
Setelah Mela melahirkan anak pertamanya, Anton suaminya membawa anak dan istrinya kembali ke kediaman mereka.
Anton bersikukuh kalau Mela dan bayi mereka, tidak akan tinggal di rumah Ibu Sinah atau harus dibawa ke rumah keluarganya di Bandung.
Prinsip Anton adalah dia dan istrinya yang harus mengurusi dan membesarkan anaknya.
Gibran bayi yang sehat dan sangat menggemaskan. Mela juga memiliki air susu yang banyak sehingga dia berusaha memberikan ASI penuh kepada anaknya.
Wajah Gibran sangat mirip dengan Anton bagai pinang dibelah dua, Mela sama sekali tidak kebagian apapun.
Benar-benar wajah Gibran adalah foto copy suaminya tapi dia bahagia karena mau wajahnya mirip siapapun yang penting Gibran adalah bayinya.
Ibu Aryani sangat senang sekali begitu melihat Gibran betul-betul mirip Anton anaknya, beliau sangat membanggakan bayi kecil kepada siapapun yang melihatnya.
"Alhamdulillah, cucu saya mirip sekali sama bapaknya. Lihat deh ini wajahnya tuh Wiharja banget yah,"selalu seperti itu celotehnya kepada orang-orang yang datang menengok Mela dan bayinya.
Mendengar perkataan seperti itu malah membuat Ibu Sinah selalu saja kesal.
"Kamu tuh enggak bisa bikin anak, masa semuanya mirip suamimu. Mbok ya sisakan matanya kek, hidungnya kek atau apanya yang mirip kamu. Malah semuanya mirip suamimu," ujar Ibu Sinah sambil mencebikan bibir dan melipat tangannya di depan dada.
Mela tertawa mendengar ibunya berkata seperti itu,
" Ya Allah, Mi...aku kan cuma dititipi Gibran di perut, soal semuanya mirip ayahnya sih di luar kuasa Mela dong".
"Jadi karena wajahnya Pipi Anton banget, lalu Mimi jadi tak sayang sama cucunya yang ini?"goda Mela kepada Ibunya.
"Sembarangan, ya sayang dong. Masa tak sayang sama cucu Mimi, ini cucu dari anak perempuanku. Kamu yang hamil dan melahirkan, masa tak sayang,"tukas Ibu Sinah sambil menatap tajam kepada Mela.
"Habisnya Mimi protes karena Gibran tak ada mirip-miripnya sama aku...hihihihi," Mela tertawa geli sambil menatap Gibran yang sedang tidur tenang.
"Sebal saja sama mertuamu, kayaknya senang banget lihat Gibran mirip Anton...tiap ada yang datang pasti bilang... bayinya Wiharja banget loh... lihat deh mirip banget sama Anton," kata Ibu Sinah sambil menirukan yang dikatakan besannya.
"Mimi lucu deh, orang benar bapaknya Gibran kan Anton Wiharja, kalau wajah Gibran mirip aktor malah jadi mencurigakan dong...hihihi," Mela cekikikan melihat tingkah ibunya.
Ibu Sinah tetap saja terlihat sebal dan mencebikan bibir, beliau merasa kalah saing dengan besannya.
Sementara Ibu Aryani merasa menang telak karena cucu pertama dari anak lelakinya mirip sekali dengan Anton anaknya.
Dasar nenek-nenek yah, ada-ada saja, hal begini jadi masalah. Dulu Mela belum hamil menjadi masalah bagi keduanya, saat Mela hamil keduanya ribut urusan makanan yang baik lalu inilah itulah untuk Mela dan saat sudah melahirkan wajah bayi yang mirip siapa atau siapa juga jadi masalah.
Padahal yang namanya bayi kan wajahnya bisa berubah, saat lahir mirip ayah belum tentu saat besar bisa saja jadi mirip ibunya.
Anton sangat luar biasa, dia bisa memandikan bayinya, mengganti popok bahkan kalau malam hari Gibran menangis lapar lalu setelah kenyang disusui Mela maka giliran Anton yang akan menggendongnya sampai tidur pulas.
Tak itu saja, Anton paham antara Ibu Aryani dan Ibu Sinah ada rasa saling bersaing soal cucu.
Maka dari itu Anton membuat jadwal, ibu Aryani dan Ibu Sinah kalau mau berkunjung dan menginap dibuatkan jadwal khusus agar tidak bentrok dan saling ribut.
"Mi, aku diajak oleh dokter Dhani bertemu dengan lulusan kedokteran UNPAS sepulang kerja nanti. Aku ijin yah hanya makan malam dan ngobrol sebentar," kata Anton di suatu sore kepada istrinya.
"Ya tak apa, silahkan saja Pi, tapi jangan terlalu malam saja yah karena Gibran pasti cari Pipinya kalau malam mau bobo,"jawab Mela dan tentu diiyakan oleh Anton.
Memang Gibran sangat manja kepada Anton, anak bayi itu kalau malam pasti akan lebih nyenyak kalau didekap ayahnya.
"Nah itu dia Anton, elu kenal kan?!" ujar dokter Dhani melambaikan tangannya kepada Anton yang baru tiba di suatu cafe.
Lalu Anton menghampiri dan berseru, " Wah senior semua ini sih, apa kabar?!!!".
Dokter Dhani membawa temannya dokter Sandi dan dokter Stefano.
Keduanya merupakan teman satu angkatannya dokter Dhani, Anton walau adik kelas diajak gabung karena merasa satu almamater dan kebetulan semuanya berpraktek di kota yang sama.
"Wah senior apa bro, senang bisa bertemu ...., silahkan duduk," sapa dokter Stefano sambil meraih tangan dan bahu Anton.
Lalu mereka berbincang dengan penuh tawa gembira, mengingat masa lalu yang kadang banyak kisah yang konyol sekali.
