Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keempat Puluh Tujuh


__ADS_3

Murni melihat dari pintu ruangannya seorang nenek tua bari saja keluar dari ruang praktek dokter Haikal, nenek itu berjalan sambil bersungut-sungut menuju tempat pengambilan obat.


Sesuai informasi dari pak Tarmidi beberapa waktu yang lalu bahwa akan ada dokter tambahan satu orang lagi, sekarang sudah ada bernama Haikal.


Dokter Haikal masih muda sekali, dia baru lulus sekitar setahun yang lalu. Selama ini dia juga menjadi asisten salah satu dokter di rumah sakit swasta, kemudian ada kesempatan penempatan di puskesmas ini maka dia segera mengambilnya.


Usia muda belum banyak pengalaman menangani pasien terutama untuk pasien lanjut usia.


Orang lanjut usia biasanya sifatnya suka kembali seperti anak-anak, mudah tersinggung dan juga suka membantah kalau dinasehati.


Nenek yang baru keluar dari ruangan dokter Haikal adalah salah satu pasien tetap dokter Anton.


Setiap bulannya rutin berobat ke puskemas ini untuk memeriksakan kesehatannya. Nenek ini punya riwayat darah tinggi dan asam urat , setiap berobat dan dicek kadar gulanya serta tensinya selalu saja di atas rata-rata.


Dokter Anton sering bertanya ibu ini pola makannya bagaimana dan apa saja yang dikonsumsinya. Nenek ini salah satu penggemar ikan asin, dia selalu merasa tidak selera makan kalau tidak ada ikan asin.


Hari ini tensinya kembali tinggi sekitar 180 per 100. Untuk usia 60 tahunan tentu tensi darah dengan tekanan seperti ini cukup berbahaya. Ketika ditanya oleh dokter Haikal apa penyebabnya, sang nenek bercerita kemarin dia makan ikan asin dengan sambal.


Biasanya kalau mendengar cerita seperti itu dari nenek ini, dokter Anton tidak akan lantas memarahi tapi menasehati sambil bernada santai bercanda sehingga sang nenek tidak merasa terhakimi.


Hari ini sang nenek dimarahi oleh dokter Haikal, cara menyampaikan saran dan nasehatnya dengan nada yang ketus.


"Nenek sudah tua seharusnya berpikir kalau makan ikan asin pasti nanti pusing tekanan darahnya naik. Paham tidak sih kalau ikan asin itu bisa membahayakan, lain kali jangan begitu. Ingat umur, nanti nenek bisa stroke kalau tekanan darahnya naik terus," itu ucapan dokter Haikal yang membuat sang nenek menjadi sakit hati dan sedih dengan perkataannya.


Kalau saja yang menangani dokter Anton pasti akan berbeda ucapannya, biasanya yang akan didengar seperti ini.


"Wah nenek makan tidak ajak-ajak saya sih, lain kali kalau makan enak ajak saya yah nek. Nanti kita makan nasi dengan sambal tapi ikannya pepes ikan mas yah nek atau pepes ikan nila. Jangan ikan asin....Nanti pusing kepala neneknya....Ingat yah nek kalau mau makan ikan nanti pepes ikan saja atau sup ikan...Nenek juga akan menjadi sehat karena pada makanan itu mengandung rempah dan juga sayuran untuk kesehatan ".


Sambil mengunyah irisan tomat dan belimbing, Murni menoleh kepada Jaya dan berkata,"Kasihan yah nenek tadi dimarahi dokter Haikal, judes orangnya tidak ramah kepada pasien".


"Ya lain orang lain karakternya, contohnya aku karakternya ganteng dan keren, berbeda denganmu yang bulat seperti bola,"Jaya selalu saja iseng kepada Murni.


"Monyong Jaya...ini aku sudah mengganti cemilanku dengan buah-buahan seperti kata dokter Anton, nanti juga aku kurus. Awas nanti kamu naksir,"tukas Murni kepada sahabat kerjanya itu.


"Astaga memangnya stok gadis cantik sudah hilang dimuka bumi ini...kamu kurus juga tetap bukan selera aku keles....hahahahahha,"Jaya kembali menggoda Murni sambil mengetik laporan di depan komputernya.


