Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keenam Puluh Enam


__ADS_3

Dua minggu berlalu, Mela selalu mendapat cemberut dari ibu mertuanya. Apalagi ketika suatu hari terlihat Mela membawa pembalut wanita.


Mata ibu Aryani langsung melotot ke arahnya dan tanpa bicara beliau menggebrak meja sambil berlalu ke ruang keluarga.


Ibu Aryani menangis di ruang keluarga, dia benar-benar sedih ternyata menantunya belum hamil juga.


"Fajar tolong Mamah, sekarang juga kamu telepon Anton, juga aktifkan speaker agar pembicaraan kalian bisa didengar oleh Mamah".


"Mau bicara apa sama Anton, kalau menanyakan soal dia dan Mela berhubungan intim atau tidak tentu saya tidak bisa melakukannya, karena tidak enak bertanya begitu," Fajar berusaha menolak keinginan mertuanya.


"Oh begitu, kamu sudah tidak menghormati Mamah yah. Cuma tinggal tanya saja kok repot. Ayo cepat disambungkan saja!".


Dengan enggan akhirnya Fajar terpaksa menghubungi adik iparnya, sambil dia bingung harus berkata apa.


Setelah berbasa-basi sebentar, kemudian Fajar dengan hati-hati berkata," Ton, maaf yah...Koko mau bertanya sesuatu tapi ini sama sekali bukan bermaksud menyinggung perasaanmu yah".


"Oh ada apa yah, tidak ada sampaikan saja kalau saya sih santai saja orang mau bicara apa juga kok," sahut Anton yang memang menanggapi dengan biasa saja.


Tinggal Fajar yang tidak enak hati, mana dia dibawah pelototan ibu mertua pula.


"Hmm...begini...kamu ...eeemm...dengan Mela berhubungan intim... bisa kan...?" Fajar bertanya dengan sangat tidak enak hati.


"Hahaha....pasti Koko Fajar disuruh nyonya Aryani yah...hahahaha... aduh Mamahku...hahaha...Maaf yah walau aku cacat tapi aku ini pria sejati...hahahah..sampaikan kepada Mamah yah...,"Anton terus tertawa ketika mendengar pertanyaan kakak iparnya itu.


Anton yakin sekali saat ini sang kakak ipar dibawah tekanan ibunya, sehingga membuat Anton merasa geli sampai sebegitunya ibunya.


Saking ingin punya cucu dari Anton, sampai segala cara dilakukan untuk meyakinkan dirinya.


"Hmm..syukur kalau begitu, yang pasti tetap berusaha dan berdoa yah. Karena cuma Tuhan yang bisa menentukan istrimu bisa segera hamil atau tidaknya,"kata Fajar saat mengakhiri pembicaraan itu.


Ibu Aryani sangat bersyukur mendengar dari mulut anaknya sendiri kalau Anton memang bisa melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami.


"Berarti sekarang masalahnya di Mela dong yah, kalau ternyata Anton bisa melakukannya sih," Ibu Aryani masih saja ruwet dengan keinginannya punya cucu dari Anton.


"Mamah...sudahlah kita tidak bisa memaksakan kehendak untuk masalah hamil. Memang benar Tuhan yang menentukan. Mungkin saat ini mereka sendiri juga belum siap,"kata Fajar dengan lembut mencoba menenangkan ibu mertuanya.


Ibu Aryani hanya diam saja, dalam hatinya masih penasaran mengapa menantunya tak kunjung hamil juga.


"Iya Mamah, siapa tahu kalau mereka sudah satu rumah sendiri sih cepat hamilnya. Mungkin sekarang mereka juga tidak merasa bebas,"Anita langsung nimbrung ketika masuk ke ruangan itu.


Ibu Aryani masih saja tetap diam, di lubuk hatinya ingin sekali menimang cucu dari anak lelakinya.


Ibu Sinah sedang menengok bayi anaknya Wiwit dan Surya.


Wiwit sudah melahirkan dengan normal pada awal tahun saat Anton dan Mela sedang ke Singapura.


Saat lahir bayi perempuan itu beratnya 3 kilogram, dan sekarang sudah menjelang dua bulan usianya, bobotnya semakin naik menjadi hampir 5 kilogram lebih.


"Aduh Wiwit...lucu dan gemuk sekali anakmu, menggemaskan sekali. Mirip denganmu saat bayi dulu,"kata Ibu Sinah sambil menggendong bayinya Wiwit.


"Ya Bibi Sinah, alhamdulillah, kemarin ini juga saat melahirkan tidak memakan waktu lama. Jam delapan malam kontraksi, lalu jam satu dini hari sudah lahir,"kata Wiwit menceritakan saat melahirkan kemarin.