Membahas dosen yang galak, menceritakan karyawan administrasi kampus yang seksi dan juga ternyata setiap angkatan pernah punya kasus dengan penjaga sekolah berkumis yang sok galak dan reseh.
Semua angkatan menjulukinya si Kumis.
"Sumpah gue inget sama si kumis, waktu itu gue telat jadi gue simpen motor di bawah pohon yang dekat ruang dekan...ingat tidak ada pohon besar di sana," kata dokter Sandi dengan berapi-api dan ketiganya temannya mengangguk ingat dengan pohon tersebut.
"Pikir gue kan kuliah cuma sejam, cuma gue lupa kuliah apa tapi cuma sejam deh. Pas beres jam kuliah pagi, balik lagi ke pohon mau pindahin motor. Enggak tahunya ban motor gue dikempesin sama si kumis, apes gue...parah tuh kumis...hahahaha," kata Sandi sambil tertawa.
"Kumis sih memang tukang ngempesin ban motor, aku juga pernah kena dan memang kesal banget yah...hahaha," ujar Anton bercerita pernah jadi korban kumis.
"Eh...sebentar, aku angkat ponsel dulu yah," kata dokter Stefano sambil berdiri dan menerima telepon.
Lalu tak lama dia kembali lagi sambil berkata, " Nah Anton, kamu kenal Hernowo tidak? Dia angkatan kamu loh".
"Oh iya kenal sekali, Bom Bom kan...Hernowo yang gemuk kan ," sahut Anton sambil terlihat senang.
"Iya...hahaha...sekarang sih sudah tidak gemuk, ganteng dia sekarang...Hahaha... dia itu sepupu aku," kata dokter Stefano sambil tertawa.
"Sebentar lagi dia sampai kok, prakteknya di Jakarta di salah satu rumah sakit terkenal. Dia itu dokter anak. Sekarang lagi cuti sama keluarganya ke kota ini ," dokter Stefano menjelaskan kepada Anton.
Tak lama masuk seorang pria yang berkulit putih dan tinggi besar, benar dia adalah Hernowo alias Bom Bom teman Anton satu angkatan.
"Woooiii..!!! Anton... !!! Apa kabar bro, lama sekali tak jumpa," seru Hernowo sambil menyalami dan berangkulan dengan Anton.
Tentu saja Anton membalas salamnya, dan sekarang berlima berkumpul.
Tambah ramai saja malam itu saling bercerita dan tertawa tergelak sampai tak ingat waktu.
"Dhani, elu kaga bakalan dicari suami? Sudah jam berapa ini...Hahahaha...," kata dokter Sandi sambil melihat jam tangannya.
"Wah iya yah...aduh kacau enak tertawa sampai lupa waktu. Tapi suamiku belum menelepon kok...hahahah...," kata dokter Dhani sambil tertawa.
"Iya jangan sampai ditelepon dong, hayuk kita bubar dulu yuk. Kalian juga kan masih punya bayi," kata dokter Stefano kepada Anton dan Hernowo.
"Iya benar nih, sampai rumah ada yang cemberut deh," ujar Anton sambil melihat jam tangan juga.
"Enak elu sih Ton, balik masih ada yang cemberut. Gue sih kebalik, nanti gue yang harus cemberut tapi nanti bini gue cuek saja," keluh Hernowo kepada Anton.
"Memangnya istrimu kemana lagi?"tanya Stefano terlihat sebal.
"Biasalah, reuni ibu-ibu sosialita. Anak masih bayi dititip ke mertuaku, istriku sama sekali tak mau menyusui takut body nya rusak katanya," kembali Hernowo terlihat mengeluh lagi.
"Haduh, malas deh harus balik ke rumah mertua".
"Jangan gitu, kasihan anak bayimu. Ayo pulang ke mertuamu, kasihan anakmu," kata Stefano kepada sepupunya.
Semua mendengar tapi tak berani komentar, dan akhirnya satu per satu pamit pulang.
Anton tak tahu urusan kawan lamanya itu, dan dia juga tak mau bertanya.
Lelaki kebanyakan seperti Anton, kalau orang tidak secara empat mata bicara mengeluhkan sesuatu maka pastinya tak mau pusing dengan urusan orang lain.
Setibanya di rumah, dilihat Mela sudah nyenyak tidur bersama Gibran.
Anton perlahan masuk ke kamar tidur dan segera masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dia perlahan mencoba membaringkan tubuhnya agar anak dan istrinya jangan sampai bangun.
Tapi ternyata perasaan dan penciuman Gibran sangat tajam sekali, dia merasakan ada aroma tubuh ayahnya maka dia mulai merengek bangun.
Mau tak mau Anton segera meraih bayinya dan mendekapnya agar tidur kembali.
Mela mengintip sambil berkata ," Rasain...siapa suruh pulang larut sekali".
Lalu Mela tertidur lagi dengan nyenyaknya.
Anton melirik istrinya, dan dia paham pasti istrinya kesal karena saat ini jam sudah menunjukkan setengah dua belas malam.
Sementara di rumah Jaya dan Miranti sama saja ada yang sedang merengek.
"Sayang, aku kangen deh. Boleh dong sesekali menengok anak kita," rengek Jaya kepada Miranti.
"Tidak, mas suka ekstrim. Jadi aku takut karena kehamilanku masih rawan sekali, belum juga genap tiga bulan," sahut Miranti yang sedang hamil muda.
"Tapi aku sudah peluk kamu sayang, bagaimana dong ?" Jaya kembali merayu istrinya.
"Terserah, siapa juga yang minta dipeluk. Pokoknya nanti saja, tunggu instruksi dari ibu bidan Ayu," sahut Miranti lagi sambil memejamkan matanya.
Terpaksa Jaya harus menahan hasrat, dan dia tidur dengan perasaan kesal tapi mau tak mau harus sabar karena khawatir juga kandungan Miranti nanti bermasalah.
Sementara Miranti tidur sambil cekikikan dalam hatinya, Bidan Ayu sebenarnya berkata tak masalah kalau mau berhubungan intim di usia hamil muda.