"Jaya edan....hahahaha...biar gemuk juga aku sudah laku keles...daripada kamu sok ganteng tapi belum ada yang mau jadi istri....hahahaha... dasar buaya buntung...,"Murni tak mau kalah menimpali Jaya.


Keduanya tertawa, lalu Jaya bertanya sesuatu kepada Murni ," Eh tahu tidak kalau dokter Anton kan selama ini banyak pasiennya orang tua, dia jarang menangani pasien gadis atau janda. Kau tahu tidak mengapa?".


"Kenapa yah...mungkin bukan bagiannya menangani orang-orang seperti yang kamu maksud".


"Bukan loh..Orang sakit kan siapa saja bisa....katanya sih dokter Anton itu takut kepada gadis atau janda".


"Memangnya takut apa sih?".


"Takut khilaf.....hahahahahah".


"Dasar Jaya Kampreeeettt!!!!!".


Fajar memberitahukan Jaya kalau Anton sekarang sudah dirawat di rumah, namun kondisinya masih koma.


Hasil pemeriksaan kemarin tidak ada cedera otak atau apapun, jadi analisa selanjutnya kemungkinan karena faktor psikis.


Jadi nanti di terapi di rumah saja seperti dahulu dengan diajak bicara dan juga audio murottal setiap saat.


Jaya juga menyampaikan kalau hari sabtu nanti teman-teman dari puskemas akan berkunjung ke Bandung menengok Anton.


Fajar mempersilahkan mereka datang kapanpun saja karena kediaman mereka selalu terbuka menerima kehadiran tamu.


Pagi itu Fajar duduk di depan televisi sambil minum teh jahe dan makan sepotong roti coklat.


Kebetulan chanel yang dibukanya adalah berita nasional dan pembawa berita mengabarkan berita kriminal.


"Kemarin telah terjadi penembakan terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki identitas di daerah kota Bekasi".


"Kejadian terjadi menjelang tengah malam ketika seorang polisi melihat seorang pemuda membawa tas ransel berjalan sendirian dengan gerakan yang mencurigakan".


"Saat ditegur oleh petugas polisi tersebut tiba-tiba ada mobil meluncur kencang dan menembak pemuda tersebut tepat dikepalanya".


"Petugas saat itu seorang diri sehingga tidak sempat mengejar laju kendaraan penembak yang terus melarikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi".


"Saat jenazah pemuda tersebut diperiksa tidak ada identitas apapun didalam tas ranselnya. Hanya ditemukan ada sekitar 10 botol minuman keras berbagai merek impor didalamnya".


"Dugaan sementara pemuda tersebut merupakan anggota komplotan penyelundup minuman keras impor ilegal yang marak terjadi belakangan ini".


"Jenazah sementara disemayamkan di rumah sakit POLRI kota Bekasi sambil menunggu ada anggota keluarga yang mengakuinya".


Kemudian dimunculkan sketsa wajah korban penembakan tersebut.


Kang Japar melihat siaran televisi juga di jam yang sama, dia duduk di kursi kayu jati dengan ukiran naga di pegangan tangan kiri dan ukiran harimau di pegangan tangan kanan.


Setelah melihat siaran itu, dia menoleh dan menatap satu persatu sekitar 15 orang pemuda berusia antara delapan belas sampai dua puluh dua tahunan yang sekarang sudah menjadi kurir untuk menyelundupkan minuman keras.


"Kalian lihat sendiri itu contoh orang yang tidak punya otak. Sudah tahu kalau jam segitu suka ada polisi patroli, malah melewatinya bukannya menghindari".


"Kalian pikir kalau sampai kalian tertangkap, kami akan membantu kalian....hahahaha....


Dasar bodoh tak punya otak.... Untuk apa aku sibuk mengurusi kalian....lihat...mudah kan aku suruh orang menembaknya...beres perkara".


" Kalian sudah aku bayar mahal setiap bulannya, keluarga kalian tidak akan kekurangan ...betapa Kalian sudah berbakti kepada keluarga".


"Maka dari itu....pakai otak kalian kalau bekerja atau otak kalian aku hancurkan,"Kang Japar mengakhiri pidato ancamannya sambil meninggalkan kelima belas pemuda tadi yang sekarang sedang menyesali nasibnya.


