
Sudah beberapa hari ini kehidupan rumah tangga Anton dan Mela tentram dan tenang.
Tidak ada lagi keruwetan dari Triana, hanya mereka berdua saat ini tidak tahu ke depannya akan ada apa lagi.
Hidup bagaikan sinetron di televisi, selalu ada saja kisah setiap harinya.
Entah di rumah atau di tempat kerja, selalu saja ada cerita menarik. Mungkin di saat terjadi, kita merasa kesal tapi setelah berlalu malah menjadi hal yang lucu kalau diingat-ingat.
Anton dan Mela malam itu sedang tertawa-tawa berdua sambil duduk di kursi sofa di depan televisi.
Mereka saling mengingatkan kisah-kisah yang sudah mereka lewati bersama. Entah itu masalah berdua atau juga kisah bersama keluarga atau temannya.
"Pi, jujur sama aku, berarti dulu waktu belum cacat pasti banyak perempuan antri naksir yah," kata Mela sambil pura-pura melotot kepada suaminya.
"Kata siapa, orang aku begini juga banyak yang naksir kok," jawab Anton sekenanya.
"Tuh kan, udah punya istri juga masih suka kecentilan sama perempuan ," kata Mela sambil cemberut.
Anton memandang wajah istrinya sambil santai menjawab.
"Yang pasti naksir aku sih namanya Melati Sekar Wangi, selain itu di Puskesmas sih banyak sekali yang naksir sama aku ".
"Ya kan benar, Pi pasti pasang aksi biar ditaksir perempuan ".
"Tentu dong sayang, kalau aku tidak beraksi pasti perempuan akan kecewa".
"Maksudnya apa sih, kesal deh mendengarnya. Mau menyakiti aku kan maksudnya...".
"Tidak dong, nanti sesekali Mi ikut aku ke Puskesmas yah. Nanti aku kenalin sama yang cantik dan suka dengan aksiku".
"Ada nenek Sumi, ada nenek Inem, tapi nenek Mela belum ada. Semua nenek selalu meminta aku beraksi memeriksa mereka".
Mela mendengarnya jadi malu sendiri tapi dia tetap jaga gengsi.
"Boong yah...masa semuanya nenek-nenek yang berobat".
Anton lalu meraih tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
"Jadi Mi kepingin aku memeriksa gadis cantik saja atau janda bahenol...begitu yah".
"Enak saja...jangan dong, nanti Pi tergoda sama mereka. Aku kan tidak rela dong ".
"Waduh...periksa nenek-nenek disangka bohong, periksa gadis atau janda tidak boleh. Masa aku harus menulis dokter khusus untuk kakek-kakek saja".
"Ya tidak juga sih, cuma jangan genit saja yah sama perempuan. Nanti aku sunat ulang loh".
"Ooww...jangan dong nanti istriku tidak merasakan kebahagiaan lagi".
Mela menatap suaminya lalu memeluknya dengan erat.
"Aku bahagia menjadi istri dokter Anton Wiharja, pokoknya cinta banget sama Anton Wiharja".
Dan merekapun akhirnya larut dalam percintaan yang penuh gelora di malam itu.
Hari minggu akhirnya tiba juga, mereka berdua sudah berjanji kepada Wak Darma akan ikut kunjungan menengok Wak Atin di rumah sakit jiwa.
Pagi-pagi sekali Ibu Sinah sudah mengetuk pintu pagar rumah Anton dan Mela yang masih terkunci gembok.
Saat itu keduanya baru saja selesai mandi bersama.
Dan mereka kaget ketika tahu yang sedang berdiri di depan pagar adalah Ibu Sinah.
Anton segera memakai kaos dan celana pendek, lalu segera membuka pintu pagar rumah dan mempersilahkan mertuanya masuk.
"Jam segini baru pada bangun tidur, memangnya kalian tidak sholat subuh?"tanya Ibu Sinah saat masuk ke dalam rumah.
"Sudah sholat Bu, tapi karena libur jadi kami tidur lagi," jawab Anton sambil senyum-senyum kepada mertuanya.
"Istrimu mana? Masih tidur juga?" tanya mertuanya lagi.
"Ada Bu sedang merapihkan kamar".
Lalu Anton bergegas mau menyusul istrinya, tapi Mela juga kebetulan hendak keluar kamar jadi mereka bertabrakan.
"Sttt...Mi...ada Polwan datang, hati-hati sekarang sedang patroli ke dapur," kata Anton sambil menutup mulutnya.
Mela juga cekikikan karena paham sebentar lagi pasti akan kena omelan.