Asalkan dilakukan dengan perlahan dan tidak melakukan gerakan yang membahayakan kandungan.
Cuma dia takut karena paham suaminya tak mungkin kalau hanya bergaya biasa saja, selalu saja harus melakukan gerakan yang heboh.
Esok paginya Anton sedang membalas beberapa email masuk dari Pusat terkait pekerjaan.
"Dokter, kok Ibu Mela bisa sih segera kurus lagi. Padahal waktu hamil kemarin ini beratnya hampir saingan sama aku loh," kata Murni sambil memasukan sepotong kue ke dalam mulutnya.
Anton meliriknya lalu berkata, "Kalau istri aku mau menurut saat disuruh diet, beda sama Embot yang tersiksa kalau disuruh diet".
"Ya Allah, aku juga sudah diet kok, sungguh dokter aku diet kok,"ujar Murni meletakan kembali kue yang hampir saja masuk ke mulutnya.
"Iya diet, pagi maka lontong dua sama bakwan empat, sekarang jam sepuluh pagi kue sama teh hangat katanya," tiba-tiba Jaya masuk sambil nyamber berkata begitu.
"Hahahah....Iya benar, nanti siang nasi padang, sore cilok atau siomay...," kata Anton menambahkan.
Murni hanya cemberut sambil melanjutkan mengetik di komputernya.
"Maaf dokter Anton, ada tamu di depan menunggu katanya dari kontraktor," kata Komar yang sekarang sudah bukan lagi petugas kebersihan tapi menjadi bagian penerima tamu dan membantu di pendaftaran pasien.
"Oke terima kasih, nanti sebentar saya temui mereka," jawab Anton.
Lalu tak lama dia segera berjalan ke depan ruang tunggu untuk menemui tamunya.
Kemudian mengajak tamunya masuk ke ruangannya, dan memang di depan meja Anton ada disediakan dua buah kursi agar bisa berbincang dengan saling berhadapan.
Pihak kontraktor memberikan penawaran kepada Anton untuk pembangunan ruangan baru lagi.
Puskemas mendapatkan tambahan dana dari pusat untuk mengembangkan dan menambahkan bangunan.
Kebetulan tepat di sebelah puskemas ada tanah yang tak terurus lebarnya hanya lima kali lima meter, lalu dibeli oleh pihak Puskemas untuk dijadikan lahan parkir.
Sementara lahan parkir di puskemas yang sekarang akan segera di renovasi untuk menjadi Musholla.
Dan Musholla sekarang akan diubah menjadi bangunan dua lantai khusus untuk klinik Ibu dan anak.
Di lantai satu khusus untuk ruang praktek dokter anak dan di lantai dua untuk ruang praktek kebidanan, dokter ahli Kandungan.
Musholla baru nanti akan berada di sebelah bangunan klinik tersebut dan rencananya diatasnya akan dijadikan ruang melahirkan, ruang bayi dan rawat inap setelah melahirkan.
Di dalam sendiri, ruangan yang tadinya dipakai dokter anak akan menjadi ruangan praktek dokter ahli Telinga Hidung dan Tenggorokan.
Dan ruangan yang sekarang dipakai dokter Kandungan akan menjadi ruangan dokter ahli penyakit dalam.
Anton sudah lama ingin agar proyek renovasi agar segera dapat dilaksanakan.
Kontraktor tadi datang membawa penawaran harga perbaikan, namun ketika melihat nilai yang disodorkan membuat Anton menjadi mengernyitkan keningnya.
"Ini nilainya fantastis sekali yah, saya memang bukan orang sipil tapi nilai sebesar ini sangat tak masuk akal loh," kata Anton saat melihat lampiran harga penawaran tersebut.
Sebenarnya nilai berapapun pasti akan disetujui karena Puskemas sedang dalam tahap pengembangan.
Karena seharusnya perubahan dan pembangunan bangunan itu dilakukan sejak tiga tahun lalu.
Tapi entah mengapa saat Pak Tarmidi menjadi Pimpinan, renovasi belum dilakukan padahal instruksi dari Pusat mengharuskan segera ada perbaikan itu.
"Maaf dokter Anton, apakah bisa kita bicara empat mata mengenai penawaran yang kami sampaikan ini?"tanya kontraktor tersebut.
"Hmmm, mengapa harus empat mata, sekarang kita di sini ada lima orang. Ya sudah sepuluh mata saja," jawab Anton tak setuju dengan ajakan kontraktor itu.
"Ayo sampaikan saja, saya dan tim tidak mau menutupi apapun. Apalagi pak Jaya nanti yang akan mengeluarkan dana. Bossnya beliau bukan saya," ujar Anton dengan santai dan Jaya hanya senyum saja melihat dua kontraktor itu.
__ADS_1
Jaya dan Anton mencium ada bau-bau curang yang akan disampaikan keduanya.
Keduanya bertatapan dan mau tak mau langsung bicara," Jadi begini dokter, nilai yang kami sampaikan itu sudah kami tambahkan sebesar dua ratus juta. Rencananya akan kami berikan untuk dokter dan Pak Jaya, lumayan untuk membeli mobil baru," kata Kontraktor itu tapi terlihat cemas karena Anton dan Jaya tampak saling berpandangan sambil tertawa kecil.
"Kontraktor minggu lalu menawarkan saya lebih besar. Mereka malah menawarkan rumah di bukit," ujar Anton sambil tersenyum kepada keduanya.
Kedua kontraktor tadi saling berpandangan dan dibenak keduanya terpikir kalau yang mereka tawarkan kurang tinggi.
"Tapi....saya tolak karena saya tidak butuh rumah di bukit," ujar Anton melanjutkan kalimatnya.
"Kalau begitu dokter butuh apa? Mobil mewah atau uang lebih banyak biar nanti kami revisi lagi,"kata kontraktor itu dengan semangat.