Disaat yang bersamaan pula di puskesmas Jamblang tayangan berita penembakan seorang pemuda tadi beserta sketsa wajahnya muncul di televisi yang ditergantung di ruang tunggu pasien.


Dan seseorang karyawan disana yang saat itu sedang membersihkan kaca jendela puskemas langsung terhenyak dan dia mendekati televisi.


Ketika sketsa wajah korban penembakan ditayangkan seketika kepalanya serasa dihantam palu gada yang amat besar.


Itu adalah sketsa wajah adiknya yang sudah diculik dengan iming-iming pekerjaan dengan bayaran tinggi.


Memang benar keluarganya setiap bulan mendapat kiriman uang dengan jumlah yang lumayan.


Tapi saat ini mengapa adiknya terbunuh dan siapa pembunuhnya. Yang tak habis pikir mengapa dimalam hari berjalan di luar kota sambil membawa minuman keras.


Kepada siapa dia harus mengadu dan minta tolong, sementara dia sendiri sadar telah berbuat khianat kepada kawan-kawan terbaiknya.


Hari Sabtu siang setelah puskemas tutup, pak Tarmidi bersama dengan Jaya, Murni, sopir kantor bernama Darno berangkat ke Bandung dengan menggunakan kendaraan dinas puskesmas sebagai perwakilan menjenguk dokter Anton.


Murni seperti biasa membawa begitu banyak perbekalan cemilan katanya untuk di perjalanan. Dan yang pasti kali ini bukan buah-buahan tapi aneka kue dan keripik.


Jaya yang duduk di jok belakang bersamanya sepanjang jalan iseng mengomentari dan juga meledek Murni.


Pak Tarmidi dan Darno hanya bisa geleng-geleng kepala saja mendengarkannya.


Menjelang sholat ashar mereka tiba di kota Bandung, sebelum menuju kediaman dokter Anton mereka berhenti di sebuah masjid di jalan raya itu untuk melaksanakan ibadahnya.


"Murni, kamu tidak sholat ?"tanya pak Tarmidi ketika hendak turun di masjid.


"Sedang halangan pak,"sahut Murni sambil memasukan keripik ke dalam mulutnya.


"Alasan saja kamu halangan, masa halangan sering sekali,"tukas Jaya sambil memasang wajah konyol ke arahnya.


"Pegang nih kalau tidak percaya," ujar Murni sambil menunjuk ke arah bagian tengah tubuhnya.


"Weeewwww...jijay bajaaaaayyy," kata Jaya menjulurkan lidahnya


sambil menutup pintu mobil.


Setelah selesai menunaikan ibadah mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman dokter Anton.


Murni sejak ketiga pria selesai sholat tampak enak tertidur pulas karena perutnya kenyang makan berbagai cemilan bawaannya sendiri.


Mereka tiba bertepatan dengan ibu-ibu pengajian dari Rukun Warga setempat yang baru saja selesai memanjatkan doa bersama demi kepulihannya Anton.


Jaya yang sudah dikenali oleh keluarga Wiharja yang pertama kali masuk ke dalam rumah tersebut menemui sang empunya rumah.


Pak Salim dan ibu Aryani menyambut kedatangan mereka, dan langsung dibawa ke kamar tempat Anton sedang berbaring tak berdaya.

__ADS_1


Murni yang juga salah satu partner berantemnya Anton tak kuasa menahan tangis melihat kondisi sahabatnya itu.


Lalu dia mendekati Anton dan berkata sambil terisak-isak,"Dokter Anton ... dokter harus bangun lagi yah...Murni sumpah janji kalau dokter bangun lagi ...Murni tidak akan mengemil lagi, akan hidup sesuai nasehat dokter makan cuma tiga kali sehari secukupnya...Tapi dokter harus janji juga bangun yah...".


Ibu Aryani yang mendengarnya langsung memeluk bahunya Murni, beliau terharu teman-teman anaknya sangat perhatian semuanya.


Kemudian ibu Aryani dan ibu Sinah mempersiapkan makanan untuk tamu dari puskemas Jamblang Cirebon ini.


Jaya memandang Murni yang terlihat ingin mengambil panganan kue-kue yang ada di meja tapi dia takut Jaya aka meledaknya, jadi dia diam-diam saja sambil air wajahnya terlihat lucu karena menahan lapar.


