondisi apapun Maudy selalu tersenyum tidak pernah menunjukkan dia marah atau sedih hati.


Tak lama Rey kembali ke ruangan kerja sambil membawa dua gelas kopi panas.


"Ini kopimu...".


"Makasih Rey....".


Lalu keduanya meminum kopi hangat sambil Rey duduk di atas meja Maudy.


"Kamu sedang mengapa sih dari tadi mengetuk-ngetuk pensil ke kepala, lalu memutar-mutarnya di meja...apa ada masalah yang bisa ku bantu?"tanya Rey kepada Maudy.


Maudy tersenyum lebar sambil menatap hangat kepada Rey, "Entahlah Rey aku sedang bingung karena bung Jonas memberikanku kasus sulit".


"Kasus yang mana dari bung Jonas, masa kau tidak bisa menanganinya?" tanya Rey merasa aneh apabila Maudy tidak bisa menangani kasusnya.


"Ya itulah, kemarin ada dua kasus yang aku tangani bisa berhasil karena klienku memang tidak bersalah. Tapi sekarang klienku orang yang bersalah. Aku belum pernah tahu bagaimana caranya untuk melakukan pembelaan kasus seperti begini?"ujar Maudy menerangkan kepada Rey sambil tetap saja senyum.


"Mungkin kau harus mewawancarai mereka secepatnya, lalu bandingkan dengan berkas ini. Kapan kau rencana menemui klien tersebut?"saran Rey


"Siang ini, aku berencana mewawancara mereka karena sidang perkara akan digelar beberapa hari lagi, apakah kamu mau menemani aku?"tanya Maudy yang tentu saja segera disambut Rey dengan penuh semangat.


Siang harinya mereka melaju menuju ke Kepolisian Cirebon, dan mereka berdua sudah mengantongi ijin mewawancarai Supriatin, Wiro dan Sutiyem.


Maudy dan Rey saat ini berada di ruang khusus untuk melakukan wawancara dengan tersangka.


Yang pertama dipanggil oleh Polisi ternyata Suprayitno alias Wiro, lalu dia didudukan dihadapan Maudy dan Rey.


Kemudian mereka memulai sesi pertanyaan kepada Wiro mengenai kebenaran dirinya menjadi paranormal palsu dan juga praktek aborsi ilegal.


Sejauh ini Wiro cukup kooperatif, dia berterus terang bahwa benar adanya melakukan penipuan dengan kedok sebagai paranormal dengan motif utama yaitu uang.


Sejak kecil hidupnya miskin terlunta- lunta menggelandang tidak karuan. Suatu saat bertemu dengan seorang wanita kaya yang bodoh telah percaya bahwa dia paranormal.


Tanpa membuang waktu lagi dia segera menjadikan sebagai kesempatan untuk menarik keuntungan.


Oleh wanita itu Wiro dan istrinya diberi dana untuk membangun sebuah tempat tinggal di pedesaan yang tidak banhak penduduk dan menjadikannya tempat praktek paranormal dan aborsi ilegal.


Praktek aborsi ilegal mendatangkan uang lebih besar lagi, sehingga Wiro dan istrinya membohongi Supriatin kalau ada satu janin yang gugur berarti menambah kekayaan Supriatin sebesar satu juta rupiah.


Biaya menggugurkan kandungan ditarif sebesar lima juta rupiah perorang untuk usia kandungan di bawah empat bulan.


Sedangkan kandungan di atas lima bulan dikenakan tarif lebih besar lagi.


Sebenarnya mengenai masalah tarif seperti itu Supriatin tidak tahu yang pasti dia selalu mendapatkan uang seminggu sekali satu juta.


"Bukankah dari hasil temuan polisi, terdapat kerangka janin berjumlah sangat banyak. Berarti selama ini Supriatin juga dibohongi oleh bapak?" tanya Maudy menatap penuh selidik.


Wiro diam sejenak lalu tak lama dia menganggukan kepalanya.


Maudy matanya membelalak sambil menatap Rey, dia mengangkat bahunya sambil kedua tangannya naik juga.