"Anda juga saya tolak, karena kami butuh kontraktor yang jujur bukan seperti anda berdua yang melakukan mark up terhadap anggaran".
"Jadi lebih baik anda berdua tidak perlu kemari lagi, dan silahkan penawaran ini dibawa saja. Terima kasih," kata Anton menuntaskan kalimatnya.
Keduanya keluar dari ruangan tersebut dengan merasa kesal dan malu, ternyata Anton memang bukan orang yang mudah diajak kerjasama untuk kecurangan seperti itu.
Anton membalas tatapan Murni dan Jaya yang sedang menatap dirinya.
Lalu dia berkata ," Sorry, aku tak bisa begitu. Aku harus menafkahi anak dan istri, tak sanggup rasanya kalau harus memberi makan mereka dengan uang haram".
Murni dan Jaya sangat kagum dengan prinsip Anton, menerima satu rupiah dari uang curang akan membawa dampak buruk bagi keluarga seumur hidup.
Sudah hampir satu bulan tak ada satupun kontraktor yang cocok untuk bekerjasama dengan Anton merenovasi bangunan Puskesmas.
Ada yang curang dengan nilai, ada yang memberikan konsep tak jelas, yang paling mengesalkan adalah orang yang datang membawa konsep tak jelas dan harga tak karuan.
Lalu orang tadi langsung memberikan amplop berisi sejumlah uang ke meja Anton, orang tadi tanpa diajak bicara langsung diusir dan amplop uangnya disuruh dibawa lagi tanpa disentuh sedikitpun oleh Anton.
Di suatu hari sabtu, Anton pulang cepat karena ada janji dengan kontraktor yang sedang memperbaiki rumah yang dibelinya dari Haikal.
Rumahnya sudah selesai di renovasi walau waktunya lambat sekitar tiga minggu dari perjanjian awal.
Keterlambatan bukan murni kesalahan kontraktor juga tapi karena Anton minta ada tambahan beberapa bagian diganti dengan bahan yang lebih baik.
Yang membuat lama juga karena Anton mengganti seluruh lantai yang ada di lantai dua yang digunakan sebagai rumah tinggalnya.
Lantai mahal yang tidak licin dan bisa menyerap air, Anton mengantisipasi agar anaknya jangan sampai kesakitan kalau jatuh.
Dan itu sebenarnya di luar perjanjian dengan kontraktor bahkan Anton harus rela mengeluarkan lagi kocek lebih banyak demi kenyamanan keluarganya.
Anton memeriksa semua hasil perbaikan dan penambahan yang dimintanya.
"Maaf pak Anton, kami terlambat tiga minggu. Seharusnya awal bulan kemarin sudah bisa selesai. Tapi karena ada satu dan lain hal jadi terlambat,"kata kontraktor yang dipanggil Bang Ipul.
Anton puas dengan pekerjaan kontraktor itu dan masalah sedikit terlambat juga memang karena dirinya yang minta ada perubahan tadi.
Karena penyelesaian rumah menjadi lebih lama berarti setidaknya harus ada lagi dana yang akan ditagihkan kepada Anton.
"Ini kunci rumah pak, semua lantai sudah kami bersihkan hanya mungkin kurang bersih sempurna," Ipul menyerahkan kunci rumah kepada Anton.
"Berapa lagi yang harus saya bayar? karena dari awal bulan sampai kemarin berarti masih ada pekerjaan yang dilakukan," ujar Anton sambil berpikir pasti akan ada sejumlah uang lagi yang harus dia bayarkan.
"Maaf pak Anton, tidak ada tagihan lagi. Semua sudah lunas, dan keterlambatan kemarin itu karena memang ada tambahan dari Bapak, tapi perlu membayar lagi," sahut Ipul sehingga membuat Anton terkejut.
"Wah serius?".
"Serius pak, karena sudah masuk ke dalam perhitungan budget kemarin".
Anton memandang Ipul dan dia salut sekali, padahal bisa saja dirinya diminta lagi tambah bayaran untuk hal itu.
"Ipul pernah merenovasi kantor?"tanya Anton.
"Pernah satu kali tapi hanya sedikit perbaikan jendela kantor lima lantai,"sahutnya dengan santun.
"Tahu tempat kerja saya tidak?"tanya Anton lagi.
Dan ternyata Ipul tahu, lalu Anton meminta dia datang di hari Senin nanti untuk melihat kondisi kantornya karena akan di renovasi lagi.
"Insyaallah saya akan datang".
Gibran benar-benar bayi rumahan, sejak lahir belum pernah dibawa kemanapun.
Pagi dijemur, lalu dimandikan, setelah itu disusui dan tidur lagi. Begitu terus selama tiga bulan ini.
Kalau bayi lain minimal bisa pergi keluar rumah sebulan sekali saat akan imunisasi. Tapi Gibran lain, setiap bulan ayahnya saat pulang kerja membawa suntikan dan vaksin imunisasi untuk dirinya.
Anton tinggal bercerita kepada dokter Rahmat kondisi Gibran, lalu minta resep vaksin dan membelinya di apotik Puskemas.
Setelah itu vaksin tadi dibawa pulang dan disuntikkan ke anaknya.
Baru setelah empat bulan lahir, di hari minggu ini dia akan dibawa oleh orang tuanya pergi berjalan-jalan ke mall.
Kebetulan di mall sedang ada pameran tempat tidur dan furniture dengan harga diskon 70 persen.
Sehingga keduanya semangat untuk membeli sambil sesekali membawa Gibran keluar rumah.
Bayi kecil itu terlihat senang sampai kakinya meronta takut ditinggal pergi, seperti tahu kalau akan diajak pergi berjalan-jalan.
Di dalam mobil Gibran minta menyusu dan tidur, tapi setibanya di mall matanya membuka dan seakan menikmati suasana mall dari balik kereta bayinya.