Fajar lalu memanggil Jaya untuk berbicara berdua di halaman belakang rumah itu.


"Jaya...hasil dari analisa dokter tidak ada kerusakan otak maupun infeksi atau sebagainya. Tapi ini lebih ke psikis, artinya dalam beberapa saat sebelum terjadi masalah kemarin Anton sudah ada masalah lain yang menjadi beban pikirannya".


Fajar menatap Jaya dengan tajam sehingga membuat Jaya serba salah tingkah karena selama ini dia yang paling dekat dengan Anton selain Mela.


Jaya terdiam sesaat, lalu dengan ragu- ragu dia berkata,"Koko Fajar.... sebelumnya saya mohon maaf. Tapi apa yang akan saya sampaikan ini dengan analisa dokter mungkin terkait. Namun apa yang telah Anton perbuat itu karena di bawah tekanan seseorang".


Fajar memahami dan meminta Jaya mengungkapkan semuanya. Lalu mulailah Jaya bercerita panjang lebar tentang kejadian beberapa minggu yang lalu yang kemungkinan membuat Anton menjadi koma seperti sekarang ini.


Ekspresi wajah Fajar terlihat begitu tenang saat mendengar apa yang Jaya sampaikan.


Apalagi saat Jaya mengisahkan dengan detail detik-detik kasus Sriningsih, Fajar sampai menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil membungkukkan badannya.


Dia benar-benar tak sanggup membayangkan apa yang telah terjadi kepada adik iparnya itu.


"Yang anehnya orang bernama Kang Japar itu mengenali koko Fajar loh,"tutur Jaya kepada Fajar yang sontak membuat matanya membulat kaget.


"Kang Japar...??? Aku tak pernah tahu, dia orang keturunan sunda tentunya yah," kata Fajar mencoba mengingat-ingat nama itu.


"Hmmm....tidak juga, gaya dan logat bicaranya malahan lebih mirip koko Fajar dibandingkan orang sunda. Warna kulitnya juga putih seperti kulit koko, sekilas mungkin dia juga etnis Tionghoa ,"Jaya merinci tentang seseorang yang bernama Kang Japar itu.


"Yah soal warna kulit jaman sekarang sulit dibedakan Jaya, bisa saja orang suku papua juga ada yang putih. Hanya aku tidak pernah mengenal nama tadi".


Ibu Sinah keluar dari pintu dapur yang menyambung ke halaman belakang untuk mengambil tampah-tampah berisi olahan rengginang mentah untuk digoreng.


Semenjak ada ibu Sinah di kediaman mereka, membuat keluarga Wiharja bahagia karena beliau sering membuat panganan kampung yang jarang bisa ditemui di kota besar.


Berbarengan saat itu tampak Mela sedang berjalan cepat ke arah mereka.


"Mela mau kemana?"tanya Fajar tiba-tiba sehingga membuat Mela terkejut karena tidak menyangka ada Fajar dan Jaya di halaman belakang.


"Masyaallah...maaf koko saya kira tak ada orang, Mela mau ke gudang memeriksa persediaan obat batuk, sebenarnya ini tugas Wahyu tapi dia sedang pergi mengantarkan pesanan obat jadi saya yang ke gudang,"jawab Mela panjang sambil nafasnya tersengal karena kaget.


"Kebetulan...ayo kita sama- sama ke gudang ada yang mau saya perlihatkan,"ajak Fajar kepada Jaya sehingga dirinya mengernyitkan kening mendengar ajakan itu.


Begitu juga ibu Sinah yang masih mengumpulkan tampah rengginangnya tak luput diajak oleh Fajar.


Mela tentu senang ada yang menemani, karena sebenarnya dia agak takut kalau harus masuk ke gudang.


Fajar menyalakan lampu gudang yang gelap, lalu berjalan ke bagian rak sudut belakang yang tak pernah Mela dekati waktu sudah beberapa kali masuk ke gudang.


Lalu Fajar melangkah ke balik rak besar itu, dan terlihat ada sesuatu benda besar tertutup terpal.


Dan ketika terpal disingkap oleh Fajar, tampak sebuah sepeda motor besar berwarna merah yang terlihat berharga mahal terbelah menjadi tiga bagian.