"Ini kasus ketiga yang aku tangani dan aku begitu merinding Rey. Ada orang begitu santai mengatakan bahwa dia sudah mengaborsi begitu banyak janin. Aku tak habis pikir jika harus membela orang seperti itu,"ujar Maudy menutup matanya membayangkan kengerian praktek aborsi ilegal.


"Ini belum seberapa, baru tahap susah pertama yang bung Jonas berikan padamu. Dulu pun aku begitu saat bung Jonas memberikan kasus seorang anak membunuh ayah dan ibu kandungnya dengan menggorok leher keduanya".


"Dan saat ditanya sang anak menjawab dengan tenang tanpa bersalah dan kau tahu berapa usia anak itu..........baru 16 tahun, "Rey membagi pengalamannya kepada Maudy sambil menunggu terdakwa berikutnya.


Tak lama masuklah Sutiyem istrinya Wiro. Wanita berperawakan kurus kecil dan berkulit gelap, dan menurut catatan kriminal yang dipegang Maudy, wanita ini adalah eksekutor aborsi ilegal.


Kembali Maudy dan Rey memberikan beberapa pertanyaan yang hampir sama dengan yang tadi mereka tanya kepada Wiro sebelumnya.


Namun ada satu tambahan pertanyaan untuk Sutiyem sebagai sang eksekutor aborsi ilegal.


"Apakah ibu Sutiyem saat melakukan mengaborsi janin tidak merasa bersalah setelahnya, apalagi begitu banyak yang menjadi korban aborsi oleh ibu?"tanya Maudy sambil menatap tajam kepada Sutiyem.


"Untuk apa aku merasa bersalah dan berdosa, mereka yang datang sendiri ke tempat kami. Mereka yang meminta untuk aku buang janinnya, maka aku lakukan apa keinginan mereka".


Maudy menyandarkan tubuhnya ke kursi tak menyangka akan ada kalimat demikian meluncur dari mulut Sutiyem.


"Dicatatan kami ada mayat janin yang diperkirakan sudah ada di kandungan seorang wanita berkisar 6 bulan usianya...Apakah benar kandungan sebesar itupun ibu berani untuk meng gugurkannya?" Maudy bertanya lagi lebih dalam sambil matanya tak lepas dari Sutiyem.


Dan dengan tenang Sutiyem menjawab, "Benar... mengapa tidak...itu permintaan pasien kami...Dan seingat ku wanita itu berani membayar mahal untuk proses pengguguran itu".


Wajah Maudy menunjukkan kengerian yang amat sangat. Seluruh tubuhnya gemetar saat mendengar apa yang disampaikan oleh wanita pembunuh janin itu.


Lalu Sutiyem menatap Maudy dan Rey dan berkata, "Kalau kalian memang benar mau membela kami, bebaskan suamiku. Dia tidak bersalah, aku yang menjadi otak semua ini. Suamiku hanya menuruti apa yang aku mau".


Lalu Sutiyem kembali dibawa ke sel dan Maudy menatap punggung wanita itu sambil bergidik, ngeri membayangkan apa yang sudah diperbuat wanita ini.


Maudy dan Reynald tengah berbincang, terdengar suara wanita yang mengoceh memaki-maki petugas.


Tak lain tak bukan dia adalah Supriatin yang sedang berjalan menuju ruangan dimana Maudy dan Rey menunggunya untuk mewawancarainya.


"Dasar petugas bodoh....., aku ini bukan kambing tau !!!!.... enak saja kalian dari tadi menarik-narik aku seperti ini... kalian tak tahu diri padahal aku yang menggaji kalian.... aku membayar pajak untuk makan kalian.... Bedeb*h!!!!!".


Polisi wanita yang tengah memegang tangannya tampak mulai tak sabar dengan ocehannya, " Sekali lagi ibu berkata kasar kepada petugas, maka akan kami masukan ibu ke dalam sel gelap!!!".

__ADS_1


Supriatin menatap petugas itu dengan sorot penuh kebencian, tapi mulutnya sekarang terdiam.


Petugas polisi mendudukan Supriatin di atas kursi dihadapkan pada sepasang pengacara muda.