"Mi, kamar tidur kita dulu saja yah yang dilengkapi. Kamar Gibran dan kamar untuk tamu nanti dulu yah kalau sudah ada uang lagi," kata Anton dan untungnya Mela juga setuju saja karena dia paham uang mereka juga terbatas.
Yang dibeli Anton hanya sebuah kasur besar, lemari pakaian dan juga lemari pakaian plastik untuk anaknya.
Andai Anton kemarin ini mau menerima amplop, tentu saja semua isi rumah bahkan mobil baru juga akan terbeli.
Tapi untuk apa melakukan itu, hati tak akan tenang diburu dosa. Lebih baik apa adanya, sedikit demi sedikit mengisi kebutuhan rumah tentu malah nantinya akan menjadi kebahagiaan.
Mela melihat ada lemari baju untuk Gibran, dan ketika bertanya berapa harganya, membuatnya hanya bisa tersenyum ramah kepada penjualnya.
"Lemari baju bayi bagus sekali, warna dan modelnya aku suka. Tapi harganya dong mahal," kata Mela sambil tertawa kecil kepada suaminya.
Anton juga melihat lemari yang ditunjukkan oleh istrinya itu dan dia mengakui tak mungkin membelinya karena uangnya sudah tidak cukup lagi.
Bagi Mela tak masalah, yang penting nanti di rumah baru mereka sendiri setidaknya pakaian Gibran sudah ada tempatnya.
Selama ini mereka tinggal di rumah Haikal, menyewa rumah beserta isinya jadi tak pusing dengan lemari dan sebagainya.
Sekarang akan tinggal di rumah sendiri yang dibeli dan harus diperbaiki dulu dengan biaya yang cukup mahal.
Memang rumah dibelikan oleh Pak Salim sebagai tanda sayang kepada anak dan menantunya, dan Anton harus meminjam uang ke salah satu Bank sejumlah dana untuk perbaikan besar di rumah itu.
"Pi, antarkan ke toko yang menjual pakaian bayi tapi tak mau yang di mall ini. Aku tahu tempat yang murah dan bagus, cuma lokasinya dekat pasar baru," kata Mela meminta antar suaminya.
Dan Anton mengangguk lalu mereka keluar dari mall tadi setelah membayar semua yang telah dibeli, untung saja ada diskon besar sehingga tidak memberatkan kantong.
Mela menggendong Gibran yang tengah tidur nyenyak, sambil mencium pipi anaknya dia berkata kepada Anton.
"Kasihan anak kita, dari lahir sampai hari ini yang dia pakai sehari-hari semua pakaian bekas Kaysan. Sampai kereta bayi juga bekas Kaysan, tapi lumayan juga kita bisa hemat," kata Mela sambil tertawa kecil.
Anton hanya diam saja, dia cukup merasa tersentil karena memang benar kemarin ini kakaknya mengirimkan pakaian bekas Kaysan untuk anaknya.
Untung Mela bukan istri yang banyak menuntut, selama ini menerima saja dengan senang hati pakaian bekas Kaysan karena masih bagus dan bisa dipakai.
Bayi paling pakai baju juga tak akan lama, karena dia cepat membesar.
Setibanya di toko yang dia maksud, maka dengan gembira Mela memilih cukup banyak pakaian anaknya.
Anton menunggu bersama Kaysan di depan ruang tunggu di toko tersebut.
Saat akan membayar, tenyata Mela yang membayar semuanya karena katanya uang keuntungan berjualan kosmetik.
"Tapi Mi, ini ada kok uangku," ujar Anton sambil memberikan dompetnya.
"Sudah Pi, ini kebetulan aku bawa uangnya kok dan harganya juga tak mahal".
Anton juga terdiam lagi sambil tetap memeluk Gibran.
Rencananya seminggu kedepan mereka akan pindah rumah, untuk itu Mela akan mulai sedikit demi sedikit merapihkan barang-barang milik mereka.
Hari Senin akhirnya datang juga, dan benar saja kontraktor bangunan yang mengerjakan perbaikan rumah Anton datang juga ke Puskesmas.
Kemudian Anton mengajaknya melihat-lihat sambil memberi penjelasan mengenai rencana pembangunan dan renovasi yang diinginkannya.
Kontraktor tersebut bersedia dan memahami, lalu akan segera membuat penawaran.
"Dokter, tapi maaf saya jujur saja. Sewaktu memperbaiki rumah dokter nilai perbaikan saya naikan sebesar 10%, karena sebagai antisipasi ada keterlambatan atau ada kenaikan harga bahan baku," kata Ipul berkata sejujurnya.
"Oh, pantas kemarin perbaikan rumahku terlambat tapi aku tak harus membayar lagi yah karena sebenarnya sudah ada cadangan di awal," kata Anton memahami dan dapat menyetujui untuk menaikan harga karena alasan yang masuk akal.
Setelah itu beberapa hari kemudian kontraktor bernama Ipul datang lagi dan memberikan penawaran yang masuk akal.
Bahkan memberi masukan kepada Anton, yaitu ada satu sudut ruangan sebelah apotik yang terlihat cukup luas untuk dijadikan ruang laboratorium.
Anton sangat senang sekali dengan saran yang diberikan oleh kontraktor itu.
Dia segera menandatangani penawaran tersebut dan berharap agar proyek renovasi bisa berjalan cepat.
Sementara di rumah juga sedang berlangsung proses pindah ke rumah baru.
Mobil dari toko datang dengan membawa kasur dan lemari pakaian yang kemarin dibeli Anton.
Mela meminta tolong pegawai toko untuk membawanya naik ke tempat tinggalnya di lantai dua.
"Bu, ini lantai bawah kok kosong begini. Mau dijadikan apa?"tanya salah seorang pegawai toko tersebut.
"Oh rencananya suami saya mau membuka klinik dan apotik, tapi belum tahu kapan sih," jawab Mela sambil senyum tipis.
Pegawai tadi hanya diam saja lalu bersama temannya membawa barang yang kemarin dibeli ke lantai atas.