Jaya mendekati sepeda motor itu, melihat per bagian yang terbelah lalu berjongkok di hadapan benda itu.


Mela memegang tangan ibunya dia merinding membayangkan sepeda motor bisa terbelah menjadi beberapa bagian itu pasti dahulu kejadian kecelakaannya sangat mengerikan.


Fajar kemudian menyampaikan kejadian saat dulu itu berdasarkan saksi mata yang melihat bahwa saat itu Anton sangat kencang mengemudikan motornya dan terlihat seperti orang mabuk.


Lalu dia menghantam pak Suganda yang sedang mengemudikan motornya juga dari arah berlawanan.


Motor Anton oleng menabrak pak Suganda hingga terjatuh kepalanya menghantam trotoar jalan.


Sementara Anton terpelanting kaki kirinya menghantam sebuah pohon besar dan sepeda motornya juga ikut terbang menghajar kaki kirinya.


Motor jatuh ke tanah dan terbelah menjadi tiga bagian, Anton terhempas kepalanya mengenai batu di dekat pohon besar tadi.


Seketika Anton tak sadarkan diri, lalu dibawa ke rumah sakit terdekat. Sampai tiga hari dirawat, pihak rumah sakit hanya konsentrasi kepada kondisi kepala Anton tak ada yang menyadari kaki kirinya mulai membiru.


Hingga tak tertolong lagi, kakinya harus segera diamputasi sampai batas pahanya karena bagian betisnya sudah membusuk.


Mela semakin merasa sedih melihat kenyataan Anton, ayahnya memang meninggal dunia tapi seketika hingga tidak sempat merasakan derita atas tubuhnya. Hanya pasti keluarga sangat terpukul karena kematian yang mendadak itu.


Sementara Anton, memang dia tak sengaja membuat ayahnya meninggal tapi lebih banyak penderitaan yang dialaminya.


Kehilangan kesadaran, kehilangan kakinya, kehilangan suatu waktu yang mungkin sesungguhnya bisa diisi dengan kebahagiaan.


Fajar juga menambahkan masa itu setelah Anton sadar tak segera dia bisa pulih. Ada masa berat selama dua tahun lamanya yang harus dia lalui untuk bisa mengembalikan kepercayaan dirinya menjadi seperti semula.


Kemudian Fajar menutup motor besar itu dengan terpal berdebu yang tadi dibukanya.


"Mengapa motor rusak itu masih disimpan, tidak dijual saja ke tukang rongsokan. Karena kalau diperbaiki juga butuh mengeluarkan biaya yang hampir sama dengan membeli baru," Jaya merasa aneh motor serusak itu masih tetap disimpan.


Lalu Fajar berbisik kepadanya," Aku tak bisa menjawab karena mertuaku yang memerintahkan untuk tetap disimpan".


Lantas keduanya tertawa mendengar bisikan penjelasan dari Fajar.


Anton melangkahkan kedua kakinya yang terasa sangat berat disetiap langkahnya.


Dia terus berjalan lurus dalam lorong gelap itu, banyak suara memanggil namanya tapi dia tak peduli dia ingat pesan bapak tadi untuk terus fokus kepada cahaya di depan dan dengarkan lantunan orang mengaji.


Semakin lama titik sinar yang kecil sekali membesar, dia terus melangkah menuju cahaya yang semakin membesar itu.


"Anton....Anton...ini aku Mela...jangan tinggalkan aku... tengoklah aku ada di belakang mu .. kemarilah bersamaku.," terdengar suara Mela memanggilnya dari arah belakang tubuhnya.


"Mela... benarkah itu kamu?"tanya Anton mulai goyah saat titik cahaya sekarang begitu besar terlihat hanya tinggal menanti satu langkahnya agar terlepas dari lorong gelap.


"Benar...ini aku sayang...jangan tinggalkan aku...lihatlah aku ada tepat di belakang mu..,"terdengar lagi suara Mela memanggilnya dan meminta agar tak meninggalkannya.


Saat dia hendak menengok ke belakang, dari arah cahaya terdengar suara Mela melantunkan surat Al Fatimah.


Tepat tiba di ayat ke enam yang jelas masuk ke pendengarannya.


ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ


ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm


Artinya : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.


Dan Antonpun melanjutkan lantunan surat Al Fatihah tadi dengan suara yang lantang dan tegas.


صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ ٧


ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn


Artinya : (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadannya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.


Lalu Anton melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam cahaya terang tadi.


Rombongan puskemas Jamblang mohon diri kepada keluarga Wiharja, sebelum pulang mereka kembali memanjatkan doa untuk Anton agar segera pulih kembali.


Mereka tadi sudah diajak makan malam bersama keluarga Wiharja, namun belum juga masuk ke jalan tol tangan Murni sudah mulai bergerak mengorek-ngorek kantung plastik berisi cemilannya.


"Tadi janji tidak akan makan cemilan ke dokter Anton, tapi sekarang udah mulai sibuk lagi,"sindir Jaya kepada Murni.


"Iya aku janji, ini kan cuma merapihkan saja. Tidak akan aku makan lagi, lagipula aku sudah kenyang,"kata Murni kepada Jaya dengan wajah cemberut.


Jaya melihat di tepi kiri depan jalan terlihat seorang pengemis sedang duduk meminta-minta dan segera dia berkata kepada pak Darno,"Pak ...nanti di depan berhenti sebentar yah...saya ada perlu".


Kemudian pak Darno menghentikan mobil di tepi kiri jalan dengan memasang lampu sein kiri.


Jaya seketika merebut kantung plastik cemilannya Murni dan segera membawanya turun lalu dia berikan ke pengemis tadi.


Murni berteriak- teriak tidak rela makanannya diberikan semuanya kepada pengemis, dan ketika Jaya kembali serentak pak Tarmidi, pak Darno dan Jaya tertawa melihat Murni yang sedang terisak-isak kehilangan makanannya.


#iyalahbagusJayakarenamurniberatbadannyasudahhampirsembilanpuluhkilogram.

__ADS_1


Mela baru selesai sholat Isya dan juga selesai mengaji Al Fatihah dan juga QS surat Yunus ayat 57 sebanyak lima kali berturut-turut memohon kepada yang Maha Kuasa untuk memberikan kesembuhan kepada Anton.


Dia memandang wajah Anton, dan menitikan air mata dia benar-benar baru menyadari bahwa selama ini dia keliru selalu menyimpan rasa dengki kepada penabrak ayahnya.


Mela sadar sekarang memang dulu sudah takdir ayahnya berpulang dengan cara seperti itu, dia tak menyangka yang menabrak ayahnya jauh lebih mengenaskan.


Melihat kondisi Anton sekarang membuat Mela begitu sangat ketakutan kalau tiba-tiba detak jantung, tarikan nafasnya yang lemah dan denyut nadinya menghilang.


Perasaan yang Mela rasakan pernah dirasakan oleh semua keluarga Wiharja beberapa tahun lalu, dan sekarang terjadi lagi.


Karena sekarang dia merasa yang paling bertanggung jawab atas terulangnya kejadian ini, maka setiap harinya Mela tak pernah lalai memeriksa kondisi kekasihnya.


Sebelum tidur Mela kembali menyalakan audio murottal karena yakin kuasa doa akan bisa memulihkan kekasihnya.


Setelah membetulkan selimutnya Anton, kemudian Mela meninggalkan kamar itu.


Dia tak tahu ada gerakan beberapa detik dari tangan kiri Anton.


Tumben sekali bayi Kaysan jam lima pagi sudah bangun, padahal biasanya sekitar jam tujuh pagi bangunnya.


Untung orang tuanya sudah melaksanakan ibadah subuh, anak kecil yang belum bisa jalan ini rewel sekali ingin turun ke lantai bawah tidak mau diam di dalam kamar saja.


Fajar membawanya turun ke bawah, mertuanya sudah ada di bawah di ruang makan sedang minum teh jahe yang sejak tadi sudah dibuat oleh Encum.


Kaysan melihat Encum langsung rewel lagi menunjuk-nunjuk dengan jari mungilnya ingin digendong Encum.


Segera Encum menggendongnya lalu Fajar duduk di kursi makan berbincang dengan mertuanya.


Setelah ada digendongan Encum juga masih saja Kaysan rewel, sekarang dia meliuk-liukan badannya menunjuk ke arah kamarnya Anton.