"Mimi, maaf barusan baru selesai merapihkan kamar tidur," kata Mela sambil meraih tangan Ibunya dan menciumnya.
"Kamu itu istri jam segini baru bangun, mana di dapur belum masak nasi pula. Rumah masih berantakan, sudah menikah kok malah jadi pemalas," meluncur deras omelan ibunya.
Anton dari jauh cekikikan sambil menutup mulutnya, ketika melihat istrinya dimarahi oleh ibunya.
"Hmmm..Mimi, kan pagi ini mau ke rumah Wak Darma. Jadi kami tadi berencana mencari sarapan di luar rumah sambil menuju ke rumah Wak Darma," Mela menjelaskan kepada Ibunya.
"Tapi rumah masih kotor begini belum di sapu dan di pel, bagaimana ini?"Ibu Sinah sewot.
Maklum orang tua pasti kesal kalau melihat rumah berantakan menurut versinya.
"Sudah Mimi tenang saja, sekarang kita siap berangkat yah," kata Mela sambil mengajak Ibunya segera berangkat ke rumah Wak Darma.
Di perjalanan sesuai dengan keinginan mereka berdua, mereka mampir sebentar ke kedai makan soto ayam.
Ibu Sinah juga memang belum sarapan tadi dari rumahnya, Mela tahu itu tapi dia tidak bertanya karena pasti Ibu nya akan sok gengsi.
Setelah selesai makan mereka segera meluncur ke rumah Wak Darma.
Setibanya di rumah Wak Darma ternyata semua juga sudah siap berangkat.
Bayi kecil juga ikut dibawa, karena Wak Darma ingin memperlihatkan cucunya kepada istrinya.
"Sudah sebulan ini setiap aku berkunjung, Atin sudah mulai bisa diajak bicara walau sesekali masih suka melantur," kata Pak Darma menceritakan kepada semuanya.
Begitu besar harapan Wak Darma yang ingin istrinya segera sadar lagi.
"Aku cerita soal Wiwit sudah melahirkan dan dia ingin tahu bayinya. Jadi sekarang semua aku bawa dengan harapan Atin bisa segera sadar".
Mereka naik dalam satu mobil milik Wak Darma, mobil minibus besar buatan Korea Selatan yang lumayan mahal harganya.
Surya sekarang menjadi menantu sekaligus sopir keluarga karena mau tak mau soalnya Wak Darma tidak punya lagi anak lelaki.
Duduk disampingnya jelas Wak Darma, lalu di posisi paling belakang sudah pasti pasangan Anton dan Mela.
Sementara di bagian tengah Wiwit bersama bayi dan juga Ibu Sinah.
Sepanjang jalan semua terlihat ceria, bercerita apapun dan sudah pasti Ibu Sinah mengomel soal Mela yang belum juga hamil.
Anton dan Mela hanya cekikikan saja berdua, sudah kebal telinga mereka kalau mendengar mertua atau Ibu kandung masing-masing membahas soal hamil.
Ibu Aryani setiap menelepon anaknya pasti menanyakan hal itu, sama juga dengan Ibu Sinah yang tidak jauh bertanya kapan hamil dan kapan hamil.
Padahal Anton dan Mela juga sudah ingin segera punya anak, hanya mau bagaimana lagi.
Tuhan belum memberi kepercayaan untuk bisa segera hamil dan punya anak.
Sekitar setengah perjalanan akhirnya mereka tiba di Rumah Sakit Jiwa tempat Supriatin di rawat.
__ADS_1
Semua turun dari mobil, Wak Darma sudah meminta ijin ke pihak Rumah Sakit. Hari ini pertemuan keluarga mereka di adakan di suatu teras dekat taman.
Mereka semua diantar oleh petugas rumah sakit menuju sebuah teras di dekat sebuah taman.
Sengaja Wak Darma meminta tempat yang eksklusif khusus keluarga mereka, karena akan memperlihatkan bayi kecil cucu mereka yang bernama Aliya Kimora kepada istrinya.
Tak lama dari kejauhan terlihat sosok Wak Atin dibawa oleh petugas.
Tangan dan tubuhnya tidak diikat berarti pasien bisa dikatakan sudah hampir normal.
Wak Atin duduk dihadapan semua keluarganya, dia memakai pakaian rumah sakit berwarna biru muda.
Rambutnya sekarang dipotong pendek, dia menatap semua yang ada di teras satu per satu.
"Darma...mana Wiwit?"tanyanya kepada suaminya, dalam pikirannya Wiwit masih anak kecil.
Lalu Wiwit maju didampingi ayahnya sambil menggendong bayi kecilnya.