"Kalian pengacara untuk kasusku ini, berapa suamiku harus membayar kalian agar aku bisa bebas?"tanya Supriatin tanpa tedeng aling-aling kepada Maudy dan Rey.


"Maksudnya ibu Supriatin ini apa yah.... kami kemari bukan untuk uang......kami mencoba mencari kebenaran dari kasus yang sudah ibu perbuat , "jawab Maudy merasa tak suka dikatakan seperti tadi oleh Supriatin.


"Jangan pura-pura aku tahu pengacara seperti kalian pasti butuh uang banyak, suamiku orang kaya nanti aku minta uang kepadanya untuk kalian asal bisa membuat aku bebas.... Aku tak tahan tinggal di penjara busuk seperti ini.... bebaskan aku cepat !!!!" Supriatin mulai meracau ingin segera dibebaskan oleh pengacara dihadapannya.


Rey mulai kesal dengan sikap Supriatin lalu dia berkata sambil telunjuknya mengarah ke arah wajah Supriatin, " Dengar kalau memang ibu tidak butuh bantuan pengacara kami tidak masalah, tapi maaf jangan menghina pekerjaan kami. Karena pekerjaan kami membela kebenaran bukan membela uang!!!".


Maudy menarik lengan Rey, menepuk bahunya, dia berusaha menenangkan keadaan saat itu.


Supriatin menatap Rey dan menyipitkan matanya dengan masih keras kepala dia berkata lantang," Kau yang dengar..... Masih banyak pengacara yang bisa aku bayar dengan uang jika memang kamu sok aksi tidak butuh uang".


"Aku juga tidak butuh kalian, tidak butuh pengacara sok suci seperti kalian..... Petugas....!!! bawa aku ke sel....malas aku bicara dengan dua orang bodoh seperti mereka.......Cepat..!!!!"


Petugas polisi wanita masuk langsung menggebrak meja sambil melotot tajam ke arah Supriatin.


"Heh!!...Ibu dengar yah ... tidak ada lagi pengacara yang akan menangani ibu selain mereka. Tolong bersikap sopan kepada mereka dan jangan selalu merendahkan orang lain. Ibu itu harus sadar, makanya bisa ada di sini karena sudah melakukan sesuatu yang jahat".


"Ibu saat ini seorang terdakwa, coba tolong berpikir yang benar jangan pakai emosi. Harusnya syukur ada pengacara mau membantu malahan dimaki-maki," Polisi wanita tersebut kesal sekali dengan prilaku Supriatin.


"AAAAARRRRRRRGGGGGGGHHHHH!!!!


AKU BENCIIIIII....BENCI KALIAN...BENCI SEMUANYA...AAAAAAAAHHHHHH!!!!!!".


Supriatin menjerit-jerit meluapkan semua kekesalan yang dia rasakan, kesal atas kebodohannya, kesal atas situasi yang tidak mendukungnya, kesal atas semua orang yang tidak bisa mengabulkan keinginannya.


Dia menangis sambil memukul-mukul meja, dia merasa tidak terima kalau saat ini dia menjadi pesakitan.


"Ini semua gara-gara si b*ngs*t Wiro dan istrinya yang memperdaya aku, memang mereka b*jing*n....PENIPU WAAAAAAAAAWWWWWW!!!!!!!!".


Lalu petugas menghampiri Maudy dan Rey, "Lebih baik kita sudahi saja pertemuan ini, tidak akan berjalan benar. Ibu Supriatin tidak bisa diajak kooperatif. Kami serahkan kepada anda berdua apakah masih mau menangani atau membatalkannya".


"Baiklah kalau begitu kami juga pamit, karena kami rasa sudah cukup data yang kami terima dari kedua terdakwa sebelumnya, "Maudy pun berpamitan kembali ke kantornya bersama Rey.


Diperjalanan Maudy dan Rey membahas kejadian tadi, yang mulanya mereka merasa kesal sekarang malah saling tertawa mengingat kelakuan Supriatin yang seperti orang stress.


"Kita lihat saja Maudy, lama-lama ibu tadi bisa kehilangan ingatan karena terus menyangkal keadaan dirinya,"kata Rey sambil mengemudikan mobil dinas kantor yang bertuliskan "Lembaga Bantuan Hukum Jonas Tahalea dan rekan-rekan"


Jonas Tahalea adalah pria asal Maluku seorang pengacara terkenal di kota Cirebon, namun sepak terjangnya sudah sampai ke kota-kota lainnya.