"Aduh anaknya anteng sekali yah, kalau malam hari apakah sering menangis?"tanya Ibu Sinah sambil memandangi bayi kecil dalam pelukannya.


"Alhamdulillah paling sekali menangis di tengah malam, lalu setelah disusui juga tidur lagi. Untung Surya mau membantu mengganti popok dan lain-lain kalau saya lelah,"kata Wiwit lagi dengan senyum lebar.


Wiwit menjadi tambah gemuk, bobot yang semula hanya 45 kilogram, sekarang naik dua puluh kilogram menjadi 65 kilogram.


"Wah ada Bibi Sinah, apa kabar ?" sapa Surya sambil menyalami adik mertuanya itu.


Ibu Sinah membalas salam dari Surya sambil tetap menggendong bayi kecilnya mereka.


"Apakah istrinya Anton sudah mulai hamil Bi?"tanya Surya dengan polos, tapi dia merasa aneh melihat Wiwit seperti memberi kode untuk diam.


Terlanjur ditanya padahal sedari tadi sebelum Surya datang, Ibu Sinah sudah mencurahkan isi hati kepada Wiwit karena Mela belum juga hamil.


"Ya itulah Surya, katanya dokter tapi kok Mela belum juga hamil. Apa mereka menunda punya anak atau bagaimana, padahal umur mereka juga sudah tidak muda lagi".


"Hmm sabar Bibi, soal hamil itu rahasia Allah. Yang penting kita mendoakan saja semoga saja Mela juga bisa segera hamil,"Surya membesarkan hati ibu Sinah.


Surya dan Wiwit merasa kasihan melihat Ibu Sinah tampak begitu ingin segera mempunyai cucu.


Sehari-hari Mela selalu mendapatkan sikap yang tidak mengenakan dari Ibu Aryani.


Setiap disapa atau ditanya sesuatu pasti jawabannya dingin dan terkesan kesal kepada Mela.


Mela sering menangis sendiri di malam hari, tapi dia tidak berani bicara kepada suaminya.

__ADS_1


Hanya bisa berdoa saja setelah menunaikan ibadahnya, dia juga berharap agar bisa segera diberikan keturunan.


"Bro, apakah perbaikan rumah yang akan aku sewa sudah selesai?"tanya Anton kepada Haikal saat keduanya sudah selesai mengobati pasien.


"Sekitar satu minggu lagi yah Bang Anton, karena lama kosong jadi banyak sekali bagian yang tidak," jawab Haikal menjelaskan kepada Anton.


"Ya aku harus segera membawa istriku kemari, walau bagaimana juga istri harus ada disamping suami,"kata Anton berusaha menutupi kalau sebenarnya Mela belakangan ini mendapat perlakuan kurang enak dari keluarganya.


Satu minggu kemudian sudah ada kabar dari Haikal bahwa rumah yang akan disewa sudah selesai dan kebetulan juga Pertiwi sudah masuk kerja.


Ibunya Pertiwi ikut ke kota Bandung dan sehari-hari bayi kecilnya dijaga oleh beliau.


Anton sudah tiba di kediaman Wiharja dan bersiap menjemput istrinya untuk tinggal bersama di kota kelahiran istrinya.


Masih ingat dokter Wina, yah beliau adalah teman baik Anton dan sekarang bekerjasama dengan Anita membuka klinik kecantikan di Wiharja Farma.


"Ton elu musti lihat apa yang gue bikin,"kata dokter Wina kepada Anton.


Anton mengikuti langkah temannya menuju ke lantai dua tempat kliniknya berada.


Tiba di lantai dua ternyata sudah ada istrinya bersama Rayna dan Edwin, mereka berdua diminta mendandani Mela dan juga melakukan sesi pemotretan Mela untuk dijadikan model cover brosur dan spanduk


Mela sedang didandani dengan riasan sederhana, dia akan menjadi foto model untuk klinik kecantikan yang akan segera meluncurkan produk kecantikan dengan merk "WANITA".


Itu adalah kepanjangan dari Wina Ardini dan Anita, sehingga tercipta sebuah produk kecantikan dengan merek tersebut..


"Gue mau bikin brosur sama poster untuk produk kecantikan ini, dan foto modelnya istri elu," kata Wina menerangkan kepada Anton.


"Wow...keren banget istri gue, dapat royalti dong Win...buat gue royalti nya," goda Anton kepada Wina.


" Enak aja..orang istri elu yang jadi model, eh malah elu yang dapat duit...hmmm...gue jitak nanti botak elu Ton,"kata Wina pura-pura marah kepada Anton.


Mela menjadi model karena pertimbangan dari Wina dan Anita, mereka memasang foto awal Mela sebelum memakai krim kecantikan mereka.