Mela sedang mengaji di subuh hari itu setelah dia menyelesaikan ibadah subuhnya.


Kaysan merangkak masuk ke kamar itu dan menghampiri Mela. Walau begitu Mela tidak merasa terganggu dia memeluk Kaysan sambil tetap dari mulutnya melantunkan ayat-ayat suci.


Encum berdiri saja di depan pintu memperhatikan si bayi kecil yang mulai bergerak lagi ke arah tempat tidur Anton. Sambil bertumpu pada sisi tempat tidur dia merambat menyusuri tempat tidur sambil mulutnya tak henti berbunyi bahasa bayi.


Lalu dia memandang Encum meminta naik ke atas tempat tidur, Encum ragu dan meminta ijin kepada Mela.


Tapi Mela malah mengijinkannya naik ke atas tempat tidur.


"Babababa...mumumum..eemm..eeemmm....bamum...bamum," itu suara yang keluar dari mulut kecilnya Kaysan.


Di atas tempat tidur dia merangkak lagi memegang kaki Anton, terlihat dia seperti bingung karena kaki pamannya tidak ada satu lagi.


Dipukul-pukulnya kaki pamannya yang sebelah kanan lalu dia mencari sebelahnya tidak ketemu. Lucu kalau diperhatikan mimik wajahnya seperti kebingungan.


Tak lama dia merangkak lagi ke arah wajah pamannya, rupanya Mela lupa belum mencukur janggut Anton. Maka otomatis dijadikan mainan oleh Kaysan yang merasa geli saat memegang dagunya Anton, dia sentuh lalu dilepas lagi, sentuh lagi lalu lepas lagi.


Anak itu berguman lagi sambil tangan kecilnya menepuk pipi pamannya.


"eeemmm.....bamum...bamum,"sekilas memang tak berarti tapi kalau ada yang serius mendengar pasti merinding karena anak itu seakan berbicara lugas.


Sekarang dia mulai memainkan hidung dan mata pamannya, lalu menciumi muka pamannya dan otomatis air liurnya membasahi wajah Anton.


"baaammmmuuumm....eeemmm....baaammmuummm,".


Kepala Anton terasa berat dan dia merasa wajahnya basah dan lengket. Pelan-pelan dia mencoba membuka matanya, mengerjap-ngerjap dan pandangannya kabur. Perlahan terlihat ada wajah mungil di atas wajahnya yang tengah tertawa sambil meneteskan air liur dengan deras.


Anton tersenyum dan menyapa bayi kecil itu dengan suara lirih.


"Kay..kay...muka oom basah..".


Mela mendengar suara itu langsung menghentikan mengajinya dan dia pelan-pelan bangkit memandang ke arah Anton. Hal yang sama juga terjadi kepada Encum, dia juga sangat terkejut mendengar suara Anton.


Ketika dilihatnya benar Anton sedang membuka matanya sambil tersenyum menatap Kaysan, segera Encum berteriak-teriak memanggil majikannya yang lain.


"ASTAGFIRULLAH....BU SALIM...PA SALIM....YA ALLAH YA RABBI.... ALHAMDULILLAH!!!!".


Mendengar Encum berteriak maka Fajar seketika berlari ke kamar yang ditempati Anton, dipikirnya Kaysan jatuh.


Tapi ternyata ada mukjizat, si bayi kecil bisa membangunkan pamannya.


Pak Salim dan ibu Aryani tergopoh - gopoh memasuki kamar dan melihat anaknya sedang tertawa-tawa dengan Kaysan segera bersujud syukur kepada Allah.


Mela menggenggam tangan Anton sambil tak henti berucap syukur kepada Allah yang telah menjawab doanya dan doa seluruh keluarga Wiharja untuk kepulihan Anton.


Semua memanjatkan syukur dan terus tak henti dari bibir memuji kebesaran Allah yang telah membangunkan Anton lewat si bayi kecil Kaysan.


Dengan susah payah Anton mencoba duduk, Mela membantunya untuk bisa duduk tegak di atas tempat tidur.


Seluruh tubuhnya terasa ngilu tapi akhirnya dia berhasil duduk. Ayah dan ibunya segera memeluknya sambil berurai air mata bahagia.