"Orang kaya kok cuma beli kasur sama lemari begini yah," kata salah satu orang tadi sambil memasukan lemari ke dalam sebuah ruangan yang ditunjukkan Mela.
"Mungkin duitnya habis dipakai membangun".
"Bisa jadi yah, masa bisa bikin rumah besar begini tapi tak punya uang".
"Iya, beli juga barang diskon semua. Aku sih kalau punya rumah sebesar ini pasti akan membeli barang bermerek".
Mela mendengarkan semua pembicaraan kedua pegawai toko yang sedang menyimpan pesanannya itu.
Tapi dia tak mau berkomentar, diam saja toh ltahu apa mereka dengan kondisi keluarganya.
Yang penting dia bahagia sebentar lagi akan segera menempati rumahnya sendiri.
Akhirnya di akhir minggu mereka resmi meninggalkan rumah Haikal dan memasuki rumah milik mereka sendiri.
Lantai satu masih kosong melompong, lantai dua yang ada isinya hanya kamar tidur Anton dan Mela.
Lalu di dapur hanya ada kompor dan tabung gas, juga lemari es dan kotak menyimpan beras.
Sisa perabotan yang selama berada di rumah Haikal bisa digunakan adalah milik keluarga Haikal semuanya.
Anton dan Mela tertawa saat melihat keadaan rumah mereka sendiri.
"Pi, bahkan kita juga tak tahu bagaimana cara memasak nasi...hahaha...," Mela tertawa geli.
"Ada kompor dan tabung gas, tapi tak ada wajan...haduh...
sepertinya kita harus makan beras mentah nih...hahahaha," kata Anton juga sambil tertawa geli.
Lalu Anton memeriksa sisa saldo uangnya melalui E-Banking di ponselnya.
"Masih dua minggu menuju gajian, dan uangku hanya tinggal segini,"ujar Anton sambil memperlihatkan sisa saldo uangnya yang sangat minim.
"Hahahaha...coba aku periksa juga deh," kata Mela sambil mulai membuka ponselnya.
Sementara Gibran ada di tengah mereka, bayi itu tampak sangat menikmati ruangan besar yang kosong.
__ADS_1
Dia mengeluarkan bunyi dari mulutnya dan terdengar menggema, lalu dia tertawa sendiri mendengarnya.
"Ini Pi, saldo uang komisi jual kosmetik ada segini, lalu saldo sisa uang belanja bulanan segini. Tampaknya masih bisa kita sekarang belanja perlengkapan dapur,"ujar Mela sambil senyum senang.
"Tapi itu kan uangmu, masa harus memakai uangmu untuk membeli kebutuhan rumah," sahut Anton terlihat wajahnya sangat tak enak hati.
"Pi, istri kan menolong suami tugasnya. Sekarang kebetulan ada sisa uang walau tak banyak, tapi setidaknya kita bisa membeli beberapa barang yang mendesak untuk dipakai,"ujar Mela sambil hidungnya ditempelkan ke bahu suaminya.
Anton merangkul istrinya dan mencium kepala istrinya, bahagia hatinya tak salah memilih Mela menjadi pendamping hidupnya.
Keduanya kembali mencari barang diskon, dan kebetulan ada. Lumayan banyak merek terkenal dan produk dalam negeri yang kualitas bagus sedang mengadakan promosi.
"Tapi belum bisa terbeli mesin cucinya," keluh Anton saat Mela sedang mencuci perlengkapan dapur.
"Tenang saja, dulu juga aku mencuci pakaianmu juga menggunakan mesin cap dua tangan kok,"sahut Mela sambil mengedipkan mata.
Anton senyum dan ingat bagaimana ketika awal mereka bertemu, saat itu Mela yang mencuci dan menyetrika pakaiannya setiap hari.
Gibran sudah tidur, dan suami istri ini sedang menikmati makan malam dengan membeli sebungkus nasi padang dimakan berdua.
"Setelah melahirkan aku tak sanggup lagi makan nasi padang sebungkus," ujar Mela sambil menikmati makanannya.
Anton mencebik sambil nyengir, lalu berkata," Aku masih tak percaya kok, soalnya waktu dulu pacaran saja ada cewek makan mie ayam nambah dua mangkuk".
Mela langsung tertawa tergelak, dia ingat dulu pernah begitu. Dan Anton juga semakin senang menggoda istrinya dengan kenangan saat dulu waktu mereka masih pacaran.
Setelah makan malam Anton melakukan telepon video kepada Haikal.
Tentu saja Haikal gembira sekali, dan memberitahu kepada Anton dan Mela kalau Aprilia saat ini sedang hamil muda.
"Tapi istriku memang rock and roll, hamil muda juga tetap saja beraktifitas tinggi. Kemarin naik perahu ke sungai ikut menangkap udang,"ujar Haikal menceritakan istrinya.
Anton menjelaskan memang sepupunya itu tak akan bisa dilarang, sangat senang bertualang.
Keduanya berterima kasih karena sudah diijinkan menyewa rumahnya, dan memberikan tahu kalau kunci rumah sudah diberikan ke rumah tante Linda.
"Ya Bang, tante Linda ada di Australia. Begitu juga Papih saya sudah di sana untuk diobati Daddy James,"ujar Haikal menjelaskan.
Saat sedang berbincang tiba-tiba dari belakang Haikal muncul sosok Aprilia.
"Wah...Apri kamu coklat gosong banget...hahahah," Anton tertawa saat melihat sepupunya yang kulitnya menjadi lebih gelap.
Aprilia juga tertawa keras mendengar kalimat Anton, dia menjelaskan kalau selama di Papua bahagia sekali. Hampir setiap hari ikut dengan penduduk asli setempat mencari ikan atau udang ke sungai.
Bahkan Haikal juga sudah tak bisa melarangnya, lalu mereka saling bercerita sambil tertawa gembira.