"Wiwit...ini Wiwitkah...," katanya sambil melihat bayi kecil itu dengan penuh cinta.
"Atin...Ini anaknya Wiwit cucu kita, namanya Aliya Kimora. Dan ini Wiwit anak kita," kata Wak Darma sambil menunjuk ke arah Wiwit.
"Wiwit...nak...Wiwit anak bunda," Atin mendekati Wiwit sambil mengelus pipinya dan dia memperhatikan setiap inci wajah anaknya.
"Kamu cantik nak, anak bunda selalu cantik," kata Atin sambil terus mengelus pipi mulus anaknya.
Wiwit pun memegang tangan ibunya lalu dia genggam sambil diciumnya tangan tua itu.
Tangan yang dulu halus, sekarang kering dan kasar tapi tetap merupakan tangan yang terindah bagi Wiwit.
Sambil tangannya tetap digenggam Wiwit, lalu Atin menengok lagi ke yang lain.
Dia menanyakan siapa saja mereka satu per satu, ada Ibu Sinah, Mela dan juga Anton.
Kebetulan Surya baru saja ijin ingin ke toilet sebentar.
"Wiwit...mereka itu orang miskin yah, kita orang kaya yah".
Ternyata masih saja pikiran tentang kekayaan itu ada dalam benaknya.
"Bukan Bunda, mereka saudara kita. Semuanya saudara kita".
Lalu Atin melihat Anton dan berkata," Dia itu orang cacat yah. Aku ingat dia tidak punya kaki".
"Iya Bunda, sekarang Anton sudah menjadi suaminya Mela," jawab Wiwit memberitahu ibunya.
Anton dan Mela senyum dan menganggukan kepalanya kepada Wak Atin.
"Mbak, ini aku Sinah...adik iparmu. Mbak ingat aku kan ?"tanya Ibu Sinah sambil mencoba mendekati Wak Atin.
Wak Atin menolaknya, sambil berkata," Pergi kamu...aku tidak sudi didekati orang miskin".
Anton segera memegang lengan Ibu mertuanya, memintanya duduk dan bersabar.
Orang yang terganggu kejiwaan seperti itu tidak bisa serta merta menerima orang asing.
"Wiwit suruh mereka pergi, aku tidak suka dengan mereka ".
"Atin, aku yang membawa mereka kemari. Mereka rindu kepadamu, mereka saudara kita. Coba kamu ingat-ingat yah".
Wak Darma juga mencoba menggali ingatan Atin istrinya.
Atin diam saja sambil memandang semua orang tanpa ekspresi.
Kemudian tatapannya kembali ke arah bayi kecil yang tertidur di pelukan Wiwit.
"Ini cucu bunda, anaknya Wiwit. Lucu kan bayi ini ?".
"Ya lucu sekali, mirip sekali kamu sewaktu masih bayi dulu".
Atin meraih bayi kecil itu, sontak semua yang ada di teras menjadi panik.
Wiwit juga panik sekali tapi dia mencoba tenang agar Ibunya tidak bertindak yang bisa membuat bayi itu celaka.
Bayi kecil itu ditimang- timang sambil berdiri, semua terlihat tegang atas pemandangan itu.
Yang menjadi masalah lain adalah sejak tadi petugas rumah sakit sudah meninggalkan mereka karena Atin terlihat sangat tenang dan komunikatif.
Untung bayi itu tiba-tiba menangis, mungkin dia lapar atau mungkin ada lengan baru yang memeluknya sehingga merasa tidak nyaman.
"Bunda, adik bayi mau minum susu dulu. Biar Wiwit susui dulu yah," Wiwit mencoba untuk mengambil anaknya dari pelukan ibunya.
Atin melotot ke arah Wiwit, tapi dia memberikan bayi itu kepadanya dengan wajah tidak senang.
"Wiwit...kalau kamu punya bayi, berarti kamu sudah menikah. Siapa suamimu?"tanya Atin ketika sedang menyusui anaknya.
Surya yang sejak tadi diam saja lalu menjawab ," Saya suaminya Wiwit".
"Siapa kamu!?"tanya Atin dengan mata melotot.
"Saya Surya suaminya Wiwit".
Seketika Atin memegang kepalanya lalu menjerit.
"Aaaawwww...tidaaaakkkk!!!!!"
"Set*n....b*jing*n...kamu orang yang telah menghamili anakkku!!!".
Atin berteriak -teriak sambil memegangi kepalanya, lalu dia meraih kursi plastik bekas tadi dia duduk.
Wiwit baru selesai menyusui anaknya, sedari tadi dia duduk memunggungi yang lainnya. Dia duduk berhadapan dengan suaminya.