Dia terkenal sebagai pengacara yang jujur dan sering membantu orang yang tidak mampu yang mencari keadilan.


Prinsip kejujuran tidak menghalalkan segala cara telah dia terapkan kepada seluruh rekan kerjanya.


Memang kebanyakan teman kerjanya sama-sama orang dari Maluku, bukan karena dia kesukuan namun karena adat Indonesia suka mencari teman sesama suku yang sudah berhasil di kota besar.


Sebenarnya Jonas saat ini dalam tahap menggembleng Reynald Patiselano, dia berharap suatu hari Rey menggantikan posisi dia sekarang.


Jonas ingin kembali ke tempat lahirnya untuk membangun tanah Maluku dan menjadi Wakil Rakyat di sana.


Sore itu Jonas duduk di ruangannya sambil menatap laptopnya, dia sedang mempelajari kasus-kasus yang sedang ditangani oleh timnya.


"Selamat sore bung, maaf mengganggu, "kata Maudy sambil mengetuk pintu ruangan Jonas.


"Bung, aku tak sanggup menghadapi ibu Supriatin, terlalu liar dia orangnya... hahahaha ,"Maudy lalu menceritakan kisah pertemuannya dengan Supriatin kepada atasannya itu.


Betapa tadi Maudy sangat kesal kepada Supriatin tapi akhirnya malah menjadi lucu mengingatnya seakan menghadapi orang yang mulai setengah gila.


"Makanya aku berikan kepadamu kasus ini, padahal ini masih tergolong biasa. Banyak kasus lain yang jauh lebih mengerikan. Dua kasusmu terdahulu bisa kamu selesaikan dengan mudah, yakinlah sekarang juga akan berhasil?"


ucap Jonas menyemangati Maudy agar jangan patah semangat.


"Rey!!! Kemari sebentar!!!," teriaknya memanggil Rey ke ruangannya.


"Ya bung, tunggu..,"sahut Rey lalu segera masuk ke ruangan Jonas.


"Kau besok dampingi Maudy yah, ada pertemuan dengan Jaksa yang juga menangani kasus ini," kata Jonas menunjuk Rey sebagai pendamping Maudy dalam pertemuan besok.


"Baik bung, besok siapa nama Jaksa yang menangani kasus ini?"tanya Rey ingin tahu.


"Seorang Jaksa wanita bernama Devina Rosalia Hamarung, "Jonas menjawab pertanyaan Rey.


"Apa!!!???"pekik Maudy saat mendengar nama tersebut.


"Mengapa denganmu Maudy?" Jonas keheranan saat Maudy sampai terpekik mendengar nama ibu Jaksa tersebut.


"Beliau dahulu dosenku bung, waduh..... ibu itu Macan Betina Kalimantan. Tegas dan disiplin, dulu di kampusnya dijuluki "Mrs. No Excuse", apakah sekarang di dunia hukum mendapat julukan yang sama?" Maudy mengingat mantan dosennya saat beberapa tahun lalu masih di bangku kuliah.


"Ya beliau wanita tangguh aslinya suku Dayak dari Kutai Kalimantan Timur, dan memang banyak yang menjulukinya Macan Betina Kalimantan atau Mrs. No Excuse seperti itu karena beliau bukan jaksa yang mudah disuap dengan uang. Baginya kebenaran harus ditegakkan," Jonas mengulas tentang sosok Jaksa yang besok akan mereka temui.


Jonas minta tim nya datang tepat waktu karena Jaksa Devina orang yang disiplin sehingga jangan sampai membuat malu lembaga.


Cirebon memang terkenal dengan teriknya matahari walau jarum pendek jam dinding masih di angka 9 dan jarum panjang di angka 12.


Maudy dan Reynald berdiri dihadapan seorang wanita setengah baya yang berpakaian dan berdandan rapih, beliau menatap Maudy sambil membetulkan letak kacamatanya.