Malamnya Anton memeluk istrinya sambil berkata," Aku bahagia banget, tinggal di rumah sendiri walau belum ada apa-apa tapi terasa enak sekali".
Mela juga mengiyakan dan berharap akan selalu ada kebahagiaan dalam rumah ini.
Seiring waktu berjalan, dalam beberapa bulan berikutnya Anton mendapat bantuan dari kakaknya untuk membuka apotik di rumahnya.
Tetangga sekitar juga sudah setuju kalau di perumahan akan ada apotik dan juga klinik dokter.
Masalah perijinan dan lainnya banyak di dukung oleh pihak keluarga Wiharja di Bandung yang sudah berpengalaman dalam mendirikan apotik.
Awal...
September sampai November 2019
Anton sebenarnya masih belum bisa mempunyai banyak dana untuk membuka apotik, tapi karena dukungan keluarga Wiharja maka akhirnya jadi juga usaha apotik tersebut.
Bahkan Anton juga mulai membuka praktek, pagi hari dari pukul enam pagi sampai pukul tujuh pagi.
Lalu sore hari mulai pukul lima sore sampai pukul delapan malam.
"Dokter, saya dengar ada virus di luar negeri. Apakah akan menyebar ke negara kita?"tanya seorang pasien yang berobat di malam itu.
"Belum tahu juga pak, masih dalam penelitian para ahli. Hanya yang saya dapat beritanya virus itu tidak menular lewat udara tapi lewat sentuhan," jawab Anton dan pasien itu juga terlihat sedikit lega.
Begitu juga orang yang membeli obat di apotik sering bertanya tentang virus kepada Mela dan juga pegawainya.
"Semoga saja tidak akan datang ke negara kita bu, tampaknya kalau dilihat di berita belum ada obatnya," kata Mela memperlihatkan juga rasa khawatirnya.
Sementara di Puskemas yang sekarang sudah menjadi semakin baik bangunannya, masalah virus yang terjadi di luar negeri juga menjadi perbincangan hangat.
Bahkan Anton juga sempat beberapa kali diundang untuk menghadiri diskusi yang diadakan oleh Ikatan Dokter Indonesia.
Membahas tentang pola mutasi virus baru dan juga tentang kemungkinan virus menyebar ke negara lain.
Harapan semua dokter sama dengan orang lain yaitu jangan sampai ada virus masuk ke negera ini.
Desember 2019
Hari yang membahagiakan bagi keluarga kecil Anton dan Mela, hari ini Gibran merayakan ulang tahunnya yang pertama.
Anak itu tumbuh sehat, dan selama ini Mela juga selalu memberikan air susu ibu kepadanya sebagai salah satu penguat imun tubuh dan juga penambah kesehatan anak itu.
Giginya sudah tumbuh delapan buah, makannya juga sudah banyak dan sekarang sudah mulai bisa berdiri tapi belum lancar berjalan.
Baru berani satu atau dua langkah, lalu biasanya Gibran berhenti sambil tertawa dan jatuh lagi terduduk.
Tapi urusan merangkak sudah sangat jago sekali, dia bisa mengejar Mela dengan cepat sambil merangkak.
Sepanjang akhir tahun ini berita virus melanda sebuah kota di salah satu kota di negara China semakin hari semakin terlihat serius.
Bahkan diberitakan banyak orang meninggal dunia karena virus tersebut, termasuk virus flu baru yang belum ada obatnya dan sangat mematikan.
"Di negara itu selalu saja ada virus flu aneh-aneh yah Bu," ujar Eti sambil menyuapi Gibran makan sore.
"Ah semoga saja tidak masuk ke negara kita, seperti dulu ada Flu burung atau flu unta tapi tak ada yang menyebar di negara kita," sahut Mela sambil menghitung uang masuk hari ini.
Bukan itu saja bahkan virus ini juga menjadi bahan guyonan di Puskemas.
"Dok, ada virus flu baru namanya corona. Kayak merek bir jaman dulu yah," kata Jaya kepada Anton.
"Tukang mabuk sih hafal saja yah, aku sih tak paham ada merek minuman keras seperti itu," sahut Anton dengan acuh tak acuh.
"Kelihatan nih, mana anak gaul keren jaman dulu, dan anak cupu jaman dulu," ujar Jaya lagi mencoba meledek Anton.
"Jaman dulu dibawa-bawa, ingat anakmu perempuan. Sekarang masih bayi, nanti tujuh belas tahun lagi udah ada yang ngapelin," balas Anton kepada Jaya.
"Ya tak apa dong ada yang ngapelin sih, wajarlah artinya anakku cantik," jawab Jaya tak mau kalah.
"Iya cantik sih sudah pasti, tapi kalau yang apel nanti cowok yang perilakunya macam bapaknya yang buaya darat dan tukang mabuk, mau bagaimana ayo.... hahahah," Anton langsung menembak mati Jaya.
"Hmm...bisa saja yah, sudah pasti aku simpan golok di depan meja tamu," tukas Jaya tapi jadi agak berpikir.
Anton cekikikan melihat roman wajah temannya itu tiba-tiba agak berubah.
Ada sedikit rasa was-was juga dalam hati Jaya, benar juga yang Anton bilang. Bagaimana kelak kalau Solana anak bayi perempuan kecilnya suatu hari nanti dewasa dan salah pilih lelaki.
"Dasar dokter Anton sinting, aku jadi kepikiran nih," kata Jaya terlihat merenung.
Dan Anton jadi tertawa melihat tingkah Jaya yang menjadi seperti takut kalau suatu saat anaknya salah memilih pasangan.
Dasar Anton, padahal anaknya Jaya masih bayi baru juga tiga bulan.
Miranti tiga bulan lalu memang sudah melahirkan bayi perempuan anak pertamanya buah cintanya dengan Jaya Permana.
Desember identik dengan liburan, dan pada libur akhir tahun 2019 ini cukup panjang, semua keluarga berkumpul di kota Bandung.