Lalu progress sebulan, dilanjut bulan kedua dan bulan ketiga, karena rajin merawat wajahnya maka Mela jauh lebih cantik dibandingkan ketika masih gadis dulu.


"Istri elu sekarang cantik banget kan Ton, beda sama waktu dulu pertama kemari,"ujar Wina mencari dukungan Anton.


"Dari dulu juga cantiklah, makanya gue nikah sama dia. Cuma cowok bodoh saja kalau sampai menyia-nyiakan cewek seperti istri gue,"sahut Anton sambil sebenarnya merasa agak cemburu melihat Mela sedang diatur-atur berpose oleh Edwin.


Dan ternyata Edwin mendengar perkataan itu, dalam hatinya merasa tidak enak kepada Anton. Sambil memotret sambil bertanya-tanya dalam hati apakah Anton tahu kalau dulu dirinya pernah dekat dengan Mela.


"Nanti dijual secara online dan istri elu sebagai cabang utama di Cirebon dan juga sebagai ambassador dari produk gue," Wina kembali menjelaskan rencana kerjasama dengan Mela.


"Hmm...oke juga tuh, soalnya nanti di sana memang dia belum ada kegiatan. Gue juga masih mengurus perpindahan dan perijinan untuk mendirikan apotik,"sahut Anton menyambut baik usul Wina.


"Padahal elu dulu kerjaannya nyontek terus ke gue waktu jaman sebelum gue kecelakaan. Eh sekarang duluan jadi spesialis kulit," kembali Anton menggoda Wina.


"Hahaha...elu tuh inget aja, rahasia dong bro...Hahaha,"Wina jadi ingat kalau dirinya dulu saat kuliah sering menyontek kepada Anton sebelum kecelakaan.


Anton memperhatikan bagaimana Mela diatur untuk bergaya saat di foto itu.


Wajahnya tampak agak kesal saat Edwin memintanya bergaya begini begitu, tapi dia diam saja memperhatikan.


Setelah selesai dengan tiga kali berganti pakaian, lalu Mela mendekati suaminya yang masih berbincang dengan dokter Wina.


Anton melirik istrinya yang menghampiri sambil tersenyum lebar ke arahnya.


Dia segera merangkul bahu suaminya, sementara Anton sok jaga image.


Wina kemudian menjelaskan konsep yang akan dia jalankan, yaitu akan mensupply Mela sekitar 25 paket kosmetik yang disebutnya paket glowing.


Nanti rutin setiap bulan dengan jumlah minimal 25 paket dan keuntungan Mela adalah sepuluh persen per paket.


Mela setuju dan dia akan mencoba memasarkan paket kosmetik Wanita tersebut.


Saat mereka berbincang tiba-tiba Rayna dan Edwin menghampiri, dan Edwin berkata," Bang Anton, dokter Wina dan Mela, nanti bulan depan datang yah ke pernikahan kami".


Anton langsung membalikan badan ke arah Edwin ketika mendengar perkataan itu, padahal tadinya dia hanya memunggungi Edwin dan Rayna.


"Insyaallah kami datang, senang sekali mendengar kalian akan menikah," sambut Mela sambil memegang tangan Rayna.


"Berkat Mela kok ini juga, jadi kami akhirnya menikah,"kata Rayna sambil tersenyum.


"Kok aku!?"tanya Mela merasa aneh.


"Iyalah, pokoknya gitu deh,"kata Rayna sambil menahan malu.

__ADS_1


Akhirnya semua tertawa, melihat Mela yang bingung dan juga melihat kebahagiaan Ryana dan Edwin.


Saat turun ke lantai bawah, Anton berbisik kepada istrinya," Untung saja mereka akan menikah, coba kalau tidak sudah aku tonjok si Edwin".


Mela mengernyitkan kening tak paham maksud suaminya.


"Soalnya aku takut dia mau merebut kamu lagi," kata Anton sambil mengedipkan matanya.


Mela langsung nyengir dengan sebal ke arah suaminya.


Malam harinya semua keluarga Wiharja berkumpul di ruang keluarga, disitu Anton minta ijin kepada orang tua dan kakaknya


kalau mereka minta ijin pamit akan memilih tinggal di kota Cirebon.


"Papah dan Mamah setuju saja kalian akan tinggal dimana juga, yang penting kalian jangan bisa rukun dan saling harmonis".


"Selain itu kalian juga tolong jangan pernah menunda untuk punya anak. Papah dan Mamah sampai sekarang tidak paham, Mela belum hamil karena apa. Tolong kalau memang benar menjalani rumah tangga jangan sampai punya pemikiran menunda punya momongan,"Pak Salim panjang lebar menasehati Anton dan Mela.