"Kalau tidak salah anda pasti dulu salah satu mahasiswa saya yah?" Devina Rosalia Hamarung menatap dan ingat kepada Maudy.


"Wah....luar biasa Ibu masih ingat saya, kehormatan untuk saya masih diingat oleh ibu Devina, "jawab Maudy seraya menghaturkan hormatnya dengan membungkukan badannya kepada mantan dosennya.


"Tentu saya ingat dan saya justru yang patut berbangga melihat mahasiwa saya dulu akhirnya benar-benar terjun ke dunia hukum,"ujar Devina sambil membalas hormatnya kepada Maudy.


Lalu beliau mempersilahkan Maudy dan Reynald duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Saya panggil nama saja kepada anda berdua apakah boleh?"tanya Devina sambil menatap Maudy dan Reynald.


Serentak keduanya mengiyakan agar Devina hanya memanggil nama saja kepada mereka.


"Baik Maudy dan Reynald, dua hari lagi kita akan bertemu dalam sidang perkara aborsi ilegal yang telah menjadikan tiga orang sebagai terdakwa yang bernama Suprayitno alias Wiro, Sutiyem dan juga Supriatin. Menurut catatan yang saya terima juga berdasarkan keterangan dari kepolisian dan para saksi, telah terbukti bahwa ketiganya pasti akan dikenakan pasal berlapis".


"Baik dari undang-undang perdata yaitu pasal penipuan, undang-undang pidana yaitu tindakan menghilangkan nyawa seseorang walaupun masih berupa janin juga undang-undang kesehatan atas tindakan aborsi ilegal".


"Tujuan saya mengundang anda berdua adalah untuk mengingatkan besok hari diantara kita akan berseberangan. Namun saya mohon jangan sampai anda berdua memberikan pernyataan bebas untuk ketiga orang tersebut karena tindakan mereka sudah di luar batas kemanusiaan".


"Sebaiknya kalian mengajukan banding untuk pengurangan masa tahanan saja tentu masih busa jadi pertimbangan. Dan satu hal lagi silahkan mencari saksi yang sekiranya bisa mengurangi dakwaan mereka, hanya saya mohon demi kemanusiaan jangan sampai anak ibu Supriatin di jadikan saksi. Gadis itu telah menjadi korban ibu nya sendiri yang meminta Wiro dan Sutiyem untuk melakukan tindakan aborsi terhadap dirinya. Alasannya karena tidak ingin anaknya menikah dengan lelaki yang telah menghamilinya dan kondisi gadia itu saat ini masih belum stabil,"Devina panjang lebar menerangkan kasus yang akan dihadapi mereka kepada Maudy dan Reynald. Keduanya menyimak apa yang disampaikan oleh ibu Jaksa tersebut.

__ADS_1


"Benar sekali dengan apa yang ibu sampaikan, hal tersebut akan kami lakukan. Hanya saja kondisi putrinya ibu Supriatin yang belum kami ketahui dan kami mengucapkan terima kasih atas informasi yang ibu sampaikan,"ujar Maudy memberikan persetujuan atas semua yang disampaikan oleh Devina.


Setelah berbincang hal lainnya tak lama Maudy dan Reynald pamit kembali ke kantornya lagi.


Selama tiga hari Maudy dan Reynald mempelajari dan menyiapkan semua berkas untuk persiapan sidang.


Hingga tibalah hari yang ditunggu, Darma tampak hadir menggunakan kemeja putih dan celana hitam dan menempatkan diri sebagai keluarga terdakwa.


Tak lama Hakim dan Jaksa memasuki ruangan dan semua hening tak ada yang berani bersuara.


Sidang dibuka oleh hakim ketua Bapak Halim Nugraha, dan di kursi jaksa terlihat Devina Rosalia Hamarung sebagai penutup umum.


Terdakwa dipanggil bersamaan adalah Suprayitno dan Sutiyem isterinya, mereka ditanyakan identitas berikut apakah sudah menerima salinan dakwaan, juga ditanya apakah didampingi Penasehat Umum atau tidaknya.


Suprayitno dan Sutiyem isterinya di sumpah sesuai dengan agama yang tertulis dalam identitasnya untuk menjawab dan memberikan keterangan yang sebenar-benarnya.