Encum segera memanggil Anita yang masih ada di kamarnya diatas, dan kakaknya juga tak mampu berkata apapun hanya langsung memeluk adiknya mencium keningnya sambil bersyukur kepada Allah.


Sepanjang pagi ini semua orang sedang berbahagia karena Anton sudah dapat pulih kembali walau segalanya tak bisa segera langsung dia lakukan.


Sepuluh hari sudah dia terbaring tidak sadarkan dirinya. Tak akan mungkin tubuh kakunya dapat dengan mudah semua digerakkan.


Mela membantunya belajar berdiri tapi rupanya dia belum sanggup sehingga kursi roda yang pernah dulu dipakainya kini harus dia pergunakan lagi.


Mela mendorong Anton yang duduk di kursi roda untuk berjemur merasakan kehangatan matahari pagi di belakang rumah mereka.


"Mela....maafkan aku...," bisiknya sambil menatap Mela yang saat itu sedang duduk berhadapan dengannya.


"Maafkan juga aku sayangku, jangan kau pergi lagi selama itu...aku sedih sekali," kata Mela sambil ada setitik air di sudut matanya.


Anton mengelus pipi kekasihnya dan mengusap air mata di pipinya Mela.


Mereka berdua menghabiskan pagi itu mencoba menyusun lagi kisah yang sempat retak karena keegoisan dan kedengkian yang sekarang sudah sirna tertiup angin.


Fajar sedang berdua dengan anak bayinya yang hari ini telah membuat mukjizat luar biasa membangunkan pamannya yang terbaring koma.


Anak itu sungguh luar biasa, tidak disangka tangan kecilnya dipakai menjadi perantara Tuhan untuk membawa keberkahan.


Kaysan baru bisa berkata-kata dengan cukup jelas kalau minta susu, minta makan, atau memanggil ibunya.


"Nunununu..," itu kalau dia haus ingin minum susu.


"Mamamamam...,"jika melihat kakaknya atau siapa saja tampak sedang makan dan dia memintanya.


"Da..Da...Da...Da,"Kalau melihat Anita dan ingin dipeluk ibunya.


Hanya dia belum bisa memanggil ayahnya, belum keluar dari mulut kecil itu panggilan untuk dirinya.


Mungkin saja banyak yang dia ingin sampaikan kepada orang-orang dewasa tapi dia belum bisa mengatakan apapun dengan jelas.


Saat bermain tiba-tiba dia berkata yang aneh tapi Fajar tertarik mendengar nya seperti memberikan isyarat kepada dirinya.


"Apapapapa....amamama....,"Fajar tiba-tiba teringat itu adalah panggilan yang dia lakukan kepada orang tuanya.


"Kkkkkaaaaaa...nganggg...ngaannngg...ngaaannnggg," Fajar semakin tertarik dengan kata-kata aneh anaknya.


Dia tidak menganggap mistik, namun memang beberapa orang sejak kecil ada yang sudah diberikan kelebihan.


Dan mungkin si kecil ini punya anugerah dari Yang Kuasa seperti yang dilakukan dirinya tadi kepada pamannya.


Fajar percaya karena hal seperti itu sempat juga dibahas saat dia kuliah dulu walau tidak dipelajari lebih dalam.


Jarang sekali anak usia sebelas bulan bisa berucap konsonan yang sulit seperti huruf "C", "K" , "P" dan banyak konsonan lainnya.


Tapi pagi ini anak itu seakan mampu menyebutkannya walau sekilas serasa bukan hal berarti. Tapi entah mengapa bagi Fajar anaknya saat ini seperti memberi sinyal untuk dirinya mengingat sesuatu di masa lampau.


"Cap pan...caaaappp....paaaannn....cap pan..."lanjut anaknya lagi sambil kakinya melompat di pangkuan ayahnya


Fajar mencoba merangkai setiap kata aneh yang diucapkan anaknya itu.


"Kang .....Cap Pan....Kang Cap Pan.... Kang....Cap...Pan..,"dia mengulangi beberapa kali kata aneh anaknya dan tiba -tiba matanya membulat dia tersentak ingat satu nama.


KANG JAP FAN....OH MY GOD!!!!

__ADS_1


__ADS_2