Untuk soal anak, terlihat Anton ingin protes ketika ayahnya berkata begitu. Tapi Mela segera sadar, lalu mencubit lengan Anton, mencoba menyadarkan agar jangan protes apapun.


"Iya kalau bisa segera kasih Mamah dan Papah cucu, kamu kan dokter masa tidak bisa segera membuat istri hamil. Aneh kamu itu, mengobati orang bisa masa sekarang membuat Mela hamil saja susah,"Ibu Aryani terlihat menggebu berkata demikian kepada Anton.


Kesal, sakit hati tapi mau bagaimana lagi, hanya bisa bersabar sambil mengurut dada. Mungkin memang orang tua tidak paham kalau setiap orang berbeda.


Keesokan harinya mereka kembali pamit kepada keluarga di Bandung.


Anton dan Mela akan memulai segala sesuatu dalam kehidupan pernikahan mereka berdua saja.


Terhitung hari itu, Anton merasakan seutuhnya menjadi seorang suami begitu juga dengan Mela yang merasa bahagia bisa menjadi istri yang mandiri.


Mereka langsung menuju rumah yang mereka sewa dari dokter Haikal.


Rumah bangunan lama tapi bergaya minimalis masa kini. Kemungkinan didirikan di awal tahun 2000 an.


Ada tiga kamar tidur, dan mereka memilih kamar yang paling depan untuk dijadikan kamar tidur mereka.


Lalu mereka pergi mencari ketua RT setempat melaporkan kalau mereka mulai sekarang akan menempati rumah keluarga Haikal.


Ketua RT mencatat nama mereka dan meminta foto copy data mereka, untungnya sudah disediakan.


"Pak RT, kalau kami jadi membeli rumah yang di ujung jalan depan, rencananya kami akan membuka klinik dokter dan apotik. Apakah bisa kami melakukan hal tersebut?" tanya Anton kepada Pak RT.


"Wah dengan senang hati pak Anton, di perumahan ini justru kesulitan tidak ada dokter. Kami sangat menanti Bapak segera membuka praktek dokter di daerah sini," sambut pak RT dengan senang hati.


"Terima kasih pak, sekarang kami sedang mengajukan ijinnya, sementara kami mengajukan diri untuk menjadi warga perumahan ini," sahut Anton.


"Baik pak Anton, nanti saya bantu prosesnya, terima kasih sudah mau bergabung di perumahan ini".


"O,ya, mohon maaf pak Anton terutama kepada ibu Anton, kalau misalkan ada warga kami yang mungkin membuat tidak nyaman".


"Pasti di setiap tempat ada saja yang kurang bisa toleransi kepada sekitar, jadi mohon maaf yah pak," Pak RT menjelaskan kondisi di perumahan tersebut.


"Baik pak RT, kami akan perhatikan dan semoga saja istri saya yang mungkin akan banyak di rumah nanti bisa mengatasinya," jawab Anton mencoba bijak.


Lalu mereka berjabatan tangan dengan Pak RT dan juga berkenalan dengan ibu RT.


"Wah pasangan muda, sudah berapa lama menikahnya?"tanya Ibu RT kepada pasangan Anton dan Mela.


"Belum lama bu, baru sekitar lima bulan yang lalu,"jawab Mela.


"Oh...Alhamdulilah...Apakah sudah mulai hamil sekarang?"tanya Ibu RT.


Pertanyaan yang selalu mereka dengar saat bertemu orang, dan mereka hanya bisa tersenyum saja.


"Ya semoga nanti sudah tinggal di sini sih cepat hamil yah, kami doakan,"sahut Ibu RT membesarkan hati.


Tak lama Anton dan Mela pamit, lalu mereka juga mengenalkan diri ke tetangga sebelah rumah kiri dan kanan juga di seberang tempat tinggal mereka.


Semuanya menyambut dengan gembira, tapi semua selalu mengatakan hal sama. Hati-hati pasti nanti ada orang yang membuat kesal, tapi tolong dimaklumi.


Mereka tidak mau menyebutkan siapa nama orang itu dan rumahnya yang mana. Hanya mengingatkan sambil menyampaikan kalau nanti Bapak dan Ibu Anton akan paham sendiri.


Mela cukup senang dipanggil ibu Anton, karena kebanyakan kalau tinggal di perumahan pasti seorang wanita yang menikah akan dipanggil dengan menggunakan nama suami.


Kira-kira siapa yah orang yang akan reseh, Anton dan Mela juga sama sekali belum tahu.


Padahal kalau sudah tahu siapa orangnya tentu akan membuat hati mereka juga kesal. Terutama bagi Anton, karena orang ini pernah berkaitan dengannya dimasa lalu.

__ADS_1


Kita tunggu di bab berikut yah...


__ADS_2