Lalu masuk ke dalam sesi pertanyaan dari Jaksa penuntut umum dan Hakim ketua, begitu juga dengan beberapa pertanyaan yang bermakna pembelaan dari kubu Maudy dan Reynald.


Sesuai dengan pembicaraan kemarin dengan Jaksa Devina Rosalia Hamarung, isi dakwaan adalah sebagai berikut:


Melakukan tindak penipuan terhadap publik dengan berpura-pura menjadi paranormal yang bisa memberikan saran untuk mendapatkan kekayaan bagi korbannya.


Melakukan tindakan pemerasan terselubung kepada saudari Supriatin dengan dalih bisa menambahkan kekayaan korban.


Melakukan tindakan pemerasan terhadap orang -orang yang meminta tindakan aborsi ilegal kepada mereka.


Melakukan tindakan aborsi ilegal tanpa didukung oleh keterangan medis dan juga melakukan tidak abrosi tanpa menggunakan alat medis yang sesuai ketentuan sehingga membahayakan keselamatan seseorang.


Akhirnya Jaksa Penuntut Umum menjatuhkan hukuman selama 25 tahun penjara.


Pihak pembela mengajukan banding keberatan atas lamanya masa tahanan, dan alasan yang dikemukakan adalah terdakwa kooperatif mengakui semua kesalahan, terdakwa melakukan karena himpitan ekonomi dan juga terdakwa melakukan semua selama ini karena didanai oleh orang lain.


Maka setelah terjadi perdebatan yang cukup alot, dan atas pertimbangan Hakim Ketua maka hukuman menjadi 15 tahun dengan masa pengurangan tahanan selama 2 bulan.


Karena kedua suami istri itu kooperatif maka sidang cepat selesai. Karena waktu menunjukkan hampir tengah hari, maka sidang selanjutnya akan dimulai setelah pukul 13.00.


Sebelum menikah dengan Damar dahulu Supriatin sudah memilki satu anak lelaki bernama Hilman.


Sekarang Hilman sudah punya rumah tangga sendiri dan bekerja baik-baik di salah satu Bank Perkreditan Rakyat Daerah.


Sebenarnya dia tidak mau terlalu ikut campur urusan ibu kandungnya karena dia tahu bahwa ibunya adalah orang yang keras kepala dan susah dibantah keinginannya.


Hancurnya rumah tangga dengan ayah kandungnya dulu karena ulah ibunya juga. Tak tahan mempunyai suami miskin lalu minta cerai dengan mengusir suaminya dari rumah.


Setelah bercerai dia bekerja di toko besi milik pemuda bernama Darma, lalu dia menggodanya dan Darma terjebak menghamilinya.


Lahirlah Wiwit bersamaan seiring waktu usaha Darma juga makin berkembang maju maka Supriatin merasa bahwa dirinya pembawa keberuntungan.


Siang itu Hilman datang dan duduk disamping ayah sambungnya. Dia memohon maaf kepada ayah sambungnya atas ulah ibunya yang membawa aib bagi keluarga.


Merekapun duduk berdampingan sambil menunggu sidang selanjutnya yang akan memanggil Supriatin sebagai terdakwa.


Waktu jeda sidang selesai, semua perangkat pengadilan sudah menempati kursinya masing-masing tinggal menunggu terdakwa dipanggil masuk oleh petugas polisi.


Dari kejauhan terdengar suara wanita mencak-mencak mencaci maki tak karuan. Dan akhirnya di pintu masuk ruang sidang tampak wanita setengah baya dengan tangan terborgol diapit oleh dua petugas polisi wanita.


Wanita itu terlihat terus meronta-ronta sambil mencak-mencak.


Lalu dengan tampak sedikit kasar kedua polisi tadi mendudukan wanita itu di kursi terdakwa.


Supriatin nama wanita terdakwa itu terlihat wajahnya kesal dan tatapannya penuh kebencian.


Setelah mereda kemudian dimulailah sidang dengan awal ditanyakan identitas, dan kondisi terdakwa.


Wanita itu menjawab dengan kasar kepada hakim ketua.