Anton, Mela dan Gibran tentunya menghabiskan liburan panjang ini bersama keluarga besar di Bandung.
Kakek dan nenek yang berbahagia ini baru saja pulang umroh, saat ini mereka membagikan oleh-oleh dari tanah suci.
"Habis pulang umroh lalu tahun depan masih mau jalan lagi ke Jepang sambil reuni Sekolah?"tanya Anton kepada kedua orang tuanya.
"Bukan cuma Jepang, tapi se- Asia. Jangan salah Anton yah, ini bukan wisata sekedar jalan-jalan tapi wisata religi," kata Ibu Aryani menjelaskan kepada anaknya.
"Maksudnya wisata religi?".
"Ya nanti kami berkunjung ke berbagai Masjid terkenal di wilayah Asia dan juga bertemu dengan komunitas Muslim di negara Asia," kata Pak Salim menjelaskan.
"Kapan rencananya Mamah dan Papah berangkat?"tanya Mela sambil matanya tak lepas dari Gibran yang sedang bermain bersama Keiza dan Kaysan.
"Rencana bulan Maret sampai April, perjalanan satu bulan. Sudah diurus oleh pihak travel semuanya," jawab Pak Salim sambil terlihat senang.
Keiza sekarang sudah berusia Sembilan tahun dan sudah duduk di bangku Sekolah Dasar.
Sementara Kaysan sekarang usianya sudah lima tahun dan masih bersekolah di Taman Kanak-kanak.
Semakin besar usia Kaysan semakin terlihat kalau dia mempunyai bakat prekognisi atau melihat kemungkinan akan sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang.
Kaysan tak bisa ditanya akan ada apa nanti, tapi dia bisa saja tiba-tiba mendapat visi untuk kejadian yang akan datang.
Tidak setiap saat bisa dia melihat sesuatu yang akan terjadi, hanya kalau akan ada sesuatu yang buruk baru bisa terlihat dan segera dia berusaha mencegah hal itu terjadi.
Dia sedang bermain bersama kakaknya Keiza, mereka berdua menggoda Gibran sampai bayi kecil itu tertawa terbahak-bahak.
Saat telinganya mendengar
bahwa beberapa bulan lagi Kakek dan nenek akan bepergian jauh, tiba-tiba saja Kaysan menangis.
Keiza sangat paham kalau adiknya melihat sesuatu dan dia segera memanggil ayahnya.
"Ayah!!!!...ini Kay Kay...tolong Kay Kay....ayah !!!!"teriak Keiza dan tentu saja Fajar yang tengah duduk berbincang dengan Anton segera bangkit dan berlari meraih Kaysan.
Gibran melihat kakak sepupunya menangis jadi ikut menangis juga, Mela segera menggendongnya.
Tapi dasar anak kecil, melihat Kaysan digendong Fajar maka Gibran juga menangis lagi sambil menunjuk Anton.
Dia baru berhenti menangis ketika Anton menggendong dan menciumnya.
"Kenapa Kay, cerita sama ayah. Kay lihat apa?"tanya Fajar dengan sabar.
Untuk urusan ini memang Kaysan lebih bisa bicara dengan ayahnya dibandingkan kepada Anita ibunya.
Keiza duduk di samping Fajar karena dia juga ingin tahu ada apa yang dilihat oleh adiknya.
"Ayah...banyak orang ditutup mulut dan hidungnya berjalan di sepanjang jalan dimanapun. Kasihan ayah yang tidak tutup hidung dan mulut akan sakit juga ada yang meninggal," kata Kaysan sambil menangis di pelukan ayahnya.
Anak itu memang baru lima tahun tapi kalau bicara sudah seperti anak besar saja.
"Lalu kita harus bagaimana sayang?"tanya Fajar sambil mengelus kepala anaknya.
"Kita harus pakai juga, harus cuci tangan tapi tak boleh keluar rumah. Kungkung sama Mumu tak boleh pergi jauh, nanti sakit bahaya," Kaysan tambah keras menangisnya.
Anton ikut mendengar apa yang dikatakan Kaysan sambil tetap menggendong Gibran yang manja kepadanya.
"Masa sih Indonesia bisa seperti di Wuhan. Aku baca dan mempelajari tentang virus di sana, tapi virus itu tidak menular lewat udara cuma melalui sentuhan, air liur atau kena cairan bersin orang sakit," kata Anton tentunya seorang dokter lebih paham akan hal itu.
"Ayah harus beli banyak tutup hidung dan mulut yang nanti k karetnya dikaitkan ke telinga. Kasihan nanti banyak yang perlu jadi ayah nanti bisa beri kepada mereka," kata Kaysan lagi dan tentunya Fajar semakin tak paham apa yang dimaksud anaknya.
Lalu Kaysan menatap Gibran dan Anton," Kasihan Dede Iban, nanti lama tak ketemu Pipi".
"Ah Kaysan suka begitu deh, bikin takut saja. Tidak yah, nanti Pipi selalu bersama Iban sayang," Anton jadi kaget dan merasa khawatir saat mendengar yang dikatakan Kaysan.
Saat anaknya tidur, lalu Fajar iseng menyusuri berita di media sosial.
Ada satu yang menarik perhatian dia dan itu membuatnya jadi berpikir bahwa yang dikatakan anaknya bisa saja benar akan terjadi di negara ini.
Pada berita tercantum sedang ada beberapa mahasiwa yang kuliah di negara China, juga tenaga kerja asal negara kita yang pulang ke Indonesia.
Dan semua bandara, dan pelabuhan di semua wilayah indonesia dipasang alat pemindai suhu tubuh.
Apabila ada orang dari luar negeri bersujud tubuh lebih dari 37 derajat celcius, maka akan segera di isolasi.
Fajar terduduk lemas, dan dia berpikir apakah benar yang disampaikan Kaysan akan menjadi nyata.
__ADS_1