Saat itu suaminya sedang berdiri sambil memberitahu kepada ibu mertuanya bahwa dia adalah suami Wiwit.
Atin meraih kursi plastik dengan maksud akan melemparkan kursi itu ke arah Surya.
Disaat bersamaan Wiwit bangkit berdiri baru selesai menyusui anak bayinya.
Otomatis kursi yang dipegang Atin menghantam punggung Wiwit.
Wiwit terdorong ke depan, untung Surya segera menangkap bayinya.
Tapi Wiwit tak tertahankan seluruh badannya tersungkur ke depan dan menghantam kursi plastik yang sebelumnya diduduki oleh suaminya.
Surya tidak bisa menolong Wiwit, dia memilih menghindar dari tempat itu sambil memeluk anak bayinya.
Langkah yang tepat, daripada terjadi sesuatu dengan bayinya.
Anak bayi itu menangis kencang, mungkin karena bayi merasa juga kaget ibunya tiba-tiba jatuh.
Wiwit ditolong oleh Anton dan Mela, untung tidak ada luka serius. Hanya bibir bawahnya sedikit berdarah terbentur kursi di depannya.
Tapi Wiwit juga bersyukur karena anaknya sudah ada dipelukan suaminya dan tidak ikut terjatuh.
Atin menjerit-jerit, Darma mencoba memeluknya tapi entah kekuatan dari mana, Atin mendorong Darma suaminya sampai jatuh terjengkang.
Ibu Sinah duduk di sudut sambil menangis ketakutan melihat Atin kumat lagi.
__ADS_1
Petugas Rumah Sakit Jiwa segera berlari datang menghampiri dan membawanya ke dalam kamar lagi.
Posisi mereka di depan taman, saat itu ada pengurus taman sedang merapihkan daun-daun di pohon yang seperti pagar yang sering disebut tanaman anak nakal.
Padahal nama sesungguhnya dari tanaman itu adalah tanaman Boxwood atau Buxus.
Warnanya hijau dan tumbuh rimbun, bisa dibentuk rapih sesuai dengan keinginan kita.
Pengurus taman terlihat sedang memangkas beberapa daun yang tumbuhnya tidak beraturan menggunakan gunting tanaman.
Pengurus taman itu usianya cukup tua dan pendengarannya sudah agak berkurang.
Sejak tadi dia tidak mendengar dan tidak memperhatikan kejadian di teras selain sibuk merapihkan semua tanaman di sana.
Atin meronta-ronta ketika dua petugas rumah sakit mengapitnya dengan erat.
Dalam satu kesempatan, salah satu petugas lengah lalu dia tendang salah petugas itu sampai jatuh.
Sehingga dia bisa lepas dari pegangan kedua petugas tadi, lalu dia berlari ke taman dan merebut gunting tanaman yang sedang dipegang oleh pengurus taman.
Atin berlari ke arah Surya yang terlihat sedang menenangkan bayinya yang menangis. Posisi dia saat itu berada di ujung taman yang tidak banyak orang.
Atin berlari memburu Surya sambil membawa gunting taman tadi.
Petugas Rumah Sakit dan pengurus taman berlari mengejar dirinya.
Begitu pula Anton dan Darma melihat Atin berlari ke arah Surya, maka mereka juga ikut berlari ke arah tempat Surya berada sambil memanggil-manggil namanya.
Ketika Surya menengok, sekitar satu meter dihadapannya terlihat Ibu mertuanya sedang berlari menuju arahnya sambil membawa gunting.
Surya saat itu berdiri tepat di atas kolam ikan yang ada di taman di pinggir teras rumah sakit.
Surya terpaku tak bisa bergerak melihat Ibu mertuanya terlihat ingin membunuhnya dan anaknya.
Atin berlari tanpa melihat apapun, ketika hampir tiba di depan Surya sambil mengacungkan gunting tadi.
BRAAAAKKKK....BYUURRRR.....
Kakinya tersandung batu di pinggir kolam dan dia terjerembab masuk ke dalam kolam tadi.
Tangan kanannya tertekuk ketika jatuh barusan dan pisau yang digenggamnya otomatis menusuk jantungnya.
Semua yang melihat adegan tadi menjerit terkejut melihat kejadian yang luar biasa mengerikan itu.
Anton segera meraih tubuh Wak Atin dari dalam kolam dibantu oleh petugas rumah sakit.
Anton memberitahukan mereka kalau dirinya seorang dokter.
Wak Atin basah tubuhnya dan juga berlumuran darah. Anton memeriksa nadi di lengan dan lehernya.