Saat tiba pertanyaan pendampingan Penasehat Hukum, tiba-tiba dia berdiri dan berteriak," Aku tidak butuh siapapun membantuku, kalian semua mau uang berapa ...bebaskan aku sekarang karena suamiku punya uang banyak.... bebaskan aku!!!!".


Dia berdiri dan menendang kursi lalu menjerit-jerit, memaki semua orang di sana.


"KALIAN SEMUA TERKUTUK ... BEBASKAN AKU...!!!!"


Lalu tak sengaja dia melihat suami dan anaknya duduk di deretan bangku pengunjung sidang, dia berlari ke arah suaminya.


Dengan tangan terborgol dia menarik baju suaminya,"DARMA!!!! BEBASKAN AKU....!!!! BAYAR MEREKA SEMUA ....!!!! BEBASKAN AKU !!!!!".


Polisi wanita mengejarnya tapi dia terus meronta bahkan kursi pengunjung juga dia tendang, salah satu polisi wanita tadi ada yang kena sikut tangannya sampai hidungnya berdarah.


Luar biasa terjadi kekacauan di dalam ruang sidang pengadilan itu, akhirnya Supriatin berhasil ditaklukkan tapi dia masih terus menjerit dan sekarang mulai tertawa-tawa lalu menangis.


Dia diamankan sementara oleh Polisi dan segera dipanggil tenaga ahli kejiwaan untuk memeriksa kondisinya.


Dan dugaan sementara sidang ditunda lagi sampai kondisi kejiwaan Supriatin bisa normal kembali.


Damar dan Hilman saling berangkulan, mereka sangat terpukul melihat kondisi Supriatin, namun apa daya ibarat nasi sudah menjadi bubur, Supriatin harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.


Sidang akhirnya ditunda sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan mengingat kondisi kejiwaan Supriatin.


Maudy dan Rey sedang berbenah untuk segera kembali ke tempat kerjanya melaporkan kejadian hari ini.


Tiba-tiba Devina mendekat menyalami Maudy sambil bertempel pipi kiri dan kanan.


"Maudy selamat yah...aku bangga padamu, anak didikku begitu pandai menyampaikan analisa berbobot dan pandai berdebat secara berkualitas.


Aku berharap kita bisa bertemu dalam sidang lainnya, senang aku bisa berhadapan denganmu,"ujar Devina menyampaikan rasa bangganya kepada mantan anak didiknya itu.


"Terima kasih bu Devina, saya yang merasa terhormat bisa berhadapan dengan ibu sehingga menantang saya untung lebih jeli lagi menyampaikan argumen sesuai ajaran ibu dulu," Maudy menanggapi mantan dosennya itu dengan ekspresi senang dan sendiri terharu karena mendapat pujian.


"Aku berharap Maudy bisa terus menimba ilmu lagi, sekolah lagi semoga bisa menjadi Hakim. Ayo wanita Indonesia jangan pernah menyerah untuk terus maju berkarya," Devina melanjutkan dukungannya kepada Maudy dan tentu saja membuat Maudy semakin terus tersenyum lebar merasa dirinya diperhatikan sang mantan dosen.


Lalu sebelum pamit Devina juga menyalami Reynald. Walau apapun kedudukan dan jabatan seorang wanita tetap saja Devina seorang emak-emak. Saat menyalami Reynald timbul perasaan emak-emaknya lalu beliau berkata," Maudy ayo kamu terus maju, biarkan saja calon suamimu ini tetap sebagai Penasehat Hukum yah".


Lalu Devina berlalu menuju kendaraan, dan Maudy sekarang terlihat bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal," Calon suami....siapa Maksudnya?".


Rey menjawab sambil malu-malu, "Mungkin karena ibu Devina tahu selama ini aku selalu menolong kamu, jadi sekarang kamu harus menolong aku?".


" Menolongmu????.....apalagi ini maksudnya," Maudy semakin bingung.


"Menolong aku untuk menjadi calon suamimu....dan menjadi ibu dari Patiselano junior...,"Reynald menjawab sambil mukanya tersenyum lebar.

__ADS_1


" HAAAAAAHHHHHHH......"


__ADS_2