Sudah terlambat Wak Atin sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Terlalu banyak juga air masuk ke paru-parunya dan jantungnya pun bocor berlumuran darah karena tertusuk gunting yang dipegangnya tadi.
Surya terduduk lemas sambil tetap memeluk bayinya.
Hampir saja dirinya dan anaknya menjadi korban pembunuhan oleh Ibu mertuanya yang kehilangan akal sehatnya.
Wiwit menangis menghampiri jasad ibunya, lalu dia segera menghampiri suami dan anaknya yang terus menangis.
Dipeluknya bayi mungilnya itu sambil terus berurai air mata. Tak terbayangkan kalau tadi sampai terjadi Surya dan anaknya terbunuh.
Tentu dia juga akan menjadi gila menemani ibunya di rumah sakit itu.
Jenazah Atin segera diangkut oleh petugas ke ruangan khusus.
Gunting yang tadi menancap di jantungnya segera dikeluarkan lalu dadanya di jahit.
Setelah tidak ada lagi pendarahan, jenazah dibersihkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Anton menghubungi keluarga Wak Atin menyampaikan bahwa beliau sudah meninggal dunia.
Atas permintaan keluarga besar Wak Atin, mereka minta agar jenazah almarhumah dibawa ke desanya.
Maka siang itu juga pihak Rumah Sakit segera mengantarkan jenazah ke desa tempat tinggal keluarga besarnya.
Wak Darma beserta seluruh keluarga menyusul, sebelumnya mereka mengembalikan dulu Wiwit bersama bayinya ke rumahnya.
Mela diminta untuk menemaninya karena khawatir Wiwit akan sedih dan ketakutan.
Anton bersama Surya, Wak Darma juga mertuanya segera menyusul ke desa tempat kediaman keluarga besar Almarhumah Supriatin.
Menjelang sore hari, jenazah segera dikebumikan di tempat pemakaman keluarga besarnya.
Malamnya diadakan tahlilan di rumah keluarga besarnya Supriatin.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ketika Anton kembali ke rumah kediaman Wak Darma.
Surya meminta Wiwit untuk segera menyiapkan beberapa pakaian ayahnya, karena malam ini ayahnya menginap di desa.
Mela juga diminta untuk memilihkan beberapa pakaian milik Wak Atin yang kira-kira bisa dipakai oleh ibunya.
Setelah semua selesai di masukan ke dalam dua koper berbeda, Surya pamit akan kembali lagi ke desa mengantarkan pakaian tersebut.
Anton dan Japri pegawai toko ikut menemani ke sana.
Mela menemani Wiwit yang masih bersedih, dan malam itu mereka juga ditemani oleh Narti.
Pembantu rumah tangga yang setia yang selalu siap menemani Wiwit.
Mela tertidur di sofa ruang tengah rumah Wak Darma, waktu itu sudah menjelang tengah malam.
Lalu Anton membangunkannya dan mengajaknya pulang.
Hari minggu yang melelahkan, ketika tiba di rumah mereka segera membersihkan diri dan langsung tidur tanpa saling bercerita lagi.
"Sinah...aku yang salah...seharusnya aku tidak usah membawa Wiwit dan suaminya...bodohnya aku," kata Darma sambil menangis disamping Sinah adiknya.
"Tidak mas...sudah takdir namanya, sudah kehendak Allah kalau Mbak Atin harus meninggal dengan cara itu," kata Sinah sambil memegangi pundak kakaknya.
"Aku hanya ingin memperlihatkan cucunya, beberapa hari sebelumnya dia merasa senang dan ingin melihat cucunya. Tapi aku tak menyangka kalau bisa kejadian seperti ini".
"Tapi semua bukan salah Mas, semua sudah jalannya dari yang Kuasa".
Sekitar satu bulan dari kejadian itu, Wak Darma pamit kepada anak dan menantunya.
Usahanya dia serahkan kepada Wiwit dan Surya, beliau juga pamit kepada seluruh kerabat lainnya.
Ibu Sinah dan keluarga juga kaget mendengar Wak Darma akan pergi ke Purwakarta untuk menenangkan diri.
Disana memang ada pesantren besar milik sahabatnya, dia memilih tinggal disana sementara waktu.
Selain memenangkan diri juga ingin mempertebal ilmu agama dan dia ingin hijrah dari segala yang bersifat duniawi.
Tanpa membawa apapun, hanya sedikit uang untuk ongkos, Darma pergi menunaikan keinginannya.
#akanadaceritakhusustentangperjalanandarmadibukuketigaauthor
__ADS_1